cover
Contact Name
Ahmad Nimatullah Al-Baarri, PhD
Contact Email
redaksi@ift.or.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi@ift.or.id
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016" : 10 Documents clear
Scavenging Activity dan Intensitas Warna dari Ubi Kayu dengan Penambahan D-glukosa dan D-sorbosa Cleopatra Hendria; Anang Mohamad Legowo; Ahmad Nimatullah Al-Baarri
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.062 KB) | DOI: 10.17728/jatp.182

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis scavenging activity dan intensitas warna yang dihasilkan dari reaksi Maillard pada ubi kayu yang dipanaskan dengan suhu 65°C selama 24 jam dengan pencelupan ke dalam larutan 0-2% b/v. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia dan Gizi Pangan Fakultas Peternakan dan Pertanian dan Laboratorium Terpadu Universitas Diponegoro pada bulan Juli 2015 – Januari 2016. Bahan yang digunakan adalah ubi kayu, D-glukosa, D-sorbosa, DPPH dan alat yang digunakan adalah Digital Colormeter dan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi gula berpengaruh nyata pada nilai a* dan b* ubi kayu, namun tidak berpengaruh nyata terhadap nilai scavenging activity.  Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsentrasi gula dapat memberikan efek pada produk akibat adanya reaksi Maillard.Kata kunci : D-glukosa, D-sorbosa, reaksi Maillard, scavenging activity, ubi kayu AbstractThis research was aimed to analyze scavenging activity and color intensity of the Maillard reaction in a heated cassava at 65˚C for 24 hours. This research was conducted at the Laboratory of Food Chemistry and Nutrition, Faculty of Animal and Agricultural Sciences and Integrated Laboratory of Diponegoro University during September 2015 - January 2016. Cassava was dipped into D-glucose and D-sorbose at 0-2% w/v then was heated at 65˚C. The materials were cassava, D-glucose, D-sorbose, DPPH. Digital Colormeter on mac and spectrophotometer were used as research equipment. The results showed that concentration of sugars significantly affected the change in value of a* and b* but did not significantly affected the scavenging activity. As conclusion, the concentration of sugars might change the color intensity to a Maillard reaction product. Keywords : Cassava, D-glucose, D-sorbose, Maillard Reaction, Scavenging Activity
Optimasi Kandungan Gizi Tepung Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) Terfermentasi Ditinjau dari Dosis Penambahan Inokulum Angkak Serta Aplikasinya dalam Pembuatan Mie Basah Yosia Adi Susetyo; Sri Hartini; Margareta Novian Cahyanti
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.872 KB) | DOI: 10.17728/jatp.172

Abstract

Ubi jalar memiliki potensi sebagai bahan pangan berbasis sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan menjadi produk tepung ubi jalar terfermentasi. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan tepung ubi terfermentasi yang optimal ditinjau dari besarnya konsentrasi substrat ubi jalar dan penambahan inokulum angkak. Fermentasi dilakukan menggunakan inokulum angkak dengan berbagai dosis konsentrasi yaitu 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%.  Analisis terhadap tepung ubi jalar terfermentasi meliputi pengukuran kadar air, kadar abu, karbohidrat, protein, lemak, serat, derajat asam, aktivitas antioksidan serta analisa organoleptik.Tepung dari nisbah yang paling optimal diaplikasikan dalam pembuatan mie basah dengan subtitusi tepung ubi jalar terfermentasi sebesar 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Hasil penelitian menunjukkan penambahan inokulum angkak dengan dosis 5% menghasilkan fermentasi yang optimal, dengan kandungan kadar air sebesar 7,19%, kadar abu 2,44%, karbohidrat 49,77%, protein 1,62%, lemak 1,38%, serat kasar 4,59%, derajat asam 9,27 NaOH 0,1 N/100 g dan memiliki aktivitas antioksidan yang mampu menghambat radikal bebas sebesar 48,12%. Uji organoleptik dengan 25 panelis menunjukkan bahwa produk mie basah yang paling disukai adalah dari subtitusi tepung ubi jalar terfermentasi sebesar 10%.
Nilai pH, Total Padatan Terlarut, dan Sifat Sensoris Yoghurt dengan Penambahan Ekstrak Bit (Beta vulgaris L.) Nur Ismawati; Nurwantoro Nurwantoro; Yoyok Budi Pramono
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.284 KB) | DOI: 10.17728/jatp.181

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pH, total padatan terlarut, dan sifat sensoris yoghurt dengan penambahan ekstrak bit. Materi yang digunakan adalah susu skim cair, ekstrak bit, kultur bakteri asam laktat (BAL) yaitu Lactobbacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus, dan Lactobacillus acidophilus. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan penambahan ekstrak bit 0%, 1%, 2%, 3%, dan 4%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan penambahan ekstrak bit memberikan perbedaan nyata (P<0,05) terhadap nilai pH, total padatan terlarut, dan sifat sensoris yoghurt. Nilai pH menghasilkan angka 3,79 – 3,92; total padatan terlarut 7,70 – 8,13 °Brix; dan semakin tinggi penambahan ekstrak bit yang digunakan menambah agak bau aroma tanah dan rasa lebih agak manis. Penambahan konsentrasi ekstrak bit terbaik yaitu 4%.Kata kunci : nilai pH, total padatan terlarut, sifat sensoris, yoghurt, ekstrak bitAbstractThe purpose of this research was to determined the pH value, total dissolved solids, and sensory properties of yoghurt with addition of beet extract. Material used in this research were liquid skimmed milk, beet extract, starter cultures of lactic acid bacteria (BAL) that were Lactobbacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus, and Lactobacillus acidophilus. The research showed that addition of the beet extract given significant (P<0,05) the value of pH, total dissolved solid, and sensory properties of yoghurt. The result obtained showed that the pH value ranged between 3.79 – 3.92; total dissolved solids 7.70 – 8.13 °Brix; and an addition in the taste and sweetness become increasingly concentrated. The additional of the best beet extract happens on 4%.Keywords: pH, total dissolved solids, sensory properties, yoghurt, extract beet
Sosis Ikan Kembung (Rastrelliger Kanagurta L.) sebagai Pangan Sumber Omega 3 Iwenda Nalendrya; Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi; Firlia Ayu Arini
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.078 KB) | DOI: 10.17728/jatp.178

Abstract

Penggunaan bahan kimia pada jajanan anak di Indonesia semakin meningkat. Data BPOM menunjukan pada tahun 2010 pangan jajanan anak sekolah yang tidak memenuhi syarat sebanyak 35,46%. Penggunan formalin dan boraks pada makanan ringan berturut-turut sebesar 16,06% dan 9,11%. Perlu dikembangkan pangan sehat bagi anak yang dapat membantu perkembangan otak. Asam lemak esensial omega 3 dibutuhkan dalam pembentukan sel-sel otak untuk meningkatkan tingkat intelegensia. Omega 3 dapat ditemukan di produk perikanan. Namun, tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih rendah bila dibandingkan dengan rekomendasi FAO. Ikan kembung (Rastrelliger kanagurta L.) merupakan ikan air laut yang banyak mengandung omega 3 yang baik bagi kecerdasan otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi sosis dari ikan kembung sebagai pangan sumber omega 3. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan menggunakan desain rancangan acak lengkap. Penambahan ikan segar yang digunakan sebanyak 30 gram (FS1), 45 gram (FS2), dan 60 gram (FS3), sedangkan tepung ikan yang digunakan 6,75 gram (FT1), 13 gram (FT2) dan 20 gram (FT3). Formula terbaik hasil uji organoleptik adalah FS2 yang mengandung 44,48% air, abu 2,65%, protein 9,4%, lemak 5,48%, karbohidrat 37,88%, energi 238,48 kkal dan omega 3 sebesar 0,18 gram / 100 gram. Kandungan omega 3 sosis ikan kembung per 100 gram dapat menjadi sumber omega 3 dengan menyumbang 20% kecukupan omega 3 anak.AbstractThe use of chemicals on children's snacks in Indonesia is increasing. Data from BPOM show in 2010 school children’s snacks which is not qualified as much as 35,46%. The use of formaline and borax on snacks are 16.06% and 9.11%. It is necessary to develop healthy food for children which can help brain development. Omega 3 is needed in the brain cells formation to increase level of intelligence. Omega 3 can be acquired from the fishery products. However, the level of fish consumption in Indonesia is still low when compared with FAO recommendations. Long jawed mackerel (Rastrelliger kanagurta L.) is a marine fish that contains omega 3 which is good for brain intelligence. The objective of this study was to develop formulations sausage of long jawed mackerel as a food source of omega 3. This study used experimental method and completely randomized design. The addition of fresh fish that is used as much as 30 gram (FS1), 45 gram (FS2), and 60 gram (FS3), fish flour 6.75 gram (FT1), 13 gram (FT2) and 20 gram (FT3). The best formula from organoleptic test was FS2 which is containing of 44.48% water, 2.65% ash, 9.4% protein, 5.48% fat, carbohydrates 37.88%, 238.48 kcal energy and omega 3 at 0,18 gram / 100 gram. The content of omega 3 from long jawed mackerel sausages in 100 gram can to be omega 3 source which contribute 20 % adequacy of omega 3 of children.
Inovasi Pangan Asal Legum dan Pengawetan melalui Tahap Pembekuan Sendy Bahar
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.069 KB) | DOI: 10.17728/jatp.173

Abstract

Perkembangan tentang dunia pangan dewasa ini semakin menarik untuk diperbincangkan. Mulai dari proses pengolahan pangan yang terus melakukan inovasi seiring dengan perkembangan teknologi, semakin bervariasinya permintaan konsumen dalam hal mengkonsumsi pangan sehingga muncul aneka santapan baru yang terkadang kurang lazim untuk manusia hingga permasalahan pelanggaran pangan yang terus terjadi di indonesia. Untuk hal yang terakhir disebutkan diatas terlalu banyak faktor yang dapat diulas, namun mari kita bahas poin per poin.
Kadar Air, Tanin, Warna dan Aroma Off-Flavour Minuman Fungsional Daun Sirsak (Annona Muricata) dengan Berbagai Konsentrasi Jahe (Zingiber Officinale) Yasmine Setya Adilla Mawardi; Yoyok Budi Pramono; Bhakti Etza Setiani
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.899 KB) | DOI: 10.17728/jatp.179

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik kadar air, tanin, warna dan aroma off-flavour produk minuman fungsional daun sirsak dengan konsentrasi jahe yang ditambahkan. Desain penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan penambahan konsentrasi jahe pada minuman fungsional daun sirsak sebesar 0%, 10%, 20%, 30%, dan 40%. Ulangan dilakukan sebanyak 4 kali, dengan parameter kadar air, tanin, serta warna dan aroma off-flavour sebagai uji sensoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air produk berkisar antara 7,67-10,97%, kadar tanin berkisar antara 1,17-2,35 mg/L, warna dengan skor 2,45-3,55, dan aroma off-flavour dengan skor 2,22-3,15. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai kadar air seiring dengan meningkatnya konsentrasi jahe yang ditambahkan, sedangkan kadar tanin semakin turun seiring dengan tingginya konsentrasi jahe yang ditambahkan. Terjadi penurunan kesukaan konsumen pada atribut warna dan peningkatan kesukaan panelis terhadap aroma off-flavour seiring dengan tingginya konsentrasi jahe yang ditambahkan. Kesimpulannya jahe dapat digunakan sebagai bahan tambahan pada pembuatan minuman fungsional daun sirsak hingga konsentrasi 40%. Jahe dapat digunakan sebagai perisa alami dan peningkat kualitas berupa kadar tanin minuman fungsional daun sirsak.Kata kunci : minuman fungsional, daun sirsak, jahe AbstractThe study aimed to evaluate the characteristics of moisture content, tannin content, colour, and off-flavour aroma with several concentrations of ginger which were added to functional drink made from soursop leaves (Annona muricata Linn.) The research design used were a completely randomized design with treatments such as concentration of ginger which is added to the soursop leaves functional drink, those were: 0%, 10%, 20%, 30% and 40%. Each treatment was repeated 4 times, with parameters measured were moisture content, tannin content, and organoleptic test such as color and off-flavour aroma. The results has a moisture content products ranging from 7,67-10,97%, tannin levels ranged from 1,17 mg/L-2,35 mg/L, colour has score on 2,45-3,55, and off-flavor aroma has score on 2,22-3,15. On testing soursop leaves functional drink increase in water content along with the increasing concentration of ginger added, while the tannin content of functional drink decrease with the high concentration of ginger added. There was a decreasing preferences by panelist in colour attribute and increasing preferences by panelist in off-flavour aroma along with the increasing concentration of ginger added. In conclusion, ginger can be used as additives in the manufacture of soursop leaves functional drink up to 40% ginger concentration. Ginger can be used as a natural flavor and enhancing the tannin contents of soursop leaves functional drink. Keywords : functional drink, soursop leaves, ginger
Hubungan antara Lama Reaksi Suksinilasi dengan Sifat Fungsional Isolat Protein Bungkil Biji Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) Miftakhussolikhah Miftakhussolikhah; Chusnul Hidayat; Yuyun Tigani Kurniasih; Finda Ni&#039;imah Muyasyarah
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.105 KB) | DOI: 10.17728/jatp.174

Abstract

Isolat protein bungkil biji jarak pagar (Jatropha curcas L.) mempunyai sifat fungsional yang sesuai digunakan sebagai emulsifier, namun kelarutannya rendah pada pH netral. Modifikasi berupa suksinilasi perlu dilakukan untuk meningkatkan sifat fungsional isolat protein biji jarak sebagai emulsifier. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengeruh lama reaksi terhadap sifat fungsional isolat protein biji jarak tersuksinilasi. Pada penelitian ini, suksinilasi dilakukan menggunakan 0,1 g succinic anhydride/g protein selama 30, 60, 90, 120 dan 150 menit. Derajat suksinilasi (DS) ditentukan dengan menentukan gugus amino bebas menggunakan metode trinitrobenzene sulphonic acid (TNBS). Sifat fungsional yang dikaji meliputi sifat kelarutan, hidrophyl-lipophyl balance (HLB), kapasitas pembentukan emulsi dan stabilitas emulsi. Hasil evaluasi menunjukkan isolat protein biji jarak yang tersuksinilasi mempunyai sifat fungsional yang lebih baik dibanding isolat protein biji jarak native. Emulsi yang terbentuk dari isolat protein biji jarak tersuksinilasi adalah emulsi minyak dalam air. Lama reaksi suksinilasi yang menghasilkan sifat fungsional paling tinggi adalah 90 menit
Substitusi Gula Sukrosa dengan Gula Fruktosa pada Proses Pembuatan Roti terhadap Sifat Sensori Roti Yosyfa Astiari; Nurwantoro Nurwantoro; Valentinus Priyo Bintoro
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.284 KB) | DOI: 10.17728/jatp.180

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh gula fruktosa sebagai pengganti gula sukrosa pada pembuatan roti manis terhadap sifat sensori produk akhir roti. Materi bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tepung terigu protein tinggi, ragi roti, susu bubuk, susu cair, kuning telur, air es, mentega, garam (NaCl), bread improver, gula sukrosa, dan gula fruktosa. Penelitian ini dilakukan dengan 4 perlakuan yaitu P1: 75% gula sukrosa dan 25% gula fruktosa, P2: 50% gula sukrosa dan 50% gula fruktosa, serta P3: 25% gula sukrosa dan 75% gula fruktosa. Data sifat sensori roti yang dikumpulkan yaitu (warna, aroma, rasa, tekstur dan kesukaan), dengan menggunakan 30 panelis agak terlatih. Pengolahan data yang digunakan adalah analisis ragam, apabila ada pengaruh perlakukan dilanjutkan dengan uji beda Least Significance Different (LSD). Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan gula fruktosa sebagai bahan substitusi memberikan pengaruh terhadap roti, dimana semakin tinggi konsentrasi fruktosa yang digunakan dapat memberikan tekstur lembut, warna lebih coklat, aroma lebih harum, rasa lebih manis, dan meningkatkan tingkat kesukaan panelis terhadap roti. Kata kunci: roti, substitusi, sukrosa, fruktosa, sifat sensori Abstract The purpose of this research was to determine the effect of fructose sugar subtitute by sucrose sugar in making of sensory properties of sweet bread. Materials used in this research were high protein flour, yeast bread, milk powder, liquid milk, egg yolks, ice water, butter, salt (NaCl), bread improver, sucrose sugar, and fructose sugars. This research was devided by four treatments, T0: 100% sucrose sugar without fructose, T1: 75% sucrose sugar and 25% fructose sugar, T2: 50% sucrose sugar and 50% fructose sugar, and T3: 25% sucrose sugar and 75% fructose sugar. Bread sensory properties data collected were (color, aroma, flavor, texture and preferences), using 30 rather trained panelists. Processing of the data used is the analysis of variance on the sensory test, if there is a treatment effect followed by a different test LSD. The test results showed that the use of sugar fructose as substitute influence the bread, where higher the concentration of fructose which is used provide soft texture, brown color, more fragrant aroma, sweeter taste, and increase the favorite level of panelists on that bread.Keywords: bread, substitution, sucrose,  fructose,  sensori properties. 
Peran Nutrasetikal Galohgor dalam Mempertahankan Berat Badan dan Menurunkan Glukosa Darah pada Tikus Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin Firdaus Firdaus; Rimbawan Rimbawan; Sri Anna Marliyati; Katrin Roosita
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.414 KB) | DOI: 10.17728/jatp.29

Abstract

Galohgor merupakan salah satu obat herbal tradisional yang lazim di daerah Bogor, Jawa Barat. Neutrasetikal ini tersusun atas 56 jenis bahan yang komposisinya terdiri dari 38 macam tanaman obat, 5 jenis rempah-rempah, 7 jenis kacang-kacangan dan 6 jenis temu-temuan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efek nutrasetikal Galohgor dalam menurunkan kadar glukosa darah dan menjaga kestabilan berat badan  tikus diabetes yang diinduksi Streptozotocin (STZ). Penelitian ini menggunakan desain blok acak, 12 ekor tikus Sprague dawley jantan berumur 6 minggu diinjeksi dengan STZ secara intraperitoneal degan dosis 40 mg/kg berat badan dan diberikan sukrosa 30% secara ad libitum selama 4 minggu (masa induksi diabetes) kemudian dialokasikan secara acak kedalam 3 kelompok kemudian diberi intervensi selama 14 hari dengan perlakuan antara lain ekstrak nutrasetikal Galohgor 0,037 g/kg berat badan (Gal+STZ), metformn 62,5 mg/kg berat badan (Met+STZ), dan kelompok kontrol + STZ (K+STZ). Sebanyak 4 ekor tikus normal (N) tanpa perlakuan pemberian sukrosa dimasukkan kedalam kelompok kontrol normal. Hasil menunjukkan ekstrak nutrasetikal Galohgor (Gal+STZ) mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan (p<0,05) dan dapat membantu menjaga berat badan pada tikus diabetes yang diinduksi STZ. Kata kunci: Galohgor, streptozotocin, glukosa darah, berat badan, diabetesAbstract              Galohgor is one of the traditional herbal medicinel in Bogor, West Java. The Neutraceutical was prepared from 56 kinds of material consist of 38 medicinal plants, 5 herbs and spices, 7 nuts and 6  rhizomes in composition. The aims of this study was to investigate the effect of Nutraceutical Galohgor in maintenance of body weight and reducing blood glucose on diabetic rats induced by streptozotocin (STZ). The type of this study is randomized block design, a number of 12 male Sprague dawley rats on 6 weeks of age were induced with STZ intraperitoneally with dosage of 40 mg/kg body weight and giving with 30% sucrose ad libitum during 4 weeks (diabetic induction fase) and allocated randomly to three groups and treated for 14 days with i.e . nutraceutical Galohgor extract 0,037 g/kg body weight (Gal+STZ), Metformin 62,5 mg/kg body weight (Met+STZ) and control + STZ (K+STZ) group. Four normal rats were allocated as a normal control (N). Glucose level and body weight was measured every 3 days. The result showed that nutraceutical Galohgor extract (Gal+STZ) helped to maintenance body weight and reduced glucose level in diabetic rats significantly (P<0,05)  in diabetic rats induced with STZ. Key words : Galohgor, streptozotocin, blood glucose, body weight, diabetes
Sifat Fungsional dan Amilografi Pati Millet Putih (Pennisetum glaucum) Termodifikasi secara Heat Moisture Treatment dan Annealing Herlina Marta; Marsetio Marsetio; Yana Cahyana; Arum Galih Pertiwi
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.144 KB) | DOI: 10.17728/jatp.175

Abstract

Pati millet putih alami mempunyai beberapa kendala jika dipakai sebagai bahan baku dalam industri pangan, yaitu pati alami tidak tahan pada pemanasan suhu tinggi dan tidak tahan pada proses mekanis, sehingga kurang cocok untuk diaplikasikan pada produk yang memerlukan proses pemanasan tinggi seperti saus. Oleh karena itu, perlu dilakukan modifikasi pati untuk memperbaiki sifat pati alami tersebut. Modifikasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi secara Heat Moisture Treatment (HMT) dan annealing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan sifat fungsional dan amilografi pati millet putih alami dengan pati millet putih yang termodifikasi secara HMT dan annealing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi HMT dan annealing dapat memperbaiki sifat pati alami tersebut, yaitu meningkatkan ketahanan terhadap panas dan proses mekanis. Berdasarkan grafik amilogram, pati termodifikasi HMT memiliki pola viskositas tipe B sehingga cocok diaplikasikan untuk produk saus dan pati termodifikasi annealing memiliki pola viskositas tipe A sehingga cocok diaplikasikan untuk produk roti. Modifikasi HMT menyebabkan terjadinya penurunan swelling volume, freeze thaw stability, kekuatan gel, derajat putih, kadar air, viskositas puncak, viskositas pasta panas, viskositas breakdown, viskositas pasta dingin, dan viskositas setback pati millet putih alami serta peningkatan kelarutan, kapasitas penyerapan air, DE, dan suhu awal gelatinisasi pati millet putih alami, sedangkan modifikasi annealing menyebabkan terjadinya penurunan swelling volume, freeze thaw stability, kadar air, viskositas puncak, viskositas pasta panas, viskositas pasta dingin, dan viskositas setback pati millet putih serta peningkatan kelarutan, kapasitas penyerapan air, kekuatan gel, derajat putih, DE, suhu awal gelatinisasi, dan viskositas breakdown pati millet putih.AbstractNative millet starch has several problems when used as raw materials in the food industry, which is native millet starch can not stand on the high temperature heating and can not stand on the mechanical process, so that it doesn’t suitable for products that require high heating process such as sauces. Therefore, native starch had to modified to improve the properties of the native starch. Modifications that used in this study were Heat Moisture Treatment (HMT) and annealing. The aim of this study was to determine the differences of functional and amylograph properties of native millet starch with HMT and annealing millet starch. Results from this research was HMT and annealing modification can improve the properties of the native starch, which increase resistance in thermal and mechanical process. Based on the amylogram graph, HMT starch has a type B pattern that properly used for sauces and annealing starch has a type A pattern that properly used for bakery products. HMT modification cause decrease in swelling volume, freeze thaw stability, gel strength, whiteness, water content, peak viscosity, hold viscosity, breakdown viscosity, final viscosity, and setback viscosity of native millet starch, and also increase in solubility, water absorption capacity, DE, and gelatinization temperature of native millet starch, while the annealing modification cause decrease in swelling volume, freeze thaw stability, moisture content, viscosity peak, hold viscosity, final viscosity and setback viscosity of native millet starch and increase in solubility, water absorption capacity, gel strength, whiteness, DE, gelatinization temperature and breakdown viscosity of native millet starch.Keywords: millet starch, Heat Moisture Treatment (HMT), annealing, functional, amylograph.

Page 1 of 1 | Total Record : 10