Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Perbandingan Metode Pretreatment Ozonasi Dan Pemanasan Uap Bertekanan Terhadap Polifenol Dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Biji Kakao (Theobroma cacao L.) Utama, Duhita Diantiparamudita; Djali, Mohammad; Cahyana, Yana
Pontianak Nutrition Journal (PNJ) Vol 4, No 1 (2021): Maret 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.051 KB) | DOI: 10.30602/pnj.v4i1.724

Abstract

Kulit biji kakao merupakan kulit tipis, lunak dan agak berlendir yang menyelubungi keping biji kakao yang dihasilkan dari sisa produksi pengolahan biji kakao. Keberadaan limbah kulit biji kakao sering kali dibiarkan begitu saja menjadi sampah industri pengolahan cokelat sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Padahal kulit biji kakao diketahui masih mengandung senyawa aktif seperti polifenol dan antioksidan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai produk fungsional. Namun, komponen bioaktif dalam bahan berlignoselulosa sulit dipisahkan sehingga ekstrak bioaktif yang didapat kurang maksimal. Oleh karena itu dilakukan pretreatment delignifikasi dengan menggunakan metode ozonasi dan pemanasan uap bertekanan untuk mendegradasi komponen lignoselulosa yang mengikat senyawa bioaktif tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode pretreatment ozonasi dengan pemanasan uap bertekanan dalam meningkatkan perolehan senyawa polifenol dan aktivitas antioksidan pada ekstrak kulit biji kakao. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu tanpa pretreatment, pretreatment ozonasi (laju alir oksigen= 2L/menit, t= 1 menit, konsentrasi= 18 ppm) dan pretreatment pemanasan uap bertekanan (autoklaf, T=129oC, 2 atm, t= 5 menit). Parameter yang diukur meliputi total fenol dan aktivitas antioksidan. Berdasarkan hasil penelitian, metode pretreatment pemanasan uap bertekanan menunjukkan hasil terbaik dengan perolehan senyawa polifenol (GAE) 10,13 mg/g dan aktivitas antioksidan (IC50)277,14 ppm. Sedangkan pada metode pretreatment ozonasi menghasilkan perolehan senyawa polifenol (GAE) 7,62 mg/g dan aktivitas antioksidan (IC50) 559,24 ppm. Kedua metode pretreatment tersebut secara keseluruhan meningkatkan perolehan baik polifenol maupun aktivitas antioksidan dibandingkan dengan tanpa perlakuan (GAE 3,97 mg/g, IC50 1361,18 ppm). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pretreatment delignifikasi penting dilakukan untuk meningkatkan perolehan polifenol dan aktivitas antioksidan ekstrak kulit biji kakao.
PENGEMBANGAN SISTEM MONITORING PETERNAKAN AYAM BROILER BERBASIS INTERNET OF THINGS Widiharto, Banani; Cahyana, Yana; Masruriyah, Anis Fitri Nur
Conference on Innovation and Application of Science and Technology (CIASTECH) CIASTECH 2021 "Kesiapan Indonesia Dalam Menghadapi Krisis Energi Global"
Publisher : Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peternakan ayam broiler salah satu jenis usaha yang mudah diterapkan dan memiliki permintaan tinggi. Masalah yang terjadi terkait pemberian pakan masih secara manual berdasarkan jadwal, sehingga membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak dari peternak. Masalah yang lain tidak ada pengontrolan suhu dan kelembapan kandang mengakibatkan ayam kedinginan dan mudah terserang penyakit. Sehingga menyulitkan para peternak saat tidak dapat memantau suhu dan kelembapan di kandang. Berdasarkan masalah yang ada maka penelitian ini bertujuan untuk membuat Sistem Monitoring Peternakan Ayam Broiler Berbasis Internet Of Things (IoT) berbasis website. Hasilnya dengan monitoring menggunakan sistem ini dapat meningkatkan pengawasan peternak terhadap suhu dan kelembapan pada kandang ayam broiler serta pengawasan terhadap stok pakan ayam broiler, dengan hasil pengujian Blackbox dapat menilai fungsi kinerja alat dan sistem dengan nilai hasil 100% dari 25 kali pengujian yang sesuai dan pengujian berbentuk presentase nilai rata-rata selisih suhu sebesar 1.07 Celcius sedangkan presentase nilai rata-rata selisih kelembapan 5.7% dengan membandingkan nilai dari sensor DHT11 dan alat HTC-02.
PENGARUH MASERASI TERHADAP KARAKTERISTIK KOMPONEN POLIFENOL KULIT BUAH KAKAO DAN KULIT BIJI KAKAO Suci Rahma Ajiaviaty; Indira Lanti Kayaputri; Yana Cahyana; Mohamad Djali
Seminar Nasional Biologi, Saintek, dan Pembelajarannya (SN-Biosper) Seminar Nasional Biologi, Saintek, dan Pembelajarannya I Tahun 2019 ISBN: 978-602-9250-40-4
Publisher : Seminar Nasional Biologi, Saintek, dan Pembelajarannya (SN-Biosper)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kulit buah kakao dan kulit biji kakao merupakan limbah yang dihasilkan dari pengolahan kakao yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit buah kakao dan kulit biji kakao memiliki komponen polifenol yang bersifat antioksidan dan antibakteri sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengawet alami pada produk pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara waktu maserasi dengan karakteristik polifenol kulit buah kakao dan kulit biji kakao. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dilanjutkan analisis deskriptif dengan 5 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan lama maserasi yaitu 12 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam, dan 60 jam. Ekstrak kulit buah kakao dengan lama maserasi 24 jam memiliki nilai total fenol sebesar 5,95% dengan nilai IC50 sebesar 22,93 (sangat kuat) dan zona hambat antimikroba sebesar 11,67 mm terhadap Escherichia coli dan 10,33 mm terhadap Staphylococcus aureus. Ekstrak kulit biji kakao dengan lama maserasi 36 jam memiliki nilai total fenol sebesar 2,18% dengan nilai IC50 sebesar 69,82 (kuat) dan zona hambat antimikroba sebesar 5,33 mm terhadap Escherichia coli dan 3,78 mm terhadap Staphylococcus aureus.
Ozonation Pretreatment Evaluation for Xylanase Crude Extract Production from Corncob under Solid-State Fermentation Efri Mardawati; Surya Martha Pratiwi; Robi Andoyo; Tita Rialita; Mochamad Djali; Yana Cahyana; Een Sukarminah; In-In Hanidah; Imas Siti Setiasih
Journal of Industrial and Information Technology in Agriculture Vol 1, No 2 (2017): DECEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.181 KB) | DOI: 10.24198/jiita.v1i2.14664

Abstract

Xylanases are highly exploited enzyme in industries, including food and chemical industry. Xylanases can be utilized in catalyzing the endohydrolysis of 1,4-β-xylosidic linkages in xylan, lignocellulosic component to produce xylose-monomer. This research aims to optimize xylanase production from alternative substrate, corncob. Corncob contains 41.17% of hemicellulose, polymer of xylan. Xylanases are produced through solid state fermentation by Trichoderma viride. Ratio between substrate and moistening solution was 0.63 g/mL with fermentation temperature 32,8OC. Variables varied include incubation time and pretreatment (using autoclave, ozonation, combination of ozonation and autoclave, also without pretreatment). Xylanase activity was measured by DNS method using 1% of xylan as substrate standard. The result showed that the best incubation time is 36 h with 14403.8707 U/mg protein for specific xylanase activity by using autoclave as pretreatment.  Ozonation pretreatment process can increase the enzyme activity of xylanase.
ANALISA FILM NANOKOMPOSIT BIODEGRADABLE MENGGUNAKAN DIFRAKSI SINAR-X Yana Cahyana
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Material dengan struktur nanokomposit telah berhasil dibuat dengan metode interkalasi polimer dalam larutan dengan menggunakan gluten tepung terigu yang berfungsi sebagai matriks, gliserol sebagai plasticizer, dan Montmorillonite (MMT) sebagai pengisi (filler). Pengaruh jenis pengadukan beserta perlakuan tambahan ultrasound terhadap struktur nanokomposite menjadi fokus penelitian ini. Analisis dengan menggunakan difraksi sinar X (XRD) menunjukkan bahwa perlakuan tambahan dengan ultrasound telah berhasil menghasilkan struktur montmorillonite yang tereksfoliasi, sedangkan perlakuan yang hanya mengandalkan magnetik strirer atau pengaduk kecepatan tinggi (Silverson) menyebabkan struktur montmorillonite yang terinterkalasi, yang ditunjukkan dengan adanya pelebaran peak pada 2θ=4.9°, yang setara dengan jarak interlayer Montmorillonite sebesar 18 Ǻ. Peran gliserol dan gluten dalam menghasilkan struktur interkalasi atau eksfoliasi juga didiskusikan dalam tulisan ini. Kata kunci: Gluten terigu, Montmorillonite, Gliserol, Nanocomposites, XRD.
IMPLEMENTASI PROSES OZONASI PADA CABE MERAH DI SUB TERMINAL AGRIBISNIS KABUPATEN CIAMIS Imas Siti Setiasih; Efri Mardawati; In-In Hanidah; Robi Andoyo; Een Sukarminah; Mohammad Djali; Tita Rialita; Yana Cahyana
Dharmakarya Vol 9, No 3 (2020): September, 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v9i3.19861

Abstract

Cabai Merah merupakan komoditas yang mudah terkontaminasi oleh mikroorganisme terutama bila ada jaringan yang luka. Selama proses budidaya tidak dapat dihindari penggunaan pestisida berlebih. Solusi yang dapat dilakukan adalah menggunakan air berozon dengan ozonizer tipe TIP-01 pada proses pencucian. Sub Terminal Agribisnis Kabupaten Ciamis merupakan institusi yang bergerak dalam bidang pelayanan dan pemasaran komoditas pertanian.  Tujuan paper ini adalah untuk melihat aplikasi teknologi ozonasi melalui  kegiatan PPM dimana dilakukan transfer ilmu kepada masyarakat pengguna (dalam hal ini rumah pengemas hasil pertanian di Ciamis), supaya hasil-hasil penelitian ini lebih bermakna  di masyarakat  Aspek khusus yang dipelajari adalah untuk mengetahui pengaruh pencucian air berozon cabai merah terhadap karakteristik kimia, mikrobiologi, fisik, dan organoleptik selama penyimpanan 16 hari pada suhu ± 10 oC dengan interval waktu analisis 2 hari. Metode pengolahan data yang digunakan adalah metode eksperimental (Explanatory Research) dan dianalisis deskriptif menggunakan analisis regresi dan korelasi. Percobaan terdiri dari 2 perlakuan dan 2 kali ulangan, yaitu cabai merah tanpa perlakuan dan cabai merah yang direndam dalam air berozon 1,9 ppm.
INTRODUKSI PRODUK OLAHAN BERBASIS PISANG PADA UNIT USAHA PENGOLAHAN PANGAN DI DESA CILEUNYI KULON KABUPATEN BANDUNG Yana Cahyana
Dharmakarya Vol 8, No 3 (2019): September 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.255 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v8i3.19807

Abstract

Program Pengabdian Masyarakat Dosen (PPMD) berlokasi di Desa Cileunyi Kulon Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Khalayak sasaran yang ditargetkan adalah pemilik UKM Pengolahan Pangan dan perwakilan kader Desa Cileunyi Kulon di Kecamatan Cileunyi. Kegiatan ini bertujuan (1) Mensosialisasikan manfaat/potensi buah pisang sebagai bahan baku olahan pangan serta cara pengolahan buah pisang menjadi berbagai produk aneka camilan, (2) Mensosialisasikan cara pengemasan dan pelabelan produk pangan yang baik  sehingga lebih menarik dan optimal melindungi produk sehingga dapat mengurangi produk return, dan (3) Membangkitkan motivasi masyarakat sasaran untuk mengembangkan pengolahan produk pangan berbasis pisang. Metode yang diterapkan pada pelatihan ini antara lain berupa penyuluhan mengenai beberapa teori yang mendukung (CPPB-IRT,  potensi dan komposisi pisang, cara pengolahan pisang menjadi berbagai produk olahan pangan, cara pengemasan yang baik), praktek pengolahan pisang menjadi produk olahan pangan dan pendampingan pengolahan pisang. Output yang diinginkan dari kegiatan ini adalah antara lain: (1) Peningkatan pengetahuan dan keterampilan unit usaha sasaran mengenai potensi dan cara pengolahan buah pisang, (2) meningkatnya pengetahuan mengenai cara pengemasan dan pelabelan produk pangan yang baik, dan (3) meningkatkan motivasi untuk mengembangkan usaha pengolahan pangan berbasis pisang. Setelah kegiatan terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta mengenai CPPB-IRT, potensi dan komposisi pisang, cara pengolahan pisang menjadi produk pangan dan cara pengemasan dan pelabelan yang baik untuk pangan. Selain itu meningkatnya motivasi peserta untuk mengembangkan usaha di bidang produk olahan berbasis pisang. 
THE EFFECT OF ADDING GELATIN AND SALT SOLUTION TO OFF-GRADE SAPODILLA JELLY CANDY THROUGH THE PROCESS OF REDUCING ITS TANNIN CONTENT Siti Hanifah Khairun Nisa; Mohammad Djali; Yana Cahyana
Food ScienTech Journal Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : University of Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/fsj.v3i2.13223

Abstract

The young sapodilla fruit will take when harvesting is brownish green and has an astringent taste, called off-grade sapodilla fruit. The astringent taste of the fruit is due to the high tannin content. Soaking with a salt solution is a treatment done to reduce the astringent taste so that the fruit can continue as raw material for making jelly candy. Gelatin is added as a gelling agent to get a good jelly candy. This study aimed to determine the effect of adding gelatin used in the manufacture of off-grade sapodilla fruit jelly candy, which has been studied for its tannin content reduction. The research method used is an experimental method followed by a Factorial Randomized Block Design (RAK) test consisting of 6 treatments. The tested treatment consisted of two factors: the first factor was soaking sapodilla off-grade with variations in salt solution of 2%, 4%, and 6%, and the second factor was gelatin concentration of 18% and 20%. The results showed that the off-grade sapodilla sample gave the greater salt concentration was given, the more the salt could reduce the amount of tannin content. In jelly candy, the tannin content obtained was decreased compared to the tannin content of off-grade sapodilla fruit. The tannin is due to the unstable or too high cooking temperature. Based on the results of the texture test, found that the L2G2 treatment (4% salt solution, 20% gelatin) was closest to the commercial texture, while based on the organoleptic test, the L3G1 treatment (6% salt solution, 18% gelatin) had the highest value by the panellists.
Identifikasi Kesegaran Ikan Nila Berdasarkan Warna Insang Menggunakan Algoritma K-Nearest Neighbor (K-NN) Didik Remaldhi; Deden Wahiddin; Yana Cahyana
Scientific Student Journal for Information, Technology and Science Vol. 2 No. 2 (2021): Scientific Student Journal for Information, Technology and Science
Publisher : Scientific Student Journal for Information, Technology and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.854 KB)

Abstract

Ikan memiliki kandungan 18% protein yang bermanfaat untuk tubuh manusia, akan tetapi ikan sering dipasarkan dalam keadaan masih hidup dan sudah mati. Kesegaran ikan nila merupakan hal yang penting untuk menentukan keseluruhan mutu dari suatu produk perikanan. Berdasarkan kesegarannya, ikan nila dapat di kategorikan segar (good quality) apabila nilai persentase warna merah tua, dan kategori busuk (spoilt) apabila nilai persentase warna merah muda. Saat ini penilaian maupun pengecekan kualitas ikan nila masih terbilang belum cukup efesien karena masih dilakukan secara manual dengan panca indra manusia. Masalah kesegaran ikan nila dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat apabila mengkonsumsi ikan nila tidak segar atau tidak layak. Maka dibuatlah sistem pengengecekan kesegaran ikan nila yang dapat membantu pedagang dan pembeli. Solusi yang bisa digunakan yaitu dengan pengolahan citra digital. Metode pada penelitian ini menggunakan KNN dan Euclidean distance untuk proses klasifikasi citra. Hasil pada penelitian ini Algoritma K-NN digunakan untuk menghitung nilai warna dari insang ikan nila yang akan ditentukan kesegarannya. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan pada 30 kali percobaan dengan klasifikasi 96%.
Sifat Fungsional dan Amilografi Pati Millet Putih (Pennisetum glaucum) Termodifikasi secara Heat Moisture Treatment dan Annealing Herlina Marta; Marsetio Marsetio; Yana Cahyana; Arum Galih Pertiwi
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.144 KB) | DOI: 10.17728/jatp.175

Abstract

Pati millet putih alami mempunyai beberapa kendala jika dipakai sebagai bahan baku dalam industri pangan, yaitu pati alami tidak tahan pada pemanasan suhu tinggi dan tidak tahan pada proses mekanis, sehingga kurang cocok untuk diaplikasikan pada produk yang memerlukan proses pemanasan tinggi seperti saus. Oleh karena itu, perlu dilakukan modifikasi pati untuk memperbaiki sifat pati alami tersebut. Modifikasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi secara Heat Moisture Treatment (HMT) dan annealing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan sifat fungsional dan amilografi pati millet putih alami dengan pati millet putih yang termodifikasi secara HMT dan annealing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi HMT dan annealing dapat memperbaiki sifat pati alami tersebut, yaitu meningkatkan ketahanan terhadap panas dan proses mekanis. Berdasarkan grafik amilogram, pati termodifikasi HMT memiliki pola viskositas tipe B sehingga cocok diaplikasikan untuk produk saus dan pati termodifikasi annealing memiliki pola viskositas tipe A sehingga cocok diaplikasikan untuk produk roti. Modifikasi HMT menyebabkan terjadinya penurunan swelling volume, freeze thaw stability, kekuatan gel, derajat putih, kadar air, viskositas puncak, viskositas pasta panas, viskositas breakdown, viskositas pasta dingin, dan viskositas setback pati millet putih alami serta peningkatan kelarutan, kapasitas penyerapan air, DE, dan suhu awal gelatinisasi pati millet putih alami, sedangkan modifikasi annealing menyebabkan terjadinya penurunan swelling volume, freeze thaw stability, kadar air, viskositas puncak, viskositas pasta panas, viskositas pasta dingin, dan viskositas setback pati millet putih serta peningkatan kelarutan, kapasitas penyerapan air, kekuatan gel, derajat putih, DE, suhu awal gelatinisasi, dan viskositas breakdown pati millet putih.AbstractNative millet starch has several problems when used as raw materials in the food industry, which is native millet starch can not stand on the high temperature heating and can not stand on the mechanical process, so that it doesn’t suitable for products that require high heating process such as sauces. Therefore, native starch had to modified to improve the properties of the native starch. Modifications that used in this study were Heat Moisture Treatment (HMT) and annealing. The aim of this study was to determine the differences of functional and amylograph properties of native millet starch with HMT and annealing millet starch. Results from this research was HMT and annealing modification can improve the properties of the native starch, which increase resistance in thermal and mechanical process. Based on the amylogram graph, HMT starch has a type B pattern that properly used for sauces and annealing starch has a type A pattern that properly used for bakery products. HMT modification cause decrease in swelling volume, freeze thaw stability, gel strength, whiteness, water content, peak viscosity, hold viscosity, breakdown viscosity, final viscosity, and setback viscosity of native millet starch, and also increase in solubility, water absorption capacity, DE, and gelatinization temperature of native millet starch, while the annealing modification cause decrease in swelling volume, freeze thaw stability, moisture content, viscosity peak, hold viscosity, final viscosity and setback viscosity of native millet starch and increase in solubility, water absorption capacity, gel strength, whiteness, DE, gelatinization temperature and breakdown viscosity of native millet starch.Keywords: millet starch, Heat Moisture Treatment (HMT), annealing, functional, amylograph.
Co-Authors Abda Abda Abdullah Darussalam Addion Nizori Adi Rizky Pratama Adi Susilo Aenul Fuadah Agustin, Rachmayanti Tri Ahmad Fauzi Alifa, Naila Ratu Ambarwati, Evi Karlina Amid Rakhman amril siregar Anisa Itiawanti Annisa Nurhalizah Aqib Zhaky Arum Galih Pertiwi Awal, Elsa Elvira Ayu Juwita Baihaqi, Kiki Ahmad Banafshah Shafa Bramandito Affandi Budiyanto Budiyanto Deden Wahiddin Dewi, Indah Purnama Didik Remaldhi Direja, Azhar Ferbista Duhita D Utama DWI KUSUMANINGRUM Een Sukarminah Efri Mardawati Enjelia, Lola Faisal, Sutan Fauzan Azima Fauzi Ahmad Muda Fitri Nur Masruriyah, Anis Fitria, Denisa Gumilar, Rizki Bintang Hanan, Sofiah Marwah Hanny Hikmayanti Handayani Hartono Wijaya, Sony Heri Hermawan Herlina Marta Hilda Novita Humaryanto, Humaryanto Iis Sadiah Imas Siti Setiasih In-In Hanidah Indira Lanti Kayaputri Indra Lasmana Tarigan Iskandar, Muhammad Irsyad Jovan Pangestu Juwita, Ayu Ratna Kiki Baihaqi Kusumaningrum, Dwi Sulistya Lestari, Santi Arum Puspita M. Budi Kusarpoko Madyawati Latief Marsetio Marsetio Melia Siti Ajijah Miptahul Ulum Mochamad Djali Mohammad Djali Mohammad Djali Mohammad Djali Mohammad Djali Mudzakir, Tohirin Al Muhamad Amirrullah Muhammad Fadillah, Farhan Muhammad Ramadhan Mursyid Djawas Narwan Nahrudin Nina Puspitaloka Nofie Prasetiyo Nova Wulandari Praditya Putri Utami Pratama, Adi Rizky Pratiwi, Sinta Amanda Putri, Septiani Nuruldharma Rachmawati, Dhea Rahmat Rahmat Rahmat Rahmat Rahmat Restiana, Resti Ricky Steven Chandra Ridho Pratama, Ilham Ridwan, Ridwan Rizka Ayu Permana Rizki Ananda Rizki Nur Annisa Rizky Nugraha Rizky Riyanto Robi Andoyo Rohana, Tatang Rossi Indiarto Sabirin Sandra Intan Sari Santi Lestari Seow, Eng Keng Siregar, Amril Siregar, Amril Mutoi Siregar, Amril Mutoi Siti Hanifah Khairun Nisa Suci Rahma Ajiaviaty Sukmawati, Cici Emilia Sulistya, Dwi Suningwar Mujiana Surya Martha Pratiwi Sutan Faisal Syahril, Ade Tatang Rohana Tita Rialita Tjong Wan Sen Tohirin Al Mudzakir Tsani Adiyanti Tukino, Tukino Utama, Duhita Diantiparamudita Wahiddin, Deden Wazzan, Huda Wenda Adi Kusnaya Widiharto, Banani