cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Manuskripta
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
MANUSKRIPTA is a scholarly journal published by the Indonesian Association for Nusantara manuscripts or Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) in collaboration with National Library of Indonesia. It focuses to publish research-based articles on the study of Indonesian and Southeast Asian (Nusantara) manuscripts. MANUSKRIPTA aims to preserve and explore the diversity of Nusantara manuscripts, and communicate their localities to the global academic discourse. The journal spirit is to provide students, researchers, scholars, librarians, collectors, and everyone who is interested in Nusantara manuscripts, information of current research on Nusantara manuscripts. We welcome contributions both in Bahasa and English relating to manuscript preservation or philological, codicological, and paleographical studies. All papers will be peer-reviewed to meet a highest standard of scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta" : 11 Documents clear
Pola Rima Syiiran dalam Naskah di Tatar Sunda dan Hubungannya dengan Pola Rima Syair Arab Titin N. Ma'mun
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1318.823 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v1i1.8

Abstract

Syiiran merupakan sebuah tradisi yang tidak asing lagi di dunia pesantren, khususnya yang terdapat di Tatar Sunda. Selain dipergunakan untuk menyampaikan buah pikiran yang umumnya berupa ajakan, syiiran digunakan pula sebagai media untuk menyampaikan ajaran agama Islam, khususnya kepada para santri dan umumnya kepada masyarakat di sekitar pesantren. Penggunaan syiiran sebagai media pendidikan dipandang sangat efektif karena lebih mudah diingat dan tidak membebani santri (masyarakat) dengan situasi dan pola formal sebagaimana proses pembelajaran pada umumnya. Karena seringnya dinyanyikan atau diperdengarkan, syiiran dengan sendirinya dapat dihafalkan di luar kepala tanpa keterpaksaan. Hal ini tentu membawa dampak bagi proses pendidikan di sekitar pesantren. Melalui syiiran, diharapkan para santri serta masyarakat umum tergugah kesadarannya dan memiliki keinginan untuk mengikuti nasehat serta ajaran agama yang disenandungkan melalui syiiran tersebut. Demikian mengakarnya tradisi syiiran yang telah berlangsung sejak lama di Tatar Sunda, selain saat ini masih dapat dinikmati melalui pengeras suara di pengajian-pengajian juga dapat dibuktikan dengan adanya catatan-catatan syiir yang terdapat pada naskah klasik. Hal yang paling mudah diketahui dari syiiran pada naskah adalah adanya pengulangan bunyi akhir yang membentuk musikalitas atau orkestrasi sehingga membuat syiiran menjadi merdu jika dibaca. Adanya kebiasaan melantunkan syair-syair Arab, baik melalui tradisi pembacaan Barzanji, Shalawat, atau kutipan-kutipan syair pada Kitab Kuning sedikit banyak, baik disadari ataupun tidak, mempengaruhi pola rima syiiran yang digubah oleh masyarakat lokal. Hal ini memunculkan sejumlah kesesuaian pola rima antara syiiran dan syair Arab. Pola rima syiiran dalam naskah Sunda dan hubungannya dengan pola rima syair Arab yang dibahas dalam makalah ini diharapkan dapat membantu proses edisi teks dalam penelitian filologi, khususnya untuk teks yang berbentuk syiiran.
Sastra Sasak Selayang Pandang Dick van der Meij
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1275.766 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v1i1.3

Abstract

Dalam tulisan ini dijelaskan secara ringkas mengenai kesusastraan Sasak di Pulau Lombok. Uraian diawali dengan menjelaskan pentingnya Agama Islam bagi orang Sasak dan dua varian agama Islam yang dianut oleh orang Sasak, yaitu Waktu Telu dan Waktu Lima. Sementara itu, dalam pembicaraan mengenai kesusastraan Sasak dijelaskan bahwa kesusastraan di Pulau Lombok diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya lewat penulisan di daun Lontar. Tulisan di daun lontar itu menggunakan sejenis aksara Jawa yang di Lombok disebut aksara Jejawen dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan dalam lontar Sasak itu berbau logat Jawa pesisiran timur tetapi banyak kosa kata yang khas Sasak dan dicampur lagi dengan kata-kata dari bahasa Aran, Melayu, Bali, dan lain sebagainya sehingga bahasa Jawa gaya Lombok selayaknya dianggap sebagai logat Jawa tersendiri.
Kearifan Lokal Makanan Tradisional: Rekonstruksi Naskah Jawa dan Fungsinya dalam Masyarakat Trisna Kumala Satya Dewi
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1215.455 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v1i1.9

Abstract

Makanan tradisional merupakan fenomena kebudayaan. Kebudayaan pun ikut menentukan makanan dapat dimakan atau tidak sekaligus memberi cap atau mengesahkannya. Dengan demikian, makanan bukan sekedar untuk mempertahankan hidup, melainkan juga untuk mempertahankan kebudayaan sebuah kolektif. Dalam hal ini, makanan mempunyai arti simbolik yang berkaitan dengan fungsi sosial dan keagamaan (religi). Dalam masyarakat Jawa, makanan tradisional erat hubungannya dengan upacara ritual masyarakat Jawa yang hingga kini masih dilaksanakan. Hal tersebut nampak dalam beberapa naskah Jawa yang berisi tentang makanan tradisional, yaitu Serat Centhini, Serat Goenandrija, Serat Wilujengan, Jumenengan, Kraman, Mangkunegaraan, dan Primbon Lukmanahakim Adammakna. Naskah-naskah tersebut berisi berbagai macam makanan tradisional serta fungsinya dalam masyakat Jawa. Melalui tulisan ini, akan dipaparkan kearifan lokal berupa warisan budaya, yaitu pemikiran-pemikiran nenek moyang mengenai makanan tradisional yang terekam dalam naskah-naskah tersebut.
'Menjadi Jawa': Naskah Cina-Jawa Dwi Woro Retno Mastuti
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1576.184 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v1i1.4

Abstract

Naskah-naskah Cina-Jawa, yang ditulis dalam bahasa/aksara Jawa merupakan bagian dari khazanah naskah Jawa yang telah hadir sejak awal abad ke-19. Isi naskah tersebut mengisahkan mitos/legenda Tiongkok, seperti Sam Kok dan Sik Jin Kwi. Jumlah naskah-naskah Cina-Jawa adalah 118 tersebar di berbagai perpustakaan di Pulau Jawa dan mancanegara. Naskah ini merupakan bukti aktifitas masyarakat Cina Peranakan Jawa di bidang tradisi tulis. Selain itu juga bukti upaya menjadi Jawa etnis Cina yang pada masa itu tinggal di Pulau Jawa. Aksara Swara dan aksara Rekan yang muncul dalam naskah Cina-Jawa juga merupakan bentukan baru yang diciptakan untuk tetap memunculkan identitas kecinaan. Aksara tersebut digunakan untuk menulis nama-nama tokoh dan teks cerita.
Etika Politik Kesultanan Melayu Bima M. Adib Misbachul Islam
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.994 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v1i1.11

Abstract

Oman fathurahman (Ed.), "Jawharat al-Maarif: Mempertegas Identitas Kesultanan Melayu", dalam Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kesultanan Bima, (Jakarta: KPG bekerja sama dengan Ecole Francaise dExtreme-Orient dan Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2010), hlm. 191-214
Naskah Klasik di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara Idham Idham
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1756.359 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v1i1.5

Abstract

Tulisan ini merupakan penelusuran lanjutan naskah klasik di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara. Pada tahun sebelumnya (2009) telah diinventarisir dan digitalkan sebanyak 48 naskah klasik di Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Pada tahun 2010, telah ditemukan, diinventarisir, dan digitalkan kembali sebanyak 125 di Kota Tidore Kepulauan. Naskah-naskah klasik tersebut pada umumnya ditulis pada abad 17-19. Adapun naskah yang ditulis pada abad ke-20 merupakan salin ulang dari naskah klasik yang ada. Naskah-naskah tersebut pada umumnya ditemukan pada masyarakat dan milik warga. Karena naskah klasik yang ada sudah berumur, maka naskah tersebut pada umumnya sudah tidak utuh, bahkan banyak yang hanya berupa lembaran-lembaran yang sudah tidak diketahui susunannya. Selain karena usia, penyebab lapuknya naskah tersebut karena pemeliharaan yang tidak memenuhi standar . adapun alas tulis yang digunakan berupa kertas Dluwang, Eropa (mempunyai watermark dan countermark), China, kertas bergaris dengan tinta lokal (mansi) dan tinta import. Sedangkan dari segi isi, naskah-naskah tersebut pada umumnya berisi tentang ajaran Tarekat. Selain Tarekat, juga berisi masalah fikih, nahwu, sharaf, tajwid, khutbah, surat Sultan, sejarah, jimat, dan lain-lain.
Mengungkap Naskah Kuna koleksi Masyarakat Cirebon: Sebuah Catatan Filologis sebagai Trend Studi Islam di PTAI Mahrus el-Mawa
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1050.032 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v1i1.6

Abstract

Studi filologi di Kementerian Agama RI, melalui Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), saat ini tengah menjadi trend. Hal itu bisa dilihat dari beberapa ikhtiar yang telah dilakukannya, baik secara praktis maupun strategis. Di antara PTAI yang dimaksud dalam tulisan ini adalah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Naskah yang digunakan dalam paparan ini terkait dengan warisan Kraton/Kesultanan Cirebon, terutama Kasepuhan dan Kanoman yang berada di masyarakat. Kedua kraton ini merupakan dua dari empat Kraton di Cirebon. Keduanya mempunyai peran penting dalam peradaban Islam di Indonesia. Di antara peranannya antara lain adanya naskah kuna (manuscript) keagamaan yang hingga kini, sebagiannya diselamatkan para pewarisnya sebagai koleksi masyarakat. Tulisan ini mengungkap akses dan identitas naskah kuna Kraton yang di masyarakat, khususnya setelah digitalisasi bersama-sama PTAIN di Cirebon. Harapannya, terdapat tindak lanjut yang lebih strategis untuk penyelamatan dan pelestarian naskah kuna sebagai bukti dari peradaban Islam Indonesia oleh berbagai pihak. Paparan berikut ini dilengkapi pula dengan deskripsi sederhana dari beberapa naskah tersebut.
Hikayat Nakhoda Asik Sapirin bin Usman, Hikayat Merpati Mas Muhammad Bakir Oman Fathurahman
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.009 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v1i1.13

Abstract

Henri Chambert-Loir (ed.), Hikayat Nakhoda Asik Sapirin bin Usman, Hikayat Merpati Mas Muhammad Bakir. Jakarta: Masup Jakarta, Ecole francaise d'Extreme-Orient, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2009, 335 hlm, ilustrasi. ISBN 978-979-1570-66-4
Karakteristik Naskah Islam Indonesia: Contoh dari Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar Oman Fathurahman
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1073.251 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v1i1.7

Abstract

Tulisan ini akan membahas tentang karakteristik naskah Islam koleksi Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, yang antara lain ditunjukkan melalui berbagai catatan marginalia yang dibuat oleh penyalin naskah, maupun melalui catatan sampul yang dibuat belakangan oleh pemilik naskahnya. Marginalia dan catatan sampul tersebut dapat ditempatkan sebagai salah satu bentuk sumber penting dalam merekonstruksi sejarah sosial Zawiyah Tanoh Abee, yang merupakan salah satu skriptorium naskah keagamaan di Sumatera bagian Utara ini. Selain itu, tulisan ini juga akan mengemukakan karakteristik sejumlah naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee yang dapat memberikan gambaran tentang afiliasi dan kecenderungan pemikiran atau mazhab keagamaan masyarakat Muslim Aceh yang terhubungkan dengannya. Kajian terhadap naskah-naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee sendiri sebetulnya masih sangat terbatas dibanding jumlah naskahnya, padahal sebagian warisan sejarah Islam Aceh abad ke-17 dan 18, naskah-naskah Zawiyah Tanoh Abee jelas sangat penting kedudukannya, baik dalam konteks perkembangan Islam di Aceh maupun Nusantara secara keseluruhan, seperti akan saya kemukakan di bawah.
Menafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Děděs dalam Kitab Pararaton Agus Aris Munandar
Manuskripta Vol 1 No 1 (2011): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1422.328 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v1i1.2

Abstract

Kitab Pararaton merupakan karya anonim yang ditulis dalam bahasa Jawa tengahan. Kitab tersebut menguraikan kehidupan Ken Angrok serta raja-raja Singhasari dan Majapahit. Tulisan ini berusaha menjelaskan latar belakang mengapa cerita mengenai Ken Angrok itu mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan dengan cerita mengenai kehidupan raja-raja yang lain. Melalui telaah tekstual terhadap Kitab Pararaton dan telaah terhadap bukti-bukti arkeologis terkait, terlihat bahwa cerita Ken Angrok dalam kitab tersebut merupakan simbol penyatuan dua agama besar yang dianut oleh masyarakat Jawa Kuno: Hindu Saiwa dan Budha Mahayana. Simbolisasi Agama Hindu-Saiwa itu terlihat dari uraian mengenai sosok Ken Angrok sebagai penjelmaan dari tiga dewa: Brahma, Siwa, dan Wisnu, sementara simbolisasi agama Budha Mahayana itu terlihat dari uraian mengenai sosok isteri Ken Angrok, yaitu Ken Děděs, sebagai putri tunggal Mpu Purwa, seorang pendeta Budha Mahayana. Sebagai implikasi dari penyatuan dua agama besar, beberapa candi yang mengandung semangat penyatuan tersebut, yang dikenal dengan candi Syiwa-Budha, dibangun pada masa Kerajaan Singhasari. Bentuk candi tersebut jelas tidak pernah terbayangkan ada sebelum masa Singhasari.

Page 1 of 2 | Total Record : 11