cover
Contact Name
Andi Suwirta
Contact Email
aspensi@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
aspensi@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
SUSURGALUR
Published by Minda Masagi Press
ISSN : 23025808     EISSN : -     DOI : -
This journal, with ISSN 2302-5808, was firstly published on March 24, 2013, in the context to commemorate the BLA (Bandung Lautan Api or Bandung a Sea of Flames)’s Day in Indonesia. The SUSURGALUR journal has jointly been organized by the Lecturers of APB UBD (Academy of Brunei Studies, University of Brunei Darussalam) and International & History Studies FASS (Faculty of Arts and Social Sciences) UBD in Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, since issue of September 2013 to date; and published by Minda Masagi Press, a publishing house owned by ASPENSI (the Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia. The articles published in SUSURGALUR journal are able to be written in English as well as in Indonesian and Malay languages. The SUSURGALUR journal is published every March and September. The SUSURGALUR journal is devoted, but not limited to, history education, historical studies, and any new development and advancement in the field of history education and historical studies. The scope of our journal includes: (1) History Education and National Character Building; (2) Political, Social, Cultural and Educational History; (3) Education, History, and Social Awareness; (4) Economic History and Welfare State; (5) Science, Technology and Society in Historical Perspectives; (6) Religion and Philosophy in Historical Perspectives; and (7) Visual Arts, Dance, Music, and Design in Historical Perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 1 (2013): " : 8 Documents clear
Hunayn bin Ishaq dan Sejarah Penerjemahan Ilmu Pengetahuan ke dalam Bahasa Arab Lesmana, Maman
SUSURGALUR Vol 1, No 1 (2013):
Publisher : SUSURGALUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.256 KB)

Abstract

Ikhtisar: Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri tentang asal mula penerjemahan ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Arab, siapa yang pertama kali melakukan aktivitas terjemahan, apa saja yang diterjemahkan, dan bagaimana cara menerjemahkannya. Dimulai dengan memberikan informasi secara detil tentang aktivitas penerjemahan yang dilakukan oleh orang-orang Arab dan model terjemahan dari masing-masing periode, mulai dari zaman pra Islam, Islam, Bani Ummayah, dan Bani Abbasiyyah. Dilanjutkan dengan riwayat hidup Hunayn bin Ishak, orang pertama yang berperan dalam penerjermahan ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Arab, karya-karya dan tema-tema, serta apa saja yang pertama kali diterjemahkan. Lalu ditutup dengan keterangan mengenai adanya dua teori tentang aktivitas penerjemahan pada saat itu, yaitu teori yang berpendapat bahwa aktivitas penerjemahan merupakan hasil dari kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh orang-orang Kristen Syria, yang mahir berbahasa Yunani. Teori kedua berpendapat bahwa aktivitas penerjemahan ditujukan kepada para penguasa yang bijaksana dan berpikiran terbuka.Kata kunci: Tokoh Hunayn bin Ishak, sejarah penerjemahan, ilmu pengetahuan, bahasa, dan budaya Arab.Abstract: This paper aims to trace the origin of translation of knowledge into Arabic, who was first to perform activities of translation, what is translated, and how to translate it. Started by providing detailed information about the activity of translation done by Arabs and translation models from each period, starting from the time of pre-Islamic, Islamic, Bani Ummayads, and Bani Abbasids. Followed by biography of Hunayn ibn Ishak, the first to play a role in translation of science into Arabic and the works or themes and models that first are translated. And conclude with a description of the existence of two theories of translation activity at the time, that is the first theory which argues that translation is the result of the activity of scientific activities undertaken by the Christians of Syria, whose fluent in Greek. The second theory found that translation activities aimed towards the wise ruler and open-minded.Key word: Figure of Hunayn bin Ishak, history of translation, science, language, and Arabic culture.===About the Author: Dr. Maman Lesmana adalah Dosen Senior di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI (Universitas Indonesia), Kampus UI Depok, Jawa Barat, Indonesia. Alamat e-mail: malessutiasumarga@yahoo.comHow to cite this article? Lesmana, Maman. (2013). “Hunayn bin Ishaq dan Sejarah Penerjemahan Ilmu Pengetahuan ke dalam Bahasa Arab” in SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah, Vol.1(1), Maret, pp.1-10. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, ISSN 2302-5808. Chronicle of the article: Accepted (January 15, 2013); Revised (February 15, 2013); and Published (March 24, 2013).
Mentalitas Pemuda pada Masa Pergerakan dan Masa Reformasi di Indonesia: Dari Berani Berpengetahuan hingga Takut Berpengetahuan Wijaya, Daya Negri
SUSURGALUR Vol 1, No 1 (2013):
Publisher : SUSURGALUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.085 KB)

Abstract

Ikhtisar: Pemuda adalah pondasi negara yang memberikan banyak solusi untuk menanggulangi berbagai masalah yang ada di negeri ini, tetapi secara tidak langsung masalah tersebut juga muncul dari mereka sendiri. Pendidikan adalah salah satu faktor penting yang membuat pemuda menjadi pembuat masalah atau menjadi penyelesai masalah tersebut. Perbedaan itu terjadi karena perbedaan tingkat pengetahuan yang dimilikinya sehingga juga menciptakan mentalitas yang berbeda-beda. Mentalitas terdiri dari gagasan-gagasan dan karakter yang mengontrol perilaku manusia. Artikel ini akan berfokus pada perkembangan mentalitas pemuda yang selalu ingin tahu atau belajar di masa pergerakan nasional Indonesia (1908-1945) dan mentalitas pemuda yang takut berpengetahuan di era Reformasi (1998 – sekarang). Secara singkat, pemuda memiliki kesadaran untuk bangkit hanya karena adanya bahaya dalam kolonialisme secara fisik, tetapi mereka tidak menyadari lebih berbahayanya penjajahan pengetahuan daripada penjajahan secara fisik.Kata kunci: Generasi muda, mentalitas, pendidikan, kekuasaan, gerakan nasional, era reformasi, dan Indonesia.Abstract: Young men/women as a root of nation have given many solutions to solve problems in this country, but indirectly the problems that appear are occurring because of their selves. Education is the main factor creating the young man/women to be a problem maker for the nation and a solve maker for the nation. The distinction exists because the differences level of knowledge between one and another in order to make someone has different mentality. Mentality consists of ideas and character that control their action. This paper will focus on young men/women mentality that really want to learn everything in the Indonesian national movement era (1908-1945) and the young men/women mentality that is fear to learn many knowledges in the Reform era (1998 – recently). In brief, young men/women have awareness to awake because of the dangerous sign in term of physically colonialism, but they do not realize the more dangerous of colonialiasm in term of knowledge than it.   Key word: Young men/women, mentality, education, power, national movement, reform era, and Indonesia.===About the Author: Daya Negri Wijaya adalah Mahasiswa pada Program M.A. (Master of Arts) dalam bidang Sejarah di UOS (University of Sunderland) di Inggris. Untuk kepentingan akademis, penulis dapat dihubungi dengan alamat e-mail: dayawijaya15@yahoo.comHow to cite this article? Wijaya, Daya Negri. (2013). “Mentalitas Pemuda pada Masa Pergerakan dan Masa Reformasi di Indonesia: Dari Berani Berpengetahuan hingga Takut Berpengetahuan” in SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah, Vol.1(1), Maret, pp.75-84. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, ISSN 2302-5808. Chronicle of the article: Accepted (January 17, 2013); Revised (February 17, 2013); and Published (March 24, 2013).
Nilai-nilai Moral dalam Karya Sastra Melayu Klasik Islam: Kajian terhadap Hikayat Raja Khaibar, Hikayat Saif Zulyazan, serta Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri Kosasih, H.E.
SUSURGALUR Vol 1, No 1 (2013):
Publisher : SUSURGALUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.972 KB)

Abstract

Ikhtisar: Sastra klasik merupakan salah satu sumber kultural yang sangat penting. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Oleh sebab itu, untuk sampai pada pengertian yang sesunggunya, penulis membatasi pada persolan struktur sastra Melayu klasik Islam yang meliputi alur, tokoh, latar dan tema, kategori-kategori moral, dan karakteristik umumnya pada tiga karya sastra yang terpilih, yakni: “Hikayat Raja Khaibar”, “Hikayat Saif Zulyazan”, serta “Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri”. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Penelitian ini juga memusatkan perhatian pada penginferensian suatu teks, maka proses pengumpulan data dilakukan melalui teknik analiss isi. Dengan menggunakan metode tersebut sampailah pada kesimpulan bahwa karya sastra Melayu klasik Islam sarat dengan muatan moral. Nilai-nilai moral tersebut dapat dijumpai dalam alur, penokohan, latar, dan tema ceritanya. Kaidah moral yang dinyatakan di dalamnya merupakan sesuatu yang ideal, yang sangat dipengaruhi oleh sistem normatif yang berlaku dalam masyarakat kala karya tersebut tercipta.Kata kunci: Nilai-nilai moral, sastra klasik, hikayat, Melayu Islam, unsur intrinsik, analisis isi, dan tokoh ideal.Abstract: Classical literature is one of the most important cultural resources. It contained human values universally. Therefore, to come to terms with the realistic matter, the author restricted the issue of Malay Islamic literature structure, which includes the plot, characters, setting and theme, moral categories, and general characteristics of the three selected literary works, namely: the “Tale of Khaibar King”, “Tale of Saif Zulyazan”, and “Tale of Mariam Zanariah and Nurdin Masri”. This study used a descriptive as well as qualitative method. This study also focused on inferensiting a text, then, the process of data collection is done through content analysis techniques. By using these methods came to the conclusion that the classical Malay Literature laden the Islamic morals. Moral values can be found in the plot, characterizations, setting, and theme of the story. Moral rules are stated in it is an ideal, which is strongly influenced by normative system which applies in the community when the work is created.Key word: Moral values, classical literature, tales, Islamic Malay, intrinsic element, content analysis, and ideal figure.===About the Author: Dr. H.E. Kosasih adalah Dosen pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Jalan Dr. Setiabudhi No.229 Bandung 40154, Jawa Barat, Indonesia. Alamat emel: ekos_kosasih@yahoo.comHow to cite this article? Kosasih, H.E. (2013). “Nilai-nilai Moral dalam Karya Sastra Melayu Klasik Islam: Kajian terhadap Hikayat Raja Khaibar, Hikayat Saif Zulyazan, serta Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri” in SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah, Vol.1(1), Maret, pp.11-26. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, ISSN 2302-5808. Chronicle of the article: Accepted (January 10, 2013); Revised (February 10, 2013); and Published (March 24, 2013).
Indonesia dan Masalah Perbatasan: Beberapa Masalah dalam Perkembangan Daerah Tapal Batas sebagai Bagian Perekonomian Nasional dari Perspektif Sejarah Tangkilisan, Yuda B
SUSURGALUR Vol 1, No 1 (2013):
Publisher : SUSURGALUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.429 KB)

Abstract

Ikhtisar: Dalam perkembangan sejarah, perbatasan menjadi penting karena berkenaan dengan ruang tinggal. Aspek ruang pula mengacu pada sumber daya ekonomi yang menjadi arus utama bagi kehidupan masyarakat atau bangsa. Indonesia memiliki rentangan garis perbatasan yang sangat panjang dengan sejumlah negeri tetangga. Salah satu permasalahan utama kawasan perbatasan adalah ketimpangan perkembangan ekonomi dengan wilayah negeri tetangga, termasuk di kawasan perbatasan maritim. Kajian awal ini mencoba menyibak permasalahan yang ada dan menawarkan beberapa pemikiran untuk pengembangan kawasan perbatasan bahari. Penggalian potensi kemaritiman dan pengembangan sarana transportasi laut dapat menjadi pendorong perkembangan daerah yang berada di kawasan seperti itu. Sarana perhubungan juga memegang peranan penting dalam melancarkan lalu-lintas angkutan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Aspek-aspek perhubungan yang disoroti adalah seperti pelayaran rakyat dan penerbangan perintis. Kedua sarana ini berhubungan langsung dengan pemberdayaan masyarakat luas. Kata kunci: Perbatasan, bahari, perkembangan ekonomi, transportasi laut, dan ekonomi bahari.Abstract: In historical development, boundary is critical matter due to related to living space. The aspect of space also concentrates to economical resources that become the mainstream for soiety as well as national life. Indonesia has a very long boundary line with several neighbor countries. One of the main problems of boundary areas is the unequal economic condition with the neighbor countries, including in the maritime boundary areas. This preliminary study tries to unveil the existing issues and offers some thoughts to develop those areas. The exploration of martime potentates and the developing of sea transportation facilities are able to be a push factor of the provincial growth in such areas. Transportation also plays an important role in developing public traffics. Such modes of transportation are traditional shipping and pioneer aviation. Those two have a direct link to the development of common people.  Key word: Boundaries, maritime, economic growth, sea transportation, maritime economics.===About the Author: Dr. Yuda B. Tangkilisan adalah Dosen Senior di Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI (Universitas Indonesia), Kampus UI Depok, Jawa Barat, Indonesia. Alamat emel: yebete@yahoo.comHow to cite this article? Tangkilisan, Yuda B. (2013). “Indonesia dan Masalah Perbatasan: Beberapa Masalah dalam Perkembangan Daerah Tapal Batas sebagai Bagian Perekonomian Nasional dari Perspektif Sejarah” in SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah, Vol.1(1), Maret, pp.85-96. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, ISSN 2302-5808. Chronicle of the article: Accepted (January 27, 2013); Revised (February 27, 2013); and Published (March 24, 2013).
Perburuan Hamba, Perlanunan, dan Kempen Penghapusan Lanun di Sarawak: Perspektif Sejarah Maritim Ali, Ismail
SUSURGALUR Vol 1, No 1 (2013):
Publisher : SUSURGALUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.906 KB)

Abstract

Ikhtisar: Abad ke-18 dan ke-19 telah menyaksikan kemunculan orang-orang Dayak Laut di Sarawak – bersama-sama dengan orang-orang Iranun dan Balangingi yang berasal dari kepulauan Filipina – sebagai “hero” Brunei kerana pernah menjadikan bangsa Eropah sebagai tawanan dan hamba mereka. Penguasaan orang-orang Iranun, Balagingi, dan Dayak Laut yang juga dikenali sebagai ”Raja di Laut” dan “Vikings of the Eastern Seas” di perairan kepulaun Borneo dan Asia Tenggara ini telah menggerunkan dan sekaligus menjadi mimpi ngeri kepada para pelayar dan pedagang Barat yang berlayar ke kawasan perairan kepulauan Borneo dan Asia Tenggara pada waktu itu. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji penglibatan dan peranan para pembesar Brunei dan Melayu di Sarawak dalam aktiviti pemburuan hamba dan perlanunan serta membantu rejim Brooke dalam kempen penghapusan lanun (mantan pembesar Brunei, pembesar Melayu Sarawak, dan Dayak Laut) di sekitar perairan Sarawak dan Brunei pada era pemerintahan Sultan Omar Ali Saifuddin II (1828-1852) dari perspektif ekonomi dan budaya maritim Brunei.Kata kunci: Lanun, orang Dayak Laut, dan penglibatan pembesar Brunei dan Melayu di Serawak dalam dunia perlanunan.Abstract: The eighteenth and nineteenth centuries witnessed the emergence of the Sea Dayaks in Sarawak – alongside the Iranuns and the Balangingis whose homeland was the Philippine islands – as the heroes of Brunei due to the fact that the Europeans were once captured by the Sea Dayaks and were made as the latter’s slaves. The control that the Iranuns, the Balangingis, and the Sea Dayaks who were also known as the “King of the Seas” and the “Vikings of the Eastern Seas” had over the Borneo island and Southeast Asia was rather intimidating, in fact a nightmare, for travelers and Western traders who sailed to or through the region. This article aims to investigate the involvement of, and the role played by, Brunei’s governing elite and the Malays in Sarawak in slave hunting and piratical activities and the assistance they offered to Brooke regime in piracy eradication campaign (former Brunei’s governors, Malay Sarawak governors, and the Sea Dayaks) at the coastal areas of Sarawak and Brunei during the reign of Sultan Omar Saifuddin II (1828-1852) from the perspectives of maritime economy and culture of Brunei.Key word: Piracy, Sea Dayaks, involvement of Brunei’s governing elite and the Malays in Sarawak in the world of piracy. ===About the Author: Prof. Madya Dr. Ismail Ali ialah Pensyarah Kanan di Program Sejarah, Sekolah Sains Sosial UMS (Universiti Malaysia Sabah), Jalan Beg Berkunci, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Alamat e-mail: ismailrc@ums.edu.my  How to cite this article? Ali, Ismail. (2013). “Perburuan Hamba, Perlanunan, dan Kempen Penghapusan Lanun di Sarawak: Perspektif Sejarah Maritim” in SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah, Vol.1(1), Maret, pp.27-40. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, ISSN 2302-5808. Chronicle of the article: Accepted (January 12, 2013); Revised (February 22, 2013); and Published (March 24, 2013).
Full text of the SUSURGALUR journal, March 2013 SUSURGALUR, Editor Journal
SUSURGALUR Vol 1, No 1 (2013):
Publisher : SUSURGALUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah.Jurnal ini diterbitkan pertama kali pada tanggal 24 Maret 2013, bersamaan dengan peringatan hari BLA (Bandung Lautan Api). Sejak edisi pertama, jurnal ini diterbitkan oleh ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di Bandung. Pihak ASPENSI mengundang lembaga lain untuk bekerjasama dalam penerbitan jurnal ini.SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah.Jurnal ini diperuntukkan bagi para sejarawan, pendidik, dan peminat sejarah di Indonesia dan di Asia Tenggara untuk menyebarkan berbagai hasil penelitian, gagasan dan pemikiran kritis, serta pengalaman menarik di bidang kesejarahan dan pendidikan sejarah, serta disiplin ilmu lain yang masih ada hubung-kaitnya dengan kajian sejarah dan pendidikan sejarah.SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah.Jurnal ini diterbitkan dengan ISSN 2302-5808 dan berusaha menjaga keberkalaannya agar bisa terbit setiap bulan Maret dan September. Jurnal ini selain diterbitkan secara konvensional dengan versi cetak juga didiseminasikan secara online melalui website jurnal. SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah.Jurnal ini dikelola secara profesional dan independen, dengan Dewan Redaksi dan Mitra Bebestari dari para sejarawan dan ahli pendidikan sejarah yang berasal dari Perguruan Tinggi berbagai Negara, 
Pers Tionghoa dan Dinamika Pergerakan Nasional di Indonesia, 1900 – 1942 Kosasih, Ahmad
SUSURGALUR Vol 1, No 1 (2013):
Publisher : SUSURGALUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.859 KB)

Abstract

Ikhtisar: Bisa dikatakan bahwa pers membentuk sejarah dan sejarah juga membentuk pers itu sendiri. Pers berperan dalam menyampaikan berbagai informasi tentang peristiwa di sebuah negara-bangsa. Ia sebagai alat komunikasi, penyampai ide, dan buah pikiran seseorang atau kelompok tertentu kepada orang atau kelompok lain. Pers, khususnya surat kabar, merupakan fenomena penting pada masa pergerakan nasional di Indonesia. Pers pergerakan terdiri dari pers Belanda, pers Tionghoa, dan pers Bumiputera. Khusus tentang pers Tionghoa, secara umum dipandang mampu memberi inspirasi bagi perkembangan kesadaran berbangsa di kalangan warga keturunan Tionghoa di Hindia Belanda (Indonesia sekarang). Pers Tionghoa pun berpotensi membangkitkan kesadaran kolektif, yang menjurus kepada upaya membangkitkan kesadaran kaum Tionghoa tentang arti pentingnya “nasionalisme”. Karenanya melalui pers, keterlibatan etnis Tionghoa ke dalam dinamika pergerakan nasional Indonesia secara sadar telah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia yang terus bergerak dalam mencari dan menemukan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia.Kata kunci: Pers, surat kabar, etnik Tionghoa, nasionalisme Indonesia, dan sejarah pergerakan nasional.Abstract: It can be said that press creates the history and, vice versa, history constructs the press. Press has a role in delivering various informations about the events in a nation-state. It is as communication tool, the conveyor of ones or particular groups idea or thought to other. Press, especially newspaper, is an important phenomenon in the period of national movement in Indonesia. The press concerned with national movement in that era was that of Dutch, Chinese, and “Bumiputera” (Indonesian people). Specifically for Chinese press, it is generally assumed to be able to give inspiration for the development of national awareness among Chinese descendants in Dutch East Indies (Indonesia nowadays). The Chinese press is potential in inspiring collective awareness that leads to the effort of generating Chinese people awareness about the importance meaning of "nationalism". Therefore, by press, the involvement of Chinese ethnic in Indonesia national movement dynamic has consciously been a part of Indonesia society that continually moves in searching and finding its identity as Indonesia nation.Key word: Press, newspaper, Chinese ethnic, Indonesia nationalism, and the history of national movement.===About the Author: Ahmad Kosasih, M.Pd. adalah Dosen pada Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas IPPS (Ilmu Pendidikan Pengetahuan Sosial), Universitas Indraprasta PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), Jalan Nangka No.58C Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan 12530, Indonesia. Alamat e-mail: aseng.kosasih@gmail.comHow to cite this article? Kosasih, Ahmad. (2013). “Pers Tionghoa dan Dinamika Pergerakan Nasional di Indonesia, 1900 – 1942” in SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah, Vol.1(1), Maret, pp.41-60. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, ISSN 2302-5808. Chronicle of the article: Accepted (January 24, 2013); Revised (February 26, 2013); and Published (March 24, 2013).
Sejarah Pendidikan Kejuruan di Nusantara: Pembangunan Identiti Negara-Bangsa serta Modal Insan di Malaysia dan Indonesia Mustapha, Ramlee
SUSURGALUR Vol 1, No 1 (2013):
Publisher : SUSURGALUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikhtisar: Pendidikan teknikal dan vokasional di Malaysia dan Indonesia mempunyai sejarahnya yang tersendiri. Di Malaysia, pendidikan teknikal dan vokasional sebelum merdeka menonjolkan imej pertanian dan kemahiran teknikal yang bersifat manual untuk melatih pelajar Melayu bagi mengisi jawatan di jabatan-jabatan di bawah negeri-negeri Melayu Bersekutu. Selepas kemerdekaan (1957), pendidikan ini terus berkembang dan beberapa pembaharuan telah dilaksanakan untuk meningkatkan imej pendidikan vokasional. Manakala di Indonesia, perkembangan yang hampir sama berlaku, namun perbezaan yang ketara adalah dari segi pembiayaan pendidikan teknikal dan vokasional di peringkat menengah di mana terdapat banyak SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Swasta di Indonesia. Terdapat konsep-konsep baru dalam pendidikan teknikal dan vokasional, sama ada di Malaysia mahupun di Indonesia. Implikasi sorotan ini adalah untuk mengenalpasti pembangunan modal insan di negara-negara Nusantara dari perspektif daya saing dan persediaan menghadapi kesan globalisasi. Kata kunci: Pendidikan kejuruan, kualiti modal insan, identiti negara-bangsa, serta negara Malaysia dan Indonesia. Abstract: The technical and vocational education in Malaysia and Indonesia has its own history. In Malaysia, the technical and vocational education before the independence is projecting the image of agriculture and technical. The education is aims to train the Malay students to fill the vacant positions at any states in Malaysia. After the independence of Malaysia (1957), technical and vocational education continues to grow, and some changes have been implemented to improve the image of the education. While in Indonesia, similar developments occurred, but a significant difference is in terms of financing the technical and vocational education due to there are many private Vocational High Schools (SMK) in Indonesia. Hence, there are new concepts in technical and vocational education whether in Malaysia or in Indonesia. The implication of this article is to identify human capital development in the countries from the perspective of competitiveness and the impact of globalization.Key word: Vocational education, quality of human capital, identity of the nation-state, and Malaysia and Indonesia.===About the Author: Prof. Dr. Ramlee Mustapha ialah Pensyarah Kanan di Fakulti Pendidikan Teknikal dan Vokasional UPSI (Universiti Pendidikan Sultan Idris), Tanjong Malim, Perak Darul Ridzuan, Malaysia. Alamat emel: drramlee@yahoo.comHow to cite this article? Mustapha, Ramlee. (2013). “Sejarah Pendidikan Kejuruan di Nusantara: Pembangunan Identiti Negara-Bangsa serta Modal Insan di Malaysia dan Indonesia” in SUSURGALUR: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah, Vol.1(1), Maret, pp.61-74. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press, ISSN 2302-5808.Chronicle of the article: Accepted (January 14, 2013); Revised (February 14, 2013); and Published (March 24, 2013).

Page 1 of 1 | Total Record : 8