cover
Contact Name
Masruchin
Contact Email
aldzikra@radenintan.ac.id
Phone
+6281379788639
Journal Mail Official
aldzikra@radenintan.ac.id
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits
ISSN : 19780893     EISSN : 27147916     DOI : 10.24042
Core Subject : Religion, Education,
Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-Quran dan al-Hadits [ISSN 2714-7916] is peer-reviewed journal dedicated to publish the scholarly study of Quran and Hadits from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with: Quranic and Hadits Studies, Quranic and Hadits sciences, Living Quran and Hadits, Quranic and Hadits Studies accros different areas in the world (The Middle East, The West, Archipelago and other areas), Methodology of Qur’an, Tafsir and Hadits Studies. Publishes twice in a year [June and December]. by Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty, UIN Raden Intan Lampung.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 14 No 1 (2020)" : 7 Documents clear
Metode Tafsir al-Baghawi dalam kitab Ma'a>lim al-Tanzi>l Rohmanan, Mohammad; Arminsa, M. Lytto Syahrum
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.4480

Abstract

AbstractMa'a>lim al-Tanzi>lby Al-Baghawi is a commentary book that has a concise explanation. Ma'a>lim al-Tanzi>l belongs to the commentary bookwhich is in the middle of the discussion, neither too long nor too short. The contents of the discussion are simple and not long winded. This paper wants to discuss about methodology, strenghts and weakness of the Tafsir Al-Baghawi. The method used in this paper is descriptive-analytic with the aim of further discussing and anlysing the interpretation method of the Qur’an used by Al-Baghawi in the book of interpretation. In carrying out the classification analysis, this paper discusses the Ridwan Nasir classification model. The conclusion resulting from this article is: seen from the sources of interpretation of Al-Baghawi inclined to use the bi al-Iqtiran method. For breadth of explanation, it falls into the category of interpretation of tafsiliy/it}nabiy. Lather, method of presenting interpretation resulting from the target and order of the verses that are transferred using the interpretation method tahlili. In addition, from several methods used, based on further reading, Tafsir Al-Baghawi has advantages and disadvantages. There fore, this paper only focuson the methodology, weakness and strengths side of the Tafsir Al-Baghawi. AbstrakMa'a>lim al-Tanzi>l karya Al-Baghawi merupakan kitab tafsir yang memiliki penjelasan yang ringkas. Ma'a>lim al-Tanzi>l tergolong kitab tafsir yang berada di tengah-tengah dalam pembahasannya, tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek. Muatan pembahasannya terbilang sederhana dan tidak bertele-tele. Tulisan ini ingin membahas seputar metodologi, kelebihan dan kekurangan dari kitab Tafsir Al-Baghawi. Metode yang digunakan dalam tulisan ini deskriptif-analitik dengan tujuan mengeksplorasi dan menganalisis lebih jauh metode penafsiran al-Qur’an yang digunakan Al-Baghawi dalam kitab tafsirnya. Dalam melakukan klasifikasi analisis, tulisan ini mengacu pada model klasifikasi Ridwan Nasir. Kesimpulan yang dihasilkan dari artikel ini yaitu: dilihat dari sumber penafsiran, Al-Baghawi condong menggunakan metode tafsir bi al-Iqtiran. Untuk keluasan penjelasan masuk pada kategori tafsir tafsily/it}nabiy. Adapun metode penyajian tafsir yang dihasilkan dari sasaran dan tertib ayat yang ditafsirkan menggunakan metode tafsir tahlili. Selain itu, dari beberapa metode yang telah digunakan, berdasarkan pembacaan lebih lanjut, Tafsir Al-Baghawi memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, tulisan ini hanya berfokus pada sisi metodologi, kekurangan dan kelebihan dari Tafsir Al-Baghawi. Kata Kunci: Tafsir Al-Baghawi, Metodologi, Kelebihan dan Kekurangan. 
Al-Sunnah Qabla Al-Tadwin Karya Muhammad ‘Ajjâj al-Khatîb Taufikurrahman, Taufikurrahman; Hisyam, Ali
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.4595

Abstract

AbstractThis study discusses Al-Sunnah Qabla Al-Tadwîn' by Muhammad ‘Ajjâj Al-Khatîb, a prominent figure of Islamic scholar and thinker from Damascus.It uses descriptive-analytical method. The result shows that the book discusses the history and development of both oral and written traditions in the period of the Prophet, Companions and Successors. The book also explains the periodization of the development of the hadith.This study, therefore, seeks to examine the mapping of the periodization of the prophetic tradition the author made. AbstrakPenelitian ini membahas tentang kitab ‘Al-Sunnah Qabla Al-Tadwîn’ Karya Muhammad ‘Ajjâj Al-Khatîb, sosok Ilmuwan dan pemikir Islam ternama dari Damaskus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis. Dari hasil penelitian ini menunujukkan bahwa kitab ‘Al-Sunnah Qabla Al-Tadwîn’ Karya Muhammad ‘Ajjâj Al-Khatîb membahas tentang sejarah dan perkembangan hadits baik lisan dan tulisan pada periode Nabi, Sahabat dan Tabi’in. Penelitian ini mencoba mengkaji tentang kitab ‘al-Sunnah Qabla al-Tadwîn’. Suatu kitab yang juga menjelaskan periodisasi perkembangan hadits, sehingga dengan penelitian yang dilakukan pada kitab tersebut, akan tampak bentuk pembagian atau pemetaan yang dilakukan oleh Muhammad ‘Ajjâj al-Khatîb sebagai pengarangnya. Kata Kunci: Al-Sunnah Qabla Al-Tadwin, ‘Ajjâj al-Khatîb.
Kontekstualisasi Al-Qur’an Dan Pancasila Melalui Penguatan Muslim HUB Sebagai Pola Alternatif Dalam Menghadapi Industri 4.0 Adabi, Muhammad Akrom; Awwaliyah, Neny Muthi'atul
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.4954

Abstract

AbstractThe Qur’an, which has the status of a Muslim holy book, is experiencing "alienation" because it is considered unable to make practical contributions to various new challenges that arise. Al-Qur’an and Pancasila, which are the two important handles of Indonesian Muslims, are expected to not only keep up with the times. More than that, the al-Qur’an and Pancasila must really be able to fill the void and give an active role through its values, to bring the progress of Indonesia with a distinctive personality in the face of the Industrial 4.0 era. This paper tries to review the strengthening of Muslim Hub as a strategy in dealing with Industry 4.0 through contextualization of the values of the Koran and Pancasila. This study uses Max Weber's theory of Protestant ethics. In a book entitled The Protestant Ethics and Spirit of Capitalism, Weber has done a thorough analysis of the relationship between capitalism and religion. AbstrakAl-Qur’an dan Pancasila harus betul-betul mampu mengisi kekosongan dan memberi peran aktif melalui nilai-nilainya, untuk membawa kemajuan Indonesia dengan kepribadian yang khas dalam menghadapi era Industri 4.0. Tulisan ini mencoba mengulas seputar penguatan muslim hub sebagai strategi dalam menghadapi Industri 4.0 melalui kontekstualisasi nilai al-Qur’an dan Pancasila. Dalam penelitian ini ada dua bukti empiris yang pertama order monastic, dimana orang saleh ternyata juga memiliki prestasi yang gemilang dari sisi material. Kedua sekte protestan yang memiliki prestasi yang gemilang dalam fase awal munculnya kapitalisme modern. Penelitian ini menggunakan teori Max Weber tentang etika Protestan. Dalam buku yang berjudul The Protestan Ethics and Spirit of Capitalism, Weber telah melakukan analisa yang mendalam mengenai relasi kapitalisme dan keagamaan yang menunjukkan betapa agama memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan karakter pemeluknya. Jika ditarik ke kajian yang lebih luas, maka ideologi memiliki peran kuat dalam mempengaruhi perilaku pengikutnya, baik ideologi keagamaan maupun ideologi kenegaraan. Kata Kunci: Kontekstualisasi, Al-Qur’an, Pancasila, Industri 4.0.
Nilai-Nilai Al-Qur’an Dan Pancasila: Sebagai Basis Di Era Revolusi Industri 4.0 Putri, Endrika Widdia
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.5463

Abstract

AbstractThe era of the industrial revolution 4.0 is an era that utilizes the sophistication of technology, artificial intelligence, and digital to create conditions that are more effective and efficient in terms of the industry for the sake of convenience for humans. However, as the times evolve, industrial changes no longer go according to the purpose created. Also, the industrial revolution which has experienced these four changes, from time to time suffered a moral decline. Departing from this, this study will examine why moral decline occurred with the development of the industrial revolution and how the contribution of the values of the Qur'an and Pancasila to the industrial revolution era 4.0. This research is library research by using the method of interpretation and data analysis to obtain a conclusion. The results of this study are that moral decline is caused by the creators and technology developers themselves who create value-free science, thus leading to the collapse of moral values and humanity. Presenting the values of the Qur'an and Pancasila in the era of the industrial revolution 4.0 will make its development have high morality and humanity. Al-Qur'an and Pancasila will control at the same time be a good and bad measure in its development. AbstrakEra revolusi industri 4.0 adalah era yang memanfaatkan kecanggihan teknologi, kecerdasan buatan dan digital untuk menciptakan kondisi yang lebih efektif dan efisien dalam hal perindustrian demi kemudahan bagi manusia. Namun, seiring berkembangnya zaman, perubahan industri tidak lagi berjalan sesuai dengan tujuannya diciptakan. Selain itu, revolusi industri yang telah mengalami empat kali perubahan ini, dari masa ke masa mengalami kemunduran moral. Berangkat dari hal tersebut, penelitian ini akan mengkaji kenapa terjadi kemunduran moral dengan seiring berkembangnya revolusi industri dan bagaimana kontribusi nilai-nilai al-Qur’an dan pancasila terhadap era revolusi industri 4.0. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode interpretasi dan analisis data sehingga didapatkan suatu kesimpulan. Adapun hasil penelitian ini yaitu kemunduran moral disebabkan oleh para pencipta dan pengembang teknologi itu sendiri yang menciptakan ilmu pengetahuan bebas nilai, sehingga mengantarkan runtuhnya nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Menghadirkan nilai-nilai al-Qur’an dan Pancasila di dalam era revolusi industri 4.0 akan menjadikan perkembangannya memiliki moralitas yang tinggi dan manusiawi. Al-Qur’an dan Pancasila akan mengontrol sekaligus menjadi ukuran baik dan buruk dalam perkembangannya. Kata Kunci: Al-Qur’an, Pancasila, Revolusi Industri 4.0
KARAKTERISTIK KITAB TAFSIR QOERAN DJAWEN Zainab, Zainab
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.5510

Abstract

AbstractQoeran Dajawen is a Qur’anic exegetical work in the Nusantara Archipelago, written as a solution in response to a religious condition in Indonesia, particularly in Surakarta city in the early 20thcentury. To uncover this exegetical work comprehensively, I use a descriptive-hermeneutical analysis. I argue that in interpreting the Qur’an, it employs an analytical method of interpretation (tahlili), highly articulated through the Sufi style approach. This can be seen that the author uses the concept of maqāmāt in interpreting many verses of the Qur’an. Furthermore, its source of interpretations highly relies on modernist Muslim literature, as it is closely associated with Muhammadiyah, the modernist Muslim organization in Indonesia.The uniqueness is that it is written in the Javanese-literary script (cacarakan) with Javanese krama inggil. The purpose is to facilitate the transmission of knowledge for the grassroots so that it is expected that they can adequately understand Islamic teachings.  AbstrakKitab Tafsir Qoeran Djawen adalah sebuah karya tafsir Nusantara yang ditulis guna sebagai solusi atas runyamnya kondisi keagamaan di Indonesia khususnya Surakarta pada awal abad 20 M. Guna mengungkap kitab ini secara komprehensif, penulis menggunakan analisis deskriptif-hermeneutis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kitab ini menggunakan metode tahlili dalam aplikasi penafsirannya. Coraknya sendiri sangat kental dengan corak sufi. Hal ini ditandai dengan ditemukan banyaknya penafsiran-penafsiran yang menggunakan konsep maqāmāt. Sedangkan sumber-sumber yang dipakai tafsir ini cenderung menggunakan literatur-literatur berbau modernis, sebab tafsir ini lekat dengan organisasi Muhammadiyah. Keunikan yang menjadikan karakter tersendiri bagi kitab ini adalah penulisan tafsir yang menggunakan aksara cacarakan disertai bahasa Jawa krama inggil. Hal ini dilakukan guna mempermudah dalam transfer of knowledge (transfer pengetahuan) untuk memahami ajaran agama Islam secara komprehensif bagi kalangan akar rumput. Kata Kunci: Tafsir Qoeran Djawen, Karakteristik, Metode.
Asbab An-Nuzul Dalam Penafsiran Al-Qur’an (Aspek Sejarah dan Kontekstual Penafsiran) Hafizi, Hafizi
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.6047

Abstract

AbstractThe Qur’an is guidance for all human beings, the message of God revealed through various communicative styles. Qur’anic revelation to the Prophet Muhmmad is centrally discussed in the science of the Qur’an ('ulumul qur'ân) under the theme of ‘the occasion of revelation (asbâb an-nuzul). In producing law (istinbath), a Muslim jurist or exegete should not only rely on the text of the Qur’an but also the context in which it was revealed. It is significant, therefore, to examine the function of asbâb an-nuzul in the context of interpretation, using a descriptive-analytical method. It functions as follows. First, it makes Qur’anic verses more relevant to contemporary conditions. Second, by knowing the occasion of revelation, an exegete not onlyunderstand Qur’anic verses as a textual redaction but also in response to conditional needs in a given context.  AbstrakAl-Qur’an adalah hidayah bagi segenap manusia, dalam menurunkan pesan kewahyuan Allah swt. menggunakan berbagai macam gaya. Diturunkannya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. melalui berbagai proses yang melatar belakanginya, dalam pembahasan ‘ulumul qur’ân, ini disebut asbâb an-nuzul, ketika mengambil istinbath hukum dalam al-Qur’an seorang mufassir tidak hanya berpatokan pada teks al-Qur’an, melainkan juga harus melihat konteks ayat ketika diturunkan. Maka perlu adanya penelitian terhadap fungsi asbab an-nuzul dengan pendekatan deskriptif-analitis. Di antara fungsi asbâb an-nuzul dalam penafsiran ialah; pertama, untuk menjadikan ayat al-Qur’an lebih relevan dengan kondisi yang dihadapinya, Kedua, dengan mengetahui asbâb an-nuzul seorang mufassir tidak hanya melihat ayat al-Qur’an sebagai redaksi akan tetapi lebih kepada tuntunan kondisi. Kata Kunci: Asbâb An-Nuzul, Fungsi, Penafsiran, Kontekstual.
Varietas Azab Di Dunia Dalam Al-Qur’an (Penafsiran Tematik QS. Al-Ankabut: 40) Riyandi, Yoga
AL-DZIKRA: JURNAL STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN AL-HADITS Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/al-dzikra.v14i1.6314

Abstract

AbstractThe Qur’an not only serves as a guidance for Muslims but also admonition for humans. Through its revelation, God gives rewards to those who obey Him and threatens with punishments to those who disobey Him. Q. al-Ankabut: 40one of Qur’anic verses discussing torment. The type of torment according to the Qur’an is divided into two: torment in the world and torment in the afterlife. The former can be understood in terms of both formal and substantial torment. Understanding the torment in the world, therefore, can encourage Muslims to avoid disobedience to God. Performing God’s commands is the very principle of human creation. Indeed, torment according to the Qur’an is not limited to four categories. But, this article particularly discusses four categories of torment in the world explained in Q. al-Ankabut: 40, namely Hasiba, Ash Shaihah, Khasafa fil Ardhi, and Aghraqa. These four torments are related to God’s speech in the previous verses and other verses in the Qur’an. It is significant, therefore, to study the verse to understand God’s torments to humans. The verse should be read thematically in relation to other verses.  AbstrakAl-Qur’an di samping sebagai hukum pedoman bagi umat Islam berfungsi juga sebagai sebuah kitab peringatan untuk manusia. Di dalamnya Allah swt. memberikan janji bagi orang-orang yang taat kepada-Nya dan mengancam dengan azab bagi yang durhaka kepada-Nya. QS. Al-Ankabut: 40 merupakan salah satu contoh ayat yang membicarakan tentang azab dari sekian banyak ayat. Karena pembahasan azab dalam al-Qur’an secara prinsipnya terbagi menjadi dua; yaitu azab di dunia dan azab di akhirat. Azab di dunia terbagi pula kepada azab yang dhahir dan maknawi. Mengetahui azab yang Allah swt. turunkan di dunia mampu mempengaruhi seseorang untuk menjauhi kemaksiatan kepada-Nya. Dan menjauhi azab dengan mewujudkan perintah Allah swt. merupakan perkara asas penciptaan manusia. Azab dalam al-Qur’an tidak terbatas pada 4 jenis saja, akan tetapi pada pembahasan ini dibatasi pada kajian surah Al-Ankabut ayat 40 yang mengkaji 4 jenis azab di dunia. Yaitu Hasiba, Ash Shaihah, Khasafa fi Al Ardhi dan Aghraqa. Keempat azab tersebut memiliki keterkaitan dengan pembicaraan Allah swt. pada ayat-ayat sebelumnya dan ayat-ayat pada surat yang lain. Oleh karenanya sangat perlu mengkaji ayat tersebut agar mendapatkan kesimpulan yang benar terkait azab yang Allah berikan kepada hambanya. Kemudian akan disandingkan dengan beberapa ayat dan penafsiran yang berkaitan dengan tema azab. Kata Kunci: Azab Dunia, Empat Azab, Azab Dhahir.

Page 1 of 1 | Total Record : 7