cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Naditira Widya
ISSN : 14100932     EISSN : 25484125     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
Perhiasan Emas dan Candi Buddha Sintong : Hubungan fungsi dan keletakannya Taim, Eka Asih Putrina
Naditira Widya Vol 11, No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v11i1.194

Abstract

Candi Sintong adalah candi yang terletak di wilayah muara Sungai Rokan. Pada penelitian bersama anatara Bidang Sejarah dan Purbakala Pemda TK I provinsi Riau dan Pusat Arkeologi Nasional, ditemukan seperangkat temuan emas hasil ekskavasi tahun 2007 dan 2010. Emas tersebut cukup menarik baik dari segi bentuk dan keletakannya. Dalam tulisan ini akan mencoba untuk membahas temuan emas tersebut baik dari segi bentuk dan keletakannya, agar dapat diketahui sedikit banyak hal mengenai temuan tersebut pada keberadaan dan kesejarahan situs Candi Sintong. Metode yang digunakan dalam membahas hal di atas adalah metode kualitatif dengan konsep arkeologi ruang baik dalam sekala mikro maupun semi makro .serta konsep post prosesual arkelogi .
PERJALANAN KESULTANAN BANJAR: DARI LEGITIMASI POLITIK KE IDENTITAS KULTURAL Norpikriadi, Norpikriadi
Naditira Widya Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v8i2.108

Abstract

Kerajaan Islam Banjar yang pada masa lalu wilayah pengaruhnya mencakup Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dansebagian Kalimantan Timur sekarang, menjadi fokus kajian tulisan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menyingkap bagaimana dan darimana ia sebagai sebuah pranata politik mendapatkan sumber legitimasinya. Dari sini diharapkan dapat memberi manfaat berupapemahaman baru bagi masyarakat terhadap masalah terkait. Metode penelitiannya sendiri menggunakan metodologi penelitian sejarah.Hasil penelitian memperlihatkan dinamika kesultanan tersebut, di mana ia kokoh bertahan saat setia pada tradisi sebagai sumberlegitimasi, dan hancur lebur manakala bermain api dengan kekuatan asing yang sekuler. Negara tradisional ini kian menarik dicermatiketika wajahnya coba dimunculkan lagi dalam masa empat tahun belakangan oleh sementara tutus yang merasa sebagai ahliwarisnya.
SITUS-SITUS PEMUKIMAN TEPIAN SUNGAI DI KALIMANTAN SELATAN Sunarningsih, Sunarningsih
Naditira Widya Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i2.76

Abstract

Abstrak. Kalimantan dan sungainya tidak bisa dipisahkan. Sungai besar dan kecil mengalir saling-silang dari arahhulu ke hilir. Salah satu sungai besar yang membelah kota-kota di Kalimantan Selatan adalah Sungai Barito. SungaiBarito memiliki banyak anak sungai yang mengalir di seluruh penjuru propinsi yang paling kecil di Pulau Kalimantan.Dari aliran Sungai Barito inilah muncul peradaban manusia. Keberadaan sungai tidak hanya menjadi sumberkehidupan masyarakat, tetapi lewat sungai jugalah kebudayaan di wilayah ini menyebar. Oleh karena itu, tidaklahmengherankan apabila sisa-sisa peradaban manusia dari setiap periode kehidupan masa lalu banyak dijumpai disepanjang tepian sungai. Sejumlah penelitian sisa pemukiman kuna di tepian sungai telah dilakukan oleh BalaiArkeologi Banjarmasin sejak 1994 hingga saat ini. Hasil penelitiannya memberikan informasi bahwa sejak masaprasejarah sampai masa kini, masyarakat di Kalimantan Selatan ini tetap memanfaatkan tepian sungai sebagaitempat tinggal dan tempat beraktivitas sehari-hari. Tulisan ini mengkaji kembali hasil penelitian yang diperolehselama ini agar dapat memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam melakukan penelitianpemukiman. Hasil pengkajian kembali tersebut ditujukan untuk membangun strategi penelitian yang lebih baik, agarhasil penelitian pemukiman di masa mendatang lebih berbobot dalam upaya merekonstruksi sejarah kebudayaanhunian manusia masa lampau, terutama di wilayah Kalimantan Selatan.
COVER BELAKANG NADITIRA WIDYA VOLUME 9 NOMOR 1 APRIL 2015 Widya, Naditira
Naditira Widya Vol 9, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v9i1.267

Abstract

NASKAH ARAB DAN LONTARA DI SULAWESI SELATAN, BARAT, DAN TENGGARA Muhaeminah, Muhaeminah; mardan, mardan
Naditira Widya Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v3i2.181

Abstract

Old manuscript discovered in South, West, and Southeast Sulawesi are usually written in Buginese letter (lontara) and Arabic Serang letter in local language. Manuscript written in Arabic using local language were found in Wolio each indicating the same content concerning Islamic wisdom similar to the Quran and also comprises the hadist, fiqh, and players. The manuscript are in degrading forms, incomplete and do not bear date, however, water marks are present indicating the chronology. Navertheless, there are old manuscript are well kept in the regional museum and archive office.
APPENDIX NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 2 OKTOBER 2018 Widya, Naditira
Naditira Widya Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.363 KB) | DOI: 10.24832/nw.v12i2.318

Abstract

LEKSIKON PENGUNGKAP KARAKTERISTIK BUDAYA SUNGAI MASYARAKAT BANJARMASIN DAN NAGARA: TELAAH ETNOSEMANTIS (LEXICON OF CHARACTERISTIC DISCLOSURE OF RIVER CULTURE AT BANJARMASIN AND NAGARA SOCIETIES: AN ETHNOSEMANTIC STUDY) Yayuk, Rissari
Naditira Widya Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.001 KB) | DOI: 10.24832/nw.v12i2.312

Abstract

Banjarmasin dan Nagara merupakan dua kawasanang terdiri atas sungai dan rawa. Di sepanjang aliran sungai dan rawa ini terdapat permukiman warga dengan segala aktivitas yang berhubungan dengan budaya sungai. Aktivitas budaya sungai yang dilakukan warga di kedua kawasan ini tercermin dalam leksikon-leksikon yang terdapat dalam bahasa mereka.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan leksikon pengungkap karakteristik budaya sungai masyarakat Banjarmasin dan Nagara, dan mendeskripsikan karakteristik budaya sungai pada masyarakat Banjarmasin dan Nagara berdasarkan leksikon. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dari data umum kedua wilayah dan analisis data leksikon diketahui terdapat leksikon-leksikon yang mengungkapkan karakteristik budaya sungai masyarakat Banjarmasin dan Nagara. Selanjutnya diketahui juga unsur karakteristik yang terdapat pada leksikon tersebut meliputi bahasa, mata pencaharian, religi, pengetahuan dan teknologi, dan sistem sosial kemasyarakatan. Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu makna yang terdapat pada leksikon-leksikon bahasa masyarakat Banjarmasin dan Nagaramencerminkan karakteristik kebudayaan mereka sebagai suku Banjar yang tidak jauh berbeda karena berhubungan dengan cara hidup di pemukiman atas sungai atau rawa. Banjarmasin and Nagara consist of rivers and swamps. Along these areas there are residential communities with all activities related to river culture. The culturalriver activities of the two regions are reflected in the lexicons contained in their language. This research aim are to describe the lexicons which express the characteristics of river culture of the people, and to depict the cultural river characteristcs of the people based on the lexicons. The method used is descriptive qualitative. Based on the general data of both regions and lexicon data analysis, many of lexicons have revealed the characteristics of river culture of both people, Banjarmasin and Nagara. Furthermore, the characteristics on lexicon are found in language, livelihood, religion, knowledge and technology, and social systems. The conclusion is that the lexicon meaning of Banjarmasin and Nagara languages eflects their cultural characteristics as Banjarese which look liketheir ways of living along the river banks and swamp areas.
COVER BELAKANG NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 2 OKTOBER 2018 Widya, Naditira
Naditira Widya Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4093.729 KB) | DOI: 10.24832/nw.v12i2.319

Abstract

BELIUNG PERSEGI: SEBARAN DAN FUNGSINYA DI KALIMANTAN (STONE ADZE: ITS DISTRIBUTION AND FUNCTION IN KALIMANTAN) Sugiyanto, S.S., Bambang
Naditira Widya Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7900.203 KB) | DOI: 10.24832/nw.v12i2.302

Abstract

Beliung persegi adalah artefak prasejarah yang menandai periode neolitik ketika manusia mulai hidup menetap dan mengembangkan teknologi yang mendukung kelangsungan hidup manusia. Temuan beliung persegi dari Kalimantan menunjukkan keragaman penggunaan dan distribusinya di Kalimantan, yang menjadi fokus penelitian ini. Penelitian ini bersifat deskriptif yang menggunakan metode induktif. Penelitian lapangan dilakukan dengan menganalisis beliung persegi dari Kalimantan. Ternyata, beliung persegi  Kalimantan lebih banyak digunakan sebagai sosiofak  daripada teknofak. A stone adze is a prehistoric artefact that characterized the Neolithic period when human start to live more sedentary and developed technology to support human’s survival. The stone adzes recovered from Kalimantan show a variability of use and distribution in Kalimantan, which was the focus of this research. This is a descriptive research that employed an inductive method. Field research was carried  out by analyzing the stone adzes from Kalimantan. Apparently, the Kalimantan stone adzes were used more as sociofacts instead of technofacts.
MODEL PENILAIAN KUANTITATIF BANGUNAN CAGAR BUDAYA KOTA SURAKARTA (QUANTITATIVE VALUING MODEL OF HERITAGE BUILDINGS IN SURAKARTA CITY) Putranto, Andi; Pradnyawan, Dwi
Naditira Widya Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.721 KB) | DOI: 10.24832/nw.v12i2.313

Abstract

Bangunan cagar budaya di Kota Surakarta merupakan peninggalan sejarah dari masa kolonial di Indonesia. Dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, bangunan- bangunan tersebut dapat dikategorikan sebagai Bangunan Cagar Budaya jika telah melalui proses pendaftaran atau register, penilaian hingga ditetapkan sesuai dengan peringkatnya. Penilaian cagar budaya khususnya dari jenis bangunan dilakukan dalam rangka penyusunan rekomendasi untuk penetapan. Bentuk penilaian tersebut belum banyak diketahui mekanismenya. Penelitian ini melakukan cara penilaian dengan menggunakan metode analisis  kuantitatif berjenjang dengan faktor pembobot. Proses perolehan hasil akhir dari penilaian dilakukan dengan menggunakan algoritma matematika, sehingga proses penilaiandapat terlihat dalam satu rangkaian proses yang berurutan dan sistematis. Hasil penilaian dengan model penilaian tersebut digunakan untuk memperoleh nilai akhir bagi sebuah bangunan dalam bentuk kelas rekomendasi untuk penetapan  bangunan cagar budaya. Dalam penelitian ini diajukan empat kelas, yaitu kelas bangunan dengan tidak atau kurang direkomendasikan, kelas bangunan direkomendasikan dengan level cukup, kelas bangunan direkomendasikan dengan level kuat, dan kelas bangunan yang direkomendasikan dengan level mendesak. Keempat level ini berkaitan erat dengan skala prioritas dalam rangkaian kegiatan penetapan sebagai bangunan cagar budaya. Peneitian ini menghasilkan nilai yang bersifat kuantitatif dan terukur secara ilmiah dan memberikan dinamika positif dalam cara penilaian bangunan untuk penetapan cagar budaya. Cultural heritage buildings in Surakarta are historical relics from Indonesian colonial period. The law number 11, year 2010 of the Republic of Indonesia concerning and cultural archaelogical preservation and management classifiesthese buildings as Cultural Heritage Building, after passing through multiple registration process. The assessment of cultural heritage nomination, especially based on types of building, is carried out in the framework of preparing recommendations for its establishment. Unfortunately, the assesment mechanism has not been widely understood. This study carried out the evaluation using a tiered quantitative analysis method with a weighing factor. The process to obtain final assessment results is achieved by using a mathematical algorithm. The assessment process can be visually observed in sequential and systematic processes. By using this method, the assesment results a formula that can be used to obtain the final value for a building which classified into several recommendations for the establishment of a cultural heritage building. The study claims that at least here are four classes of recommendation levels; building classes with no or less recommended, recommended building classes with sufficient levels; recommended building classes with strong levels; and recommended building classes with urgent levels. These four levels are closely related to a priority scale in a set of activities as a cultural heritage building. This research produces values that are quantitatively and scientifically measured and provides positive dynamics in the way of valuing buildings for the establishment of cultural heritage.

Filter by Year

2006 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023 Vol 16 No 2 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 2 Tahun 2022 Vol 16 No 1 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 1 Tahun 2022 Vol 15 No 2 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 2 OKTOBER 2021 Vol 15 No 1 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 1 APRIL 2021 Vol 14 No 2 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 2 OKTOBER 2020 Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020 Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13 No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13, No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 12 No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 11, No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 9 No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 1 (2015): April 2015 Vol 9 No 1 (2015): April 2015 Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 1 (2014): April 2014 Vol 8, No 1 (2014): April 2014 Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 1 (2013): April 2013 Vol 7 No 1 (2013): April 2013 Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6 No 1 (2012): April 2012 Vol 6, No 1 (2012): April 2012 Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5, No 1 (2011): April 2011 Vol 5 No 1 (2011): April 2011 Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4 No 1 (2010): April 2010 Vol 4, No 1 (2010): April 2010 Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3 No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 3, No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 2, No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2 No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 1, No 2 (2007): Naditira Widya Volume 1 Nomor 2 Tahun 2007 Vol 1 No 2 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.2 Vol 1 No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 Vol 1, No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 More Issue