cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang
ISSN : 25285548     EISSN : 25285548     DOI : -
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang is an online, open access peer reviewed journal, which is published twice year every June and December. This journal is for all contributors who are concerned with a research related to Japanese language education studies. JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang provides a forum for publishing the original reserach articles, paper-based articles and review articles from contributors, related to Japanese culture, Japanese literature and Japanese language teaching/learning, which have never been published before.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016" : 15 Documents clear
ANALISIS KESALAHAN PELAFALAN HURUF KONSONAN TSU DALAM BAHASA JEPANG TERHADAP PENUTUR BAHASA INDONESIA Pratiwi, Rahmawati Eka; Dahidi, Ahmad; Haristiani, Nuria
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3294

Abstract

AbstrakPada saat mempelajari bahasa asing, pada umumnya kita tentu akan mempelajariya huruf dari bahasa tersebut. Setiap bahasa memiliki fonem yang berbeda-beda. Pembelajaran huruf dan bagaimana cara melafalkannya merupakan pembelajaran dasar dalam pembelajaran bahasa asing. Fonem adalah bunyi terkecil yang dapat membedakan makna, sedangkan huruf adalah lambang bunyi atau lambang fonem. Misalnya, dalam bahasa Indonesia yang membedakan kata “kelas” dan “keras” adalah fonem /l/ dan /r/. Contoh lainnya yang berhubungan dengan bahasa Jepang. Pada penulisan bahasa Jepang, sering kita temukan kata dari bahasa asing yang ditulis dengan fonem yang sama. Misalnya, kata “light” (cahaya) dan “right” (kanan) yang memiliki makna yang berbeda, namun sama-sama ditulis dengan huruf atau lambang fonem yang sama yaitu 「ライト」/raito/. Dengan kesalahan seperti ini akan mudah sekali terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Terutama, komunikasi verbal.Setelah membandingkan fonem yang dimiliki oleh bahasa Jepang dan bahasa Indonesia, salah satu fonem bahasa Jepang yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia adalah fonem [ts]. Penelitian ini dilakukan di kampus Showa, Gunma University kepada 15 orang mahasiswa Indonesia, yang terbagi 2 suku bangsa dengan 2 bahasa daerah yang berbeda (Sunda dan Jawa). Pada penelitian kali ini, pertama-tama, penulis memperdengarkan sebuah rekaman yang berisikan kalimat yang sama dengan teks yang telah dibaca oleh responden, lalu meminta responden untuk mengulanginya dan kemudian merekamnya. Selanjutnya, penulis meminta responden untuk mebaca sebuah teks, kemudian merekamnya kembali. Setelah data terkumpul dan di periksa oleh penutur asli bahasa Jepang, penulis menganalisisnya berdasarkan teori yang ada. Hasilnya menunjukkan bahwa bahasa ibu (bahasa daerah) tidak berpengaruh dalam kealahan pelafalan bahasa dikarenakan responden melakukan kesalahan ditempat yang sama dan persentase jumlah responden yang mampu melafalkan dengan baik dan benar, dengan yang tidak, dapat dikatakan seimbang (50:50). Kemudian, huruf “tsu” yang berada diawal kataatau tidak didahului oleh bunyi apapun lebih rentan terjadi kesalahan. Dengan kata lain, bunyi yang keluar sebelum huruf “tsu” berpengaruh dalam membantu melafalkan fonem [ts] dalam huruf konsonan “tsu”. Kata kunci : Fonetik, Huruf Konsonan Tsu, kesalahan pelafalan, linguistik  Abstract At the timen of learning a foreign languange, in general, we would learn the letters of the language. Each language has different phonemes. Learning letters and how to prounounce it is the basis of learning a foreign language learning. Phoneme is the smallest sound that can distinguish the meaning, while the letter is the epitome of sound or phoneme emblem. For example, in the Indonesian language, phoneme /l/ and /r/ differentiates the word “kelas”(class) and “keras” (hard). In relatiom to Japanese languange learning, particulary in writing Japanese loan word, we often find the word of the foreign language written with the same phoneme. For example, the word “light” (cahaya) and “right” (kanan) which have different meanings, but written in the same letters or phoneme symbols /raito/.  Such an error will lead to misunderstandings to take place in communication, especially in terms of verbal communication. After comparing of characteristic of phoneme of both Japanese and Indonesia language, it was found out that the phoneme [ts] in the Japanese phonemes does not exitst in the Indonesian language. The research was conducted at the Showa campus of Gunma University involving 15 Indonesian students who were divided into two different ethnicities with two different local languages (Sundanese and Javanese). In her study, the researcher firstly the author played recording of the same sentences as the next text will read later by the respondents. Furthermore, the author asked the respondents to recite it and then record it. Then, the author asked respondents to read a text, and then to record it. again. Once the data were collected and checked by native Japanese speaker, the author analyzed them. The results showed that the local language does not affect the pronouncation errors because the respondents made the misktake at the same place and the percentage of respondents who were able to recite properly, compared to those who were unable to, was equal (50:50). Then, the letters “tsu” located at the beginning of words or not preceded by any sound is more susceptible to errors. In other words, the sound that comes out before the letter “tsu” is influential in helping to pronounce phonemes [ts] in letters “tsu”. Keyword : phonetic, Consonant Tsu of Japanese languange, pronounce errors, linguistic
PENERAPAN METODE COOPERATIVE LEARNING MODEL STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING PADA PEMBELAJARAN VERBA BAHASA JEPANG BENTUK~TE Agustina, Citra Dewi; Haristiani, Nuria; Sudjianto, Sudjianto
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3285

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan pengalaman penulis ketika melaksanakan Program Pengalaman Lapangan di SMA Negeri 11 Bandung, ditemukan permasalahan berkenaan dengan kemampuan siswa dalam memahami materi perubahan verba bahasa Jepang bentuk kamus kedalam bentuk Te. Maka dari itu, penulis mengadakan penelitian penerapan metode Cooperative Learning model Student Facilitator and Explaining pada pembelajaran perubahan verba bahasa Jepang dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan pada hasil pembelajaran sebelum dan sesudah menggunakan metode Cooperative Learning  model Student Facilitator and Explaining. Penulis melakukan penelitian eksperimen quasi dengan desain one-grop pretest posttest.Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 11 Bandung tahun ajaran 2015/2016, dengan sampel dua puluh lima orang siswa kelas XII Lintas minat bahasa Jepang. Dari hasil analisis data, diketahui nilai rata-rata pretest sebesar 45, 28, posttest 83, 63, maka diperoleh t hitung sebesar 9, 88. Dengan db=24, maka dapat  disimpulkan bahwa  dengan nilai  untuk taraf signifikan 5% dan 9,88 2,80 untuk taraf signifikan 1%. Hasil diatas membuktikan bahwa Hk yang menyatakan terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pembelajaran perubahan verba bahasa Jepang bentuk Te sebelum dan sesudah menggunakan metode Cooperative Learning model Student Facilitator and Explaining diterima.  Kata kunci: Student Facilitator and Explaining, DoushiABSTRACT  Based on the author experience, when implementing the program of field experience in SMAN 11Bandung, in regard to the problem found with the ability of the student in understanding material change japanese verb dictionary from into the shape of Te. Because of that, writer did a research with Cooperative Learning Student Facilitator and Explaining  model for studying Japanese verb with purpose to know if there’s a huge difference or not before and after using this model. The author conducted a quasi experimental study with one group pretest posttest design. Population in this study is the students from 11 Bandung Senior High School period year 2015/2016, with the sample of 25 student from class XII cross-interest in Japanese language. From the analysis of data, known to the average value of  pretest about 45, 28, and posttest 83, 63, then obtained  9,88 with db=24, so it conclude that with value 9, 88 2, 06 to a significant level 5% and 9, 88 2, 80 for significant level 1%. The above result prove that hk stating there are significant differences between learning Japanese language verbs change outcomes before and after using cooperative learning method model of  Student Facilitator and Explaining accepted.  Keyword:Student Facilitator and Explaining, Japanese verb
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEA PARTY UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA JEPANG (EKSPERIMEN MURNI TERHADAP SISWA KELAS X SMA BPI 1 BANDUNG Tahun Ajaran 2015/2016) Pebriani, Vina; Sutedi, Dedi; Haristiani, Nuria
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3290

Abstract

 AbstrakKosakata merupakan komponen terpenting dalam bahasa. model pembelajaran kooperatif tipe tea party dilakukan dengan cara siswa membentuk dua barisan dimana siswa saling berhadapan satu sama lain. Guru mengajukan sebuah pertanyaan, siswa mendiskusikan jawaban dengan siswa yang ada dihadapannya, setelah satu menit baris terluar bergerak searah jarum jam sehingga akan berhadapan dengan pasangan yang baru. Guru mengajukan peranyaan ke dua dan seterusnya. kemudian siswa mempresenasikan hasil diskusi depan kelas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antara kemapuan mengingat kosakata bahasa Jepang siswa sebelum dan setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Tea Party. metode yang di gunakan adalah true experimental design dengan menggunakan design Randomized control group Pre-test Post-test..Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA BPI 1 Bandung tahun ajaran 2014/2015 kelas X-5 sebanyak 20 orang sebagai kelas eksperimen dan kelas X-4 sebanyak 20 orang sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan adalah adalah test dan angket. Hasil analisis data, diperoleh nilai t-hitung sebesar 2,85 dan taraf signifikan 5% adalah 3,73. Karena t-hitung lebih besar dari t-tabel maka Hk diterima. Hal ini berarti bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe tea party efektif digunakan dalam pembelajaran bahasa Jepang.Serta data yang diperoleh dari angket, dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Tea Party mempunyai langkah-langkah yang efektif dan mampu membuat siswa lebih fokus dan belajar bertanggung jawab dengan tugas-tugas yang diberikan. Kata kunci : menghafal, model pembelajaran, model Tea Party.Abstractvocabulary is the most important component in language. Cooperative learning type tea party is done by students forming two rows witch every students is facing each other. Teacher asking a question. Student s discuss the answer with student in front of him,after one minute, the outer row is moving in the same direction as clockwise so that will facing with new student. Teacher asking a new question etc. after that student have to presented the result of discussion in front of class. The purpose of this research is to determinate the significant different between student ability to remember Japanese vocabulary before and after using cooperative learning type Tea Party method that used is true experimental design method with using  randomized control group Pre-test Post-test design. Sample in this research is 10th grade student SMA BPI 1 Bandung school year 2014/2015 class X.4 that consist 20 students for control class and class X.5 that consist 20 students for experiment class. Instrument that used is test and questionnaire.  Result of data analysis obtained t-count value is 2.02 with significant level 5% 3.73. because t-count is greater than t-table so Hk is accepted. That can be concluded that the ability in the end of Japanese vocabulary education is significantly better than the initial of Japanese vocabulary education.  As well as date that obtained from questionnaire, can be says that cooperative learning type Tea Party is have an effective ways and can make students more focus  in studies, and more responsible in every task that they have. Key world : memorized, learning model, Tea Party model.
EFEKTIVITAS METODE PQ4R TEKNIK “TEMUKAN KESALAHANNYA DULU” DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA BAHASA JEPANG (Penelitian Kuasi Eksperimen Terhadap Siswa Kelas XI SMAN 15 Bandung Tahun Ajaran 2015/2016) Nurkamilah, Siti Hadianti; Aneros, Noviyanti; Judiasri, Melia Dewi
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3836

Abstract

Abstrak. Dalam pembelajaran membaca bahasa Jepang, seringkali siswa mengalami kesulitan dalam membaca dan memahami isi bacaan karena banyaknya huruf, kosakata, dan pola kalimat bahasa Jepang. Dalam membaca, siswa tidak hanya membaca saja melainkan siswa harus memahami isi bacaan tersebut. Hal ini dikenal dengan membaca pemahaman (dokkai). Dokkai bukanlah hal yang sederhana, sehingga diperlukan sebuah metode yang dapat mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran membaca bahasa Jepang terutama kesulitan terhadap dokkai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerepan metode PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) dengan teknik “temukan kesalahannya dulu” dalam pembelajaran membaca bahasa Jepang. Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan desain penelitian yaitu one group, pretest-posttest design. Sampel penelitian ini sebanyak 25 orang yang diambil dari populasi siswa kelas XI SMAN 15 Bandung Tahun Ajaran 2015/2016. Instrumen yang digunakan adalah tes dan angket. Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui nilai t hitung sebesar 7,03. Nilai t tabel sebesar 2,06 pada taraf signifikansi 5% dan 2,80 pada taraf signifikansi 1%. Dengan demikian, diperoleh hasil t hitung lebih besar dibandingkan nilai t tabel pada taraf signifikansi 1% (7,03 2,80). Dengan ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan membaca  bahasa Jepang siswa sebelum dan setelah perlakuan dengan menggunakan metode PQ4R teknik “temukan kesalahannya dulu”.  Kata kunci: metode PQ4R, teknik “temukan kesalahannya dulu”, membaca bahasa Jepang. Abstract. In the learning of the Japanese, students having difficulty in reading and understanding the contents of the Japanese, for example, Japanese characters, the number of vocabulary, and the sentence patterns in Japanese. In Japanese reading learning, students not only read but they have to understanding about content. This is called reading comprehension (dokkai). Dokkai is not a simple things. Therefore, a method that can overcome those difficulties in needed, especially the difficulty of dokkai. The purpose of this study was to describe the application of PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) method with the specific technique "find the mistake first" in learning to read Japanese. This research is a quasi-experimental research using the design of one group, pretest-posttest design. The research sample are 25 students drawn from the population of students of class XI SMAN 15 Bandung in Academic Year 2015/2016. The instruments used were  tests and questionnaire. Based on the analysis, the t-count is 7.03. The t-table value is 2.06 at the 5% significance level and 2.80 at 1% significance level. Thus, according to the result, t-countis greater than t-table at a significance level of 1% (7.03 2.80).  Therefore it can be concluded that there are significant differences in the students ability to read Japanese before and after the treatment using the PQ4R method with "find the mistake first" techniques. Keywords: PQ4R method, "find the mistake first" techniques, Japanese reading.
EFEKTIVITAS METODE COOPERATIVE LEARNING TIPE INSIDE-OUTSIDE CIRCLE DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA JEPANG (PENELITIAN EKSPERIMEN KUASI TERHADAP SISWA KELAS XII IPA 2 SMA PASUNDAN 2 BANDUNG) Diyanthi, Dhiar Rachma; Judiasri, Melia Dewi; Risda, Dianni
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3286

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatar belakangi oleh kurangnya kesempatan siswa untuk berbicara saat pembelajaran bahasa Jepang. Setengah dari sampel menyatakan bahwa selama ini kurang mendapatkan kesempatan berbicara bahasa Jepang dalam pembelajaran bahasa Jepang. Padahal saat ini siswa dituntut untuk dapat berbicara dan berkomunikasi secara global. Dan kemampuan berbicara adalah implementasi dari materi-materi pelajaran bahasa Jepang yang telah dipelajari. Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti mengujicobakan metode cooperative learning tipe inside-outside circle dalam pembelajaran bahasa Jepang terhadap siswa XII IPA 2 SMA Pasundan 2 Bandung. Tujuan dari dilaksanakannya pembelajaran dengan metode ini adalah agar siswa mampu untuk berbicara dengan bahasa Jepang secara aktif dan menguji efektivitas dari metode tersebut.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen kuasi (pre-test and post-test one group). Teknik pengambilan sampling dengan cara random sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Pasundan 2 Bandung dan sampelnya adalah 16 orang siswa kelas XII IPA 2 sebagai kelas eksperimen. Instrumen dalam penelitian ini adalah tes dan angket.Dari hasil analisa data tes diperoleh nilai t-hitung sebesar 4,205. Dan dengan db 15 pada tahap signifikansi 5% diperoleh t-tabel sebesar 2,13 dan signifikansi 1% diperoleh t-tabel  sebesar 2,95. Karena nilai t-hitung    t-tabel , maka Hk diterima.  Hal tersebut berarti terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan berbicara siswa sebelum dan sesudah diterapkannya metode cooperative learning tipe inside-outside circle. Hal tersebut diperkuat dengan hasil angket yang menyatakan bahwa lebih dari setengah responden merasakan pengaruh penerapan metode cooperative learning tipe inside-outside circle terhadap kemampuan berbicara bahasa Jepang. Keyword: kemampuan berbicara, metode cooperative learning tipe inside-outside circleAbstractThis research was motivated by the lack of opportunity to speak Japanese during the class. 50% of the sample stated that they are have a small opportunity to speak Japanese during learning Japanese. Yet, in this time students are required to be able to talk and communicate globally. And the ability to speak is the implementation of Japanese language lessons. To overcome these problems, researcher tested the method of cooperative learning type of inside-outside circle in learning the Japanese language to students XII IPA 2 SMA Pasundan 2 Bandung. The purpose of the implementation of learning with this method is the students are able to speak japanese actively and to test the effectiveness of the method. This research uses a quasi experimental (pre-test and post-test one group). Sampling technique by means of random sampling. The population in this study were all high school students of SMA Pasundan 2 Bandung and the sample was 16 students of class XII IPA 2 as the experimental class. Instruments for this research is a test and questionnaire. From the analysis of obtained data, value t-count of 4,205. And with 15 db at this stage of the 5% significance was obtained t-table by 2.13 and 1% significance obtained t-table by 2.95. Because the value of t count t-table, then Hk accepted. This means that there are significant differences in their speaking ability before and after the implementation of cooperative learning type of inside-outside circle. This is reinforced by the results of a questionnaire which states that more than half of the respondents feel the effect of the application of cooperative learning type of inside-outside circle of the ability to speak Japanese. Keyword: speaking ability, cooperative learning method type of inside-outside circle
ANALISIS MAKNA UNGKAPAN ~ TO OMOU PADA NOVEL TORABERU X ROMANSU KARYA EMA KOHINATA Fatati, Evat Ramadhani; Bachri, Aep Saeful; Sudjianto, Sudjianto
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3291

Abstract

AbstrakSuatu ungkapan dalam bahasa Jepang apabila dicetuskan pada kondisi atau situasi tertentu akan menghasilkan makna yang berbeda. Namun kadang-kadang ungkapan yang berbeda dapat menghasilkan makna yang sama. Persamaan makna atau sinonim (ruigigo) ini juga menjadi salah satu faktor sulitnya mempelajari bahasa Jepang. Hal ini disebabkan proses penerjemahan bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia dengan tidak menggunakan padanan kata yang tepat maka akan terjadi kesalahan dalam memahami apa yang dimaksud. Sehingga dalam penerjemahan bahasa Jepang perlu penggunaan ungkapan yang tepat agar maksud yang kita harapkan dapat tersampaikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperjelas makna penggunaan pola kalimat ~to omou agar maksud atau apa yang ingin pengarang novel sampaikan dapat dipahami oleh pembaca. Penelitian ini menggunakan metode padan, metode ini merupakan cara menganalisis data untuk menjawab masalah yang diteliti dengan alat penentu berasal dari luar bahasa. Berdasarkan hasil analisis penelitian, terdapat bermacam-macam makna ungkapan ~to omou juga makna pada konjugasinya. Bentuk ini digunakan untuk mengungkapkan sesuatu/kejadian yang bersifat emosional (dari hati), dalam bentuk ini terdapat makna yang sama juga makna yang berbeda. Makna yang berbeda di pengaruhi subjek penutur, perubahan bentuk kalimat (konjungsi),  objek yang dinyatakan, dan waktu penuturan.  Kata kunci : makna ungkapan, ruigigo, ~to omou,  ABSTRACT   A phrase in Japanese will have different meaning when conceived at certain situation or condition. But sometimes different phrase can make the same meaning. The same meaning or synonym (ruigigo) are also being the one of difficulty learning the Japanese. This is caused by not using proper word when change the Japanese sentence into Indonesian that will make a mistake in understanding what is meant. It is meant when changing the Japanese into Indonesian we must using proper word so it will contain meaning that we want to. This research purpose is to explaining  the meaning of using ~to omou pattern so the intent or what the author want to can be understood by the reader. This research using unified (padan) method, this method  is a way to analyze the data to answer the problem with determinants of instrument that derived from the outside of  languange. Based on the analysis of research, there are various meaning on ~to omou pattern also on the conjugations. This phrase used to express something/events that have emotional feeling (from heart), in this phrase also have same meaning and different meaning too. A different meaning influenced by the subject, change of sentence form (conjunction), the object, and a time when it uttered.  Keyword : meaning of phrase, ruigigo, ~to omou
EFEKTIVITAS METODE CARD SORT TERHADAP KEMAMPUAN MENGINGAT HURUF HIRAGANA DALAM BAHASA JEPANG Rahmi, Ulfia; Aneros, Noviyanti; Judiasri, Melia Dewi
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3837

Abstract

Abstrak. Dalam pengajaran bahasa Jepang, huruf hiragana merupakan salah satu unsur penting dan harus dikuasai guna menunjang kelancaran berkomunikasi dengan bahasa Jepang baik secara lisan maupun tulisan. Oleh karena itu dibutuhkan metode pengajaran yang sistematis dan menarik agar tujuan pembelajaran tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas Metode Card Sort Terhadap Kemampuan Mengingat Huruf Hiragana Dalam Bahasa Jepang.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen murni. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan angket. Populasi yang digunakan adalah peserta didik kelas XI SMK PGRI 1 Cimahi tahun ajaran 2015/2016, dan sebagai sampel penelitian ini adalah 25 orang kelas XI AK sebagai kelas kontrol yang tidak menggunakan metode Card Sort dan 25 orang kelas XI AP1 sebagai kelas eksperimen yang menggunakan metode  Card Sort.Dari hasil analisis data diketahui nilai rata-rata peserta didik kelas eksperimen sebelum diberikan perlakuan sebesar 30,92 dan setelah diberikan perlakuan diperoleh nilai sebesar 91,68. Dengan menggunakan perhitungan komparatif, nilai t hitung sebesar 17,13 dengan db=48 pada taraf signifikasi 5% = 2,01 dan 1% = 2,68. Karena t hitung lebih besar dari t tabel, maka hipotesis kerja dalam penelitian diterima. Hal ini berarti bahwa metode Card Sort efektif dalam meningkatkan kemampuan mengingat huruf hiragana dalam bahasa Jepang.Berdasarkan hasil analisis angket diketahui hampir seluruh responden setuju bahwa metode Card Sort merupakan metode yang menarik, dapat meningkatkan penguasaan huruf hiragana dan metode Card Sort bisa digunakan sebagai alternatif untuk pembelajaran bahasa Jepang. Kata Kunci : card sort terhadap huruf hiraganaAbstract. In the Japanese language teaching, hiragana is an important element and must be controlled to support communication smoothly with Japanese language, both in orally and writing. Therefore, it needs a systematic and interesting teaching method to achieve the learning purpose. This study aims to determine the effectiveness of Card Sort method to wards the ability on remembering Japanese Hiragana letters.The method used in this research is a quantitative study using true experimental method. The instrument used in this study is a test and questionnaire. The population used is students in class XI of  SMK PGRI 1 Cimahi, the academic year 2015/2016 and 25 students of class XI AK is the research samples of control class which is not using Card Sort and 25 students of class XI AP1 as the experiment class which uses Card Sort method. From the analysis of the data found, the average value of the experimental class students before given treatment equal to 30.92 and after given the treatment obtained a value of 91.68. By using a comparative calculation, t value of 17.13 with db = 48 at the 5% significance level = 2.01 and 1% = 2.68. Because t is greater than t table, then the working hypotheses in the study is received. It means that the Card Sort method is effective in improving the ability on remembering Hiragana in Japanese.Based on the results of questionnaire analysis, it is known that almost all of the respondents agree that the method Card Sort is an interesting method, can improve the mastery of Hiragana and Card Sort method can be used as an alternative to learning Japanese. Keywords : card sort towards hiragana letters
PEMANFAATAN BUKU ‘Choukai ga Yowai, Anata e’ DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN CHOUKAI (Penelitian Kuasi Untuk Mahasiswa Tingkat III Tahun Ajar 2015 / 2016 Departemen Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI) Ramadhan, Pangestu; Sutjiati, Neneng; Renariah, Renariah
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3287

Abstract

Abstrak                Penggunaan media dalam pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran bahasa asing dinilai sangat penting. Dalam bahasa Jepang terutama, dalam menangkap cara berbicara penutur asli dan untuk membiasakan diri. Dalam penelitian ini penulis mencoba untuk menggunakan media ‘Choukai ga Yowai, Anata e’ sebagai pembantu pembelajar untuk meningkatkan kemampuan menyimak atau choukai masing – masing pembelajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pembelajaran menyimak dengan menggunakan bantuan media buku ‘Choukai ga Yowai, Anata e’, perbedaan antara hasil pre test dan post test setelah pembelajaran, untuk mengetahui tanggapan dari masing – masing objek setelah diadakannya penelitan, mengolah data untuk mengetahui hasil dari penelitian dalam pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran ‘Choukai ga Yowai, Anata e’. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kuasi, dengan objek yaitu mahasiswa tingkat III departemen pendidikan bahasa Jepang angkatan 2015 / 2016 sebanyak 20 orang. Instrumen yang digunakan adalah tes dan angket. Dari hasil penelitian yang didapatkan bahwa  t hitung adalah  4,41 t tabel 2,10 untuk 5 %  dan t hitung adalah 4,41 t tabel 2,88 untuk 1%. t hitung t tabel yang berarti Ha diterima. Hal ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan perolehan kemampuan choukai setelah menggunakan media buku ‘Choukai ga Yowai, Anata e’. Kemudian berdasarkan hasil angket yang didapatkan pula dapat diketahui bahwa objek merekomendasikan penggunaan media buku ini. Kata kunci : Choukai,    Media,    ‘Choukai ga Yowai, Anata e’       ABSTRACT               The importance of media uses in educational fields are very significance. Especially, in Japanese language learning, the main objective of media uses is for understand the way of native speaker how to conversation with their languange and to improve our skills. In this time, writer has conducted an experiment with a media, its called ‘Choukai ga Yowai, Anata e’ to support and improve the listening skill of learners. The objective of experiments are to detect the differences between before (pretest) and after (postest) of the uses, to explain the feedbacks from the experiment objects, processing the data to understand the result after used the media at experimental class. Method that used on this experiment are quasi method experiment. With the objects are 20 students of third grade of Japanese Language Department, year study : 2015 – 2016.  The used instruments are test form and questionnaire. From the result of experiments, are known that calculated t is 4,41 t table 2,10for 5 % and 4,41 t table 2,88 for 1 %. Calculated t   t table, the result, Ha areaccepted. Based on this result, its proved that significance difference of results after the objects used media of ‘Choukai ga Yowai, Anata e’. Also, based of questionnaire results that the objects recommended the uses of this media at listening class.  Keyword : Choukai,    Media,    ‘Choukai ga Yowai, Anata e’
PENGGUNAAN DIALEK KANSAI DALAM ANIME DETECTIVE CONAN EPISODE 651 Raversa, Aulia; Dahidi, Ahmad; Aneros, Noviyanti
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3292

Abstract

AbstrakBerdasarkan World Investment Report 2015 yang dirilis pada tanggal 25 Juni 2015 oleh sebuah oraganisasi di bawah naungan perserikatan (PBB) bernama United Nations Conference Trade and Development (UNCTAD),  Indonesia adalah negara yang mengalami pertumbuhan penanaman modal tertinggi di Asia Tenggara yaitu sebanyak 20% dengan investor terbesarnya adalah Jepang. Besarnya investor Jepang berbanding lurus dengan besarnya jumlah tenaga kerja yang mampu berbahasa Jepang yang dibutuhkan. Dalam dunia kerja komunikasi dan bahasa sebagai alat komunikasi sangatlah dibutuhkan. Bahasa itu beragam, di Jepang sendiri terdapat 28 dialek. Dialek Kansai dengan rasio penggunaan 1:6 menjadi dialek digunakan terbanyak kedua setelah bahasa Jepang standar. Terdapat perbedaan pengucapan, tata bahasa dan kosakata antara dialek Kansai dan bahasa Jepang standar.  Berangkat dari fakta tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada miskomunikasi yang muncul akibat ketidaktahuan terhadap dialek Kansai dalam anime Detective Conan episode 651 yang mengambil latar dunia kerja. Dengan metode penelitian deskriptif, diketahui bahwa ketidaktahuan terhadap dialek Kansai dapat menimbulkan miskomunikasi yang berakibatkan kesalahpahaman. Miskomunikasi terbesar didapat karena ketidaktahuan bahwa dalam dialek Kansai jibun dapat berarti saya dan amechan berarti permen. Selain itu juga diketahui bahwa dalam dialek Kansai rasa asin disebut dengan karai dan penggunaan dialek Kansai dengan cara yang buruk dapat membuat marah orang Kansai yang sangat bangga dan menghargai dialek Kansai. Kata kunci: Bahasa Jepang standar, dialek Kansai, miskomunikasi  AbstractBased on World Investment Report 2015 that  has been released on 25 June2015 by an organization under United Nation (UN) named United Nations Conference Trade and Development (UNCTAD), Indonesia is a country that is experiencing the highest investment growth in Southeast Asia as much as 20%, with Japan as the biggest investor.  Japanese investment rate is directly proportional with the number of requiring workers who can speak Japanese. On working life communication and language as one of the communication tool is really necassery. Language has many varieties, in Japan there are 28 kinds of dialect. Kansai Dialect with 1: 6 of using ration, is the secondnumbermost uses in Japan after standard Japanese. Based on that fact this reasearch is to find is there any miscommnication that occure due to the-do-not-know about Kansai dialect on Detective Conan anime episode 651 with work life is the background. By using descriptive research method ascertainable that the-do-not-know about Kansai dialect can cause miscommunication that lead to misunderstanding. Biggest miscommunication occurred because the-don-not-now that jibun in Kansai dialect can be translated as me and amechan means candy. Beside that we also know that salty in Kansai dialect is karai and using Kansai dialect in poor way can make Kansai people angry due to their pride and  appreciate toward Kansai dialect. Keyword : Standard  Japanese, Kansai dialect, miscommunication
THE EFFECTIVENESS OF USING MEGURO LANGUAGE CENTER FLASH MEDIA IN JAPANESE INTRANSITIVE AND TRANSITIVE VERB PAIRS LEARNING (True Experimental Research for Second Grade Students of UPI’s Japanese Language Education Departement) Haryani, Nia; Aneros, Noviyanti; Herniwati, Herniwati
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3839

Abstract

Abstract. Japanese intransitive and transitive verb pairs (jidoushi and tadoushi pairs) are still one of difficult things for Japanese language learners. Results of questionnaire mentioned that difficulties experienced by a student are distinguish between intransitive and transitive verb pairs, and use of intransitive and transitive verb pairs in Japanese sentence. Therefore, we have to use an effective media on intransitive and transitive verb pairs learning, on purpose to decrease that difficulties. The purpose of this research are (1) to know any significant difference in learners ability in intransitive and transitive verb pairs vocabulary and know how to using intransitive and transitive verb pairs in Japanese sentence before and after using Meguro language center (MLC) flash media; (2) to determine the effectiveness of using MLC flash media in intransitive and transitive verb pairs learning; (3) to determine learners response of using MLC flash media in intransitive and transitive verb pairs learning. This research use the true experiment design, and also use the test and questionnaire to get some data’s. The research object is second grade students of UPI’s Japanese language education departement of the academic year 2015/2016, and the samples are students at 4B as experimental group and students 4C as control group. From the result of data analysis obtained that value is 2,46 and value is 2,07 at 5% significance level. Because is greater than so Hk accepted. Then from normalized gain mean, experimental group gained 0,67 is approving of MLC flash media is more effective as compared with text media. In addition, analysis of questionnaire showed that student has given a positive response to application of MLC flash media. Keywords : Japanese intransitive and transitive verb pairs, jidoushi and tadoushi pairs, learning media, flash, Meguro language center  Abstrak. Bagi pembelajar bahasa Jepang, jidoushi dan tadoushi berpasangan masih menjadi hal yang sulit. Hasil angket menyebutkan bahwa kesulitan yang dialami pembelajar adalah kesulitan dalam membedakan jidoushi dan tadoushi berpasangan dan kesulitan dalam penggunaan kedua verba tersebut dalam suatu kalimat. Diperlukan suatu media yang efektif dalam pembelajaran jidoushi dan tadoushi berpasangan agar kesulitan tersebut dapat dikurangi. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui adakah perbedaan yang signifikan mengenai kemampuan pembelajar dalam menguasai kosakata dan memahami penggunaan jidoushi dan tadoushi berpasangan sebelum dan sesudah proses pembelajaran menggunakan media flash Meguro language center (MLC); (2) untuk mengetahui tingkat efektivitas penggunaan media flash MLC terhadap kemampuan pembelajar dalam menguasai kosakata dan memahami penggunaan jidoushi dan tadoushi berpasangan; (3) untuk mengetahui tanggapan pembelajar terhadap penggunaan media flash MLC dalam pembelajaran jidoushi dan tadoushi berpasangan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen murni. Adapun instrumen yang digunakan, yaitu tes dan angket. Sampel yang digunakan yaitu mahasiswa tingkat II Departemen Pendidikan Bahasa Jepang UPI tahun ajaran 2015/2016 kelas 4B sebagai kelompok eksperimen dan kelas 4C sebagai kelompok kontrol yang masing-masing kelas diambil sebanyak 12 orang. Dari hasil analisis data setelah melakukan penelitian, diperoleh nilai sebesar 2,46 dan nilai 2,07 pada taraf signifikansi 5%. Karena hasil lebih besar dari  maka Hk diterima. Kemudian dari nilai rata-rata normalized gain kelas eksperimen yaitu sebesar 0,67 membuktikan bahwa menggunakan media flash MLC lebih efektif dibandingkan dengan media teks. Kemudian berdasarkan pengolahan angket menunjukan bahwa pembelajar memberikan respon yang positif terhadap penggunaan media flash MLC. Kata kunci : Jidoushi dan tadoushi berpasangan, media pembelajaran, flash,  Meguro language center

Page 1 of 2 | Total Record : 15