cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
Pembelajaran Memorisasi Dalam Ulangan 6:6-9 I Putu Ayub Darmawan
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 1 (2019): Gereja dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.069 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v3i1.50

Abstract

The Bible in Deuteronomy 6: 6-9 gives orders to carry out children's education. The text of Deuteronomy 6: 6-9 is generally understood to be limited to the mandate of education in the family, but the author views if the text of Deuteronomy 6: 6-9 also shows a learning model. For this reason, the author analyzes the text of Deuteronomy 6: 6-9. The analysis of the text appears if there is a memorization learning process. The memorization learning process is carried out by delivering teaching repeatedly and accompanied by media available in the family environment. This learning theoretically helps to improve understanding because there is a process of recording, storing, and calling that is more effective and allows deepening of the meaning of information.AbstrakAlkitab dalam Ulangan 6:6-9 memberikan perintah untuk melaksanakan pendidikan anak. Teks Ulangan 6:6-9 umumnya dipahami sebatas sebagai mandat pendidikan dalam keluarga, tetapi penulis memandang jika teks Ulangan 6:6-9 juga menunjukkan sebuah model pembelajaran. Untuk itu penulis melakukan analisis terhadap teks Ulangan 6:6-9. Dari analisis terhadap teks tersebut tampak jika terdapat proses pembelajaran memorisasi. Proses pembelajaran memorisasi dilakukan dengan menyampaikan pengajaran secara berulang dan disertai dengan media yang tersedia di lingkungan keluarga. Pembelajaran ini secara teoritis membantu untuk meningkatkan pemahaman sebab terjadi proses perekaman, penyimpanan, dan pemanggilan yang lebih efektif dan memungkinkan terjadinya pendalaman terhadap makna pada suatu informasi.
Khotbah Ekspositori yang Alkitabiah Menurut Nehemia 8:1-9 Sigit Ani Saputro
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 1 (2017): Teologi dan Pelayanan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.446 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v1i1.9

Abstract

Abstract: Sermon is a part of a ministry in the church service. It oftenly considered as a way to convey the true God’s Word. However, not every sermon is biblical. This article aimed to give a description of a biblical expository sermon. This is a biblical research with exposition approach on Nehemiah 8:1-9. And the conclusion of the research gave four criterions of biblical expository sermon, those are: Preacher must have a wide knowledge, sermon must be text oriented, as an embodiment of a ministry and compliment to God, have a specific ability to communicate the Bible’s contents. Abstrak: Khotbah merupakan salah bentuk pelayanan yang dilakukan dalam ibadah. Khotbah sering diartikan sebagai sarana menyampaiakan kebenaran firman Tuhan. Namun tidak semua khotbah bersifat alkitabiah. Artikel ini bertujuan untuk memberikan deksripsi tentang khotbah yang alkitabiah. Artikel ini merupakan penelitian teks Alkitab dengan pendekatan eksposisi pada Nehemia 8:1-9. Kesimpulan memberikan empat kriteria sebagai khotbah ekspositori yang alkitabiah, yaitu: Pengkhotbah  harus memiliki pengetahuan yang luas,  khotbah harus tetap berdasarkan kepada teks, sebagai suatu wujud pelayanan dan pujian kepada Allah, memiliki ketrampilan khusus dalam mengkomunikasikan isi kitab.
Teologi Tongkonan: Berteologi dalam Konteks Budaya Toraja Ezra Tari
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): Gereja dalam Perubahan Zaman
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.993 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v2i2.40

Abstract

Theology in Indonesia Context, especially in Toraja culture is a necessity. This paper shows how to conduct theology in the context of Toraja culture. Where with the correct understanding of Christ and his work as true God and true human with theological and cultural positions. So that criticism is a preparation step towards theological reflection. This study provides a response from the Bible's point of view of the position of believers in the middle of culture. To obtain data in accordance with the problems that have been described previously, the authors conducted research with qualitative descriptive research. In general, the approach used is to create a difference between the Gospel and Culture. But theology and the attitude of believers develop thoughts that transform culture. The Gospel and Culture constantly dialogue in finding values that are capable of transforming humans who embrace the culture. The most important thing in establishing a culture and the gospel is to produce peace or hospitality for the people. AbstrakBerteologi Dalam Konteks di Indonesia, terutama dalam budaya Toraja adalah sebuah keniscayaan. Tulisan ini menunjukkan bagaimana berteologi dalam konteks dalam budaya Toraja. Di mana dengan pemahaman yang benar tentang Kristus dan karya-Nya sebagai Allah sejati dan manusia sejati dengan posisi teologi dan budaya. Sehingga kritik adalah langkah persiapan kearah refleksi teologis. Penelitian ini memberikan tanggapan dari sudut pandang Alkitab bagaimana posisi sebagai orang percaya yang ada ditengah kebudayaan.Untuk mendapatkan data sesuai dengan permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka penulis melakukan penelitian dengan jenis penelitian deskritif kualitatif. Pada umumnya pendekatan yang digunakan adalah menciptakan perbedaan antara Injil dan Kebudayaan. Namun Teologi dan sikap orang percaya mengembangkan pemikiran yang mentransformasi budaya. Injil dan Kebudayaan terus-menerus berdialog dalam menemukan nilai yang mampu mengubahkan manusia yang menganut kebudayaan. Hal yang sangat penting dalam menjalin kebudayaan dan injil adalah menghasilkan kedamaian atau hospitalitas bagi umat.
Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning dalam Pendidikan Agama Kristen untuk Meningkatkan Karakter Siswa Kristiani Magdalena Elly Kurniawati
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 1 (2019): Gereja dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.103 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v3i1.45

Abstract

This study aims to examine the effectiveness of the Contextual Teaching Learning (CTL) learning model through Christian Religious Education in improving the Christian character of students in Surakarta 4 Public Middle School. This research was motivated by the fact and condition of Christian students at Surakarta 4th Middle School who experienced a decline due to Christian character. This research applies a participatory research approach with mixed methods research design. Interviews, observations, FGDs, and questionnaires were used to collect qualitative and quantitative data. Experiments are used to prove the effectiveness of the model is statistically significant, while field observations and FGDs are used to obtain practical data significant impact of the model. This research is tested as an effective learning model to improve students' character, especially in terms of love, honesty, discipline, and responsibility. In qualitative results, it can be seen in the attitudes of students who want to carry out tasks without complaining, attend morning services, and are able to understand precisely the essence of Christian character. This research is recommended for curriculum vice principal, teachers, students, and future researchers to apply this model. That is because the CTL learning model has proven effective for improving the Christian character of junior high school students.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan model pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) melalui Pendidikan Agama Kristen dalam meningkatkan karakter Kristiani siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Surakarta. Penelitian ini dimotivasi oleh fakta dan kondisi siswa Kristen di SMPN 4 Surakarta yang mengalami kemerosotan berkaitan dengan karakter Kristiani. Penelitian ini menerapkan pendekatan penelitian partisipatif dengan desain penelitian metode campuran. Wawancara, observasi, FGD dan angket digunakan untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif. Eksperimen digunakan untuk membuktikan efektivitas model secara statistikal signifikan, sedangkan observasi lapangan dan FGD digunakan untuk memperoleh data secara praktikal signifikan dampak model. Penelitian ini teruji sebagai model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan karakter siswa, khususnya dalam hal kasih, kejujuran, kedisiplinan dan tanggungjawab. Dalam hasil kualitatif terlihat dalam sikap siswa yang mau melaksanakan tugas tanpa mengeluh, mengikuti ibadah pagi, dan mampu untuk memahami dengan tepat esensi dari karakter Kristiani. Penelitian ini direkomendasikan bagi wakasek kurikulum, guru, siswa dan peneliti selanjutnya untuk menerapkan model ini.Hal itu karena model pembelajaran CTL telah terbukti efektif untuk meningkatkan karakter Kristiani siswa SMP.
Deskripsi Hamba yang Menderita Menurut Yesaya 52:13-53:12 Elkana Chrisna Wijaya
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): Gereja dalam Perubahan Zaman
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.195 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v2i2.38

Abstract

The theological theme of "Servant Who Suffers," is the subject of research, with an explanation derived from Isaiah 52:13-53:12. Various considerations became the basis or foundation for this research. Among them are differences in views about the original author from the Book of Isaiah, which became the "distant context" of this research subject, as well as the debate about "the person or identity of the suffering servant." This research is intended not only to bring out differences from the views of the two groups but also to provide confirmation and solutions to these differences. Of course, the results of this study, not solely based on the thoughts and personal assumptions of the author. The method used in this research is qualitative research which describing and discussing these sections based on biblical studies and some views of experts as a source of literature from the research subjects.AbstrakTema teologis “Hamba yang Menderita,” merupakan subyek penelitian, dengan penjelasan yang bersumber pada Yesaya 52:13-53:12. Berbagai pertimbangan menjadi dasar atau landasan bagi penelitian ini, seperti perbedaan pandangan mengenai penulis asli dari Kitab Yesaya, yang menjadi “konteks jauh” dari subyek penelitian ini, serta perdebatan mengenai “pribadi atau identitas dari hamba yang menderita.” Penelitian ini, dimaksudkan tidak hanya memunculkan perbedaan dari pandangan kedua kelompok tersebut, namun juga memberikan penegasan dan jalan keluar bagi perbedaan-perbedaan tersebut. Tentunya hasil dari pada penelitian ini, bukan semata-mata berdasarkan pada pemikiran dan asumsi pribadi penulis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yaitu dengan cara memaparkan dan membahas bagian-bagian tersebut dengan berlandaskan pada kajian biblika serta beberapa pandangan para pakar sebagai sumber literatur dari subyek penelitian tersebut.
(De)Legitimasi Hukuman Pidana Mati: Sebuah Pertimbangan Etis Sonny Eli Zaluchu; Eirene Kardiani Gulo
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 1 (2019): Gereja dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.137 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v3i1.54

Abstract

The death penalty is always in controversy. Ethical considerations in terms of ethics, principle, and criminality always produce two strong opinions, which are the pros and cons. The two opposing views have strong arguments and considerations concerning the maximum punishment for particular crimes. Countries in the world divided into two acts. Some chose the moratorium option, but there were also those who continued to defend it. This article describes that there are indeed substantive difficulties in an attempt to legitimize or delegitimize the death penalty. These difficulties are presented and analyzed in this paper by using theological approaches, especially in a legal perspective, the right to human life and biblical orders not to kill. The descriptive analysis was carried out by utilizing a literature review and research results.AbstrakHukuman mati selalu di dalam kontroversi. Pertimbangan moral dalam hal etika, azasi dan pidana selalu menghasilkan dua kubu pendapat yang sama-sama kuat yakni yang pro dan kontra. Kedua pandangan yang saling bertolak belakang tersebut memiliki argumentasi dan pertimbangan yang kuat menyangkut hukuman maksimal terhadap kejahatan istimewa. Negara-negara di dunia terbagi dua. Ada yang memilih opsi moratorium tetapi ada juga yang terus mempertahankannya. Artikel ini memaparkan secara deskriptif bahwa memang terdapat kesulitan-kesulitan substantif dalam setiap usaha legitimasi dan atau delegitimasi terhadap hukuman mati. Kesulitan-kesulitan tersebut dipaparkan dan dianalisis di dalam paper ini dengan menggunakan pendekatan teologis khususnya dalam persepektif hukum, hak hidup manusia dan perintah Alkitab untuk jangan membunuh. Analisis dilakukan secara dengan memanfaatkan tinjauan literatur dan hasil-hasil penelitian.
Fungsi Implementatif Tawaran Pilihan Etis-Teologis Kristen dalam Konteks Dilema Moral Alvian Apriano
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v3i2.122

Abstract

Mostly overtime, the ethical-theological discussion is also influenced by dilemmatic situations that cause doubts in making choices. In fact, the starting point of ethics is to consider an issue and take a stand on it without compromise with any situation in between. In this situation, questions arise about whether ethics has carried out its implementative function appropriately? With the growing firmness to making a choice, ethical-theological responsibility now requires its implementation under direction. Christian theologians notice their respective perspectives on highlighting the context of the times that creates moral dilemmas. This research seeks to offer ethical decision concepts and models when dealing with a dilemma problem in order to reawaken the firmness in ethically responding to the challenges of the times. AbstrakDekade ini, diskusi etika teologis turut dipengaruhi oleh situasi dilematis yang menyebabkan keraguan dalam menentukan pilihan. Padahal, titik tolak etika adalah mempertimbangkan sebuah persoalan dan mengambil sikap atasnya tanpa kompromi dengan situasi apa pun. Di dalam keadaan ini, muncullah pertanyaan tentang apakah etika telah menjalankan fungsi implementatifnya dengan tepat? Dengan berkembang-nya ketegasan untuk menentukan pilihan, tanggung jawab etis-teologis kini memerlukan arah implementatifnya. Para teolog etika Kristen memiliki masing-masing perspektifnya menyoroti konteks zaman yang mencip-takan dilema moral. Penelitian ini berupaya menawarkan konsep dan mo-del pilihan etis ketika berhadapan dengan sebuah persoalan dilematis guna menyadarkan kembali ketegasan dalam beretika merespons tantangan zaman. 
Makna Allah Pencipta Manusia dan Problematika Arti Kata ‘Kita’ dalam Kejadian 1:26-27 Juliman Harefa
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (826.306 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v3i2.134

Abstract

This paper is an exegetical study of the book of Genesis 1:26-27, to understand whom God created, why God created a man who is called a noble creature, and studies the meaning of being pictured and similar to God. The study uses the hermeneutic spiral method (from text to context) to reveals the meaning of the original text of the Bible. Also, the implementation of the meaning of the original text today. The study of the text of the word Elohim, Yahweh/Adonay, and We contains the notions of the purity, omnipotence, majesty, and glory of the creator of the universe. The creator God created humans in His image and likeness so that humans have "divine potential" that is not possessed by other creatures. The divine potential is the human self-image that has a soul that will understand as the quality of human resources themselves, namely the potential for spirituality, ratios, wills that will apply in the secular, cultural, and educational world in this millennial era.  AbstrakArtkel ini merupakan studi eksegetis kitab Kejadian 1:26-27, untuk memahami tentang siapa Allah pencipta, mengapa Allah menciptakan manusia yang disebut sebagai makhluk mulia dan mengkaji makna segam-bar dan serupa dengan Allah. Kajian ini menggunakan metode herme-neutik spiral (dari teks kepada konteks) yaitu studi eksegetis yang mengungkap makna teks asli Alkitab dan implementasi makna teks asli pada masa kini. Kajian teks kata Elohim, Yahwe/Adonay dan Kita mengandung arti kemahasucian, kemahakuasaan, keagungan dan kemulia-an Sang Pencipta alam semesta. Allah Pencipta menciptakan manusia me-nurut gambar dan rupa-Nya, sehingga manusia memiliki “potensi ilahi” yang tidak dimiliki oleh makhluk lain yang diciptakan oleh Allah. Potensi ilahi adalah citra diri manusia yang memiliki jiwa akan dipahami sebagai kualitas sumberdaya manusia itu sendiri yakni potensi spiritualitas, rasio, kehendak yang akan diaplikasikan dalam dunia sekuler, budaya dan pendidikan di era milenial.
Pemuridan Misioner dalam Menyiapkan Perluasan Gereja Lokal Tri Subekti; Pujiwati Pujiwati
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.3 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v3i2.126

Abstract

The development and expansion of the church is a dream for many local churches. One of the most effective ways to develop or expand a local church is to do evangelism according to the great commission in Matthew 28: 19-20. To be able to move the congregation to carry out missionary activities missionary discipleship is needed. The article is a qualitative study of the significant influence of missionary discipleship on the expansion of the local church. By using a qualitative approach and descriptive method, the results obtained recommending the holding of missionary discipleship by the church to produce a congregation capable of carrying out the great commission of Jesus Christ.AbstrakPerkembangan dan perluasan gereja merupakan idaman bagi banyak gerejaa lokal. Salah satu cara yang paling efektif untuk mengembangkan atau melakukan ekspansi gereja lokal adalah melakukan penginjilan sesuai amanat agung dalam Matius 28:19-20. Untuk dapat menggerakkan jemaat melakukan kegiatan misi diperlukan pemuridan secara misioner. Artikel merupakan penelitian kualitatif tentang pengaruh signifikan dari pemuridan misioner terhadap perluasan gereja lokal. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, diperoleh hasil yang merekomendasikan diadakannya pemuridan misioner oleh gereja untuk menghasilkan jemaat yang mampu melakukan amanat agung Yesus Kristus.
Implikasi Alkitab dalam Formasi Rohani pada Era Reformasi Gereja Katarina Katarina; I Putu Ayub Darmawan
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.815 KB) | DOI: 10.33991/epigraphe.v3i2.85

Abstract

This article discusses the spiritual formation and God's Word in reformation. The formulation of the problem is the relationship between spiritual formation and God's Word in reformation. The author uses literature studies to collect information about spiritual formation and God's Word in reformation. Spirit for sola scriptura has produced a change in the life of the church at that moment. All teachings, church traditions, and practical actions which is conducted by church member must be tested under the Word of God. In the present context, the church who facing various challenges related to a moral life, teaching, and practical actions must return to the principles of the word of God. To build a spiritual life, we must start from the Bible that is interpreted correctly, which then becomes a theological development, which then influences the concept of believer's thinking and practical actions.AbstrakArtikel ini membahas tentang formasi rohani dan Firman Tuhan dalam reformasi. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana kaitan antara formasi rohani dan firman Tuhan dalam reformasi? Penulis menggunakan studi pustaka untuk menggali informasi tentang formasi rohani dan Firman Tuhan dalam reformasi. Semangat untuk sola scriptura menghasilkan perubahan dalam kehidupan gereja pada masa itu. Segala pengajaran, tradisi gereja, dan tindakan praktis yang dilakukan oleh setiap anggota gereja harus diuji di bawah Firman Tuhan. Dalam konteks masa kini, menghadapi berbagai tantangan gereja baik yang terkait dengan kehidupan moral maupun pengajaran dan tindakan praktis, gereja harus kembali pada prinsip Firman Tuhan. Untuk membangun kehidupan rohani maka harus dimulai dari Alkitab yang ditafsirkan secara benar yang kemudian menjadi sebuah bangunan teologi yang kemudian mempengaruhi konsep berpikir orang percaya dan tindakan praktis.

Page 3 of 17 | Total Record : 162