EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Articles
162 Documents
Mengaplikasikan Integritas Gembala Jemaat menurut Surat-surat Penggembalaan
Markus Sudjarwo
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (637.041 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v3i2.47
Integrity is a quality of character that must be possessed by every pastor. that is the quality of the character which is not blameworthy lives according to the word and does not sacrifice the right principles when under pressure. In the pastoral letters of the Apostle, Paul gives a reference and at the same time firmness to the pastors of the church who carry out his pastoral service. The purpose of this article is how pastors apply the concept of integrity in service according to the Pastoral Epistles. With a qualitative approach, this study applies a descriptive method to the pastors of the Pentecostal Church assembly in Indonesia in the Nabire area of the city. The conclusion is, integrity is really very important for a pastor because it is a basic force in a pastor's ministry. The value of a ministry is not determined by the high level of education or the many hours of flying in the ministry, but by the integrity of a pastor's church. AbstrakIntegritas adalah kualitas karakter yang harus dimiliki oleh setiap gembala jemaat. yaitu kualitas karakter yang tidak tercela, hidup sesuai dengan perkataan, dan tidak mengorbankan prinsip yang benar saat berada di bawah tekanan. Dalam surat-surat penggembalaan Rasul Paulus memberikan acuan dan sekaligus ketegasan terhadap para gembala jemaat yang menjalankan pelayanan penggembalaannya. Tujuan dari artikel ini adalah bagaimana para gembala mengaplikasikan konsep integritas dalam pelayanan menurut Surat-surat penggembalaan. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menerapkan metode deskriptif pada gembala-gembala sidang Gereja Pantekosta di Indonesia di wilayah Nabire kota. Kesimpulannya adalah, integritas sungguh sangat penting bagi seorang gembala jemaat, karena merupakan kekuatan dasar dalam pelayanan seorang gembala. Nilai dari sebuah pelayanan tidak ditentukan oleh tingginya pendidikan semata atau banyaknya jam terbang dalam pelayanan, melainkan oleh integritas diri seorang gembala jemaat.
Mengoptimalkan Karunia dalam Jemaat untuk Melakukan Misi Amanat Agung di Era 4.0
Eben Munthe
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (767.446 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v3i2.127
Carrying out the mission of the great commission is a general church task, which must be carried out by all believers. Conducting missions in the 4.0 era is a challenge in itself, and the church must empower God's people with the gift of the Holy Spirit who can answer the needs of mission services in this era. The article is qualitative research literature, applying descriptive and phenomenological methods to show a description of service needs related to mission in the 4.0 era. As a result, a leader, in this case, the pastor, must first be empowered in terms of gifts so as to optimize the gifts that are in the church. AbstrakMelakukan misi amanat agung merupakan tugas gereja secara umum, yang harus dilakukan oleh semua orang percaya. Melakukan misi di era 4.0 merupakan tantangan tersendiri, dan gereja harus memberdayakan jemaat Tuhan dengan karunia Roh Kudus yang dapat menjawab kebutuhan pelayanan misi di era ini. Artikel merupakan penelitian kualitatif literatur, menerapkan metode deskriptif dan fenomenologi untuk menunjukkan gambaran kebutuhan pelayanan terkait misi di era 4.0. Hasilnya, seorng pemimpin, dalam hal ini gembala sidang, harus terlebih dahulu berdaya dalam hal karunia sehingga dapat mengoptimalkan karunia yang ada dalam jemaat
Menerapkan Konsep Pelayan Tuhan Perjanjian Baru pada Masa Kini
Asih Rachmani Endang Sumiwi;
Joseph Christ Santo
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (721.692 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v3i2.129
The term "servant of God" has a growing meaning, and at this time the phrase has several meanings. In its development there is also the meaning of "servant of God" which shifts from the original understanding. This can cause inconsistencies in the function of God's servant in the congregation. With word studies, this research tries to reformulate the concept of servant of God based on the use of some words about servants in the books of the New Testament. The use of these words in the cultural context at that time showed the characteristics of "servants", and from those characteristics it could be formulated the concept of servants of the Lord's New Testament. The results of this study indicated several criteria that must be owned by a member of the congregation so that he deserves to be set as a servant of God. AbstrakIstilah “pelayan Tuhan” memiliki makna yang berkembang, dan pada saat ini frasa tersebut memiliki beberapa makna. Dalam perkembangannya ada juga makna “pelayan Tuhan” yang bergeser dari pengertian semula. Hal ini bisa menimbulkan inkonsistensi fungsi pelayan Tuhan dalam jemaat. Dengan studi kata, penelitian ini mencoba merumuskan kembali konsep pelayan Tuhan berdasarkan penggunaan beberapa kata tentang pelayan di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru. Penggunaan kata-kata tersebut dalam konteks budaya pada waktu itu menunjukkan karakteristik “pelayan”, dan dari karakterisik itu dapat dirumuskan konsep pelayan Tuhan Perjanjian Baru. Hasil dari penelitian ini menunjukkan beberapa kriteria yang perlu dimiliki seorang warga jemaat agar ia layak ditetapkan sebagai pelayan Tuhan.
Visi Profetis Kehidupan Sosial Umat Kristen dalam Demokrasi Menurut John W. De Gruchy
Aseng Yulias Samongilailai
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 2 (2019): November 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (829.71 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v3i2.128
This article reviews how church members - Christians - should play a role in social life, especially in the context of Indonesia's democratic life. The role of church members is derived from a theoretical study of John W. De Gruchy's thoughts on the prophetic vision which also functions as the basis for this role. The prophetic vision on which the role is based covers the importance of upholding justice, presenting the love of Jesus and the kingdom of God, and of how the Christian community should become an ecclesiā that has a positive, constructive impact on social situations that are experiencing degradation in various lines of life. AbstrakArtikel ini mengulas tentang bagaimana mestinya warga gereja – umat Kristen – ikut berperan dalam kehidupan sosial khususnya dalam konteks kehidupan demokrasi Indonesia. Peran warga gereja yang diperoleh berasal dari kajian teoritis terhadap pemikiran John W. De Gruchy tentang visi profetis yang sekaligus berfungsi sebagai dasar/landasan dari peran tersebut. Visi profetis yang menjadi landasan peran meliputi tentang pentingnya menegakkan keadilan, menghadirkan kasih Yesus dan keraja-an Allah, dan tentang bagaimana harusnya komunitas Kristen menjadi ecclesiā yang memiliki dampak positif, konstruktif dalam situasi sosial yang sedang mengalami degradasi dalam berbagai lini kehidupan.
Tanggung Jawab Orang tua Kristen dalam Mendidikan Anak Menyikapi Pandemi Covid-19
Asmat Purba
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v4i1.148
Family is the smallest organization formed by God. Family is the seed of varieties values and life skills, including how to deal with crises creatively. Whatever children learn in their families and communities will be brought to the community. One of the impactful events experienced by families nowadays is the Covid-19 pandemic. The Covid-19 pandemic has an impact on the world economy, education, changes in the character of society, and many more setbacks due to this global crisis, including family. The global crisis requires radical changes in various aspects including education both in general and spiritually. Parents are responsible for fulfilling that role so that their children receive instruction and guidance that will be a principal for them to live their lives now and in the future. The purpose of this scientific article is: make parents aware of their duties and responsibilities as Christian educators in the family so their children are able to respond to the global crisis due to the Covid-19 pandemic well and gain experience from the event. So, parents need to know their personal qualifications, teaching methods, and how to teach children in the family. AbstrakKeluarga merupakan organisasi terkecil yang dibentuk oleh Allah. Keluarga merupakan benih persemaian berbagai nilai dan ketrampilan kehidupan termasuk bagaimana menghadapi krisis secara kreatif. Apa yang dipelajari anak di dalam keluarga dan komunitasnya akan dibawa ke tengah masyarakat. Salah satu peristiwa berdampak yang dialami keluarga saat ini adalah pandemi Covid-19. Peristiwa pandemi Covid-19 membawa dampak bagi ekonomi di dunia, bagi pendidikan, perubahan karakter masyarakat, dan masih banyak lagi yang akan mengalami penurunan karena ini merupakan krisis global, termasuk keluarga. Krisis global menghendaki perubahan radikal dalam berbagai aspek termasuk pendidikan baik secara umum maupun rohani. Orang tua bertanggung jawab memenuhi peran itu, sehingga anak mendapat pengajaran dan bimbingan yang akan menjadi modal bagi mereka menjalani kehidupan sekarang dan yang akan datang. Tujuan dari artikel ilmiah ini ialah: menyadarkan para orang tua akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik Kristen dalam keluarga bagi anak-anak supaya anak-anak mampu menyikapi krisis global akibat pandemi Covid-19 dengan baik dan mendapatkan pengalaman dari peristiwa tersebut. Jadi, orang tua perlu mengetahui kualifikasi pribadi, pengajaran dan metode bagaimana mengajar anak di dalam keluarga..
Memaknai Penderitaan Yesus dalam Konsekuensi Pastoral
Yusuf Siswantara
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v4i1.146
The article is a philosophical-theological reflection on an epidemic that is currently endemic throughout the world including in Indonesia, namely the Covid-19 Pandemic. This plague is considered a trigger for suffering everywhere and covers all aspects of human life. By using a qualitative literature approach and descriptive method, the article aims to present a pastoral reflection through the meaning of Jesus' suffering as a way of responding to pandemic events in a Christian context as a whole. In conclusion, reflection on the meaning of Jesus' suffering, including through the Easter celebration, provides positive energy in the life of Christian faith in responding to various difficult situations including the Covid-19 pandemic. AbstrakArtikel merupakan sebuah refleksi filosofis atas sebuah wabah yang se-dang mewabah di seluruh dunia termasuk di Indonesia, yakni Pandemi Covid-19. Wabah ini dianggap sebagai pemicu terjadinya penderitaan di mana-mana, dan mencakup seluruh aspek hidup manusia. Dengan meng-gunakan pendekatan kualitatif literatur dan metode deskriptif, artikel ber-tujuan menghadirkan sebuah refleksi pastoral melalui pemaknaan pende-ritaan Yesus sebagai cara merespon peristiwa pandemik dalam konteks orang Kristen secara menyeluruh. Kesimpulannya, refleksi atas pemakna-an penderitaan Yesus termasuk melalui perayaan Paskah memberikan energi positif dalam hidup beriman orang Kristen dalam merespon berba-gai situasi menyulitkan termasuk pandemi Covid-19.
Menerapkan Kualifikasi Kepemimpinan Hamba menurut Injil Markus bagi Gembala Sidang GPdI Wilayah Waropen Barat, Papua
Dorus Dolfinus Buinei
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (473.681 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v4i1.48
The church faces great challenges in terms of human resources and its organization, as well as the degradation of quantity and quality. The leadership of a pastor is one of the factors needed to face the challenges of the church. One form of leadership needed is a servant leadership model. The Gospel of Mark gives four important qualifications about servant leadership that Jesus had. The problem is, not many pastors have the qualifications. This article aims to provide an understanding of the pastors of the GPdI congregation in the West Waropen region about the qualifications of Jesus' leadership as servants according to the Gospel of Mark, so that it can be applied in the ministry of pastors in the GPdI West Waropen Region, Papua.AbstrakGereja menghadapi tantangan yang besar dari segi sumber daya manusia dan organisasinya, serta degradasi kuantitas dan kualitas. Kepemimpinan seorang gembala sidang merupakan salah satu faktor yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan gereja. Salah satu bentuk kepemimpinan yang dibutuhkan adalah model kepemimpinan hamba. Injil Markus memberikan empat kualifikasi penting tentang kepemimpinan hamba yang dimiliki Yesus. Persoalannya, belum banyak para gembala sidang yang memiliki kualifikasi tersebut. Artikel ini bertujuan untuk mem-berikan pemahaman para gembala sidang GPdI wilayah Waropen Barat tentang kualifikasi kepemimpinan Yesus sebagai hamba menurut Injil Markus, sehingga dapat menerapkannya dalam pelayanan para gembala jemaat di GPdI Wilayah Waropen Barat, Papua.
Pengaruh Pemahaman Hidup Kudus Menurut 1 Tesalonika 4:1-8 terhadap Perilaku Seksual Pemuda Remaja di GPdI Wilayah Sentani Timur Tengah
Priskila de Fretes;
Zulkisar Pardede
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (423.449 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v4i1.147
This study aimed to determine whether there is an influence of the under-standing of holy life according to 1 Thessalonians 4: 1-8 on the sexual behavior of GPdI youth/teenagers in the Sentani Timur Tengah Region; which dimensions affected the understanding of holy life according to 1 Thessalonians 4:1-8 on youth/ teenagers sexual behavior, and found out which background factors have the most influenced on sexual behavior in youth/teenagers in GPdI Sentani Timur Selatan Region. In this study, the population was youth/teenagers in the GPdI Sentani Timur Selatan Region totaling 123 people. This research used a quantitative (positivist) approach. The research method used was a quantitative research design with an explanatory-confirmatory method. Simple linear regression test results are Y = -47,727 + 0.864X. In conclusion, the understanding of the holy life according to 1 Thessalonians 4: 1-8 has a positive effect on the sexual behavior of GPdI youth/youth in Sentani Timur Selatan (Y), with the dimension of "acceptance of God's presence" as the most dominant. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh pema-haman hidup kudus menurut 1 Tesalonika 4: 1-8 terhadap perilaku sek-sual pemuda/remaja GPdI di Wilayah Sentani Timur Tengah; dimensi manakah yang paling dominan memengaruhi pemahaman hidup kudus menurut 1 Tesalonika 4: 1-8, dan untuk mengetahui faktor latar belakang manakah yang paling berpengaruh terhadap perilaku seksual pada pemuda/remaja di GPdI Wilayah Sentani Timur Tengah. Dalam pene-litian ini yang menjadi populasi adalah pemuda/remaja di GPdI Wilayah Sentani Timur Tengah yang berjumlah 123 orang. Penelitian ini meng-gunakan pendekatan kuantitatif (positivis). Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian kuantitatif dengan metode ekspla-natori-konfirmatori. Hasil uji regresi linear sederhana adalah Y = -47,727 + 0,864X. Kesimpulannya, pemahaman hidup kudus menurut 1 Tesalonika 4:1-8 berpengaruh positif terhadap perilaku seksual pemuda/remaja GPdI di Sentani Timur Tengah (Y), dengan dimensi “penerimaan akan kehadiran Allah” sebagai yang paling dominan.
Konstruksi Teologis Gereja Digital: Sebuah Refleksi Biblis Ibadah Online di Masa Pandemi Covid-19
Susanto Dwiraharjo
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (490.113 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v4i1.145
The internet has in fact become one with today's life. Not only has his presence changed many things in the fabric of social life, but it has also changed religious behavior. The worship behavior that has been limited by time and space, and that has become a standard for one's faith, is no longer the case. Not only related to the space and time of worship, even more than that the liturgy of the church that has been sacred has also changed. The output of writing this article is to find a formulation of the digital church. This study applies a qualitative method with phenomenological analysis. With this method, the scattered data can then be constructed in a more meaningful and easily understood theme. This research was conducted through 4 processes, namely: first describing facts based on data, second conducting an analysis of the facts found, third conducting a study of the topic from the standpoint of Christianity, and fourth finding its relevance in digital worship patterns.AbstrakInternet pada faktanya telah menyatu dengan kehidupan masa kini. Keha-dirannya tidak saja telah mengubah banyak hal dalam tatanan kehidupan sosial, tetapi juga telah mengubah perilaku keagamaan. Perilaku ibadah yang selama ini terbatasi oleh ruang dan waktu, dan itu telah dijadikan standar baku keimanan seseorang, sekarang tidak lagi demikian. Bukan saja terkait dengan ruang serta waktu peribadatan, bahkan lebih dari itu liturgi gereja yang selama ini disakralkan pun juga ikut berubah. Luaran dari penulisan artikel ini adalah untuk menemukan sebuah formulasi ten-tang gereja digital. Penelitian ini menerapkan metode kualtatif dengan analisis fenomenologi. Dengan metode ini akan dapat ditemukan data-data yang terserak selanjutnya dikonstruksikan dalam satu tema yang lebih bermakna dan mudah dipahami. Penelitian ini dilakukan melalui 4 proses, yaitu: pertama mendiskripsikan fakta berdasarkan data, kedua me-lakukan analisis terhadap fakta yang ditemukan, ketiga melakukan kajian terhadap topik dari sudut pandang ajaran Kekristeenan, dan keempat me-nemukan relevansinya pada pola peribadatan secara digital.
Prinsip Penggembalaan Menurut 1 Timotius 4:1-16: Kajian Reflektif untuk Penerapan di GPdI Wilayah Waropen Barat, Papua
Daniel Wenggi;
Sutikto Sutikto
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 4, No 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (466.369 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v4i1.55
The principle of shepherding means a fundamental statement that can be considered as a general truth that is used by both pastors and groups in pastors in working to achieve their goals. In this connection, it is important to study the principles of shepherding according to 1 Timothy 4: 1-16. The purpose of this study is to describe, analyze, and implement the principles of shepherding according to 1 Timothy 4: 1-16 in the pastoral environment of the GPdI session in the West Waropen Region, Papua. This study uses qualitative research with a descriptive analysis method with a hermeneutical approach to the text of 1 Timothy 4: 1-16. In conclusion, some principles in shepherding based on 1 Timothy 4: 1-16 are: knowing the purpose of shepherding, being called to serve, preparing for service, entering service, and serving as God's Servant. AbstrakPrinsip penggembalaan artinya pernyataan fundamental yang dapat di-anggap sebagai kebenaran umum yang digunakan oleh gembala sidang baik perorangan maupun kelompok dalam bekerja untuk mencapai tujuannya. Berkaitan dengan hal itu penting untuk mempelajari prinsip-prinsip penggembalaan menurut 1 Timotius 4:1-16. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan, menganalisis dan mengimplementasikan prinsip-prinsip penggembalaan menurut 1 Timotius 4:1-16 dalam ling-kungan gembala sidang GPdI di Wilayah Waropen Barat, Papua. Peneli-tian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif dengan pendekatan hermeneutis pada teks 1 Timotius 4:1-16. Kesim-pulannya, ada beberapa prinsip dalam penggembalaan berdasarkan 1 Timotius 4:1-16 yang dapat diterapkan, yakni: mengetahui tujuan peng-gembalaan, terpanggil melayani, persiapan pelayanan, memasuki pelaya-nan dan melayani sebagai Hamba Tuhan.