EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Articles
162 Documents
Model Bimbingan Dalam Pendidikan Agama Kristen Terhadap Pembentukan Moral Anak Didik Usia 6-8 Tahun
Eliman Eliman
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 2 (2017): Teologi dan Pelayanan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (482.482 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v1i2.19
The child needs to be educated to be guided for moral value. If child doesn’t get education and guidance for the proper moral value, the kid will not be able to be controlled immoral and got worst and the kid can be a criminal and community destroyer. The guidance for the kid’s moral value is an aspect which need to be considered seriously and can’t be abandoned. The improvement of the kid’s moral value need to be known not only those which explain by the expert but also those which stated in bible about the improvement of kid’s moral value so the teacher and parents can guide the kid in the correct moral value. 6 to 8 years old kid is elemantary level kid, the age that can receive other people otority beside the parents and obey the rules. 6 to 8 years old is the period of improvement or the process of maturity , with the education and guidance to the kid will be easy to be absorb and receive by the kid.
Memahami Imago Dei Sebagai Potensi Ilahi dalam Pelayanan Kristiani
Marcellius Lumintang;
Binsar Mangaratua Hutasoit;
Clartje S.E. Awulle
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 1 (2017): Teologi dan Pelayanan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (491.525 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v1i1.8
Abstract: Golden moment is a term that refers to someone’s or church’s achievement and glory. It is not the utopian concept, yet a conviction and expectation based on God’s promise for His people. Some factors are required to achieve the golden moment, one of them is a Golden Seed. Imago Dei is a golden seed which gives an opportunity to the golden moment. This article has a purpose to gice a biblical view of imago Dei which is inside of every human. This article used a bible exposition method on Genesis 1:26, which explained that human was created in a frame of Imago Dei. The conclusion is, that imago Dei is a golden seed which enables every people has the golden moment. Abstrak: Golden moment merupakan istilah untuk menunjukkan sebuah masa keemasan seseorang atau gereja, seperti masa kejayaan atau pencapaian. Golden moment bukanlah konsep utopis, melainkan sebuah keyakinan dan pengharapan berdasarkan janji Tuhan bagi umat pilihan-Nya. Ada banyak faktor yang dibutuhkan untuk seseorang mencapai golden moment, salah satunya adalah: Golden Seed atau benih emas. Imago Dei merupakan benih emas yang dapat memberikan kesempatan setiap orang mencapai golden moment. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pandangan biblikal tentang Imago Dei yang ada pada diri setiap manusia secara hakiki. Metode yang digunakan adalah eksposisi Kejadian 1:26, di mana menjelaskan tentang manusia diciptakan dalam kerangka imago Dei. Kesimpulannya, imago Dei merupakan benih emas yang memungkinkan setiap orang memiliki golden moment.
Historisitas Gereja Protestan Indonesia bagian Barat Penabur Surakarta Sebagai Potensi Objek Wisata Religi
Handri Yonathan
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 1 (2018): Gereja dalam Perubahan Zaman
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (594.957 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v2i1.12
Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Penabur Surakarta arose from a historical City of Surakarta with its particular philosophy of culture. Especially in its relation with Sultanate Palace which built with Javanese Cosmological considerations. This research aimed to describe a history of GPIB Penabur Surakarta. This description relates with church potency as religious tourism object in Surakarta. GPIB Penabur with historical and cosmological capital will be an option for heritage tourism in Surakarta as one of world heritage city. Through this involvement, the church not only present as a religious-spiritual entity, but also socio-economic capital.AbstrakGereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Penabur Surakarta hadir dalam perjalanan sejarah Kota Surakarta yang memiliki filosofi kebudayaan yang tinggi, Kehadiran ini bermakna terutama dalam hubungannya dengan Keraton Surakarta yang dibangun dengan pertimbangan-pertimbangan kosmologis Jawa. Penelitian ini mencoba melihat kesejarahan GPIB Penabur dalam konteks sejarah Surakarta yang lebih luas. Kesejarahan ini akan dilihat sebagai potensi objek wisata religi. Kota Surakarta sebagai kota budaya dan kota pusaka dunia adalah destinasi wisata di Indonesia. Dalam konteks ini GPIB Penabur menjadi opsi sebagai objek wisata religi di Surakarta. Melalui peran ini gereja hadir tidak sekedar sebagai entitas spiritual-religius, tetapi juga sosial-ekonomis.
Lelaku: Memahami Pengalaman Menjelang Kematian Lansia Jawa
Budi Widianto
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): Gereja dalam Perubahan Zaman
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (773.674 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v2i2.42
Some people consider death events to be the ending part of life, so they regard death as a frightening event. This study aims to describe the near-death experience of the Javanese elderly in Rejosari Village, Gondangrejo District, Karanganyar Regency. The theoretical framework used is near-death experience according to Elisabeth Kübler-Ross. The study was conducted using qualitative methods with a phenomenological approach. Data collecting techniques are carried out by in-depth interviews, observations, and library studies. The results showed that the five Javanese elderly studied underwent all stages of the theory of Elisabeth Kübler-Ross but the sequence was different. Four of the five research subjects already had an attitude of acceptance caused by a weak physical condition due to various decreases in the function of their organs.AbstrakSebagian orang menganggap peristiwa kematian merupakan bagian akhir dari kehidupan, sehingga mereka menganggap kematian sebagai peristiwa yang menakutkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman menjelang kematian lansia Jawa di Kalurahan Rejosari Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Kerangka teori yang dipakai adalah pengalaman menjelang kematian menurut Elisabeth Kübler-Ross. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima lansia Jawa yang diteliti mengalami semua tahapan dari teori Elisabeth Kübler-Ross tetapi urutannya berbeda. Empat dari lima subyek penelitian sudah memiliki sikap penerimaan yang disebabkan oleh kondisi fisik yang lemah karena berbagai penurunan fungsi organ tubuhnya.
Telaah Kritis Konstruktif Struktur dan Isi Pemahaman Bersama Iman Kristen dalam Perspektif Lutheran
Riris Johanna Siagian
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 1 (2019): Gereja dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (638.951 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v3i1.51
The Common Understanding of the Christian Faith is the second of Documents on Church Unity, published by the resource department of Indonesia Church Communion. Since this document was published as a document of together in Indonesia in 1984 in Ambon, for churches have good awareness to get a theology for together in understanding. Nowadays, Indonesia has many problems about how to manage many persons with many different religions. For goal by doing a constructive analysis in Lutherans perspective for this document is very important to prepare this document to be relevant in many situations especially in multicultural, ethnic and religious context in Indonesia.AbstrakPemahaman Bersama Iman Kristen (PBIK) adalah dokumen kedua dari empat bagian Dokumen Keesaan Gereja (DKG), yang diterbitkan oleh Litbang Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Dokumen ini terdiri dari 7 bab. Bab I, memuat tentang Allah, dan bab terakhir yakni bab 7, memuat tentang Alkitab. Sejak ditetapkan sebagai Pengakuan Iman Bersama di Indonesia tahun 1984 di Ambon, bagi gereja-gereja makin tumbuh kesadaran akan pentingnya satu teologi yang dapat dipahami bersama sehingga aksi oikumenis dapat dilakukan dalam kehidupan beragama di Indonesia. Telaah kritis konstruktif dari perspektif Lutheran atas dokumen ini dilakukan terutama untuk mempersiapkan agar dokumen ini tetap relevan menghadapi berbagai persoalan sosial dan kecenderungan di tengah-tengah masyarakat yang multikultural dalam konteks Indonesia.
Kairos Sebagai Golden Moment Orang Percaya
Daniel Sutoyo
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 1 (2018): Gereja dalam Perubahan Zaman
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (642.199 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v2i1.4
Kairos is a word used which been distinguished from others Greek’s words that explaining about time. In human life, time is a most important thing, because every occurrence is related to the time. Every people yearn the happiest times like achievement and successful, such a golden moment in life. Kairos could be understood as a golden moment for every people. This article aimed to explain the meaning of kairos according to its usage in the New Testament’s context and the implication to the believers today. This is a research that used a word analysis method, namely the word of kairos. The conclusion is, that kairos is a form of a word using for the time which could be understood as a moment that every people could achieve what they were expected.AbstrakKairos merupakan salah satu bentuk waktu yang dijelaskan dari bahasa Yunani untuk membedakan dari bentuk waktu secara umum. Waktu dalam kehidupan manusia merupakan hal yang sangat penting, karena setiap hal terjadi berkaitan dengan waktu. Setiap orang merindukan adanya saat-saat yang menyenangkan, seperti pencapaian dan keberhasilan, semacam masa keemasan dalam hidupnya. Kairos dapat dipahami sebagai bentuk masa keemasan bagi setiap orang. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan makna kairos secara konteks Perjanjian Baru dan implikasinya bagi orang percaya di masa kini. Ini adalah sebuah penelitian yang menggunakan metode analisis kata, yaitu tentang waktu. Kesimpulannya, kairos adalah sebuah bentuk waktu yang dapat diartikan seperti kesempatan agar setiap orang dapat mencapai sesuatu yang diidamkan.
Peranan Koperasi dalam Membangun Kemandirian Ekonomi Warga Gereja: Studi Kiprah Koperasi Serba Usaha (KSU) Lidia di Gereja Kristen Jawa Manahan, Surakarta
Rifai Rifai
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 1 (2019): Gereja dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (745.481 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v3i1.43
This study aims to describe the work of Koperasi Serba Usaha (KSU) Lidia Manahan Surakarta Christian Church in its role in building the economic independence of the church’s people. The method used in problem-solving is interview, observation, and document. From the results of the study, it was found that the Multipurpose Cooperative had a vital role in building the economic independence of citizens with the support of human resources and residents of the Manahan Javanese Christian Church in Surakarta.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kiprah Koperasi Serba Usaha (KSU) Lidia Gereja Kristen Jawa Manahan Surakarta dalam peranannya membangun kemandirian ekonomi warga. Metode yang digunakan dalam pemecahan masalah adalah wawancara, observasi dan dokumen. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa KSU memiliki peranan yang vital dalam membangun kemandirian ekonomi warga dengan dukungan sumber daya manusia dan warga Gereja Kristen Jawa Manahan Surakarta.
Eksegesis Kisah Para Rasul 2:42-47 untuk Merumuskan Ciri Kehidupan Rohani Jemaat Mula-mula di Yerusalem
Sonny Eli Zaluchu
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): Gereja dalam Perubahan Zaman
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (621.088 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v2i2.37
The life of the first Christian community in Jerusalem was a pattern of true church life. This pattern should be seen in the modern church. The pattern is found through the method of exegesis in Acts 2: 42-47. As a result, there are four characteristics of the spiritual life of the early church community: strong in the Word of God, living consistently in fellowship, having a lifestyle of prayer and caring for others.AbstrakKehidupan jemaat mula-mula di Yerusalem adalah sebuah pola (pattern) dari kehidupan gereja yang sejati. Pola seperti ini seharusnya terlihat di dalam gereja modern. Penggalian terhadap pola itu ditemukan melalui metoda eksegesa di dalam Kisah Para Rasul 2:42-47. Sebagai hasilnya terdapat empat ciri kehidupan rohani jemaat mula-mula, yakni: berakar kuat di dalam Firman, hidup di dalam persekutuan, memiliki gaya hidup doa dan peduli terhadap sesama.
Pengaruh Pemahaman Panggilan Guru Kristen terhadap Pemberitaan Injil
Justin Niaga Siman Juntak
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 3, No 1 (2019): Gereja dan Pendidikan Kristiani
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (720.273 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v3i1.44
Gospel preaching is a very important task, including Christian teachers who teach in schools. The entry of non-Christian teachers in YPK Pelita Pengharapan schools, moreover the subject of Islamic Education in two YPK Pelita Pengharapan Christian schools and being a teacher as a stepping stone to becoming civil servants indicates a weak preaching process in YPK Pelita Christian School Hope. The study was conducted to obtain empirical evidence about the influence of the understanding of Christian teacher's call to preaching the Gospel The Javanese Christian Church teachers in the Pelita Pengharapan Christian Education Foundation Research School were conducted in nine schools of the Pelita Pengharapan Christian Education Foundation spread in three sub-districts namely Patimuan, Sidareja, and Gandrungmangu. The data analysis method used is a simple regression analysis of 51 respondents. The results showed that the understanding of the Christian teacher's call had a positive and significant effect on the preaching of the Gospel of the Javanese Christian Church Teachers in the schools of the Pelita Pengharapan Christian Education Foundation, Cilacap Regency.AbstrakPemberitaan Injil merupakan tugas yang sangat penting, termasuk bagi para guru Agama Kristen yang mengajar di sekolah. Masuknya guru-guru non Kristen di sekolah-sekolah YPK Pelita Pengharapan, terlebih lagi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di dua sekolah Kristen YPK Pelita Pengharapan dan menjadi guru sebagai batu loncatan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil mengindikasikan proses pemberitaan Injil yang lemah di sekolah Kristen YPK Pelita Pengharapan. Penelitian dilakukan untuk memperoleh bukti empiris tentang pengaruh pemahaman tentang panggilan guru Kristen terhadap Pemberitaan Injil Guru-guru Gereja Kristen Jawa di sekolah-sekolah Yayasan Pendidikan Kristen Pelita Pengharapan Penelitian ini dilakukan di sembilan sekolah Yayasan Pendidikan Kristen Pelita Pengharapan yang tersebar di tiga kecamatan yaitu Patimuan, Sidareja dan Gandrungmangu. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi sederhana terhadap 51 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman panggilan guru Kristen berpengaruh positif dan signifikan terhadap pemberitaan Injil Guru-guru Gereja Kristen Jawa di sekolah-sekolah Yayasan Pendidikan Kristen Pelita Pengharapan Kabupaten Cilacap.
A Theological Implication of ‘Humility’ in Mark 10: 13-16 from the Perspective of the Parable of the Kingdom of God
Halim Wiryadinata
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2018): Gereja dalam Perubahan Zaman
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (870.979 KB)
|
DOI: 10.33991/epigraphe.v2i2.39
The parable of the Kingdom of God brings the seriousness of studying about the meaning of what the Lord Jesus Christ wants to say. There are many arguments to say about the meaning of the Kingdom of God, while a new approach of the twentieth century appears. The study of historical Jesus by N. T Wright gives the idea of Jesus, Israel, and the Cross. If the parable of the Kingdom of God is retelling the story of Israel, then the new concept of the Kingdom of God should be different from the old Israel. The concept of humility should be seen as the way out of the Kingdom of God. Mark 10: 13 – 16 where the Lord Jesus Christ uses the concept of the little children, it apparently shows the helplessness and humility concepts as the way out for the Kingdom of God. However, the concept of humility should be seen as the proclamation of the Kingdom of God in the perspective of a mission to the people. Finally, the concept of humility also should not beyond the limitation of the Gospel. It should be in the line of the meaning of the Gospel itself. We are encouraged not to repeat what history happens, but rather to learn from the history of Liberation Theology.