cover
Contact Name
ALBACORE
Contact Email
albacore@apps.ipb.ac.id
Phone
+62251-8622935
Journal Mail Official
albacore@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Jl. Agatis Kampus IPB, Dramaga – Bogor 16680 Telp. (0251)8622935
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Albacore : Jurnal Penelitian Perikanan Laut
ISSN : 25491326     EISSN : 2655559X     DOI : 10.29244
Albacore (Jurnal Penelitian Perikanan Laut) merupakan salah satu jurnal ilmiah di Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK IPB. Jurnal ini melanjutkan Bulletin PSP yang telah hadir lebih dahulu sejak tahun 1992 hingga tahun 2013.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2021): Albacore" : 10 Documents clear
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN LOBSTER (Panulirus spp) YANG DIDARATKAN DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN KARANGDUWUR KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAH Widianti, Elvanri Anggi; Nurani, Tri Wiji; Sondita, Muhammad Fedi Alfiadi; Purwangka, Fis; Wahyuningrum, Prihatin Ika
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.2.121-132

Abstract

Perairan Pantai Kebumen memiliki kekayaan sumberdaya perikanan yang tinggi pada jenis ikan-ikan pelagis dan jenis krustasea, terutama lobster. Terdapat enam jenis lobster yang berada di Perairan Pantai Ayah Kabupaten Kebumen yaitu lobster pasir (P. homarus), lobster batu (P. penicillatus), lobster batik (P. longipes), lobster mutiara (P. ornatus), lobster bambu (P. versicolor) dan lobster pakistan (P. polyphagus). Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan unit penangkapan lobster dan mengidentifikasi komposisi hasil tangkapan lobster di Perairan Pantai Ayah Kabupaten Kebumen. Pengambilan data dilakukan di PPI Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen pada bulan November 2020-Januari 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat penangkapan lobster yang digunakan oleh nelayan yaitu jaring insang dan bubu. Nelayan setempat masih menggunakan kapal berukuran <5 GT untuk melakukan operasi penangkapan lobster secara one day fishing. Hasil tangkapan terbanyak yaitu jenis lobster pasir (P. homarus) sebesar 5657 ekor dan paling sedikit diperoleh lobster jenis pakistan (P. polyphagus) sebanyak 7 ekor. Berdasarkan distribusi jenis lobster di Perairan Pantai Ayah Kabupaten Kebumen dapat disimpulkan bahwa 75% lobster sudah layak tangkap. Penetapan ukuran layak tangkap tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 tahun 2021. Kata kunci: komposisi hasil tangkapan, lobster, Panulirus spp, perairan Kebumen
IMPLEMENTASI KELAIKLAUTAN KAPAL PADA ARMADA YANG BERBASIS DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDRA (PPS) KUTARAJA Muna, Zakyatul; Purwangka, Fis; Mawardi, Wazir
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.2.133-146

Abstract

Kelaiklautan kapal merupakan salah satu syarat yang wajib dipenuhi oleh kapal pada setiap aktivitas pelayaran, begitupun juga keselamatan dan keamanan kapal ditandai dengan kondisi terpenuhinya persyaratan kelaiklautan kapal. BASARNAS Aceh (2019) membuktikan kasus kecelakaan kapal di Provinsi Aceh mengalami peningkatan, pada tahun 2018 sebanyak 22 kasus meningkat menjadi 36 kasus pada tahun 2019. Kecelakaan ini dipicu karena adanya indikasi pengabaian aspek keselamatan dalam berlayar. Tujuan penelitian yaitu menentukan tingkat implementasi kelaiklautan kapal pada armada kapal penangkap ikan yang berbasis di PPS Kutaraja. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2021 di PPS Kutaraja, Kota Banda Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara (kuesioner) dan pengamatan langsung di lapangan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan ada 3 yaitu purposive sampling, proportionate stratified random sampling dan accidental sampling. Berdasarkan pengolahan data, didapatkan hasil penelitian berikut: penerapan aspek kelaiklautan kapal yang berbasis di PPS Kutaraja berdasarkan aspek keselamatan, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan kapal, kesejahteraan awak kapal dan kesehatan penumpang, status hukum kapal, manajemen dan kesehatan penumpang serta kelengkapan surat dan dokumen masing-masing memiliki persentase skoring sebesar 43,32% (sangat baik), 98,31% (sangat buruk), 65,15 % (baik), 79,38% (ada), 82,39 % (ada), 57,27% (sangat baik), dan 59,09 % (ada). Kata kunci: kapal perikanan, kelaiklautan kapal, keselamatan pelayaran, laik laut
PRIORITAS RISIKO PENANGANAN DAN TRANSPORTASI IKAN TUNA DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) PONDOKDADAP Sakina, Nymas Sidratus; Purwangka, Fis; Mustaruddin
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.2.147-160

Abstract

Ikan tuna (Thunnus sp) merupakan sumberdaya perikanan dan kelautan di Indonesia yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dalam jumlah besar. Salah satu sentra produksi tuna berada di Provinsi Jawa Timur tepatnya di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Pondokdadap, Kabupaten Malang. Kualitas ikan tuna di PPP Pondokdadap sebagian besar memiliki kualitas sedang (grade B) dan tidak sedikit pula yang memiliki kualitas C dan D. Hal ini terjadi karena fasilitas penanganan yang kurang memadai dan kurangnya pengetahuan para pelaku usaha bahwa dalam setiap kegiatan penanganan dan transportasi yang kurang baik terdapat risiko yang mengakibatkan terjadinya penurunan mutu sehingga nilai jualnya kurang maksimal. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi dan memetakan risiko prioritas dalam aktivitas penanganan dan transportasi ikan tuna di PPP Pondokdadap dengan pendekatan FMEA. Sehingga didapatkan risiko kritis dan harus segera dilakukan pengembangan mitigasi pada perikanan tuna di PPP Pondokdadap. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2020. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan observasi langsung. Hasil yang diperoleh bahwa penurunan mutu terbesar berada pada spesies tuna albakor dengan berat ≥20kg. Terdapat 4 mode kegagalan (failure mode) yang menjadi risiko prioritas dalam penurunan mutu selama penanganan dan transportasi ikan tuna albakor ≥20kg di PPP Pondokdadap. Mode kegagalan tersebut yaitu pencucian ikan dengan air kotor, ikan dilempar saat penyortiran, ikan diletakkan di lantai tanpa alas dan penggunaan moda transportasi dengan mobil bak terbuka. Kata kunci: Albakor, FMEA, penanganan, pondokdadap, risiko, transportasi
TINGKAT KEPENTINGAN FASILITAS PELABUHAN DAN PERSEPSI NELAYAN TERHADAP KEPUTUSAN UNTUK MENDARATKAN IKAN DI PELABUHAN PERIKANAN DAGHO KEPULAUAN SANGIHE Prasetyo, Ari; Wiyono, Eko Sri; Santoso, Agus
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.2.161-172

Abstract

Pelabuhan perikanan Dagho adalah satu-satunya pelabuhan perikanan di wilayah pesisir Kepulauan Sangihe dan termasuk sebagai Outer Ring Fishing Port, keberhasilan operasional dalam menjalankan fungsi-fungsi pelabuhan perikanan tidak terlepas dari tersedianya fasilitas pelabuhan, yaitu fasilitas pokok, fasilitas fungsional dan fasilitas penunjang. Tujuan dari penelitian ini yaitu memetakan tingkat kepentingan fasilitas pelabuhan perikanan, memetakan persepsi nelayan terhadap faktor yang mempengaruhi untuk melakukan pendaratan ikan di pelabuhan perikanan, dan menyusun strategi pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan skala Likert, jumlah sampel sebanyak 80 (delapan puluh) nelayan, pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Metode analisis data, deskriptif komparatif dan analisis SWOT. Hasil penelitian diperoleh bahwa ada pengaruh antara tingkat kepentingan fasilitas pelabuhan perikanan terhadap nelayan untuk melakukan pendaratan ikan di pelabuhan perikanan, hasil pernyataan nelayan terhadap fasilitas pokok menunjukkan prosentase pada tingkat penting sebesar 93% nilai pengukuran skor (3,25), fasilitas fungsional menunjukkan prosentase pada tingkat penting sebesar 98% nilai pengukuran skor (3,41), dan fasilitas penunjang menunjukkan prosentase pada tingkat penting sebesar 94% nilai pengukuran skor (3,33). Uji beda rata-rata diperoleh hasil bahwa fasilitas fungsional adalah faktor yang paling mempengaruhi nelayan untuk mendaratkan ikan di pelabuhan perikanan dengan nilai rerata 44.413, kemudian fasilitas pokok nilai rerata 26.000, dan terakhir fasilitas penunjang nilai rerata 23.300. Hasil analisis SWOT dinyatakan dalam strategi pembangunan pelabuhan perikanan, faktor yang menjadi kekuatan sebanyak 3 (tiga) faktor, kelemahan sebanyak 5 (lima) faktor, peluang sebanyak 3 (tiga) faktor, dan ancaman sebanyak 2 (dua) faktor. Kata kunci: tingkat kepentingan, fasilitas pelabuhan, persepsi nelayan
ANALISIS PENGELOLAAN PELABUHAN PERIKANAN LABUHAN LOMBOK TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PESISIR Hanan, Abdul; Baskoro, Mulyono S.; Nurhasanah
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.2.173-186

Abstract

Peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat pesisir sangat tergantung pada fasilitas, aktivitas pengusahaan pelabuhan perikanan dan SDM pengelola pelabuhan perikanan. Apabila ketiga hal tersebut kurang memadai akan berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir. Permasalahan yang terjadi di Pelabuhan Perikanan Labuhan Lombok, yakni. Kurangnya fasilitas Pokok, fasilitas Penunjang dan Fasilitas fungsional sehingga berakibat terjadinya peningkatan keluarga miskin di daerah pesisir. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi jenis fasilitas yang kurang memadai, menganalisis aktivitas pengusahaan pelabuhan perikanan, menganalisis SDM pengelola pelabuhan, menganalisis tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir, dan menganalisis sistem pengelolaan pelabuhan perikanan yang mendukung tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir. Metode penelitian deskriptif kuantitatif, kemudian data dianalisis menggunakan regresi logistik dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kerusakan fasilitas pelabuhan perikanan Labuhan Lombok mencapai 60 % dan aktivitas pelabuhan berjalan dan tidak berkembang. Kuantitas dan kualitas SDM pelabuhan perikanan Labuhan Lombok tenaga teknis Sarjana Perikanan 5 orang, tenaga administrasi 28 orang dan pegawai dengan kompetensi masih belum maksimal. Kesejahteraan masyarakat pesisir berdasarkan NTN terdapat jauh dari kata sejahtera disebabkan oleh minimnya pendapatan nelayan, besarnya biaya operasional melaut dan kebutuhan rumah tangga semakin meningkat. Strategi pengelolaan Pelabuhan Perikanan Labuhan Lombok yang mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir dapat dilakukan melalui empat prioritas, yaitu meningkatkan operasionalisasi pelabuhan dalam rangka mendukung peluang usaha dan investasi, meningkatkan dan memperbaiki sarana dan prasarana yang dapat mendukung pengelolaan pelabuhan perikanan, memperpendek proses birokrasi dalam pengurusan perizinan usaha perikanan dan kerja sama, dan penambahan SDM yang mengelola pelabuhan perikanan dan meningkatkan kualitasnya melalui pendidikan dan pelatihan. Kata kunci: kesejahteraan masyarakat pesisir, nilai tukar nelayan, strategi pengelolaan pelabuhan
PENDAPATAN NELAYAN PADA USAHA PERIKANAN TANGKAP DAN WISATA BAHARI DI PANTAI GLAGAH KULON PROGO, YOGYAKARTA Muninggar, Retno; Fauziah, Faza Itsna; Mustaruddin
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.2.187-197

Abstract

Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil DIY Tahun 2011-2030 mengatur kegiatan perikanan tangkap nelayan yang direlokasikan ke PPI Karangwuni sedangkan Pantai Glagah difokuskan pada kegiatan pariwisata. Namun hingga saat ini nelayan tetap bertahan melakukan penangkapan ikan di Pantai Glagah meski dengan fasilitas pendaratan ikan yang terbatas, pada saat yang sama mereka juga melakukan usaha wisata bahari sebagai sambilan. Tujuan penelitian adalah: 1) mengidentifikasi karakteristik dan kondisi ekonomi nelayan pada sektor perikanan tangkap dan wisata bahari Pantai Glagah; (2) menghitung besarnya kontribusi pendapatan perikanan tangkap dan wisata bahari yang dilakukan nelayan di Pantai Glagah. Penelitian ini menggunakan metode case study dengan metode pengumpulan data dilakukan dengan accidental sampling dan purposive sampling. Analisis dilakukan dengan pendekatan analisis curahan waktu kerja nelayan, analisis rasio biaya manfaat, analisis keuntungan usaha serta prosentase kontribusi perikanan tangkap dan wisata terhadap pendapatan nelayan. Curahan waktu kerja untuk perikanan tangkap adalah 46,11 % sedangkan wisata bahari 11 %. Hasil B/C Ratio perikanan tangkap sebesar 1,66 dan wisata bahari sebesar 1,83, keduanya termasuk usaha yang menguntungkan. Analisis keuntungan usaha menunjukkan bahwa usaha perikanan tangkap memberikan keuntungan lebih besar daripada usaha wisata bahari. Nilai kontribusi relatif perikanan tangkap lebih tinggi dibanding wisata bahari yaitu sebesar 98,02 % dan 1,98 % terhadap pendapatan nelayan setiap tahunnya. Kata kunci: kontribusi pendapatan, nelayan, perikanan tangkap, wisata bahari
KERAGAAN TEKNIS DAN KERENTANAN PERIKANAN PANCING LAYUR DI PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI Zulkarnain; Mawardi, Wazir; Damayanti, Fazrin Putri; Wahju, Ronny Irawan
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.2.199-210

Abstract

Perikanan pancing layur tergolong dalam perikanan skala kecil, di mana perikanan skala kecil khususnya nelayan masih identik dengan kemiskinan. Kemiskinan pada nelayan diakibatkan karena rendahnya teknologi, pendidikan, modal, serta permasalahan terhadap musim ikan yang selalu berubah dan akan berdampak terhadap pendapatan nelayan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan keragaan teknis dan memetakan faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan perikanan pancing layur di PPN Palabuhanratu. Pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Pengolahan data menggunakan tabulasi nilai, analisis deskriptif dan analisis leverage. Hasil penelitian menunjukkan ukuran perahu pancing layur di PPN Palabuhanratu berukuran < 5 GT-5 GT, 8 GT. Mata pancing menggunakan ukuran no. 8, 9, dan 10 disesuaikan dengan ukuran target tangkapan. Nelayan pancing layur berasal dari nelayan lokal dan nelayan andon yang melakukan kegiatan harian. Daerah penangkapan ikan pancing layur tersebar di teluk Palabuhanratu. Nelayan pancing layur berada pada status yang cukup resilien dengan nilai rata-rata pemilik perahu sebesar 2,66 dan ABK sebesar 2,53. Urutan bidang dari yang paling resilien hingga yang paling rentan berturut-turut ialah bidang sosial, bidang kelembagaan, bidang keuangan, bidang sumber daya manusia, bidang fisik dan bidang alam. Kata kunci: kerentanan, nelayan, perikanan pancing layur
KERAGAAN ALAT TANGKAP BAGAN PERAHU DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA KARANGANTU, BANTEN Warsini, Sati; Iskandar, Mokhamad Dahri
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.2.211-220

Abstract

Alat tangkap bagan perahu merupakan salah satu alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu, Banten. Namun keragaan alat tangkap tersebut masih belum diketahui baik secara teknis maupun ekonomis. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan menentukan efisiensi teknis dan ekonomi alat tangkap bagan perahu di PPN Karangantu. Penentuan efisiensi dianalisis menggunakan analisis fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukkan secara teknis, penggunaan jumlah trip, jumlah setting, jumlah BBM dan jumlah lampu sudah efisien karena berada pada tahap rasional (0 < Ep <1), sedangkan jumlah ABK, daya mesin dan ukuran kapal sudah tidak efisien dan perlu dikurangi karena memiliki nilai Ep < 0. Secara ekonomi penggunaan faktor jumlah trip, jumlah setting, jumlah BBM dan jumlah lampu belum efisien dan masih bisa ditambah karena memiliki nilai NPM/BKM > 1, sedangkan jumlah ABK, daya mesin dan ukuran kapal tidak efisien atau sudah berlebih dan perlu dikurangi karena memiliki nilai NPM/BKM < 1. Kata kunci: alat tangkap, bagan perahu, Cobb-Douglas, efisiensi teknis, efisiensi ekonomi, karangantu
PRODUKTIVITAS ALAT TANGKAP DAN PENDAPATAN NELAYAN PADA PERIKANAN SIDAT DI MUARA SUNGAI CIMANDIRI PALABUHANRATU Akbar, Rafdi Zhafir; Wahju, Ronny Irawan; Riyanto, Mochammad
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.2.221-233

Abstract

Saat ini kegiatan budidaya sidat masih mengandalkan benih sidat (glass eel) dari alam dan muara Sungai Cimandiri menjadi salah satu lokasi penangkapan glass eel. Tujuan penelitian ini adalah menghitung produktivitas alat tangkap glass eel, mengidentifikasi hasil tangkapan dan menghitung pendapatan pengumpul glass eel di muara Sungai Cimandiri. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan observasi langsung di lapangan menggunakan simple random sampling dan accidental sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis hasil tangkapan utama, analisis hasil tangkapan sampingan, dan analisis keuntungan. Hasil penelitian menunjukkan nilai CPUE muara Sungai Cimandiri tertinggi terjadi pada bulan Juli yaitu sebesar 37,1 gr/jam, terendah terjadi pada bulan September sebesar 1,6 gr/jam, sedangkan bulan Februari, Maret, Oktober, dan Desember tidak ada aktivitas penangkapan. Hasil tangkapan sampingan sebesar 20% dari hasil tangkapan total sebanyak 2995,6 gr yang terdiri dari, gere-gere (Microphis sp) 3%, udang merah (Metapenaeopsis sp) dan udang beras (Penaeus sp) 1%, boboso (Bunaka gyrinoides) 6%, kanayapan (Butis sp) 3%, kepiting batu (Clistocoeloma sp) 1%, tempang podol (Ambassis sp) 5%, dan belanak (Moolgarda seheli) 1%. Penerimaan usaha pengumpul sidat tahun 2019 sebesar Rp178.536.000 per tahun dan biaya usaha sebesar Rp157.524.400 per tahun, sehingga keuntungan yang didapat sebesar Rp21.011.600 per tahun. Kata kunci: benih sidat, produktivitas, sidat, Sungai Cimandiri
PENGGUNAAN UMPAN CACING TANAH (Lumbricus rubellus) YANG DIPASANG SECARA VERTIKAL PADA BAGAN APUNG DI PERAIRAN PALABUHANRATU Zulkarnain; Hutagalung, Bronx Andar; Baskoro, Mulyono S.; Purwangka, Fis; Budiman, M. Syarif
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 2 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.2.235-243

Abstract

Umpan vertikal cacing tanah (Lumbricus rubellus) digunakan pada alat tangkap bagan apung untuk memperkuat fungsi cahaya lampu pada bagan apung untuk menarik dan mengumpulkan kawanan ikan dan terkonsentrasi di bawah sumber cahaya lampu. Penggunaan umpan vertikal sebelumnya dilakukan dengan atraktor ikan tembang (Sardinella gibbosa). Ikan tembang tidak selalu tersedia selama musim penangkapan sehingga digunakan atraktor berupa cacing tanah (Lumbricus rubellus) yang berasal dari darat dan tersedia sepanjang tahun. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh umpan vertikal dan menentukan frekuensi hauling dari bagan apung penelitian dengan penggunaan umpan cacing tanah (Lumbricus rubellus) yang dipasang secara vertikal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah experimental fishing dengan pengulangan sebanyak 20 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan atraktor cacing tanah sebagai umpan yang dipasang secara vertikal berpengaruh terhadap hasil tangkapan dengan nilai signifikansi uji Mann-Whitney sebesar 0,014. Bagan apung perlakuan memperoleh 944,2 kg dan pada bagan apung kontrol seberat 435.2 kg. Penggunaan umpan vertikal juga berpengaruh nyata terhadap frekuensi hauling bagan apung dengan nilai signifikansi uji Mann-Whitney sebesar 0,002. Bagan apung perlakuan melakukan 118 kali hauling dan bagan apung kontrol 101 kali hauling. Kata kunci: bagan apung, cacing tanah, umpan vertikal

Page 1 of 1 | Total Record : 10