cover
Contact Name
Pradi Khusufi Syamsu
Contact Email
pradi1403@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
pradi1403@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
EL-IBTIKAR: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab
ISSN : 2303260X     EISSN : 25798456     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
The EL-IBTIKAR Journal focuses on the theme and topic of Arabic teaching, Arabic linguistics and literature, including: 1) Methodology of Arabic teaching for non-native speakers. 2) Arabic Morphology and Syntax. 3) Teaching for Arabic Competences. 4) Strategy for teaching and learning Arabic for non-native speakers. 5) Models of Arabic teaching for non-native speakers. 6) Arabic linguistics. 7) Arabic literatures. 8) The technology of Arabic teaching. 9) Design of Arabic teaching for non-native speakers. 10) Evaluation in Arabic teaching for non-native speakers.
Arjuna Subject : -
Articles 172 Documents
Semantic Reception of Khilafiyyah Hadith and the Production of Horizontal Religious Conflict in Indonesia Azzuhri, Muhandis; Isbah, Faliqul; Basith, Abdul; Rosyid, M. Fairuz; Faila Sufa, Ana
EL-IBTIKAR: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ibtikar.v14i2.23653

Abstract

This study examines how differing semantic receptions of ḥadīth khilāfiyyah among Islamic mass organizations (ormas Islam) in Indonesia contribute to horizontal conflict and prolonged religious controversy, thereby challenging the spirit of religious moderation. The research aims to analyze how identical ḥadīth texts generate divergent meanings and truth claims that shape social exclusion and intergroup tensions. Employing a qualitative approach, this study investigates selected ḥadīth khilāfiyyah from kutub al-tis‘ah as the material object and the contested receptions of Islamic organizational figures as the formal object. Data were collected through textual documentation of ḥadīth and their commentaries, online observation of national news reporting religious conflicts, and semi-structured interviews with relevant actors. Data analysis followed the Miles and Huberman model, encompassing data reduction, display, and verification, and was further interpreted through the reception theory framework of Hans Robert Jauss and Wolfgang Iser. The findings reveal that key semantic gaps within specific ḥadīth phrases—such as bid‘ah, al-jamā‘ah, and khālifū—enable exclusive interpretations that are institutionalized as truth claims by dominant groups. These receptions function performatively, legitimizing practices of stigmatization, rejection of mosques, dissolution of religious gatherings, and marginalization of minority groups. The study concludes that horizontal religious conflict is rooted not in the ḥadīth texts themselves but in closed semantic receptions, underscoring the necessity of hermeneutical awareness and semantic literacy to strengthen religious moderation.Key words: ḥadīth khilāfiyyah; semantic reception; Islamic mass organizations; horizontal conflict. Penelitian ini mengkaji bagaimana perbedaan resepsi semantik terhadap hadis-hadis khilafiyah di kalangan organisasi massa Islam (ormas Islam) di Indonesia berkontribusi pada terjadinya konflik horizontal dan kontroversi keagamaan yang berkepanjangan, sehingga menantang semangat moderasi beragama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teks hadis yang sama dapat menghasilkan makna dan klaim kebenaran yang berbeda-beda, yang kemudian membentuk praktik eksklusi sosial dan ketegangan antarkelompok. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengkaji sejumlah hadis khilafiyah yang bersumber dari kutub al-tis‘ah sebagai objek material, serta resepsi yang diperdebatkan di kalangan tokoh ormas Islam sebagai objek formal. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi teks hadis dan kitab syarahnya, observasi daring terhadap pemberitaan nasional terkait konflik keagamaan, serta wawancara semi-terstruktur dengan aktor-aktor terkait. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta ditafsirkan lebih lanjut menggunakan kerangka teori resepsi Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa celah-celah semantik pada frasa hadis tertentu—seperti bid‘ah, al-jamā‘ah, dan khālifū—memungkinkan lahirnya tafsir eksklusif yang dilembagakan sebagai klaim kebenaran oleh kelompok dominan. Resepsi tersebut berfungsi secara performatif dalam melegitimasi praktik stigmatisasi, penolakan masjid, pembubaran kegiatan keagamaan, serta peminggiran kelompok minoritas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konflik keagamaan horizontal tidak bersumber dari teks hadis itu sendiri, melainkan dari resepsi semantik yang tertutup, sehingga diperlukan kesadaran hermeneutik dan literasi semantik untuk memperkuat moderasi beragama.Kata kunci: hadis khilafiyah; resepsi semantik; organisasi massa Islam; konflik horizontal.Penelitian ini mengkaji bagaimana perbedaan resepsi semantik terhadap hadis-hadis khilafiyah di kalangan organisasi massa Islam (ormas Islam) di Indonesia berkontribusi pada terjadinya konflik horizontal dan kontroversi keagamaan yang berkepanjangan, sehingga menantang semangat moderasi beragama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teks hadis yang sama dapat menghasilkan makna dan klaim kebenaran yang berbeda-beda, yang kemudian membentuk praktik eksklusi sosial dan ketegangan antarkelompok. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengkaji sejumlah hadis khilafiyah yang bersumber dari kutub al-tis‘ah sebagai objek material, serta resepsi yang diperdebatkan di kalangan tokoh ormas Islam sebagai objek formal. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi teks hadis dan kitab syarahnya, observasi daring terhadap pemberitaan nasional terkait konflik keagamaan, serta wawancara semi-terstruktur dengan aktor-aktor terkait. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta ditafsirkan lebih lanjut menggunakan kerangka teori resepsi Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa celah-celah semantik pada frasa hadis tertentu—seperti bid‘ah, al-jamā‘ah, dan khālifū—memungkinkan lahirnya tafsir eksklusif yang dilembagakan sebagai klaim kebenaran oleh kelompok dominan. Resepsi tersebut berfungsi secara performatif dalam melegitimasi praktik stigmatisasi, penolakan masjid, pembubaran kegiatan keagamaan, serta peminggiran kelompok minoritas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konflik keagamaan horizontal tidak bersumber dari teks hadis itu sendiri, melainkan dari resepsi semantik yang tertutup, sehingga diperlukan kesadaran hermeneutik dan literasi semantik untuk memperkuat moderasi beragama.Kata kunci: hadis khilafiyah; resepsi semantik; organisasi massa Islam; konflik horizontal.
Reimagining Arabic Imlā’ Instruction in the Digital Era:A Systematic Review of Mobile Learning Innovations Kusnawati, Yanti; Latifah, Latifah; Miswandono, Ade; LUTFI, AHMAD
EL-IBTIKAR: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ibtikar.v14i2.22583

Abstract

This study conducts a systematic literature review (SLR) guided by the PRISMA framework to investigate the effectiveness of mobile learning applications in improving Imlā’ (Arabic orthographic accuracy) within Arabic Language Education. Twenty-five peer-reviewed studies were analyzed to evaluate how mobile-based platforms—such as Al-Quran.info, Memrise, Quran Companion, and Learning Management Systems (LMS)—support the acquisition of essential orthographic features, including tasydīd, harakāt, hamzah usage, and syntactic coherence. The review reveals that mobile learning technologies, through automated exercises, instant feedback, handwriting simulations, and adaptive scaffolding, significantly enhance students’ writing accuracy, learning motivation, and accessibility to instructional content, particularly in distance and blended learning environments. The findings further highlight the importance of aligning mobile learning tools with curriculum standards, promoting inclusive and accessible design, and strengthening educators’ digital pedagogical competencies. By integrating linguistic pedagogy with emerging mobile technologies, this study contributes to the advancement of Mobile-Assisted Language Learning (MALL) in non-Western and multilingual educational contexts. The review also identifies the need for longitudinal and large-scale empirical studies to evaluate the sustainability, scalability, and long-term instructional impact of mobile-assisted Imlā learning.