cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Aqlam: Journal of Islam and Plurality
ISSN : 25280333     EISSN : 25280341     DOI : -
Core Subject : Social,
AQLAM: Journal of Islam and Plurality (P-ISSN 2528-0333; E-ISSN: 2528-0341) is a journal published by the Ushuluddin, Adab and Dakwah Faculty, State Islamic Institute of Manado, Indonesia. AQLAM published twice a year and focused on the Islamic studies especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Islamic History and Culture, Theology, Mysticism, and Local Wisdom in Indonesia. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by AQLAM will review by two peer review through a double-blind review process | Address: Jl. Dr. S.H. Sarundajang Kompleks Ring Road I, Kota Manado, Sulawesi Utara, 95128 | E-Mail; aqlam@iain-manado.ac.id | Phone: +62431860616 | AQLAM has become a CrossRef Member since the year 2018. Therefore, all articles published by AQLAM will have unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2022)" : 6 Documents clear
GERAKAN TASAWUF NUSANTARA (STUDI PERBANDINGAN KARAKTERISTIK GAGASAN SYEKH ABDUS SHAMAD AL-PALIMBANI DAN SYEKH NAWAWI AL-BANTANI PADA ABAD 18-19) Kariri Kariri; Diki Ahmad
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.1846

Abstract

Abstract: The movement of relations of the archipelago's scholars in the 18-19 centuries, especially in Sumatra and Java regions, has found its romance in the path of Sufism through a meeting of scholars who studied in Mecca. Among the Sufism figures who have traveled to the Middle East are Sheikh Abdus Shamad Palimbani and Sheikh Nawawi Banten. These two figures prove that the dynamics of Sufism became a discourse that was in great demand by Nusantara scholars in the 18-19 centuries and even today. The characteristics of the ideas of their Sufism have differences even though both of them study at Haromain. Sheikh Abdus Shamad understands Sufism as a middle way between Al Gazali and Ibn Arabi's Sufism ideas that have been processed and presented in a systematic form as a separate Sufism teaching. Abdus Shamad is clearly concerned with the characteristics of his ideas which tend to be dominated by mysticism, so he studied Sufism with Al-Sammani. While the characteristics of the ideas possessed by Sheikh Nawawi are more emphasis on the balance among sharia, tarekat, and essence. As with Sheikh Nawawi in analogizing the framework of Sufism, the Shari'a is like a sailing ship, the tarekat is like the ocean, while the essence is like the pearl.Keywords: Movement, Sufism, Nusantara.Abstrak: Pola gerakan ulama-ulama Nusantara pada abad 18-19 khususnya di wilayah Sumatra dan Jawa, telah menemukan romantismenya dalam jalur keilmuan tasawuf melalui pertemuan para ulama yang belajar di Mekah. Di antaranya tokoh tasawuf yang pernah mengembara ke Timur Tengah ialah Syekh Abdus Shamad al-Palimbani dan Syekh Nawawi al-Bantani. Dari kedua tokoh tersebut, membuktikan bahwa dinamika keilmuan tasawuf menjadi diskursus yang banyak diminati oleh para ulama-ulama Nusantara pada abad 18-19 bahkan hingga hari ini. Karakteristik gagasan tasawuf yang dimiliki kedua tokoh, memiliki karakteristik yang berbeda meskipun keduanya sama-sama menimbah ilmu di Haromain. Syekh Abdus Shamad memahami tasawuf sebagai jalan tengah antara gagasa tasawuf Al Gazali dan Ibn Arabi yang telah diolah dan disajikan dalam bentuk sistematis sebagai ajaran tasasawuf tersendiri. Abdus Shamad tampak terlihat jelas atas karakteristik gagasannya yang cenderung didominasi oleh mistisme sehingga ia mempelajari tasawuf terutama dengan Al-Sammani. Sedangkan karakterik gagasan yang dimiliki Syekh Nawawi, memiliki karakteristik tasawuf yang lebih menekanan pada keseimbangan antara syariat, tarekat, dan hakikat. Seperti halnya Syekh Nawawi dalam menganalogikan kerangka tasawuf, syariat ibaratkan kapal yang berlayar, tarekat ibarat lautan, sedangkan hakikat ibarat mutiaranya.Kata kunci: Gerakan, Tasawuf, Nusantara.
MAJALAH ADIL DAN FRAMING ISU KRISTENISASI DI SURAKARTA TAHUN 1969-1970 Ahmad Faidi; Adif Fahrizal Arifyadiputera
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.2155

Abstract

Abstract: This study attempts to trace the historical roots of Muslim-Christian relations in Solo. This research is a type of library research that uses a historical approach. The material objects of this research are articles, news, and opinions published in the magazine Adil 1969-1970. Issue Framing of Christianization in Solo by Adil Magazine is carried out by synchronizing 4 major themes, namely confusion in Christian theology, the Christianization movement is a movement that is contrary to the provisions of the Government in Indonesia, Christianization threatens the people of Indonesia. Militant Muslims, and lastly is the issue of Christian closeness with Communists.Keywords: Christianization, Adil Magazine, Issue FramingAbstrak: Penelitian ini berupaya melacak akar historis hubungan Islam-Kristen di Solo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Library research yang menggunakan pendekatan historis. Objek material dari penelitian ini adalah artikel, berita, dan opini yang diterbitkan majalan Adil 1969-1970. Framing isu Kristenisasi di Solo oleh Majalah Adil dilakukan dengan cara menerasikan 4 tema besar, yakni kerancuan dalam teologi Kristen, gerakan Kristenisasi merupakan gerakan yang bertentangan dengan ketetapan Pemerintah di Indonesia, Kristenisasi mengancam kaum Muslim Militan, dan terakhir adalah isu kedekatan Kristen dengan dengan Komunis.Kata Kunci: Kristenisasi, Majalah Adil, framing Isu
BUDAYA KHATAMAN AL-QUR?AN DI KALANGAN MUHAMMADIYAH M. Yaser Arafat; Siti Mupida; Dwi Abu Taukhid
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.1931

Abstract

Abstract; This article aims to describe the khataman Al-Qur?an among the Muhammadiyah community. Khataman Al-Qur?an is one of the various forms of Islamic culture at Indonesia which often held by Muslims who are attached to accomodative towards local culture, and non puritan. This study will examine the culture of khataman Al-Qur?an among the Muhammadiyah, an Islamic organization at Indonesia wich is know to be closely associated with puritanism. The data were abtained by observation, interview, and literature review. This study found that khataman Al-Qur?an among Muhammadiyah is a new culture. Khataman Al-Qur?an takes the form in the implementation of the Al-Qur?an recitation worship which only ?started? in the last two decades. Validity of this culture is still being debated in Muhammadiyah. Usually, the khataman Al-Qur?an is held in the authority of Muhammadiyah. Meanwhile, khataman Al-Qur?an among Muhammadiyah community is very quiet from the influence of local culture. However, Muhammadiyah actually made a new khataman Al-Quran culture that corresponds to the times, such as khataman in the context of birthdays.Keywords: Khataman Al-Qur?an, Muhammadiyah, New Culture.Abstrak; Artikel ini berbicara tentang budaya khataman Al-Qur?an di kalangan warga Muhammadiyah. Khataman Al-Qur?an merupakan satu di antara berbagai bentuk kebudayaan Islam di Indonesia. Hanya saja, khataman Al-Qur?an sering diadakan oleh kalangan umat Islam yang lekat dengan sikap akomodatif terhadap budaya lokal alias non-puritan. Penelitian ini akan mengkaji budaya khataman Al-Qur?an yang dilakukan oleh warga Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam di Indonesia yang dikenal lekat dengan identitas puritanisme. Data dalam penelitian ini didapatkan dengan metode observasi, wawancara, dan tinjauan kepustakaan. Penelitian ini menemukan bahwa khataman Al-Qur?an di kalangan warga Muhammadiyah masih termasuk budaya baru. Di kalangan warga Muhammadiyah, khataman Al-Qur?an mengambil bentuk dalam pelaksanaan ibadah pembacaan Al-Qur?an yang baru ?dimulai? sekitar dua dekade terakhir. Biasanya khataman Al-Qur?an digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun Muhammadiyah atau lembaga pendidikan yang berada di bawah otoritas Muhammadiyah. Sedangkan bentuk budaya khataman warga Muhammadiyah sangat sepi dari pengaruh budaya lokal.Kata kunci: Khataman Al-Qur?an, Muhammadiyah, Budaya Baru.?
FATWA JIHAD DAN RESOLUSI JIHAD: HISTORISITAS JIHAD DAN NASIONALISME DI INDONESIA Juma' Juma'
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.2187

Abstract

Abstract;The arrival of allies in post-independence Indonesia raised concerns among the founding fathers and kiai of re-colonization. One of the responses to the arrival of the allied troops came from Nahdlatul Ulama (NU), which is known for its jihad fatwas and resolusi jihad. The resolusi jihad became NU's national ijtihad in order to prevent re-colonization in Indonesia (defensive jihad). This call calls on the official government of Indonesia to carry out an armed struggle, as well as calling on all people to jihad fi sabilillah. The resolusi jihad is an anti-colonial nationalism that was born out of a burst of love for an independent Indonesia, the arrival of allies, and the Orange Hotel incident. The spirit of nationalism coupled with the precarious condition of the nation gave birth to the jihad fi sabilillah movement. The principle of love for the motherland and jihad to defend an independent country is fardhu ain, obligatory for every Muslim. This spirit of jihad and nationalism swelled among students and fighters for peace against allies, colonialists, for the sake of upholding the sovereignty of the Republic of Indonesia.Keywords: Resolusi Jihad, nationalisme of jihad, anti-colonialismAbstrak; Kedatangan sekutu di indonesia pasca kemerdekaan memunculkan kekhawatiran di kalangan pendiri bangsa dan kiai akan terjadinya penjajahan kembali. Respon atas kedatangan tentara sekutu salah satunya hadir dari Nahdlatul Ulama (NU), yang dikenal dengan fatwa jihad dan resolusi jihad. Resolusi jihad menjadi ijtihad kebangsaan NU demi menghalau terjadinya penjajahan kembali di Indonesia (jihad defensive). Seruan ini menghimbau pemerintah resmi Indonesia untuk melakukan perjuangan bersenjata, sekaligus menghimbau seluruh rakyat untuk jihad fi sabilillah. Resolusi jihad merupakan nasioanlisme anticolonial yang lahir dari letupan kecintaan terhadap Indonesia merdeka, kedatangan sekutu, dan insinden hotel oranje. Semangat nasionalisme yang dibarengi dengan kondisi bangsa yang genting melahirkan gerakan jijhad fi sabilillah. Prinsip cinta tanah air dan jihad membela negara merdeka menjadi fardhu ain, wajib bagi setiap muslim. Semangat jihad dan nasionalisme ini menggelembung di kalangan santri dan pejuang untuk berperangan melawan sekutu, pejajah, demi tegaknya kedaulatan negara republik Indonesia.Keywords: Resolusi Jihad, Jiihad Nasionalisme, anti-kolonialisme
PRAKTEK TRADISI SESAJEN MENJELANG PANEN ANTARA WARGA PETANI NAHDLATUL ULAMA DAN MUHAMMADIYAH DESA KRAI LUMAJANG Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rahtih
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.1602

Abstract

Abstract; Offerings are part of the existing tradition and are often practiced by the Indonesianpeople. One of them is the practice of ritual offerings before harvest in Krai Village, Kec. Yosowilangun Kab. Lumajang East Java. Organizationally, some are associated with NU and some are Muhammadiyah. In religious beliefs, there is an intersection between offerings and religious teachings. However, people who are affiliated with NU and Muhammadiyah have different responses to this religious belief. Therefore, it is necessary to investigate the perception and impact of practicing and leaving this offering practice. This type of research is descriptive qualitative. The way it works is to find and collect data by means of interviews, observations and documentation. This type of research is categorized as phenomenological research. This is because the object of this research is an event that occurs in the community. The research findings show that there are differences in perceptions between NU and Muhammadiyah farmers. NU farmers practice offerings before harvest and are perceived as respect, while Muhammadiyah farmers reject the tradition of offerings. However, both of them can carry out social harmony without being disturbed by differences in perceptions about offerings.?Keywords: offerings, harvest, NU and Muhammadiyah, Lumajang.?Abstrak;Sesajen merupakan bagian tradisi yang ada dan sering dipraktekkan oleh masyarakat Indonesia. Salah satunya praktek ritual sesajen menjelang panen di Desa Krai Kec. Yosowilangun Kab. Lumajang Jawa Timur. Masyarakat di Desa ini, mayoritas beragama Islam. Secara keorganisasisan, sebagian berasosiasi NU dan sebagian lainnya Muhammadiyah. Dalam keyakinan keberagamaan terdapat persinggungan antara sesajen dan ajaran agama. Namun, terhadap akidah keagamaan tersebut disikapi berbeda oleh masyarakat yang berafiliasi dengan NU dan Muhammadiyah. Oleh karena itu perlu penelusuran tentang persepsi dan dampak atas mengamalkan dan meninggalkan praktek sesajen ini. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Cara kerjanya adalah mencari dan mengumpulkan data dengan cara wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Jenis penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian fenomenologi. Sebab, objek penelitian ini merupakan kejadian yang terjadi di tengah masyarakat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara petani warga NU dan Muhammadiyah. Petani warga NU mengamalkan sesajen menjelang panen dan dipersepsikan sebagai penghormatan, sedangkah petani warga Muhammadiyah menolak tradisi sesajen. Namun, keduanya bisa menjalankan kerukunan sosial kemasyarakatan tanpa diganggu oleh perbedaan persepsi tentang sesajen.?Kata Kunci: sesajen, panen, NU dan Muhammadiyah, Lumajang.
ABDULKARIM SOROUSH: THE THEORY OF THE CONTRACTION AND EXPANSION OF RELIGIOUS KNOWLEDGE AND THE CHALLENGE OF CONTEMPORARY ISLAMIC THOUGHT Bekti Khudari Lantong
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.2240

Abstract

Abstract: This article elaborates the theory of the contraction and expansion of religious knowledge (qabd wa bast-i ti?urik-i syari?at: nazariyah-i takamul-i ma?rifat-i dini), introduced by one of the greatest Muslim thinkers in contemporary era, who is popularly known as Abdolkarim Soroush. Soroush?s religious thought and insight has its own perspectives and characteristics. His assumptions and approaches absolutely differ from, either Iranian previous thinkers and scholars in particular, or Islamic scholars in general. In assessing his thought in the light of the efforts of the religious revivalists (muhiyan-i din) of the last century, Soroush emphasizes that his idea, the theory of the contraction and expansion of religious knowledge, provides a solution to the unresolved puzzle that all previous Muslim scholars and thinkers were faced with, that is, ?to reconcile change and immutability; eternity and temporality; the sacred and the profane.? Nevertheless, he claims neither perfection nor finality for his approach, for he believes that no one can have the final word and conclusion in the tremendous task of religious revivalism. In this sense, Soroush actually eager to criticize the idea of ?wilayatul faqih? and its immutability within Shi?ite Imamah?s doctrine. He also rejects the idea of a theocratic state in Iran, and promotes the concept of a religious democratic state, which he thinks it is the most ideal model for a modern democratic state. Method used in this study is documentation by referring and selecting Soroush?s important works and writings, together with other witings by other writers and critics.Key Words: Abdulkarim Soroush, Theory of Contraction and Expansion of Knowledge, Religious Knowledge, Contemporary Islamic ThoughtAbstrak: Artikel ini mengelaborasi teori tentang penyempitan dan perluasan pengetahuan keagamaan (the theory of the contraction and expansion of religious knowledge) yang diperkenalkan oleh salah seorang pemikir Muslim terkemuka di era kontemporer ini, yang lebih dikenal dengan nama Abdulkarim Soroush. Pemikiran dan ide keagamaan Soroush mempunyai karakteristik dan perspektif yang unik. Asumsi dan pendekatan yang dia gunakan sangat berbeda, baik dengan para sarjana dan pemikir Iran sebelumnya pada khususnya, maupun dengan para sarjana Muslim pada umumnya. Dalam memposisikan pemikirannya di tengah arus pemikiran para tokoh revivalis abad ke-19, Soroush menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa teorinya ?the contraction and expansion of religious knowledge? atau ?teori tentang penyempitan dan perluasan pengetahuan keagamaan? memberikan sebuah solusi terhadap kebuntuan pemikiran yang tidak dapat dipecahkan oleh para pemikir Muslim sebelumnya, yaitu ?mencari titik temu antara sesuatu yang berubah (change) dengan yang tidak berubah (immutability); antara yang abadi (eternity) dengan yang sifatnya sementara (temporality); dan antara yang sakral (sacred) dengan yang sifatnya duniawi (profane). Namun demikian, Soroush menyadari bahwa pendekatan yang dia tawarkan tidaklah sempurna dan juga belum final, karena dia meyakini bahwasanya tidak seorang pun yang mempunyai kesimpulan yang final terkait dengan revivalisme keagamaan. Dalam hal ini, Soroush sebenarnya lebih tertarik untuk mengkritisi konsep ?wilayatul faqih? dan sakralitasnya dalam doktrin Shiah Imamiyah di Iran. Dia juga menolak gagasan tentang negara Teokratik di iran, dan memperkenalkan konsep tentang Negara-Demokratik-Relijius, yang menurutnya merupakan model yang paling ideal bagi negara demokrasi moderen. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode dokumentasi, yaitu dengan merujuk dan memilih karya-karya utama yang ditulis oleh Soroush sendiri dan juga karya-karya lain yang terkait dengan, maupun yang mengkritik pemikiran Soroush.Kata Kunci: Abdulkarim Soroush, Teori Penyempitan dan Perluasan Pengetahuan, Pengetahuan Keagamaan, Pemikiran Islam Kontemporer??

Page 1 of 1 | Total Record : 6