cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Aqlam: Journal of Islam and Plurality
ISSN : 25280333     EISSN : 25280341     DOI : -
Core Subject : Social,
AQLAM: Journal of Islam and Plurality (P-ISSN 2528-0333; E-ISSN: 2528-0341) is a journal published by the Ushuluddin, Adab and Dakwah Faculty, State Islamic Institute of Manado, Indonesia. AQLAM published twice a year and focused on the Islamic studies especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Islamic History and Culture, Theology, Mysticism, and Local Wisdom in Indonesia. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by AQLAM will review by two peer review through a double-blind review process | Address: Jl. Dr. S.H. Sarundajang Kompleks Ring Road I, Kota Manado, Sulawesi Utara, 95128 | E-Mail; aqlam@iain-manado.ac.id | Phone: +62431860616 | AQLAM has become a CrossRef Member since the year 2018. Therefore, all articles published by AQLAM will have unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
الأغراض البلاغية في التشبيهات النبوية من الأحاديث الصحيحة Fatkhul Ulum
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.374 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v5i1.1138

Abstract

 مستخلص البحث :ويهدف هذا البحث إلى كشف أغراض التشبيه التي تتضمن في أحاديث النبي ﷺ الصحيحة، مع إظهار فصاحة لسانه، وروعة تعبيره، والكشف عن أسراره. والأحاديث التي هي موضوع البحث مأخوذة من كتاب اللؤلؤ والمرجان فيما اتفق عليه الشيخان. وهذا البحث يعتبر البحث المكتبي الذي  يعتمد على المنهج الوصفي التحليلي.ومن نتائج هذا البحث أن التشبيه في الأحاديث النبوية  تحتوي على معظم أغراض التشبيه في علم البلاغة؛ وهي بيان إمكان وجود المشبه، وبيان حاله، وتقرير حاله، وبيان مقداره، وتحسين المشبه وتقبيحه. الكلمات المفتاحية: التشبيه، الحديث, البلاغةAbstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap maksud dan tujuan dari gaya bahasa al-Tasybih (agrad al-Tasybih) yang terkandung didalam hadis-hadis nabi ﷺ yang sahih, serta menonjolkan keindahan bahasa, kefasihannya dan untuk mengetahui  rahasia yang terkandung didalam setiap ungkapannya. Hadis-hadis yang menjadi Obyek didalam penelitian ini diambil dari kitab al-Lukluk wa al-Marjan fima ittafaqa ‘alaihi al-Syaikhan.Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (dirasah maktabiyah) dengan pendekatan deskriptif analitis  (al-Manhaj al-Washfi al-Tahlili).Hasil dari penelitian ini, bahwa gaya bahasa al-Tasybih didalam hadis-hadis nabi ﷺ  mencakup sebagian besar tujuan- tujuan al-Tasybih di dalam ilmu al-Balagah;  yaitu pernyataan tentang kemungkinan keberadaan musyabbah, pernyataan tentang keadaan musyabbah, penegasan akan keadaan musyabbah, pernyataan akan jumlahnya, dan pernyataan untuk memperindah musyabbah atau memburukkannya. Kata Kunci: Tasybih, Hadis, Balagah
IDEOLOGI KOMUNIS DALAM PERSPEKTIF AL -QUR’AN (ANALISIS PENAFSIRAN AYAT-AYAT BERNUANSA KOMUNIS) Qois Azizah Bin Has; Nugraha Andri Afriza; Anton Widodo
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.055 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v5i1.1141

Abstract

Abstract: The rise of the issues in circulation regarding the rise of communist ideology lately was sufficient to ignite the ideology of war in the society. The Qur'an as the main doctrines and references of Muslims in all aspects of the complex life, of course have the thematic verses to be used as a foundation describing the related things about sosisal life, politics and power. One of them is about this communist ideology. It is as if the communist ideology existed in the Qur'an. And make interconnectivity between human ideology with instructions Qur'anic must be done by Muslims. This idea arises from the phenomena that occur in the community and then interpreted for easy understanding of society. Hermenutika-Phenomenology is used to study the verses of the Communist Quran. Unfortunately, the communist-held ideology was propagated and imposed on the multitude using methods deemed inhuman; Violent slaughter, murder, abduction and others. This is what makes the ideology claimed by Marx as a revolutionary ideology, thus becoming a cursed ideology. The fatal mistake in Communist ideology is its application by the people in it. As Islam as a religion that Rahmatan Li al-'lamin becomes corrupted due to his false interpretation. In general, this communist ideology is contrary to the Qur'an.Keywords: Hermeneutics, Phenomenology, Communist Ideology. Abstrak: Maraknya isu-isu yang beredar perihal kebangkitan ideologi komunis akhir-akhir ini cukup untuk menyulut perang ideologi di lapisan masyarakat. Al-Qur’an sebagai doktrin dan rujukan utama umat Islam dalam segala aspek kehidupan yang kompleks, tentu memiliki ayat-ayat tematik guna dijadikan landasan yang menerangkan tentang hal-hal yang berkaitan tentang kehidupan sosisal, politik dan kekuasaaan.salah satunya tentang ideology komunis ini. Seolah-olah ideologi komunis ada dalam Al-Qur’an. Dan menjadikan interkoneksitas antara ideologi manusiawi dengan petunjuk Qur’ani harus di lakukan oleh umat Islam. Ide ini muncul dari fenomena-fenomena yang terjadi dimasyarakat kemudian ditafsirkan agar mudah dipahami masyarakat. Hermenutika-fenomenologi digunakan untuk mengkaji ayat Al-Qur’an bernuansa komunis ini. Sayangnya, Ideologi yang diusung komunis disebarkan dan dipaksakan kepada khalayak ramai menggunakan metode yang dianggap tak manusiawi; kekerasan pembantaian, pembunuhan, penculikan dan lain-lain. Penghalalan segala cara tersebutlah yang membuat ideologi yang diklaim oleh Marx sebagai ideologi revolusioner, justru menjadi ideologi terkutuk. Kesalahan fatal dalam ideologi komunis adalah penerapannya oleh orang-orang yang ada di dalamnya. Sebagaimana Islam sebagai sebuah agama yang Rahmatan li al-‘lamin menjadi rusak karena interpretasi penganutnya yang salah. Secara umum ideologi komunis ini bertentangan dengan al-Qur’an.Kata Kunci: Hermeneutika, Fenomenologi, Ideologi Komunis.
AKOMODASI KULTURAL DALAM RESOLUSI KONFLIK BERNUANSA AGAMA DI INDONESIA Zaenuddin Hudi Prasojo; Mustaqim Pabbajah
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.113 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v5i1.1131

Abstract

Abstract: Ethnic and religious diversity in Indonesia have become not only a wealth but in the same time also a threat to the country. They have also become the sources of cultural diversity as cultural assets that need attention. In fact, these cultural assets have potentials in the emergence of social and religious conflicts. This article suggests important findings carrying three main issues in looking at conflicts in the name of religion. With qualitative data analysis, the three main issues are collaborated. First, the conflict that took place in Indonesia tends to occur in three forms including; communal conflicts, sectarian conflicts and political installation conflicts. Second, conflict in the name of religion is triggered by several factors including lacking of understanding of the cultural, ethnic and religious diversities in Indonesia. Third, cultural accommodation by looking at the potential of local wisdom has been evidence to offer useful, needed alternatives in solving conflicts that occur in the community. This work recommends that it is necessary to deepen and disseminate all parties in empowering the potential of local culture in Indonesia. Keyword: Accomodation, Culture, Religion, Conflict Resolution Abstrak: Keragaman etnis dan agama di Indonesia merupakan kekayaan sekaligus sebagai ancaman bagi negara ini. Keragaman etnis dan agama menghasilkan keragaman budaya yang merupakan aset kultural serta perlu mendapatkan perhatian. Aset kultural tersebut berpotensi besar dalam kemunculan konflik sosial maupun agama. Artikel ini menawarkan temuan penting mengenai tiga isu utama dalam melihat konflik atas nama agama. Dengan analisis data kualitatif, ketiga isu utama tersebut dielaborasi. Pertama, konflik yang berlangsung di Indonesia cenderung diperlihatkan dalam tiga bentuk antara lain: konflik komunal, konflik sektarian, dan konflik eskalasi politik. Kedua, faktor konflik agama dipicu beberapa faktor yang meliputi masih minimnya pemahaman realitas keragaman suku, etnis, dan agama di Indonesia. Ketiga, akomodasi kultural dengan melihat potensi kearifan lokal telah mampu dijadikan sebagai perangkat penyelesaian permasalahan konflik yang terjadi di tengah masyarakat. Rekomendasi artikel ini adalah diperlukan pendalaman dan sosialisasi semua pihak dalam memberdayakan potensi budaya lokal di Indonesia. Keyword: Akomodasi, Kultural, Agama, dan Resolusi Konflik
BUSANA MUSLIMAH DAN DINAMIKANYA DI INDONESIA Hanung Sito Rohmawati
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.5 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v5i1.1151

Abstract

Abstract: Muslimah fashion has become a tren and debate in Muslim society. Amid its growing popularity, some Muslims consider jilbab is the Muslimah fashion in accordance with Islamic sharia. Some other Muslims consider jilbab is only  an Arab tradition and a cultural issue so that this group considers women not required to wear jilbab. The author focuses on the concept of Muslim fashion, the history of Muslimah dress, the pros and cons of Muslimah fashion and the phenomenon of Muslimah fashion in Indonesia. This research shows that Muslimah fashion in it varieties is a symbol of religiosity for its users. The use of Muslimah clothing is interpreted as one of the observances of Muslim women in practicing their religion, covering their “aurat.” Key Words: Muslimah Clothes, Headscarves, Prohibitions and Coercion in Muslimah ClothingAbstrak: Tren berbusana muslimah merupakan salah satu fenomena dalam masyarakat Muslim. Sebagian muslim menganggap berbusana muslimah harus sesuai syari’at Islam. Sebagian muslim yang lain menganggap persoalan busana muslimah hanyalah tradisi Arab dan merupakan persoalan budaya sehingga kelompok ini menggap wanita tidak wajib mengenakan busana muslimah. Atas dasar inilah penulis tertarik untuk meneliti tentang konsep busana muslimah, sejarah busana muslimah, pro-kontra busana muslimah dan Fenomena busana muslimah di Indonesia. Penelitian ini menunjukan bahwa busana muslimah merupakan simbol religiusitas bagi penggunanya. Penggunaan busana muslimah dimaknai sebagai salah satu ketaatan muslimah dalam menjalankan agamanya, menutup aurat. Kata Kunci: Busana Muslimah, jilbab, larangan dan paksaan berbusana muslimah
REINTERPRETASI DAKWAH ISLAM UNTUK MENGATASI PROBLEM-PROBLEM KEMANUSIAAN Zaenal Muttaqin
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.532 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v5i1.1132

Abstract

Abstract: Most muslims still understand da’wa in its literal meaning, namely spreading Islam and adding to the quantity of Muslims. In a more current plural environment, this understanding sometimes creates tensions and even conflicts with other religious believers. In addition to abiding to its principles which includes wisdom, good examples and better argument, Muslims also should reinterpret da’wa in a way it constitutes a common call for universal good. By doing so, the da’wa is more about spreading the values of Islam and implementing them in the broader context. This paper elaborated the reinterpretation of Islamic da’wa and its contextualization to help overcoming common humanity problems, such as poverty, gender inequality, climate change, among others.Keywords: Islamic da’wa, Reinterpretation, Contextualization Abstrak: Sebagian besar umat Islam masih memahami dakwah secara literal, yaitu usaha untuk menyebarkan Islam dan menambah jumlah populasi umat Islam. Dalam lingkungan yang semakin plural sekarang ini, pemahaman tersebut kadang-kadang menimbulkan ketegangan dan bahkan konflik dengan penganut agama lain. Selain berpegang pada prinsip-prinsip dakwah yaitu dilakukan secara bijaksana, mengedepankan contoh yang baik dan melakukan perdebatan yang argumentative, umat Islam perlu menafsirkan ulang dakwah sebagai upaya untuk menyeru kepada kebajikan universal. Dengan upaya reinterpretasi tersebut, dakwah dimaksudkan sebagai upaya untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dan menerapkannya dalam konteks yang lebih luar. Artikel ini mengelaborasi upaya reinterpretasi dakwah Islam dan kontekstualisasinya dalam rangka membantu menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan, seperti kemiskinan, kesenjangan gender, perubahan iklim, dan lain-lain. Kata kunci: Dakwah Islam, Reinterpretasi, Kontekstualisasi 
CULTURAL DAKWAH AND MUSLIM MOVEMENTS IN THE UNITED STATES IN THE TWENTIETH AND TWENTY-FIRST CENTURIES Mark Woodward
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.1252

Abstract

Abstract: There have been Muslims in what is now the United States since tens of thousands were brought as slaves in the 18th and early 19th centuries. Very few maintained their Muslim identities because the harsh conditions of slavery. Revitalization movements relying on Muslim symbolism emerged in the early 20th century. They were primarily concerned with the struggle against racism and oppression. The Moorish Science Temple of American and the Nation of Islam are the two most important of these movement. The haj was a transformative experience for Nation of Islam leaders Malcom X and Muhammad Ali. Realization that Islam is an inclusive faith that does not condone racism led both of them towards mainstream Sunni Islam and for Muhammad Ali to Sufi religious pluralism.Keywords: Nation of Islam, Moorish Science Temple, Revitalization Movement, Malcom X, Muhammad Ali. Abstract: Sejarah Islam di Amerika sudah berakar sejak abad ke 18 dan awal 19, ketika belasan ribu budak dari Afrika dibawa ke wilayah yang sekarang bernama Amerika Serikat. Sangat sedikit di antara mereka yang mempertahankan identitasnya sebagai Muslim mengingat kondisi perbudakan yang sangat kejam dan tidak memungkinkan. Di awal abad 20, muncul-lah gerakan revitalisasi Islam. Utamanya, mereka berkonsentrasi pada gerakan perlawanan terhadap rasisme dan penindasan. The Moorish Science Temple of American dan the Nation of Islam adalah dua kelompok terpenting gerakan perlawanan tersebut. Perjalanan ibadah haji memberikan pengalaman transformatif bagi pimpinan kedua kelompok gerakan tersebut, yaitu Malcom X dan Muhammad Ali. Pemahaman Islam yang inklusif yang tidak sejalan dengan rasisme mendekatkan mereka dengan ajaran-ajaran mainstream Islam sunni, dan (terutama) Muhamad Ali yang condong ke pluralisme ajaran kaum Sufi.Kata Kunci: Nation of islam, Moorish Science Temple, Gerakan revitalisasi, Malcom X, Muhammad Ali.
TIPOLOGI DAN SIMBOLISASI RESEPSI AL-QUR’AN DI PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HUDA RAWALO BANYUMAS Akhmad Roja Badrus Zaman
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.1375

Abstract

Abstract: The Qur'an is actually a holy book that contains moral teachings to guide man to the straight path. Only, when the Qur'an in consumption by the public, the book is undergoing a paradigm shift so treated, diresepsi, and expressed vary according to the knowledge and belief respectively. The expression, of a concrete indicator that the Koran is a holy book that is always in tune with the situation and the condition (s}a>lih{ li kulli zama>n wa maka>n). The reception-style models and even now continues to be expressed and preserved by a large family of Miftahul Huda Islamic Boarding School Rawalo Banyumas. This study aims to find out the reception of the Qur'an in the boarding school, as well as trying to understand the meaning inherent in it. This study was designed with qualitative method and included in the research field. In obtaining the data, the researchers use an instrument that is in-depth interviews, observation, and study of the relevant documents. The analysis used by researchers is, as submitted by Mohd. Soehadha, ie the reduction of data, display of data, and conclusion. In clarifying the validity of the data, researchers conducted the extension of participation, and triangulation of sources and methods. From the research conducted, the results obtained are: (1) diversity reception of the Qur'an in Miftahul Huda Islamic Boarding School Rawalo Banyumas, among others: (a) reception exegesis of the Qur'an in the recitation Book Jalalain; (b) the aesthetic reception of the Qur'an contained in calligraphy at the hostel students and ndalem caregivers; (c) functional reception of the Qur'an manifested in the tradition of the reading of Al-Wa> qi'ah and Ya>si>n; and (d) reception eternalitas Qur'an embodied in various practices of preservation of the Qur'an, such as deposit bi al-naz{ri and bi al-hifz{i, sima'an, and mura> ja'ah. (2) The meanings inherent in the diversity reception, among others: objective meaning, the meaning of expressive and documentary meaning. Objective meaning conclude that behavioral diversity reception in the boarding school is as a symbol of obedience and reverence to the rules cottage. Expressive meaning is as a form of internalization yourself with positive things through the process of learning the Qur'an continuity and meaning to his documentary is a form of local contextualization of the cultural system overall.Keywords: Reception, Al-Quran and Miftahul Huda Islamic Boarding school.Abstrak: Al-Qur’an sejatinya merupakan kitab suci yang berisi ajaran-ajaran moral sebagai huda—petunjuk—bagi manusia ke jalan yang benar. Hanya saja, ketika Al-Qur’an sampai dan dikonsumsi oleh masyarakat, kitab suci tersebut mengalami pergeseran paradigma sehingga diperlakukan, diresepsi, dan diekspresikan secara berbeda-beda sesuai dengan pengetahuan dan ideologinya masing-masing. Fenomena tersebut nampaknya dapat dijadikan indikator konkret bahwasannya Al-Qur’an merupakan kitab suci yang senantiasa relevan dengan segala situasi dan kondisi (s}a>lih{ li kulli zama>n wa maka>n).  Ragam resepsi tersebut bahkan kini terus diekspresikan dan dilestarikan oleh keluarga besar Pondok Pesantren—kemudian disebut Ponpes—Miftahul Huda Rawalo Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ragam resepsi Al-Qur’an di Ponpes tersebut, serta berusaha memahami makna yang melekat di dalamnya. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode kualitatif dan termasuk dalam jenis penelitian lapangan (field research). Dalam memperoleh data, peneliti menggunakan berbagai instrument, seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi atau studi atas dokumen terkait. Analisis yang peneliti gunakan adalah sebagaimana yang disampaikan Mohd. Soehadha, yaitu dengan reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Di dalam mengklarifikasi keabsahan data, peneliti melakukan perpanjangan keikutsertaan, serta triangulasi sumber maupun metode. Dari penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa: (1) ragam resepsi Al-Qur’an yang ada di Ponpes tersebut antara lain: (a) resepsi eksegesis; (b) resepsi estetis; (c) resepsi fungsional; dan (d) resepsi eternal. Resepsi eksegesis mewujud dalam kajian kitab tafsir Jalalain, resepsi estetis mewujud dalam kaligrafi di asrama dan ndalem pengasuh, resepsi fungsional mewujud dalam pembacaan surat-surat “idaman,” dan resepsi eternal terejawantahkan dalam pelbagai praktik preservasi Al-Qur’an, seperti setoran bi al-naz{ri dan bi al-ghaib, sima’an, dan mura>ja’ah. (2) Makna-makna yang melekat dalam ragam resepsi tersebut, antara lain: makna objektif, makna ekspresif, dan makna dokumenter. Makna objektif menyimpulkan bahwa ragam perilaku resepsi di ponpes tersebut adalah sebagai simbolisasi kepatuhan dan ketakziman terhadap peraturan pondok. Makna ekspresifnya adalah sebagai wujud internalisasi diri dengan hal-hal positif melalui proses pembelajaran Al-Qur’an yang berkelanjutan, dan makna dokumenternya adalah sebagai bentuk kontekstualisasi lokal dari sistem kebudayaan yang menyeluruh.Kata Kunci: Resepsi, Al-Qur’an, dan Ponpes Miftahul Huda Banyumas.
IMPLEMENTASI Al-MASYAQQOH Al-TAJLIBU Al-TAISYIIR DI TENGAH PANDEMI COVID-19 Sahari Sahari
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.1367

Abstract

Abstrac: The purpose of this study is to explain the meaning of “al-masyaqqoh al-tajlibu al-taisyiir”, the implementation of these principles during the Covid-19, to find out the understanding of the Manado people about these principles and finally to describe the response of the Manado Muslim community to the MUI fatwas, especially Friday prayers. 'at the time of the Covid-19 pandemic. The research used an exploratory case study method and the research approach was qualitative. The informants who were interviewed were 15 people from 5 mosques consisting of imams, ta'mir, and congregation of mosques, interviews were conducted by telephone, because they were worried about contracting the virus when interviewing face to face. Research results: People are still not familiar with the rules of al-masyaqqoh al-tajlibu al-taisyiir, what they know is the term 'emergency', but the term emergency is too narrow and has very limited meaning, which is only limited to life-threatening things that result. by the absence of food. In practice, al-masyaqqah must be adapted to the conditions and situations, at least there are two conditions, namely al-masyaqqah al-'Azhimmah, and al-masyaqqah al-Khafifah. Regarding the MUI fatwa, there are agree and disagree in the community, some have responded positively and some have refused.Key words: Understanding, Perception, Al-Masyaqqoh Al-Tajlibu Al-Taisyiir, MUI Fatwa, Covid-19 Pandemic. Abstrak:Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan makna al-masyaqqoh al-tajlibu al-taisyiir, implementasi kaedah tersebut pada masa pandemi covid-19, mengetahui pemahaman masyarakat Manado tentang kaedah tersebut dan yang terakhir  untuk mendeskripsikan respon masyakat muslim Manado terhadap fatwa MUI khususnya shalat jum’at di masa pendemi covid-19. Penelitian menggunakan metode studi kasus eksplorasi dan pendekatan penelitiannya menggunakan kualitatif. Informan yang diwawancarai sebanyak 15 orang dari 5 mesjid terdiri dari imam, ta’mir, dan jama’ah masjid, wawancara dilakukan melalui telepon, pertimbangannya karena kekhawatiran terjangkit virus apabila wawancara dengan tatap muka. Hasil penelitian:  Masyarakat masih belum mengenal kaedah al-masyaqqoh al-tajlibu al-taisyiir, yang mereka tau adalah istilah ‘darurat’, tetapi istilah darurat pun terlalu sempit dan sangat terbatas dimaknainya, yaitu hanya terbatas pada hal-hal yang mengancam jiwa yang diakibatkan oleh ketiadaan makanan. Dalam prakteknya, al-masyaqqah harus disesuaiakan dengan kondisi dan situasi, minimal ada dua keadaan yakni al-masyaqqah al-‘Azhimmah, dan al-masyaqqah al-Khafifah. Terkait dengan fatwa MUI terjadi pro dan kontra di masyarakat ada yang menanggapi positif dan ada yang menolak.Kata Kunci: Pemahaman, Persepsi, Al-Masyaqqoh Al-Tajlibu Al-Taisyiir, Fatwa MUI, Pandemi Covid-19.
WARNA DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF FAKHR AL-DIN AL-RAZI Khairunnas Jamal; Najamuddin Siraj Harahap; Derhana Bulan Dalimunthe
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.1368

Abstract

Abstract: Colour has a very important role in human communication with the outside world, even more in the function of memory and brain development. Therefore, comprehension and recognition of an event is strongly influenced by the colours which exist. The focus of this research is the thematic character. It is a discussion that takes a certain theme in the Qur'an and will only be limited by mufassir (a figure). By conducting research on the figures of his work, taking his thoughts and understanding comprehensively, namely Imam Fakhr al-Din al-Razi. A step that will be taken is to collect the verses of the Qur’an which talks about colour, then thoroughly explore how the interpretation is made by Imam al-Razi related to these verses.Keywords: Colour, interpretation. Fakhr al-Din al-Razi  Abstrak: Warna memiliki peran yang sangat penting dalam komunikasi manusia dengan dunia luar, terlebih lagi dalam fungsi daya ingat, dan perkembangan otak. Oleh karena itu, pemahaman dan pengenalan sebuah peristiwa sangat dipengaruhi oleh warna yang ada. Fokus kajian penelitian ini adalah tematik tokoh, tematik tokoh merupakan pembahasan yang mengambil tema tertentu dalam Al-Qur’an kemudian hanya akan dibatasi oleh mufassir (tokoh). Dengan cara melakukan penelitian tokoh dari karyanya, mengambil pemikiran dan pemahamannya secara komprehensif, yaitu Imam Fakhr al-Din al-Razi. Langkah yang akan dilakukan adalah dengan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai warna, kemudian mengupas tuntas bagaimana penafsiran yang dilakukan oleh Imam al-Razi terkait ayat-ayat tersebut.Kata Kunci: Warna, Tafsir, Fakhr al-Din al-Razi
SEJARAH KAMPUNG PONDOL DAN KOMUNITAS EKSIL MUSLIM DI KOTA MANADO Roger Allan Christian Kembuan
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v5i2.1370

Abstract

Abstract: This research discusses the process of forming and developing of Pondol village in Manado as a location for exile along with the Dutch colonial government policy that placed exiles who came from several sultanates in Java in the Manado Residency during the 19th century. The discussion includes, first, the background of the exile of the Javanese aristocrats in Manado. Second, the process of establishing Pondol as a location for exile and its development during the XIX century, and third, the adaptations made by the exiles to adjust to their exile and the impact of their arrival on the Manado-Minahasa community. The historical method is used in this research, using colonial archives from the XIX century which are stored in the National Archives of the Republic of Indonesia, and local sources, especially manuscripts stored by their descendants in Manado and Java. The findings in this study are; Kampung Pondol was formed due to the isolation of Kanjeng Ratu Sekar Kedaton and Pangeran Suryeng Ingalaga and some of his followers originated from political intrigue that occurred in the Sultanate of Yogyakarta. Second, the reason why Kampung Pondol was chosen as the new location for exile by the Dutch colonial government for Javanese royal officials was different from the exile of other figures in Tondano and Tomohon. Third, the form of adaptation carried out by the exiles in Kampung Pondol Manado was marriage with women from Manado and relationships with Dutch people who lived around them.Keywords : Exile, Javanese Noble, Pondol Village, Adaptation. Abstrak: Penelitian ini membahas tentang proses terbentuk dan perkembangan kampung Pondol di Manado sebagai lokasi pengasingan seiring dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menempatkan para eksil yang berasal dari beberapa kesultanan di Jawa di Karesidenan Manado pada sepanjang abad 19.  Pembahasannya meliputi; Pertama, Latar belakang pengasingan para bangsawan Jawa di Manado. Kedua, proses terbentuknya Pondol sebagai lokasi pengasingan dan perkembangannya selama abad XIX, dan Ketiga, adaptasi yang dilakukan para eksil untuk menyesuaikan diri di pengasingan serta dampak kedatangan mereka pada masyarakat Manado-Minahasa. Metode sejarah dipergunakan dalam penelitian ini, dengan mempergunakan sumber Arsip Kolonial kurun waktu abad ke XIX yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia,  dan sumber lokal terutama manuskrip yang tersimpan oleh keturunannya di Manado dan Jawa. Temuan dalam penelitian ini adalah; Kampung Pondol terbentuk karena Pengasingan Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan Pangeran Suryeng ingalaga dan beberapa pengikutnya berawal dari intrik politik yang terjadi di Kesultanan Yogyakarta. Kedua, alasan Kampung Pondol dipilih sebagai lokasi baru pengasingan Pemerintah Kolonial Belanda bagi pembesar kerajaan Jawa yang berbeda lokasi dengan pengasingan tokoh-tokoh lainnya di Tondano dan Tomohon. Ketiga, bentuk adaptasi yang dilakukan oleh para eksil di Kampung Pondol Manado dilakukan pernikahan dengan wanita dari Manado dan relasi dengan orang-orang Belanda yang tinggal disekeliling mereka.Kata Kunci : Eksil, Bangsawan Jawa, Kampung Pondol, Adaptasi.

Page 7 of 16 | Total Record : 151