cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Aqlam: Journal of Islam and Plurality
ISSN : 25280333     EISSN : 25280341     DOI : -
Core Subject : Social,
AQLAM: Journal of Islam and Plurality (P-ISSN 2528-0333; E-ISSN: 2528-0341) is a journal published by the Ushuluddin, Adab and Dakwah Faculty, State Islamic Institute of Manado, Indonesia. AQLAM published twice a year and focused on the Islamic studies especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Islamic History and Culture, Theology, Mysticism, and Local Wisdom in Indonesia. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by AQLAM will review by two peer review through a double-blind review process | Address: Jl. Dr. S.H. Sarundajang Kompleks Ring Road I, Kota Manado, Sulawesi Utara, 95128 | E-Mail; aqlam@iain-manado.ac.id | Phone: +62431860616 | AQLAM has become a CrossRef Member since the year 2018. Therefore, all articles published by AQLAM will have unique DOI number.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
KLASIFIKASI MODEL PEMIKIRAN ORIENTALIS HADIS PERSPEKTIF HERBERT BEERG Muhammad Asri Nasir; Ahmad Ramzy Amiruddin
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v6i2.1635

Abstract

Abstract: The orientalist debate about the authenticity of the hadith was highlighted by Herbert Berg who he specifically described in his work entitled The Development of Exegesis in Early Islam. In the book, Berg made a classification of orientalist thinking models on hadith. Based on this, this article aims to discuss the classification and mention Berg's reasons for placing the orientalists and also explain the implications of Berg's classification in the study of hadith. In this article, the researcher uses descriptive-analytical method by obtaining the following findings: First, there are four models of orientalist thought in Herbert Berg's hadith perspective, namely Early Western Scepticism, Reaction Against Scepticism, Middle Ground, and Renewed Scepticism. Although, as the finding of the research, it was found that from the four models, there are only two models that are relevant to the facts, namely the skeptical and non-skeptic groups. Second, Berg divides the model of thought based on the attitude of the orienalists to hadith. Third, Berg's classification has at least two implications, namely as a method of reading orientalist thinking models on hadith and the creation of a new method in determining the authenticity of hadith, namely the Sanguine Approach and the Skeptical Approach by Berg.. Key Words : Hetbert Berg, Hadith Orientalist, Authenticity of Hadith. Abstrak: Perdebatan para orientalis tentang keotentikan hadis ternyata disorot oleh Herbert Berg yang secara khusus ia gambarkan pada karyanya yang berjudul The Development of Exegesis in Early Islam. Pada buku tersebut, Berg membuat klasifikasi model pemikiran orientalis terhadap hadis. Berdasarkan hal itu, artikel ini bertujuan untuk membahas klasifikasi tersebut serta menyebutkan alasan Berg dalam menempatkan para orientalis tersebut dan juga menjelaskan implikasi klasifikasi Berg dalam kajian hadis. Artikel ini dalam pembahasannya menggunakan metode deskriptif-analitis dengan mendapatkan temuan, sebagai berikut: Pertama, terdapat empat model pemikiran orientalis hadis perspektif Herbert Berg, yaitu Early Western Scepticism, Reaction Against Scepticism, Middle Ground, dan Renewed Scepticism. Meskipun, setelah diteliti ternyatadari keempat model tersebut, hanya ada dua model yang relevan dengan fakta di lapangan, yaitu kelompok skeptis dan non skeptis. Kedua, Berg membagi model pemikiran tersebut berdasarkan sikap ara orientalis terhadap hadis. Ketiga, klasifikasi yang dilakukan Berg setidaknya memiliki dua implikasi, yaitu sebagai metode dalam membaca model pemikiran orientalis terhadap hadis dan terciptanya metode baru dalam menentukan keotentikan hadis, yaitu Sanguine Approach dan Skeptikal Approach oleh Berg. Kata Kunci : Hetbert Berg, Orientalis Hadis, Keotentikan Hadis. 
KONSEP AL-SARFAH DALAM KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN Abdurrahman Abdurrahman
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v6i2.1579

Abstract

Abstract: The Quran is one of the miracles of the Prophet Muhammad that will never be matched until the Day of Resurrection, but it is different from the understanding of the followers of al-Sarfah who claim that humans can match and create something like the Quran but that ability is removed by Allah Swt. this is what they call al-s̩arfah understanding. This understanding is expressed descriptively and qualitatively, namely by analyzing and revealing data according to the research theme. Then the understanding of al-s̩arfah is found, namely the belief that Allah turns away the ability or desire of people who can make things like the Quran, or their enthusiasm is the removed to make things like Quran. Later, it was found that this understanding would be easier when it was related to the theological principles used by the Mu’tazilites as one of the originators of this understanding, namely the basis of Mu’tazilah understanding with the concept of free will and free act or qadariyah. Furthemore, opinions are expressed in the from of rebuttals from the theologians regarding this understanding and their arguments, and at the end, the implication of thr existence of this understanding of al-s̩arfah are revealed.Key Words: the Quran, miracle, al-s̩arfah Abstrak: Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat nabi Muhammad saw. yang tidak akan pernah dapat ditandingi sampai hari kiamat,  namun berbeda dengan pemahaman pengikut al-s̩arfah yang mengklaim bahwa manusia mampu menandingi dan membuat yang semisal dengan Al-Qur’an namun kemampuannya itu dihilangkan oleh Allah Swt., inilah yang mereka sebut dengan paham al-s̩arfah, paham ini diungkap secara deskriptif kualitatif yaitu menganalisa dan mengungkap data sesuai dengan tema penelitian, kemudian didapati pengertian paham al-s̩arfah yaitu keyakinan bahwa Allah memalingkan kemampuan atau keinginan orang yang dapat membuat semisal dengan Al-Qur’an, atau semangat mereka dihilangkan untuk membuat yang semisal dengannya, selanjutnya didapati paham ini sesungguhnya akan semakin mudah dimengerti ketika dihubungkan dengan asas teologi yang dipakai oleh penganut mu’tazilah sebagai salah satu pencetus paham ini,  yaitu basis paham mu’tazilah dengan konsep free will dan free act atau qadariyahnya, selanjutnya diungkap pendapat  yang berupa bantahan para ulama tentang paham ini  beserta dalilnya dan di akhir diungkap implikasi dari adanya paham al-s̩arfah ini. Kata kunci: Al-Qur’an, mukjizat, al-s̩arfah
PERAN DAYAH DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM MASYARAKAT ACEH Muslem Muslem; Maulida Hayatina
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v6i2.1632

Abstract

Abstract: The concept of character education becomes an offer to answer the phenomenon of immoral. Thus, the development of the concept of character education in accordance with regional characteristics is important to research. Dayah as the oldest Islamic educational institution in Aceh and with stories of success has proven successful in educated children's character. This study aims to find patterns of character formation for children in the Bustanul Ridha dayah, East Aceh Regency. This type of research is qualitative and used the phenomenological approach. The data collection techniques used interviews, observation and documentation. The results showed that the pattern of children's character formation used a comprehensive approach which was carried out through intracurricular and extracurricular learning. The strategy of character building puts forward the stages of moral (spiritual) inspiration compared to the stages of moral knowledge and moral feelings, and moral action in the concept of character education for children in the dayah. Keywords: : Character Education, Aceh Dayah, Islamic Education Institute Abstrak: Konsep pendidikan karakter lahir dan menjadi tawaran guna menjawab fonomena perilaku demoralisasi. Sehingga, pengembangan konsep pendidikan karakter yang sesuai dengan karakteristik kedaerahan menjadi penting untuk diteliti. Dayah sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Aceh dan secara stories of success telah membuktikan pembentukan karakter bagi anak-anak. Jadi, penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola pembentukan karakter bagi anak di dayah Bustanul Ridha Kabupaten Aceh Timur. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Wawancara, observasi dan dokumentasi menjadi metode dalam pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pembentukan karakter anak menggunakan pendekatan komprehensif yang dilakukan melalui pembelajaran intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Strategi pembentukan karakter mengedepankan tahapan penjiwaan moral (spiritual) dibandingkan tahapan pengetahuan moral, tindakan dan perasaan moral dalam konsep pendidikan karakter bagi anak di dayah. Kata Kunci : Pendidikan Karakter, Dayah Aceh, Lembaga Pendidikan Islam 
WHERE IS THE GENDER JUSTICE? ANALYSIS OF NOVIA WIDYASARI’S SEXUAL VIOLENCE CASE FROM AN ISLAMIC FEMINIST PERSPECTIVE Siti Syamsiyatun; Anindya Arfiani
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i1.1827

Abstract

Abstract: Indonesian Komnas Perempuan (National Commission on Violence against Women) and WHO (World Health Organization) reported that violence against women and children, especially sexual violence, is raising during the COVID-19 pandemic era. Such data triggers the authors to question why sexual violence against them persists, and so difficult to be eliminated? Lots of research and casual observation have been presented, many of which are blaming the victims instead of defending them. This present research aims at contributing in answering above questions by conducting qualitative, literature study using a feminist perspective on particular sexual violence experienced by late Novia Widyasari. In so doing we employ also Foucault’s power relation and misogyny culture. We find there are imbalanced power position and misogynic narratives to blame the victim, and to save the life and career of the perpetrators. The deep and widespread of such practices, i.e. power abuse and misogynic attitudes hinder the effort for the elimination of violence, not only against women, but also against minority groups and the weak in our society, such as children, and disabled people. Keywords: Gender; misogyny; power relation; violence Abstrak: Komnas Perempuan Indonesia (Komnas Perempuan) dan WHO (World Health Organization) melaporkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya kekerasan seksual, meningkat selama era pandemi COVID-19. Data tersebut memicu penulis untuk mempertanyakan mengapa kekerasan seksual terhadap mereka tetap ada, dan begitu sulit untuk dihilangkan? Banyak penelitian dan observasi telah dilakukan, Sebagian besar diantaranya justru menyalahkan para korban alih-alih membela mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi dalam menjawab pertanyaan di atas dengan melakukan studi literatur kualitatif dengan menggunakan perspektif feminis tentang kekerasan seksual tertentu yang dialami oleh almarhum Novia Widyasari. Dalam melakukannya kami juga menggunakan hubungan kekuasaan Foucault dan budaya misogini. Kami menemukan ada posisi kekuasaan yang tidak seimbang dan narasi misoginis untuk menyalahkan korban, dan untuk menyelamatkan nyawa dan karir para pelaku. Mendalam dan meluasnya praktek-praktek tersebut, yaitu penyalahgunaan kekuasaan dan sikap misoginis menghambat upaya penghapusan kekerasan, tidak hanya terhadap perempuan, tetapi juga terhadap kelompok minoritas dan lemah dalam masyarakat kita, seperti anak-anak, dan orang cacat.Kata Kunci: Gender; misogyny; power relation; violence
TIPOLOGI PERIWAYATAN HADIS UMMAHAT AL-MU’MININ St Nur Syahidah Dzatun Nurain
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i1.1835

Abstract

Abstrack: During the early Islamic era, Ummahat al-Mu’minin are example of how women are appreciated but not restricted, they are required to maintain honor but Islam still provides equal opportunities as opportunities for men in the public area, especially in conveying the Islamic laws and teachings. To identify their contribution and existence the researcher will discuss how narrated typology by means of the hadiths that’s they narrated. It used an interdisciplinary approach including historical, linguistic, sociological, and normative approaches. And used managing qualitative data. The researcher found that Ummahat al-Mu’minin have five typologies of tahammul (getting) and ada’ (delivering) which means that their hadith narration activities do not only get and deliver the hadith but also become (1) a source of hadith narration for shahabat (2) an intermediary (between messenger and explainer) for shahabat and Rasulullah (3) an activity to clarify and discuss the odds of hadith for Shahabah (4) an asbab al-wurud of hadith, and (5) a critic and judgment toward the inappropriate hadith.Key words: Ummahat al-Mu’minin, typology of hadith narration, contributionAbstrak: Pada awal kedatangan Islam, Ummahat al-Mu’minin adalah contoh bagaimana perempuan dihargai tetapi tidak dibatasi haknya, mereka diharuskan lebih menjaga kehormatan tetapi, Islam tetap memberikan peluang yang sama sebagaimana peluang yang diberikan kepada laki-laki dalam wilayah publik (terutama dalam hal menyampaikan hukum dan ajaran Agama). Untuk mengetahui eksistensi dan kontribusi mereka, penulis akan menggali bagaimana tipologi periwayatan melalui hadis-hadis yang mereka riwayatkan,  dengan pendekatan historis, linguistik, sosiologis dan teologi normatif dan pengelolaan data menggunakan kualitatif, penulis menemukan bahwa Ummahat al-Mu’minin memiliki lima tipologi tahammul (mendapatkan) dan lima tipologi Ada’ (menyampaikan) hadis yang mana hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktifitas periwayatan hadis mereka tidak hanya sekedar menerima dan menyampaikan hadis, melainkan dalam prosesnya mereka seringkali (1) menjadi sumber periwayatan para shahabat (2) menjadi perantara (utusan dan penjelas) bagi shahabat dan Rasulullah (3) menjadi klarifikator/ konsultan hadis yang terdengar ganjal bagi shahabat  (4) menjadi asbab al-wurud hadis dan (5) mengkritik periwayatan hadis yang dinilai tidak sesuai. Kata kunci: Ummahat al-Mu’minin, Tipologi Periwayatan, Kontribusi. 
SUFISME JAWA DALAM SERAT SASTRA GENDING SULTAN AGUNG MATARAM Muhammad Ilham Aziz; Dudung Abdurrahman
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i1.1917

Abstract

Abstract: This article discusses Sufism in the Serat Sastra Gending Sultan Agung which had an influence on Javanese literature in Mataram. Sultan Agung Sufism teaching based on this fiber describe a kings desire to convery the teachings of Islam, especially Sufisme patterned Islam to his people through a Javanese cultural approach. Therefore, it is identified through this study as “Javanese Sufism”. The main problem of this research how is the Javanese Sufism pattern reflected in Sultan Agung view? and why did Sultan Agung Sufism teaching influence Javanese literature in the Mataram area? This study was developed using the history of thought method. The findings of this study are as follows: First, the socio-religious conditions at the time of Sultan Agung wereclosely related to the pantheism that was embraced by the Javanese inland community. Second, the teachings of Sultan Agung Sufism in the serat sastra Gending show two things that are interrelated and need, which are reflected in the relationship between man and God (the creator). The concept of Sufism in describes the acculturation of three cultures: Javanese, Hindu, and Islamic. Third, the teaching of Sultan Agung Sufism are included in the syncretic teachings influenced the development of Javanese literature in Mataram. The urgency of Sufism teachings framed in the form of literature is able to explain religion and political polices until the next period after Sultan Agung.  Keyword: King’s View, Sastra Gending, Javanese Sufism. Abstrak: Artikel ini membahas sufisme dalam Serat Sastra Gending Sultan Agung yang memberi pengaruh terhadap kesusastraan Jawa di Mataram.  Ajaran tasawuf Sultan Agung ini berdasarkan serat ini menggambarkan suatu keinginan seorang raja untuk menyampaikan ajaran agama Islam, khususnya Islam bercorak tasawuf kepada rakyatnya melalui pendekatan budaya Jawa. Karena itu, teridentifikasi melalui kajian ini sebagai "Sufisme Jawa".  Pokok masalah penelitian ini adalah bagaimana corak sufisme-Jawa tercermin dari pandangan Sultan Agung? dan mengapa ajaran tasawuf Sultan Agung berpengaruh terhadap kesusastraan Jawa di wilayah Mataram?. Studi ini dikembangkan dengan metode sejarah pemikiran. Adapun temuan kajian ini sebagai berikut: Pertama, kondisi sosial keagamaan pada masa Sultan Agung lekat dengan panteisme yang dianut oleh masyarakat Jawa pedalaman. Kedua, ajaran tasawuf Sultan Agung dalam Serat Sastra Gending memperlihatkan dua hal yang saling berkaitan dan membutuhkan, yang tergambar dalam hubungan manusia dengan Tuhan (pencipta). Adapun konsep tasawuf di dalamnya menggambarkan akulturasi tiga budaya: Jawa, Hindu, dan Islam. Ketiga, ajaran tasawuf Sultan Agung termasuk dalam ajaran tasawuf yang sinkretis. Ajaran tersebut berpengaruh terhadap perkembangan kesusastraan Jawa di Mataram. Urgensi ajaran tasawuf yang dibingkai dalam bentuk sastra mampu menjelaskan agama dan kebijakan politik hingga masa selanjutnya pasca Sultan Agung. Kata Kunci : Pandangan Raja, Sastra Gending, Sufisme Jawa.
EKSISTENSI AKAL DALAM AL-QUR’AN DAN PENERAPANNYA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT Rizal Darwis
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i1.1837

Abstract

Abstract: The existence of sense in humans is a privilege given by Allah swt. Humans with their minds can think, reason, and appreciate all of Allah's creations. This article aims to examine the existence of sense in the Qur'an and its applications in the community life. The results showed that the Qur'an as a source of basic material in Islamic law provides a large portion of the use of the human mind. The mind is assisted by the senses, namely the eyes, nose, ears, tongue, and feelings (skin), so that sensory observations or empirical observations are formed. The use of sense in people's lives is something very important, namely to understand and make reasoning on issues of excavation and rechtvinding. These reasonings are reasoning of the description of text the Qur’an and hadith (al-bayani), the reasoning of cause (ta'lili), and reasoning of benefit (istishlahi).Keywords: Sense, Reasoning, RechtvindingAbstrak: Keberadaan akal pada diri manusia merupakan keistimewaan yang diberikan Allah swt. Manusia dengan akal yang dimilikinya dapat berpikir, melakukan penalaran, dan penghayatan terhadap segala ciptaan Allah swt. Artikel ini bertujuan mengkaji eksistensi akal dalam Al-Qur’an dan penerapannya dalam kehidupan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an sebagai sumber materi pokok dalam hukum Islam memberikan porsi yang besar terhadap penggunaan akal pikiran manusia. Akal pikiran tersebut dibantu oleh alat inderawi, yaitu mata, hidung, telinga, lidah, dan perasaan (kulit), sehingga terbentuk pengamatan inderawi atau pengamatan empiris. Penggunaan akal dalam kehidupan masyarakat adalah sesuatu yang sangat penting, yaitu untuk memahami dan melakukan penalaran terhadap persoalan-persoalan penggalian dan penemuan hukum. Penalaran-penalaran tersebut, yaitu penalaran al-bayani, pelanaran ta’lili dan penalaran istishlahi.Kata Kunci: Akal, , Penalaran, Penemuan Hukum
KRITIK WACANA TAFSIR ATAS TEOLOGI KESETARAAN GENDER RIFFAT HASSAN Ikrar Ikrar
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i1.1983

Abstract

Abstract: This article discuss about how theology construct worked by Riffat Hassan to realize gender equality and how the implication caused from gender equality and how the relation of women harmony in Islam. Based on the result, it can be concluded that (1) Theology construct of gender equality built by Riffat Hassan, only adopt from feminism theology concept that developed in Western. Even though in western, women have dark history because woman have been despised and treated discriminatory, and while women in Islam are glorified. The coming of Islam has eliminated dumb tradition that harmful for women, but elevate the dignity. If subordination of women in western has gained legitimacy from Bible, in Al – Qur’an women are precisely glorified. (2) In building gender equality theology, Riffat Hassan has made three steps; (a) normative-idealist approach, (b) deconstruct religious thought that he thinks there’s gender bias, (c) reconstruct religious thought that he thinks there’s no gender bias. In attempt this theology construct of gender equality, Riffat Hassan precisely proven tend to do gender bias, although he accuse travelers do gender bias. Beside that, there are some of implications that caused by him; there are rejection of authentic hadith and the implication that could change Islamic law. (3) As for in Islam, the right relation between women and men are the harmony of gender, not gender equality. Keywords: Gender Equality, Riffat HassanAbstrak: Artikel ini membehas tentang bagaimana konstruksi teologi yang dilakukan oleh Riffat Hassan untuk mewujudkan kesetaraan gender dan bagaimana implikasi yang ditimbulkan dari kesetaraan gender serta bagaimana hubungan keserasian perempuan dalam Islam. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa (1) Konstruksi teologi kesetaraan gender yang dibangun Riffat Hassan hanyalah mengadopsi konsep teologi feminisme yang berkembang di Barat. Padahal berbeda dengan perempuan di Barat yang memiliki sejarah yang kelam lantaran perempuan dipandang hina dan diperlakukan secara diskriminatif, dalam Islam perempuan justru dimuliakan. Kedatangan Islam telah mengeliminasi adat-istiadat jahiliyah yang merugikan kaum perempuan serta mengangkat  harkat dan martabat mereka. Kalau subordinasi terhadap perempuan di Barat mendapatkan legitimasi dari Bible, dalam al-Quran perempuan justru dimuliakan. (2) Dalam membangun teologi kesetaraan gender, Riffat Hassan melakukan tiga langkah, yaitu (a) pendekatan normatif-idealis dan historis-empiris, (b) melakukan dekonstruksi pemikiran keagamaan yang (menurutnya) bias gender, dan (c) melakukan rekonstruksi pemikiran keagamaan yang (menurutnya) tidak bias gender. Dalam usaha konstruksi teologi kesetaraan gender ini, Riffat Hassan justru terbukti cendrung melakukan bias gender, padahal dia menuduh para mufassir yang bias gender. Selain itu, ada beberapa implikasi yang ditimbulkan darinya, yaitu adanya penolakan terhadap hadis shahih dan terdapat implikasi syariah yang merubah hukum Islam.(3) Adapun dalam Islam,  hubungan antara laki-laki dan perempuan yang benar adalah keserasian gender, bukan kesetaraan gender. Kata Kunci: Kesetaraan  Gender, Riffat Hassan
GERAKAN TASAWUF NUSANTARA (STUDI PERBANDINGAN KARAKTERISTIK GAGASAN SYEKH ABDUS SHAMAD AL-PALIMBANI DAN SYEKH NAWAWI AL-BANTANI PADA ABAD 18-19) Kariri Kariri; Diki Ahmad
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.1846

Abstract

Abstract: The movement of relations of the archipelago's scholars in the 18-19 centuries, especially in Sumatra and Java regions, has found its romance in the path of Sufism through a meeting of scholars who studied in Mecca. Among the Sufism figures who have traveled to the Middle East are Sheikh Abdus Shamad Palimbani and Sheikh Nawawi Banten. These two figures prove that the dynamics of Sufism became a discourse that was in great demand by Nusantara scholars in the 18-19 centuries and even today. The characteristics of the ideas of their Sufism have differences even though both of them study at Haromain. Sheikh Abdus Shamad understands Sufism as a middle way between Al Gazali and Ibn Arabi's Sufism ideas that have been processed and presented in a systematic form as a separate Sufism teaching. Abdus Shamad is clearly concerned with the characteristics of his ideas which tend to be dominated by mysticism, so he studied Sufism with Al-Sammani. While the characteristics of the ideas possessed by Sheikh Nawawi are more emphasis on the balance among sharia, tarekat, and essence. As with Sheikh Nawawi in analogizing the framework of Sufism, the Shari'a is like a sailing ship, the tarekat is like the ocean, while the essence is like the pearl.Keywords: Movement, Sufism, Nusantara.Abstrak: Pola gerakan ulama-ulama Nusantara pada abad 18-19 khususnya di wilayah Sumatra dan Jawa, telah menemukan romantismenya dalam jalur keilmuan tasawuf melalui pertemuan para ulama yang belajar di Mekah. Di antaranya tokoh tasawuf yang pernah mengembara ke Timur Tengah ialah Syekh Abdus Shamad al-Palimbani dan Syekh Nawawi al-Bantani. Dari kedua tokoh tersebut, membuktikan bahwa dinamika keilmuan tasawuf menjadi diskursus yang banyak diminati oleh para ulama-ulama Nusantara pada abad 18-19 bahkan hingga hari ini. Karakteristik gagasan tasawuf yang dimiliki kedua tokoh, memiliki karakteristik yang berbeda meskipun keduanya sama-sama menimbah ilmu di Haromain. Syekh Abdus Shamad memahami tasawuf sebagai jalan tengah antara gagasa tasawuf Al Gazali dan Ibn Arabi yang telah diolah dan disajikan dalam bentuk sistematis sebagai ajaran tasasawuf tersendiri. Abdus Shamad tampak terlihat jelas atas karakteristik gagasannya yang cenderung didominasi oleh mistisme sehingga ia mempelajari tasawuf terutama dengan Al-Sammani. Sedangkan karakterik gagasan yang dimiliki Syekh Nawawi, memiliki karakteristik tasawuf yang lebih menekanan pada keseimbangan antara syariat, tarekat, dan hakikat. Seperti halnya Syekh Nawawi dalam menganalogikan kerangka tasawuf, syariat ibaratkan kapal yang berlayar, tarekat ibarat lautan, sedangkan hakikat ibarat mutiaranya.Kata kunci: Gerakan, Tasawuf, Nusantara.
MAJALAH ADIL DAN FRAMING ISU KRISTENISASI DI SURAKARTA TAHUN 1969-1970 Ahmad Faidi; Adif Fahrizal Arifyadiputera
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i2.2155

Abstract

Abstract: This study attempts to trace the historical roots of Muslim-Christian relations in Solo. This research is a type of library research that uses a historical approach. The material objects of this research are articles, news, and opinions published in the magazine Adil 1969-1970. Issue Framing of Christianization in Solo by Adil Magazine is carried out by synchronizing 4 major themes, namely confusion in Christian theology, the Christianization movement is a movement that is contrary to the provisions of the Government in Indonesia, Christianization threatens the people of Indonesia. Militant Muslims, and lastly is the issue of Christian closeness with Communists.Keywords: Christianization, Adil Magazine, Issue FramingAbstrak: Penelitian ini berupaya melacak akar historis hubungan Islam-Kristen di Solo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Library research yang menggunakan pendekatan historis. Objek material dari penelitian ini adalah artikel, berita, dan opini yang diterbitkan majalan Adil 1969-1970. Framing isu Kristenisasi di Solo oleh Majalah Adil dilakukan dengan cara menerasikan 4 tema besar, yakni kerancuan dalam teologi Kristen, gerakan Kristenisasi merupakan gerakan yang bertentangan dengan ketetapan Pemerintah di Indonesia, Kristenisasi mengancam kaum Muslim Militan, dan terakhir adalah isu kedekatan Kristen dengan dengan Komunis.Kata Kunci: Kristenisasi, Majalah Adil, framing Isu

Page 9 of 16 | Total Record : 151