DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora
DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan, dan Humaniora diterbitkan oleh Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul Ulum Lamongan. Terbit pada bulan April dan Oktober setiap tahun.
DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan, dan Humaniora memuat kajian-kajian ilmiah tentang pemikiran dalam bidang Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora dalam bentuk: 1) Hasil penelitian, 2) Gagasan konseptual, 3) Kajian kepustakaan, dan pengalaman praktis.
Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol 6 No 1 (2019): April"
:
11 Documents
clear
PENGARUSUTAMAAN PEMBELAJARAN HADIS-ILMU HADIS BERORIENTASI KARAKTER CINTA RASUL DI MA UNGGULAN ULUMIYYAH JATIROGO TUBAN
Siti Lathifatus Sun’iyah
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 6 No 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (481.545 KB)
Orientasi pendidikan Madrasah Aliyah lebih condong pada pengkhususan keilmuan umum. Ditambah dengan kurangnya antusiasme peserta didik MA terhadap mata pelajaran keagamaan yang diberikan. Pentingnya upaya untuk menggeliatkan keilmuan Islam terlebih ilmu Hadis agar dapat menancap kuat dalam diri peserta didik. Bidang keilmuan Hadis-Ilmu Hadis yang merupakan pilar keilmuan Islam seharusnya perlu perhatian ekstra dari lembaga pendidikan Islam. Gambaran perhatian yang intensif adalah melalui pembelajaran yang optimal pada mata pelajaran ini yang menyesuaikan dengan pola perkembangan dunia pendidikan. Urgensi penggambaran secara mendetail dari seorang guru mapel Hadis-Ilmu Hadis agar peserta didik benar-benar dapat menjiwai sejarah periwayatan dan kodifikasi hadis. Amanah implisit dari pembelajaran mapel ini adalah menanamkan rasa kerinduan yang mendalam kepada Rasulullah Saw. dan selanjutnya sosok Rasulullah Saw seolah-olah dihidupkan di tengah-tengah peserta didik untuk dapat diambil keteladanannya. Banyak aspek keteladanan yang dapat diungkapkan dari materi kisah para Shahabat Muksir al-Hadis, para pentakhrij. Guru mapel ilmu Hadis dituntut untuk memiliki karakter cinta Rasul yang kuat dan dapat selalu memberikan motivasi kepada peserta didiknya. Pembelajaran Hadis-Ilmu Hadis yang terdapat di MA Unggulan Ulumiyyah diberikan melalu berbagai metode termasuk pemberian informasi visual untuk menggambarkan secara detail tentang informasi sejarah periwayatan hadis. Bekal kompetensi peserta didik dalam Takhrij al-Hadis diharapkan dapat ditindaklanjuti pada penelaahan kandungan hadis yang jumlahnya jutaan dan penelusuran perawi dari Rijal al-Hadis. Prinsip pembelajaran Hadis-Ilmu Hadis di MA Unggulan Ulumiyyah yang merupakan sekolah berlatarbelakang pesantren adalah menanamkan sikap kritis terhadap peserta didik dibarengi rasa ta’dhim terhadap para ulama Salaf as-Saleh.
EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN MATA KULIAH BALAGHAH DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE PADA MAHASISWA SEMESTER IV PRODI PENDIDIKAN BAHASA ARAB UNISDA LAMONGAN
Khoirotun Ni’mah
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 6 No 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (353.145 KB)
Latar belakang penelitian ini berawal dari observasi yang dilakukan peneliti pada mahasiswa didapatkan bahwa mahasiswa merasa kesulitan dalam memahami pokok bahasan pada mata kuliah Balaghah. Sebagian mahasiswa pasif hanya menjadi pendengar setia saja ketika temannya presentasi depan kelas dan tidak bertanya, sehingga hasil yang didapatkan belum bisa seperti yang diharapkan. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan hasil penelitian ini, maka kesimpulan yang didapatkan adalah sebagai berikut: (1) Strategi Think Talk Write sangat efektif digunakan dalam proses pembelajaran mata kuliah balaghah hal ini dapat diketahui pada siklus II pertemuan I dengan presentase yang didapatkan sebesar 85%. Ini menunjukkan bahwa aktivitas mahasiswa pada pertemua pertama meningkat 10% dari kegiatan pembelajaran pada siklus I pertemuan kedua. Pada siklus II pertemuan II dengan presentase yang didapatkan sebesar 90%. Ini menunjukkan bahwa aktivitas mahasiswa pada pertemuan kedua juga sudah mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu 80%. (2) Hasil belajar mahasiswa pada siklus II, mahasiswa yang mendapat nilai dengan kriteria tuntas sebanyak 18 mahasiswa dengan presentase yang didapatkan sebesar 90% dan mahasiswa yang mendapatkan nilai dengan kriteria tidak tuntas sebanyak 2 mahasiswa dengan presentase yang didapatkan sebesar 10%. Nilai ini sudah meningkat jika dibandingkan dengan siklus I dari 65% menjadi 90%.
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA FLASH CARD TERHADAP PEMBELAJARAN KOSA KATA BAHASA ARAB (STUDY EKSPERIMEN TERHADAP SISWA KELAS 1 SD NEGERI TLOGOREJO SUKODADI LAMONGAN)
Ida Latifatul Umroh
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 6 No 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (576.038 KB)
Dalam pembelajaran dibutuhkan media yang dapat membantu terlaksananya proses belajar-mengajar secara efektif. Media flash card diyakini dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap pembelajaran kosa kata bahasa Arab. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah terdapat pengaruh media flash card terhadap pembelajaran kosa kata bahasa Arab siswa SD Negeri Tlogorejo Sukodadi Lamongan. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan desain one group pre-test dan post-test, yakni satu kelas diberi treatment dan jumlah siswa adalah 17 orang. Instrument dalam penelitian ini adalah lembar observasi, soal pre-test dan post test, dan dokumentasi. Analisis data menunjukkan bahwa rata-rata nilai pre-test sebesar 75,4, dan post-test sebesar 81,76, artinya terdapat peningkatan nilai siswa sebesar 6,35. Adapun untuk mengetahui pengaruh media flash card terhadap pembelajaran kosa kata, digunakan analisis t-test. Dengan bantuan software SPSS 22.0 for windows diperoleh t-hitung sebesar -7.540 dengan P value (signifikansi) 0,000. Angka ini menunjukkan bahwa t hitung > -t table (-7.540 > 2.602). Kurva t-hitung dan t-tabel menunjukkan bahwa t-hitung yang berada di area Ho ditolak dengan demikian Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media flash card berpengaruh terhadap pembelajaran kosa kata bahasa Arab siswa kelas 1 SD Negeri Tlogorejo Sukodadi Lamongan.
BAHASA, PIKIRAN, BUDAYA DAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF BAHASA ARAB
Sampiril Taurus Tamaji
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 6 No 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (298.069 KB)
Bahasa adalah salah satu anugrah Tuhan yang memungkinkan manusia untuk mengelola pikirannya dan mengendalikan pengaruh luar terhadap pikirannya. Manusia sebagaimana halnya makhluk lainnya berinteraksi dengan lingkungannya dan memroses data dari organ pancaindranya untuk mencinptakan suatu reprsentasi utama dari dunia. Pikiran dan bahasa pada tahap permulaan berkembang secara terpisah, dan tidak saling mempengaruhi. Jadi, mula-mula pikiran berkembang tanpa bahasa, dan bahasa mula-mula berkembang tanpa pikiran. Lalu, pada tahap berikutnya, keduanya bertemu dan bekerjasama serta saling mempengaruhi. Bertulah, kanak-kanak berpikir dengan menggunakan bahasa dan berbahasa dengan me nggunakan pikiran. Dalam kehidupan sehari-hari bahwa bahasa termasuk aktivitas manusia, kegiatan seseorang dengan orang lain atau kelom social tertentu. Bila bahasa seseorang dengan orang lain (kelompok social) tertentu, peristiwa itu disebut bebicara (talking, conversation). Sedangkan bila seseorang berbicara dengan dirinya sendiri sebagai suatu aktivitas individual disebut peristiwa berpikir (thinking inner speech). Maka, dengan demikian dalam ilmu psikolinguistik ada kajian khusus yang membahas; Apa pengertian berbahasa, berpikir, berbudaya dan pendekatan komunikatif belajar bahasa arab?
INTERNALISASI NILAI TOLERANSI BERAGAMA
Moch. Sya’roni Hasan
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 6 No 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (428.724 KB)
Penelitian ini mengkaji tentang Internalisasi Nilai Toleransi Beragama di Desa Jarak Kec. Wonosalam Kab. Jombang. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang berjenis studi kasus. Dalam pengumpulan data digunakan metode observasi peran serta, wawancara mendalam dan dokumentasi. Teknik analisis datanya menggunakan model beberapa komponen yang saling berkaitan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untuk pengecekan keabsahan data digunakan perpanjangan penelitian, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil penelitian ini adalah Masyarakat Desa Jarak memiliki sikap inklusif dan pluralis dalam beragama. Kemudian Proses internalisasi nilai toleransi melalui Transformasi nilai: Tokoh Agama sekedar menginformasikan nilai-nilai yang baik dan buruk kepada masyarakat sesuasi ajaran agama masing – masing, yang sifatnya semata-mata merupakan komunikasi verbal. Transaksi nilai: suatu tahap yang dilakukan dengan jalan melakukan komunikasi dua arah antara Tokoh agana (guru) dan Masyarakat (siswa) dengan memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi ini bersifat interaksi timbal balik. Tekanan dan komunikasi dua arah masih menitik beratkan fisik dari pada komunikasi batin. Tokoh agama yang sebagai Pendidik mengajarkan nilai yang baik dan memberi contoh, kemudian peserta didik atau masyarakat diminta untuk mencontoh. Selanjutnya, Transinternalisasi.Tahap ini lebih dari sekedar transaksi, dalam tahap ini penampilan pendidik bukan lagi sosok fisiknya, melainkan sikap mental dan kepribadiannya. Dalam proses transinternalisasi terjadi komunikasi batin antara pendidik dan peserta didik. Sedangkan Metode yang digunakan dalam Internalisasi Nilai Toleransi adalah mauidhoh Hasanah, Peneladanan, Pembiasaan. Selain itu juga bisa menggunakan metode yang lain seperti memberi motivasi, ibrah atau amtsal
AKHLAK DALAM PRESPEKTIF SEJARAH
Mahbub Junaidi
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 6 No 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (322.335 KB)
Akhlak sudah ada dan muncul sejak adanya manusia pertama kali. Dengan kata lain akhlak telah menjadi tatanan normatif yang mengatur kehidupan manusia pertama tersebut dalam beriteraksi dengan Tuhan dan lingkunganya. Lebih jauh dapat dimaknai, bahwa akhlak muncul bersamaan dengan munculnya manusia pertama kali, walaupun akhlak belum terdefinisikan secara ilmiah saat itu. Namun demikian, secara ilmiah belum ada penyeledikian akhlak pada masa nabi Adam tersebut. Kabar yang sampai kepada umat manusia periode berikutnya hanya melalui wahyu dan kitab suci agama-agama samawi. Nabi-nabi menceritakan dan menjelaskan apa yang disampaikan Tuhan melalui wahyu untuk menjadi pelajaran bagi umatnya masing-masing di setiap periode nabi. Apabila ditinjau secara Ilmiah, penyelidikan akhlak untuk pertama kali dilakukan oleh filosof yunani yang bernama Socrates (murid Phytagoras). Pada mulanya para filosof Yunani tidak banyak yang memperhatikan hal ini (akhlak), kebanyakan mereka disibukkan dalam menyelidiki alam raya, asal usul dan gejala di dalamnya. Setelah itu akhlak mengalami perkembangan pesat dari generasi ke generasi hingga lintas peradaban dan bangsa
KONTRIBUSI SUNAN AMPEL (RADEN RAHMAT) DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Muslimah Muslimah;
Lailatul Maskhuroh
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 6 No 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (291.45 KB)
Umat Islam merupakan mayoritas penduduk Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, Pattani (Thailand Selatan) dan Brunei. Proses konversi massal masyarakat dunia Melayu-Indonesia ke dalam Islam berlangsung secara damai. Konversi ke dalam Islam merupakan proses panjang, yang masih terus berlangsung sampai sekarang. Islamisasi itu lebih intens dan luas sejak akhir abad ke-12. Meskipun terjadi beberapa teori tentang kedatangan Islam di Asia tenggara, bahwa pedagang muslim dari kawasan Jazirah Arab telah hadir di beberapa tempat di Nusantara, sejak abad ke-7 akan tetapi tidak ada bukti yang memadai bahwa mereka memusatkan diri pada kegiatan penyebaran Islam di Indonesia.[1] Ulama menjadi salah satu yang punya peran penyebaran Islam di nusantara, karena nusantara pada awalnya berbentuk kerajaan-kerajaan. Dengan penyebaranIslam secara massif (dengan pernikahan putri majapahit dan melalui adat budaya masyarakat setempat,akulturasi nilai-nilai Islam sampai pada masyarakat secara luas). Adapun kontribusi sunan Ampel dalam pendidikan Islam adalah :a). Fungsi pendidikan inspiratif untuk Fungsi ini lebih menekankan pada fungsi traditional sebagai fungsi konservator budaya. Dalam fungsi ini, Sunan Ampel memberikan warna Islami terhadap tradisi yang berlaku dimasyarakat. b). Tujuannya berupa memperbaiki moral dan mengajak masyarakat untuk beriman kepada Allah. Sebelum mengajak masyarakat masuk Islam, Sunan Ampel terlebih dahulu mengajak penguasa Majapahit untuk masuk Islam c). Unsur pendidikan Islam yaitu pendidik sebagai fasilitator, dan sunan Ampel menggunakan metode demonstrasi atau eksperimen dan metode insersi atau sisipan. [1] Rahmawati, Islam Di Asia Tenggara, Jurnal Rihlah Vol.II No.I 2014, 104.
SUPERVISI AKADEMIK BERKELANJUTAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM MENYUSUN SILABUS DAN RPP DI SMA NEGERI BARENG KAB. JOMBANG
Ahmad Ahmad
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 6 No 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (152.828 KB)
Pendidikan adalah proses merubah manusia menjadi lebih baik, lebih mahir dan lebih terampil. Dalam strategi pembelajaran terkandung tiga hal pokok yakni perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Perencanaan program berfungsi untuk memberikan arah pelaksanaan pembelajaran sehingga menjadi terarah dan efisien. Salah satu bagian dari perencanaan pembelajaran yang sangat penting dibuat oleh guru sebagai pengarah pembelajaran adalah silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun silabus dan RPP melalui supervisi berkelanjutan di SMA Negeri Bareng, Jombang. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Pada siklus pertama, tindakan yang dilakukan adalah penerapan supervisi pertemuan individual. Hasil yang diperoleh adalah adanya peningkatan kuantitas silabus dan RPP yang disusun oleh guru, dari 73% guru yang mengumpulkan menjadi 100%. Begitu pula dari sisi kualitas terjadi peningkatan meningkatnya jumlah silabus dan RPP guru yang baik dari 56% menjadi 100%. Pada siklus kedua, dilakukan tindakan supervisi observasi kelas untuk menguji orisinalitas silabus dan RPP yang telah disusun. Hasil yang diperoleh adalah 100% silabus dan RPP yang telah dikumpulkan oleh guru bersifat orisinil (karya sendiri), hal tersebut terlihat dengan cukup besarnya kemampuan guru untuk melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang dibuat. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa supervisi akademik secara berkelanjutan terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun silabus dan RPP di SMA Negeri Bareng, Jombang
KONTROVERSI MAKNA MAJAZ DALAM MEMAHAMI HADIS NABI
Khotimah Suryani
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 6 No 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (517.565 KB)
Pemaknaan secara majaz dalam bahasa Arab memiliki porsi yang besar dan luas bila disandingkan dengan pemaknaan secara harfiyah, makna asal, makna letterlijk atau makna tekstual. Rasulullah SAW adalah orang yang paling tepat (afshah) ketika melafalkan huruf dalam ungkapan berbahasa Arab. Artinya; Rasulullah adalah orang yang paling mengerti melafalkan ungkapan-ungkapan berbahasa Arab yang bermakna majaz. Dalam penerapannya sebagai sebuah metode, teori atau pendekatan untuk memahami ayat al-Qur’an dan hadis Nabi makna majaz tidak secara otomatis bisa diterima oleh masyarakat muslim secara keseluruhan. Ada kelompok yang bisa menerima dan ada kelompok yang menolak. Mencermati problematika pemaknaan hadis secara majaz, ditambah dengan terjadinya pro dan kontra di kalangan ulama, maka dalam makalah ini perlu dirumuskan: (1) bagaimana dialektika makna majaz; (2) bagaimana penerapan makna majaz pada hadis-hadis ahkam; (3) apa bahayanya jika makna majaz ditutup; (4) apa saja batasan-batasan makna majaz; serta (5) bagaimana penolakan Ibnu Taimiyah atas makna majaz. Untuk mendapatkan jawaban dari berbagai rumusan masalah di atas, tulisan ini disajikan menggunakan metode deskriptif-analitik. Penyajian data dilakukan secara deskriptif lalu dilakukan analisis, kemudian diakhiri dengan penyimpulan. Setelah dilakukan pemaparan dan analisis tentang persoalan tersebut maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut: (a) Memahami hadis dengan makna majaz terkadang menjadi keharusan karena hadis tersebut mengharuskan untuk diapahami seperti itu. Jika tidak maka pemahamannya menjadi salah dan tidak bisa diterima. Pemahaman yang salah atas content hadis bisa terjadi kepada siapa saja, tak terkecuali para sahabat Nabi dan isteri-isteri Nabi; (b) Semua alur pemaknaan hadis hakikatnya menolak makna hakiki (letterlijk) jika dengan makna hakiki itu menjadikan sempit ruang agama itu sendiri, sehingga agama tidak bisa diterima secara sukarela, ditolak akal sehat, tidak realistis dan tidak dibenarkan ilmu pengetahuan; (c) Pemaknaan secara majaz tidak hanya terbatas pada hadis yang content-nya bersifat non-ahkam, namun terjadi pula pada hadis-hadis ahkam. Seorang mufti bisa mengeluarkan fatwa yang salah sekalipun bersumber dari dalil yang shahih jika mereka memaknai secara tekstual atas hadis-hadis yang mengharuskan untuk dimaknai secara majaz; (d) Menutup makna majaz akan menyulitkan ulama dalam memahami hadis Nabi, bahkan menyulitkan atas Islam itu sendiri. Ulama moderen dan kalangan terpelajar beranggapan bahwa menutup makna majaz dapat menimbulkan keraguan atas kebenaran Islam jika dalil-dalil agama hanya dimaknai secara dhahir; (e) Bila teks-teks hadis dipahami secara ta’wil (yang hal ini merupakan bagian dari majaz) maka bisa mengkhawatirkan salah makna jika pemahaman tersebut tidak dibenarkan logika bahasa (‘aql), dalil agama (naql) dan kaidah-kaidah al-‘ulum al-‘arabiyyah; (f)Penolakan Ibnu Taimiyah atas makna majaz dalam teks-teks keagamaan semata-mata karena kehati-hatian untuk tidak tergerus arus pemikiran yang secara berlebihan memahami teks keagamaan dengan majaz yang overdosis. Oleh karena itu ia mengembalikan pemahaman teks keagamaan kepada makna tekstual sebagaimana yang dilakukan ulama sebelumnya.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS DENGAN MENGGAMBAR DEKORATIF PADA KELOMPOK BERMAIN (KB) BUDI UTOMO PULOKULON KECAMATAN PULOKULON KABUPATEN GROBOGAN
Sri Utami;
Suwarno Suwarno
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 6 No 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (595.013 KB)
Kemampuan motorik halus pada anak tidak akan berkembang dengan sendirinya, melainkan harus mempelajari keterampilan yang memicu motorik halus tersebut. Maka sejak usia dini dalam pengembangan motorik halus anak diperlukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan dapat menstimulus perkembangan motorik halus anak. Kegiatan tersebut dilakukan melalui aktifitas bermain. Gerakan motorik anak akan berdampak positif pada aspek perkembangan yang lainnya. Kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan motorik halus salah satunya adalah menggambar dekoratif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji kegiatan menggambar dekoratif terhadap peningkatan kemampuan motorik halus pada anak usia dini dalam menerapkan menggambar dekoratif KB Budi Utomo Desa Pulokulon Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan. Metode penelitian menggunakan penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaborasi antara guru dengan peneliti dengan menggunakan 2 siklus. Perbaikan dilakukan pada setiap siklus yang dirancang peneliti. Populasi dalam penelitian ini adalah anak KB Budi Utomo Pulokulon Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan yang berjumlah 20 anak. Peneliti dibantu mitra guru sebagai kolabolator. Data diperoleh dengan observasi, wawancara dan unjuk kerja. Hasil penelitian menunjukan bahwa, penerapan metode menggambar dekoratif dapat meningkatkan kemampuan motorik halus. Data prosentase rata-rata meningkat menjadi 69% dari hasil pra siklus yang hanya mencapai 52%, dengan pencapaian prosentase ketuntasan klasikal semakin meningkat menjadi 17%. Selanjutnya dilaksanakan kembali kegiatan perbaikan pembelajaran pada siklus II, diperoleh hasil prosentase rata-rata hasil evaluasi belajar anak semakin meningkat menjadi 81% dari siklus I yang hanya mencapai 69%, dengan pencapaian prosentase ketuntasan klasikal semakin meningkat menjadi 12%. Kesimpulan yang dapat di ambil dengan metode menggambar dekoratif dapat meningkatkan kemampuan motorik halus.