cover
Contact Name
Maruatal Sitompul
Contact Email
m.sitompoel@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.oldi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
OLDI (Oseanologi dan Limnologi di Indonesia)
ISSN : 01259830     EISSN : 2477328X     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is a scientific journal that publishes original research articles and reviews about all aspects of oceanography and limnology. Manuscripts that can be submitted to Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is the result of research in marine and inland waters in Indonesia. Submissions are judged on their originality and intellectual contribution to the fields of oceanography and limnology
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 2 (2016)" : 8 Documents clear
Stratifikasi Massa Air di Teluk Lasolo, Sulawesi Tenggara Surinati, Dewi; Kusmanto, Edi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teluk Lasolo merupakan kawasan pelestarian alam yang harus didukung dengan data dan informasi oseanografi perairan. Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui stratifikasi massa air di Teluk Lasolo pada tanggal 10–19 Juli 2011. Data suhu dan salinitas diperoleh menggunakan CTD SBE 911 Plus yang terpasang di Kapal Riset Baruna Jaya VIII dengan interval 24 data per detik. Data arus diperoleh menggunakan Vessel Mounted Acoustic Doppler Current Profiler (VMADCP) dengan interval dua detik. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecepatan dan arah arus dalam kolom air yang menyebabkan stratifikasi massa air. Arus yang mendorong massa air Laut Banda masuk ke Teluk Lasolo disebabkan oleh angin tenggara dengan kecepatan rata-rata 4,1 m/s. Pada  kedalaman 0–50 m dan 100–200 m dominasi arus terjadi ke arah barat laut, sedangkan pada kedalaman 50–100 m dan 200–350 m ke arah selatan. Massa air dengan salinitas 32,1–34,0 PSU dan suhu 26–28°C menempati lapisan permukaan (0–50 m). Massa air dengan salinitas 34,4–34,5 PSU yang teridentifikasi sebagai massa air North Pacific Intermediate Water (NPIW) menempati dua kedalaman, yaitu  50–100 m dan  200–350 m dengan kisaran suhu yang berbeda. Massa air dengan salinitas maksimum (34,5–34,6 PSU) yang teridentifikasi sebagai  massa air North Pacific Subtropical Water (NPSW) juga menempati dua kedalaman dengan kisaran suhu yang berbeda pula, yaitu pada kedalaman 100–200 m dan  350 m hingga mendekati dasar
Fluks CO2 di Perairan Pesisir Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat Afdal, Afdal
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah pesisir dan laut memainkan peranan penting dalam pengaturan iklim dengan menyerap CO2 dan bertukar karbon dengan berbagai kompartemen penyimpan karbon seperti atmosfer, daratan, dan biota. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertukaran CO2 antara permukaan air laut dan atmosfer di perairan pesisir Pulau Lombok beserta komponen penyerap dan pelepasnya, serta parameter yang berpengaruh terhadap proses tersebut. Penelitian dilakukan pada bulan April 2012 di perairan Teluk Sekotong (10 stasiun) dan Teluk Kodek (6 stasiun). Tekanan parsial (pCO2) dan fluks CO2 di permukaan laut dihitung dengan menggunakan model ABIOTIC dari ocean carbon cycle model intercomparison project phase-2 (OCMIP-2). Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum, perairan Teluk Kodek dan Teluk Sekotong bagian luar adalah penyerap CO2, sedangkan perairan Teluk Sekotong bagian dalam berperan sebagai pelepas CO2. Fluks CO2 di perairan Teluk Sekotong berkisar dari -0,61 hingga 0,52 mmol.m-2.hari-1, sedangkan di Teluk Kodek berkisar dari -0,80 hingga -1,84 mmol.m-2.hari-1 dengan rata-rata 0,05 ± 0,40 dan -1,29 ± 0,40 mmol.m-2.hari-1. Teluk Kodek berperan sebagai penyerap CO2 dari atmosfer karena dipengaruhi oleh massa air Selat Lombok yang mempunyai konsentrasi nutrien dan klorofil yang tinggi. Keberadaan ekosistem lamun dan terumbu karang yang mendukung pulau-pulau kecil yang ada di Teluk Kodek turut mengurangi peningkatan pCO2 kolom air dan memperkuat penyerapan CO2 di perairan tersebut. Teluk Sekotong bagian dalam berperan sebagai pelepas CO2 karena perairan Teluk Sekotong cenderung lebih tertutup, sehingga waktu tinggal massa air menjadi lebih lama yang mengakibatkan peningkatan pengayaan DIC dan pCO2.
Distribusi Spasial dan Temporal Nutrien di Danau Tempe, Sulawesi Selatan Aisyah, Siti; Nomosatryo, Sulung
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsentrasi nutrien dalam proses eutrofikasi memiliki peran penting dalam produktivitas perairan tawar. Danau Tempe merupakan kawasan konservasi sumber daya air yang telah mengalami degradasi, diindikasikan dari pendangkalan dan gulma air yang berlimpah. Hal ini mengakibatkan daya dukung danau tersebut menjadi menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi dan sebaran spasiotemporal nutrien di Danau Tempe sebagai dasar pengelolaan perairan danau. Sampel air diambil menggunakan Kemmerer water sampler pada bulan April, Juli, dan Oktober 2013 di tujuh stasiun. Oksigen terlarut, pH, suhu, dan transparansi diukur secara in situ, sedangkan N-Nitrit, N-Nitrat, N-Amonium, TN, ortofosfat, dan TP beserta parameter pendukung seperti COD, TOM, dan klorofil-a dianalisis di laboratorium menggunakan metode menurut Standard Method. Hasil penelitian memperlihatkan nilai konsentrasi N dan P bervariasi di semua lokasi pengamatan. Nilai konsentrasi N-Nitrat, TN, dan TP cenderung tinggi pada bulan Oktober, sedangkan konsentrasi N-Nitrit, N-Amonium, dan ortofosfat cenderung tinggi pada bulan April. Analisis PCA menunjukkan kondisi kualitas air di Danau Tempe dicirikan oleh senyawa N dan P. Konsentrasi rata-rata TN dan TP di Danau Tempe yang tinggi dengan nilai masing-masing sebesar 1,386 mg/L dan 0,198 mg/L menunjukkan bahwa Danau Tempe termasuk danau produktif dengan kategori perairan eutrofik dan Nitrogen sebagai faktor pembatas kesuburan danau. Pengayaan nutrien yang terus berlanjut akan berdampak buruk terhadap kualitas perairan Danau Tempe
Table of contents and Editorial board OLDI, Redaksi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karang Lunak (Octocorallia: Alcyonacea) di Perairan Biak Timur Manuputty, Anna Eliseba Wildamina
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karang lunak merupakan invertebrata yang termasuk ke dalam filum Coelenterata. Anggota Octocorallia disebut karang lunak karena tidak memiliki kerangka keras untuk menyokong jaringan tubuh. Polip Octocorallia memiliki delapan tentakel yang bagian tepinya dikelilingi oleh pinnula yang tersusun dalam beberapa deret. Sampel karang lunak yang umum ditemukan di perairan dangkal tropis telah dikumpulkan dari perairan Biak Timur, Papua, pada tahun 2013. Pengambilan sampel dilakukan di 13 titik pengamatan, dengan penyelaman menggunakan peralatan selam SCUBA, dari perairan pesisir sampai kedalaman 20 m. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan komposisi taksa karang lunak di perairan Biak Timur.  Sebanyak 18 genus berhasil dikumpulkan, termasuk 3 genus baru untuk perairan ini, yaitu  Dampia, Paraminabea, dan Capnella, yang diuraikan secara rinci dalam tulisan ini, selain sebaran dan kelimpahan individu. Ketiga genus tersebut merupakan genus yang umum hidup di perairan dangkal dan pernah ditemukan di perairan Indonesia Timur yang lain, namun baru ditemukan di perairan Biak Timur pada saat penelitian ini. Keanekaragaman genus di lokasi ini termasuk sedang, berkisar 0,699–2,477, dengan nilai tertinggi dicatat di stasiun BIAL T1. Beberapa genus dari famili Nephtheidae mendominasi lokasi pengamatan dan membentuk koloni dari genus yang sama dengan sebaran yang cukup besar.
Moluska di Pulau Kabaena, Muna, dan Buton, Sulawesi Tenggara Cappenberg, Hendrik
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Kabaena, Muna, dan Buton di perairan Sulawesi Tenggara memiliki daerah rataan terumbu (reef flat) yang cukup luas dan kaya akan biota laut, termasuk moluska. Untuk mengetahui kondisi komunitas moluska di perairan tersebut, dilakukan penelitian pada bulan Mei 2006 di lima lokasi, yaitu di Pulau Kabaena (2 stasiun), Pulau Muna (1 stasiun), dan Pulau Buton (2 stasiun). Metode yang digunakan ialah metode transek kuadrat mulai dari tepi pantai tegak lurus ke arah laut (tubir). Dari penelitian ini didapat 74 spesies moluska yang terdiri dari 49 spesies dari kelas Gastropoda dan 25 spesies dari kelas Bivalvia. Polinices tumidus, Engina alveolata, Vexillum sp., dan Morula margariticola dari kelas Gastropoda serta Gafrarium tumidum, Tellina sp.1, dan Barbatia decussata dari kelas Bivalvia adalah moluska yang memiliki penyebaran relatif luas. Kepadatan moluska tertinggi terdapat di Teluk Kalimbungu (19,2 individu/m2) dan yang terendah di Lakeba (3,5 individu/m2). Haelicus variegatus merupakan spesies yang mendominasi substrat pasir di Teluk Kalimbungu. Moluska yang ditemukan dalam penelitian ini adalah spesies yang umum tersebar di perairan tropis. Nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) berkisar 1,54–2,88. Nilai ini menunjukkan keanekaragaman spesies moluska dalam kondisi sedang. Indeks kemerataan jenis (J’) berkisar 0,56–0,92 dan nilai indeks dominasi jenis (C) berkisar 0,08–0,40. Kedua nilai tersebut menunjukkan bahwa komunitas moluska di setiap lokasi penelitian berada dalam kondisi yang cukup baik.
Filogeni Timun Laut (Holothuroidea: Stichopodidae) Berdasarkan Karakteristik Morfologis Wirawati, Ismiliana; Purwati, Pradina
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembeda dalam kelas timun laut (Holothuroidea, Echinodermata) adalah morfologi eksternal, organ internal, dan spikula. Karakteristik tersebut bisa menunjukkan tingkat kemiripan yang tinggi untuk  famili tertentu, termasuk famili Stichopodidae. Famili ini merupakan salah satu famili Holothuroidea (Echinodermata) yang mewadahi sebagian besar spesies komersial yang tersebar luas di perairan dangkal tropis. Sampai saat ini, evolusi timun laut berdasarkan karakteristik morfologis yang digunakan untuk menentukan status karakteristik yang dapat diaplikasikan ke dalam analisis filogeni masih dalam perdebatan. Bahkan, untuk famili Stichopodidae sendiri, belum ada yang melakukan penelitian filogeninya. Tulisan ini melaporkan hasil studi filogeni yang ditujukan untuk melihat kedekatan antara spesies anggota Stichopodidae yang ada di Indonesia. Spesimen yang digunakan dalam penelitian ini merupakan spesimen koleksi Pusat Penelitian Oseanografi LIPI yang terdiri dari sembilan spesies Stichopodidae (sebagai ingroup) dan dua spesies  Holothuriidae (sebagai outgroup). Konstruksi pohon filogeni dilakukan dengan menerapkan metode maksimum parsimoni dan program PAUP 4.0b, menggunakan 78 karakteristik morfologis. Penelitian ini menghasilkan dua pohon filogeni yang memisahkan secara konsisten genus Stichopus dari genus Thelenota  (bootstrap 99% and 100%). Posisi dalam setiap genusnya stabil. Kedua genus dari Stichopodidae memiliki jumlah synapomorf yang sama. Stichopus memiliki sepuluh karakteristik homoplasi, sedangkan Thelenota tidak memilikinya. Enam dari sembilan spesies Stichopodidae memiliki karakteristik autapomorf yang dapat digunakan sebagai karakteristik tingkat spesies
Status Trofik Ikan Karang dan Hubungan Ikan Herbivora dengan Rekrutmen Karang di Perairan Pulau Pari, Teluk Jakarta Wibowo, Kunto; Abrar, Muhammad; Siringoringo, Rikoh Manogar
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keanekaragaman jenis dan kelimpahan ikan karang merupakan salah satu petunjuk tentang kesehatan ekosistem terumbu karang. Berdasarkan status trofiknya, ikan herbivora menjadi kelompok yang penting sebagai pengontrol populasi algae yang secara spasial merupakan kompetitor karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi keanekaragaman jenis ikan karang di perairan Pulau Pari dan hubungan ikan herbivora dengan rekrutmen karang. Penelitian dilakukan di lima stasiun ekosistem terumbu karang di Pulau Pari dan sekitarnya pada bulan Maret 2014. Pengumpulan data ikan karang dilakukan dengan cara pengamatan bawah air menggunakan transek sabuk sepanjang 70 m dan lebar 5 m. Pencatatan rekrutmen karang dilakukan dengan menggunakan transek 1 x 1 m2  sebanyak 9 kali ulangan. Tercatat sebanyak 121 spesies ikan karang yang tergolong dalam 25 genera dan 20 famili. Pomacentridae, Labridae, dan Chaetodontidae merupakan tiga famili dengan keanekaragaman spesies tertinggi. Kelimpahan ikan herbivora bervariasi antara stasiun, dari 4 hingga 52 individu dalam setiap transek. Rekrutmen karang di perairan Pulau Pari tergolong rendah, yaitu 3,22 koloni/m2. Namun, hasil regresi menunjukkan kelimpahan ikan herbivora berkorelasi positif dengan kepadatan karang muda. Kelimpahan ikan herbivora dan kepadatan karang muda di perairan Pulau Pari belum menunjukkan potensi maksimal bagi pemulihan karang setelah mengalami kerusakan. Rekrutmen karang yang rendah dalam ekosistem di perairan Pulau Pari ini juga disebabkan oleh sedimentasi, suhu, pola arus, dan salinitas.  

Page 1 of 1 | Total Record : 8