cover
Contact Name
Maruatal Sitompul
Contact Email
m.sitompoel@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.oldi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
OLDI (Oseanologi dan Limnologi di Indonesia)
ISSN : 01259830     EISSN : 2477328X     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is a scientific journal that publishes original research articles and reviews about all aspects of oceanography and limnology. Manuscripts that can be submitted to Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is the result of research in marine and inland waters in Indonesia. Submissions are judged on their originality and intellectual contribution to the fields of oceanography and limnology
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2017)" : 8 Documents clear
Pola Arus Permukaan dan Kondisi Fisika Perairan di Sekitar Pulau Selayar pada Musim Peralihan 1 dan Musim Timur Bayhaqi, Ahmad; Iskandar, Mochamad Riza; Surinati, Dewi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Indonesia merupakan media penghubung antara massa air dua Samudera yakni Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Salah satu jalur masuk massa air Samudera Pasifik ke perairan Indonesia adalah Selat Makassar dan bergerak menuju Laut Flores/Banda. Keberadaan Pulau Selayar memegang peranan penting dalam membentuk resirkulasi massa air tersebut dan berpotensi mempengaruhi kondisi perairan di sekitar pulau. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pola arus,  kondisi fisika perairan seperti suhu dan temperatur pada kondisi musim yang berbeda. Metode yang digunakan ialah pengukuran langsung di lapang menggunakan Conductivity Temperature Depth (CTD), Recording Current Meter (RCM) Seaguard Aanderaa dan Current Drogue pada 29 titik pengamatan. Hasil kajian menunjukkan arus bergerak ke arah timur menuju pulau Selayar dengan kecepatan rerata 0,25 m/s saat bulan Mei dan 0,26 m/s saat bulan Agustus. Kondisi temperatur perairan pada bulan Agustus lebih rendah sebesar 2°C dan nilai salinitas lebih tinggi sebesar 0.5 psu dibandingkan bulan Mei. Perbedaan  kecepatan arus cenderung lebih dipengaruhi kondisi pasang surut lokal,sedangkan kondisi fisika perairan yang berbeda lebih dipengaruhi oleh faktor klimatik lokal seperti curah hujan, angin dan aliran debit sungai. 
Kajian Metode Klasifikasi Citra Landsat-8 untuk Pemetaan Habitat Bentik di Kepulauan Padaido, Papua Hafizt, Muhammad; Iswari, Marindah Yulia; Prayudha, Bayu
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki luasan terumbu karang mencapai 39.583 km2. Terumbu karang tersebut perlu dikelola secara efektif dan efisien salah satunya dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh yang mampu memetakan tutupan habitat bentik (terumbu karang, padang lamun, makroalga dan substrat terbuka). Teknologi tersebut saat ini telah didukung oleh ketersediaan citra satelit Landsat 8 yang telah merekam seluruh wilayah Indonesia secara temporal, termasuk perairan. Penelitian ini dilakukan di sebagian kepulauan Padaido. Karena memiliki tingkat kerusakan terumbu karang yang tinggi dan representatif digunakan pada citra Landsat 8. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan dua metode klasifikasi yaitu berbasis piksel menggunakan maximum likelihood (ML) dan berbasis objek menggunakan example based feature extraction workflow yang diterapkan pada citra hasil koreksi kolom air (lyzenga). Kedua metode klasifikasi ini menghasilkan peta habitat bentik dengan 7 kelas tutupan. Hasil klasifikasi berbasis piksel menggunakan metode maximum likelihood (ML) merupakan teknik klasifikasi terbaik karena memiliki nilai overall accuracy 47,57%, sedangkan klasifikasi berbasis objek hanya 36,17%. Peta habitat bentik hasil klasifikasi ML  selanjutnya dapat menjadi sumber data tutupan habitat bentik di kepulauan Padaido dan kedepannya metode ini dapat dimanfaatkan untuk melengkapi data tutupan habitat bentik di seluruh Indonesia.
Table of contents and Editorial board OLDI, Redaksi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Validasi Potensi Tsunami Berdasarkan Estimasi Durasi Patahan dan Pemodelan Tsunami di Wilayah Barat Sumatra (Studi Kasus: Gempa Bumi Nias 2005 dan Mentawai 2010) Khoiridah, Sayyidatul; Ibad, Moh Ikhyatul; Setyonegoro, Wiko
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan di wilayah barat Sumatra untuk mengetahui karakteristik gempa pembangkit tsunami melalui hasil estimasi durasi patahan dan pemodelan tsunami. Studi kasus dilakukan dari kejadian gempa bumi Nias 28 Maret 2005 dan Mentawai 25 Oktober 2010, yaitu dengan mengestimasi karakteristik potensi tsunami yang terjadi di wilayah barat Sumatra berdasarkan durasi patahan dan divalidasi dengan pemodelan tsunami. Metode untuk validasi potensi tsunami dilakukan dengan menganalisis sumber gempa bumi (source modeling), penjalaran gelombang tsunami (ocean modeling), dan ketinggian tsunami (run-up tsunami). Hasil estimasi penelitian menunjukkan durasi patahan gempa bumi Nias 2005 dan Mentawai 2010 lebih dari 50 detik. Hal ini menjelaskan kedua gempa bumi tersebut berpotensi tsunami. Hasil dari source model adalah propagasi tsunami pada menit ke 58 lebih 20 detik sudah menjalar ke beberapa daerah di dekat sumber gempa bumi Nias. Daerah terdampak tsunami di Nias meliputi Pulau Salaut, bagian barat laut Simeulue, bagian barat daya Simeulue, Pulau Babi, Pulau Bangkuru, Pulau Tuangku, Singkil, Sarangbaung, Pulau Asu, barat daya Lagundri Nias, dan barat laut Pulau Batu dengan kenaikan tertinggi berada di Pulau Babi, yaitu 13,80 m. Lebih lanjut, daerah terdampak tsunami di Mentawai meliputi Pantai Batimonga, Pantai Ghobi, Pantai Tumale, Pantai Pasangan, Pantai Sabeugunggung, Pantai Malacopa, dan Pantai Asahan dengan nilai run-up tertinggi berada di Pantai Malacopa, yaitu 8,17 m.
Potensi Makroalga di Paparan Terumbu Karang Perairan Teluk Lampung Handayani, Tri
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teluk Lampung merupakan daerah strategis yang berkembang cukup pesat. Kondisi ini akan memberikan tekanan terhadap ekosistem pesisir sebagai muara dari seluruh aktivitas daerah di sekitarnya. Makroalga yang merupakan salah satu komponen di ekosistem pesisir juga turut mendapat tekanan. Untuk itu, perlu diketahui kekayaan spesies, potensi, dan sifat hidup makroalga yang ada di perairan Teluk Lampung. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2009, di delapan lokasi, yaitu Piabung, Klagian, Pancur, Limbungan, Puhawang Barat, Puhawang Timur, Puhawang Kecil, dan Kalangan. Sampel makroalga diperoleh dengan metode transek kuadrat. Parameter yang diamati adalah spesies, biomassa, substrat, dan sifat hidup makroalga. Sebanyak 27 spesies makroalga berhasil diidentifikasi yang terdiri dari tiga divisio dan 17 genus. Divisio Chlorophyta sebanyak sembilan spesies, Ochrophyta sebanyak sembilan spesies dan Rhodophyta sebanyak sembilan spesies. Sembilan belas spesies merupakan makroalga yang memiliki nilai ekonomis penting. Jumlah spesies makroalga tertinggi ditemukan di Pancur, sedangkan terendah di Kalangan.Genus yang mendominasi lokasi penelitian adalah Halimeda dan Caulerpa. Biomassa rata-rata tertinggi diPancur 675,5 g/m2, sedangkan di Kalangan tidak ditemukan makroalga. Substrat dasar didominasi oleh pasir. Kondisi substrat dasar berpengaruh terhadap jumlah spesies dan sifat hidup makroalga. Secara umum, sumber daya makroalga di perairan Teluk Lampung tidak berpotensi untuk dikembangkan, sedangkan Sargassum di Pancur memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bibit.
Keanekaragaman Moluska di Ekosistem Pesisir Biak Selatan, Papua Aji, Ludi Parwadani; Widyastuti, Andriani
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah pesisir Pulau Biak terdiri dari tiga ekosistem utama, yaitu hutan bakau, padang lamun, dan terumbu karang tempat hidup berbagai jenis moluska. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai keanekaragaman dan struktur komunitas moluska bentik (gastropoda dan bivalvia) di daerah pesisir perairan Biak. Keanekaragaman moluska di perairan Biak Selatan diteliti pada bulan September 2011. Penelitian dilaksanakan di 4 lokasi, yaitu Paray, Ambroben, Yenures, dan Sorido dengan setiap lokasi terdiri dari 2 stasiun. Metode sampling yang digunakan adalah transek garis kuadrat mulai dari daerah pasang surut dari pantai menuju laut. Moluska epifauna dan infauna yang didapatkan di dalam transek dihitung dan diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman moluska bentik cukup tinggi karena ditemukan 94 spesies yang terdiri dari 75 gastropoda dan 19 bivalvia. Gastropoda dengan persebaran tertinggi yang ditemukan di semua stasiun adalah Nassarius sp., sedangkan pada bivalvia adalah Tellina sp. Nilai tertinggi indeks keanekaragaman jenis (H) adalah 2,96 yang didapatkan di perairan Paray 1 dan terendah adalah 0,58 di perairan Yenures 1. Indeks kemerataan (E) dan indeks dominansi (D) berkisar 0,27–0,96 dan 0,06–0,72. Indeks kekayaan jenis (d) berkisar 2,89–6,84 dan indeks kesamaan berkisar 3,90–42,40.
Kondisi dan Keanekagaragaman Karang Batu di Perairan Sabang Utama, Rizkie Satriya; Budiyanto, Agus
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara global terumbu karang sedang menghadapi berbagai macam ancaman, baik yang bersifat alami maupun akibat kegiatan manusia. Terumbu karang di perairan Sabang pada tahun 2004 terkena tsunami dan pada tahun 2010 terjadi kenaikan suhu permukaan air laut yang mengakibatkan pemutihan. Hal ini mengakibatkan kematian karang batu secara massal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terkini dan keanekaragaman karang batu di perairan Sabang. Penelitian dilaksanakan pada Mei 2015 di sepuluh stasiun yang tersebar di empat pulau, yaitu Pulau Weh, Pulau Rondo, Pulau Breueh, dan Pulau Nasi Besar. Tutupan karang dihitung dengan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT). Hasil foto dianalisis menggunakan program CPCe 4.1 dengan jumlah 30 titik acak dalam setiap bingkai. Jumlah spesies dan jumlah koloni karang dihitung berdasarkan jumlah spesies dan koloni karang yang terdapat dalam bingkai foto di sepanjang transek. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh tutupan karang hidup yang berkisar 22,45–58,60% dengan tutupan karang hidup rata-rata sebesar 41,99%. Sepanjang transek ditemukan 148 spesies karang batu dari 37 genus dan 15 famili. Secara umum, karang batu di perairan Sabang berada dalam kondisi cukup baik, tidak berbeda dari kondisi terumbu karang pada tahun 2005. Perairan yang terbuka memberikan dampak positif bagi pertumbuhan karang, terutama dari genus Acropora.
Kandungan Merkuri dalam Ikan Konsumsi di Wilayah Bantul dan Yogyakarta Suratno, Suratno; Cordova, Muhammad Reza; Arinda, Silke
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan merupakan salah satu sumber energi yang penting bagi tubuh dan memiliki banyak fungsi bagi kesehatan, sehingga banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Namun, ikan memiliki kemampuan mengakumulasi logam berat. Salah satu jenis logam berat yang berbahaya dan dapat terakumulasi dalam tubuh ikan adalah merkuri karena memiliki toksisitas tinggi pada konsentrasi rendah. Adanya pencemar dari kegiatan antropogenik yang tidak diolah terlebih dahulu membuat ikan berpotensi mengakumulasi logam berat. Penelitian ini mengkaji konsentrasi merkuri dalam ikan air tawar dan ikan air laut yang dikonsumsi oleh masyarakat Bantul dan Yogyakarta. Sampel ikan dikumpulkan pada 29–30 Agustus 2015 dari Pasar Prawirotaman, Supermarket, Tambak di Sungai Code, dan dibeli dari nelayan yang ada di Pantai Depok. Analisis konsentrasi merkuri dalam ikan dilakukan menggunakan mercury analyzer NIC MA-3000. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan dengan kebiasaan makan bentivora dan planktivora mengakumulasi merkuri lebih tinggi dibandingkan ikan omninora dan karnivora. Konsentrasi merkuri dalam ikan yang diteliti tidak melebihi standar ambang batas dari WHO, BPOM-RI, dan Standar Uni Eropa yang ditetapkan. Namun, hal ini perlu diwaspadai karena sifat merkuri yang bioakumulatif, terutama bila ikan yang dikonsumsi mengakumulasi merkuri secara terus-menerus dalam waktu yang lama.

Page 1 of 1 | Total Record : 8