cover
Contact Name
Reza Dino Mahardika
Contact Email
rezadino15@gmail.com
Phone
+6285782089890
Journal Mail Official
bioma@unj.ac.id
Editorial Address
Gd. Ki Hajardewantara Lt. 6-7 Universitas Negeri, RT.7/RW.14, Rawamangun, Kec. Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Bioma : Jurnal Biologi Indonesia
ISSN : 01263552     EISSN : 25809032     DOI : https://doi.org/10.21009/bioma.v21i2
Bioma is a national peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research from all area of biosciences fields such as biodiversity, biosystematics, ecology, physiology, behavior, genetics and biotechnology.
Articles 144 Documents
POTENSI KELELAWAR SEBAGAI VEKTOR ZOONOSIS: INVESTIGASI BERDASARKAN KEANEKARAGAMAN JENIS DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN KELELAWAR DI KOTA TANGERANG SELATAN Wijayanti, Fahma; Humaerah, Armaeni Dwi; Fitriana, Narti; Dardiri, Ahmad
Bioma Vol. 12 No. 1 (2016): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.102 KB) | DOI: 10.21009/Bioma12(1).2

Abstract

Zoonosis from bats to human in urban areas is a problem that must be investigated.This study aims to determine the species diversity in Tangerang Selatan City and human perception of bats. The study was conducted in July 2015 to November 2015. Bats were caught by mist nets and harp traps. Traps was placed purposively based on bats traffic at each study site. There are 3 sampling locations, each location, has been done for 4 nights with 3 mist net. Bats are found in South Tangerang City consisting of 5 spicies, namely: Cynopterus brachyotis, Cynopterus horsfieldii, Cynopterus titthaecheilus, Macroglossus sobrinus and Myotis muricola, with an index of species diversity was (H ‘= 1.68). Human perception and behavior in relation to the spread of zoonosis are at high scores (> 75), which means that the perception of the bat can keep them away from a zoonotic disease caused by bat.
STRUKTUR KOMUNITAS KARANG KERAS (BANGSA SCLERACTINIA) DI PULAU YANG BERADA DI DALAM DAN DI LUAR KAWASAN TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Fauziah, Shifa; Komala, Ratna; Hadi, Tri Aryono
Bioma Vol. 14 No. 1 (2018): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.349 KB) | DOI: 10.21009/Bioma14(1).6

Abstract

ABSTRAK Kepulauan Seribu merupakan wilayah barat Indonesia yang peruntukannya berubah, awalnya untuk pemukiman, perikanan dan pertambangan, saat ini diperuntukan untuk konservasi dan pariwisata. Hal ini diduga mempengaruhi struktur komunitas karang keras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas karang keras (Bangsa Scleractinia), di dalam dan luar kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan desain survei di dua zona. Pengambilan data dengan metode Underwater Photo Transect (UPT), dan pengolahan data foto menggunakan aplikasi CPCe. Data dianalisis secara kuantitatif. Analisis kuantitatif meliputi persentase tutupan, keanekaragaman, kemerataan dan dominansi. Hasil persentase tutupan karang keras yang didapat tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan di kedua zona. Persentase tertinggi berada pada Stasiun V (Pulau Karang beras) dan terendah pada Stasiun VI (Pulau Sekati). Keanekaragaman diseluruh stasiun berada dalam kategori sedang. Kemerataan marga karang keras diseluruh stasiun berada dalam kategori sedang hingga tinggi. Terdapat dominansi pada Stasiun I (Pulau Kotok besar) dan V (Pulau Karang beras) oleh marga Porites. Kata kunci : Karang keras, Kepulauan Seribu, Struktur komunitas
TRAIT-BASED STUDIES ON THE ABUNDANCE AND CANOPY SHADE PREFERENCES OF ASTERACEAE SPECIES IN CIBODAS BOTANICAL GARDEN Decky Indrawan Junaedi; Najwa Wafiyah Az Zahra; Andi Salamah
Bioma Vol. 15 No. 1 (2019): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.641 KB) | DOI: 10.21009/Bioma15(1).2

Abstract

ABSTRACT Knowledge of community structures and capacity to differentiate invasive from non-invasive species are essential for invasive species management. Specific Leaf Area (SLA) is a potential proxy to differentiate invasive from non-invasive species. This study aims to identify the relationship between Important Value Index (IVI) with SLA of Asteraceae species, and predict Asteraceae habitat preference based on shade characteristics at the Cibodas Botanical Garden. There is a positive correlation between SLA and IVI value of Asteraceae species in shaded habitat. The Asteraceae species that prefer shaded habitat tend to have larger SLA relative to species in open area (odds ratio = 2.754). This study showed that SLA is a potential proxy to indicate plant abundance and an informative proxy to predict habitat preferences in CBG ecosystem. These traits information are crucial for invasive exotic plant species management in CBG particularly and tropical botanic gardens in general. Keywords: invasive species, exotic species, SLA, logistic regression, trait, Cibodas, Asteraceae
HUBUNGAN KEKERABATAN FENETIK KULTIVAR KRISAN (Chrysanthemum morifolium Ramat.) DI PAKEM, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BERDASARKAN KARAKTER ANATOMIS DAUN DAN BATANG Farizka Diatrinari; Purnomo Purnomo
Bioma Vol. 15 No. 1 (2019): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.657 KB) | DOI: 10.21009/Bioma15(1).3

Abstract

Krisan (Chrysanthemum morifolium Ramat.) merupakan salah satu tumbuhan anggota famili Asteraceae yang biasa dibudidayakan dan digunakan untuk dekorasi, makanan dan minuman, dan obat-obatan. Menurut Balai Penelitian Tanaman Hias, sejak tahun 1998 sampai 2014 sudah terdapat 70 kultivar krisan yang telah dibudidayakan di Indonesia. Variabilitas yang tinggi tersebut menyebabkan perbedaan morfologis dan anatomis antara satu kultivar krisan dengan kultivar yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekerabatan fenetik kultivar krisan di Pakem, DIY, sebagai langkah awal dalam pemuliaan tanaman. Sampel yang dikoleksi adalah daun dan batang untuk dibuat preparat melintang, kemudian dikarakterisasi untuk analisis kluster dengan metode UPGMA (Unweight Pair-Group Average). Hubungan kekerabatan fenetik ditunjukkan dalam dendrogram dan didukung PCA (Principal Component Analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan fenetik kultivar krisan berdasarkan anatomis daun dan batang adalah berkerabat dekat.
BIODIVERSITAS KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA) DI KAWASAN CIINTANG,TAMAN NASIONAL UJUNG KULON, BANTEN Hasni Ruslan; Dwi Andayaningsih; Endang Wahyuningsih
Bioma Vol. 15 No. 1 (2019): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.979 KB) | DOI: 10.21009/Bioma15(1).1

Abstract

ABSTRAK Penelitian mengenai kupu-ku di kawasan Cilintang Taman Nasional Ujung Kulon masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui keanekaragaman kupu-kupu di sekitar kawasan tersebut. Penelitian kupu-kupu telah dilakukan pada tanggal 24-27 April 2017, menggunakan metoda sweeping dengan menggunakan kamera dan jala serangga. Penelitian dilakukan di empat habitat yang berbeda yaitu Pemukiman, Ekoton, Pantai, dan Hutan. Dari hasil penelitian ditemui kupu-kupu di Pemukiman 38 jenis dan 106 individu, di Ekoton terdapat 35 jenis dan 80 individu, di Pantai terdapat 35 jenis dan 255 individu, dan di Hutan ditemui 34 jenis dan 133 individu, yang terdiri dari suku Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycaenidae dan Hesperidae. Suku Nymphalidae merupakan suku yang tinggi jumlah jenis dan individu dibanding suku yang lain. Dari hasil penelitian didapatkan komposisi jenis kupu-kupu antar lokasi yang ditemukan tidak sama , indeks keanekaragaman jenis di empat lokasi tergolong sedang. Dari uji Hutchinson terdapat perbedaan yang tidak bermakna Pemukiman - Ekoton. Ekoton – Hutan, sedangkan, Pemukimaan - Pantai, Pemukiman - Hutan, Pantai - Hutan. Ekoton – Pantai, terdapat perbedaan bermakna. Kupu-kupu yang jumlah individu tinggi ditemukan pada jenis Junonia almana, dan Junonia atlites di Pemukiman. Junonia atlites dan Junonia hedonia di Ekoton. Jamides pura dan Jamides celeno di Pantai, dan di Hutan. Kata kunci: kupu-kupu, dominan, keanekaragaman, kesamaan, kemerataan ABSTRACT Research about butterflies in Cilintang area Ujung Kulon Natinal Park is still limited. The purpose of this research is to identify the butterflies’ diversity in that area. This research has been conducted in four different habitats i.e residence, ekoton, beach, and forest on 24-27 April 2017, using sweeping method with camera and bugs net. It is found that there are 38 species and 106 individuals in residence, 35 species and 80 individuals in ekoton, 35 species and 255 individuals in beach, and 34 species and 133 individuals in forest, consist of Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycanidae and Hesperidae tribe. Nymphalidae tribe holds the highest species and individuals. It is found that species composition between location is not the same, diversity index in four locations is categorized as medium. From Hutchinson test there is very little differences between residence - ekoton and ekoton - forest, while in residence - beach, residence - forest, beach - forest, ekoton - beach, there are significant differences. Junonia almana, and Junonia atlites have the highest dominace index in residence. J. Junonia atlites and Junonia hedonia have the highest dominace index in ekoton. Jamides pura and Jamides celeno have the highest dominace index in beach and forest. Keywords: butterfly, dominant, diversity, similarity, uniformity
TUNGAU DEBU RUMAH DI AREA KAMPUS UNIVERSITAS GADJAH MADA, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Pramestri Winda Windaswari
Bioma Vol. 15 No. 2 (2019): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma15(2).3

Abstract

House Dust Mites (HDM) is an aeroallergen that can be found in various parts of urban homes such as mattresses, windows, and office furniture. HDM is a member of Order of Acarina which plays important role in the medical field as the main trigger of allergic reactions of people with asthma, rhinitis, conjunctivitis, and atopic dermatitis. The purpose of this study was to study the type, density, and factor which affecting of HDM populations in the campus area of Gadjah Mada University. This research was conducted in January-February 2018. Dust sampling at 8 Faculty and 2 Vocatioal School of Gadjah Mada University in Yogyakarta. Taken 3 point of dust sample in each location by using vacuum cleaner and was put in transparent plastic bag (ziplock) and inserted in the Tullgreen Tornado. Preparation HDM that has been observed using light microscope and identified using the Krantz Key (1978). The results obtained 7 genus with abundance respectively Cheyletus (16.40%), Tyrophagus (9.29%), Glycyphagus (40.44%), Carpoglyphus (6.55%), Tarsonemus (4.92%), Acarus (14.75%), and Blomia (7.65 %). Temperature, humidity, and feeding factors have an effect on increasing the growth and development of HDM populations. Keywords: house dust mites, type, abundance, density, the campus of UGM
IDENTIFIKASI JENIS KELAMIN IKAN SAPU-SAPU (Pterygoplichthys pardalis) Farah Carolina Puspaningtias
Bioma Vol. 15 No. 1 (2019): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma15(1).4

Abstract

Beberapa jenis ikan masih belum dapat dibudidayakan karena sulit untuk dibedakan antara jantan dan betina karena morfologi yang sama persis. Salah satu ikan yang sulit dibedakan adalah ikan sapu-sapu. Oleh sebab itu perlu adanya penelitian untuk menentukan cara yang mudah dalam membedakan jenis kelamin ikan sapu-sapu. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi pembudidaya ikan untuk mempermudah proses pengembangbiakkan. Metode yang digunakan untuk identifikasi jenis kelamin adalah dengan teknik pengurutan dan pengamatan morfologi anatomi ikan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa dengan teknik pengurutan pada bagian kloaka, ikan jantan akan mengeluarkan sperma dan ikan betina akan mengeluarkan telur. Hasil analisa berdasarkan morfologi memperlihatkan bahwa ikan jantan memiliki tubuh yang ramping dan rahang yang lebar, sedangkan ikan betina memiliki tubuh yang lebih lebar namun rahang lebih kecil. Hasil analisa anatomi menunjukkan bahwa jantan memiliki ukuran gonad yang kecil, sedangkan betina memiliki ukuran gonad yang lebih besar dan berisi telur.
KAJIAN BARCODE ANGGREK OBAT DENDROBIUM BERDASARKAN SEKUEN GEN MATK, RBCL DAN ITS Mukhamad Su'udi
Bioma Vol. 15 No. 1 (2019): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma15(1).5

Abstract

Peningkatan penggunaan obat tradisional dari anggrek obat seperti Dendrobium sebagai alternatif pengobatan terus meningkat. Namun, tidak diimbangi dengan budidaya anggrek obat tersebut sehingga masih banyak eksploitasi yang dilakukan di habitat aslinya. Konservasi, implementasi dan penerapan undang-undang internasional yang membatasi perdagangan ini masih dapat dilanggar karena spesies tersebut tidak selalu diperdagangkan secara morfologis tetapi dalam bentuk simplisia sehingga dibutuhkan identifikasi spesies berbasis sekuen DNA melalui DNA barcoding. Studi in silico ini memanfaatkan data di Genbank (NCBI) selanjutnya sekuen DNA dikoleksi dari beberapa gen yaitu matK, rbcL, dan ITS. Data dianalisis menggunakan pendekatan bioinformatik, CLUSTAL X untuk menentukan tingkat homologi antar sekuen melalui pensejajaran (alignment) sekuen, identifikasi sekuen yang berpotensi sebagai barcode, dan pembuatan pohon filogenetik. Hasil dari analisis bioinformatik menunjukkan bahwa alignment dengan menggunakan lokus matK dan rbcL memiliki tingkat homologi yang tinggi, meski demikian rbcL dapat menunjukkan karakter spesifik dari D. crumenatum yang berpotensi sebagai barcode. Sedangkan pada lokus ITS terdapat karakter spesifik dari D. subulatum meskipun ITS memiliki tingkat variasi genetik yang lebih tinggi dengan homologi yang rendah dibandingkan gen matK dan rbcL. Lokus matK dari semua spesies memiliki tingkat homologi yang tinggi, sehingga tidak didapatkan sekuen yang berpotensi sebagai barcode.
PENGARUH KETERSEDIAAN AIR TERHADAP HASIL DAN KANDUNGAN KURKUMIN KUNYIT (Curcuma domestica Valeton) Cholilah Suciastuti
Bioma Vol. 15 No. 2 (2019): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma15(2).4

Abstract

Turmeric is a herb and medicinal plant that has many functions like being often used as spices, preservatives, dyes, cosmetics, and paint raw materials, and also turmeric plants are widely used as medicinal plants, because of the active ingredient (secondary metabolites) found in turmeric which is curcumin. Curcumin has function in providing natural color in turmeric, besides that it plays a role in the health sector as antihepatotoxic, antiedemic, antioxidant, anti inflammatory, anticancer and so on. Water availability play important role in growth and development of a plant. Internally, lack of water can make plant in drought condition, the physiology process of the plant disturbed, producing secondary metabolith and excess water can make the growth of the plant obstructed.This study aims to determine the effect of water availability from the beginning to harvesting turmeric plants on the yield of turmeric (Curcuma domestica Val.) and to determine the effect of water availability before harvesting turmeric plants on the level curcumin of turmeric plants (Curcuma domestica Val.). Keywords: curcumin, turmeric, water availability, yield
RASIO FREKUENSI PAKAN ALAMI Tubifex UNTUK SUBSTITUSI Artemia PADA BERBAGAI KELAS UKURAN BENIH IKAN BOTIA (Chromobotia macracanthus Bleeker) Nina Meilisza; Rina Hirnawati
Bioma Vol. 16 No. 1 (2020): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma16(1).1

Abstract

Artemia merupakan pakan utama pada benih botia hingga umur tiga bulan sehingga substitusi Artemia sangat penting untuk pemeliharaan yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio frekuensi Tubifex untuk mensubstitusi Artemia pada benih ikan botia. Benih botia yang digunakan berumur satu bulan dengan bobot 35-90 mg dan panjang 13-20 mm yang dipelihara dalam sistem resirkulasi selama delapan minggu hingga berumur tiga bulan. Desain penelitian adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dua faktor yaitu faktor kesatu merupakan kelas ukuran ikan S (35-54 mg), M (55-74 mg), L (75-94 mg) dan faktor kedua berupa lima rasio frekuensi substitusi Artemia: Tubifex dari A (4:0) yaitu 4 kali sehari untuk Artemia dan 0 kali sehari untuk Tubifex, B (3:1), C (2:2), D (1:3) dan E (0:4). Lima belas perlakuan interaksi dihasilkan dari kedua faktor yaitu SA (ukuran S; rasio frekuensi A), SB, SC, SD, SE, MA, MB, MC, MD, ME, LA, LB, LC, LD, dan LE diulang dua kali. Pengamatan dilakukan dengan mengukur pertumbuhan yaitu bobot, panjang total, serta sintasan. Parameter penunjang berupa kualitas air dan proksimat pakan. Data dianalisis statistik dilanjutkan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tubifex dapat diberikan sebanyak 4 kali per hari pada seluruh kelas ukuran ikan tanpa pemberian Artemia. Kata kunci: Frekuensi pakan, Artemia, Tubifex, Chromobotia macracanthus, benih

Page 8 of 15 | Total Record : 144