cover
Contact Name
Reza Dino Mahardika
Contact Email
rezadino15@gmail.com
Phone
+6285782089890
Journal Mail Official
bioma@unj.ac.id
Editorial Address
Gd. Ki Hajardewantara Lt. 6-7 Universitas Negeri, RT.7/RW.14, Rawamangun, Kec. Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Bioma : Jurnal Biologi Indonesia
ISSN : 01263552     EISSN : 25809032     DOI : https://doi.org/10.21009/bioma.v21i2
Bioma is a national peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research from all area of biosciences fields such as biodiversity, biosystematics, ecology, physiology, behavior, genetics and biotechnology.
Articles 144 Documents
KOMPOSISI DAN KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN BAWAH DI KAWASAN YANG TERKENA DAN TIDAK TERKENA ERUPSI DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI, YOGYAKARTA Pinta Omas Pasaribu; Arief Prasetyo; Alika Reforina; Atika Cahya Ningrum; Muhammad Hafidh Rizky; Rizal Koen Asharo; Rizky Priambodo; Vina Rizkawati
Bioma Vol. 17 No. 1 (2021): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma17(1).5

Abstract

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia yang telah mengalami erupsi besar pada tahun 2006 dan 2010 yang menyebabkan dampak bagi ekosistem dan kematian pada vegetasi di sekitar Gunung Merapi. Pemulihan yang terjadi setelah erupsi Gunung Merapi merupakan suksesi sekunder. Tumbuhan bawah adalah indikator pada suatu area yang mengalami suksesi sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan komposisi dan keanekaragaman tumbuhan di daerah yang terkena erupsi dan daerah yang tidak terkena erupsi di Taman Nasional Gunung Merapi, Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2019. Metode penentuan area lokasi penelitian dilakukan dengan purposive sampling dan penggambilan data menggunakan metode kuadrat secara beraturan (systematic sampling). Tumbuhan bawah yang mendominasi di daerah yang terkena erupsi adalah Themeda arundinaceae dengan nilai INP 66,939% sedangkan pada daerah yang tidak terkena erupsi didominasi oleh Ageratina riparia dengan nilai INP sebesar 54,731%. Keanekaragaman tumbuhan bawah pada kedua lokasi tergolong rendah, namun lokasi yang tidak terkena erupsi memiliki nilai indeks lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang terkena erupsi yaitu sebesar 1,966 sedangkan pada daerah yang terkena erupsi sebesar 1,139.
Layanan Ekosistem Kumbang pada Tata Guna Lahan Talun Campuran di Lanskap Cijedil, Cianjur Vina Rizkawati
Bioma Vol. 17 No. 1 (2021): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma17(1).2

Abstract

This research aimed to know the diversity of beetles in mixed orchard and its relation to the ecosystem services provided. Sampling method used were pitfall trap and hand collecting. Pitfall trap was placed every 50 meter through 450-meter-long walked line transect and checked after 24 hours. Three variations of bait used for pitfall were apple cedar vinegar, cattle faeces, and white lab rat’s carrion. Samples collected were then preserved and identified in the laboratory. Supporting data such as abiotic and biotic parameters were recorded on each sampling point. Data was analyzed using relative frequency, relative abundance, dominance, diversity index, and evenness index. Total of 268 beetles were collected, representing 44 species that belong to 15 families. Mixed orchard has a diversity index (H') of 2.460 and evenness index (J') of 0.755. The most abundant species found on mixed orchard was Onthophagus discedens, a generalist beetle which is decomposer mainly found on carrion and animal waste bait. Based on feeding guild structure, mixed orchard inhabited by saprophaga, coprophagous, fungivore, xylophaga, herbivore, predator.
KENEKARAGAMAN COLEOPTERA DI SEKITAR KAWASAN CAGAR BIOSFER GIAM SIAK KECIL- BUKIT BATU RIAU Hasni Ruslan; Astrid Sri Wahyuni Sumah
Bioma Vol. 17 No. 1 (2021): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma17(1).1

Abstract

Penelitian mengenai Coleoptera di Kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu Riau masih sedikit publikasi. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui keanekaragaman Coleoptera di sekitar kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu Riau. Penelitian Coleoptera dilakukan pada tanggal 5-11 Mei 2019, Penelitian dilakukan dengan metoda pitfall trap dengan mengunakan wadah plastik. Penelitian dilakukan pada dua lokasi yang berbeda yaitu Zona inti (Hutan sekunder) dan Hutan tanaman industri (HTI). Dari hasil penelitian ditemukan ditemui di Hutan sekunder 9 spesies, dan 42 individu, sedangkan di HTI ditemui 10 spesies dan 153 individu. Komposisi Coleoptera pada habitat hutan sekunder berbeda dengan komposisi Coleoptera yang terdapat pada habitat HTI (IS <50 %). Indeks keanekaragaman Coleoptera di Hutan sekunder, dan HTI tergolong sedang. Spesies yang paling tinggi INP (Dominan) di habitat Hutan sekunder, ditemukan pada Xyleborus sp (61.90 %), dan diikuti Baeocera sp (42.86%). Sedangkan di HTI ditemukan pada adalah Xyleborus sp (122.15%). Coleoptera yang berperan sebagai fungivora memiliki persentase jumlah yang tinggi di kedua habitat
DIVERSITAS KUPU-KUPU DI KAWASAN TERBUKA DAN TERTUTUP HUTAN KOTA TEBET, JAKARTA SELATAN Imran S.L. Tobing; hasni ruslan; Dwi Andayaningsih
Bioma Vol. 17 No. 1 (2021): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma17(1).4

Abstract

Kawasan dengan kanopi (pohon) terbuka dan tertutup di kawasan hutan kota, mempunyai variasi kondisi lingkungan sebagai habitat kupukupu. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi variasi kondisi antar kedua kawasan Hutan Kota Tebet, dan menilai pengaruhnya terhadap diversitas kupu-kupu. Penelitian dilakukan pada plot-plot terpilih mengacu pada metode purposive sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi kondisi lingkungan antar kedua habitat belum memunculkan pengaruh nyata terhadap diversitas kupu-kupu. Diversitas kupu-kupu di Hutan Kota Tebet terdiri dari 34 spesies dari 4 family; jumlah spesies sedikit bervariasi antara kawasan terbuka (33 spesies) dan kawasan tertutup (30 spesies); komposisi komunitas (kupu-kupu) sama (indeks similaritas 90,32 %). Nilai indeks keanekaragaman kupu-kupu antar kedua kawasan juga berada dalam kategori sama (tergolong sedang : berkisar antara 1,5 – 3,5), walaupun relatif lebih tinggi di kawasan tertutup (3,16) dibandingkan di kawasan terbuka (2,68). Nilai ini memberi arti bahwa kedua kondisi habitat mempunyai komunitas kupu-kupu yang sama-sama moderat, walaupun cenderung lebih stabil pada kondisi habitat tertutup. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kawasan Hutan Kota Tebet merupakan habitat bagi kupu-kupu, baik di kawasan terbuka maupun di kawasan tertutup. Variasi kondisi lingkungan antar kedua kawasan belum terbukti berpengaruh terhadap diversitas kupu-kupu di Hutan Kota Tebet.
PERBANDINGAN KEMAMPUAN FERMENTASI KHAMIR Saccharomyces cerevisiae DARI BERBAGAI MEDIA KULTUR Benaya Yamin; Elisa Rinihapsari; Firstania Tirza Diandra; Raka Pradistya
Bioma Vol. 17 No. 2 (2021): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma17(2).3

Abstract

Media SDA (Sabouraud Dextrose Agar) dan PDA (Potato Dextrose Agar) merupakan jenis media yang umum digunakan untuk menumbuhkan kapang dan khamir. Kekurangan dari kedua media ini adalah memiliki harga yang mahal. Sebagai alternatif, beberapa institusi pendidikan umumnya menggunakan media PDA racikan sendiri yang terbuat dari air rebusan kentang dan nutrient agar untuk menghemat biaya. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah kualitas khamir Saccharomyces cerevisiae yang ditumbuhkan pada media SDA, PDA, dan PDA racikan. Penelitian merupakan penelitian eksperimental dengan cara menanam biakan S. cerevisiae, yang ditumbuhkan dari 3 jenis media, pada sari buah nanas. Kualitas S. cerevisiae dinilai dari kemampuan melakukan fermentasi yang dilihat dari kadar alkohol dan kadar gula reduksi. Hasil penelitian menunjukkan S. cerevisiae yang ditumbuhkan pada ketiga jenis media memiliki kualitas yang berbeda. Kadar alkohol dan kadar gula reduksi yang dihasilkan oleh S. cerevisiae yang ditumbuhkan pada media SDA (29,91% dan 0,39%), PDA (29,61% dan 0,38%), dan PDA racikan (24,02% dan 0,6%) memiliki nilai yang berbeda signifikan (p < 0,05). Kata kunci: media agar; S. cerevisiae; fermentasi; kadar alkohol; kadar gula reduksi
INVENTARISASI JENIS TUMBUHAN SUKU ARACEAE DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI, YOGYAKARTA Rizal Asharo
Bioma Vol. 17 No. 2 (2021): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma17(2).1

Abstract

Tumbuhan Araceae adalah tumbuhan herba yang memiliki bentuk daun yang variatif, memiliki seludang (spathe), bunga majemuk tipe tongkol (spadix) dan merupakan tumbuhan pionir setelah peristiwa erupsi gunung Merapi. Pendataan keragaman Araceae di gunung Merapi setiap tahunnya perlu dilakukan akibat kerap mengalami perubahan kondisi vegetasi dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk inventarisasi tumbuhan Araceae di Taman Nasional Gunung Merapi dan studi perbandingan keragaman tumbuhan Araceae dengan penelitan sebelumnya. Penelitian ini dilaksanakan di 6 lokasi penelitian yaitu Kalikuning, Telogo Nirmolo, Bukit Plawangan, Goa Jepang, Telogo Muncar, dan Bukit Pronojiwo. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik pengambilan data secara jelajah (cruise method) dengan penentuan lokasi penelitian. Analisis data disajikan secara kualitatif dengan cara mendeskripsikan morfologis dan cara hidup tumbuhan Araceae. Selanjutnya data dianalisis berdasarkan distribusi tumbuhan Araceae di lokasi terdampak erupsi serta potensi pemanfaatan tumbuhan Araceae di Taman Nasional Gunung Merapi. Jumlah tumbuhan Araceae yang ditemukan adalah 10 jenis dalam 8 genus, terdapat individu baru yang berbeda dengan penelitian yang dilakukan sebelumya, yaitu 6 jenis dalam 6 genus. Tumbuhan Araceae juga memiliki beberapa potensi manfaat sebagai makanan, hiasan, obat, dan sayuran.
KEANEKARAGAMAN CAPUNG (ORDO ODONATA) DI PULAU NUSAKAMBANGAN, KABUPATEN CILACAP, JAWA TENGAH Muhammad Nu'manuddin; Hening Triandika Rachman; Wahyu Sigit Rahadi; Diagal Wisnu Pamungkas; Nanang Kamaludin; Frendi Irawan; Prajawan Kusuma Wardhana; Amelia Nugrahaningrum; R.C. Hidayat Soesilohadi
Bioma Vol. 17 No. 2 (2021): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma17(2).2

Abstract

Pulau Nusakambangan memiliki habitat yang cukup baik dan catatan keanekaragaman capung yang cukup banyak ini menjadikan Pulau Nusakambangan menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut terutama kaitannya dengan tipe-tipe habitat yang ada di Pulau Nusakambangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis capung di Pulau Nusakambangan. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Agustus, September dan Desember tahun 2020 di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Penelitian ini dilaksanakan di 10 lokasi pengamatan. Pengambilan data dilakukan dengan metode Visual Encounter Survey. Analisis data habitat dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif, analisis keanekaragaman jenis capung dihitung menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Pulau Nusakambangan teramati sekitar 695 individu dengan jumlah spesies sebanyak 45 jenis capung yang termasuk dalam 10 family. Nilai indeks keanekaragaman di Pulau Nusakambangan secara total tergolong tinggi dengan nilai 3,05. Kata kunci: Capung, Odonata, Nusakambangan
PERBANDINGAN PERILAKU HARIAN ORANGUTAN KALIMANTAN (Pongo pygmaeus Linnaeus, 1760)DI PELESTARIAN EX-SITU DAN IN-SITU Juliana Muawanah
Bioma Vol. 17 No. 2 (2021): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma17(2).4

Abstract

Orangutan merupakan salah satu spesies endemik Indonesia dari ordo primata. Salah satujenisorangutan yang mengalami penurunan spesies adalah orangutan kalimantan (Pongopgymaeus).Penyebab kepunahan orangutan kalimantan disebabkan oleh manusia seperti perusakan lahanhutan yang menyebabkan orangutan kalimantan kehilangan habitat aslinya untukbertahan hidupdan melanjutkan keturunannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilakuharian orangutan kalimantan di beberapa pusat konservasi ex-situ dan in-situ.Teknik analisis datayang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif denganmetode literatur yangdiperoleh dari 15 referensi artikel nasional dalam rentang tahun 2013-2021.Hasil dari penelitianini menunjukkan perilaku bergerak didominasi di pelestarian in-situ maupunex-situ, perilakubergerak didominasi oleh orangutan di pelestarian in-situ, sedangkan perilaku bergerak, sosial, danbermain sendiri didominasi oleh orang utan di pelestarian ex-situ.
KONSTRUKSI POHON FILOGENETIK SECARA IN-SILICO JAMUR BERKERABAT DEKAT Trametes versicolor SEBAGAI TERAPI LUPUS BERDASARKAN MARKER 18s rRNA Ika Adhani Sholihah; Topik Hidayat
Bioma Vol. 17 No. 2 (2021): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma17(2).5

Abstract

ABSTRAK Pengobatan herbal telah banyak dikembangkan contohnya adalah pengembangan obat tradisional pada penyakit Lupus. Diketahui bahwa Jamur Tremetes versicolor adalah jamur yang memiliki sifat immunodulator yang berfungsi untuk mengobati penyakit autoimun yaitu Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang memiliki senyawa protein unik Polysaccharide Peptide Krestin (PSK). Tetapi jamur Trametes tidak banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jamur yang berkerabat dekat dengan Trametes versicolor yang dapat juga dijadikan sebagai terapi pada penyakit autoimun dan dapat dikonsumsi di Indonesia. Studi yang digunakan adalah studi filogenetik secara in-silico dengan jamur yang berkerabat dengan jamur Trametes versicolor dengan penanda gen 18s rRNA yang diperoleh dari genbank NCBI. Data molekuler sekuen menunjukkan bahwa jamur yang berkerabat dekat dengan jamur Trametes versicolor adalah Ganoderma lucidum, Lenzites betulinus, Agaricus bisporus, Agaricus subrufescens, Auricularia polytrica, dan Auricularia auricula-judae berdasarkan penanda gen 18s rRNA. Jamur ini dapat dijadikan sebagai obat alternatif untuk terapi penyakit autoimun dan mendapatkan senyawa yang terkandung dalam jamur tersebut dengan studi in-vitro lebih lanjut. Kata Kunci: In-Silico, Trametes, Ganoderma, Lenzites, Auricularia, Agaricus, Autoimun ABSTRACT Development of herbal treatment have been done quite frequently, for example the development of traditional medicines for Lupus. It is known that Tremetes versicolor mushroom is a fungus that has immunodulatory properties which functions to treat autoimmune disease namely Systemic Lupus Erythematosus (SLE) which has a unique protein compound Polysaccharide Peptide Krestine (PSK). However, Trametes are not widely consumed by Indonesian people. The purpose of this study was to find out which fungi are closely related to Trametes versicolor which can also be used as a therapy for autoimmune diseases and can be available for consupmtion in Indonesia. This study used an in-sillico phylogenetic with fungi that are related to Trametes versicolor mushroom with the 18s rRNA gene marker obtained from the NCBI genbank. Sequential molecular data shows that fungi closely related to Trametes versicolor mushrooms are Ganoderma lucidum, Lenzites betulinus, Agaricus bisporus, Agaricus subrufescens, Auricularia polytrica, and Auricularia auricula-judae based on the 18s rRNA gene marker. This fungi can be used as an alternative medicine for autoimmune diseases treatment by obtaining compounds contained in these fungi with further in-vitro studies. Keywords: In-Silico, Trametes, Ganoderma, Lenzites, Auricularia, Agaricus, Autoimun
The UJI EFEKTIVITAS ANTIFUNGI EKSTRAK BIJI MIMBA (Azadirachta indica ) TERHADAP Trichophyton mentagrophytes SECARA IN VITRO Yuni Sartika Sari
Bioma Vol. 18 No. 1 (2022): Bioma
Publisher : LPPM Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Bioma18(1).1

Abstract

Infeksi jamur di daerah tropis termasuk Indonesia relatif tinggi. Salah satu jamur yang dapat menginfeksi yaitu Trichophyton mentagrophytes yang dapat menyebabkan penyakit kulit seperti tinea pedis, tinea kruris dan lainnya. Sebagai alternatif pengobatan digunakan ekstrak biji mimba. Salah satu manfaatnya sebagai antijamur. Tujuan penelitian untuk mengetahui kemampuan ekstrak biji mimba dalam menghambat pertumbuhan Trichophyton mentagrophytes dan mengetahui perbandingan efektivitas masing-masing ekstrak biji mimba terhadap Trichophyton mentagrophytes. Metode ekstraksi yang digunakan yaitu maserasi bertingkat dengan menggunakan pelarut n-heksan, diklorometan dan metanol. Uji aktivitas antijamur menggunakan metode sumuran. Data yang dihasilkan di analisis menggunakan Post-Hoc Least Significant Difference (LSD ) dan kandungan senyawa pada masing-masing ekstrak di analisis menggunakan instrument GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan memiliki daya hambat yang paling tinggi dibandingkan dengan ekstrak diklorometan dan metanol. Rata-rata diameter zona hambat ekstrak n-heksan yaitu 11,12 mm, ekstrak diklorometan 10,37 mm dan ekstrak metanol 9,75 mm. Hasil analisis senyawa menggunakan GCMS ekstrak biji mimba mengandung asam palmitat, asam stearat dan heptadecene-8-carbonic acid yang diduga memiliki sifat sebagai antijamur. Hasil analisis One Way Anova yang dilanjutkan dengan uji Post Hoc Least Significant Difference (LSD) menunjukkan ekstrak n-heksan, diklorometan dan metanol memiliki aktivitas yang sama dalam menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton mentagrophytes (p>0,05).

Page 10 of 15 | Total Record : 144