cover
Contact Name
Raymond Michael Menot
Contact Email
michael@ui.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
journal.ai@gmail.com
Editorial Address
"Departemen Antropologi, FISIP, Gedung B, Lt.1, FISIP Universitas Indonesia Depok 16424"
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurna lAntropologi Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 1693167X     EISSN : 16936086     DOI : 10.7454
Core Subject : Social,
ANTROPOLOGI INDONESIA was published to develop and enrich scientific discussion for scholars who put interest on socio-cultural issues in Indonesia. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Editors welcome theoretical or research based article submission. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The criteria of the submitted article covers the following types of article: first, the article presents the results of an ethnographic/qualitative research in certain topic and is related with ethnic/social groups in Indonesia; second, the article is an elaborated discussion of applied and collaborative research with strong engagement between the author and the collaborator’s subject in implementing intervention program or any other development initiative that put emphasizes on social, political, and cultural issues; third, a theoretical writing that elaborates social and cultural theory linked with the theoretical discourse of anthropology, especially in Indonesia anthropology; last, the article is a critical review of anthropological reference and other ethnography books that must be published at least in the last 3 years.
Arjuna Subject : -
Articles 579 Documents
Dinamika Pisang (Filipina-Sangihe) Di Perbatasan Indonesia-Filipina Pristiwanto Pristiwanto
Antropologi Indonesia Vol 37, No 1 (2016): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia citizens, who are resident in the southern Philippines is estimated at 8,000 inhabitants. They are commonly known as Pisang, an abbreviation of the Philippines-Sangihe or residents who have “blood ties” with Sangihe (Indonesia) which then had settled in the Philippines. In fact, their Philippine area residence does not become a barrier for the Pisang to remain in a relationship of kinship with the Indonesian Sangihe, through cross-border activity. This reality makes the issue of mobility become important because they do activities on the territory of two nation-states. The Pisang do trade, family visits and political activities even activities that indicated as transnational crime in border area. Ironically, studies that literally uplift the phenomenon of Pisang has not been found. Based on field research, this article describes the dynamics and controversy of Pisang activities in Indonesia sea-border area, the Sangihe Archipelago Regency.Keywords: Indonesia, Philipine, Pisang, Border Area.
Language, Thought And Social Awareness: a Preliminary Anthropological Linguistic Investigation Of Time And Space in The Bima Language Kamaludin Yusra
Antropologi Indonesia Vol 37, No 1 (2016): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses the connection between language and thought processes and its implication towards social consciousness and attitudes. The framework is developed from various concepts of linguistic relativity particularly temporal and spatial deictic systems. Data were introspectively collected from the Bima native speakers selected based on dialectal variation, topography, and political geography and descriptively analyzed by identifying, classifying, describing and explaining the connection between various linguistic forms and spatio-temporal dimensions and social consciousness. The study finds that the concept of time in the language is not only semantically realized in adverbs of time but also morphologically represented in linguistic markers of present, past and future. Space is realized through the choice of three-dimensional locative markers: ‘ake’ speaker proximity, ‘ede’ hearer proximity, and ‘aka’ speaker-hearer distant detachment. Location is also marked by other factors: topography, geography, trans-communication pathways, and socio-political vitality of referred area. The study shows a strong relationship in both expert and commoner speakers’ understanding of spatial and temporal concepts although explicit reference to space and time as required in the language does not significantly materialize in different attitudes toward them.Key Words: language, thought, social awareness, deictic systems
History and Social Action: A Study of Landscape in the Former Sultanate of Wolio Tony Rudyansjah
Antropologi Indonesia Vol 37, No 2 (2016): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas relasi antara sejarah dan tindakan sosial di wilayah bekas Kesultanan Wolio. Dengan kata lain, penulis berusaha menunjukkan beberapa macam cara yang digunakan masyarakat di wilayah ini dalam mempresentasikan kembali masa lampaunya, dan sekaligus memperlihatkan bagaimana pemahaman mengenai sejarah dapat mereka gunakan sebagai sebuah khasanah berbagai pilihan moral yang mempedomani tindakan sosial mereka. Tempat atau landscape menduduki posisi yang penting dalam memahami bagaimana masyarakat mempresentasikan kembali sejarahnya. Satu masyarakat mengunjungi situs-situs sejarah tertentu bukan hanya untuk hiburan atau kesenangan semata, melainkan karena peristiwa-peristiwa dan pribadi-pribadi di masa lampau yang berkaitan dengan tempat itu dapat terus dijaga keberlangsungan hidupnya di dalam “satu waktu moral” yang sama dengan mereka-mereka yang masa hidup sebagaimana mereka semua (baik yang hidup maupun yang telah tiada) saling berbagi ruangan fisik yang sama.Kata kunci: sejarah, masa lalu, action, landscape, situs
Kontra Publik Keagamaan dalam Media Baru: Islam, Kebudayaan Populer, dan Media Sosial pada Gerakan #IndonesiaTanpaJIL Imam Ardhianto
Antropologi Indonesia Vol 37, No 2 (2016): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article explores the rise of contemporary Islamic movement that emerged as a result of a counter-public phenomenon over the discourse of liberal Islam in Indonesia. The phenomena explain the new entry point to understand the relationship between social media, popular culture, and the articulation of Islamic identity and piousness among urban youth in Indonesia. Taking case on the emerging popular-religious movement of #IndonesiatanpaJIL, that were arise from social media sites (Twitter, Facebook, and Youtube), this article examined how this movement was creatively playing Islamic discourse and the notions of nationalism/citizenship through urban pop culture materiality and commercialized public spaces. This appropriation had been influential to propagate their religious ideology and piety and by doing so showing their effective modality and mode of circulation.Keyword: Counter-Public, Islamic Identity, Social Media, Popular Culture, Public Sphere
YOUTH PERSONHOOD @CROSSROAD: A Virtual Ethnography of An Asymmetrical Relation Between Digital Natives and Digital Immigrants in Indonesia Sofyan Ansori; Febrian Febrian; Hafiz Awlia Ramadhan
Antropologi Indonesia Vol 37, No 2 (2016): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak muda Indonesia telah menjadi pengguna internet terbesar di negera ini. Perkembangan teknologi mendorong digital natives pada tantangan baru dalam pencapaian identitas (personhood). Adalah umum bagi anak muda untuk mengalami fase “storm and stress” dalam kehidupan yang merupakan bagian dari pencapaian identitas mereka sebagai salah satu tugas utama dan mendasar di keseharian anak muda. Namun demikian, seiring perilaku anak muda dalam menggunakan internet, masalah generasi pun muncul. Pola perilaku yang problematis tersebut antara lain melakukan selfie yang berbahaya, sexting, cyberbullying, dan mempromosikan kegiatan-kegiatan radikal. Melalui penelitian yang dilakukan dengan metode penelusuran online dan etnografi virtual, kami memperlihatkan bahwa fenomena yang mengkhawatirkan ini terjadi karena adanya hubungan asimetris antara anak muda (digital natives) dan pendahulunya (digital immigrants) pada proses pembentukan identitas. Anak muda saat ini berada di antara dua bentuk pengetahuan yang berbeda satu sama lain: di satu sisi, sistem pengetahuan virtual yang tidak terbatas pada waktu dan ruang, dan di sisi lain adalah pengetahuan yang terinkulturasi melalui institusi keluarga yang cenderung lebih eksklusif dan tradisional. Anak muda berada dalam situasi yang kompleks ketika orang tua mereka, atau generasi sebelumnya, menghadapi kesulitan adaptasi dengan kemajuan teknologi. Kondisi tersebut problematis karena interaksi virtual menjadi referensi penting bagi digital natives dalam membentuk kepribadian mereka.Kata Kunci: Anak muda, Personhood, Digital Natives, Internet, Etnografi Virtual
Menjadi “Positive Deviant” di antara yang Positif (Kajian Deskriptif tentang Anak dengan HIV/AIDS) Johanna Debora Imelda; Annisah .
Antropologi Indonesia Vol 37, No 2 (2016): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak 1987, kasus HIV/AIDS anak di Indonesia meningkat. Beberapa penelitian mengungkapkan anak dengan HIV/AIDS (ADHA) tidak dapat mencapai umur 5 tahun tanpa didukung oleh pengobatan ARV. Namun, data Kemenkes dan dokumentasi yang ada di LSM pemerhati HIV/AIDS menunjukkan sebaliknya. Beberapa anak HIV positif bisa bertahan hidup lebih lama walaupun belum memulai pengobatan ARV. Dalam ilmu sosial dikenal dengan istilah “Positive Deviance”. Penelitian ini mengkaji bagaimana ADHA menjalani hidup sebagai Positve Deviant dan bagaimana keluarga dan sistem sosial mendukung mereka menjalani kehidupan mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan FGD dan wawancara mendalam untuk pengumpulan data. Informan kunci adalah ADHA yang memulai pengobatan ARV setelah usia 5 tahun. Informan pendukung, yaitu orangtua/wali anak, LSM yang mendampingi, dan dokter yang merawat mereka. ADHA menjadi positive deviant tanpa disengaja karena telat terdeteksi status HIV-nya. Menjalani hidup sebagai ADHA juga tidak mudah karena mereka harus berdamai dengan penyakit dan obat-obatan, mengalami masalah psikososial karena merasa berbeda dengan teman sebayanya, dan sulit untuk berprestasi karena halangan kesehatan. Namun, bantuan dan dukungan terhadap ADHA malah membuat mereka menjadi pahlawan untuk keluarganya karena dianggap sebagai sumber financial untuk mendukung kebutuhan keluarga mereka. Penelitian juga menemukan bahwa keluarga dan sistem sosial memegang peranan penting bagi informan untuk bisa bertahan hidup lebih lama dari ADHA lainnyaKata Kunci: Anak, Positive Deviance, HIV/AIDS, Keluarga, Dukungan Sosial
Restorasi Tingkat Mikro Dalam Sistem Sosial Budaya Indonesia Untuk Mencegah Kematian Ibu Sari Viciawati Machdum; Sofyan Cholid; Annisah .; Johanna Debora Imelda
Antropologi Indonesia Vol 37, No 2 (2016): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompleksitas budaya dan wilayah di Indonesia membuat pelaksanaan perlindungan sosial menjadi tidak mudah. Para ibu memiliki faktor internal yang membuat mereka belum dapat mengetahui dan/atau bersedia memanfaatkan program perlindungan sosial di bidang kesehatan secara optimal, sehingga Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2015 yang tidak menurun. Penelitian ini menemukan bahwa ada permasalahan faktor internal yang menjadi kekhasan ibu yang usianya masih muda. Selain mereka terhambat oleh perihal administrasi karena belum cukup usia, ibu yang berumur remaja menjadi rentan karena aspek psikologis-nya yang belum matang. Di tengah kondisi sosial dan budaya yang tidak mendukung, kerentanan terhadap para ibu di usia muda menjadikan mereka berada pada posisi yang semakin lemah. Padahal pertumbuhan dan perkembangan para ibu yang sedang mengandung tidak hanya membutuhkan dukungan untuk kebutuhan fisiknya semata. Aspek psikologis juga penting. Bahkan kedua aspek tersebut dapat memberikan implikasi terhadap kesehatan fisik secara langsung. Dalam kaitannya dengan kerentanan ibu di usia remaja, tataran mikro dalam sistem sosial budaya yang kompleks di Indonesia pun menjadi perhatian yang menentukan.Kata Kunci: Jaminan Kesehatan, Kematian Ibu, Kehamilan Tidak Diinginkan, Perlindungan Sosial, Pemasaran Sosial.
Di antara Kepungan Air di Kota Pekalongan Analisis Produksi Pengetahuan dan Praktik Politik Gerakan Sosial Komunitas Peduli Kali Loji Armadina Az Zahra
Antropologi Indonesia Vol 38, No 2 (2017): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang sebagai produk sosial memuat konstruksi sosial kompleks berdasarkan pemaknaan dan kontestasi kepentingan di dalamnya. Mereka yang terlibat dalam penjejalan makna dan pertarungan kontestasi dalam ruang tidak hanya berasal dari individu atau kelompok yang menghidupi ruang tersebut, tetapi juga berbagai pihak yang merasa memiliki pengalaman, pengetahuan dan imaji mengenai ruang tersebut, termasuk gerakan sosial. Adalah Komunitas Peduli Kali Loji (KPKL) yang kini tengah berperan aktif dalam pembentukan konsepsi terkait ruang yang ideal di Kota Pekalongan. Berawal dari sebuah gerakan lingkungan, KPKL berupaya untuk mentransmisikan pengetahuan yang mereka miliki tentang konsepsi ruang di Kota Pekalongan di tengah isu banjir rob yang merendam empatpuluh persen wilayah Kota. Konsepsi ruang Kota Pekalongan yang ideal didapatkan oleh KPKL melalui pengalaman keruangan para aktor dalam gerakan serta metode penilaian kebutuhan (need assessment) yang mereka lakukan. Berdasarkan dua sumber perolehan pengetahuan tersebut, KPKL lantas bertindak sebagai produsen pengetahuan yang kemudian coba didistribusikan melalui serangkaian praktik politik gerakan. Berangkat dari trialektika konsep lived space (ruang yang dihidupi), conceived space (representasi ruang) dan perceived space (ruang representasional) yang telah melahirkan tempat tersendiri bagi imaji-imaji mengenai ruang yang ideal, tulisan ini berupaya untuk memaparkan keterhubungan antara konteks spasial ruang, warga yang memiliki hajat hidup disana dan “para ahli” yang berupaya mewujudkan konsepsi ruang seperti yang mereka inginkan. Lebih jauh, tulisan ini juga berupaya untuk menguraikan proses produksi pengetahuan tentang konsepsi ruang yang ideal dan praktik politik yang dilakukan oleh gerakan sosial KPKL dalam wangka mewujudkan konsepsi ruang yang ideal di Kota Pekalongan.Kata Kunci: Representasi Ruang, Gerakan Sosial, Pengetahuan, Praktik Politik
“Kekerasan itu Katarsis dari Patriarki!”: Resistensi pada Kekerasan terhadap Perempuan dalam Praktik Gerakan Sosial Aliansi Laki-laki Baru Febi Rizki Ramadhan
Antropologi Indonesia Vol 38, No 2 (2017): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research examines a movement of men’s participation towards the elimination of violence against women in Indonesia known as, Aliansi Laki-laki Baru (later refer as ALB). Using an ethnographic method, this research shows that ALB –as a social movement– could not be understood as a homogeneous and monolithic entity because of its diverse meanings of violence against women that are perceived by the participants. Furthermore, this research addresses the discourse productions as an act of resistance towards patriarchy and hegemonic masculinity. In this paper, I argue, patriarchy and hegemonic masculinity as the ideology of violence against women that are embodied in cultural violence. In doing so, this article shows the interwoven relationship between social movement’s meaning-making towards the focus of the movement and the resistance and its main cause: patriarchy and hegemonic masculinity in the context of ALB’s social movement practices.Key words: Aliansi Laki-laki Baru, cultural violence, hegemonic masculinity, patriarchy, resistance, social movement, violence against women
Lubang Buaya, Kuburan Para Pahlawan: Abjeksi dalam Historiografi Peristiwa 1 Oktober 1965 Muhammad Damm
Antropologi Indonesia Vol 38, No 2 (2017): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Not only explanations about 30th September Movement (G30S) on 1st October 1965 debatable, the following mass murder during late 1965 to 1966 is still far from any clearance either. How that mass murder possible? We may say, following Roosa’s argument, that that mass murder possible because of preceding pretext, that is G30S/PKI. We may also say, following Drakeley’s argument, that that mass murder possible because of current socio-political atmosphere at that time was conducive for its emergence. Nevertheless, both arguments are sufficient to explain how 1965–1966 mass murder possible if only complemented by explanation about “mental mechanism” that worked behind it. That mental mechanism, namely abjection of PKI (Communist), can be revealed through structural inquiry to The Sacred Pancasila Monument complex as a representation and reconstruction of 1st October 1965 historical event. Not only made 1965–1966 mass murder possible, abjection mechanism also legitimized New Order’s historiography about 1st October 1965. Using structural anthropology as paradigm and museum ethnography as research method, this article attempts to explain how the abjection transpired.Keywords: The Sacred Pancasila Monument, Pancasila, PKI, communist, latent danger, abjection.

Filter by Year

1969 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 42, No 2 (2021): Antropologi Indonesia Vol 42, No 1 (2021): Antropologi Indonesia Vol 41, No 2 (2020): Antropologi Indonesia Vol 41, No 1 (2020): Antropologi Indonesia Vol 40, No 2 (2019): Antropologi Indonesia Vol 40, No 1 (2019): Antropologi Indonesia Vol 39, No 2 (2018): Antropologi Indonesia Vol 39, No 1 (2018): Antropologi Indonesia Vol 38, No 2 (2017): Antropologi Indonesia Vol 38, No 1 (2017): Antropologi Indonesia Vol 37, No 2 (2016): Antropologi Indonesia Vol 37, No 1 (2016): Antropologi Indonesia Vol 36, No 2 (2015): Antropologi Indonesia Vol 36, No 1 (2015): Antropologi Indonesia Vol 35, No 1 (2014): Antropologi Indonesia Vol 34, No 2 (2013): Antropologi Indonesia Vol 34, No 1 (2013): Antropologi Indonesia Vol 33, No 3 (2012): Antropologi Indonesia Vol 33, No 2 (2012): Antropologi Indonesia Vol 33, No 1 (2012): Antropologi Indonesia Vol 32, No 3 (2011): Antropologi Indonesia Vol 32, No 2 (2011): Antropologi Indonesia Vol 32, No 1 (2011): Antropologi Indonesia Vol 31, No 3 (2010): Jurnal Antropologi Indonesia ##issue.vol## 31, ##issue.no## 3 (2010): Jurnal Antropologi Indonesia No 1 (2009): Jurnal Antropologi Indonesia Vol 30, No 3 (2006): Jurnal Antropologi Indonesia Vol 30, No 2 (2006): Jurnal Antropologi Indonesia Vol 30, No 1 (2006): Jurnal Antropologi Indonesia Vol 29, No 3 (2005): Jurnal Antropologi Indonesia Vol 29, No 2 (2005): Jurnal Antropologi Indonesia Vol 29, No 1 (2005): Jurnal Antropologi Indonesia No 75 (2004): Jurnal Antropologi Indonesia No 74 (2004): Jurnal Antropologi Indonesia (english edition) No 74 (2004): Jurnal Antropologi Indonesia No 73 (2004): Jurnal Antropologi Indonesia No 72 (2003): Jurnal Antropologi Indonesia No 71 (2003): Jurnal Antropologi Indonesia No 70 (2003): Jurnal Antropologi Indonesia No 69 (2002): Jurnal Antropologi Indonesia No 68 (2002): Jurnal Antropologi Indonesia No 67 (2002): Jurnal Antropologi Indonesia No 66 (2001): Jurnal Antropologi Indonesia No 65 (2001): Jurnal Antropologi Indonesia No 64 (2001): Jurnal Antropologi Indonesia No 63 (2000): Jurnal Antropologi Indonesia No 62 (2000): Jurnal Antropologi Indonesia No 61 (2000): Jurnal Antropologi Indonesia No 60 (1999): Jurnal Antropologi Indonesia No 59 (1999): Jurnal Antropologi Indonesia No 58 (1999): Jurnal Antropologi Indonesia No 57 (1998): Jurnal Antropologi Indonesia No 56 (1998): Jurnal Antropologi Indonesia No 55 (1998): Jurnal Antropologi Indonesia No 54 (1997): Jurnal Antropologi Indonesia No 53 (1997): Jurnal Antropologi Indonesia No 52 (1997): Jurnal Antropologi Indonesia No 51 (1995): Jurnal Antropologi Indonesia No 50 (1992): Jurnal Antropologi Indonesia No 49 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia No 48 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia No 47 (1989): Jurnal Antropologi Indonesia No 44 (1986): Berita Antropologi No 43 (1986): Berita Antropologi No 42 (1986): Berita Antropologi No 41 (1986): Berita Antropologi No 40 (1985): Berita Antropologi No 39 (1980): Berita Antropologi No 38 (1980): Berita Antropologi No 37 (1980): Berita Antropologi No 36 (1980): Berita Antropologi No 35 (1978): Berita Antropologi No 34 (1978): Berita Antropologi No 32-33 (1977): Berita Antropologi No 31 (1977): Berita Antropologi No 30 (1977): Berita Antropologi Terbitan Khusus No 21 (1975): Berita Antropologi No 20 (1975): Berita Antropologi No 19 (1975): Berita Antropologi No 23 (1974): Berita Antropologi Terbitan Khusus No 18 (1974): Berita Antropologi No 17 (1974): Berita Antropologi No 15 (1974): Berita Antropologi No 14 (1974): Berita Antropologi Terbitan Khusus No 3 (1973): Berita Antropologi Terbitan Khusus No 11 (1972): Berita Antropologi No 9 (1972): Berita Antropologi No 8 (1972): Berita Antropologi No 7 (1972): Berita Antropologi No 6 (1972): Berita Antropologi No 2 (1972): Berita Antropologi Terbitan Khusus No 1 (1972): Berita Antropologi Terbitan Khusus No 5 (1971): Berita Antropologi No 4 (1971): Berita Antropologi No 3 (1969): Berita Antropologi No 2 (1969): Berita Antropologi No 1 (1969): Berita Antropologi More Issue