Jurna lAntropologi Indonesia
ANTROPOLOGI INDONESIA was published to develop and enrich scientific discussion for scholars who put interest on socio-cultural issues in Indonesia. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Editors welcome theoretical or research based article submission. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The criteria of the submitted article covers the following types of article: first, the article presents the results of an ethnographic/qualitative research in certain topic and is related with ethnic/social groups in Indonesia; second, the article is an elaborated discussion of applied and collaborative research with strong engagement between the author and the collaborator’s subject in implementing intervention program or any other development initiative that put emphasizes on social, political, and cultural issues; third, a theoretical writing that elaborates social and cultural theory linked with the theoretical discourse of anthropology, especially in Indonesia anthropology; last, the article is a critical review of anthropological reference and other ethnography books that must be published at least in the last 3 years.
Articles
579 Documents
To-Kaili (Orang Kaili)
Andi Mattulada
Antropologi Indonesia No 48 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
"...[...] Orang Kaili mengidentifikasi diri sebagai To-Kaili karena adanya persamaan dalam bahasa dan adat istiadat leluhur yang satu dipandang menjadi sumber asal mereka, bahasa Kaili dalam arti lingua-franca dalam kalangan semua To-Kaili, digunakan secara umum. Di samping itu terdapat banyak dialek bahasa Kaili yang juga menjadi identifikasi (seringkali tajam) dari subkultur atau subetnik To-Kaili yang berdiam pada wilayah-wilayah yang seringkali masih sangat terisolasi."
Some Notes on Clifford Geertz’s Interpretive Anthropology
Achmad Fedyani Saifuddin
Antropologi Indonesia No 49 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Salah satu persoalan dalam filsafat ilmu sosial adalah bagaimana menjelaskan (explain) tindakan-tindakan manusia yang beranekaragam secara ilmiah. Apakah kita dapat menerapkan metode-metode ilmu alam atau ada cara lain yang lebih tepat menjelaskannya? Para ilmuwan sosial masih terus berupaya menemukan the best way untuk menjelaskan gejala-gejala sosial meskipun mereka tetap belum puas. Thomas Kuhn berpendapat bahwa ilmu sosial - tidak seperti ilmu alam - masih terlibat dalam diskusi metodologi yang tidak habis-habisnya karena belum mampu mencapai suatu kesepakatan mengenai paradigma-paradigma umum untuk membatasi masalah-masalah dan prosedur penelitian. Artikel ini berusaha mendiskusikan pandangan interpretive dari Clifford Geertz dalam mengkaji kebudayaan dan masyarakat serta kedudukannya dalam konstelasi metodologi ilmu sosial. Ada 2 alasan mengapa perlu mendiskusikan masalah ini: (1) pandangan interpretive terhadap gejala-gejala sosial merupakan perkembangan penting dalam ilmu sosial selama 2 dasawarsa; (2) C.Geertz yang banyak dipengaruhi teori Talcott Parsons telah mengembangkan gagasan yang kaya dan luar biasa tentang bagaimana melihat dan menganalisis kebudayaan dan masyarakat. Perhatiannya tidak hanya pada masalah antropologi tetapi juga pada ilmu sosial pada umumnya.
The Introduction of Money as Either the Causes or the Symbol of Destruction of the Moral Economy
J. Emmed Prioharjono
Antropologi Indonesia No 49 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini akan membahas dan menjawab pertanyaan apakah pengenalan akan uang merupakan penyebab atau bersifat destruktif terhadap moral ekonomi. Pembahasan masalah ini sendiri akan mengkaji uraian beberapa ahli antropologi yang bertitik tolak dari sudut pandang yang berbeda-beda. Argumentasi utama mereka pada dasarnya menjelaskan bahwa konsep uang mempumyai arti yang berbeda-beda sesuai dengan masyarakat pendukung konsep tersebut. Di lain pihak simbolisme uang secara khusus harus dianalisa dalam kerangka yang spesifik
Sejarah Teori Antropologi II
Nursamsiah Asharini;
Djaka Soehendera
Antropologi Indonesia No 49 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
"Buku ini merupakan kelanjutan dari buku Sejarah Teori Antropologi Jilid I yang terbit delapan tahun lewat. Bilamana jilid pertama menguraikan berbagai teori antropologi yang grand (besar) - seperti teori Evolusi, Difusi, teori strukural-fungsional - buku jilid II pun berisi berbagai teori antropologi yang juga terkenal dan perlu diketahui. Namun kajiannya mengacu pada skema tersebut diulas konsep-konsep dalam antropologi psikologi dan berbagai pedekatan dalam subkajian antropologi spesialisasi (antropologi ekonomi, politik, hukum dan juga antropologi pendidikan)."
Folklor Indonesia dan Jepang: Suatu Studi Perbandingan
James Danandjaja
Antropologi Indonesia No 49 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
There are more similarities than differences in the development of folklore as a separated discipline in Indonesia and Japan. Folklore studies in Japan were started in 1930 while in Indonesia since 1972. As a result the Japanese has already developed their own theories and methods, while in Indonesia is still depending on the ones developed in Europe and United States. The similarities are both developed in order to look for their respected national identity. And it is interesting to note that there are many tale types and tale motifs that is similar in both countries.
Menghuni Lumbung: Beberapa Pertimbangan Mengenai Asal-Usul Konstruksi Rumah Panggung di Kepulauan Pasifik
Koji Sato
Antropologi Indonesia No 49 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The architecture of stilt house - as the form of traditional house - in pacific region shows some basic similarities. House constructions that consist of bottom structure-primary structure - top structure are in accordance with cosmic classification, i.e. lower world - human world - upper world. In this comparative study, the author tries to show that stilt-house basically is the development of granary architecture. In many societies granary is a sacred place where occasional rituals are undertaken. The couch underneath the granary is often used for activities even for living places. The author argues that formerly people lived in granary and then changed to be stilt-house. Using some examples from various ethnic groups in the Philippines, Japan, New Zealand and Indonesia he explains that the attic id a place for gods and sacred things.
Cultural Models and Socio-Religious Change: an Example from South Sulawesi
Martin Rössler
Antropologi Indonesia No 49 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Selama 4 dasawarsa kehidupan penduduk Sulawei Selatan mengalami perubahan-perubahan yang radikal karena pengaruh pemerintah kolonial maupun perubahan administratif. Seperti terlihat pada komunitas desa yang diteliti penulis di daerah dataran tinggi Gowa, masuknya Islam setelah 1910 turut mengubah kehidupan keagamaan dan paling penting adalah pemukiman kembali seluruh penduduk desa dari lembah sungai ke jalan utama pada sekitar tahun 1970. Penulis mengkaji tentang prinsip organisasi sosial dan keagamaan setempat, serta berbagai perubahan sosial pada tingkat makro dan mikro. Struktur normatif yang fundamental dari masyarakat setempat dapat dipahami sebagai model abstrak yang didasarkan atas beragam hubungan simbolis antara organisasi sosial dan dunia gaib (supernatural). Model apapun dari suatu komunitas sosial - apakah di formulasikan oleh antropolog atau informan lokal - dalam kenyataan merupakan sutau konstruksi yang didasarkan atas pengamatan dan panafsiran serta diekspresikan dalam bentuk verbal atau tulisan. Model budaya seperti itu dapat tidak sesuai dengan realitas sosial karena kehidupan sosial untuk sebagian besar ditentukan oleh norma-norma yang berbeda, konflik kepentingan dan ketidaksamaan pengetahuan yang dimiliki anggota masyarakat. Penulis berpendapat perlunya mengganti model yang dibentuk oleh anggota-anggota masyarakat dengan suatu model yang lebih terbuka sebagai titik tolak analisis bagi etnografer, yaitu apa yang disebutnya "open cultural model".
Ambiguity in Property Rights: Lesson from the Kayan of Kalimantan
Mering Ngo
Antropologi Indonesia No 49 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Badan Pertahanan Nasional sebenarnya masih memiliki sejumlah "pekerjaan rumah". Salah satunya adalah bagaimana menerapkan UU Pokok Agraria sesuai dengan keragaman kenyataan di lapangan yang tersebar di seluruh Indonesia. Apakah kita sudah memiliki suatu peta tanah adat masyarakat yang aktual dan empirik? Melalui tulisan ini penulis hendak menunjukkan betapa peliknya masalah tanah adat dan faktor-faktor yang terkait dengannya, khususnya di Kalimantan. Pendekatan terhadap masalah pertanahan selama ini cenderung seragam, searah dan legalistik sehingga mengalami kesulitas ketika berhadapan dengan keragaman sistem lokal khususnya dalam menetapkan status kepemilikan rumah. Penulis memberi contoh mengenai masih lazimnya status kepemilikan tanah berdasarkan tradisi lisan dan turun-temurun. Pada bagian akhir ia mengusulkan perlunya satu gambaran untuk peta tanah adat berikut corak penguasaan, status kepemilikan, dan pola pemanfaatannya.
Perladangan Padi Paya Suku Kantu di Kalimantan Barat
Michael Dove
Antropologi Indonesia No 49 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Briefly, the author describes about swamp-rice swiddens of the Kantu' in the upper reaches of the Kapuas river valley, West Kalimantan. Besides the cultivation of dry-swiddens, the Kantu' can utilize swamp-land surrounding their place to increase their food because it result a quite high harvest. The return of per work-day in the swamp-swiddens compared with in the dry-swiddens is 11,3 liters/day with 9,7 liters/day. However, the other things more important are planning in the swamp-land relatively "safe" since only such land which is immune to the ever-present threat - along the river - of flooding, and the brief fallow periods just take 1,2 to 2,5 years.
Dinamika dan Perubahan Sosial (Kasus Orang Melayu di Sumatera Timur)
Usman Pelly
Antropologi Indonesia No 49 (1991): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Both ecological and population changes are important factors to encourage social and cultural changes in a society. Such changes might not be absorbed and accepted if it against community cultural values and it might raises and inner obsession. Hence, it leads missing cultural ethos and identity in society. This article elaborates those problems - from historical perspective - with a case of Malay people In East Sumatera. The ecological and population changes have happened since 19th century when Dutch founded wide plantations. With coming of various ethnic groups to East Sumatera, it insisted Malays to be minority in terms of occupation, political government, business and number of population especially in urban areas. It occurred necession and indifferent attitude (apathy) of Malay towards the fast changes.