cover
Contact Name
Sarip Hidayat
Contact Email
mohsyarifhidayat@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
metasastra@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra
ISSN : 20857268     EISSN : 25032127     DOI : -
Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra is a journal published by Balai Bahasa Jawa Barat, ISSN printed 2085-7268 and ISSN online 2503-2127. This journal is a literary research journal that publishes various research reports, literature studies, and literary papers on literature. Published periodically twice a year in June and December. This journal also serves as a media dissemination of information research results and literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 4, No 2 (2011)" : 13 Documents clear
HALAMAN DEPAN: Metasastra Vol 4, No 2, Desember 2011 Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.%p

Abstract

BUDAYA TIONGHOA DI INDONESIA DALAM SEBUAH CERPEN LAN FANG (Chinese-Indonesian’s Culture in Indonesia in a Short Story by Lan Fang) Ariyanti, Ariyanti
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.116-122

Abstract

Lan Fang adalah seorang penulis keturunan Tionghoa. Karya-karyanya banyak menampilkan budaya Tionghoa. Salah satu karya Lan Fang yang cukup menarik adalah sebuah cerpen yang berjudul “Yang Liu”.  Dalam cerpen tersebut Lan Fang menggambarkan dengan jelas bagaimana orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia melakukan prosesi pemakaman jenazah. Selain itu, Lan Fang juga menyelipkan beberapa kosakata Mandarin dan menjelaskan kosakata tersebut sebagai upaya memperkenalkan bahasa Mandarin pada pembaca. Tulisan ini mendeskripsikan bagaimana Lan Fang menjadikan budaya Tionghoa di Indonesia sebagai latar belakang cerita, budaya apa saja yang ditampilkan, dan makna simbol-simbol yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.Abstract:Lan Fang is a Chinese-Indonesian writer. In her works, she shows Chinese-Indonesian’s culture. One of her interesting works is a short story called Yang Liu. In Yang Liu, Lan Fang clearly describes funeral procession in her culture. Introducing Mandarin Language, Lan Fang gives some Mandarin words with its explanations. This writing desribes how Lan Fang uses the Chinese-Indonesian’s culture as her strory background, which kind of culture that she presented and the meanings of its symbol that she representated s.This research uses descriptiv method with qualitative approach.
BENTUK, FUNGSI , DAN MAKNA TRADISI LISAN “MABEBASAN” DALAM UPACARA KEAGAMAAN DI JAWA TIMUR (Form, Function, and Meaning of The Oral Tradition “Mabebasan” in Religious Ceremony in East Java) Tanjung Turaini, Ni Nyoman
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.171-180

Abstract

Dharma Gita adalah lagu-lagu keagamaan atau lebih dikenal dengan nyanyian tentang nilai- nilai kebenaran. Nyanyian ini berfungsi sebagai media untuk mengembangkan nilai keagamaan karena di dalamnya terkandung sastra-sastra agama. Yang termasuk dalam Dharma Gita adalah Seloka, Palawakya, Kakawin, Kidung, dan Geguritan. Melagukan nyanyian-nyanyian keagamaan di Bali disebut makidung, makakawin, mageguritan atau mamutru. Bila makakawin disertai dengan memberikan arti dan ulasan, kegiatan itu disebut mabebasan. Mabebasan merupakan seni tradisional masyarakat (Hindu) di Bali, tidak dapat dipisahkan dari kehidupan adat-istiadat sehari-hari. Seni mabebasan hampir selalu hadir pada setiap pelaksanaan upacara keagaamaan. Sebagai seni tradisional, mabebasan saat ini berkembang dengan pesat dalam masyarakat. Salah satu di antaranya adalah Mabebasan Utsawa Dharma Gita, yaitu membaca ayat-ayat suci dari kitab Weda yang diselenggarakan di tingkat kabupaten, propinsi, dan tingkat nasional. Makalah ini bertujuan untuk mengungkapkan makna yang terkandung dalam lirik nyanyian atau kidung yang dilantunkan dalam kegiatan tersebut. Pemaknaan akan diungkapkan melalui proses kajian hermeneutik dengan harapan dapat mengupas nilai-nilai keagamaan bagi kehidupan sosial budaya masyarakat Hindu, khususnya di Jawa Timur, sebagai medium untuk mempertahankan kearifan lokal yang terdapat dalam lingkungan masyarakat sebagai khazanah memperkaya budaya nasional.Abstract: Dharma Gita is a religious song, or better known as the singing of the true values. This song serves as a medium to develop the religious value because it contains a religious  literature. What is included in the Dharma Gita is Seloka, Palawakya, Kakawin Kidung and Geguritan.Singing religious songs in Bali is called makidung, makakawin, mageguritan  or mamutru.  W h en  ma ka ka win is  accompanied by  giving meaning and  reviews, the  called mabebasan. Mabebasan is the traditional art community (Hindism) in Bali that cannot be sepa- rated  from the customs of everyday ‘s life . Art mabebasan is mostly presented   at every religious ceremony . As a traditional art, mabebasan is currently growing rapidly in the community. One of them is mabebasan Utsawa Dharma Gita, the  reading of holy verses from the Vedas usually  held in the district, provincial, and national levels. a ct i vi t y  a re This paper is aimed at  revealing  the meaning contained in the lyrics of the song  sung in these activities. Meaning will be obtained  through a review process intended to find out religious values to social and cultural life of the Hindu community, especially in East Java. It is used  as a medium to preserve local wisdom existed  in the community as a treasure to enrich the national culture.
MUNDINGLAYA DIKUSUMAH: SATU KAJIAN MORFOLOGI ATAS CERITA PANTUN SUNDA (Mundinglaya Dikusumah: A Morphological Study in Sundanese Poem) Rahmat Hidayat, Asep
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.123-133

Abstract

Mundinglaya Dikusumah merupakan satu cerita pantun Sunda yang cukup populer. Cerita ini merupakan salah satu jenis dari tradisi lisan Sunda. Sumber tertulis tentang cerita Mundinglaya Dikusumah yang sering dijadikan rujukan adalah publikasi C.M. Pleyte, Raden Moending Laja di Koesoema: Een Oude Soendaasche Ridderroman Met Eene Inleiding over den Toekang Pantoen (TBG 49, 1907). Artikel ini bertujuan mendeskripsikan fungsi-fungsi yang terdapat dalam Mundinglaya Dikusumah dengan cara menganalisis cerita itu secara morfologis. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah analisis morfologi yang dilakukan Vladimir Propp terhadap cerita-cerita rakyat Rusia. Dengan metode tersebut akan terlihat fungsi-fungsi apa saja yang ada dan yang tidak ada dalam cerita tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam cerita Mundinglaya Dikusumah terdapat 14 fungsi yang sama dengan fungsi Propp dan 17 fungsi yang terdapat dalam Propp tidak terdapat dalam cerita Mundinglaya Dikusumah.Abstract:Mundinglaya Dikusumah is one of the most popular Sundanese poem. It belongs to the Sundanese oral tradition. The written record of Mundinglaya Dikusumah has mostly been used as reference. It is C .M. Pleyte’s p ublicat ion, Ra den Moending L aja di Koesoema: Een Oude Soendaasche Ridderroman Met Eene Inleiding over den Toekang Pantoen (TBG 49, 1907). The study is aimed at describing functions in Mundinglaya Dikusumah by analyzing its story morpho- logically. The method used in  the article is morphological analysis of Russian fairtales. The method show, which kind of function not found in the story. The result of the research shows that the Mundinglaya Dikusumah story consists of 14 functions having the same function as Propp that in and 17 functions not found in Mundinglaya Dikusumah.
MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PUISI RELIGIUS ISLAMI DENGAN TEKNIK PENGAMATAN OBJEK YANG BERORIENTASI PADA PENGEMBANGAN KARAKTER (STUDI EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS V SDIT NUR AL RAHMAN) (Learning Model of Islamic Religious Poetry Writing with the Object Oriented Techniques Observations on the Character Development ([Experimental Studies on year-5-student in SDIT Nur al-Rahman]) Rohayati, Rohayati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.181-194

Abstract

Penelitian ini berjudul “Model Pembelajaran Menulis Puisi Religius Islami dengan Teknik Pengamatan Objek yang Berorientasi pada Pengembangan Karakter di Kelas V SDIT Nur Al Rahman Kota Cimahi ( Model PMPRI ).” Penelitian ini diawali dengan adanya kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa dalam pembelajaran menulis puisi di SD dan mengembangkan karakter religius. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Data diperoleh dengan teknik random undian. Instrumen pengumpulan data berupa tes dan observasi lapangan. Untuk analisis data kuantitatif digunakan teknik analisis statistik menggunakan program SPSS. Hasil dari penelitian dan perhitungan statistik menggunakan program SPSS dengan uji t didapatkan hasil 0,000 dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil perhitungan di bawah 0,005 berarti signifikan, dapat dikatakan bahwa perlakuan yang diberikan kepada kelas eksperimen yang  mendapat perlakuan dengan model PMPRI memberikan hasil efektif jika dibandingkan dengan hasil  kelas kontrol  yang  mendapat perlakuan dengan teknik ceramah. Nilai rata-rata prates dan postes kelas eksperimen 70,1429 menjadi 82, 1190, sedangkan kelas kontrol  70,7073 menjadi 77,3659.Abstract:This study entitles Learning  Model  of Islamic  Religious  Poetry  Writing with  the Object Oriented  Techniques Observations on the Character Development (Experimental Studies on year- 5 - to improve student’s writing   skills in learning how to write poetry in elementary school. It is also intended in developing  religious character. student in SDIT Nural -Rah man).  The research  was  initiated  by the need The  study applies a quantitative approach with experimental methods. Data was obtained by random  lottery  technique.  The data collection technique was  taken by conducting a test and field  observations. For quantitative data analysis, the writer uses SPSS. The result of research taken from SPSS show that T- test is  obtained 0.000 with 95% of  confidence level. The result of the calculation is  below 0.005 so it  means significant result. It can be said that  the treatment given to the   experimental  class   treated   with  PMPRI models    gives more  effective results than  those in the control class  with the speech technique.  The prates average value      and   post test  in experimental classes indicates  70,1429  to  82, 1190, while the control class is 70,7073 to 77,3659.
Abstrak Bahasa Inggris Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.%p

Abstract

ANTROPONIMI DAN TOPONIMI UNIVERSAL DI DALAM STRUKTUR NARATIF SASTRA SUNDA BUHUN (KAJIAN SEMIOTIK TERHADAP KELISANAN CARITA PANTUN DAN KEBERAKSARAAN WAWACAN SANGHYANG JAGATRASA) (Universal Antrophonimy and Toponimy in Narrative Structure of Old Sundanese Literature: A Semiotic Study on Orality of Carita Pantun and Literacy of Wawacan Sanghyang Jagatrasa) Koswara, Dedi
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.134-149

Abstract

Objek pembicaraan pada tulisan ini meliputi dua ranah studi, yaitu sastra lisan Carita Pantun Sanghyang Jagatrasa (CPSJ) dan sastra tulis naskah Wawacan Sanghyang Jagatrasa (WSJ). Masalah yang diangkat berkenaan dengan:(1) transformasi antara kelisanan CPSJ dan keberaksaraan WSJ, (2) struktur formal puisi naratif CPSJ dan struktur formal sastra tulis WSJ, dan (3) makna semiotik di balik antroponimi dan  toponimi universal yang tertuang pada CPSJ dan WSJ.  Pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah itu, yaitu (1) pendekatan sastra lisan dan (2) pendekatan sastra tulis. Berdasarkan hasil  penerapan pendekatan sastra lisan ditemukan (1) CPSJ memiliki 8 formula, 13 fungsi, dan 7 lingkungan tindakan, sedangkan berdasarkan penerapan sastra tulis terhadap WSJ diketahui bahwa WSJ memiliki 6 model aktan dan 3 model fungsional, (2) transformasi antara kelisanan CPSJ ke keberaksaraan WSJ terdapat pada konvensi kesastraan, teknik naratif, ungkapan formula, kosakata, dan konstruksi kalimat. Adanya transformasi tersebut, secara semiotik, dapat dimaknai sebagai suatu upaya pelestarian nilai-nilai moral yang termuat dalam CPSJ ke dalam era WSJ sejalan dengan situasi dan kondisi serta minat masyarakat Sunda pada zamannya, (3) Munculnya antroponimi dan toponimi universal di dalam CPSJ dan WSJ dapat dimaknai secara semiotik sebagai sebuah cermin tentang eksistensi kosmologi Sunda buhun (lama) yang pernah hidup di dalam masyarakat Sunda pada zamannya.Abstract:The discussion of this paper focuses on two problems, orality of Carita Pantun Sanghyang Jagatrasa (CPSJ) and literacy of Wawacan Sanghyang Jagatrasa (WSJ). The research question is to answer  the basis of the two problems.They include the following statement (1)  transformation between CPSJ orality and WSJ literacy (2)the formal structure of CPSJ narrative poetry and of WSJ written literature? (3) semiotic meaning within universal anthroponimy and tophonimy  in CPSJ  and WSJ. The approach used in the study is aimed at solving problems dealing with the following concerns, (1) oral literary approach  and (2) written literary approach. The findings based on the applica- tion of literary  approach are as follows: (1) in the CPSJ  there are 8 formulas, 13 narrative functions, and 7 setting (spheres) of acts, while in the WSJ,  there  are six models of acts and three functional models. (2) Transformation from CPSJ orality into WSJ literacy can be found in literary convention, narrative techniques, formula expressions, vocabulary, and sentence constructions. The transformation of CPSJ can be semiotically considered an effort of preserving moral values in CPSJ into WSJ era along with the situation and conditions as well as interest of the Sundanese community.  The emerge of The universal anthroponimy and tophonimy can be semiotically meant as a symbol of  the existence of old Sundanese that was known in Sundanese society.
RESEPSI PEMBACA TERHADAP TJERITA NJAI DASIMA (Reader Reception toward Tjerita Njai Dasima) Sungkowati, Yulitin
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.195-207

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan perubahan resepsi pembaca terhadap Tjerita Njai Dasima dengan teori resepsi sastra dan metode resepsi diakronis. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa sejak era kolonial hingga era reformasi Tjerita Njai Dasima telah mendapat tanggapan berupa karya-karya baru dalam bentuk puisi, prosa, teks drama, skenario film, film, sinetron, dan drama musikal. Perubahan resepsi terjadi dari generasi ke generasi seiring dengan perubahan zaman dan perubahan horison harapan pembacanya. Resepsi pada masa sebelum kemerdekaan menunjukkan ideologi prokolonial dan pada era awal kemerdekaan sebaliknya, antikolonial. Resepsi pembaca yang muncul di era Orde Baru berisi kritik sosial terhadap pembangunan dan di era reformasi memperlihatkan semangat pluralisme dan kebebasan.Abstract:This paper is aimed  at  describing the  form and the change reader reception  toward Tjerita Njai Dasima by using reception of literary theory and diachronic reception method. This research  revealed that since colonial period until reformation period, Tjerita Njai Dasima got appreciation  in the form of new literary works such as poem, prose, drama text, film scenario, film, series, and musical drama. The change of reception  can be seen  from generation to generation, together with the development  and reader ’s horizon  expectation. The reception before indepen- dence showed procolonial ideology. While,  in the early independence period tended to be  antico- lonial. Reader reception emerged  in the new era period showed  social critic toward development, while  in the reformation period was  in the form of  spirit of pluralism and freedom.
INDEX DAN PANDUAN PENULIS Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.%p

Abstract

ANTROPOLOGI  SASTRA: PERKENALAN AWAL (Anthropology Literature: an Early Introduction) Kutha Ratna, I Nyoman
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2011.v4i2.150-159

Abstract

“Antropologi Sastra: Perkenalan Awal”, judul artikel ini mendeskripsikan atau mengenalkan sebuah teori yang relatif baru dalam sejarah pendekatan terhadap karya sastra, yaitu antropologi sastra. Secara panjang lebar, di dalam artikel dijelaskan perbedaan antara istilah antropologi sastra dan sastra antropologi serta hubungan kedua istilah tersebut. Kemudian, dijelaskan pula tentang sejarah lainnya, yaitu antropologi sastra, identifikasi antropologis dalam karya sastra dan antropologi sastra di masa depan. Dalam penutup disampaikan bahwa antropologi sastra memiliki kemampuan maksimal untuk mengungkapkan berbagai permasalahan yang muncul dalam karya sastra, seperti masalah kearifan lokal, sistem religi, dan masalah kebudayaan yang lain.Abstract:This article describes   a relatively new theory in the history of literary work approach, the anthropological literature. At length, the article explains that the difference between the terms of literary anthropology and anthropology and the relation between those terms.  Then, it also discusses another history of literary anthropology, anthropological identification in literary work and anthropological literature in the future. In closing it is submitted that the anthropological literature has the maximum ability to describe various problems emerged in literary works, such as the problem of local wisdom, religion, and other cultural issues.

Page 1 of 2 | Total Record : 13