cover
Contact Name
Sarip Hidayat
Contact Email
mohsyarifhidayat@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
metasastra@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra
ISSN : 20857268     EISSN : 25032127     DOI : -
Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra is a journal published by Balai Bahasa Jawa Barat, ISSN printed 2085-7268 and ISSN online 2503-2127. This journal is a literary research journal that publishes various research reports, literature studies, and literary papers on literature. Published periodically twice a year in June and December. This journal also serves as a media dissemination of information research results and literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue " Vol 8, No 2 (2015)" : 15 Documents clear
KONSTRUKSI GENDER DALAM NOVEL UTSUKUSHISA TO KANASHIMI TO KARYA YASUNARI KAWABATA (Gender Construction in Yasunari Kawabata’s Utsukushisa To Kanashimi To) Wulandari, Anastasia Dewi; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.179-192

Abstract

Novel Utsukushisa to Kanashimi to merupakan sebuah karya Yasunari Kawabata yang diterbitkan pada tahun 1969. Penelitian diawali dengan menganalisis apa saja bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dialami Otoko dalam lingkup patriarki dengan menggunakan teori kritik sastra feminis. Kritik sastra feminis merupakan salah satu disiplin ilmu yang menekankan penelitian sastra dengan perspektif feminis. Hal yang penting dalam analisis kritik sastra feminis adalah bagaimana perempuan ditampilkan, bagaimana suatu teks membahas relasi gender serta apa saja ide-ide feminis yang terdapat dalam cerita. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Otoko mengalami beberapa ketidakadilan gender. Bentuk-bentuk ketidakadilan gender tersebut antara lain marjinalisasi, subordinasi, stereotipe, dan kekerasan seksual. Sementara itu, ide-ide feminis yang terkandung dalam cerita adalah kemandirian seorang perempuan dalam lingkup budaya patriarki.Utsukushisa to Kanashimi to novel was written by Yasunari kawabata, published 1969. This research followed by the analysis of gender construction Otoko within patriarchy environment. Feminist literature critism is a discourse emphasizing on how literature should be done through feminist perpektive. The important things of feminist literature critism are how the women are described, how a text could be related to gender, and any feminist ideas depicted in the story. The result of this research prove that Otoko faces gender construction such as marginalization, subordinations, sterotyping and sexual violences. Meanwhile, the ideas of feminism in the story are about a woman’s independence.
KEMATIAN DAN PERASAAN KEHILANGAN: KONSTRUKSI IDENTITAS QUEER DALAM EMPAT KARYA YOSHIMOTO (Death And Sense of Loss: Queer Identity Construction in Four Yoshimoto’s Works) syukur, andi abd khaliq; Priyatna, Aquarini; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.193-210

Abstract

Empat novelet Yoshimoto, yaitu Kitchen (1988), Moonlight Shadow (1988), Hardboiled (2001), dan Hardluck (2001) menghadirkan kematian dan perasaan kehilangan di awal narasi. Kematian dan perasaan kehilangan membuka probabilitas baru sebagai bagian konstruksi identitas queer, seperti kematian sebagai pemutusan matrix heteroseksual, perasaan kehilangan sebagai perubahan identitas gender, penerimaan orang asing sebagai anggota keluarga, hubungan bersifat inses, homoseksualitas perempuan, transgenderisme, dan perubahan peran dalam anggota keluarga. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis cara kematian dan perasaan kehilangan membuka probabilitas identitas queer dalam narasi Yoshimoto. Sedangkan untuk melihat bentuk identitas queer, penelitian ini menggunakan teori performativitas dari Butler untuk menunjukkan ketaksaan identitas gender dan seks.Hasil penelitian menunjukkan kematian dapat membuka probabilitias yang mengarah pada penghadiran identitas queer dan performativitas identitas queer menyajikan performativitas tokoh yang terus-menerus berubah, bergerak, dan tidak memiliki pusat.Abstract: Four novelettes of Yoshimoto’s, which are Kitchen (1988), Moonlight Shadow (1988), Hardboiled (2001), and Hard Luck (2001) bring death and sense of loss in the beginning of the narrative. The death and sense of loss give new probabilities as parts of the queer identity constructions, for instance the death as the partition of the heterosexual matrix, the loss feelings as a gender identity alteration, agree to accept foreigners as members of the family, the relationship tend to be incest, female homosexuality, transgenderism, and change the family members role. This study conducted to analyze the way of death and loss feelings give probabilities of queer identity in the Yoshimoto’s narration.As for seeing theshape ofqueeridentity, The research applies Butler’s thinking on gender performativity to analyze how ambiguous sexual and gender identities are presented. The research finds that the probabilityof deathcanopen upleads toqueeridentity and  the analysis of queer identity’s performativity on character’s performativity in the novelettes renders it possible for sexual and gender construction to be constantly changing and everlastingly displaced performances.
Petunjuk Penulisan Metasastra Vol 8, No 2, Desember 2015 mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.%p

Abstract

REFLEKSI BUDAYA BALI DALAM CERPEN TOGOG KARYA NYOMAN MANDA Sukrawati, Cokorda Istri
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.249-260

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan aspek budaya Bali yang terkandung dalam salah satu cerpen Bali modern berjudul “Togog” dengan teori antropologi sastra. Teori tersebut merupakan salah satu teori dalam kritik sastra yang menelaah hubungan antara sastra dan budaya. Hal utama yang menjadi fokus pengamatan adalah bagaimana sastra itu digunakan sehari-hari sebagai tindakan bermasyarakat. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode studi pustaka, mengingat sumber data berupa sumber tertulis, sedangkan analisis data dilakukan dengan metode deskriptif analisis. Untuk melancarkan proses pengumpulan data, metode tersebut dibantu dengan teknik catat, yaitu mencatat temuan data yang akan dijadikan model analisis. Data-data yang diperoleh dianalis dengan metode deskripsi, yaitu memerikan, menggambarkan, menguraikan, dan menjelaskan objek yang dikaji. Hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu deskripsi tentang aspek-aspek budaya Bali, yang terefleksi atau tercermin dalam cerpen ”Togog”.Abstract: This paper aimed to describe aspects of Balinese culture that is contained in one of the Balinese modern short story titled "Togog" by using theory of anthropological literature. The theory is one of theory in literature criticism that analyzed the relationship between literature and culture. The main thing that becomes the focus of this study is how literature was used daily as social action. The method used in collecting the data in the study is the method of literature review, since the source of the data is in the form of written sources, while the data analysis was conducted using descriptive analysis.To expedite the process of collecting data, the method assisted with technical note, the recorded and noted data will serve as a model of analysis. The obtained data were analyzed by the descriptive method, which describe, depict, elaborate, and explain the object being studied. The results to be achieved in this study, is the description of aspects of anthropology, such as religion, customs, livelihoods, and traditional arts performing in the short story "Togog".
SABDOPALON DAN NAYAGENGGONG SEBAGAI VIDŪṢAKA DALAM SERAT BABAD PATI Hakim, Moh. Taufiqul
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.275-288

Abstract

Penelitian ini mendudukkan Serat Babad Pati (selanjutnya disingkat SBP) sebagai teks sastra. Babad, atau sastra babad, diartikan sebagai buku yang membicarakan sejarah suatu daerah dan golongan masyarakat menurut anggapan waktu itu. Melalui gagasan Edward Said, yakni hermeneutika filologi, didapati pemahaman bahwa Sabdopalon dan Nayagenggong berperan sebagai pamong Raden Kembangjaya yang mempunyai sifat jenaka (vidūṣaka). Mereka senantiasa bergurau kala mendampingi sang majikan. Lebih dari itu, Nayagenggong yang juga berperan sebagai ayah Sabdopalon, berkedudukan sebagai yajamāna. Dalam tataran ritual, yajamāna ialah seorang pengatur perang. Sementara, tokoh yang berperan sebagai yajña, atau ‘yang diatur’ di dalam peperangan ialah Raden Kembangjaya, pendiri Kadipaten Pesantenan, cikal bakal Kadipaten Pati. Nayagenggong berjasa atas kemenangan Negeri Carangsoka atas Paranggaruda. Pertapa tua ini menyuruh Raden Sukmayana, raja Negeri Carangsoka untuk menyerahkan keris Kyai Rambut Pinutung kepada Kembangjaya. Dengan begitu, pemimpin Paranggaruda, Adipati Yujopati dapat dikalahkan dan terciptalah perdamaian dunia.Abtract: This study seated Serat Babad Pati (here in after abbreviated SBP) as a literary text. Chronicle, or literary chronicle, defined as books that talk about the history of an area and community groups under the assumption that time. Through the idea of Edward Said, the hermeneutics of philology, found understanding that Sabdopalon and Nayagenggong role as guardian Raden Kembangjaya who have a sense of humor (vidūṣaka). They always joked when accompanying the employer. Moreover, Nayagenggong which also acts as a father Sabdopalon, serves as yajamāna. The level of ritual, yajamāna is a regulator of the war. Meanwhile, the figures serve as Yajna, or 'set' in war is Kembangjaya Raden, founder of the Duchy Pesantenan, the forerunner of the Duchy of Starch. Nayagenggong credited Carangsoka State victory over Paranggaruda. The old hermit told Raden Sukmayana, king Carangsoka State to submit a dagger Kyai Rambut Pinutung to Kembangjaya. By doing so, leaders Paranggaruda, Duke Yujopati can be defeated and creating world peace.

Page 2 of 2 | Total Record : 15