cover
Contact Name
adya arsita
Contact Email
adya0258@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
spectajournal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
specta: Journal of Photography, Arts, and Media
ISSN : 26143477     EISSN : 26150433     DOI : -
Jurnal spect? merupakan sebuah jurnal untuk menampung hasil penelitian dan penciptaan seni para akademisi dan praktisi fotografi yang kian hari semakin bertambah banyak dan beragam. Seni dan teknik Fotografi yang semakin maju dan berkembang menimbulkan ide, gagasan, wacana, dan kritik yang bernuansa akademik dan harus mendapatkan wadah yang sesuai untuk memuat semua artikel ilmiah yang dihasilkan. Fotografi yang merupakan perluasan dan pengembangan teknologi lukis, erat hubungannya dengan dunia seni pada umumnya dan lekat juga dengan ranah media. Jurnal ini akan menjadi sarana tampung yang tepat, sesuai dalam kajian dan penciptaan seni fotografi, pembacaan kajian seni serta media. Jurnal spect? diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu Mei dan November, dan dikelola oleh Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia (ADSMRI) dan Asosiasi Program Studi Fotografi Indonesia (SOFIA).
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2017)" : 7 Documents clear
TUBUH DALAM KUASA KAMERA: TINJAUAN KRITIS AKTIVITAS FOTOGRAFIS LOMBA DAN HUNTING BERSAMA MEMOTRET MODEL DI INDONESIA Agus Heru Setiawan
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.871 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i1.1893

Abstract

Popularitas penggunaan figur perempuan sebagai objek dalam aktivitas fotografi di Indonesia, telah berlangsung dalam periode waktu yang panjang. Meskipun begitu, aktivitas tersebut masih tetap digemari oleh kalangan pehobi fotografi hingga hari ini. Popularitas tersebut dibuktikandari berbagai iklan yang menawarkan kegiatan fotografis dengan model perempuan sebagai daya tariknya. Hal ini masih banyak ditemukan, terutama dalam media sosial. Tulisan ini mencoba untukmelakukan pembacaan secara kritis atas aktivitas fotografis di Indonesia (produksi, distribusi dan konsumsi foto) yang menempatkan tubuh perempuan sebagai titik pusatnya. Praktek fotografispopuler tersebut, teridentifikasikan melalui lomba memotret, hunting bersama dan aktivitas sejenis yang melibatkan model perempuan. Di dalam kegiatan fotografi ini, medium foto dan instrumenpendukungnya, bukan hanya dimanfaatkan untuk membentuk praktek pengobjektivikasian terhadap tubuh perempuan, akan tetapi juga membantu melanggengkan gagasan dominasi kuasa patriarkis terhadap perempuan.Kata kunci: kuasa, aktivitas fotografi, model perempuan, patriarkis   Abstract Body in the Power of a Camera: Critical Review on Photographic Activities of Competition and Shared Hunting for Photographing Photo Model in Indonesia. The use of women as the objects of photographic activities has been popular for a long period of time in Indonesia. We can see the popularity of this today from the wide range of ads that offer photographic activities with female models as their major appeal. This is still widely found, especially in social media. This paper attempts to make a critical reading of photographic activities in Indonesia (production, distribution and consumption of photos) which place the female body as the center of attention. These popular photographic practices are photo competitions, photo hunts and others. In these photographic activities, the medium of photography and its instruments do not only shape the practice of objectification of women’s bodies, but also help perpetuate the idea of patriarchal domination over women. Keywords: power, photographic activities, female model, patriarchy
ASPEK PERSEPSI DAN EMOSI DALAM FOTO IKLAN LAYANAN MASYARAKAT “SAFETY RIDING”: KAJIAN FOTOGRAFI DENGAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI Afusa Nidya Kinasih; Irwandi -; Kusrini -
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.148 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i1.1898

Abstract

Kebanyakan kecelakaan yang terjadi dewasa ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kelalaian pengendara, tidak konsentrasinya pengendara saat berkendara, dan melakukan hal yang tidak wajar saat berkendara. Untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak lagi, salah satu langkah konkret yang dilakukan pihak Kepolisian adalah dengan dibuatnya iklan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan kamtibmas. Tujuandari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi dan emosi pemirsa terhadap foto iklan layanan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Adapun sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling, untuk kemudian dianalisis menggunakan teori kritik seni, persepsi, dan emosi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin artistik dan semakin menarik foto yang dibuat, maka pesan yang disampaikan fotografer dapat terbaca dengan jelas.Jenis visual yang yang memperlihatkan dampak langsung akibat kurangnya kesadaran saat berkendara akan membuat responden lebih berhati-hati saat berkendara. Selain itu, ketiga foto yang disajikan dapat menyentuh emosi responden. Hal ini dapat dikatakan bahwa pesan dan informasi yang dibuat oleh fotografer dapat tersampaikan dengan baik.Kata kunci : persepsi, emosi. iklan layanan masyarakat, fotografi
MOBIL MAINAN DIECAST SKALA 1:24 DALAM FOTOGRAFI STILL LIFE Dio Rama Aditia; Zulisih Maryani; Oscar Samaratungga
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.912 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i1.1894

Abstract

Mobil mainan merupakan suatu benda yang biasa dimainkan oleh anak-anak. Akan tetapi berbeda halnya dengan mobil mainan jenis diecast, yakni mobil mainan yang terbuat dari logam kemudian dicetak ke dalam bentuk yang diinginkan. Mobil mainan diecast yang memiliki berbagai macam ukuran tidak hanya dimainkan oleh anak-anak karena pada perkembangannya diecast menjadi karya seni yang menarik untuk dikoleksi dan dipajang salah satunya mobil dengan ukuran skala1:24. Dengan demikian muncul keinginan untuk menampilkan mobil mainan diecast dalam bentuk karya fotografi. Alasan pemilihan ukuran skala 1:24 adalah ukurannya yang terbilang sedang dan mempunyai detail kemiripan yang cukup baik sehingga cocok digunakan untuk foto stilllife. Selain itu, ukuran mobil mainan diecastskala 1:24 juga cenderung kurang diminati oleh para kolektor shingga diharapkan penciptaan karya seni ini dapat meningkatkan minat para kolektorterhadap diecastskala 1:24. Teknik fotografi still life merupakan salah satu metode dalam fotografi yang digunakan untuk keperluan komersial. Teknik still life digunakan untuk mempermudah penataan objek yang dikombinasikan dengan diorama. Kemudian penataan cahaya dan komposisi dalam teknik ini mampu menjadikan sebuah objek menjadi lebih bernilai jual. Ditambah dengan teknik olah digital focus stacking yang membantu menguatkan detail dari sebuah produk mobil mainan. Penciptaan karya fotografi ini bertujuan untuk menampilkan sebuah mobil mainan yang menyerupai mobil sesungguhnya sehingga dapat menarik perhatian penikmat foto dan juga pencinta mobil mainan diecast khususnya yang berskala 1:24. Hasil dari penciptaan karya seni ini didapatkan bahwa mobil mainan yang semula hanya benda mati saja, melalui fotografi dapat diciptakan menjadi sebuah karya seni visual yang tampak lebih nyata. Mobil mainan diecast merek Welly ini banyak ditemukan hasil pengecatan yang kurang maksimal. Akan tetapi, penggunaan set diorama sebagai elemen pendukung sangat membantu untuk menguatkan kesan lebih nyata sehingga secara umum penciptaan karya seni ini dapat menambahkan nilai jual pada mobil mainandiecast skala 1:24.Kata kunci: mobil mainan, diecast skala 1:24, fotografi, stilllife Abstract Diecast Toycar 1:24 Scale in Still Life Photography. A toy car is an object commonly played by children. Diecast is way a different type of toycar which is made of metal and then formed into the desired shape. Diecast cars with variety of sizes not only played by children because in its development the diecast is becoming into an interesting work of art to be collected and displayed, one of them is with a scale of 1:24. Thus, it seems interesting to feature diecast toycars in the form of photography works. The reason for choosing scale of 1:24 is because this size is quite moderate and the detail similarity is good enough so that it will be suitable to be used in still life photography. In addition to that, the size of the 1: 24 scale diecast toycar also tends to be less desirable by collectors so it is expected that the creation of this artwork can increase the interest of collectors for the 1:24 scale diecast. Still life photography technique is one of the methods in photography used for commercial purposes. Still life technique is used to facilitate the arrangement of objects to be combined with diorama. Then, the arrangement of light and composition in this technique can make an object becomes more valuable. Coupled with the technique of digital focus stacking that helps strengthen the details of a toycar product. The creation of this photography work aims to showcase a toycar that resembles a real car so as to attract the attention of photo enthusiasts as well as diecast car enthusiasts especially for 1: 24 scale. The result of the creation of this artwork shows that toycars which were originally only inanimate objects, through photography can be made into a work of visual art that looks more real. The paintings in Welly diecast toyscars are found not really good enough. However, the use of diorama sets as a supporting element is helpful to reinforce a more realistic impression so that in general the creation of this work can add a commercial value to a 1:24 scale diecast toycar. Keywords: toycar, diecastscale 1:24, photography, still life 
EFEK KECANDUAN GAME ONLINE DALAM FOTOGRAFI EKSPRESI Matheus Marsely; Mahendaradewa Suminto; Syaifudin -
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.541 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i1.1899

Abstract

Fotografi bukan begitu saja hadir di antara kita, melainkan melalui sejarahnya yang panjang. Awal terciptanya fotografi dari kamera obscura hingga saat ini memungkinkan kita sebagai pengguna kamera, menangkap realita kedalam media lain yang bisa diperlihatkan kepada siapa saja. Game Online merupakan sebuah gaya hidup baru bagi beberapa orang setiap kalangan anak muda pada umumnya. Menghadirkan efek kecanduan pada game online adalah ide dari penciptaan karya ini. Efek ini memperlihatkan sisi negatif yang sangat merugikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Kecanduan merupakan kondisi terikat pada kebiasaan yang sangat kuat dan tidak mampu lepas dari keadaan itu, seseorang yang kecanduan akan merasa terhukum apabila tak memenuhi hasrat kebiasannya. Penggambaran pada karya dilakukan dengan teknik kolase. Kata kunci : efek, kecanduan, game online, fotografi ekspresi 
ANALISIS SEMIOTIKA PENGGUNAAN ESTETIKA FOTO POTRET DALAM KARYA SENI STENSIL DIGIE SIGIT Fahla Fadhillah Lotan; Edial Rusli; Adya Arsita
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.459 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i1.1896

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana foto potret digunakan sebagai media pencipta visual dalam proses pembuatan karya seni stensil dari seniman Digie Sigit. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif menggunakan pendekatan estetika kemudian dianalisis secara semiotika yang mengkaji tanda-tanda visual yang merujuk pada teori denotasi dan konotasi. Analisis data dalam penelitian ini berupa penjelasan deskriptif yang bersifat eksploratif untuk menggambarkan dan menjelaskan suatu fenomena. Uji validitas data yang digunakan adalah triangulasi data (data triangulations) dengan wawancara terhadap objek yang diteliti dan bisa dipercaya. Berdasarkan analisis data dijelaskan bahwa seni stensil dari Digie Sigit memiliki muatan makna penting yang diutarakannya dengan menggunakan visual sebagai ingatan pada masyarakat. Digie Sigit menggunakan media seni stensil yang berawal dari olah fotografi sebagai metode propaganda yang paling mudah untuk menyasar publik secara luas. Perubahan foto potret secara bentuk yang akhirnya menjadi karya seni grafis memberikan pengaruh dalam tataran metode aplikasi fotografi. Hal tersebut menjadi tambahan pengetahuan tentang aplikasi fotografi yang juga mampu memasuki ranah seni lain selain seni media rekam. Tataran makna yang terkandung dalam karya-karya seni stensil dari Digie Sigit, kekuatan pengaruh tanda-tanda visual menjurus pada denotasi akan karyanya yang diterjemahkan secara konotasi terkait dengan isyarat yang ditampilkannya secara visual sebagai sebuah kritik sosial.Kata Kunci : semiotika, estetika, foto potret, seni stensil
REPRESENTASI BUNGA DALAM FOTOGRAFI EKSPRESI Galuh Paramithasari; Mahendaradewa Suminto; Zulsih Maryani
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.907 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i1.1895

Abstract

Memotret tanpa menggunakan kamera bukan lagi sesuatu yang mustahil. Adanya alternatif lain untuk menciptakan sebuah karya seni tanpa menggunakan kamera merupakan sebuah transformasi dari ide lama. Sebelum fotografi berkembang, di zaman fotografi analog, memotret tanpa menggunakan kamera disebut dengan fotogram. Namun, di zaman fotografi digital memotret tanpa menggunakan kamera bisa saja diciptakan dengan menggunakan alat bernama scanner. Penciptaan karya fotografi ini sering disebut juga dengan scanography singkatan dari scanner photography atau dikenal juga dengan scanner-art. Kedua teknik ini menghasilkan sebuah karya seni tanpa menggunakan kamera, namun prinsip kerja fotografinya tetap menggunakan cahaya. Dalam penciptaan seni fotografi ini, scanography diperkenalkan sebagai media berekspresi yang baru dalam dunia fotografi. Visual yang dihasilkan dari teknik scanography memperlihatkan detail objek seperti fotografi makro sebagai wujud kedekatan antara objek dengan perasaan-perasaan yang bergejolak untuk disampaikan melalui sebuah karya. Perasaan-perasaan seperti  ketakutan, kebahagiaan, kesedihan, impian kemudian direpresentasikan oleh bunga. Objek bunga digunakan sebagai wujud identitas diri seniman sebagai seorang perempuan dengan perasaan-perasaan yang dialami dalam kehidupannya. Pemanfaatan objek di sekitar sebagai permainan tanda dan simbol yang dirasa tidak asing untuk digabungkan ke dalam sebuah karya memperkuat makna dan perasaan yang sedang dialaminya. Eksplorasi-eksplorasi yang dihasilkan juga tidak lepas dari permainan teknik fotografi dan komposisi fotografi untuk membentuk sebuah visual yang menarik.Eksplorasi untuk mengembangkan fotografi dengan pemanfaatan media scanner ternyata bisa berkembang dengan baik secara visual dan teknik, sehingga karya seni fotografi yang berbeda bisa diwujudkan.Kata kunci : representasi, bunga, fotografi ekspresi, scanography, scanner
POTRET PEREMPUAN DAYAK IBAN, KAYAN, DESA, DAN SUNGKUNG DI KALIMANTAN BARAT Rizqi -; Mahendradewa Suminto; Pitri Ermawati
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1568.495 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i1.1897

Abstract

Penciptaan karya fotografi ini bermaksud merekam identitas kebudayaan subsuku Dayak yaitu Dayak Iban, Kayan, Desa, dan Sungkung khususnya pada perempuan-perempuan Dayak yang masih memiliki dan menjalankan tradisi leluhur. Tradisi-tradisi leluhur yang dijalankan para perempuan Dayak yaitu memanjangkan daun telinga, bertato, memakai gelang besi, menenun, membuat kerajinan manik-manik, dan menganyam. Foto potret ini memunculkan masing-masing karakter subsuku Dayak dengan aspek-aspek fotografi potret meliputi penataan pose, ekspresi, porsi subjek, komposisi, cahaya, properti pendukung, latar belakang, lokasi pemotretan, dan kostum yang digunakan. Karya fotografi yang dihasilkan berupa foto potret dalam ranah dokumenter yang dapat menyampaikan realita sosial. Karya foto potret ini, diharapkan menjadi suatu peninggalan yang berharga untuk bangsa yang dapat digunakan untuk kembali mengingat dan melihat awal dari keberadaan sekarang.Kata-kata kunci: potret, Dayak, Iban, Kayan, Desa, Sungkung, fotografi

Page 1 of 1 | Total Record : 7