cover
Contact Name
adya arsita
Contact Email
adya0258@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
spectajournal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
specta: Journal of Photography, Arts, and Media
ISSN : 26143477     EISSN : 26150433     DOI : -
Jurnal spect? merupakan sebuah jurnal untuk menampung hasil penelitian dan penciptaan seni para akademisi dan praktisi fotografi yang kian hari semakin bertambah banyak dan beragam. Seni dan teknik Fotografi yang semakin maju dan berkembang menimbulkan ide, gagasan, wacana, dan kritik yang bernuansa akademik dan harus mendapatkan wadah yang sesuai untuk memuat semua artikel ilmiah yang dihasilkan. Fotografi yang merupakan perluasan dan pengembangan teknologi lukis, erat hubungannya dengan dunia seni pada umumnya dan lekat juga dengan ranah media. Jurnal ini akan menjadi sarana tampung yang tepat, sesuai dalam kajian dan penciptaan seni fotografi, pembacaan kajian seni serta media. Jurnal spect? diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu Mei dan November, dan dikelola oleh Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia (ADSMRI) dan Asosiasi Program Studi Fotografi Indonesia (SOFIA).
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2017)" : 7 Documents clear
KAJIAN ASPEK IDEASIONAL DAN INTERPRETASI BIOGRAFIS KARYA FOTO STEPHANUS SETIAWAN Bachtiar Firgiawan Wahono; Irwandi -; Kurniawan Adi Saputro
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.136 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i2.1902

Abstract

Penelitian ini mengkaji aspek ideasional dan interpretasi biografis karya foto Stephanus Setiawan. Aspek ideasional adalah bagaimana seorang fotografer menyikapi fenomena alam dengan menemukan ‘sesuatu’ dan mengungkapkannya dalam berbagai bentuk konsep, teori, dan wacana. Adapun interpretasi biografis adalah cara untuk mencari jawaban sebab-akibat mengapa fotografer menghasilkan karya dengan ciri tertentu dengan mempertimbangkan latar belakang kepribadiannya. Dengan demikian bentuk tampilan sebuah foto sesungguhnya berkaitan dengan latar belakang kehidupan pembuatnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan peranan proses kehidupan Stephanus Setiawan dalam perwujudan karya-karya fotonya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan bentuk penyajian deskriptif atas fakta-fakta yang ditemukan. Setelah melalui proses observasi, wawancara dan penentuan sampel, karya-karya foto Stephanus Setiawan diteliti dengan pendekatan metode biografis. Pendekatan metode biografis berguna dalam menganalisis proses perkembangan Stephanus Setiawan untuk menemukan fakta-fakta yang memengaruhi proses penciptaan karya fotonya sehingga terlihat hubungan antara proses perkembangan karir Stephanus Setiawan dengan ide karya fotonya. Kata kunci: aspek ideasional, interpretasi biografis, karya foto 
SIMULACRA YOGYAKARTA DENGAN DRONE PHOTOGRAPHY Kevin Andrian; Arti Wulandari; Oscar Samaratungga
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1050.816 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i2.1903

Abstract

Yogyakarta merupakan tempat yang pantas dan prayoga menjadi suri keindahan alam semesta. Tentu hal ini berkaitan dengan keistimewaan yang dimilikinya, baik yang tampak secara fisik maupun tidak. Namun demikian, seiring dengan berjalannya waktu keistimewaan tersebut kian pudar. Hal tersebut menimbulkan gejolak dalam diri dan ingin menyampaikannya melalui medium fotografi sebagai bentuk ungkapan ekspresi. Untuk itu diperlukan suatu cara yang berbeda karena Yogyakarta sudah terlalu sering diangkat sebagai objek fotografi. Drone photography dan simulacra merupakan kombinasi yang sesuai karena memiliki kekuatan menggoda siapapun untuk melihatnya. Drone photography memberikan ruang eksplorasi yang luas, sementara simulacra yang berarti replika dari realitas memberikan ruang eksperimentasi yang tidak terbatas. Keleluasaan penempatan kamera merupakan kekuatan utama dalam drone photography, namun demikian banyak pula kendala yang muncul. Hal tersebut menjadi tantangan dalam penciptaan karya dengan judul “Simulacra Yogyakarta dengan Drone Photography”. Eksperimentasi yang dilakukan tidak terbatas pada hadirnya sebuah karya namun juga bagaimana sebuah karya disajikan untuk memberikan pengalaman yang lebih bagi penikmatnya. Menampilkan Yogyakarta dalam bentuk simulacra tidak hanya sekadar untuk menggoda, namun juga untuk memberikan cara yang berbeda untuk menikmati keistimewaan dan memahami permasalahan yang ada di Yogyakarta.Kata Kunci : simulacra, Yogyakarta, drone photography 
REOG TULUNGAGUNG DI SANGGAR TARI DANDHANG SAPUTRO MUDHO DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER Abdul Kholid; Edial Rusli; Zulisih Maryani
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.518 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i2.1904

Abstract

Penciptaan karya berorientasi pada sosok seniman Suratmin Wibisono sebagai dasar acuan atau kerangka cerita pemahaman tentang eksistensi Reog Tulungagung yang dikembangkan di sanggar miliknya. Reog Kendhang sebelum diubah nama menjadi Reog Tulungagung adalah sebuah tarian penggambaran prajurit kerajaan yang memiliki latar belakang yang bersinggungan dengan masyarakat Tulungagung. Dandhang Saputro Mudho merupakan sanggar seni yang mengembangkan serta melestarikan kesenian tari tradisional yang telah ditetapkan menjadi ikon Kabupaten Tulungagung ini. Metode EDFAT digunakan dalam pengambilan gambar. Metode entire untuk pengambilan menyeluruh, detail dalam pengamatan bagian tertentu, frame sebagai cara pengemasan foto yang terfokus, angle pengambilan sudut yang menarik, serta time untuk pemvisualisasian pergerakan objek. Selain itu, bentuk potret digunakan untuk mengenalkan objek secara personal. Foto-foto dokumenter yang diciptakan berjumlah 20 karya foto tunggal. Setiap karya disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah narasi teks visual. Hasil pemilihan karya kegiatan yang paling banyak adalah kegiatan yang dilakukan di lingkungan sanggar Dandhang Saputro Mudho. Hal ini dikarenakan sanggar bukan hanya menjadi pusat berkegiatan seni, tetapi juga tempat anggota sanggar bermain dan bersosialisasi. Selain itu, lokasi sanggar yang juga berdekatan dengan rumah Suratmin dan beberapa anggota sanggar. Kata Kunci: reog tulungagung, sanggar tari dandhang saputro mudho, fotografi dokumenter
FILM NEGATIF SEBAGAI MEDIA AKHIR: KONSTRUKSI BENTUK DAN MONTASE FILM NEGATIF DALAM FOTOGRAFI SENI Fachrozi Amri
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1062.836 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i2.1907

Abstract

Karya fotografi dalam penciptaan ini merupakan upaya untuk memanfaatkan teknologi yang sudah ditinggalkan. Pemanfaatan media fotografi analog sebagai salah satu alternatif baru yang ditawarkan dalam riset penciptaan ini yaitu menghadirkan kembali media film negatif sebagai sarana media akhir tanpa melalui proses cetak positif. Butuh penanganan khusus dalam membuat karya ini, artinya ada usaha-usaha menembus batas atau menawarkan kemungkinan lain dari kebiasaan fotografi pada umumnya, yang tidak banyak dilakukan oleh fotografer. Karya diciptakan tidak hanya sekedar menggunakan media film negatif saja, melainkan memuat puluhan bahkan ratusan lembaran film negatif yang saling terhubung secara sintetis. Penyusunan lembar-lembar tersebut (nomor 1-36), adalah salah satu upaya untuk menghubungan antara peran kreasi, desain, konstruksi dan ketelitian. Pendekatan karya ini hadir dengan mengkonstruksi bentuk, yang juga dikerjakan oleh seniman asal Inggris yaitu David Hockney (80). Dalam karya yang dikerjakannya, Hockney mengkonstruksi ulang potong-potongan bentuk, menggunakan cetakan polaroidnya, lalu menggabungkannya kembali menjadi bentuk yang telihat distorsi. Sifat fisik film negatif terbuat dari bahan plastik celuloid transparan, maka dibutuhkan cahaya tambahan, dengan cara menyatukan antara lembaran negatif ke lembaran negatif lainnya, sehingga dapat terlihat utuh kontruksi bentuknya. Kata Kunci: film negatif, kontruksi, fotografi
DIMENSI SPASIAL DALAM FOTOGRAFI EKSPRESI Kristoforus Agung; Mahendradewa Suminto; Arti Wulandari
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.258 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i2.1905

Abstract

Fotografi yang pada umumnya berfungsi sebagai alat dokumentasi telah berkembang selaras dengan kemajuan teknologi dan daya kreatif manusia. Fotografi tidak sekadar menciptakan citraan yang begitu akurat, rinci, dan objektif dalam mengapresiasikan realitas (representasi). Namun, fotografi juga memberikan dampak yang sangat luas. Fotografi menghasilkan tata bahasa baru berupa bahasa visual, dan yang paling penting adalah kemampuan membentuk etika cara pandang baru terhadap suatu kenyataan. ‘Dimensi Spasial dalam Fotografi Ekspresi’ adalah sebuah konsep penciptaan karya fotografi seni sebagai ungkapan ekspresi dalam merespon visualisasi jarak-ruang yang dilihat melalui pemanfaatan framing sebagai metafora terhadap keberjarakan terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Pengembangan unsur framing dalam perwujudan karya sebagai visualisasi mengenai dimensi spasial.Kata Kunci: dimensi spasial, fotografi ekspresi, framing
STRATEGI KREATIF ROY GENGGAM DALAM PEMOTRETAN IKLAN Willy Pamungkas; Kurniawan Adi Saputro; Kusrini -
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.776 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i2.1901

Abstract

Anak-anak adalah objek yang dapat dieksplorasi dengan berbagai macam aspek dan pendekatannya dalam pemotretan. Setiap fotografer memiliki cara tertentu dalam memotret anak-anak, karena mereka memiliki perilaku yang susah diatur dan suasana hati yang mudah berubah. Seperti halnya Roy Gajah Seto Genggam Nusantoro atau dikenal sebagai Roy Genggam, fotografer dengan banyak pengalaman ini mempunyai cara tertentu dalam memotret anak-anak. Salah satu pemotretan iklan yang melibatkan anak-anak sebagai peduduk, adalah iklan Cussons pada 2014 dan 2016.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui strategi kreatif Roy Genggam dalam pemotretan iklan Cussons. Metode wawancara serta studi dokumen dan arsip, digunakan dalam mengumpulkan data-datanya. Data yang didapat, dianalis dan dikaitkan dengan teori lalu disajikan secara deskriptif atas fakta-fakta yang ditemukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 12 cara yang dilakukan Roy Genggam serta tim RGP (Roy Genggam Photography) dalam memotret anakanak. Roy Genggam juga menggunakan tiga strategi kreatif dalam pemotretan iklan Cussons, yaitu strategi anak-anak sebelum pemotretan, strategi anak-anak saat pemotretan dan strategi hasil foto.Ketiga strategi tersebut terbentuk dari nalurinya dalam menghadapi masalah saat mewujudkan harapan-harapannya dalam pemotretan iklan Cussons. Kata kunci: strategi kreatif, Roy Genggam, fotografi, anak-anak 
KAJIAN SEMIOTIKA TERHADAP MASKULINITAS DALAM FOTO IKLAN ROKOK GUDANG GARAM DJAJA EDISI ‘RAHASIA DJAJA’ TAHUN 2015 Prasetyo Wicaksono Achmad; Irwandi -; Kurniawan Adi Saputro
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.104 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i2.1906

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna foto iklan rokok Gudang Garam Djaja. Selain memiliki makna tersurat, sebuah foto iklan juga memiliki makna tersirat. Fotografi kerap kali digunakan seorang produsen untuk media ilustrasi iklan mereka, tak terkecuali bagi produsen rokok. Meskipun masyarakat telah mengetahui bahaya dan akibat yang ditimbulkan dari merokok, rokok tetap menjadi komoditas yang laku di tengah masyarakat Indonesia. Iklan secara langsung mempengaruhi hal tersebut, melalui iklan-iklan yang menjual produk rokok mereka kepada konsumen maupun calon konsumen baru, iklan ikut mempengaruhi persepsi pandangan mengenai rokok. Larangan penggunaan produk rokok secara vulgar melalui PP Nomor 81 Tahun 1999 menyebabkan produsen rokok untuk membuat konsep iklan yang tidak menggunakan atau menggambarkan kegiatan merokok sama sekali. Sering kali, foto iklan rokok menggunakan model maupun konsep yang menggambarkan imaji maskulinitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, di mana peran peneliti sebagai instrumen penelitian dan disajikan secara deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode semiotika konotasi. Melalui metode tersebut, akan ditemukan pemaknaan pada tingkat denotasi dan konotasinya. Hasil dari penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa konotasi yang menebal menjadi sebuah mitos dalam masyarakat. Imaji maskulinitas yang ditampilkan dalam foto iklan rokok Gudang Garam Djaja merupakan stereotip yang ada dan diyakini oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Kata kunci: semiotika, maskulinitas, foto iklan, rokok

Page 1 of 1 | Total Record : 7