cover
Contact Name
adya arsita
Contact Email
adya0258@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
spectajournal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
specta: Journal of Photography, Arts, and Media
ISSN : 26143477     EISSN : 26150433     DOI : -
Jurnal spect? merupakan sebuah jurnal untuk menampung hasil penelitian dan penciptaan seni para akademisi dan praktisi fotografi yang kian hari semakin bertambah banyak dan beragam. Seni dan teknik Fotografi yang semakin maju dan berkembang menimbulkan ide, gagasan, wacana, dan kritik yang bernuansa akademik dan harus mendapatkan wadah yang sesuai untuk memuat semua artikel ilmiah yang dihasilkan. Fotografi yang merupakan perluasan dan pengembangan teknologi lukis, erat hubungannya dengan dunia seni pada umumnya dan lekat juga dengan ranah media. Jurnal ini akan menjadi sarana tampung yang tepat, sesuai dalam kajian dan penciptaan seni fotografi, pembacaan kajian seni serta media. Jurnal spect? diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu Mei dan November, dan dikelola oleh Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia (ADSMRI) dan Asosiasi Program Studi Fotografi Indonesia (SOFIA).
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2019)" : 7 Documents clear
CAPTAIN MARVEL: KESETARAAN GENDER DALAM PERSPEKTIF TOKOH SUPERHERO Nur Amir Fauzi
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.358 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2957

Abstract

Captain Marvel: Gender Equality in the Perspective of Superhero.  Gender equality is something that can be a concern lately so it can be used as an issue in the creation of a work of art, because the ‘value’ of women is considered lower than men in various activities or daily activities. A big American movie studio, Marvel Studios, released a film with a female superhero named Captain Marvel. The emergence of the film made the writer want to examine about this superhero much deeper.  The method employed for this paper was deconstruction approach by linking it to the phenomenon occurring in the society.  Hopefully this article will strengthen the perspective of gender equality by studying the character of Captain Marvel through her portrayed character, sign, and color of her superhero costume. Keywords: Captain Marvel, gender equality, superhero, Marvel Studios, movie
PENGUNGKAPAN MAKNA INTRINSIK MELALUI TEORI IKONOGRAFI PADA FOTO ANAK ROHINGYA DI MEDIA REPUBLIKA ONLINE EDISI 17-23 SEPTEMBER 2017 Dessy Rahmawati; Pamungkas Wahyu Setiyanto; Irwandi Irwandi
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.891 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2835

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna intrinsik pada foto anak Rohingya di media Republika Online edisi 17-23 September 2017. Pengungkapan makna intrinsik dilakukan dengan teori ikonografi melalui tiga tahapan, yaitu pra-ikonografi, analisis ikonografi, dan interpretasi ikonologi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan melakukan penafsiran dan interpretasi data yang berupa foto. Subjek penelitian ini adalah foto anak Rohingya yang dimuat di media Republika Online edisi 17-23 September 2017. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur dan studi dokumen. Hasil dari penelitian menunjukkan foto anak Rohingya menggambarkan penderitaan yang dialami akibat kekerasan yang terjadi di negara bagian Rakhine, Myanmar. Dari sampel foto anak Rohingya menunjukkan adanyaancaman baru yang harus dihadapi oleh anak Rohingya setelah meninggalkan negara asal. Ancaman tersebut adalah pertama, kelaparan yang berdampak pada gizi buruk. Kedua, kamp pengungsian yang terendam banjir dan posisi tenda berdempetan yang berdampak pada anak tidak bisa bergerak aktif serta lumpuhnya aktivitas para penghuni. Ketiga, ketiadaan fasilitas untuk berlindung dari hujan yang berdampak pada kesehatan akibat suhu dingin air hujan yang berpotensi melemahkan daya tahan tubuh dan penyempitan pembuluh darah. Kata kunci: makna intrinsik, ikonografi, foto anak Rohingya   ABSTRACT  The Disclosure of Intrinsic Significance Through Iconography Theory in the Photographs of Rohingya Children in Republika Online on 17th to 23th September 2017 Edition.The purpose of this research is to describe the intrinsic significance in the photographs of Rohingya children which are uploaded in Republika Online on 17th to 23th September 2017 editions. The disclosure of intrinsic significance in the photographs will using the theory of iconography, which is through the three stages of the theory: pre-iconography, iconographic analysis and iconological interpretation. This is a qualitative research by doing the interpretation of the data with photographs form. The subjects of this research are children photos that were uploaded in Republika Online on 17th to 23th September 2017 editions. The data for the research are get from literature and document study. The result of the photographs study shows that Rohingya children are exposed to violence in the state of Rakhine, Myanmar. samples of Rohingya children photographs showing the new threats that must be faced by the child Rohingya after leaving the origin country. The threat is first, hunger have impact malnutrition. Secondly, the threat refugee camps which flooded and tend position which crowded have impact the children that they can’t move actively and occupants activity paralyzed. Third, the absence of facilities to protect from rain have impact on health due to cold temperatures of rain water that potentially weaken the body resistance and constriction of blood vessels.  Keywords: intrinsic significance, iconography, Rohingya children photographs  
LAKON PUNAKAWAN DALAM KARYA FOTOGRAFI SENI Gea Rosa; Arti Wulandari; Oscar Samaratungga
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.38 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2790

Abstract

Abstrak Penciptan karya seni ini bermula dari keprihatinan terhadap pementasan wayang yang sudah mulai ditinggalkan di era milenial ini, sangat disayangkan apaila pementasan tersebut hilang begitu saja. Padahal kesenian ini sangat banyak memberikan pelajaran yang dapat membentuk karakter generasi muda menjadi lebih baik. Sebagai seorang yang lahir dan besar di Jawa, berkewajiban untuk turut andil dalam melestarikan kesenian peninggalan nenek moyang ini. Penciptaan karya seni ini mengambil tokoh Punakawan yang beranggotakan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Tokoh-tokoh wayang tersebut diambil karena perannya dalam dunia pewayangan sangat besar. Penciptaan karya seni ini memvisualkan cuplikan lakon Punakawan ke dalam karya fotografi seni. Selain itu, ingin menyampaikan pesan moral yang terdapa dalam lakon Punakawan di  karya fotografi seni. Karya visual ini  mengandung elemen-elemen  pendukung sesuai dengan topik yang diangkat. Elemen-elemen  tersebut digabungkan dengan teknik montase yang diproses menggunakan digital imaging dan dicetak di media kertas foto.   Dengan demikian, visual yang dihadirkan sesuai dengan harapan dan pesan yang akan disampaikan bisa tersampaikan dengan baik. Kata kunci : lakon, Punakawan, fotografi seni Abstract Punakawan Play in Fine Art Photography. The creation of this art work originated from the concern about puppet showa that already  abandoned in this millenial era. It is unfortunate if the show just disappear. Exen trough this art provides a lot of knowledge that can estabilish young generation  character to be better. As a person born and raised in Java,  emerged a sense of  having an obligation to take part in perserving traditional arts. The creation of this art work takes in the figure of a slownman who consist of Semar, Gareng, Petruk and Bagong.  The Puppet caracter is taken, because of the role in the world  of puppetry is very large. The creation of this artwork visualizes snoppet of the clown. Storie into photographic artwork. Moreover, want  to convey a moral  message contained in the storie of clowns into photography artwork. The creation contain elemens that supporting as compatible as the topic raised. The  elements  combaineed with montage technique that proceeded using digital imaging and printed on photo paper, so the visual that served consistent to the hope. Also the message delivered,conveyed well. Keywords: Punakawan, play, fine art photography
OPERATOR WANITA TAMBANG BATU BARA DI SANGATTA KUTAI TIMUR DALAM FOTOGRAFI DOKUMENTER Isroviana Isroviana; Pitri Ermawati; Kusrini Kusrini
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1191.974 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2808

Abstract

AbstrakSaat ini supir masih menjadi pekerjaan lelaki. Dunia pertambangan bukanlah pekerjaan yang mudah bagi wanita yang berprofesi sebagai operator dump truck heavy duty berukuran 14x17x6 m. Pekerjaan yang terlihat santai secara fisik, sebenarnya harus dibekali dengan mental yang kuat. Bukan hanya karena faktor lingkungan tetapi juga mayoritas rekan kerja mereka adalah lelaki. Peran ganda yang mereka miliki menjadi menarik ketika diangkat menjadi isu. Mulanya, bekerja adalah pilihannya sendiri namun saat ini mereka menjadi tulang punggung keluarga, tanggung jawabnya tidak lagi hanya memasak, mengurus anak, dan rumah tangga. Mereka bekerja selama 12 jam dengan dua tanggung jawab berbeda. Penciptaan karya ini dibuat dalam bentuk fotografi dokumenter dengan penggunaan warna foto hitam putih. Metode yang digunakan untuk penciptaan karya ini adalah observasi, wawancara, dan studi EDFAT. Sedangkan dalam pemilihan dan penyusunan alur foto menggunakan teknik elemen foto cerita dengan gaya deskriptif yang tidak menuntut susunan foto. Dengan demikian, cerita yang disampaikan memiliki kekuatan yang mendalam tentang operator wanita tambang batu bara tersebut, mereka bekerja dengan hati dan nyali. Dengan pekerjaan yang berat secara mental, para operator wanita memiliki cara sendiri untuk meringankan rasa lelah dan mengusir bosan dalam durasi pekerjaan yang tidak sebentar. Kata kunci: operator wanita, tambang batu bara, fotografi dokumenter  AbstractFemale Operatosr for Coal Mining in Sangatta East Kutai in Documentary Photography. At this time, being a driver is as man's job, not for woman. Mining world is not an easy job for woman as an 14 x 17x 6 m² dump heavy duty truck operator. The job that may look easy and relax physically but need strong mentality. Not only considering environmental factor but also their opposite sex workmate. The duality in their responsibility become very interesting issues. Not only take care of the household but also as their family's bread winner. this paper presented in black and white in documentary photography and using observation, interview and EDFAT study as the main methods. The descriptions style being choose in arranging and picking the pictures in order to widen the ideas given. Therefore the pictures can reveal deeper about the dual responsibilities the mining female workers taken in daily life and also reveal the way they are resting and relaxing the hard jobs. Keywords: female operators, coal mining, documentary photography 
VISUALISASI TIGA WASTRA ETNIK NUSANTARA PADA KARYA BUSANA OERIP INDONESIA DALAM FOTOGRAFI FASHION EDITORIAL Yogi Febrianto; M. Fajar Apriyanto; M. Kholid Arif Rozaq
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.692 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2832

Abstract

AbstrakPenciptaan karya ini menghadirkan busana yang memadukan tiga wastra etnik Nusantara karya Oerip Indonesia yang diprakarsai oleh Dian Erra Kumalasari dalam bentuk foto fashion editorial. Wastra berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kain penuh makna. Fotografi fashion editorial digunakan untuk mengilustrasikan sebuah cerita, artikel, teks, atau ide dalam konteks majalah atau untuk memperindah tema tertentu secara visual, khsususnya visual fotografi. Unsur kebudayaan berupa wastra divisualisasikan ke dalam karya foto melalui proses eksplorasi ide dan ekperimentasi. Proses penciptaan karya ini juga melalui beberapa tahap perwujudan yakni perancangan, persiapan, pemotretan, dan editing. Hasilnya adalah beberapa karya fotografi fashion editorial yang menampilkan busana-busana yang memadukan tiga wastra etnik dengan tujuan untuk memperkenalkan merek fashion Oerip Indonesia kepada khalayak luas. Selain itu, karya-karya fotografi yang diciptakan juga diharapkan dapat bermanfaat sebagai wacana apresiasi tambahan dalam mengenal ragam budaya Indonesia yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan modern.Kata kunci: wastra, busana, Oerip Indonesia, fotografi fashion, editorial  AbstractVisualization ff Three Nusantara Ethnic’s Wastra by Oerip Indonesia’s Fashion Works in Editorial Fashion Photography. The creation of this photography work presents fashion that combines three Nusantara ethnic’s wastra by Oerip Indonesia which was initiated by Dian Erra Kumalasari in the form of editorial fashion photography. Wastra comes from Sanskrit which means cloth full of meaning. Editorial Fashion Photography is used to illustrate a story, article, text, or idea in the context of a magazine or to beautify a particular theme visually, especially visual photography. The creation of this photographic work is a process of reproduction of cultural elements in the form of wastra into a form of photographic work through the process of exploring ideas and experimentation which is then manifested in the form of works of fashion photography. The process of creating this photographic work also through several stages of embodiment such as designing, preparation, shooting up to the editing stage. The photography work created in are some editorial fashion photography works featuring outfits that combine three ethnic wastras with the aim of introducing Oerip Indonesia's fashion brand to a wide audience. In addition, photography works created are also expected to be useful as a discourse of additional appreciation in recognizing the variety of Indonesian culture that can be applied in modern lifeKeywords: wastra, clothing, Oerip Indonesia, fashion photography, editorial
TINJAUAN FOTOGRAFI: FOTO EDITORIAL MODE KARYA NICOLINE PATRICIA MALINA DI MAJALAH HARPER’S BAZAAR INDONESIA Sandra Wahyuningtyas; Soeprapto Soedjono
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.008 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2833

Abstract

Abstrak Nicoline Patricia Malina merupakan salah seorang fotografer asal Indonesia di bidang mode, dan karya fotonya sering dimuat di dalam majalah. Umumnya, karya foto editorial mode yang ditampilkan menghadirkan perpaduan antara gaya modern dengan unsur tradisi. Hal tersebut menjadi landasan utama untuk dijadikan sebagai objek kajian. Objek penelitian yang ditelaah berupa foto editorial mode di majalah Harper’s Bazaar Indonesia edisi Mei 2010 yang bertajuk “Swarnadipa”, “Revival of Kebaya” yang diterbitkan pada Agustus 2013, edisi Agustus 2014 “Kembali ke Bali” dan yang terakhir edisi September 2014 “Journey To The East”. Analisis dibantu menggunakan teori estetika fotografi dalam tataran ideasional dan teknikal, serta penggunaan teori kritik seni fotografi guna memperkuat hasil analisis interpretasi berdasarkan aspek-aspek formal fotografi dan nilai-nilai estetik yang terdapat di dalamnya. Ia juga memanfaatkan cahaya alami matahari sebagai pencahyaan utama dalam menghasilkan sebuah foto. Foto-foto editorial mode karya Nicoline menunjukkan foto mode dengan persepsi yang berbeda, yaitu perkembangan dunia mode kontemporer dengan eksplorasi keindahan alam dan kultur tradisi budaya di Indonesia. Kata kunci: editorial mode, Nicoline Patricia Malina, Harper’s Bazaar        AbstractPhotography Criticism: Fashion Editorial Photo by Nicoline Patrcia Malina in Indonesian Harper’s Bazaar Magazine. Nicoline Patricia Malina is an Indonesian fashion photographer, her photo works are widely published in magazine. In general, editorial fashion photos by Nicoline are displayed by presenting a mix of modern and traditional aspects. This mix of modern and traditional aspects of this fashion became a basic approach of the photographic research. The objects are editorial fashion photo by her which were published in  Indonesian Harper’s Bazaar Magazine, in May 2010 edition entitled “Swarnadwipa”, “Revival of Kebaya” those were published in August 2013, “Kembali ke Bali” in August 2014, and the last edition “Journey to the East” in September 2014. This analysis was aided by the aesthetic theory of photography at the ideational and technical level, as well also used the art criticsm theory of photography to strengthen the result of the interpretation analysis based on the formal aspect of photography and the aesthetic values in them. The lighting technique involved in the production of those photos were applied with the sunlight as the main lighting in producing a photo. Fashion editorial by Nicoline in those photos showing some fashion photos with different perceptions, namely the development of the contemporary fashion with exploration environment and cultural tradition of Indonesia. Keywords: fashion editorial, Nicoline Patricia Malina, Harper’s Bazaar
HARMONISASI MINYAK DAN AIR MELALUI EKSPERIMENTASI FOTOGRAFI Sigit Setya Kusuma
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1035.268 KB) | DOI: 10.24821/specta.v3i2.2995

Abstract

AbstrakPenciptaan karya fotografi yang dibuat adalah “Harmonisasi Minyak dan Air melalui Eksperimentasi Fotografi”. Penciptaan ini mempunyai tujuan yaitu: (1)menghadirkan corak baru dalam karya fotografi dengan harmonisasi efek bias cahaya pada campuran minyak dan air. Selain itu, (2) mengeksplorasi harmonisasi efek bias cahaya pada campuran minyak dan air dalam visual fotografi, sehingga menghasilkan warna dan bentuk yang dapat terwujud pada karya penciptaan fotografi yang estetis, khas, unik, indah, menarik dan imajinatif.Harmonisasi minyak dan air menghadirkan efek pembiasan cahaya pada campuran minyak dan air melalui eksperimentasi fotografi, efek pembiasan merupakan pembelokan cahaya ketika cahaya melewati bidang batas dua medium yang berbeda indeks biasnya. Minyak dan air merupakan zat yang sama yaitu zat cair tetapi berbeda molekul sehingga minyak dan air tidak bisa disatukan. Perbedaan yang tidak bisa disatukan menjadi hal yang menarik ketika divisualisasikan melalui media fotografi. Fotografi makro menjadi teknik yang dipakai untuk mendukung eksplorasi karya. Fotografi makro mengubah sudut pandang dalam perspektif minyak dan air, bagaimana objek yang terlihat kecil menjadi besar dan detail dalam teknik fotografi makro.Hasil dari peciptaan karya fotografi ini adalah secara detail menjadi pengetahuan tentang proses kreatif membuat sebuah karya fotografi seni. Selain matang secara konsep, dapat memiliki pengalaman seni tentang efek bias cahaya dan campuran minyak dan air. Ketertarikannya dengan pilihan objek harmonisasi minyak dan air yaitu dapat menghasilkan warna dan bentuk-bentuk yang tidak terduga dan menarik. Proses ini mampu menghasilkan proses kreatif yang mampu menghasilkan foto yang artistik sekaligus menjadi penalaman baru. Kata kunci: harmonisasi, minyak dan air, eksperimentasi, fotografi AbstractHarmonization of Oil and Water through Experimentation of Photography.  The creation of photographic works was "the harmonization of oil and water through photographic experimentation". This creation has a purpose: (1) to bring a new pattern in photographic work by harmonizing the effect of light refraction on oil and water mixtures. In addition, (2) explore the harmonization of light refraction effects on the mixture of oil and water in visual photography, resulting in colors and shapes that can materialize on the creation by measure of aesthetically pleasing, distinctive, unique, beautiful, attractive and imaginative as photographic creations. The harmonization of oil and water provides the effect of light in the oil and water mixture through the experimentation of photography, the refractive effect of light when the light passes through the boundary fields of two different medium indices. Oil and water are the same substance that is liquid but different molecules so that oil and water cannot be put together. The difference cannot be put together to be interesting when visualized the photography media. Macro photography became a technique used to support the exploration of works. Macro photography Changes the viewpoint in the perspective of oil and water, how small-looking objects become large and detailed in a macro-photography technique. The result of this photographic creation is in detail a piece of the creative process of creating an art photography work. In addition to mature conceptually, it can have an art experience about the effects of light refraction and oil and water measly. Its interest with the choice of oil and water harmonization objects is that it can produce unpredictable colors and shapes. This process is able to produce a creative process that is able to produce artistic photos as well as a new overnight.  Keywords:  harmonization, oil and water, experimentation, photography

Page 1 of 1 | Total Record : 7