cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2018): Desember 2018" : 6 Documents clear
Perubahan Identitas Musik Pop pada Versi Cover di Indonesia Dessyratna Putry; Aquarini Priyatna; Lina Meilinawati Rahayu
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 3, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.217 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v3i2.2414

Abstract

Abstrak: lagu Sh-Boom karya Crew Cuts (musisi kulit hitam) yang awalnya bekemudian berubah menjadi genre pop oleh musisi kulit puith. Lagu Shorisinal dipublikasikan pada 19 Juni 1954 dan versi cover-nya munculPada 10 Juli 1954 lagu Sh-Boom masuk dalam daftar lagu-lagu pop hitahun kemudian versi cover ini direkam dan dipublikasikan sebagai lagoleh musisi kulit putih. Pada masa itu sudah menjadi hal yang lumrah musisi kulit hitam di-cover oleh musisi kulit putih. Sindrom cover versaja disebabkan oleh permasalahan rasisme, melainkan juga karena pantara label rekaman keduanya. Sementara itu, sejarah versi cover di Indonesia ditulis oleh Wa216) dalam Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia, 1 Penelitian ini membahas perubahan identitas musik pop Indonesia yang dipublikasikan melalui situs YouTube. Lagu yang diteliti adalah Akad dari Payung Teduh yang di-cover oleh Mas Paijo dan Pamit dari Tulus yang di-cover oleh Sintesa Vocal Play. Penelitian ini menggunakan pendekatan transit dan transisi dengan kajian tekstual dan kontekstual pada identitas kedua lagu tersebut. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menemukan bagaimana identitas musik (lagu) beserta musisinya mengalami perubahan; dari versi orisinal menjadi versi cover. Dalam penelitian ini dipahami bahwa versi cover merupakan bentuk pembaruan musikal. Penjelasan mengenai perubahan identitas dalam kedua versi ini dibahas pada dua substansi. Pertama, narasi tentang peran teknologi dalam pembaruan musikal; kedua, uraian tentang perubahan identitas dalam narasi musikal yang meliputi lirik lagu, format lagu, instrumentasi, video musik berserta musisinya. Dengan demikian, perubahan identitas yang ditelaah dalam penelitian ini meliputi dua versi lagu: orisinal dan cover dengan dua narasi yang berbeda. Abstract: contohnya: Band Tor yang meng-cover lagu-lagu Jimi Hendrix, Rastafarlagu-lagu Bob Marley kemudian T-Five meng-cover lagu-lagu Korn and saat itu versi cover diciptakan bukan hanya dari segi komposisi musiknyjuga pada aksi panggungnya. Hingga kini versi cover semakin berkembangdiunggah melalui situs YouTube. Fenomena cover version yang tidak terlepas dari penggunaan tmengantarkan pada pembahasan bagaimana teknologi dan seni (musik)ini diuraikan oleh Yangni (2016: 4-5) bahwa kaitan antara seni dan teknolsejarah relasi keduanya tampak terpisah, namun secara esensial keduany Merunut mundur pada zaman Yunani, tidak ada pemisahan sama sekaliteknologi. Keduanya sama dan satu dilakukan oleh tiap individu dalam This research discusses changing identity of Indonesian pop music’s that was published on YouTube. Spesifically, there are two song’s (consist of original version and cover version) discussed here: firstly, Akad original version by Payung Teduh and cover version by Mas Paijo; secondly, Pamit original version by Tulus and cover version by Sintesa Vocal Play. This research applies transit and transition approach in which the signs in textual and contextual data are examined in their identity. The aim of this research is to find out how music and musician identity are represented in their song’s include in cover version. This research shows that cover version is defined as music renewal of the whole music and musician narration. Description about changing identity in both version (original and cover) was observed in two subject. Firstly, narration about technology involvement in music renewal and secondly, description about changing identity in musical narration (including in song lyrics, song forms, instrumentation, music video and the musician). It can also be said that changing identity refers to both version (original and cover) with two different descriptions.
Ekstrakurikuler Tari dan Minat Belajar Siswa dalam Bidang Seni Budaya di SMPN 1 Banguntapan, Kotagede, Yogyakarta Rika Agustina
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 3, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.016 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v3i2.2421

Abstract

Pendidikan dapat mengembangkan karakter seseorang dan memupuk individu menjadi pribadi yang beretika dan bermoral. Pengembangan karakter tidak hanya dilakukan melalui proses belajar-mengajar di kelas yang memiliki konsep, tetapi dapat juga melalui kegiatan belajar di luar jam sekolah yaitu ekstrakurikuler. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana minat belajar siswa pada ekstrakurikuler tari di SMPN 1 Banguntapan, Kotagede, Yogyakarta dan diharapkan penelitian ini mencapai tujuannya sebagai upaya mendapatkan problem solving untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam pembelajaran seni tari di kelas. Program ekstrakurikuler yang dimiliki di SMPN ini adalah ekstrakurikuler tari yang berfokus pada siswa kelas VII dan kelas VIII. Ekstrakurikuler seni tari penting dalam membentuk karakter peserta didik serta memberikan pengalaman bagi siswa dan membantu siswa menjadi pribadi yang mencintai budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data yang dikumpulkan dengan teknik observasi nonpartisipan melalui melihat proses yang dilaksanakan siswa ketika mengikuti ekstrakurikuler serta dengan wawancara. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan ekstrakurikuler tari di SMPN 1 Banguntapan, Kotagede, Yogyakarta menjadi problem solving yang dapat meningkatkan minat belajar siswa di kelas. Ekstrakurikuler tari dapat membantu siswa dalam meningkatkan keberhasilan proses belajar siswa sehingga prestasi mata pelajaran seni budaya menjadi lebih baik karena melalui ekstrakurikuler tari siswa berkesempatan untuk lebih mengeksplorasi diri dalam menguasai pembelajaran seni budaya tanpa batasan-batasan tertentu yang dihadapi di ruang kelas. Education can develop a person's character and nurture an individual into an ethical and moral person. Character development is not only done by the concept through the process of teaching and learning in the classroom, but also through learning activities; extracurricular outside the school hours. This study aims to describe how the students' interest in the extracurricular dance in SMPN 1 Banguntapan, Kotagede, Yogyakarta and this research is expected to achieve the goal as an effort to solve the problem of improving the student achievement in learning dance art in the classroom. The extracurricular program held in this junior high school is an extracurricular dance that focuses on students of class VII and class VIII. Extracurricular dance is important in shaped the character of learners as well as provide experience for students and help the students love the culture itself. This research used qualitative approach. The data collected by nonparticipant observation technique through seeing the process of students activities when following extracurricular as well as by interview. Based on the research, it can be concluded that the extracurricular dance at SMPN 1 Banguntapan, Kotagede, Yogyakarta becomes problem solving which can increase student's learning interest in class. Extracurricular dance can help students in improving the success of student learning process furthermore that the achievement of art and culture subjects become better because through extracurricular dance ,students have the further opportunity to explore themselves in mastering the eyes of art and culture learning without certain limitations encountered in the classroom.
Perancangan Desain Interior Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai” Muchammad Rizky Kadafi
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 3, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v3i2.2415

Abstract

Abstrak Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai” berdasarkan jenisnya merupakan museum umum dan berdasarkan kedudukannya merupakan museum provinsi. Kondisi yang terjadi saat ini pada museum adalah pada sisi ergonomi, sirkulasi, pencahayaan, sistem tata display koleksi museum yang tidak berstandar sesuai dengan teori dalam ilmu ergonomi dan perancangan ruang. Serta rancangan desain interior pada museum ini yang tidak efektif dan tidak ramah untuk pengunjung berkebutuhan khusus (difabel). Hal ini menyebabkan pengunjung merasakan kesulitan dalam melakukan pengamatan terhadap benda koleksi museum dan pengunjung kurang dapat memahami ilmu-ilmu yang terkandung pada benda koleksi museum secara efektif. Dari permasalahan di atas, hal tersebut akan dikaji dan didesain ulang dengan menggunakan teori ergonomi dan teori perancangan desain interior. Abstract The Lampung Province State Museum "Ruwa Jurai" by its type is a public museum and based on its position it is a provincial museum. The current condition of the Museum is on the side of ergonomics, circulation, lighting, display systems of museums that are not standardized in accordance with the theory of ergonomics and spatial design. And the design of the interior design of this museum is ineffective and not friendly to visitors with special needs (difabel). This causes visitors to find difficulties in making observations of museum collections and visitors are less able to understand the knowledge contained in museum collections effectively. From the above problems, it will be reviewed and redesigned using the theory of ergonomics and design theory of interior design.
Bentuk Penyajian Tari Kreasi Ratoeh Jaroe di Sanggar Budaya Aceh Nusantara (Buana, Banda Aceh) Riska Gebrina
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 3, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1887.09 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v3i2.2418

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk penyajian tari Ratoeh Jaroe di Sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA) Banda Aceh. Sumber data dan lokasi dalam penelitian ini adalah ketua sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA), koreografer atau penata tari, penari tari, dan penata musik tari Ratoeh Jaroe. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu mereduksi data, display, dan verifikasi. Hasil penelitian mengungkapkan ciri spesifik bentuk penyajian tari Ratoeh Jaroe pada sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA) yang diciptakan oleh Khairul Anwar pada tahun 2008, serta judul tarian ini diciptakan oleh Khairul Anwar pada tahun 2011. Tari Ratoeh Jaroe ditarikan oleh sebelas penari wanita. Tari Ratoeh Jaroe memiliki tiga puluh tiga gerakan dan lima kali pengulangan gerak. Diiringi dengan alat musik tradisional Aceh seperti seurune kale, rapai, geundrang, dan darabbuka. Tata rias yang digunakan adalah rias korektif, serta tata busana yang disesuaikan dengan konsep tari Ratoeh Jaroe. Tari ini dipentaskan pada proscenium stage namun bisa juga di lapangan terbuka. Fungsi tari Ratoeh Jaroe sebagai salah satu media dakwah yang mencerminkan nilai-nilai kependidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan yang diperlihatkan melalui gerakan jari tangan penari. Pada pentas tari Ratoeh Jaroe inilah penonton akan menangkap maksud karya yang ditampilkan. This research purposed to decribe forming of presenting Ratoeh Jaroe dance at Sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA) Banda Aceh. Data resources and location of the research are head of sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA), choreography or dance stylist of Ratoeh Jaroe dance, dancers of Ratoeh Jaroe dance, and music stylist of Ratoeh Jaroe dance. The approaching used in this research is qualitative with descriptive research. Data collection used with observation technique, inteview and documentations. Technique analysis data in this research was data reduction, data display and verification. The result of the research shown that Ratoeh Jaroe dance at sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA) created by Khairul Anwar in 2009 along with title of this dance created by Khairul Anwar in 2011. Ratoeh Jaroe dance danced by 11 female dancers, and the function Ratoeh Jaroe dance as one of da’wah media which is reflected educative, religious, politeness, heroic, harmony and togetherness that is shown by the movement of dancers’ fingers. Ratoeh Jaroe dance has thirty three movements and eleven repeating movements. Accompanied by Aceh traditional music instruments like seurune kale, rapai, geundrang and darabbuka. Cosmetic used in this dance was beauty make up, and dressmaking which is adjusted by the concept of Ratoeh Jaroe dance. This dance performed at proscenium stage and performed at outdoor area as well, thus, in this stage Ratoeh Jaroe dance would be performing with the aim to make spectators at audiences understood the purpose of creation that performed.
Pemisahan Warna Karakter dan Background pada Animasi 2D “Point of View” Enrico Giyan Bagaskara
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 3, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v3i2.2419

Abstract

Animasi adalah media yang dapat menyampaikan sebuah informasi dengan sedikit teks dan sedikit suara, dalam animasi sendiri tidak memiliki batas, apapun bisa dibuat sesuai dengan imajinasi seniman pembuat karya tersebut. Warna merupakan salah satu elemen penting dalam animasi, warna membuat sebuah animasi menjadi lebih hidup dan terlihat real, selain itu warna dapat memberikan impresi yang berbeda secara psikologis terhadap audiens. Sementara oleh seniman, warna sering digunakan sebagai sarana untuk menyimbolkan suatu hal pada karyanya. Jurnal ini menjelaskan tentang eksperimen pemisahan warna antara karakter dan background dalam animasi 2D dengan konten bunuh diri, berjudul Point of View. Pemisahan warna antara karakter dan background bertujuan untuk membuat simbol yang dapat menggambarkan visualisasi kekosongan. Animation is a medium that can convey information with less text and less sound, animation itself has no limit, anything can be made, the limit is depend on the creativity of the artist itself. Color is one of important element in animation, the color can give an animation looks more believable and more real, other than that the color can give a different impression of psychological side for the audience. While by artists, color is often used to symbolize something in their works. This journal describes about experiment of color separation between character and background in 2D animation with suicidal content, titled Point of View. The color separation between character and background aims to create symbols that can visualize an emptiness.
Dengka Pada dalam Upacara Adat Je’ne-Je’ne Sappara di Desa Balangloe Kecamatan Taroang Kabupaten Jeneponto Hajar Hajar
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 3, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1051.001 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v3i2.2422

Abstract

Penelitian ini membahas tarian tradisional Dengka Pada pada upacara adat Jene-jene Sappara di masyarakat Jeneponto Sulawesi Selatan yang merupakan pewarisan budaya secara turun-temurun. Menurut masyarakat Jeneponto, tarian ini sudah ada sejak masyarakat masih menganut kepercayaan (animisme/dinamisme). Tarian ini menggambarkan kegembiraan masyarakat Jeneponto setelah berhasil melakukan panen di sawah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data yang terkumpul dianalisis dengan cara reduksi data, pengelompokan, dan validitas data. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tari Dengka Pada menggambarkan suatu kegembiraan masyarakat Jeneponto yang diwujudkan dalam gerakan tari, baik gerakan tangan dan kaki serta pola lantai para penari baik secara berhadapan maupun dalam bentuk lingkaran. Pelaksanaan tari Dengka Pada ini dilakukan baik pada waktu malam hari maupun di siang hari di tempat keramaian seperti lapangan. This study discusses the traditional dance of South Sulawesi which is the hereditary cultural heritage. This dance is called Dengka Pada which is staged at the traditional ceremony of Jene-jene Sappara. According to the Jeneponto community, this dance has been around since still adheres to the religion of belief (animism/dynamism). This dance reviews the excitement of the community. This research uses qualitative research method with ethnography approach. The collected data is analyzed by data reduction, grouping and validity data. The result of data analysis shows that Dengka Dance In the happiness situation where society Jeneponto have succeeded in harvesting in paddy field. This excitement is manifested in dance movements, both hand and foot movements and the position of the dancer either intact or in a circle. Implementation of Dengka dance This is done both at night and during the day in a crowded place. Dengka Dance In this there is and developed in the environment of the people of South Sulawesi, especially the Jeneponto Community and developed from generation to generation for the supporters.

Page 1 of 1 | Total Record : 6