cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada
ISSN : 08536384     EISSN : 25025066     DOI : -
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada are published to promote a critical review of the various investigative issues of interest in the field of fisheries between the researchers, academics, students and the general public, as a medium for communication, dissemination, and utilization of wider scientific activities.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 23, No 2 (2021)" : 9 Documents clear
Pembuatan Konsentrat Omega-3 dari Minyak Hati Hiu Botol dengan Metode Kristalisasi Urea Anies Chamidah; Andaru Wicaksono
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.60352

Abstract

Minyak ikan adalah sumber terbaik dari omega-3 khususnya EPA dan DHA yang penting untuk kesehatan manusia. Hati hiu kaya akan minyak, sampai saat ini, pemanfaataannya terbatas sebagai sumber squalene atau bahkan dibuang sebagai limbah padahal kandungan asam lemak omega-3nya masih cukup tinggi. Tujuan penelitian ini adalah pembuatan konsentrat omega-3 dari minyak hati ikan hiu. Metode yang digunakan adalah kompleks urea yang dapat memisahkan antara asam lemak jenuh dan tak jenuh dengan perlakuam Aa (rasio urea : asam lemak = 2 :1 suhu 25°C), Ab (rasio urea : asam lemak = 2 :1 suhu 5°C), Ba (rasio urea : asam lemak = 4:1 suhu 25°C) dan Bb (rasio urea : asam lemak = 4 :1 suhu 5°C). Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan rasio urea: minyak ikan (4:1) dengan suhu pengadukan 5°C (Ba) menghasilkan rendemen sebesar 28,78% dan bilangan iod sebesar 182,48 g/100g serta kadar EPA sebesar 20,04% dan  DHA sebesar 13,59% dengan total asam lemak PUFA sebesar 35,78%. Kesimpulannya pembuatan konsentrat omega-3 dari minyak hati hiu botol dengan metode kristalisasi urea layak diupayakan.
Keragaman Genetik Ikan Uceng (Nemacheilus) di Sungai Wilayah Banyumas Berdasar Sekuen Gen Cytochrome Oxidase Subunit I (COI) Rima Oktavia Kusuma; Muhammad Sulaiman Dadiono; Baruna Kusuma; Hamdan Syakuri
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.61167

Abstract

Ikan uceng (Nemacheilus) merupakan ikan endemik yang hidup di perairan sungai wilayah Banyumas. Penangkapan berlebih serta perubahan kualitas lingkungan menyebabkan penurunan populasinya di alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies Nemacheilus yang hidup di perairan sungai Banyumas serta melihat keragaman genetiknya. Cytochrome oxidase subunit I (COI) digunakan sebagai marka molekuler, dimana telah terbukti sebagai penanda (barcode) yang universal dan stabil. Ada bagian dari COI yang bersifat variabel sehingga bagus apabila digunakan melihat keragaman genetik. Hasil BLAST menyatakan bahwa sampel keempat stasiun memiliki nilai per indent 99,54-100% dengan spesies Neimacheilus chrysolaimos. Nilai keragaman haplotype (Hd) 0,679, dan nilai keragaman nukleotida 0,00117. Berdasarkan hal tersebut, keragaman haplotype ikan uceng dikategorikan pada tingkat sedang, sedangkan keragaman nukleotida pada tingkat rendah.
Potensi Lendir Lele (Clarias batrachus) sebagai Saliva Buatan untuk Perawatan Mulut Kering Zipora Silka Yoretina; Deaoxi Renaschantika Djatumurti; Roissatun Nasikah; Hendri Susanto; Heribertus Dedy Kusuma Yulianto
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.62569

Abstract

Xerostomia merupakan kondisi klinis pasien berupa mulut kering yang dapat meningkakan pertumbuhan jamur Candida albicans penyebab kandidiasis. Penanganan pasien xerostomia dapat dilakukakan dengan pemberian saliva buatan. Lendir lele memiliki karakristik dan kemampuan dalam mengganti fungsi saliva sekaligus sebagai antijamur Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi lendir lele (Clarias batrachus) sebagai saliva buatan untuk perawatan mulut kering. Lendir lele (Clarias batrachus) diekstraksi kemudian diformulasikan menjadi saliva buatan dengan konsentrasi 13,2%, 14,4%, dan 17,2%. Pengujian dilakukan dengan mengukur tegangan permukaan menggunakan indikator besarnya sudut kontak tiap tetesan pada glass slide, mengukur derajat keasaman saliva buatan dengan pH meter, serta uji daya hambat pertumbuhan Candida albicans dengan metode disc-diffusion. Data kemudian dianalisis menggunakan uji ANOVA satu jalur dan LSD dengan tingkat kepercayaan 95%. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan sudut kontak antara saliva buatan 13,2%, 14,4% dan 17,2% pada glass slide dengan saliva alami dan kontrol positif (p<0.05), Perbedaan daya hambat terhadap koloni Candida albicans signifikan antara saliva buatan dengan kontrol positif dan saliva alami (p<0.05). Berdasarkan uji pH, terdapat perbedaan signifikan ketiga konsentrasi saliva buatan (13,2; 14,4; 17,2%) dengan saliva alami dan kontrol positif. Lendir lele berpotensi sebagai bahan pembuatan saliva buatan dan dapat berfungsi sebagai anti-jamur (Candida albicans).
Kemampuan Pembasahan Saliva Buatan dengan Kandungan Ekstrak Mukus Lele (Clarias batrachus) Zipora Silka Yoretina; Anne Handrini Dewi; Hendri Susanto; Heribertus Dedy Kusuma Yulianto
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.62571

Abstract

Xerostomia merupakan keluhan subyektif mulut kering yang sering berhubungan dengan adanya penurunan fungsi kelenjar saliva. Penanganan pasien xerostomia dapat dilakukan dengan pemberian saliva buatan. Mukus lele memiliki karakteristik dan kemampuan dalam menggantikan fungsi saliva, sehingga dengan konsentrasi yang tepat mampu berperan sebagai lubrikan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kemampuan pembasahan antara saliva manusia dengan saliva buatan yang mengandung mukus lele (Clarias batrachus) pada permukaan hidrofobik. Mukus lele (Clarias batrachus) diekstraksi kemudian diformulasikan menjadi saliva buatan dengan menambahkan 0,1% methylparaben, 0,05% EDTA, 4,69% dekstrosa, dan aqua pro-injection. Pengujian dilakukan dengan mengukur kemampuan pembasahan saliva buatan menggunakan indikator besarnya sudut kontak sampel pada permukaan hidrofobik selama 5 menit. Data yang digunakan merupakan rerata nilai sudut kontak pada kedua sisi tetesan di menit ke-0, 0,5, 1, 1,5, 2, dan 5 yang dianalisis menggunakan aplikasi ImageJ. Hasil independent sample t-test  menunjukkan sudut kontak saliva buatan mukus lele lebih kecil daripada saliva manusia (p<0,05) pada pengamatan menit ke-0, 0,5, 1, 1,5, 2, dan 5. Kemampuan pembasahan saliva buatan mukus lele memiliki perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan saliva manusia, sehingga saliva buatan ini memberikan fungsi lubrikatif dan protektif yang tidak terlalu menyerupai saliva manusia.
Isolasi dan Identifikasi Molekuler Bakteri Proteolitik dari Saluran Pencernaan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Dibudidayakan di Kabupaten Banyumas Mohammad Nurhafid; Hamdan Syakuri; Oedjijono Oedjijono; Emyliana Listiowati; Anandita Ekasanti; Dewi Nugrayani; Hendro Pramono
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.64072

Abstract

Keberadaan bakteri proteolitik pada komoditas akuakultur penting untuk dipelajari, salah satunya terkait dengan praktek budidaya ikan skala kecil di daerah pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan melakukan identifikasi secara molekuler bakteri proteolitik yang diisolasi dari saluran pencernaan ikan nila (Oreochromis niloticus). Sampel ikan nila diambil dari tiga unit kegiatan akuakultur yang menggunakan pakan berbeda di Kabupaten Banyumas yaitu dari Desa Pandak (dengan probiotik, pakan pellet), Desa Beji (tanpa probiotik, pakan tumbuhan) dan Desa Tambaksogra (dengan probiotik, kombinasi pakan pellet dan tumbuhan). Jumlah bakteri, proporsi bakteri proteolitik, dan indeks aktifitas proteolitik diamati dari usus bagian anterior, middle, dan posterior. Sampel isolat bakteri  proteolitik dikelompokkan berdasarkan hasil analisis restriksi 16S rDNA menggunakan software PhyElp. Bakteri dari setiap kelompok diidentifikasi berdasarkan sekuen gen 16S rDNA dengan menggunakan analisis BLAST dan analisis filogenetik. Jumlah bakteri di saluran pencernaan ikan nila dari tiga tempat relatif sama dan cenderung meningkat ke arah posterior. Hasil penelitian menunjukkan ikan nila dari Desa Pandak memiliki proporsi bakteri proteolitik yang lebih tinggi dibandingkan sampel ikan dari Desa Beji dan Tambaksogra. Nilai aktivitas bakteri proteolitik saluran pencernaan ikan nila dari Desa Pandak relatif lebih tinggi dibandingkan dari dua desa lainnya. Bakteri proteolitik dari saluran pencernaan ikan nila dapat dikelompokkan menjadi 15 kelompok berdasarkan polimorfisme hasil digesti fragment gen 16S rDNA. Sampel dari 15 kelompok tersebut memiliki sekuen 16S rDNA yang mirip dengan Pseudomonas aeruginosa (4 isolat), Plesiomonas shigelloides, Escherichia coli, Aeromonas veronii, Klebsiella variicola, Enterobacter ludwigii, Enterobacter hormaechei (2 isolat), Enterobacter cloacae, Bacillus subtilis, Bacillus amyloliquefaciens dan Bacillus sp.
Analisis Keberlanjutan Pengelolaan Benih Bening Lobster (Puerulus) di Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur Desi Dwi Djayanti; Trisna Insan Noor; Ahmad Choibar Tridakusumah
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.64415

Abstract

Lobster (Panulirus spp.) merupakan salah satu komoditi unggulan yang bernilai ekonomis tinggi, sehingga menjadi salah satu target tangkapan nelayan. Seiring berjalannya waktu permintaan tidak hanya untuk keperluan konsumsi saja, tetapi juga mencakup benih (Puerulus). Tingginya permintaan dan harga dikhawatirkan akan mengancam keberlanjutan sumberdaya, karena semakin memicu upaya penangkapan. Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah membatasi ukuran penangkapan dengan mengeluarkan PERMENKP No.56/2016. Namun pada tahun 2020 aturan tersebut di ganti dengan PERMENKP No.12/2020 yang memberikan izin terhadap penangkapan Puerulus. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis keberlanjutan pengelolaan lobster pasca moratorium kegiatan penangkapan Puerulus di Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur. Metode penelitian yang digunakan yaitu mix method dengan penentuan jumlah sampel menggunakan Slovin dengan jumlah 79 orang nelayan. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan MDS dengan pendekatan Rapfish. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan dimensi ekologi, sosial, teknologi serta hukum dan kelembagaan status pengelolaan sumber daya Lobster di perairan Kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur berada pada kategori kurang berkelanjutan, sementara berdasarkan dimensi ekonomi tergolong kategori cukup berkelanjutan.
Struktur Histologi Insang pada Combtooth blennies (Blenniidae) di Pantai Krakal, Gunung Kidul, Yogyakarta Muhammad Zuchri Zayzda; Bambang Retnoaji
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.65832

Abstract

Blenniidae adalah famili ikan yang ditemukan di ekosistem pesisir seperti zona intertidal. Gunung Kidul memiliki banyak pantai kars dengan kesamaan dalam kondisi dan formasi geologi. Keanekagaman dan histologi Blenniidae di Gunung Kidul, terutama di Pantai Krakal, masih belum banyak dipelajari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfometri serta struktur histologi respirasi anggota famili Blenniidae yang ditemukan di pantai Krakal. Penelitian ini dilakukan di pantai Krakal dengan metode pengambilan sampel bebas. Sampel kemudian dibawa ke Laboratorium Struktur Perkembangan Hewan untuk diukur dan dibedah. Sebanyak 3 spesies dengan masing-masing 5 sampel ditemukan di zona intertidal pantai Krakal. Dari pengamatan morfometrik, ditemukan bahwa Istiblennius edentulus dengan Istiblennius dussumeri memiliki rata-rata rasio morfometri yang berbeda sementara Istiblennius lineatus memiliki rata-rata rasio morfometri yang sama dengan Istiblennius  edentulus dan Istiblennius dussumeri. Hasil pengamatan struktur histologis insang tidak menunjukan adanya perbedaan jaringan penyusun insang antar spesies ikan, yang tersusun oleh lamella primer (1), lamella sekunder (2), sel eritrosit (3), sel pilar (4), sel epitel (5), sel mukus (6), dan sel klorit (7). Struktur insang tiap spesies ikan ini sesuai dengan kondisi habitat berupa udara terbuka sehingga dapat memperluas area respirasi dan menyimpan air di dalam insang.
Effect of Dried Eucheuma cottonii Stored in Seaweed Storage Device in Its Quality Iwan Malhani Al Wazzan; Putri Wullandari; Ahmat Fauzi
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.66232

Abstract

A seaweed storage device in the form of a bunker has been developed by the Indonesian Research Institute for Fisheries Postharvest Mechanization. This study aimed to compare the quality of dried E. cottonii stored in the seaweed storage device and stored in the sacks placed in the room. Based on SNI 2690:2015, dried E. cottonii quality can be determined from its moisture content, impurities, Clean Anhydrous Weed (CAW), and Total Yeast and Mold Counts (TYMC). Moisture content was measured according to CAW, and contaminants were measured respectively according to SNI 01-2354.2-2-2006, SNI 8168:2015, and SNI 8169:2015. The results showed that moisture content of the seaweed stored in the bunker decreased by 27.17%, and that stored in the sacks decreased by 14.77%, signing a more significant weight loss during storage in the bunker. However, seaweed stored in the bunker has lower impurities (1.70±0.13 vs 1.84±0.13%), higher CAW (40.42±2.45 vs 38.75±2.45%), and TYMC (450±70 vs 2500±115.33 cfu/g).
The Growth Performance of Tilapia (Oreochromis niloticus) Seeds Fed with Different Quantities of a Synbiont Feed Rahmi Rahmi; Andi Ninnong Renita Relatami; Akmal Akmal; Sri Wahyuni Firman; Bunga Rante Tampangallo; Andi Chadijah; Dida Ardiayana
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.68510

Abstract

This study were aims to test the growth performance of tilapia (Oreochromis niloticus) seeds fed with different quantities of the symbiont, consisting of a probiotic and a prebiotic, such as B. subtilis and banana flour, respectively. This study employs an experimental approach with a completely randomized design (CRD). Furthermore, artificial feeds were prepared as various treatments, consisting of B. subtilis and banana flour concentrations. They include treatment A, which does not contain B. subtilis and banana flour, and also treatment B, C, and D, which consists of B. subtilis at concentrations of 105 CFU/mL, 107 CFU/mL, and 109 CFU/mL, respectively, as well as 1% banana flour. The results obtained showed that weight gain (WG) and specific growth rate SGR were significantly different in treatment B but the survival rate (SR), food conversion rasio (FCR), hepatosomatic index (HSI), and condition factor (K) did not show significant results. Meanwhile, somatic digestive index (DSI) showed a significant difference with treatment A, C, and D, but not with treatment B. However, treatment B showed a relatively better performance based on the SR, FCR, and WG at 96.67 %, 1.05 %, and 3.49 %, respectively.

Page 1 of 1 | Total Record : 9