cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
historis.ummat@gmail.com
Editorial Address
http://journal.ummat.ac.id/index.php/historis
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah
ISSN : 26224763     EISSN : 26141167     DOI : https://doi.org/10.31764/historis
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Historis merupakan jurnal yang memuat naskah atau hasil penelitian di bidang kependidikan khususnya sejarah yang dikelola oleh Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UM Mataram dengan ISSN 2549-7332 (Print) dan ISSN 2614-1167 (Online). Terbit pertama kali Juni 2017. Adapun ruang lingkup Jurnal Historis berupa hasil penelitian pendidikan & pengembangan kependidikan di bidang sejarah, sosial, sosiologi, budaya, adat istiadat, permainan rakyat, lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang sejarah dan sosial dalam pengembangan pemuda, remaja, dan masyarakat secara berkelanjutan. Artikel yang masuk ke meja tim redaksi akan melalui proses seleksi mitra bestari/editor. Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak 2 kali dalam setahun yaitu Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 3 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2021): Juni" : 3 Documents clear
MAKNA SIMBOLIS GUTI FU DI DESA BHERAMARI KECAMATAN NANGAPANDA KABUPATEN ENDE Rero, Dentiana; Kusi, Josef
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): Juni
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.5101

Abstract

Abstrak: Permasalahan dalam penelitian ini adalah tentang makna simbolis dari upacara Guti fu bagi masyarakat Nangakeo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna simbolis dari upacara Guti fu bagi masyarakat Nangakeo. Permasalahan ini diteliti dengan menggunakan teori interaksi simbolik yang digagaskan oleh Stryker. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yakni pengumpulan data, reduksi data, pemaparan data, penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebudayaan potong rambut (Guti fu) yang harus dilaksanakan setiap keluarga baru yang dikarunia keturunan namun bagi anak bayi pertama dalam satu keluarga sebagai tanda simbolis untuk  melindungi anak dari pengaruh dunia luar sepreti dari aspek pergaulan, mentalitas, karakter, kesehatan dan lain-lain. Dan adapun makna yang terkandung dalam upacara Guti fu yaitu makna religius, makna sosial, dan makna pelestarian. Untuk melaksanakan upacara yang berkaitan dengan budaya guti fu di butuhkan perlengkapan yang memiliki makna khusus, agar anak bayi tidak mengalami hambatan-hambatan untuk kelancaran upacara guti fu, karena upacara ini adalah salah satu wujud kepercayaan yang diturunkan secara turun-temurun. Dalam hal ini upacara guti fu menjadi salah satu tradisi kebudayaan adat istiadat masyarakat Nangakeo yang harus laksanakan dalam keluarga.Abstract: The problem in this study is about the symbolic meaning of the Guti fu ceremony for the Nangakeo people. The purpose of this research is to find out the symbolic meaning of the Guti fu ceremony for the Nangakeo people. This problem was examined using the theory of symbolic interaction initiated by Stryker. The method used in this study is the qualitative method. With a qualitative descriptive approach. Data collection techniques are observation, interview, and documentation. While data analysis techniques are data collection, data reduction, data exposure, conclusion drawing, or verification. The results of this study showed that the culture of haircuts (Guti fu) must be implemented in every new family that is blessed with offspring but for the first baby in one family as a symbolic sign to protect the child from the influence of the outside world as a result of the aspects of the association, mentality, character, health, and others. And the meaning contained in the ceremony Guti fu is religious, social meaning, and the meaning of preservation. To carry out the ceremony related to guti fu culture in need of equipment that has a special meaning, so that the baby does not experience obstacles to the smoothness of the ceremony guti fu, because this ceremony is one form of belief that is passed down through generations. In this case, the guti fu ceremony became one of the traditional cultural traditions of nangakeo people that must be carried out in the family.
RESPON MAHASISWA TERHADAP PEMBELAJARAN SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM (SPEI) DI STEI HAMFARA YOGYAKARTA Utomo, Yuana Tri; Marianti, Dina Juni
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): Juni
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.5324

Abstract

Abstrak: Peneliti mendeskripsikan bagaimana respon mahasiswa terhadap materi pembelajaran Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (SPEI) di kelas apakah mudah, sedang atau sulit dalam memahami. Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa STEI Hamfara Yogyakarta angkatan 2019 yang mengikuti matakuliah SPEI. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana respon pembelajaran dan meningkatkan profesionalitas pembelajaran di kelas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisis data primer dan sekunder. Data primer menggunakan pertanyaan terbuka dengan teknik pengambilan sample judgment purposive sampling, sementara data sekunder dengan kajian literatur. Hasilnya rata-rata mahasiswa yang mudah memahami materi di kelas 71.405%, sedang 16.65% dan sulit 11.93% dengan sebagian besar respon memiliki kendala jaringan internet. Informasi terdahulu merupakan faktor utama dalam memahami pembelajaran, dan fasilitas sudah baik. Rekomendasinya yaitu dengan melakukan pengujian terhadap materi pra kelas untuk mengukur informasi terdahulu mahasiswa. Penelitian ini berkontribusi untuk meningkatkan keterampilan profesionalitas dan kualitas pembelajaran.Abstract:  The researcher describes how the student response to the History of Islamic Economic Thought (SPEI) learning material in the classroom is whether it is easy, medium or difficult to understand. The study was conducted on 2019th batch of STEI Hamfara Yogyakarta students who took the SPEI course. The aim is to find out how the learning responses and improve the professionalism of learning in the classroom. This study uses a qualitative descriptive method by analyzing primary and secondary data. The primary data used open-ended questions with a judgmental purposive sampling technique, while the secondary data used a literature review. The result is that the average student who easily understands the material in class is 71.405%, moderate 16.65% and difficult 11.93% with most of the responses having internet network problems. Prior information is a major factor in understanding learning, and the facilities are good. The recommendation is to test the pre-class material to measure the students' previous information. This research contributes to improving professional skills and learning quality.
MASYARAKAT ARAB DAN AKULTURASI BUDAYA SASAK DI KOTA MATARAM (TINJAUAN HISTORIS) Ilmiawan, Ilmiawan; Sriwahyuni, Dian Eka Mayasari; Afandi, Ahmad; Iskandar, Iskandar; Rosada, Rosada
Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah Vol 6, No 1 (2021): Juni
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/historis.v6i1.5005

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Masyarakat Arab dan Akulturasi Budaya Sasak Di Kota Mataram (Suatu Tinjauan Historis). Metode Penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Arab masuk di tanah gumi sasak sekitar abad 1545 semenjak islam masuk dan dilanjutkan oleh para ulama yang datang dari Hadrami Yaman Selatan sekitar abad 18-20-an bahkan sampai sekarang telah membentuk sebuah kelompok sosial yang dapat dipastikan telah terjadi interaksi dan proses saling mempengaruhi antara Masyarakat Arab dengan keturunannya dan masyarakat gumi sasak. Keterikatan itu juga dapat kita lihat pada komunitas masyarak arab yang mendiami Perkampungan Arab Kota Tua Ampenan Mataram. Masyarakat arab masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan Islam dengan tetap mempertahankan musik gambus untuk memeriahkan acara perkawinan, sehingga masyarakat arab belum dapat sepenuhnya berbaur dengan masyarakat setempat, akan tetapi masyarakat Arab selalu menghadiri setiap ada undangan acara perkawinan masyarakat Sasak. Hubungan masyarakat Arab dan Sasak dalam interaksi sosial menghasilkan pola hubungan kebiasaan baru yang saling mempengaruhi sehingga terciptanya kebiasaan dan kebudayaan baru yang saling diadopsi antara masyarakat Arab dan masyarakat Sasak. Sehingga terjadilah proses asimilasi dan akulturasi dari interaksi sosial antara masyarakat Arab sebagai pendatang dan masyarakat Sasak sebagai pribumi.Abstract: This study aims to describe the Arab Community and Cultural Acculturation of Sasak In Mataram City (A Historical Review). The research method used in this study is a descriptive qualitative research method with a historical method approach. The results showed that Arabs entered the land of gumi sasak around the 1545 century since Islam entered and continued by scholars who came from Hadrami South Yemen around the 18th-20th century even today has formed a social group that can be ascertained there has been interaction and mutual influence between Arabs and their descendants and the gumi sasak community. The attachment can also be seen in the Arab community that inhabits the Old City Arab Village of Ampenan Mataram. Arab society still upholds Islamic cultural values while maintaining gambus music to enliven the wedding ceremony, so the Arab community has not been able to fully blend in with the local community, but the Arab community always attends every invitation to the Sasak wedding ceremony. Arab and Sasak public relations in social interactions resulted in a pattern of new habitual relationships that influenced each other to create new habits and cultures that were mutually adopted between Arabs and Sasak peoples. Thus there was a process of assimilation and acculturation of social interaction between Arabs as immigrants and Sasak people as natives.

Page 1 of 1 | Total Record : 3