cover
Contact Name
Endang Wahyati
Contact Email
endang_wahyati@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
soepra@unika.ac.id
Editorial Address
Jl. Pawiyatan Luhur IV/1 Bendan Duwur Semarang, 50234
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
SOEPRA Jurnal Hukum Kesehatan
ISSN : -     EISSN : 2548818X     DOI : https://doi.org/10.24167/shk
Core Subject : Health, Social,
The Journal focuses on the development of health law in Indonesia: national, comparative and international. The exchange of views between health lawyers in Indonesia is encouraged. The Journal publishes information on the activities of European and other international organizations in the field of health law. Discussions about ethical questions with legal implications are welcome. National legislation, court decisions and other relevant national material with international implications are also dealt with.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2: Desember 2020" : 12 Documents clear
Capability Versus Imparsiality of Doctors as Medical Disputes Mediators Muhammad Afiful Jauhani; Ninis Nugraheni; Mohammad Zamroni
SOEPRA Vol 6, No 2: Desember 2020
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v6i2.2553

Abstract

Abstract: In medical dispute resolution through mediation, a mediator with the medical qualification will be easier to facilitate the mediation process because of their expertise related to substance, but health workers which have high solidity towards the profession which will make it difficult for them to be impartial.The principal aim of this thesis was to study the doctor’s capability and doctor’s impartiality as a mediator in medical disputes. The issue will be discussed normatively juridically through the statute approach, conceptual approach, and comparative approach with Malaysia, Australia, and Netherland as the comparative country.From this research, it can be concluded that the capability of doctors as mediators of medical disputes lies in the gravity levels of doctors who are commensurate with the context of the dispute. Malaysia, Australia, and the Netherlands have required that mediators need to have an understanding of the substance and have technical knowledge of the problem at hand. A doctor’s impartiality as a mediator in medical disputes will have a tendency of partisanship and conflicts of interest.Keywords: Capability, Impartiality, Doctor, Mediator, Medical Dispute
Legal Protection for Children Victim of Bullying Which Causing Mental Health Disorder Try Ahmad Mirza; Nandang Sambas; Caecielia w.
SOEPRA Vol 6, No 2: Desember 2020
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v6i2.2683

Abstract

Abstract: Bullying has become a concerning phenomenon in any part of the world. Bullying of children has a serious impact, victims can experience psychosomatic when going to school, feel worthless, feel alienated, depressed, even commit suicide. This study discusses how the legal protection for children victim of bullying which causing mental health disorder is reviewed based on Law Number 35 the Year 2014 Regarding Child Protection and Law Number 18 the Year 2014 Regarding Mental Health and is associated with the implementation of child protection in the Social Service for Women's Empowerment and Child Protection in Cirebon City and prevention of mental health disorders in one of the hospitals in West Java. Based on the results of the study it can be concluded that children victim of bullying who had mental health disorders receive special protection as victims of psychological and physical violence (bullying) and special protection for children with disabilities who are also included in the term of People With Mental Disorder in the terminology of mental health. Legal protection also includes promotive and preventive efforts to prevent bullying children from falling into mental health disorders as well as curative and rehabilitative conditions for children who had experienced mental health disorders. All the efforts are carried out by the Government, Regional Government, Community, Family, and Parents. Integration of all components of this legal protection is expected to reduce the incidence of bullying against children and also be able to suppress mental health disorders as an outcome.Keywords: Legal protection of children, Bullying, Mental Health Disorder Abstrak: Bullying menjadi fenomena yang sangat memprihatinkan di belahan dunia manapun Bullying terhadap anak membawa dampak yang serius, korban dapat mengalami psikosomatis ketika akan berangkat sekolah, merasa tidak berharga, merasa terasingkan, depresi hingga melakukan bunuh diri. Penelitian ini membahas bagaimana Perlindungan Hukum bagi Anak Korban Bullying yang Mengakibatkan Gangguan Kesehatan Jiwa dikaji berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa serta dikaitkan dengan pelaksanaan perlindungan anak di Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSPPPA) Kota Cirebon dan penanggulangan gangguan kesehatan jiwa di salah satu Rumah Sakit di Jawa Barat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Anak Korban Bullying yang Mengalami Gangguan Kesehatan Jiwa mendapat perlindungan khusus sebagai korban kekerasan psikis dan fisik (bullying) serta perlindungan khusus anak penyandang disabilitas yang juga termasuk dalam istilah ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dalam terminologi Kesehatan Jiwa. Perlindungan hukum tersebut mencakup upaya promotif dan preventif untuk menghindari anak korban bullying jatuh kepada kondisi gangguan kesehatan jiwa serta kuratif dan rehabilitatif bagi anak korban bullying yang sudah mengalami gangguan kesehatan jiwa. Semua upaya di atas dilaksanakan secara simultan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Masyarakat, Keluarga, dan Orang Tua. Integrasi semua komponen perlindungan hukum di atas diharapkan dapat menekan angka kejadian bullying terhadap anak dan akhirnya juga dapat menekan luarannya yaitu gangguan kesehatan jiwa.Kata kunci: Perlindungan hukum anak, Bullying, Gangguan Kesehatan Jiwa
Quality of Service for the Delivery Guarantee Program (Jampersal) for the Implementation of Regional Regulations on Public Service Retribution in Banyumas Regency Diah Arimbi; Retno Kumalasari
SOEPRA Vol 6, No 2: Desember 2020
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v6i2.2592

Abstract

Abstract: Maternal and perinatal health problems are national problems that need to be given top priority. The health status of a community is assessed through several indicators, including the Maternal Mortality Rate and the Infant Mortality Rate. To accelerate the achievement of the Millennium Development Goals (MDGs) in 2015, especially in reducing maternal and infant mortality rates, this year the Ministry of Health launched the Maternity Insurance (Jampersal) program. In reducing the Maternal Mortality Rate and Infant Mortality Rate (IMR), all sectors are required to cooperate. There are problems, including the existence of jampersal health service fees, midwives in Banyumas district have complained about the existing fees, in this case making delamatis as quality health service workers not matched with proper services. Jampersal's satisfaction is still a sign of whether Jampersal gives satisfaction to patients or even Jampersal officers themselves. This research aims to review the service quality of the Maternity Guarantee Program (Jampersal) as the Application of Local Regulations on Health Services in the Bayumas Regency. The research method is qualitative. The research subjects were private practice midwives and health centers in Banyumas Regency. As a triangulation is the Semarang City Health Office Maternity Insurance Manager and the coordinator of the IBI (Indonesian Midwives Association) midwife. Data collection was carried out through in-depth interviews. State output plays a role in health services for its people. Especially for the weak by the mandate of the 1945 Constitution Articles 28H and 34. The quality of service for the birth insurance program (Jampersal) as the application of regional regulations on health services, does not affect the quality of quality services for patient safety and their duties. The highest service satisfaction assessment is the assessment of the work aspect of a midwife who is in charge of serving and caring for patients as a noble job. Keywords: Quality, Jampersal, Regional Regulation Abstrak: Masalah kesehatan ibu dan perinatal merupakan masalah nasional yang perlu mendapatkan prioritas utama. Derajat kesehatan suatu masyarakat dinilai melalui beberapa indikator diantaranya dengan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Untuk mempercepat pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 khususnya menurunkan angka kematian ibu dan bayi, tahun ini Kementerian Kesehatan meluncurkan program Jaminan Persalinan (Jampersal). Dalam menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKB) perlulah kerjasama semua sektor. Adanya permasalahan yang diantaranya adanya retribusi jasa pelayanan kesehatan jampersal,bidan di kabupaten Banyumas banyak mengeluhkan retribusi yang ada, dalam hal ini menjadikan delamatis sebagai tenaga kesehatan pelayanan berkualitas tidak diimbangi dengan jasa yang semestinya. Kepuasan Jampersal yang masih menjadi tanda atanya, apakah Jampersal memberikan kepuasan kepada pasien atau bahkan petugas Jampersalnya itu sendiri.Tujuan penelitian untuk meninjau kualitas layanan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) Sebagai Penerapan Peraturan Daerah Tentang Jasa Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Bayumas. Metode penelitian adalah kualitatif. Subjek penelitian adalah bidan praktek swasta dan di puskemas di wilayah Kabupaten Banyumas. Sebagai Triangulasi adalah Pengelola Jaminan Persalinan Dinas Kesehatan Kota Semarang dan koordinator bidan IBI (Ikatan Bidan Indonesia). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Hasil negara berperan dalam pelayanan kesehatan bagi rakyatnya. Terutama bagi kaum lemah sesuai amanat UUD 1945 Pasal 28H dan 34. Kualitas layanan program jaminan persalinan (Jampersal) sebagai penerapan peraturan daerah tentang jasa pelayanan kesehatan, tidak mempengaruhi kualitas pelayanan yang bermutu bagi keselamatan pasien dan tugasnya. Penilaian kepuasan pelayanan yang tertinggi yaitu penilaian aspek pekerjaaan seorang bidan yang bertugas melayani dan merawat pasien sebagai suatu pekerjaan yang mulia.Kata kunci: Kualitas, Jampersal, Pearaturan Daerah
Law Enforcement Opens Medical Records through Public Relations Media of Langsa Hospital Tariadi Tariadi; Radhali Radhali; H.S Brahmana; Eko Hadiyanto
SOEPRA Vol 6, No 2: Desember 2020
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v6i2.2593

Abstract

Abstract: Medical record is a file that contains records and documents about the patient's identity, examination, treatment, actions, and other services that have been provided to patients. This study aims to determine the legal arrangements regarding the medical record, to find out law enforcement against the Public Relations of Langsa Public Hospital publish patient medical records in online media and to find out the obstacles and efforts made in law enforcement against the Public Relations of Langsa Public Hospital that open patient medical records. The method used in this study is normative and empirical juridical. 1) In medicine, it is not permissible for a doctor or employee of a public hospital to open a medical record through the Public Relations media of Langsa Regional Hospital according to Law Number 29 of 2004 Article 51. 2) Law enforcement against someone who opens a medical record at Langsa Regional Hospital is considered ineffective because law enforcement officials, in this case, are not serious in handling cases that should be prosecuted. 3) Obstacles in law enforcement in Langsa Regional Hospital, namely that there are still overlapping laws by the police so that law enforcement cannot be carried out fairly and the efforts made in law enforcement against Langsa Regional Hospital that open medical records by means of supervision and coordination between leadership and staff in hospitals Langsa.Keywords: Law Enforcement, Medical Records, Media Abstrak: Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan hukum tentang rekam medis, untuk mengetahui penegakan hukum terhadap pihak Humas RSUD Langsa mempublikasikan rekam medis pasien di media online dan untuk mengetahui hambatan dan upaya yang dilakukan dalam penegakan hukum terhadap pihak Humas RSUD Langsa yang membuka rekam medis pasien. Metode yang digunakan penelitian ini adalah yuridis normatif dan empiris. 1) Dalam medis, tidak di bolehkan bagi seorang dokter maupun pegawai rumah sakit umum untuk membuka rekam medis melalui media Humas RSUD Langsa yang atas Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Pasal 51. 2) Penegakan hukum terhadap seseorang yang membuka rekam medis di RSUD Langsa dinilai tidak efektif dikarenakan aparat penegak hukum dalam hal ini tidak serius dalam menangani kasus yang seharusnya dapat di pidanakan. 3) Hambatan dalam penegakan hukum di RSUD Langsa yaitu masih adanya timpang tindih hukum yang dilakukan oleh aparat kepolisian sehingga penegakan hukum tidak dapat dilaksanakan secara adil dan adapun upaya yang dilakukan dalam penegakan hukum terhadap pihak RSUD Langsa yang membuka rekam medis dengan cara adanya pengawasan dan koordinasi antara pimpinan dan staf di RSUD Langsa.Kata Kunci: Penegakan Hukum, Rekam Medis, Media
Influential Factors in The Law Enforcement Process of Sexual Violence Cases in Children in The City of Semarang Liya Suwarni; Tuntas Dhanardhono; Bianti Hastuti Machroes
SOEPRA Vol 6, No 2: Desember 2020
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v6i2.2912

Abstract

Abstract:Background. Cases of sexual violence increase every year, victims ranging from adolescents, children to toddlers. Based on data from the Indonesian Child Protection Commission, abuse and violence against children in Indonesia in 2013 were 23 cases, in 2014 there were 53 cases, in 2015 there were 133 cases, 2017 reached 1,337 cases, and as of July 2018 there were 424 cases.Purpose. Knowing the factors that influence the law enforcement process of sexy violence cases in Semarang City.Method This study uses descriptive analytical methods for cases of violence against children, based on medical record data in hospitals, documents in Mapolrestabes, the District Attorney's Office and the Semarang City Court for the period of January 2015 to December 2018.Results. Based on research results obtained 213 experimental cases section from medical record data in hospitals in the city of Semarang. Most cases of child abuse occurred in 2018 with 72 cases. Most victims are 12-14 years old age group, female. Most types of cases are cases of intercourse. The majority of violations are persons known as victims, perpetrators not working, and most of the places of occurrence are in the defendant's house. At the time of prosecution and trial, the number of cases was significantly reduced to only 8 cases. Factors related to this include lack of evidence, difficulty in obtaining information from victims, convoluted statements of coverage, lack of election, and obtaining diversion rates.Conclusion Cases of sexual violence have increased from year to year. The process of law enforcement on this problem still has many difficulties in each manufacturing process which is still difficult to overcome.Keywords; sexual violence, children, law enforcement, Semarang City. AbstrakLatar belakang. Kasus kekerasan seksual mengalami peningkatan setiap tahun, korbannya mulai dari kalangan dewasa, remaja, anak-anak hingga balita. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia, pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 23 kasus, 2014 sebanyak 53 kasus, 2015 sebanyak 133 kasus, 2017 telah mencapai 1.337 kasus, dan hingga bulan Juli 2018 terdapat 424 kasus.Tujuan. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses penegakkan hukum kasus kekerasan seksual di Kota Semarang.Metode. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik terhadap kasus kekerasan seksual pada anak, berdasarkan data rekam medis di Rumah Sakit, dokumen di Mapolrestabes, Kejaksaan Negeri, dan Pengadilan Kota Semarang periode Januari 2015 hingga Desember 2018.Hasil. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 213 kasus kekerasan seksual dari data rekam medis di Rumah Sakit di Kota Semarang. Kasus kekerasan seksual pada anak terbanyak terjadi pada tahun 2018 sebanyak 72 kasus. Korban terbanyak adalah kelompok usia 12-14 tahun, berjenis kelamin perempuan. Jenis kasus terbanyak adalah kasus senggama. Mayoritas pelaku merupakan orang yang dikenal oleh korban, pelaku tidak bekerja, dan tempat kejadian terbanyak adalah di rumah terdakwa. Pada tahap penuntutan dan persidangan, jumlah kasus tersebut berkurang secara signifikan menjadi 8 kasus saja. Faktor-faktor yang terkait menyebabkan hal tersebut antara lain kurangnya alat bukti, sulitnya mendapatkan keterangan dari korban, keterangan pelaku yang berbelit-belit, tidak adanya saksi, dan tingginya angka diversi.Simpulan. Kasus kekerasan seksual meningkat dari tahun ke tahun. Proses penegakkan hukum terhadap kasus ini masih memiliki banyak kendala pada tiap tahap yng masih sulit diatasi.Kata kunci: kekerasan seksual, anak, penegakkan hukum, Kota Semarang.
Patient Legal Protection and Balance Principle Imelda Suryatama
SOEPRA Vol 6, No 2: Desember 2020
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v6i2.1632

Abstract

Perlindungan hukum pasien merupakan bagian dari penyelenggaraan pelayanan kesehatan perorangan, dalam bentuk diselenggaranya hak dan kewajiban dengan cara mengedepankan keselamatan pasien yang diatur dalam Permenkes Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien sebagai pemenuhan atas hak pasien untuk mendapatkan derajat kesehatan yang optimal.Asas keseimbangan,  sebagai asas yang utama menghargai hak dan kewajiban yang seimbang dengan mendapat dukungan dari asas kepastian hukum yang intinya mengedepankan hukum positif sebagai dasar penyelenggaraan kepentingan, kemudian  asas kemanfaatan yang berupaya memberikan kebahagiaan sebesar-besarnya kepada sebanyak-banyaknya orang, selanjutnya asas pengayoman sebagai asas yang menjadi landasan negara dengan cita hukum Pancasila.Penelitian dilakukan dengan menggunakan Metode Penelitian Deskriptif, melalui pendekatan Metode Penelitian Yuridis Normatif, dengan jenis metode penelitian Studi Kepustakaan, kemudian analisis yang dilakukan adalah analisis kualitatif, untuk mendapatkan jawaban sementara berupa hipotesis kerja.Perlindungan hukum pasien yang mengedepankan keselamatan pasien sebagai norma-norma penyelenggaraan pelayanan kesehatan perorangan dikaitkan dengan penghargaan terhadap pelaksanaan peraturan dengan hak dan kewajiban yang seimbang untuk pemenuhan terhadap nilai-nilai dari asas kemanfaatan, asas kepastian hukum dan asas pengayoman, memberikan jawaban sementara berupa hipotesis kerja: jika ditentukan tentang perlindungan hukum pasien, maka dipenuhi asas keseimbangan. KATA KUNCI: Perlindungan Hukum Pasien, Keselamatan Pasien, Asas Keseimbangan, Asas Kemanfaatan, Asas Kepastian Hukum dan Asas Pengayoman
Authority of Dental and Oral Therapists in Providing Prescriptions and Medicines and Legal Protection in Dental Health Services at Public Health Centers in Demak Regency Lira Wiet Jayanti; Endang Wahyati Yustina; Irma Haidar Siregar
SOEPRA Vol 6, No 2: Desember 2020
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v6i2.2662

Abstract

Abstract: Health services are one of the aspects of national development that is developed through health efforts. The form of health services is carried out through three main components, which are health efforts, health workers, and health facilities. Dental and mouth therapists are some of the health workers who work in government health service facilities, such as a public health center. Regulations on the licensing and operation of dental and oral therapist practices are listed in Minister of Health Regulation No. 20 of 2016, which mentions the authority of dental and oral therapists in prescribing and medication from the mandate of the dentist.This research was a Sociological Juridical study with descriptive-analytical research specifications. This study used primary and secondary data carried out with field studies and literature studies. The data analyzed with the qualitative data analysis method.The result showed different provisions in the regulation regarding prescription and medication by dental and oral therapists. According to Regulation of the Minister of Health No. 20 of 2016, dental and mouth therapists can provide prescribing and medication on the mandate of the dentist while in the Minister of Health Regulation No. 73 of 2016 states that the prescription can only be done by a doctor or dentist. In its implementation at a public health center which was the object of research, it was known that all dental and mouth therapists who were respondents in this study administered prescribing and medication. So, this does not fulfill the legal protection for patients. Factors that influence this are juridical factors related to conflicting regulations, sociological factors related to the behavior of patients and medical personnel, and technical factors related to the lack of human resources at the public health center.Keywords:   dental and mouth therapists, prescribing and medication, the authority of dental and mouth therapists Abstrak: Pelayanan kesehatan merupakan salah satu aspek dalam pembangunan nasional yang dikembangkan melalui upaya kesehatan. Wujud pelayanan kesehatan dilaksanakan melalui tiga komponen utama yang tidak dapat dipisahkan yaitu upaya kesehatan, tenaga kesehatan, dan fasilitas kesehatan. Untuk melaksanakan upaya kesehatan diperlukan tenaga kesehatan.  Terapis gigi dan mulut adalah salah satu tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah salah satunya puskesmas. Pengaturan tentang izin dan penyelenggaraan praktek terapis gigi dan mulut tercantum pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 20 Tahun 2016, yang salah satu pasalnya menyebutkan tentang kewenangan terapis gigi dan mulut dalam pemberian resep dan obat atas mandat dari dokter gigi.Penelitian ini merupakan penelitian Yuridis Sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif-analitis. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder dengan metode pengumpulan data dilakukan dengan studi lapangan dan studi kepustakaan untuk memperoleh data yang diperlukan. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analis data kualitatif.Dari hasil penelitian terdapat ketentuan yang berbeda di dalam pengaturan mengenai pemberian resep dan obat oleh terapis gigi dan mulut. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 20 Tahun 2016, terapis gigi dan mulut dapat memberikan resep dan obat atas mandat dari dokter gigi sementara dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 menyebutkan bahwa pemberian resep hanya dapat dilakukan oleh dokter atau dokter gigi. Dalam pelaksanaanya di puskesmas yang menjadi objek penelitian, diketahui bahwa semua terapis gigi dan mulut yang menjadi responden dalam penelitian ini melakukan pemberian resep dan obat. Sehingga hal ini tidak memenuhi perlindungan hukum bagi pasien. Faktor-faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah faktor yuridis terkait dengan peraturan yang saling bertentangan, faktor sosiologis terkait perilaku pasien dan tenaga medis dan faktor teknis terkait dengan kurangnya jumlah sumber daya manusia di puskesmas.Kata kunci: terapis gigi dan mulut, pemberian resep dan obat, kewenangan terapis gigi dan mulut
The Discourse of Medical Malpractice Punishment In Criminology Perspective Lalu M. Guntur Payasan W.P.
SOEPRA Vol 6, No 2: Desember 2020
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v6i2.2568

Abstract

Abstract: Medical malpractice is a phenomenon that familiar case in Indonesia. However, the variety is based on intensity and attention that is missed in the academic study. The trends of medical malpractice also fluctuate, both through the Konsil Kedokteran (KKI) to the process at Majelis Kehormatan Dewan Kedokteran Indonesia (MKDKI). Firstly, the case was identified in 1923 until now with more ways, including negligence in drug receipt, abortion, surgery to anesthesia. This paper examines the implementation of medical malpractice punishment in criminological perspectives. There are 3 (three) issues, such as the perspective of medical malpractice as a crime, the neutralization of malpractice as a part of medical practice, and the proficiency gap in the judicial process. Medical malpractice punishments in constitutive penology studies are rooted in the provision of health services, the ratio of medical expertise, the effectiveness discourse of imprisonment, and non-capital punishment. The conclusion is so necessary to reconstruct discourse about the punishment of malpractice by focusing on the process of social reintegration. This can be done in the form of social work responsibilities.Keywords: criminology, medical malpractice, punishment Abstrak: Malapraktik medis merupakan fenomena yang kerap terjadi di Indonesia. Namun, dengan intensitas dan perhatian yang seringkali luput dalam kajian. Tren malapraktik medis di Indonesia pun mengalami fluktuasi, baik melalui Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) hingga proses di Majelis Kehormatan Dewan Kedokteran Indonesia (MKDKI). Salah satu kasus yang teridentifikasi sebagai malapraktik medis telah terjadi sejak 1923 hingga kini dengan ragam modus, meliputi kelalaian dalam pemberian obat, aborsi, bedah, hingga anestesi. Tulisan ini mengkaji implementasi penghukuman malapraktik medis dalam perspektif kriminologi. Hal ini dilakukan mengingat fenomena serupa seringkali hanya dilihat dari sudut pandang hukum. Terdapat 3 (tiga) isu yang diketengahkan, yakni perspesi malapraktik medis sebagai kejahatan, netralitas malapraktik medis sebagai bagian dari praktik kedokteran, dan celah kecapakan dalam proses peradilan. Penghukuman malapraktik medis dalam kajian penologi konstitutif berakar pada penyediaan layanan kesehatan, rasio kepakaran tenaga medis, diskursus efektifitas pemenjaraan, dan hukuman non kapital. Simpulannya bahwa perlu rekonstruksi pemikiran tentang penghukuman malapraktik dengan menitikberatkan pada proses reintegrasi sosial. Hal ini dapat dilakukan dalam bentuk tanggung jawab kerja sosial.Kata kunci: kriminologi, malapraktik medis, penghukuman
Health Social Policy in Facing the New Paradigm of Industrial Revolution 4.0 Endro Tri Susdarwono
SOEPRA Vol 6, No 2: Desember 2020
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v6i2.2277

Abstract

Abstract: Health is not a health un sick, since it is contextual, as society defines health differently, at least by four aspects: cultural pattern, the cultural standard of health changes over time, technology affecting people’s health, social inequality affecting people’s health. Poor and wealthy countries have their specific health issues. In poor countries, health problems are mostly famine, malaria, cholera/diaries, skin disease, and infection. Health problems are mostly caused by a bad environment, dirty water, and bad sanitation. Health problems in rich countries, especially in the US, are mostly heart attack stroke, and obesity. There are two approaches to health social policy: the prevention and the cure. Prevention is sometimes called the social well-being policy to increase people’s health conditions. Another understanding of prevention is social work, which has a broader meaning that social life does not only refer to health. While the cure is commonly understood as a “social health care system”, as noted by Johnson and Schwartz defined as a system generally responsible for sickness and disability. Why government shall develop health policy, create a mechanism for health care, and manage health prevention ?”. The first answer is that a healthy society is an assurance for national productivity, and therefore competitiveness. The second answer is that a healthy society generates additional disposable income. There is no single best way to develop health policy. There are many rooms and spaces to develop creative health policy.Keywords:       health, health social policy, healthy society, national productivity.  Abstrak: Kesehatan bukanlah kesehatan yang tidak sakit, karena itu bersifat kontekstual, sebagaimana masyarakat mendefinisikan kesehatan secara berbeda, setidaknya melalui empat aspek: pola budaya, standar budaya kesehatan yang berubah dari waktu ke waktu, teknologi mempengaruhi kesehatan masyarakat, ketimpangan sosial yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. Negara miskin dan kaya memiliki masalah kesehatan khusus mereka sendiri. Di negara-negara miskin, masalah kesehatan paling banyak terjadi pada kelaparan, malaria, kolera / buku harian, penyakit kulit dan infeksi. Masalah kesehatan sebagian besar disebabkan oleh lingkungan yang buruk, air kotor dan sanitasi yang buruk. Masalah kesehatan di negara kaya, terutama di AS, kebanyakan adalah serangan jantung, stroke, dan obesitas. Ada dua pendekatan kebijakan sosial kesehatan: pencegahan dan pengobatan. Pencegahan terkadang disebut sebagai kebijakan kesejahteraan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kondisi kesehatan masyarakat. Pengertian lain dari pencegahan adalah pekerjaan sosial, yang memiliki arti lebih luas bahwa kehidupan sosial tidak hanya mengacu pada kesehatan. Sementara penyembuhan umumnya dipahami sebagai “sistem perawatan kesehatan sosial”, sebagaimana dicatat oleh Johnson dan Schwartz didefinisikan sebagai sistem yang secara umum bertanggung jawab atas penyakit dan kecacatan. Mengapa pemerintah harus mengembangkan kebijakan kesehatan, membuat mekanisme perawatan kesehatan, dan mengelola pencegahan kesehatan? ”. Jawaban pertama, masyarakat yang sehat merupakan jaminan bagi produktivitas nasional, dan oleh karena itu berdaya saing. Jawaban kedua adalah bahwa masyarakat yang sehat menghasilkan pendapatan tambahan. Tidak ada satu cara terbaik untuk mengembangkan kebijakan kesehatan. Ada banyak ruang dan ruang untuk mengembangkan kebijakan kesehatan kreatif. Kata kunci: kesehatan, kebijakan sosial kesehatan, masyarakat sehat, produktivitas nasional.
Documentation of Childbirth Care as Legal Protection for Midwives' Independent Practices Istri Yuliani
SOEPRA Vol 6, No 2: Desember 2020
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/shk.v6i2.2664

Abstract

Abstract: Sixty-two point seven per cent (62.7%) childbirths in Indonesian were handled by midwives. Most of them were in the location of midwife independent practice. It is a critical period during labour. At this time complication may occur. Sometimes the complication is known long before the labour. The patients feel harmed by the complication. Sometimes they bring the cases before the law. One of the ways to prove whether the complication occurs because the process of labour is by analyzing the process of labour by examining the midwifery care documentation. This study aims to see whether the midwifery documentation can provide legal protection to midwives.Descriptive a qualitative study with a combination approach of normative and empirical legal study. The informants were independent practice midwives, Indonesian Midwives Association Committee, midwives in a community health centre. The samples were purposive. Data were collected with an in-depth interview, observation, and documentation study. Data were analyzed with qualitative technique.The record of subjective and objective data of the childbirth care is incomplete. It does not meet the standards of the midwifery documentation. It does not yet have a function as a legal responsibility and accountability.Midwifery documentation made by self-practice midwives has not provided legal protection.Keywords: documentation, midwife, labour, legal Abstrak: Di Indonsia 62,7% persalinan ditolong oleh bidan, tempat persalinan terbanyak (29%) adalah pada praktik mandiri bidan.  Masa sekitar persalinan merupakan puncak risiko mortalitas ibu, dimana pada masa ini secara tiba-tiba sering terjadi komplikasi. Kadang kala komplikasi diketahui jauh setelah masa persalinan. Akibat dari komplikasi dan pasien merasa dirugikan, tidak sedikit pasien yang menggugat bidan melalui jalur hukum. Salah satu cara untuk membuktikan apakah komplikasi itu timbul akibat proses persalinan, maka sumber ingatan yang paling tepat yang dapat digunakan untuk menganalisis proses persalinan adalah dengan melihat kembali dokumentasi asuhan kebidanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dokumentasi kebidanan dapat memberikan perlindungan hukum bagi bidan?Jenis penelitian deskriptif kualitatif, dengan pendekatan kombinasi dari penelitian hukum normatif dan penelitian hukum sosiologis empiris. Informan adalah :  bidan praktik mandiri, Pengurus IBI, bidan Puskesmas. Pengambilan sampel dengan purposive sampling. Pengumpulan data dengan in-depth interview, observasi dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif.Penulisan data subyektif dan obyektif pada asuhan persalinan masih kurang lengkap, belum memenuhi standar penulisan dokumentasi kebidanan, dan belum memiliki fungsi sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat secara hukum.  Dokumentasi kebidanan oleh praktik mandiri bidan belum dapat memberikan perlindungan hukum. Kata Kunci: dokumentasi, bidan, persalinan, hukum

Page 1 of 2 | Total Record : 12