cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
A Case Report of Primary Amenorrhea Due to Imperforate Hymen with Hematocolpos and Hematometra: Diagnosis and Management Zafira Yasmin Fadhila; Hana Fadila; Dani Setiawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.999

Abstract

Introduction: Imperforate hymen (IH) is a congenital anomaly of the female genital tract that causes obstruction of vaginal flow. This report aims to describe the clinical presentation of an imperforate hymen and the surgical approach used in the patient.Case Illustration: A 13-years-old girl presented to the obstetrics and gynecology clinic with the chief complaint of lower abdominal pain. Physical examination of the external genitalia revealed a bulging, bluish hymenal membrane. Pelvic ultrasonography showed findings consistent with hematocolpos and hematometra. A diagnosis of imperforate hymen was established. A hymenotomy was performed using a cruciate incision technique. Postoperative evaluation two weeks later demonstrated good wound healing without complications.Conclusion: Imperforate hymen should be identified and managed promptly to prevent complications. Hymenotomy using a cruciate incision technique is an effective therapeutic option with favorable clinical outcomes.Amenore Primer Akibat Himen Imperforata dengan Hematokolpos dan Hematometra: Diagnosis dan TatalaksanaAbstrakPendahuluan: Himen imperforata (HI) merupakan anomali kongenital saluran genitalia wanita yang menyebabkan obstruksi saluran vagina. Laporan ini bertujuan untuk mendeskripsikan himen imperforata dan pendekatan pembedahan pada pasien.Ilustrasi Kasus: Seorang perempuan usia 13 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan utama nyeri perut bawah. Inspeksi genitalia eksterna menunjukkan himen menonjol berwarna kebiruan, dan gambaran hematokolpos pada ultrasonografi pelvis. Diagnosis himen imperforata ditegakkan. Tindakan himenotomi dilakukan dengan teknik insisi menyilang. Evaluasi dua minggu pascaoperasi menunjukkan penyembuhan yang baik tanpa komplikasi.Kesimpulan: Himen imperforata perlu diidentifikasi dan ditangani segera untuk mencegah komplikasi. Himenotomi dengan teknik insisi menyilang merupakan pilihan terapi efektif dengan hasil klinis yang baik.
Preoperative Multimodal Prehabilitation and Surgical Outcomes in Ovarian Cancer Cytoreduction: A Systematic Review Vegy Supriadi; Hacantya Pradipta; Gatot Nyarumenteng Adhipurnawan Winarno
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1119

Abstract

Introduction: Cytoreductive surgery for ovarian cancer imposes substantial physiological stress and is associated with high postoperative morbidity, particularly in patients with advanced disease. Multimodal prehabilitation has been proposed to optimize the preoperative condition, but its effectiveness in ovarian cancer remains uncertain.Objective: This study aims to evaluate the effects of multimodal prehabilitation on perioperative outcomes, functional capacity, and oncologic recovery in women undergoing cytoreductive surgery for epithelial ovarian cancer.Methods: A systematic review was conducted following PRISMA guidelines. PubMed, Cochrane Library, and ScienceDirect were searched for studies assessing multimodal prehabilitation prior to ovarian cancer surgery. Eligible studies included observational and interventional designs reporting functional, perioperative, or oncologic outcomes. Data were synthesized narratively.Results: Five studies (2022–2025) were included. Prehabilitation consistently improved preoperative functional capacity. Effects on postoperative complications and intensive care use were inconsistent; however, some studies reported shorter hospital stays and earlier initiation of adjuvant chemotherapy. All studies had a moderate risk of bias.Conclusion: Multimodal prehabilitation may enhance functional capacity and support recovery, but current evidence remains limited. Further high-quality randomized trials are needed.Prehabilitasi Multimodal Praoperatif dan Luaran Bedah pada Sitoreduksi Kanker Ovarium: Sebuah Tinjauan SistematisAbstrakPendahuluan: Pembedahan sitoreduktif pada kanker ovarium menimbulkan stres fisiologis yang signifikan dan berisiko tinggi menyebabkan morbiditas pascaoperasi, terutama pada pasien dengan penyakit stadium lanjut. Prehabilitasi multimodal telah dikembangkan untuk mengoptimalkan kondisi pasien sebelum operasi, namun efektivitasnya pada kanker ovarium masih belum jelas.Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi secara sistematis pengaruh prehabilitasi multimodal terhadap luaran perioperatif, kapasitas fungsional, dan pemulihan onkologis pada pasien yang menjalani bedah sitoreduksi kanker ovarium epitel.Metode: Tinjauan sistematis dilakukan sesuai pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan pada PubMed, Cochrane Library, dan ScienceDirect untuk studi yang mengevaluasi prehabilitasi multimodal sebelum operasi kanker ovarium. Studi observasional dan intervensional yang melaporkan luaran fungsional, perioperatif, atau onkologis diikutsertakan. Data disintesis secara naratif.Hasil: Setelah dilakukan tinjauan lima studi antara tahun 2022-2025. Prehabilitasi secara konsisten meningkatkan kapasitas fungsional praoperasi. Dampaknya terhadap komplikasi pascaoperasi dan penggunaan perawatan intensif masih bervariasi, namun beberapa studi melaporkan penurunan lama rawat inap dan percepatan inisiasi kemoterapi adjuvan. Seluruh studi memiliki risiko bias sedang.Kesimpulan: Prehabilitasi multimodal berpotensi meningkatkan kapasitas fungsional dan mendukung pemulihan pascaoperasi, namun bukti yang ada masih terbatas. Diperlukan uji acak terkontrol dengan desain yang lebih baik. 
Psychosexual Interventions for Childhood Sexual Abuse Survivors: A Narrative Review in Obstetric and Gynecological Care Mochamad Rizkar Arev Sukarsa; Alce Everdien; Ahmad Ikbal Purnawarman; Immanuel Bachtiar Parlindungan; Jacklyn Yosefin Gracia Lubis; Marsha Marvella; Wynona Monica Ellsa Wiharja
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1074

Abstract

Objective: To evaluate the effectiveness of psychosexual interventions in improving sexual function and related psychological outcomes among women with a history of childhood sexual abuse, and to explore their clinical relevance and applicability in obstetric and gynecological care settings.Methods: A narrative review of literature from PubMed and ScienceDirect, published through February 2026, was conducted. Included studies involved adult women with a history of childhood sexual abuse who received psychosexual interventions and reported sexual or psychological outcomes. Non-primary studies and those failing to meet inclusion criteria were excluded.Results: Eight studies discussing psychosexual interventions were included, mainly comprising of cognitive-behavioral approaches, mindfulness-based therapy, and expressive writing, demonstrated improvements in sexual function, particularly desire and arousal, and reductions in sexual distress. Trauma-focused therapies, including TF-CBT, EMDR, and CPT, primarily reduced PTSD and related psychological symptoms, resulting in indirect effects on sexual health. This review also summarizes main principles of psychosexual interventions relevant for clinical application. Conclusion: Childhood sexual abuse has long-term effects on sexual functioning across multiple domains. Integrating trauma-focused and psychosexual interventions is crucial for supporting recovery and optimizing sexual health outcomes. In clinical practice, this includes routine screening, tailored counseling that accommodates cognitive and emotional vulnerabilities, and the application of trauma-informed and human rights-based care. Future research is warranted to strengthen these clinical applications.Intervensi Psikoseksual pada Penyintas Kekerasan Seksual Anak: Tinjauan Naratif dalam Praktik Obstetri dan GinekologiAbstrakTujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas intervensi psikoseksual dalam meningkatkan fungsi seksual dan luaran psikologis terkait pada perempuan dengan riwayat kekerasan seksual pada masa kanak-kanak, serta mengeksplorasi relevansi dan aplikasinya dalam praktik obstetri dan ginekologi.Metode: Tinjauan naratif dilakukan menggunakan PubMed dan ScienceDirect hingga Februari 2026. Studi yang melibatkan perempuan dewasa dengan riwayat kekerasan seksual pada masa kanak-kanak yang menerima intervensi psikoseksual dan melaporkan luaran seksual atau psikologis disertakan. Studi non-primer dan yang tidak memenuhi kriteria tidak diinklusikanHasil: Sebanyak delapan studi yang membahas intervensi psikoseksual disertakan, terdiri dari terapi berbasis mindfulness, expressive writing, dan pendekatan kognitif-perilaku menunjukkan perbaikan fungsi seksual, terutama pada aspek hasrat, gairah, dan distres seksual. Terapi berfokus trauma seperti TF-CBT, EMDR, dan CPT terutama menurunkan gejala PTSD dan gangguan psikologis terkait, dengan efek tidak langsung terhadap kesehatan seksual. Tinjauan ini juga merangkum prinsip-prinsip utama psikoseksual yang relevan bagi praktik klinis.Kesimpulan: Kekerasan seksual pada masa kanak-kanak berdampak jangka panjang terhadap fungsi seksual di berbagai domain. Integrasi terapi berfokus trauma dan intervensi psikoseksual penting untuk mendukung pemulihan dan meningkatkan kesehatan seksual. Dalam praktik klinis, hal ini mencakup skrining rutin, konseling yang disesuaikan dengan keterbatasan kognitif dan emosional, serta penerapan pendekatan berbasis trauma dan hak asasi manusia. Penelitian berkualitas tinggi masih diperlukan untuk memperkuat aplikasi klinis.  
A Rare Case of Ischiopagus Dicephalus Conjoined Twins with Tetrabrachius Tripus: Prenatal Diagnosis and Management: A Case Report Ahsanudin Attamimi; Detty Siti Nurdiati; Irwan Taufiqur Rachman; Adi Ariffianto
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1154

Abstract

Objectives: This article reports a rare case of conjoined twins with ischiopagus dicephalus and tetrabrachius tripus, emphasizing the significance of early prenatal imaging and interdisciplinary therapy.Case Report: Conjoined twins are a rare congenital anomaly resulting from the incomplete division of a single fertilized ovum in monozygotic, monochorionic, monoamniotic pregnancies. Ischiopagus dicephalus is an exceptionally rare subtype characterized by two heads on a single body, with fusion of the lower thorax and pelvis. We report a 28-year-old primigravida who was diagnosed at 18 weeks’ gestation with ischiopagus dicephalus tetrabrachius tripus. Transabdominal and 3D ultrasonography revealed a unique anatomical combination: two separate heads and two independent hearts and thoracic cavities, yet fused at the lower thorax and pelvis, with a shared liver and gastrointestinal tract and a tri-podal lower-limb configuration. Following multidisciplinary consultation, the "dual-heart yet single-pelvis" anatomy confirmed non-separability and a poor prognosis, leading to the decision for medical termination. A safe second-trimester vaginal delivery was achieved without maternal morbidity.Conclusion: The key learning point is that identifying the specific dual-heart, single-pelvis configuration is a definitive prognostic marker for non-separability. This case emphasizes the critical role of early, accurate prenatal imaging in detecting rare variants of conjoined twins, enabling comprehensive multidisciplinary counseling, informed ethical decision-making, and safe maternal management.Laporan Kasus Langka Kembar Siam Ischiopagus Dicephalus dengan Tetrabrachius Tripus: Diagnosis Prenatal dan Tatalaksana: Laporan KasusAbstrakTujuan: Artikel ini melaporkan kasus langka kembar siam dengan tipe ischiopagus dicephalus dan tetrabrachius tripus, serta menekankan pentingnya pencitraan prenatal dini dan penatalaksanaan multidisiplin.Laporan Kasus: Kembar siam merupakan kelainan kongenital langka yang terjadi akibat pembelahan tidak sempurna dari satu ovum yang telah dibuahi pada kehamilan monozigot, monokorionik, dan monoamniotik. Ischiopagus dicephalus adalah subtipe yang sangat jarang, ditandai dengan dua kepala pada satu tubuh dengan fusi pada toraks bawah dan pelvis. Seorang perempuan primigravida berusia 28 tahun didiagnosis pada usia kehamilan 18 minggu dengan ischiopagus dicephalus tetrabrachius tripus. Ultrasonografi transabdominal dan 3D menunjukkan kombinasi anatomi yang unik: dua kepala terpisah dan dua jantung/rongga dada yang independen, namun menyatu pada toraks bawah dan pelvis dengan fusi hati, saluran pencernaan, serta konfigurasi tiga ekstremitas bawah (tripus). Berdasarkan konsultasi multidisiplin, anatomi "dua jantung namun satu pelvis" mengonfirmasi kondisi janin yang tidak dapat dipisahkan dan prognosis buruk sehingga diputuskan untuk terminasi medis. Persalinan pervaginam trimester kedua yang aman berhasil dilakukan tanpa morbiditas maternal.Kesimpulan: Poin pembelajaran dari kasus ini adalah bahwa identifikasi konfigurasi spesifik dua jantung dan satu pelvis berfungsi sebagai penanda prognostik definitif untuk ketidakmungkinan pemisahan janin. Kasus ini menegaskan peran krusial pencitraan prenatal yang dini dan akurat dalam mendeteksi varian langka kembar siam sehingga memungkinkan konseling multidisiplin yang komprehensif, pengambilan keputusan etik yang tepat, serta penatalaksanaan maternal yang aman. 
Monochorionic Triplet Pregnancy with an Acardiac Twin: A Poor Prognostic Case Arlen Resnawaldi; Merlin Margareth Maelissa; Desmiranty Anisha Tipaheuw; Steffi Ribka Ngosiem; Joel Apriyanto Fejacreyo Huka
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1034

Abstract

Introduction: Twin Reversed Arterial Perfusion (TRAP) sequence, or acardiac twin, is a rare complication in monochorionic pregnancies due to abnormal placental anastomoses, leading to reversed perfusion and increased risk of heart failure, polyhydramnions, prematurity, and high mortality until 75% if untreated.Case report: A 29-year-old multigravida with a monozygotic triamniotic triplet pregnancy at 20–21 weeks presented with vaginal bleeding. Ultrasound revealed two non-viable fetuses and one suspected intrauterine demise. Vaginal delivery produced two stillbirth females neonatus (295 g and 275 g) and one malformed acardiac fetus (160 g). The placenta was monochorionic with two umbilical cords. Final diagnoses: complete abortion, monozygotic triamniotic triplet pregnancy, and acardiac twin (TRAP).Conclusion: TRAP in monochorionic triplet pregnancy carries poor prognosis. Early detection and referral to tertiary centers with fetal therapy are vital to improve outcomes.Kehamilan Triplet Monokorionik dengan Janin Akardiakus: Kasus dengan Prognosis Buruk AbstrakPendahuluan: Twin Reversed Arterial Perfusion (TRAP) sequence atau janin akardiakus merupakan komplikasi langka pada kehamilan monokorionik yang terjadi akibat adanya anastomosis plasenta abnormal. Kondisi ini menyebabkan aliran perfusi terbalik sehingga meningkatkan risiko gagal jantung pada janin donor (pump twin), polihidramnion, prematuritas, serta mortalitas tinggi hingga mencapai 75% bila tidak ditatalaksana.Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 29 tahun, multigravida, dengan kehamilan triplet monozigot triamniotik pada usia kehamilan 20 – 21 minggu datang dengan keluhan perdarahan pervaginam. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan dua janin tidak hidup dan satu janin diduga mengalami kematian intrauterin. Persalinan pervaginam menghasilkan dua neonatus perempuan lahir mati (berat 295 g dan 275 g) serta satu janin akardiakus dengan malformasi (berat 160 g). Plasenta monokorionik dengan dua tali pusat. Diagnosis akhir: abortus komplit, kehamilan triplet monozigot triamniotik, dan janin akardiakus (TRAP sequence).Kesimpulan: TRAP pada kehamilan triplet monokorionik memiliki prognosis yang buruk. Deteksi dini dan rujukan ke pusat pelayanan tersier dengan fasilitas terapi fetal sangat diperlukan untuk memperbaiki luaran kehamilan. 
Adolescent’s Reproductive Health Issues in Remote Areas with Suspected Sexual Violence: A Case Series Gita Sirini Candijaya; JM Seno Adjie; Anna Sofyana; Desmon Andreas Lubis
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1096

Abstract

Introduction: Sexual violence against adolescents is a major public health concern in Indonesia with significant medicolegal and psychosocial consequences. UNICEF estimates that more than 370 million girls in Asia have experienced sexual assault in childhood, while Indonesia’s 2021 National Survey reported a 6.9% lifetime prevalence among youth. Adolescents are particularly vulnerable due to stigma and limited access to adolescent-friendly services. Clinical descriptions of medicolegal genital findings in Indonesian adolescents remain limited.Case Presentation: This case series describes three female adolescents aged 16–18 years who underwent medicolegal genital examination following alleged sexual assault. Two patients had fresh hymenal lacerations consistent with acute penetrative trauma, while one had healed hymenal lacerations. All presented with emotional distress and received clinical assessment, reproductive health counseling, and recommendations for psychological support, sexually transmitted infection evaluation, and follow-up care. Examinations were conducted according to national forensic protocols.Conclusion: Normal or healed genital findings do not exclude sexual violence. Obstetricians and gynecologists play an important role in trauma-informed care. Multisectoral collaboration is needed to ensure comprehensive management and long-term support for adolescent survivors.Temuan Genital Medikolegal pada Remaja dengan Dugaan Kekerasan Seksual di Daerah Terpencil: Seri KasusAbstrakPendahuluan: Kekerasan seksual pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan konsekuensi medikolegal dan psikososial yang bermakna. UNICEF memperkirakan lebih dari 370 juta anak perempuan di Asia pernah mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanak, sedangkan Survei Nasional Indonesia tahun 2021 melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 6,9% pada kelompok usia muda. Remaja rentan akibat stigma dan keterbatasan akses terhadap layanan yang ramah remaja. Deskripsi temuan genital medikolegal pada remaja Indonesia masih terbatas.Laporan Kasus: Seri kasus ini melaporkan tiga remaja perempuan usia 16–18 tahun yang menjalani pemeriksaan genital medikolegal setelah dugaan kekerasan seksual. Dua pasien menunjukkan laserasi himen baru yang konsisten dengan trauma penetratif akut, sedangkan satu pasien memiliki laserasi himen yang telah sembuh. Seluruh pasien mengalami distres emosional dan mendapatkan asesmen klinis, konseling kesehatan reproduksi, serta anjuran dukungan psikologis, evaluasi infeksi menular seksual, dan tindak lanjut.Kesimpulan: Temuan genital yang normal atau telah sembuh tidak menyingkirkan kemungkinan kekerasan seksual. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi berperan penting dalam pelayanan berbasis trauma, dengan kolaborasi multisektoral untuk menjamin penanganan komprehensif dan dukungan jangka panjang bagi penyintas remaja. 
Telomere & Early Senescence Trophoblast in Preeclampsia: Impact & Opportunity Prof. Adhi Pribadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1199

Abstract

In general, and with numerous studies, telomeres in trophoblast cells tend to be significantly shorter in preeclampsia compared to normal pregnancies. This telomere shortening occurs due to high oxidative stress and premature cellular senescence in the placenta.What are Telomeres? Telomeres are the final sections of chromosomes, consisting of repeating DNA strands. Telomeres function as protective "caps" that maintain the stability of DNA and chromosomes, preventing them from being easily damaged or broken apart during cell division. Each time a cell divides, the telomeres shorten slightly. If the telomeres become too short, the cell will no longer be able to divide and will decease. This is a key indicator of biological aging.
A Sociomedical–Medicolegal Analysis of Abnormal Uterine Bleeding Associated with Cervical Polyps: A Case Report Yoas Pratama Simangunsong; Dadan Susandi; Ali Budi Harsono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1082

Abstract

Introduction: Abnormal uterine bleeding (AUB) is menstrual bleeding occurring outside pregnancy in women of reproductive age. Cervical polyps are a known cause of AUB and can lead to persistent bleeding and severe anemia. Management may pose sociomedical and medicolegal challenges, particularly for unmarried women, when treatment risks hymenal disruption.Case Illustration: A 38-year-old woman presented with recurrent chronic vaginal bleeding and severe anemia. Diagnosis was based on clinical history and a limited gynecological examination restricted to external inspection. Transabdominal ultrasonography suggested a cervical polyp, and laboratory testing revealed a hemoglobin level of 6.5 g/dL. The patient was hospitalized for blood transfusion and scheduled for vaginal cervical polyp extirpation. Initially, hysteroscopic polypectomy with referral to a tertiary hospital was proposed; however, the patient declined referral and opted for vaginal extirpation despite the potential risk of artificial hymenal disruption. The procedure included hymenal incision, cervical polyp extirpation, and uterine curettage, followed by planned hymenal reconstruction using 5-0 PGA sutures. Due to sociocultural and religious considerations, specific informed consent was obtained to address medicolegal aspects and document that any hymenal disruption was iatrogenic and medically indicated.Conclusion: This case underscores the importance of sociomedical and medicolegal considerations in managing AUB among unmarried women. Comprehensive informed consent is essential to protect patient autonomy and minimize legal risk for healthcare providers. Vaginal cervical polyp extirpation was successfully performed without causing permanent hymenal damage, yielding favorable clinical and sociocultural outcomes.Analisis Sosiomedis–Medikolegal terhadap Perdarahan Uterus Abnormal yangTerkait dengan Polip Serviks: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Perdarahan Uterus Abnormal (PUA) merupakan perdarahan menstruasi yang terjadi di luar kehamilan pada wanita usia reproduksi. Polip serviks merupakan salah satu penyebab PUA yang dapat menimbulkan perdarahan pervaginam persisten dan berisiko menyebabkan anemia berat. Penatalaksanaan kondisi ini dapat menimbulkan tantangan sosiomedikolegal, terutama pada perempuan yang belum menikah apabila tindakan medis berpotensi menyebabkan destruksi himen.Ilustrasi Kasus Seorang perempuan berusia 38 tahun datang dengan keluhan perdarahan pervaginam kronis berulang disertai anemia gravis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan ginekologis terbatas melalui inspeksi luar. Pemeriksaan USG transabdominal menunjukkan dugaan polip serviks, sedangkan pemeriksaan laboratorium memperlihatkan kadar hemoglobin sebesar 6,5g/dL. Pasien dirawat untuk menjalani transfusi darah dan direncanakan menjalani ekstirpasi polip serviks secara per vaginam. Awalnya, pasien direncanakan menjalani histeroskopi dengan rujukan ke rumah sakit tersier, namun menolak rujukan dan memilih tindakan per vaginam dengan risiko robekan himen artifisial. Tindakan dilakukan melalui insisi himen, ekstirpasi polip serviks, dan kuretase kavum uteri, disertai rencana rekonstruksi himen menggunakan benang PGA No. 5-0. Mengingat pertimbangan sosial, budaya, dan agama, dilakukan informed consent khusus untuk melindungi aspek medikolegal.Kesimpulan: Kasus ini menegaskan pentingnya integrasi aspek sosiomedikolegal dalam penatalaksanaan PUA pada perempuan yang belum menikah. Informed consent yang komprehensif berperan penting dalam menjamin otonomi pasien dan melindungi tenaga medis. Penanganan berhasil dilakukan dengan ekstirpasi polip serviks secara per vaginam tanpa kerusakan himen permanen.
Dicephalic Parapagus Conjoined Twins in a 37 Week Dichorionic Twin Pregnancy: A Case Report Febriani Febriani; Didik Suhendro; Nisa Faradisa Hernita
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1032

Abstract

Introduction: Conjoined twins are a rare congenital anomaly resulting from incomplete embryonic division between days 13 and 15 post-fertilization. Dicephalic parapagus is exceptionally rare, characterized by two heads on a single trunk with variable degrees of organ sharing, and is associated with high perinatal morbidity and mortality.Case presentation: A 20-year-old gravida 3 para 2 woman at 37 weeks was referred with suspected conjoined twins. Ultrasound revealed key clinical findings consistent with dicephalic parapagus, including two heads, a single thorax containing one heart, and shared abdominal organs (one liver, one kidney, one urinary bladder, and two gallbladders). After multidisciplinary planning, an elective cesarean section was performed, delivering live conjoined twins with ambiguous genitalia. The neonates were admitted to the NICU for stabilization and further imaging. The mother had an uncomplicated postoperative recovery and remained hemodynamically stable. The primary diagnosis was dicephalic parapagus with shared vital thoracoabdominal structures. The presence of a single functional heart, identified prenatally and confirmed postnatally, is the most decisive prognostic factor and significantly limits the possibility of surgical separation. This case highlights the importance of early prenatal detection and the role of coordinated multidisciplinary management.Conclusions: As a rare and complex case, this report underscores the challenges of late diagnosis of severe congenital anomalies in resource-limited settings. It emphasizes the need for improved antenatal screening, comprehensive parental counseling, and ethical considerations when managing conjoined twins with non-separable anatomy.Kembar Siam Parapagus Dicephalus pada Kehamilan Kembar Dikorionik 37 Minggu: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Kembar siam merupakan anomali kongenital yang sangat jarang terjadi akibat kegagalan pembelahan diskus embrionik antara hari ke-13 hingga ke-15 pascafertilisasi. Parapagus disefalus merupakan kasus yang sangat langka, ditandai dengan dua kepala pada satu batang tubuh dengan derajat berbagi organ yang bervariasi, serta memiliki morbiditas dan mortalitas perinatal yang tinggi.Presentasi kasus: Seorang wanita berusia 20 tahun dengan gravida 3 para 2 pada usia kehamilan 37 minggu dirujuk dengan dugaan kehamilan kembar siam. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan temuan klinis penting berupa parapagus disefalus, dengan dua kepala, satu toraks berisi satu jantung, serta organ abdomen yang berbagi, termasuk satu hati, dua kantong empedu, satu ginjal, dan satu kandung kemih. Setelah perencanaan multidisiplin, dilakukan seksio sesarea elektif dan berhasil melahirkan bayi kembar siam hidup dengan genitalia ambigu. Keduanya dirawat di NICU untuk stabilisasi dan pemeriksaan lanjutan, sementara ibu menjalani pemulihan pascaoperasi tanpa komplikasi. Diagnosis utama adalah parapagus disefalus dengan berbagai organ vital torakoabdominal yang digunakan bersama. Keberadaan satu jantung fungsional merupakan faktor prognostik paling kritis yang sangat membatasi kemungkinan dilakukan pemisahan bedah. Kasus ini menekankan pentingnya deteksi prenatal dini, konseling orang tua yang komprehensif, dan tata laksana perinatal yang terkoordinasi.Kesimpulan: Sebagai kasus yang sangat langka dan kompleks, laporan ini menunjukkan tantangan diagnosis terlambat pada anomali kongenital berat, terutama di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas. Kasus ini menegaskan perlunya peningkatan kualitas skrining antenatal, edukasi keluarga, serta pertimbangan etis dalam menangani kembar siam dengan anatomi yang tidak dapat dipisahkan. 
Association Between Age at Menarche and the Risk of Preeclampsia in Pregnant Women: A Systematic Review and Meta-analysis Ghefira Hasna Kamila; Muhammad Khalid Jambak; Muhammad Bintang Firdaus; Jihan Nur Azizah; Cindy Sabina Faleandra
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1118

Abstract

Objective: This study aimed to examine the association between age at menarche and the risk of preeclampsia.Methods: This study followed the PRISMA 2020 guidelines. A literature search was conducted in PubMed, Scopus, Cochrane Library, EBSCOhost, and SAGE Journals up to November 13, 2025. Observational studies assessing age at menarche and preeclampsia were included. Risk of bias was evaluated using the Newcastle-Ottawa Scale. Data were pooled using a random-effects inverse-variance model to estimate Odds Ratios (ORs) with 95% Confidence Intervals (CIs). Heterogeneity, subgroup analysis, meta-regression, sensitivity analyses, and publication bias were performed.Results: Eight studies involving 219,933 participants with a low to moderate risk of bias were included. The analysis showed a higher risk of preeclampsia in early menarche compared to normal menarche (OR 2.84, 95% CI 1.64–4.93; p < 0.000; I² = 95%), normal menarche compared to late menarche (OR 1.56, 95% CI 1.14–2.15; p = 0.006; I² = 65%), and early menarche compared to late menarche (OR 2.40, 95% CI 1.40–4.11; p = 0.001; I² = 84%).Conclusion: Age at menarche is associated with the risk of preeclampsia. However, the findings should be interpreted with caution due to several limitation.Hubungan antara Usia Menarche dan Risiko Preeklampsia pada Ibu Hamil: Tinjauan Sistematis dan Meta-analisisAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara usia menarche dengan risiko preeklampsia.Metode: Penelitian ini mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed, Scopus, Cochrane Library, EBSCOhost, dan SAGE Journals hingga 13 November 2025. Studi observasional yang menilai hubungan antara usia menarche dan preeklampsia diikutsertakan. Risiko bias dinilai menggunakan Skala Newcastle-Ottawa. Analisis data dilakukan dengan model efek acak metode varians terbalik untuk menghitung Odds Ratio (OR) dengan 95% Confidence Interval (CI). Heterogenitas, analisis subkelompok, meta-regresi, analisis sensitivitas, serta bias publikasi juga dianalisis.Hasil: Delapan studi dengan total 219.933 partisipan dengan risiko bias rendah hingga sedang diikutsertakan. Analisis menunjukkan bahwa risiko preeklampsia lebih tinggi pada menarche dini dibandingkan menarche normal (OR 2.84, 95% CI 1.64–4.93; p < 0.000; I² = 95%), menarche normal dibandingkan menarche lambat (OR 1.56, 95% CI 1.14–2.15; p = 0.006; I² = 65%), serta menarche dini dibandingkan menarche lambat (OR 2.40, 95% CI 1.40–4.11; p = 0.001; I² = 84%).Kesimpulan: Usia menarche berhubungan dengan risiko preeklampsia. Namun, hasil ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati karena beberapa keterbatasan.