cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
Factors Associated with Neonatal Asphyxia at Dr. M. Yunus Bengkulu Hospital 2024 Adelia Utami Sebin; Desi Widiyanti; Epti Yorita; Nur Elly; Sri Yanniarti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1023

Abstract

Objective: This study aims to analyze the factors associated with the incidence of neonatal asphyxia in newborns at Dr. M. Yunus Bengkulu Regional General HospitalMethods: This analytical observational study employed a case-control design with a retrospective approach. The sample comprised 100 newborns, consisting of 50 asphyxia cases and 50 non-asphyxia controls. The case group was selected using simple random sampling via computer-generated randomization, while the control group was selected using systematic random sampling. Data were analyzed using the Chi-square test and binary logistic regression.Results: The results showed that there was a relationship between gestational age (p = 0.000), preeclampsia (p = 0.014), and birth weight (p = 0.000) with the incidence of neonatal asphyxia. The type of delivery was not significantly related (p>0.05). The most dominant variable was low birth weight with a value of Exp(B) = 4.653. Conclusion: Gestational age, preeclampsia, and birth weight are significantly associated with neonatal asphyxia, whereas the mode of delivery shows no correlation. Early detection and preventive measures are warranted, particularly for high-risk newborns such as those with low birth weight. AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir di RSUD M. Yunus Bengkulu. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain case control menggunakan pendekatan retrospektif. Sampel berjumlah 100 responden yang terdiri dari 50 kasus asfiksia dan 50 non-asfiksia. Teknik pengambilan sampel kasus menggunakan metode simple random sampling berbantuan komputer (spin method), sedangkan sampel kontrol menggunakan systematic random sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik biner.Hasil: Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan antara usia kehamilan (p =0.000), preeklampsia (p = 0.014), dan berat badan lahir (p = 0.000) dengan kejadian asfiksia neonatorum. Jenis persalinan tidak berhubungan secara bermakna (p>0.05). Variabel yang paling dominan adalah berat badan lahir rendah dengan nilai Exp(B) = 4.653.Kesimpulan: Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian asfiksia neonatorum adalah usia kehamilan, preeklamsia, dan berat badan lahir, sedangkan jenis persalinan tidak berhubungan. Diperlukan peningkatan deteksi dini faktor risiko oleh tenaga kesehatan terutama pada bayi dengan BBLR.Kata Kunci: Asfiksia neonatorum; berat badan lahir; preeklamsia; usia kehamilan
Association Between Maternal Lactate Dehydrogenase Levels and Fetal Outcomes in Preeclampsia with Severe Features Nurul Robiah Aladawiyah; Arissa Reissa Utami; Dalri Muhammad Suhartomo
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1065

Abstract

Objective: To assess the association between maternal serum lactate dehydrogenase (LDH) levels and fetal outcomes in patients with preeclampsia with severe features.Methods: A cross-sectional analytical study was conducted using secondary medical record data of pregnant women with preeclampsia with severe features treated at Prof. Dr. Margono Soekardjo Hospital, Indonesia, between December 2024 and December 2025. Consecutive sampling was used. Maternal serum LDH levels were categorized using a cutoff of 400 U/L. Associations between LDH levels and fetal outcomes were analyzed using Fisher’s exact test.Results: A total of 50 samples were included, with 10% exhibiting elevated LDH levels. Fisher’s exact test showed a significant association between elevated maternal LDH levels and lower 5-minute Apgar scores (p < 0.05; RR = 2.76). No significant associations were found between maternal LDH levels and gestational age at delivery, fetal complications, or birth weight (p > 0.05).Conclusion: Higher maternal LDH levels in preeclampsia with severe features are linked to lower 5-minute Apgar scores, indicating an association with acute perinatal stress rather than chronic fetal issues. AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan menilai asosiasi antara kadar serum lactate dehydrogenase (LDH) maternal dengan luaran janin pada pasien preeklampsia dengan gejala berat.Metode: Penelitian analitik cross-sectional ini menggunakan data sekunder rekam medis ibu hamil dengan preeklamsia dengan gejala berat yang dirawat di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo, Indonesia, pada periode Desember 2024 – Desember 2025. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Kadar LDH serum maternal dikategorikan menggunakan nilai ambang 400 U/L. Hubungan antara kadar LDH dan luaran janin dianalisis menggunakan uji Fisher.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 sampel yang dianalisis, 10% menunjukkan kadar LDH meningkat. Uji Fisher menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara peningkatan kadar LDH maternal dan skor Apgar menit ke-5 yang rendah (p < 0,05; RR = 2,76). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara kadar LDH maternal dengan usia kehamilan saat persalinan, komplikasi janin, maupun berat lahir (p > 0,05).Kesimpulan: Peningkatan kadar LDH maternal pada preeklamsia dengan gejala berat berhubungan dengan skor Apgar menit ke-5 yang lebih rendah, yang mencerminkan terjadinya stres perinatal akut dibandingkan gangguan pertumbuhan janin kronik. 
Septate Uterus: Implications in Malpresentation and Infertility History Sri Wahyu Maryuni; Cantika Anakita
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.897

Abstract

Introduction: A septate uterus is a congenital uterine anomaly linked to increased risks of infertility, recurrent miscarriage, and fetal malpresentation. Although often asymptomatic, it may significantly affect pregnancy outcomes. Early diagnosis and management are vital to reduce complications.Case Report: This case was conducted at Siak Hospital involving a 38-year-old G4P0A3 woman presenting with preterm labor. A partial uterine septum was identified during an emergency cesarean section. The patient had a history of multiple miscarriages. Ultrasound revealed a transverse fetal position with oligohydramnios, prompting cesarean delivery of a 1700-gram neonate. Both maternal recovery and neonatal progress were favorable.Conclusion: This case highlights the importance of individualized care in pregnancies complicated by uterine anomalies. While pre-conception surgical correction may improve outcomes, antenatal diagnosis requires close monitoring. Decisions regarding preterm termination depend on fetal presentation, amniotic fluid, and placental function. Imaging modalities support delivery planning. Although routine screening is not universal, it should be considered in women with recurrent loss or infertility. Multidisciplinary management is essential to optimize maternal and neonatal outcomes. Continued research is needed to establish standardized guidelines for managing pregnancies with septate uterus. AbstrakPendahuluan: Septum uteri adalah kelainan bawaan pada uterus yang berhubungan dengan peningkatan risiko infertilitas, keguguran berulang, dan malpresentasi janin. Meskipun sering tanpa gejala, kondisi ini dapat berdampak signifikan terhadap luaran kehamilan. Deteksi dan penanganan dini penting untuk mencegah komplikasi.Laporan Kasus: Laporan kasus ini dilakukan di RSUD Siak, pada seorang wanita G4P0A3 usia 38 tahun yang datang dengan persalinan prematur. Saat operasi sesar emergensi ditemukan adanya septum uterus parsial. Riwayat kehamilan menunjukkan keguguran berulang. Ultrasonografi menunjukkan posisi janin melintang dan oligohidramnion sehingga dilakukan tindakan sesar dengan bayi perempuan lahir seberat 1700gram. Pemulihan ibu dan bayi berjalan stabil.Kesimpulan: Kasus ini menekankan pentingnya tata laksana individual pada kehamilan dengan kelainan rahim. Koreksi bedah sebelum kehamilan dapat memperbaiki prognosis, namun jika terdiagnosis saat hamil, diperlukan pemantauan ketat. Keputusan terminasi prematur bergantung pada posisi janin, jumlah cairan ketuban, dan fungsi plasenta. Modalitas pencitraan canggih membantu perencanaan persalinan. Skrining rahim tidak wajib untuk semua wanita, namun perlu dipertimbangkan pada kasus infertilitas atau keguguran berulang. Pendekatan multidisiplin diperlukan untuk meningkatkan hasil ibu dan bayi. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menetapkan panduan tata laksana yang baku.
Retraction Notice: Comparison of Chondroitin Sulfate-E Expression in Benign and Malignant Epithelial Type Ovarian Tumors Kemala Isnainiasih Mantilidewi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 8 Nomor 3 November 2025
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v8i3.1144

Abstract

Summary:This article has been formally retracted and the PDF file withdrawn from the journal’s database at the request of the authors.Significant concerns were raised regarding the accuracy and reliability of the dataset, rendering the findings no longer robust or dependable for scientific use. Additionally, it was disclosed that the manuscript was submitted without the explicit consent of all listed co-authors.To preserve the integrity of the medical literature, the Editorial Board has removed the original content. This page remains as a permanent record of the retraction. A replacement notice has been issued in the original volume to inform readers of this retraction.We apologize for any inconvenience caused to our reviewers and readers.Readers are advised not to cite this article.
Comparative Effectiveness of Letrozole versus Metformin for Ovulation Induction in Women with PCOS I Komang Tri Yasa Widnyana; Aditya Prabawa; Putu Ayu Sintya Dewi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1121

Abstract

Objective: This study serves to compare the effectiveness of letrozole and metformin for ovulation induction in women with polycystic ovary syndrome based on ovulation, pregnancy, and live birth outcomes.Methods: This study was conducted as a systematic review and meta-analysis following the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses guidelines. Literature searches were performed in PubMed, Scopus, Web of Science, the Cochrane Library, and ScienceDirect. Randomized controlled trials comparing letrozole and metformin in women with polycystic ovary syndrome were included. Primary outcomes included ovulation rate, clinical pregnancy rate, and live birth rate.Result: Fourteen randomized controlled trials involving 3,314 patients were analyzed. Meta-analysis showed that letrozole significantly improved ovulation rate compared to metformin (odds ratio 1.29; 95% confidence interval 1.09-1.53). Letrozole also demonstrated superior clinical pregnancy outcomes (odds ratio 1.65; 95% confidence interval 1.41-1.93) and higher live birth rates (odds ratio 1.49; 95% confidence interval 1.26-1.75). Metformin primarily improved metabolic parameters but showed limited effectiveness as monotherapy for reproductive outcomes.Discussion: Letrozole acts directly on ovarian follicular development, whereas metformin mainly improves insulin resistance. These differences explain the superior reproductive outcomes observed for letrozole.Conclusion: Letrozole is more effective than metformin for ovulation induction and reproductive outcomes in women with polycystic ovary syndrome and should be considered a first-line therapy.Perbandingan Efektivitas Letrozole versus Metformin untuk Induksi Ovulasi pada Wanita dengan PCOSAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas letrozol dan metformin dalam induksi ovulasi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik berdasarkan luaran ovulasi, kehamilan, dan kelahiran hidup.Metode: Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis yang mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses. Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed, Scopus, Web of Science, Cochrane Library, dan ScienceDirect. Uji klinis teracak yang membandingkan letrozol dan metformin pada pasien sindrom ovarium polikistik dimasukkan dalam analisis. Luaran utama meliputi angka ovulasi, angka kehamilan klinis, dan angka kelahiran hidup.Hasil: Sebanyak 14 uji klinis teracak dengan total 3.314 pasien dianalisis. Meta-analisis menunjukkan bahwa letrozol secara signifikan meningkatkan angka ovulasi dibandingkan metformin (rasio odds 1,29; interval kepercayaan 95% 1,09 - 1,53). Letrozol juga menunjukkan angka kehamilan klinis yang lebih tinggi (rasio odds 1,65; interval kepercayaan 95% 1,41 - 1,93) serta peningkatan angka kelahiran hidup (rasio odds 1,49; interval kepercayaan 95% 1,26 - 1,75). Metformin terutama memperbaiki parameter metabolik hanya saja memiliki efektivitas yang lebih terbatas terhadap luaran reproduksi jika digunakan sebagai monoterapi.Diskusi: Letrozol bekerja langsung pada perkembangan folikel ovarium, sedangkan metformin terutama memperbaiki resistensi insulin. Perbedaan mekanisme ini menjelaskan keunggulan luaran reproduksi pada terapi letrozol.Kesimpulan: Letrozol lebih efektif dibandingkan metformin dalam induksi ovulasi dan luaran reproduksi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik. 
Effect of Exercise, Metformin, and Their Combination on Ki-67 Expression and Endometriotic Implants in a Mouse Model of Endometriosis Hutri Agusti; Inu Mulyantoro
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1109

Abstract

Objective: To determine the effects of exercise, metformin, and their combination on Ki-67 expression and endometriotic implants in a mouse model of endometriosis.Methods: This experimental study used 28 three-month-old BALB/c mice with induced endometriosis, which were randomly and equally divided into four groups (K, P1, P2, and P3). On day 15, group P1 received a swimming protocol (10 minutes/day) for 14 days, group P2 received metformin (4 mg/day) for 14 days, and group P3 received a combination of both treatments, while group K served as the control and received no treatment. Immunohistochemical analysis of Ki-67 expression was performed on peritoneal tissues from the abdominal and pelvic cavities and measured using the Remmele Scale Index. Endometriotic implant areas were analyzed using a computer-based tracing method. Statistical analysis was performed using SPSS version 32, with significance set at p < 0.05.Results: There were significant differences in Ki-67 expression (p = 0.002) and endometriotic implant area (p < 0.001) among the groups. Ki-67 expression was significantly lower in the P1 group compared to the other groups, while the implant area was significantly lower in the P2 group compared to the other groups.Conclusion: Exercise and metformin may be effective potential treatments for endometriosis by reducing Ki-67 expression and endometriotic implant size.Pengaruh Olahraga, Metformin dan Kombinasi terhadap Ekspresi Ki-67 dan Implantasi Endometriosis pada Mencit Model EndometriosisAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh olahraga, metformin, dan kombinasinya terhadap ekspresi Ki-67 dan implan endometriotik pada model mencit endometriosis.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental dengan menggunakan 28 ekor mencit BALB/c berumur tiga bulan dengan endometriosis yang diinduksi, yang dibagi secara acak dan merata menjadi empat kelompok (K, P1, P2, dan P3). Pada hari ke-15, kelompok P1 diberikan protokol renang (10 menit/hari) selama 14 hari, kelompok P2 diberikan metformin (4 mg/hari) selama 14 hari, dan kelompok P3 diberikan kombinasi kedua perlakuan, sedangkan kelompok K sebagai kontrol tidak diberikan perlakuan. Analisis imunohistokimia ekspresi Ki-67 dilakukan pada jaringan peritoneum rongga abdomen dan pelvis, serta diukur menggunakan Indeks Skala Remmele. Luas implan endometriotik dianalisis menggunakan metode penelusuran berbasis komputer. Analisis statistik dilakukan menggunakan SPSS versi 32 dengan tingkat signifikansi p < 0,05.Hasil: Hasil penelitin ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada ekspresi Ki-67 (p = 0,002) dan luas implan endometriotik (p < 0,001) antar kelompok. Ekspresi Ki-67 secara signifikan lebih rendah pada kelompok P1 dibandingkan kelompok lainnya, sedangkan luas implan secara signifikan lebih rendah pada kelompok P2 dibandingkan kelompok lainnya.Kesimpulan: Olahraga dan metformin berpotensi menjadi terapi yang efektif untuk endometriosis dengan menurunkan ekspresi Ki-67 dan ukuran implan endometriotik. 
Pain Management and Shared Decision-Making in Office-Based Gynecologic Procedures: Evidence-Based Strategies and Clinical Perspectives Aymane Ouriaghli; Ayadine Abdeladim; Alilou Ismail; Moukit Mounir; Rahmoune Mohammed; Moulay El Mehdi El Hassani; Kouach Jaouad; Baba Habib Moulay Abdellah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1062

Abstract

Introduction: Pain during office-based gynecologic procedures is a frequent source of patient distress and may negatively affect satisfaction, adherence to care, and willingness to undergo future procedures. Optimizing pain management and integrating shared decision-making are therefore essential components of high-quality gynecologic practice.Evidence Acquisition: A narrative, non-systematic review of the literature was conducted using PubMed/MEDLINE, Scopus, Web of Science, and the Directory of Open Access Journals (DOAJ). Articles published between 2005 and 2025 were identified using keywords related to gynecologic procedures, pain management, analgesia, and shared decision-making. Randomized controlled trials, meta-analyses, observational studies, guidelines, and selected French-language publications were included. Evidence was qualitatively assessed based on methodological quality and clinical relevance.Results: Pain is commonly reported during office gynecologic procedures in the absence of targeted interventions. Systemic analgesics alone appear to provide limited intra-procedural pain relief, whereas local anesthetic techniques and procedural modifications are associated with reduced pain. Vaginoscopic hysteroscopy, small-diameter instruments, and saline distension media have been associated with improved tolerance. Shared decision-making has been associated with lower perceived pain, reduced anxiety, and higher patient satisfaction across procedures.Conclusions: Effective pain management in office gynecology requires a multimodal, patient-centered approach. Combining evidence-based analgesic strategies with procedural optimization and shared decision-making may improve patient experience and procedural acceptance.Keywords: Office gynecologic procedures; Pain management; Intrauterine device; Endometrial biopsy; Hysteroscopy; Shared decision-making
Association Between Antepartum Hemorrhage and Preterm Delivery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in 2025 Azis Muktasim; Windi Nurdiawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1191

Abstract

Objective: This study aimed to determine the association between antepartum hemorrhage and the risk of preterm birth at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in Bandung in 2025.Methods: This analytical observational study used a retrospective cross-sectional design and secondary data from patients’ medical records. The study population comprised all pregnant women who received obstetric care at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung. A total sampling technique was used, including all subjects who met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using logistic regression in SPSS version 27.0.Result:  A total of 102 medical records were included in the analysis. Multivariate logistic regression revealed that women with antepartum hemorrhage had an eightfold higher risk of preterm birth compared with those without antepartum hemorrhage.Conclusion: Antepartum hemorrhage was significantly associated with an increased risk of preterm birth at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in Bandung in 2025 (p < 0.05).Hubungan Perdarahan Antepartum dan Risiko Persalinan Preterm di RSUP Dr. Hasan Sadikin Tahun 2025AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perdarahan antepartum dan risiko persalinan preterm di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2025.Metode: Penelitian observasional analitik ini menggunakan desain potong lintang retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien. Populasi penelitian mencakup seluruh ibu hamil yang mendapatkan pelayanan obstetri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Teknik total sampling digunakan dengan memasukkan seluruh subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan menggunakan regresi logistik dengan perangkat lunak SPSS versi 27.0.Hasil: Sebanyak 102 rekam medis dianalisis dalam penelitian ini. Analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa ibu hamil dengan perdarahan antepartum memiliki risiko delapan kali lebih tinggi mengalami persalinan preterm dibandingkan dengan ibu hamil tanpa perdarahan antepartum.Kesimpulan: Perdarahan antepartum berhubungan secara signifikan dengan peningkatan risiko persalinan preterm di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2025 (p < 0,05).
Pregnancy Complicated by Preeclampsia and Malaria in a 12-Year-Old Resulting in Neonatal Death: A Case Report Vincent Lamadong; David Erwin Tantry
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1079

Abstract

Introduction: Very early adolescent pregnancy is associated with significantly increased maternal and neonatal risks, particularly in resource-limited and malaria-endemic settings. The coexistence of hypertensive disorders and infectious diseases may further worsen outcomes, especially when antenatal care is absent.Case Report: A 12-year-old primigravida from a malaria-endemic area presented with fever and back pain and had no prior antenatal care. Examination at 29 – 30 weeks’ gestation revealed hypertension and severe oligohydramnios. Laboratory testing showed anemia, thrombocytopenia, and proteinuria, and confirmed Plasmodium falciparum and genitourinary infections. Management included magnesium sulfate, antimalarial therapy, and antibiotics. Despite treatment, preterm labor ensued, resulting in vaginal delivery of a 1,200 g neonate who required resuscitation and intensive care. The neonate developed prematurity-related complications and died on the sixth day of life. The mother recovered without major postpartum complications.Conclusion: This case highlights the cumulative impact of very early maternal age, hypertensive disease, endemic infection, and a lack of antenatal care on adverse pregnancy outcomes. Reports of such complex presentations among very early adolescents remain limited. Strengthening early detection and integrated care is essential to improving outcomes in vulnerable populations.Kehamilan pada Usia 12 Tahun dengan Komplikasi Preeklamsia dan Malaria yang Mengakibatkan Kematian Neonatal: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Kehamilan pada usia remaja awal memiliki kaitan erat dengan peningkatan risiko maternal dan neonatal secara signifikan, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas dan endemis malaria. Koeksistensi antara gangguan hipertensi dan penyakit infeksi dapat semakin memperburuk luaran klinis, khususnya jika tidak terdapat pemeriksaan antenatal (ANC).Laporan Kasus: Seorang remaja primigravida berusia 12 tahun berasal dari daerah endemis malaria datang dengan keluhan demam dan nyeri punggung tanpa riwayat pemeriksaan antenatal sebelumnya. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya hipertensi dan oligohidramnion berat pada usia kehamilan 29 – 30 minggu. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia, trombositopenia, proteinuria, serta terkonfirmasi adanya infeksi Plasmodium falciparum dan infeksi saluran kemih. Pasien ditatalaksana dengan pemberian magnesium sulfat, terapi antimalaria, dan antibiotik. Meskipun telah diberikan penanganan, persalinan prematur tetap terjadi, yang berujung pada persalinan per vaginam dengan berat lahir neonatus 1.200 gram. Neonatus tersebut memerlukan resusitasi dan perawatan intensif. Meskipun telah diberikan penanganan, persalinan prematur tetap tidak dapat dicegah. Pasien kemudian melahirkan per vaginam dengan berat lahir neonatus 1.200 gram, dan neonatus memerlukan resusitasi serta perawatan intensif. Namun mengalami komplikasi terkait prematuritas dan meninggal pada hari keenam kehidupannya. Ibu pulih tanpa komplikasi pascapersalinan yang bermakna.Kesimpulan: Kasus ini menyoroti dampak dari usia maternal yang ekstrem, penyakit hipertensi, infeksi endemis, dan tidak dilakukannya pemeriksaan antenatal terhadap luaran kehamilan yang buruk. Laporan mengenai gambaran kasus yang kompleks pada usia remaja awal masih sangat terbatas. Peningkatan upaya deteksi dini dan perawatan antenatal terpadu sangat penting untuk memperbaiki luaran klinis pada kelompok populasi yang rentan.
Unrecognized Congenital Heart Disease in Pregnancy Presenting as Eisenmenger Syndrome with Severe Preeclampsia and Intrauterine Fetal Death: A Case Report Marsha Marvella; Muhammad Alamsyah Aziz; Adhi Pribadi; Charlotte Johanna Cool
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1123

Abstract

Introduction: Undiagnosed congenital heart disease (CHD) during pregnancy can lead to catastrophic outcomes by exacerbating cardiovascular stress. This case describes a fatal presentation of Eisenmenger syndrome in a pregnant patient, initially misdiagnosed as bronchial asthma, resulting from a combination of a large secundum Atrial Septal Defect (ASD) and a Patent Ductus Arteriosus (PDA).Case Presentation: A 27-year-old primigravida at 26 – 27 weeks’ gestation presented with severe preeclampsia, Eisenmenger syndrome, and severe pulmonary arterial hypertension (mWHO Class IV), complicated by intrauterine fetal death (IUFD). The patient reported progressive dyspnea and cyanosis, previously misattributed to asthma. Transthoracic echocardiography revealed a large secundum ASD and PDA, with significant right-heart enlargement and severe pulmonary hypertension. Despite multidisciplinary intensive management, including supplemental oxygen, diuretics, sildenafil, nitroglycerin, inhaled iloprost, and inotropic support, the patient developed acute decompensated right heart failure postpartum and succumbed to cardiogenic shock.Conclusion: Unexplained dyspnea and cyanosis during pregnancy necessitate immediate and comprehensive cardiovascular evaluation. Eisenmenger syndrome is associated with exceptionally high maternal mortality. Early recognition, rigorous preconception counseling, and specialized multidisciplinary care are imperative to mitigate the risk of fatal outcomes in this high-risk population.Penyakit Jantung Bawaan yang Tidak Terdiagnosis pada Kehamilan yang Bermanifestasi sebagai Sindrom Eisenmenger dengan Preeklamsia Berat dan Kematian Janin Intrauterin: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Penyakit jantung bawaan yang tidak terdiagnosis pada kehamilan dapat menyebabkan komplikasi fatal akibat perubahan fisiologis kardiovaskular. Kasus ini menyoroti presentasi fatal sindrom Eisenmenger pada kehamilan yang awalnya salah didiagnosis sebagai asma bronkialPresentasi Kasus: G1P0A0 usia 27 tahun gravida 26 – 27 minggu datang dengan preeklamsia berat, sindrom Eisenmenger, hipertensi pulmonal berat (mWHO IV), dan intrauterine fetal death. Pasien mengalami dispnea progresif dan sianosis selama kehamilan yang awalnya salah didiagnosis sebagai asma bronkial. Ekokardiografi menunjukkan ASD besar dan PDA disertai hipertensi pulmonal berat. Meskipun telah dilakukan penatalaksanaan intensif baik farmakologis maupun suportif, pasien mengalami gagal jantung kanan akut dekompensasi pascapersalinan dan meninggal akibat syok kardiogenik.Kesimpulan: Dispnea dan sianosis persisten selama kehamilan harus menjadi indikasi dilakukan evaluasi kardiovaskular menyeluruh segera. Sindrom Eisenmenger memiliki angka mortalitas maternal yang sangat tinggi, sehingga menekankan pentingnya diagnosis dini, konseling prakonsepsi, serta tata laksana multidisiplin khusus pada kehamilan risiko tinggi.