cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 393 Documents
Factors Associated with Neonatal Asphyxia at Dr. M. Yunus Bengkulu Hospital 2024 Sebin, Adelia Utami; Widiyanti, Desi; Yorita, Epti; Elly, Nur; Yanniarti, Sri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1023

Abstract

Objective: This study aims to analyze the factors associated with the incidence of neonatal asphyxia in newborns at Dr. M. Yunus Bengkulu Regional General HospitalMethods: This analytical observational study employed a case-control design with a retrospective approach. The sample comprised 100 newborns, consisting of 50 asphyxia cases and 50 non-asphyxia controls. The case group was selected using simple random sampling via computer-generated randomization, while the control group was selected using systematic random sampling. Data were analyzed using the Chi-square test and binary logistic regression.Results: The results showed that there was a relationship between gestational age (p = 0.000), preeclampsia (p = 0.014), and birth weight (p = 0.000) with the incidence of neonatal asphyxia. The type of delivery was not significantly related (p>0.05). The most dominant variable was low birth weight with a value of Exp(B) = 4.653. Conclusion: Gestational age, preeclampsia, and birth weight are significantly associated with neonatal asphyxia, whereas the mode of delivery shows no correlation. Early detection and preventive measures are warranted, particularly for high-risk newborns such as those with low birth weight. AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir di RSUD M. Yunus Bengkulu. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain case control menggunakan pendekatan retrospektif. Sampel berjumlah 100 responden yang terdiri dari 50 kasus asfiksia dan 50 non-asfiksia. Teknik pengambilan sampel kasus menggunakan metode simple random sampling berbantuan komputer (spin method), sedangkan sampel kontrol menggunakan systematic random sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik biner.Hasil: Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan antara usia kehamilan (p =0.000), preeklampsia (p = 0.014), dan berat badan lahir (p = 0.000) dengan kejadian asfiksia neonatorum. Jenis persalinan tidak berhubungan secara bermakna (p>0.05). Variabel yang paling dominan adalah berat badan lahir rendah dengan nilai Exp(B) = 4.653.Kesimpulan: Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian asfiksia neonatorum adalah usia kehamilan, preeklamsia, dan berat badan lahir, sedangkan jenis persalinan tidak berhubungan. Diperlukan peningkatan deteksi dini faktor risiko oleh tenaga kesehatan terutama pada bayi dengan BBLR.Kata Kunci: Asfiksia neonatorum; berat badan lahir; preeklamsia; usia kehamilan
Association Between Maternal Lactate Dehydrogenase Levels and Fetal Outcomes in Preeclampsia with Severe Features Aladawiyah, Nurul Robiah; Utami, Arissa Reissa; Suhartomo, Dalri Muhammad
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1065

Abstract

Objective: To assess the association between maternal serum lactate dehydrogenase (LDH) levels and fetal outcomes in patients with preeclampsia with severe features.Methods: A cross-sectional analytical study was conducted using secondary medical record data of pregnant women with preeclampsia with severe features treated at Prof. Dr. Margono Soekardjo Hospital, Indonesia, between December 2024 and December 2025. Consecutive sampling was used. Maternal serum LDH levels were categorized using a cutoff of 400 U/L. Associations between LDH levels and fetal outcomes were analyzed using Fisher’s exact test.Results: A total of 50 samples were included, with 10% exhibiting elevated LDH levels. Fisher’s exact test showed a significant association between elevated maternal LDH levels and lower 5-minute Apgar scores (p < 0.05; RR = 2.76). No significant associations were found between maternal LDH levels and gestational age at delivery, fetal complications, or birth weight (p > 0.05).Conclusion: Higher maternal LDH levels in preeclampsia with severe features are linked to lower 5-minute Apgar scores, indicating an association with acute perinatal stress rather than chronic fetal issues. AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan menilai asosiasi antara kadar serum lactate dehydrogenase (LDH) maternal dengan luaran janin pada pasien preeklampsia dengan gejala berat.Metode: Penelitian analitik cross-sectional ini menggunakan data sekunder rekam medis ibu hamil dengan preeklamsia dengan gejala berat yang dirawat di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo, Indonesia, pada periode Desember 2024 – Desember 2025. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Kadar LDH serum maternal dikategorikan menggunakan nilai ambang 400 U/L. Hubungan antara kadar LDH dan luaran janin dianalisis menggunakan uji Fisher.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 50 sampel yang dianalisis, 10% menunjukkan kadar LDH meningkat. Uji Fisher menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara peningkatan kadar LDH maternal dan skor Apgar menit ke-5 yang rendah (p < 0,05; RR = 2,76). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara kadar LDH maternal dengan usia kehamilan saat persalinan, komplikasi janin, maupun berat lahir (p > 0,05).Kesimpulan: Peningkatan kadar LDH maternal pada preeklamsia dengan gejala berat berhubungan dengan skor Apgar menit ke-5 yang lebih rendah, yang mencerminkan terjadinya stres perinatal akut dibandingkan gangguan pertumbuhan janin kronik. 
Septate Uterus: Implications in Malpresentation and Infertility History Maryuni, Sri Wahyu; Anakita, Cantika
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.897

Abstract

Introduction: A septate uterus is a congenital uterine anomaly linked to increased risks of infertility, recurrent miscarriage, and fetal malpresentation. Although often asymptomatic, it may significantly affect pregnancy outcomes. Early diagnosis and management are vital to reduce complications.Case Report: This case was conducted at Siak Hospital involving a 38-year-old G4P0A3 woman presenting with preterm labor. A partial uterine septum was identified during an emergency cesarean section. The patient had a history of multiple miscarriages. Ultrasound revealed a transverse fetal position with oligohydramnios, prompting cesarean delivery of a 1700-gram neonate. Both maternal recovery and neonatal progress were favorable.Conclusion: This case highlights the importance of individualized care in pregnancies complicated by uterine anomalies. While pre-conception surgical correction may improve outcomes, antenatal diagnosis requires close monitoring. Decisions regarding preterm termination depend on fetal presentation, amniotic fluid, and placental function. Imaging modalities support delivery planning. Although routine screening is not universal, it should be considered in women with recurrent loss or infertility. Multidisciplinary management is essential to optimize maternal and neonatal outcomes. Continued research is needed to establish standardized guidelines for managing pregnancies with septate uterus. AbstrakPendahuluan: Septum uteri adalah kelainan bawaan pada uterus yang berhubungan dengan peningkatan risiko infertilitas, keguguran berulang, dan malpresentasi janin. Meskipun sering tanpa gejala, kondisi ini dapat berdampak signifikan terhadap luaran kehamilan. Deteksi dan penanganan dini penting untuk mencegah komplikasi.Laporan Kasus: Laporan kasus ini dilakukan di RSUD Siak, pada seorang wanita G4P0A3 usia 38 tahun yang datang dengan persalinan prematur. Saat operasi sesar emergensi ditemukan adanya septum uterus parsial. Riwayat kehamilan menunjukkan keguguran berulang. Ultrasonografi menunjukkan posisi janin melintang dan oligohidramnion sehingga dilakukan tindakan sesar dengan bayi perempuan lahir seberat 1700gram. Pemulihan ibu dan bayi berjalan stabil.Kesimpulan: Kasus ini menekankan pentingnya tata laksana individual pada kehamilan dengan kelainan rahim. Koreksi bedah sebelum kehamilan dapat memperbaiki prognosis, namun jika terdiagnosis saat hamil, diperlukan pemantauan ketat. Keputusan terminasi prematur bergantung pada posisi janin, jumlah cairan ketuban, dan fungsi plasenta. Modalitas pencitraan canggih membantu perencanaan persalinan. Skrining rahim tidak wajib untuk semua wanita, namun perlu dipertimbangkan pada kasus infertilitas atau keguguran berulang. Pendekatan multidisiplin diperlukan untuk meningkatkan hasil ibu dan bayi. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menetapkan panduan tata laksana yang baku.