cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
Severe Ovarian Hyperstimulation Syndrome Complicated by Suspected Sepsis: A Case Report Prastika Candra Triastuti; Imam Nafi Yana Saputra; Anthony Anthony; Kevin Zufaries Fary; Arifah Pelangi Nusa; Muhammad Alamsyah Aziz; Edy Priyanto
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.895

Abstract

Introduction: Ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS) is a serious complication of ovulation induction for infertility treatment. This case report discusses severe OHSS complicated by suspected sepsis. This report aims to remind healthcare professionals about the best management options for severe OHSS cases. Case Report: Case report of severe OHSS with a normal 4-week 1-day gestation in a 26-year-old primigravida who presented in our emergency room as a result of 6 days of abdominal pain and an enlarged abdomen progressively aggravated for 5 days, with a SOFA score of 3. The patient’s vital signs indicated shock. She was admitted to the ICU for 4 days. She has significant risk factors: a history of IVF and the development of polycystic ovary syndrome (PCOS). On ultrasound imaging, we found ascites and multiple follicles with no gestational sac. A diagnosis of severe ovarian hyperstimulation was made.Conclusion: Severe and critical forms of OHSS are potentially lethal disorders. Although OHSS is potentially life-threatening, its clinical detection is often delayed. Proactive strategies should be encouraged and enhanced to avoid severe complications. Our case report reminds to understand the signs, symptoms, and management of severe OHSS.Penatalaksanaan Sindrom Hiperstimulasi Ovarium Berat dengan Syok Sepsis sebagai Komplikasi: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) merupakan komplikasi serius dari induksi ovulasi dalam pengobatan infertilitas. Laporan kasus ini membahas HSS berat yang diperberat dengan dugaan sepsis. Tujuan laporan ini untuk mengingatkan tenaga medis tentang pilihan penatalaksanaan terbaik pada kasus OHSS berat.Laporan Kasus : Penelitian ini melaporkan sebuah kasus OHSS berat dengan kehamilan normal usia 4 minggu 1 hari pada seorang primigravida berusia 26 tahun yang datang ke unit gawat darurat dengan keluhan nyeri perut selama 6 hari, pembesaran perut yang semakin memburuk selama 5 hari, dan skor SOFA 3. Tanda vital pasien menunjukkan syok. Pasien dirawat di ICU selama 4 hari. Pasien memiliki faktor risiko yang signifikan, yaitu riwayat program bayi tabung (IVF) dan menderita sindrom ovarium polikistik (PCOS). Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan asites dan folikel-folikel multipel tanpa kantung gestasi. Diagnosis sindrom hiperstimulasi ovarium berat pun ditegakkan.Kesimpulan: OHSS berat dan kritis merupakan kondisi yang berpotensi mengancam jiwa, namun deteksi klinisnya sering terlambat. Strategi proaktif harus didorong dan ditingkatkan untuk menghindari komplikasi yang berat. Laporan kasus kami mengingatkan untuk memahami tanda, gejala, dan penatalaksanaan OHSS berat. 
The Accuracy of Systemic Inflammatory Indices as Preeclampsia Markers: A Retrospective Study Harvey Alvin Hartono; Pramudyo Dwiputro
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1072

Abstract

Objective: This study aimed to assess the association between systemic inflammatory indices, including the systemic immune inflammation index (SII), neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR), monocyte-to-lymphocyte ratio (MLR), systemic inflammation response index (SIRI), and pan immune inflammation value (PIV), and the development of preeclampsia.Methods: A retrospective study was performed at a tertiary healthcare facility from January to June 2025. This study employed a cross sectional design involving 100 samples, divided into two groups: the preeclampsia group (n=50) and the control group (n=50). Hematological parameters and inflammatory indices were compared, with a p-value < 0.05 indicating statistical significance.Results: Normality tests, receiver operating characteristic (ROC) curve analyses, and correlation tests were conducted to evaluate the systemic immune index (SII), neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR), monocyte-to-lymphocyte ratio (MLR), systemic inflammation response index (SIRI), and pan immune inflammation value (PIV). Both the correlation test and ROC curve analyses showed no significant results for any variable (p > 0.05), with sensitivity and specificity ranging from 50 – 56% and 36 – 62%, respectively.Conclusion: The preeclampsia group tended to have higher inflammatory parameters, but the differences were not statistically significant. Future research could include additional inflammatory markers, such as CRP and fibrinogen, and consider confounding factors for more accurate results.Akurasi Indeks Inflamasi Sistemik Sebagai Penanda Preeklamsia: Sebuah Studi RetrospektifAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara indeks inflamasi sistemik yaitu systemic immune-inflammation index (SII), neutrophil to lymphocyte ratio (NLR), monocyte to lymphocyte ratio (MLR), systemic inflammation response index (SIRI), dan pan immune inflammation value (PIV) dengan kejadian preeklampsia.Metode: Studi restropektif dilakukan di fasilitas kesehatan tersier periode Januari – Juni 2025. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional. Studi ini meliputi 100 sampel, dibagi menjadi 2 kelompok: grup preeklamsia (n=50) dan kontrol (n=50). Parameter hematologi dan indeks inflamasi dibandingkan untuk dianalisis dengan nilai p< 0,05 dianggap signifikan secara statistik. Hasil: Uji normalitas, receiver operating characteristics (ROC) curve, dan uji korelasi dilakukan untuk menganalisis systemic immune index (SII), neutrophil to lymphocyte ratio (NLR), monocyte to lymphocyte ratio (MLR), systemic inflammation response index (SIRI), dan pan-immune inflammation value (PIV). Hasil uji korelasi dan ROC curve tidak menunjukkan hasil bermakna pada seluruh variabel (p> 0,05) dengan rentang sensitivitas dan spesifisitas masing-masing sebesar 50 – 56% dan 36 – 62%.Kesimpulan: Kelompok preeklamsia cenderung mempunyai parameter inflamasi lebih tinggi, tetapi tidak berbeda signifikan. Studi berikutnya dapat mengggunakan parameter inflamasi lebih banyak seperti CRP dan fibrinogen, dan menganalisis faktor perancu supaya hasil studi lebih akurat. 
A Comparison between Diet, Exercise, and Combined Intervention in Women with Polycystic Ovarian Syndrome (A Systematic Review for The Anthropometric, Metabolic, Psychological, and Hormonal Parameters) Rizky Ika Nahdiah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1102

Abstract

Introduction: Lifestyle changes are first-line treatments for Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), but the comparative efficacy of various modalities remains unclear.Objective: This systematic review compares the effects of diet (D), exercise (E), and combined interventions (ED) on PCOS manifestations.Methods: A systematic search of PubMed, ScienceDirect, and Springer (2021–2025) identified 9 RCTs involving 418 women. Outcomes included anthropometric, metabolic, psychological, and hormonal parameters.Results: Dietary intervention (D) produced the greatest improvements in insulin sensitivity (HOMA-IR, fasting glucose), lipid profiles (TC, LDL, TG), and hormonal balance (SHBG, LH). Combined therapy (ED) was most effective for reducing BMI and increasing HDL. Conversely, exercise alone (E) was most effective at reducing depression and anxiety scores. No significant changes were observed in WHR or FSH. Discussion: Diet serves as a metabolic anchor by addressing hyperinsulinemia, while exercise catalyzes mental health benefits. The synergy of ED optimizes body composition and cardiovascular health.Conclusion: PCOS management should be personalized, prioritizing diet for metabolic control and exercise for psychological well-being. A combined approach offers the most comprehensive benefits for body composition and long-term health.Perbandingan antara Diet, Olahraga, dan Intervensi Kombinasi pada Wanita dengan Sindrom Ovarium Polikistik (Sebuah Tinjauan Sistematis terhadap Parameter Antropometri, Metabolik, Psikologis, dan Hormonal)AbstrakPendahuluan: Perubahan gaya hidup merupakan lini pertama pengobatan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), namun efektivitas perbandingan berbagai modalitas masih belum jelas.Tujuan: Tinjauan sistematis ini membandingkan dampak diet (D), olahraga (E), dan intervensi kombinasi (ED) terhadap manifestasi PCOS.Metode: Tinjauan sistematis pada PubMed, ScienceDirect, dan Springer (2021 – 2025) mengidentifikasi 9 studi RCT yang melibatkan 418 wanita. Parameter yang diukur meliputi antropometri, metabolik, psikologis, dan hormonal.Hasil: Intervensi diet (D) memberikan perbaikan terbesar pada sensitivitas insulin (HOMA-IR, glukosa puasa), profil lipid (TC, LDL, TG), dan keseimbangan hormonal (SHBG, LH). Terapi kombinasi (ED) paling efektif untuk penurunan BMI dan peningkatan HDL. Sebaliknya, olahraga mandiri (E) menunjukkan efikasi tertinggi dalam mengurangi skor depresi dan kecemasan. Tidak ditemukan perubahan signifikan pada WHR atau FSH pada semua kelompok.Diskusi: Diet berperan sebagai jangkar metabolik dalam mengatasi hiperinsulinemia, sementara olahraga berfungsi sebagai katalis kesehatan mental. Sinergi ED mengoptimalkan komposisi tubuh dan kesehatan kardiovaskular.Kesimpulan: Penatalaksanaan PCOS harus dipersonalisasi; memprioritaskan diet untuk kontrol metabolik dan olahraga untuk kesejahteraan psikologis. Pendekatan kombinasi menawarkan manfaat paling komprehensif bagi komposisi tubuh dan kesehatan jangka panjang.
Characteristics of Ovarian Cancer Patients From 2017 – 2023 Hacantya Pradipta; Vegy Supriadi; Gatot Nyarumenteng Adhipurnawan Winarno
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1120

Abstract

Objectives: Ovarian cancer is a malignancy originating in the ovaries and is the most lethal gynecological cancer. It is among the ten most common cancers affecting women in Indonesia. This study aimed to describe the characteristics of ovarian cancer patients treated at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, during 2017 – 2023.Methods: This retrospective descriptive study was conducted using medical records of ovarian cancer patients treated at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from 2017 – 2023. Data collected included age, parity, body mass index (BMI), clinical stage, histopathological findings, and treatment performed.Results: A total of 475 patients were identified. The most common characteristics were age 40 – 60 years (59.58%), nulliparity (53.47%), high BMI (51.37%), and clinical stage IIIC (22.74%). The predominant histopathological type was epithelial (78.74%), and the most frequently performed treatment was optimal debulking (33.05%). Most patients were diagnosed at advanced stages, consistent with the nonspecific presentation of ovarian cancer.Conclusion: Ovarian cancer patients were predominantly middle-aged, nulliparous, overweight, diagnosed at advanced stages, and had epithelial histopathology. The high proportion of advanced-stage diagnoses underscores the importance of increasing awareness, promoting early detection, and optimizing healthcare services to improve prognosis.Karakteristik Pasien Kanker Ovarium Periode 2017 – 2023Abstrak Tujuan: Kanker ovarium merupakan keganasan yang berasal dari ovarium dan merupakan kanker ginekologi paling mematikan. Kanker ini termasuk dalam sepuluh jenis kanker tersering pada perempuan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik pasien kanker ovarium yang dirawat di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode 2017 – 2023.Metode: Penelitian deskriptif retrospektif ini dilakukan menggunakan data rekam medis pasien kanker ovarium yang dirawat di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode 2017 – 2023. Data yang dikumpulkan meliputi usia, paritas, indeks massa tubuh (IMT), stadium klinis, hasil histopatologi, serta tindakan yang dilakukan.Hasil: Sebanyak 475 pasien diidentifikasi selama periode penelitian. Karakteristik yang paling sering ditemukan adalah usia 40 – 60 tahun (59,58%), nuliparitas (53,47%), IMT tinggi (51,37%), dan stadium klinis IIIC (22,74%). Tipe histopatologi yang paling dominan adalah tipe epitel (78,74%), dan tindakan yang paling sering dilakukan adalah optimal debulking (33,05%). Sebagian besar pasien terdiagnosis pada stadium lanjut, sesuai dengan gejala kanker ovarium yang tidak spesifik.Kesimpulan: Pasien kanker ovarium didominasi oleh perempuan usia paruh baya, nulipara, dengan kelebihan berat badan, terdiagnosis pada stadium lanjut, dan memiliki histopatologi tipe epitel. Tingginya proporsi diagnosis pada stadium lanjut menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran, deteksi dini, dan optimalisasi layanan kesehatan untuk memperbaiki prognosis pasien kanker ovarium. 
Primary Umbilical Endometriosis Presenting as Cyclic Umbilical Bleeding: A Case Report with Preoperative Dienogest Therapy Anna Theresia Regina Ritonga; Anita Rachmawati; Dian Tjahyadi; Ruswana Anwar
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1084

Abstract

Introduction: Endometriosis is a chronic inflammatory gynecologic disease characterized by the presence of endometrial-like tissue outside of the uterus, most commonly on pelvic organs, affecting approximately 10% of women and girls of reproductive age worldwide. Umbilical endometriosis, also known as Villar’s nodule, is a rare form of endometriosis characterized by the presence of endometrial tissue in the umbilicus, with an incidence approximately 0.5% to 1% of all endometriosis cases worldwide.Case Report: A 36-year-old woman, P2A0, presented with a slowly enlarging umbilical nodule for 8 months, accompanied by pain and cyclic menstrual bleeding, with no history of abdominal surgery. Physical examination revealed a blackish-brown umbilical nodule measuring 2.5×3×1cm. A previous biopsy confirmed external endometriosis. Administration of dienogest at a dose of 2 mg/day for three months resulted in a favorable therapeutic response, as evidenced by clinical improvement and a reduction in lesion size to 1.5×1.5cm. The patient subsequently underwent surgical excision, and histopathological examination confirmed umbilical endometriosis. Dienogest therapy was continued for six months postoperatively, with no evidence of recurrence during follow-up.Conclusion: Primary umbilical endometriosis is a rare type of endometriosis and dienogest can be used as pretreatment before surgery.Endometriosis Umbilikalis Primer dengan Manifestasi Perdarahan Siklik dari Umbilikus: Laporan Kasus dengan Terapi Dienogest PreoperatifAbstrakPendahuluan: Endometriosis adalah penyakit inflamasi ginekologis kronis yang ditandai dengan jaringan mirip endometrium di luar rahim, paling sering pada organ panggul yang memengaruhi sekira10% wanita dan anak perempuan usia reproduksi di seluruh dunia. Endometriosis umbilikalis juga dikenal sebagai nodul Villar, adalah bentuk endometriosis langka yang ditandai dengan adanya jaringan endometrium di umbilikus, dengan insiden 0,5% hingga 1% dari semua kasus endometriosis di seluruh dunia.Laporan kasus: Seorang wanita berusia 36 tahun, P2A0, datang dengan nodul umbilikalis yang membesar perlahan selama 8 bulan, disertai nyeri dan perdarahan menstruasi siklik, tanpa riwayat operasi perut. Pemeriksaan fisik menunjukkan nodul umbilikalis berwarna coklat kehitaman berukuran 2,5×3×1cm. Biopsi sebelumnya mengonfirmasi endometriosis eksternal. Pemberian dienogest 2mg/hari selama tiga bulan menghasilkan respons terapi yang baik, yang ditunjukkan oleh perbaikan klinis dan penyusutan ukuran lesi menjadi 1,5×1,5 cm. Setelah itu, pasien menjalani eksisi bedah, dengan hasil histopatologi yang mengonfirmasi endometriosis umbilikalis. Terapi dienogest dilanjutkan selama enam bulan pascaoperasi, dan pada evaluasi lanjutan tidak ditemukan tanda-tanda kekambuhan.Kesimpulan: Endometriosis umbilikal primer adalah jenis endometriosis yang langka dan dienogest dapat digunakan sebagai pengobatan pendahuluan sebelum pembedahan.
Emergency Salpingo-Oophorectomy for Torsion of a Giant Mature Cystic Teratoma During the Second Trimester of Pregnancy: A Case Report Muhammad Dezarino; Erika Kusumawardani; Fadhilah Zulfa; Doni Doni
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1088

Abstract

Introduction: Ovarian torsion during pregnancy is a rare but serious condition that requires prompt diagnosis and intervention to prevent maternal and fetal complications. Large benign ovarian tumors, particularly mature cystic teratomas, are the most common underlying cause. This case report highlights the management of a giant torsed ovarian dermoid cyst detected in a pregnant woman during the second trimester.Case Illustration: A 16-year-old woman, G1P0A0, presented at 17–18 weeks of gestation with severe abdominal pain for one day. Physical examination revealed a mobile cystic adnexal mass. Ultrasonography showed a single live intrauterine fetus corresponding to gestational age and a unilocular left adnexal cyst measuring 14.5 × 12.7 × 11.5 cm with a positive whirlpool sign, indicating ovarian torsion. An emergency laparotomy with left salpingo-oophorectomy was performed. Histopathological examination confirmed a mature cystic teratoma with extensive necrosis and hemorrhage consistent with torsion, without evidence of malignancy. Ascitic and cyst fluid cytology showed benign lesions. The pregnancy was preserved, and postoperative fetal condition remained stable.Conclusion: This case demonstrates that prompt surgical intervention for ovarian torsion during the second trimester of pregnancy can be performed safely, allowing preservation of pregnancy and favorable maternal and fetal outcomes.Manajemen Torsio Ovarium Akibat Kista Dermoid Raksasa pada Trimester Kedua Kehamilan: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Torsio ovarium selama kehamilan merupakan kondisi yang jarang, namun berpotensi serius dan memerlukan diagnosis serta penatalaksanaan yang cepat untuk mencegah komplikasi pada ibu dan janin. Tumor ovarium jinak berukuran besar, terutama mature cystic teratoma, merupakan penyebab tersering torsio ovarium. Laporan kasus ini menyoroti penatalaksanaan torsio ovarium akibat kista dermoid besar pada trimester kedua kehamilan.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 16 tahun, G1P0A0, datang pada usia kehamilan 17 – 18 minggu dengan keluhan nyeri perut hebat sejak satu hari. Pemeriksaan fisik menunjukkan massa adneksa kistik yang mobile. Ultrasonografi menunjukkan janin tunggal hidup intrauterin sesuai usia kehamilan dan massa kistik unilokular pada adneksa kiri berukuran 14,5 × 12,7 × 11,5 cm dengan whirlpool sign positif yang mengarah ke torsio ovarium. Pasien menjalani laparotomi dan salpingo-ooforektomi kiri secara emergensi. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan mature cystic teratoma dengan nekrosis dan perdarahan luas sesuai dengan torsio, tanpa tanda keganasan. Sitologi cairan asites dan kista menunjukkan lesi jinak. Kehamilan dapat dipertahankan dan kondisi janin pascaoperasi stabil.Kesimpulan: Kasus ini menunjukkan bahwa intervensi bedah yang cepat pada torsio ovarium trimester kedua dapat dilakukan dengan aman serta memberikan luaran maternal dan janin yang baik.
Diagnostic Challenges of Antiphospholipid Syndrome in Recurrent Pregnancy Loss: A Case Report Ni Luh Lany Christina Prajawati; Artha Falentin Putri Susilo
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1026

Abstract

Introduction: Recurrent pregnancy loss is a complex condition that affects a small number of women, with antiphospholipid syndrome being a well-recognized cause. Antiphospholipid syndrome is an autoimmune disorder associated with vascular thrombosis and pregnancy complications.Case report: We present a 23-year-old woman with four consecutive pregnancy losses and cerebral venous sinus thrombosis. Despite an initial inability to fully confirm APS using the Sydney criteria due to resource limitations that hindered repeated laboratory testing, consultation with the rheumatology department led to a diagnosis based on the European Alliance of Associations for Rheumatology and American College of Rheumatology (ACR/EULAR) 2023 criteria. This case highlights the diagnostic challenges of antiphospholipid syndrome, especially in low-resource settings where repeat laboratory testing is often not feasible, underscoring the importance of alternative classification systems for confirming antiphospholipid syndrome when standard criteria cannot be met. Further research is necessary to validate the ACR/EULAR 2023 classification criteria and evaluate their impact on pregnancy outcomes in patients.Conclusion: To optimize limited resources, improved diagnosis and pregnancy planning for patients with antiphospholipid syndrome and cerebral venous sinus thrombosis are achieved by applying current classification criteria along with multidisciplinary management, including anticoagulation and obstetric care.Tantangan Diagnosis Sindrom Antifosfolipid pada Keguguran Berulang: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Keguguran berulang adalah kondisi multifaktorial yang memengaruhi sebagian kecil wanita, dengan sindrom antifosfolipid sebagai salah satu penyebab yang dikenal. Sindrom antifosfolipid adalah gangguan autoimun yang berhubungan dengan trombosis vaskular dan komplikasi kehamilan.Laporan kasus: Kami melaporkan seorang wanita berusia 23 tahun yang mengalami empat kali keguguran berturut-turut dan didiagnosis dengan trombosis sinus vena serebri. Meskipun pada awalnya konfirmasi penuh sindrom antifosfolipid, menurut kriteria Sydney tidak memungkinkan karena keterbatasan sumber daya yang menghambat pengulangan pemeriksaan laboratorium, konsultasi dengan bagian reumatologi menghasilkan diagnosis berdasarkan kriteria 2023 dari European Alliance of Associations for Rheumatology dan American College of Rheumatology (ACR/EULAR). Kasus ini menyoroti tantangan diagnostik sindrom antifosfolipid, terutama di lingkungan dengan sumber daya terbatas dengan pemeriksaan laboratorium berulang tidak selalu dapat dilakukan, serta pentingnya penggunaan sistem klasifikasi alternatif untuk menegakkan diagnosis ketika kriteria standar tidak dapat dipenuhi. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memvalidasi kriteria klasifikasi ACR/EULAR 2023 dan menilai dampaknya terhadap hasil kehamilan pada pasien.Kesimpulan: Untuk mengoptimalkan sumber daya yang terbatas, penggunaan kriteria klasifikasi saat ini bersama perawatan antikoagulasi dan obstetri secara multidisipliner memungkinkan diagnosis dan perencanaan kehamilan yang lebih baik bagi pasien dengan sindrom antifosfolipid dan trombosis sinus vena serebral. 
Association between Preconception Hypertension in Women and Fecundability: A Systematic Review and Meta-Analysis Cindy Sabina Faleandra; Muhammad Khalid Jambak; Linnas Ashil Hanifah Ulil Albab; Ghefira Hasna Kamila
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1124

Abstract

Objective: This study aimed to evaluate the association between preconception hypertension in women and fecundability.Methods: A PRISMA-guided and PROSPERO-registered (CRD420261281401) systematic review and meta-analysis was conducted. Searches were performed across databases and manual reference. Outcomes included fecundability, time to pregnancy (TTP), and infertility (TTP > 12 months). Effect estimates were pooled and reported as fecundability odds ratios (FOR), time ratios (TR), and risk ratios (RR) with 95% CIs.Results: Preconception hypertension was potentially associated with a 21% reduction in fecundability (FOR 0.79, 95% CI 0.78–0.80; P < 0.0001; I² = 0%) and pooled estimates for TTP and infertility risk were non-significant but directionally consistent, indicating a 29% longer TTP (TR 1.29, 95% CI 0.84–1.97; I² = 88%) and a 17% higher infertility risk (RR 1.17, 95% CI 0.94–1.47; I² = 34%), though these findings should be interpreted with caution given the heterogeneity and limited evidence.Discussion: Plausible biological mechanisms underlying the association involve chronic inflammation and endothelial dysfunction, which may impair endometrial receptivity, implantation, and early embryo development. Further studies incorporating objective male reproductive measures are required.Conclusion: Preconception hypertension may be associated with lower fecundability. In the interim, blood pressure optimization and fertility assessment before pregnancy are recommended.Hubungan antara Hipertensi Prakonsepsi pada Perempuan dan Fekundabilitas: Tinjauan Sistematis dan Meta-AnalisisAbstrakTujuan: Studi ini bertujuan mengevaluasi hubungan antara hipertensi prakonsepsi dan fekundabilitas pada wanita.Metode: Penelitian ini menggunakan metode tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dipandu oleh PRISMA serta terdaftar di PROSPERO (CRD420261281401). Pencarian dilakukan pada beberapa basis data dan penelusuran referensi secara manual. Luaran meliputi fekundabilitas, waktu hingga kehamilan (TTP), dan infertilitas (TTP>12 bulan). Estimasi efek digabungkan dan dilaporkan sebagai rasio peluang fekundabilitas (FOR), rasio waktu (TR), dan rasio risiko (RR) dengan interval kepercayaan 95%.Hasil: Hipertensi prakonsepsi dikaitkan dengan potensi penurunan fekundabilitas sebesar 21% (FOR 0,79, 95% CI 0,78–0,80; P < 0,0001; I² = 0%). Estimasi gabungan TTP dan risiko infertilitas tidak signifikan secara statistik tetapi menunjukkan arah yang konsisten, yaitu TTP 29% lebih lama (TR 1,29, 95% CI 0,84–1,97; I² = 88%) dan risiko infertilitas 17% lebih tinggi (RR 1,17, 95% CI 0,94–1,47; I² = 34%). Meskipun demikian, temuan ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati mengingat adanya heterogenitas dan keterbatasan bukti.Diskusi: Mekanisme biologis yang mungkin mendasari hubungan ini melibatkan peradangan kronis dan disfungsi endotel yang dapat mengganggu reseptivitas endometrium, implantasi, dan perkembangan embrio dini. Diperlukan studi lebih lanjut yang memasukkan pengukuran reproduksi pria yang objektif.Kesimpulan: Hipertensi prakonsepsi mungkin dikaitkan dengan fekundabilitas yang lebih rendah. Sementara itu, optimalisasi tekanan darah dan penilaian kesuburan sebelum kehamilan direkomendasikan.
Uterine Preservation in a Young Woman with Pelvic Organ Prolapse: An Interventional Case Report Ekarini Aryasatiani; Raymond Surya Tan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1097

Abstract

Introduction: The prevalence of pelvic organ prolapse (POP) is approximately 2 - 20% in women under the age of 45 years. Uterine preservation appears promising for young patients who have not completed childbearing. Sacrohysteropexy is preferred when uterine preservation is desired, with cure rates of 91-100%. This report describes a woman with pelvic organ prolapse who wished to preserve her uterus and underwent abdominal sacrohysteropexyCase Illustration: A 42-year-old woman, P2A0, presented with a bulging mass following vaginal birth, noted 6 months before admission. She continues to menstruate regularly, and her husband hopes to have another child. On Pelvic Organ Prolapse Quantification (POP-Q) examination, she was diagnosed with 4th grade uterine prolapse, 3rd grade cystocele, and 3rd grade rectocele. She decided to preserve her uterus with abdominal sacrohysteropexy. At one-month follow-up, the patient was satisfied with the procedure and reported no further complaint of mass bulging.Discussion: Sacrohysteropexy is a promising procedure to preserve the uterus, with success rates of up to 90% at three to five years. Use of mesh may be associated with the risk of infection and mesh erosion into the vagina. Recurrence is usually caused by pelvic floor weakness, with a rate of 16.7% in a local study.Conclusion: Abdominal sacrohysteropexy is a safe procedure for POP in young women who wish to preserve the uterus, provided it is performed carefully.Preservasi Uterus pada Prolaps Organ Panggul Wanita Muda: Sebuah Laporan Kasus Intervensi AbstrakPendahuluan: Prevalensi prolaps organ panggul (POP) terjadi sekira 2 - 20% pada wanita di bawah 45 tahun. Konservasi uterus tampak menjanjikan pada pasien usia muda dan masih menginginkan anak. Sakro histeropeksi menjadi salah satu pilihan, preservasi uterus dapat mencapai 91-100%. Kasus ini melaporkan terapi konservasi uterus pada wanita POP yang masih muda dengan keinginan untuk memiliki keturunan melalui operasi sakrohisteropeksi per abdominal.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita 42 tahun, P2A0, datang dengan massa menonjol dari jalan lahir sejak 6 bulan. Dia masih menstruasi dan suaminya masih berharap memiliki anak. Pada pemeriksaan POP-Q didapatkan prolaps uterus derajat 4, sistokel derajat 3, dan rektokel derajat 3. Dia memutuskan konservasi uterus melalui prosedur sakro histeropeksi. Satu bulan setelah prosedur, pasien merasa puas dan tidak ada keluhan lagi.Diskusi: Sakro histeropeksi merupakan tindakan pembedahan yang menjanjikan dengan angka tidak ada kekambuhan pada tiga sampai lima tahun mencapai 90%. Penggunaan mesh berkaitan dengan risiko infeksi dan keluar mesh dari vagina. Angka rekurensi biasanya disebabkan oleh kelemahan dasar panggul dengan prevalensi 16,7%.Kesimpulan: Sakro histeropeksi perabdominam merupakan prosedur aman untuk POP wanita muda yang masih menginginkan adanya rahim.
Imperforate Hymen Presenting with Obstructive Urological And Gastrointestinal Symptoms in An Adolescent Girl: A Case Report Prilly Astari; Airine Stefanie Lians
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1129

Abstract

Introduction: Imperforate hymen is a rare congenital anomaly of the female genital tract caused by failure of hymenal membrane canalization during embryologic development. Although present at birth, it typically remains asymptomatic until adolescence, when obstruction of menstrual outflow leads to the accumulation of blood within the vagina (hematocolpos) or uterus (hematometra). In this case, the patient uniquely presented with urogenital obstruction symptoms, which can mimic primary urinary tract disorders and contribute to missed or delayed diagnosis. This highlights the importance of considering genital outflow tract anomalies in an adolescent female presenting with urinary complaints.Case presentation: A 13-year-old girl presented with cyclical lower abdominal pain, difficulty in micturition, and constipation for three months, without prior menarche. The physical examination showed mild abdominal distension with suprapubic tenderness. The inspection of the external genitalia showed a bulging hymenal membrane without an opening and without bluish discoloration, and pelvic ultrasonography showed hematometrocolpos. The patient underwent a hymenotomy, during which approximately 500 mL of retained menstrual blood was drained. This intervention resulted in complete resolution of symptoms, and the patient was subsequently discharged in stable condition.Conclusion: Careful genital examination is essential in adolescent female with primary amenorrhea and cyclical abdominal pain. Prompt diagnosis and surgical management result in excellent outcomes and prevent long-term morbidity.Himen Imperforata dengan Gejala Obstruktif Urologi dan Gastrointestinal Pada Remaja Putri: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Himen imperforate merupakan kelainan kongenital langka pada traktus genitalia perempuan yang disebabkan oleh kegagalan kanalisasi membran himen selama perkembangan embriologis. Meskipun sudah ada sejak lahir, kondisi ini sering kali tetap asimtomatik hingga masa remaja, ketika obstruksi aliran menstruasi menyebabkan hematokolpos atau hematometra. Pada kasus ini, pasien secara khas datang dengan gejala obstruksi urogenital yang dapat menyerupai gangguan saluran kemih primer sehingga berpotensi menyebabkan diagnosis terlewat atau terlambat. Hal ini menekankan pentingnya mempertimbangkan kelainan obstruksi traktus genitalia pada remaja perempuan dengan keluhan urinaria.Presentasi Kasus: Seorang anak perempuan usia 13 tahun datang dengan nyeri perut bawah siklik, sulit berkemih, dan konstipasi selama tiga bulan tanpa riwayat menarke. Pemeriksaan fisik menunjukkan distensi abdomen ringan dengan nyeri tekan suprapubik. Inspeksi genitalia eksterna tampak membran himen menonjol tanpa lubang dan tanpa perubahan warna kebiruan. Ultrasonografi pelvis menunjukkan hematometrokolpos. Pasien menjalani himenektomi dengan drainase ±500mL darah menstruasi yang tertahan. Gejala menghilang sepenuhnya dan pasien dipulangkan dalam kondisi stabil.Kesimpulan: Pemeriksaan genital yang teliti penting pada remaja dengan amenore primer dan nyeri perut siklik. Diagnosis dan tatalaksana dini memberikan hasil yang sangat baik.