cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
Correlation between Leukocyte Esterase and the Incidence of Preterm Birth and Maternal and Neonatal Outcomes Adi Pramono; Lies Ani Tambunan; Setyorini Irianti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1147

Abstract

Objective: Leukocyte esterase (LE) is a diagnostic marker for urinary tract infections (UTIs), the management of which may mitigate the risk of preterm labor and neonatal complications. This study evaluates the correlation between positive LE, preterm labor, and subsequent infant outcomes.Methods: This retrospective cohort study at Hasan Sadikin General Hospital analyzed medical records of singleton pregnancies in 2024. Using total sampling and multivariable logistic regression, the study evaluated the correlation between maternal urinalysis with positive leukocyte esterase, the incidence of preterm birth, and 5-minute APGAR scores.Results: Of the 420 patients analyzed, preterm labor occurred in 60.5% of cases. Positive LE was identified in 42.1% of the cases. Multivariate analysis revealed that positive LE significantly increased the risk of preterm delivery (aOR = 1.57, p = 0.042). However, positive LE was not a significant determinant of neonatal asphyxia (OR = 0.97, p > 0.999), which demonstrated a stronger association with lower birth weight and infrequent antenatal care visits. Conclusion: Maternal leukocyte esterase positivity is associated with approximately a 1.5-fold increase in the likelihood of preterm labor. Conversely, no significant association was observed between LE levels and neonatal asphyxia or 5-minute APGAR scores.Hubungan antara Leukosit Esterase dengan Kejadian Persalinan Prematur dan Luaran Ibu dan BayiAbstrakTujuan: Leukosit esterase membantu mendiagnosis Infeksi Saluran Kemih (ISK), yang berpotensi mengurangi risiko persalinan prematur dan asfiksia kelahiran. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara leukosit esterase, persalinan prematur, dan hasil bayi.Metode: Studi kohort retrospektif yang dilakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin melalui data rekam medik, dilakukan total sampling pasien dengan kehamilan tunggal pada tahun 2024. Data dianalisis dengan uji Chi square, dilanjutkan dengan regresi logistik multivariat untuk mengevaluasi hubungan antara hasil urin leukosit esterase positif dengan persalinan prematur, dan skor APGAR 5 menit.Hasil: Dari 420 pasien, persalinan prematur terjadi pada 60,5% kasus. Leukosit Esterase (LE) positif ditemukan pada 42,1% kasus persalinan prematur. Analisis multivariat menunjukkan bahwa LE positif secara signifikan meningkatkan risiko persalinan prematur (aOR = 1,57; p = 0,042). Namun, hal tersebut bukan merupakan penentu signifikan bagi asfiksia neonatal (OR = 0,97; p > 0,999), yang justru lebih kuat dikaitkan dengan berat badan lahir rendah dan kunjungan perawatan antenatal (antenatal care) yang lebih sedikit.Kesimpulan: Leukosit esterase positif meningkatkan risiko persalinan prematur sekitar 1,5 kali lipat, namun tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan asfiksia neonatal atau skor APGAR 5 menit. 
Effectiveness of Laser Therapy in Stress Urinary Incontinence Patients: A Systematic Review and Meta-Analysis Tyas Priyatini; I Putu Gede Kayika; Ruthsuyata Siagian
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.910

Abstract

Objective: This systematic review and meta-analysis aimed to evaluate the effectiveness of laser therapy in improving urinary and sexual function in women with SUI.Methods: The literature was selected using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analyses (PRISMA) protocol. We did literature searches in several databases, including Science Direct, Pubmed, Google Scholar, Cochrane, ProQuest, and Scopus, from inception until January 2025. Quality assessment was performed using the Cochrane Risk of Bias Tool. Mean differences (MD) with 95% confidence intervals (CI) were calculated using a random-effects model.Result: There were ten journals with 598 participants that met the criteria. The results of the pooled analysis showed a statistically significant improvement in post-laser therapy pad weight (MD = -0.49; 95% CI: -0.97 to -0.01; p = 0.0435). Despite the non-significant differences and heterogeneity found in the meta-analysis of sexual function outcome (MD = -0.49; 95% CI: -0.97 to -0.01; p = 0.0435), the individual studies stated that the sexual function was improved in women with SUI post-laser therapy.Discussion: Laser therapy, particularly CO₂ and Er:YAG modalities, appears effective in enhancing sexual function in women with SUI. Variability in protocols and outcome measures among studies may contribute towards heterogeneity. Most trials had small sample sizes and short follow-ups.Conclusion: Laser therapy shows promise for improving urinary and sexual function in women with SUI, warranting further robust research.Efektivitas Terapi Laser pada Pasien Inkontinensia Urin Stres: Tinjauan Sistematis dan Meta-AnalisisAbstrakTujuan: Tinjauan sistematis dan meta-analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi laser dalam meningkatkan fungsi urinasi dan seksual pada wanita dengan SUI.Metode: Literatur diseleksi dengan protokol Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-analyses (PRISMA). Penelusuran literatur dilakukan pada beberapa basis data, termasuk Science Direct, Pubmed, Google Scholar, Cochrane, ProQuest, dan Scopus, sejak awal hingga Januari 2025. Penilaian kualitas dilakukan menggunakan Cochrane Risk of Bias Tool. Perbedaan mean (MD) dengan interval kepercayaan (CI) 95% dihitung menggunakan model efek acak.Hasil: Terdapat sepuluh jurnal dengan 598 partisipan yang memenuhi kriteria. Hasil penelitian dari analisis gabungan menunjukan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan secara statistik pada pad weight pasca terapi laser (MD = -0,49; 95% CI: -0,97 hingga -0,01; p = 0,0435). Meskipun perbedaan dan heterogenitas yang tidak signifikan ditemukan dalam meta-analisis hasil fungsi seksual (MD = -0.49; 95% CI: -0.97 to -0.01; p = 0.0435), studi individual menyatakan bahwa fungsi seksual membaik pada wanita dengan SUI pasca-terapi laser.Diskusi: Terapi laser, khususnya modalitas CO₂ dan Er:YAG, tampak efektif dalam meningkatkan fungsi seksual pada wanita dengan SUI. Variabilitas dalam protokol dan ukuran hasil di antara studi dapat berpengaruh pada heterogenitas. Sebagian besar uji coba memiliki ukuran sampel kecil dan follow-up yang singkat.Kesimpulan: Terapi laser menunjukkan harapan untuk meningkatkan fungsi urin dan seksual pada wanita dengan SUI, yang menjamin penelitian lebih lanjut yang kuat.
Maternal and Neonatal Outcomes of Severe Preeclampsia: Delivery at 34–36 Weeks versus Term: A Retrospective Study at a Tertiary Referral Hospital Subhan Darojat Ar Rizqi; Adhi Pribadi; Dian Tjahyadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1186

Abstract

Introduction: Severe preeclampsia (SPE) is a leading cause of maternal and perinatal morbidity and mortality in developing countries. The optimal timing of delivery remains debated, particularly whether termination at 34 – 36 weeks worsens outcomes compared with term delivery. This study compared maternal and neonatal outcomes of SPE delivered at 34 – 36 weeks versus at term.Methods: This retrospective observational study used medical records of women with SPE who delivered at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, during 2020 – 2023. Total sampling yielded 336 women (120 at 34 – 36 weeks; 216 at term). Outcomes were analysed using Chi-square, Fisher exact, and Mann-Whitney tests, with p≤0.05 considered significant.Results: Maternal mortality did not differ between the 34 – 36-week and term groups (5.0% vs 3.7%; p=0.569), nor did delivery mode, postpartum haemorrhage, or premature rupture of membranes. Among singletons, neonatal outcomes differed significantly for birth weight, one-minute APGAR, and five-minute APGAR (all p<0.05); ten-minute APGAR, NICU admission, respiratory distress, and neonatal mortality (6.5% vs 2.9%; p=0.200) did not differ. No outcome differed among twins.Conclusion: Delivery at 34 – 36 weeks for severe preeclampsia did not show a significant difference in maternal and neonatal mortality compared with term delivery, though neonates born earlier had lower birth weight and poorer early APGAR adaptation. Indicated delivery within this window may be considered according to maternal-fetal condition and neonatal readiness, with cautious interpretation given the retrospective design.Luaran Maternal dan Neonatal Preeklamsia Berat: Persalinan Usia 34 – 36 Minggu versus Aterm: Studi Retrospektif di Rumah Sakit Rujukan TersierAbstrakLatar Belakang: Preeklamsia berat (PEB) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal di negara berkembang. Waktu terminasi optimal masih diperdebatkan, terutama apakah persalinan pada usia 34 – 36 minggu memperburuk luaran maternal dan neonatal dibandingkan aterm. Penelitian ini membandingkan luaran maternal dan neonatal PEB yang dilahirkan pada usia 34 – 36 minggu dan aterm.Metode: Penelitian observasional retrospektif menggunakan rekam medis perempuan dengan PEB yang bersalin di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2020 – 2023. Total sampling memperoleh 336 subjek (120 bersalin pada usia 34 – 36 minggu; 216 aterm). Data dianalisis dengan uji Chi-square, Exact Fisher, dan Mann-Whitney; p≤0,05 dianggap bermakna.Hasil: Mortalitas maternal tidak berbeda antara kelompok 34 – 36 minggu dan aterm (5,0% vs 3,7%; p=0,569), demikian pula jenis persalinan, perdarahan pascapersalinan, dan ketuban pecah dini. Pada kehamilan tunggal, luaran neonatal berbeda bermakna pada berat lahir, APGAR menit pertama, dan APGAR menit kelima (semua p<0,05); APGAR menit kesepuluh, perawatan NICU, gangguan napas, dan mortalitas neonatal (6,5% vs 2,9%; p=0,200) tidak berbeda. Tidak ditemukan perbedaan luaran pada kehamilan gemelli.Kesimpulan: Persalinan pada usia 34 – 36 minggu untuk preeklamsia berat tidak menunjukkan perbedaan bermakna dalam mortalitas maternal dan neonatal dibandingkan persalinan aterm, meskipun neonatus yang dilahirkan lebih awal menunjukkan berat lahir lebih rendah dan APGAR awal yang lebih buruk. Persalinan terindikasi pada usia ini dapat dipertimbangkan sesuai kondisi maternal-fetal dan kesiapan neonatal, dengan interpretasi hati-hati mengingat desain retrospektif.
Comparison of Insulin-Like Growth Factor-1 (IGF-1) and Transforming Growth Factor-β1 (TGF-β1) Protein Expression Between Patients with Pelvic Organ Prolapse With and Without Cervical Elongation Marshal Justitia Wenas; RM Sonny Sasotya; M. Rizkar Arev S.; Eppy Darmadi A.; Andi Rinaldi; Aria Prasetya M.; Kania Praharsini; Berriandi Arwan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1164

Abstract

Objective: Pelvic organ prolapse (POP) is a condition caused by weakened pelvic support structures and is often associated with cervical elongation. The role of growth factors, particularly insulin-like growth factor-1 (IGF-1) and transforming growth factor-β1 (TGF-β1), in the pathogenesis of cervical elongation remains unclear.Methods: This study was conducted at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, involving patients with pelvic organ prolapse with or without cervical elongation selected by consecutive sampling. Cervical IGF-1 and TGF-β1 expression was assessed by immunohistochemistry, and prolapse severity by POP-Q. Each group included 23 subjects. Data were analyzed using the Shapiro–Wilk and Mann–Whitney U tests.Results: Most participants were ≥ 50 years old, and the POP without cervical elongation group had a significantly higher proportion of postmenopausal women (95.7% vs. 65.2%; p = 0.02). IGF-1 expression did not differ significantly between the two groups (mean 6.39 vs. 7.01; p>0.05). In contrast, TGF-β1 expression was significantly lower in the POP with cervical elongation group than in the POP without cervical elongation group (2.62 ± 1.08 vs. 5.48 ± 2.41; p < 0.001).Conclusion: Decreased TGF-β1 expression may contribute to cervical elongation in POP through impaired extracellular matrix remodeling, while IGF-1 does not clearly distinguish this phenotype. These findings suggest cervical elongation as a distinct biological entity within the POP spectrum, with implications for its pathophysiology and surgical management.Perbandingan Ekspresi Protein Insulin-Like Growth Factor-1 (IGF-1) dan Transforming Growth Factor-β1 (TGF-β1) antara Pasien Prolaps Organ Panggul dan tanpa Elongasi ServiksAbstrakTujuan: Prolaps organ panggul (POP) merupakan kondisi akibat kelemahan jaringan penunjang pelvis yang sering disertai elongasi serviks. Peran growth factor, khususnya insulin-like growth factor-1 (IGF-1) dan transforming growth factor-β1 (TGF-β) dalam patogenesis elongasi serviks belum sepenuhnya dipahami.Metode: Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan melibatkan pasien prolaps organ panggul dengan atau tanpa elongasi serviks yang dipilih secara consecutive sampling. Ekspresi IGF-1 dan TGF-β1 pada jaringan serviks dinilai menggunakan imunohistokimia, sedangkan derajat prolaps dinilai dengan sistem POP-Q. Masing-masing kelompok terdiri dari 23 subjek. Data dianalisis menggunakan uji Shapiro–Wilk dan Mann–Whitney U.Hasil: Sebagian besar subjek berusia ≥50 tahun, dengan proporsi menopause lebih tinggi pada kelompok POP tanpa elongasi serviks dibandingkan kelompok POP dengan elongasi serviks (95,7% vs. 65,2%; p=0,02). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada ekspresi IGF-1 antara kedua kelompok (6,39 vs. 7,01; p>0,05). Sebaliknya, ekspresi TGF-β1 secara signifikan lebih rendah pada kelompok POP dengan elongasi serviks dibandingkan dengan kelompok POP tanpa elongasi serviks (2,62 ± 1,08 vs. 5,48 ± 2,41; p < 0,001).Kesimpulan: Penurunan ekspresi TGF-β1 dapat berkontribusi terhadap elongasi serviks pada POP melalui gangguan remodeling matriks ekstraseluler, sedangkan IGF-1 tidak secara jelas membedakan fenotipe ini. Temuan ini menunjukkan bahwa elongasi serviks merupakan entitas biologis tersendiri dalam spektrum POP, dengan implikasi terhadap patofisiologi dan tata laksana bedah.
Placental Abruption with Couvelaire Uterus in a Primigravida: A Case Report Immanuel Bachtiar Parlindungan; Dadan Susandi; Windi Nurdiawan; Hadi Susiarno; Aisyah Shofiatun Nisa
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1117

Abstract

Introduction: Placental abruption typically presents with the classic triad of vaginal bleeding, abdominal pain, and uterine tenderness. However, atypical presentations lacking these features may delay diagnosis. The occurrence of an extensive couvelaire uterus requiring a hysterectomy in a young primigravida without classical risk factors is rare. This case adds to the limited literature on severe, atypical presentations of placental abruption.Case Illustration: A 20-year-old primigravida at 32 – 33 weeks of gestation presented with decreased fetal movements, lacking vaginal bleeding or significant abdominal pain. Notably, she reported a recent history of traditional abdominal massage. She was diagnosed with intrauterine fetal death (IUFD), and ultrasonography demonstrated a retroplacental hemorrhage suggestive of placental abruption. Despite the absence of classic symptoms, clinical suspicion remained high. Due to concerns of ongoing concealed hemorrhage and impending maternal deterioration, an emergency cesarean section was performed. Intraoperatively, a couvelaire uterus involving approximately 60% of the anterior uterine wall was identified. Following delivery, the patient developed refractory uterine atony unresponsive to uterotonics (oxytocin, methylergometrine, and misoprostol), necessitating a supravaginal hysterectomy to control life-threatening hemorrhage. The patient recovered well postoperatively.Conclusion: This case highlights an atypical presentation of placental abruption that progressed to severe maternal complications, including a couvelaire uterus and refractory atony requiring surgical intervention. Early recognition based on clinical suspicion and imaging is essential to prevent maternal morbidity when classical symptoms are absent. While the patient had a history of traditional abdominal massage, a definitive causal relationship cannot be established; further research is needed to explore its potential role as a trigger.Solusio Plasenta dengan Uterus Couvelaire pada Primigravida: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Solusio plasenta umumnya bermanifestasi dengan triad klasik berupa perdarahan pervaginam, nyeri abdomen, dan nyeri tekan uterus. Namun, presentasi atipikal tanpa gejala tersebut dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis. Kejadian uterus couvelaire luas yang memerlukan histerektomi pada primigravida muda tanpa faktor risiko klasik merupakan kondisi yang jarang dan menambah keterbatasan literatur mengenai presentasi berat solusio plasenta yang atipikal.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 20 tahun, primigravida dengan usia kehamilan 32 – 33 minggu, datang dengan keluhan penurunan gerak janin tanpa disertai perdarahan pervaginam maupun nyeri abdomen bermakna. Pasien didiagnosis dengan intrauterine fetal death (IUFD). Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya perdarahan retroplasenta yang mengarah pada solusio plasenta. Meskipun tanpa gejala klasik, kecurigaan klinis tetap tinggi berdasarkan temuan kematian janin dan hasil pencitraan, dengan pertimbangan adanya perdarahan tersembunyi yang sedang berlangsung serta risiko perburukan kondisi maternal. Selanjutnya, dilakukan seksio sesarea emergensi terhadap pasien. Secara intraoperatif ditemukan uterus couvelaire yang melibatkan sekitar 60% dinding anterior uterus. Setelah persalinan, pasien mengalami atonia uteri refrakter yang tidak responsif terhadap terapi uterotonik (oksitosin, metilergometrin, dan misoprostol) sehingga dilakukan histerektomi supravaginal untuk mengendalikan perdarahan yang mengancam jiwa. Pasien menunjukkan perbaikan klinis yang baik pascaoperasi.Kesimpulan: Kasus ini menyoroti presentasi atipikal solusio plasenta tanpa triad klasik yang dapat berkembang menjadi komplikasi maternal berat, termasuk uterus couvelaire dan atonia uteri refrakter yang memerlukan histerektomi. Pengenalan dini berdasarkan kecurigaan klinis dan temuan pencitraan sangat penting untuk mencegah morbiditas maternal. Meskipun pasien memiliki riwayat pijat abdomen tradisional, hubungan kausal tidak dapat dipastikan; diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi kemungkinan perannya.
Comparing Various GnRH Protocols to Improve Fertility Outcomes in Patients with Adenomyosis: A Qualitative Systematic Review Sofi Sumarlin; Imelda E B Hutagaol; Muhammad Yusuf; Nicko Pisceski Kusika Saputra; Arya Marganda Simanjuntak; Silvi Angelia May Purba
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1077

Abstract

Introduction: Adenomyosis impairs fertility through chronic inflammation and endometrial damage. While IVF with GnRH modulation is used to improve outcomes, no universal protocol exists. This study compares long versus short GnRH agonist protocols for improving fertility in adenomyosis patients.Methods: This qualitative systematic review [CRD420251272312] searched databases like PubMed and Semantic Scholar in November 2025. It included English-language observational studies or RCTs involving human samples, while excluding duplicates and incomplete manuscripts.Results: From 858 abstracts, three studies were analyzed. No method significantly altered oocyte count or myometrial thickness. Ultra-long and long GnRH agonist protocols showed higher pregnancy rates and lower miscarriage risks, whereas antagonist and short agonist protocols had poorer outcomes.Conclusions: Ultra-long and long GnRH agonist protocols are promising for adenomyosis, but these preliminary results from limited studies require validation through larger randomized controlled trials addressing confounding factors.Perbandingan Variasi Protokol GnRH untuk Meningkatkan Hasil Kesuburan pada Pasien dengan Adenomiosis: Sebuah Tinjauan Sistematis KualitatifAbstrakPendahuluan: Adenomiosis mengganggu kesuburan melalui peradangan kronis dan kerusakan endometrium. Meskipun IVF dengan modulasi GnRH digunakan untuk meningkatkan hasil, tidak ada protokol universal yang ada. Studi ini membandingkan protokol agonis GnRH panjang versus pendek untuk meningkatkan kesuburan pada pasien adenomiosis.Metode: Tinjauan sistematis kualitatif ini [CRD420251272312] mencari basis data seperti PubMed dan Semantic Scholar pada November 2025. Ini mencakup studi observasional atau RCT berbahasa Inggris yang melibatkan sampel manusia, sambil mengecualikan duplikat dan manuskrip yang tidak lengkap.Hasil: Dari 858 abstrak, tiga studi dianalisis. Tidak ada metode yang secara signifikan mengubah jumlah oosit atau ketebalan miometrium. Protokol agonis GnRH ultra-panjang dan panjang menunjukkan tingkat kehamilan yang lebih tinggi dan risiko keguguran yang lebih rendah, sementara protokol antagonis dan agonis pendek memiliki hasil yang lebih buruk.Kesimpulan: Protokol agonis GnRH ultra-panjang dan panjang menjanjikan untuk adenomiosis, tetapi hasil awal dari studi terbatas ini memerlukan validasi melalui uji coba terkontrol acak yang lebih besar yang membahas faktor-faktor perancu. 
Myxoid Degeneration of Leiomyoma of the Posterior Vaginal Wall: A Rare Case and Literature Review Faradila Caesaria; Eppy Darmadi Achmad; Kania Praharsini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9s Number 2 July 2026 Special Issue Case Report & Systematic Review
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1041

Abstract

Introduction: Vaginal leiomyoma, particularly those arising from the posterior vaginal wall, is a rare benign tumor. Myxoid degeneration in vaginal leiomyoma is also an exceedingly rare finding, which may further complicate the diagnostic process and management.Case: A 37-year-old woman presented with a vaginal lump and urinary discomfort. Gynecologic examination revealed a posterior vaginal wall mass. Pelvic ultrasound and contrast-enhanced MRI identified a semisolid mass involving the posterior vagina and uterus. Intraoperative exploration confirmed a gray-white, flat-surfaced cystic mass measuring 8x7 cm, originating from the posterior vaginal wall. Vaginal enucleation was performed without complications. Histopathology confirmed a myxoid leiomyoma, characterized by an abundant mucoid matrix and low cellularity. Postoperative follow-up at 6 months showed no recurrence.Conclusions: Posterior vaginal leiomyoma with myxoid degeneration poses diagnostic challenges due to its rarity. Vaginal enucleation provides effective, low-recurrence management.Leiomioma Dinding Vagina Posterior dengan Degenerasi Miksioid: Laporan Kasus Langka dan Tinjauan PustakaPendahuluan: Leiomioma vagina, terutama yang berasal dari dinding posterior vagina, merupakan tumor jinak yang jarang ditemukan. Degenerasi miksioid pada leiomioma vagina juga merupakan temuan yang sangat jarang dilaporkan sehingga dapat menambah kesulitan dalam proses diagnosis dan penatalaksanaan.Kasus: Seorang perempuan berusia 37 tahun datang dengan keluhan benjolan pada vagina disertai rasa tidak nyaman saat berkemih. Pemeriksaan ginekologi menemukan adanya massa pada dinding posterior vagina. Pemeriksaan ultrasonografi pelvis dan magnetic resonance imaging (MRI) dengan kontras menunjukkan massa semisolid yang melibatkan bagian posterior vagina dan uterus. Eksplorasi intraoperatif menemukan massa kistik berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan rata berukuran sekitar 8x7 cm yang berasal dari dinding posterior vagina. Dilakukan enukleasi massa melalui pendekatan vagina tanpa komplikasi. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi diagnosis leiomioma dengan degenerasi miksioid yang ditandai oleh matriks mukoid yang melimpah dan selularitas yang rendah. Pada tindak lanjut enam bulan pascaoperasi tidak ditemukan kekambuhan.Kesimpulan: Leiomioma vagina merupakan entitas yang jarang sehingga menimbulkan tantangan dalam penegakan diagnosis yang akurat. Enukleasi tampaknya merupakan penatalaksanaan yang paling optimal. 
Clinical Characteristics and Maternal–Fetal Outcomes of Severe Preeclampsia Referral Cases at Waled General Hospital: A Retrospective Study Agus Haerani; Akhmad Yogi Pramatirta; Wildan A Sutrisno
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1170

Abstract

Objective: Severe preeclampsia remains a major contributor to maternal and perinatal morbidity and mortality, particularly in developing countries, where delayed referral and inadequate early detection are common. This study aimed to describe the clinical characteristics and maternal–fetal outcomes of severe preeclampsia cases referred to Waled General Hospital.Method: A retrospective descriptive study was conducted using secondary data from medical records and maternal health (KIA) books for pregnant women diagnosed with severe preeclampsia and referred to Waled General Hospital from January to December 2024. Collected data included maternal demographic characteristics, gestational age, laboratory findings, maternal risk factors, and maternal–fetal outcomes.Result: A total of 76 pregnant women with severe preeclampsia were included, with a mean maternal age of 33.3 years. Most participants were multiparous (75%), and 40.8% had extreme maternal age (<20 or >35 years). Proteinuria was present in 69.7% of cases, and fetal complications were more frequent than maternal complications, particularly prematurity (13.2%), followed by intrauterine growth restriction (6.6%) and intrauterine fetal death (2.6%).Conclusion: Severe preeclampsia referral cases at Waled General Hospital were marked by substantial maternal risk factors and adverse maternal–fetal outcomes, particularly prematurity. Strengthening early detection, clinical assessment, and timely referral may improve maternal and perinatal outcomes.Karakteristik Klinis dan Luaran Maternal–Fetal Kasus pada Rujukan Preeklamsia Berat di RSUD Waled Cirebon: Studi RetrospektifAbstrakTujuan: Preeklamsia berat masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal, terutama di negara berkembang yang sering menghadapi keterlambatan deteksi dini dan rujukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik klinis dan luaran maternal–fetal pada kasus rujukan preeklamsia berat di RSUD Waled.Metode: Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan menggunakan data sekunder berupa rekam medis dan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pasien hamil dengan diagnosis preeklamsia berat yang dirujuk ke RSUD Waled pada periode Januari hingga Desember 2024. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografis maternal, usia kehamilan, temuan laboratorium, faktor risiko maternal, serta luaran maternal–fetal.Hasil: Sebanyak 76 ibu hamil dengan preeklamsia berat diikutsertakan dalam penelitian dengan rerata usia maternal 33,3 tahun. Mayoritas pasien merupakan multipara (75%), dengan hampir setengahnya (40,8%) berada pada kelompok usia maternal ekstrem, yaitu berusia <20 tahun atau >35 tahun. Proteinuria ditemukan pada 69,7% kasus, dan komplikasi fetal lebih sering ditemukan dibandingkan komplikasi maternal, terutama prematuritas (13,2%), restriksi pertumbuhan intrauterin (6,6%), dan kematian janin intrauterin (2,6%).Kesimpulan: Kasus rujukan preeklamsia berat di RSUD Waled ditandai oleh tingginya faktor risiko maternal serta luaran maternal–fetal yang merugikan, terutama prematuritas. Penguatan deteksi dini, penilaian klinis, dan rujukan yang tepat waktu berpotensi meningkatkan luaran maternal dan perinatal.
Pravastatin for Prevention of Preterm Birth in High-Risk Pregnancies: A Pilot Randomized Controlled Trial Muhammad Ilham Aldika Akbar; Ayu Diah Primaningrum
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1089

Abstract

Objective: This research aims to evaluate the feasibility, safety, and preliminary efficacy of pravastatin for preventing preterm birth among high-risk pregnant women. Methods: This double-blind, randomized, placebo-controlled pilot trial was conducted at a tertiary referral center in Indonesia (August 2024–June 2025). Pregnant women at 14–28⁺⁶ weeks' gestation with ≥1 preterm birth risk factor were randomized 1:1 to oral pravastatin 20 mg twice daily or placebo until delivery. The primary outcome was preterm birth <37 weeks. All analyses were conducted on an intention-to-treat basis.Results: Thirty-five women were analyzed (pravastatin n=17; placebo n=18) with comparable baseline characteristics. Preterm birth <37 weeks was significantly lower in the pravastatin group (11.8% vs 72.2%; OR 0.051, 95% CI <0.01–0.31; p=0.001), with higher median gestational age at delivery (37 vs 34.5 weeks; p=0.005). Pravastatin was also associated with reduced preterm preeclampsia (11.8% vs 55.6%; p=0.006), higher neonatal birthweight (3227 ± 628 g vs 2446 ± 373 g; p<0.001), and lower rates of low birthweight (5.9% vs 77.8%; p<0.001). No significant differences in neonatal adverse outcomes were observed.Conclusion: In this small pilot trial (n=35), pravastatin was associated with a reduced incidence of preterm birth and improved gestational and neonatal outcomes among high-risk pregnancies. Given the small sample size, the very large observed effect sizes should be interpreted with caution and may reflect random variation. These preliminary findings support the feasibility and safety of pravastatin in this population and provide justification for larger, adequately powered randomized controlled trials.Pravastatin untuk Pencegahan Kelahiran Prematur pada Kehamilan Berisiko Tinggi: Uji Coba Terkontrol AcakAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kelayakan, keamanan, dan efikasi awal pravastatin dalam mencegah persalinan prematur pada ibu hamil berisiko tinggi.Metode: Uji klinis pilot tersamar ganda, acak, terkontrol plasebo ini dilakukan di pusat rujukan tersier di Indonesia (Agustus 2024 – Juni 2025). Ibu hamil dengan usia kehamilan 14 – 28⁺⁶ minggu yang memiliki ≥1 faktor risiko persalinan prematur diacak 1:1 untuk menerima pravastatin oral 20 mg dua kali sehari atau plasebo hingga persalinan. Luaran utama adalah persalinan prematur <37 minggu. Seluruh analisis dilakukan berdasarkan prinsip intention-to-treat.Hasil: Sebanyak 35 ibu hamil dianalisis (pravastatin n=17; plasebo n=18) dengan karakteristik dasar yang sebanding. Persalinan prematur <37 minggu secara bermakna lebih rendah pada kelompok pravastatin (11,8% vs 72,2%; OR 0,051; IK 95% <0,01 – 0,31; p=0,001), disertai median usia kehamilan saat persalinan yang lebih tinggi (37 vs 34,5 minggu; p=0,005). Pravastatin juga berhubungan dengan penurunan preeklamsia prematur (11,8% vs 55,6%; p=0,006), berat lahir neonatus yang lebih tinggi (3227 ± 628 g vs 2446 ± 373 g; p<0,001), serta penurunan angka berat lahir rendah (5,9% vs 77,8%; p<0,001). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada luaran neonatal yang merugikan.Kesimpulan: Pada uji klinis pilot berskala kecil ini (n=35), pravastatin berhubungan dengan penurunan insiden persalinan prematur serta perbaikan luaran gestasional dan neonatal pada kehamilan berisiko tinggi. Mengingat jumlah sampel yang kecil, effect size yang sangat besar harus diinterpretasikan dengan hati-hati karena dapat mencerminkan variasi acak. Temuan awal ini mendukung kelayakan dan keamanan penggunaan pravastatin pada populasi tersebut, serta memberikan justifikasi untuk pelaksanaan uji klinis acak terkontrol berskala lebih besar dengan kekuatan statistik yang memadai.
Distribution and Clinical Characteristics of Endometriosis in a Tertiary Referral Hospital in Indonesia: A Cross-Sectional Study Salsabilah Aisyah Putri; Yusuf Effendi; Abarham Martadiansyah; Fatimah Usman; Sonia Prima Arisa Putri
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1094

Abstract

Objective: The objective of this study is to describe the prevalence and distribution of demographic and reproductive characteristics among patients diagnosed with endometriosis at a tertiary referral hospital in Palembang, Indonesia.Methods: This is a descriptive cross-sectional study that was conducted on secondary medical record data of women with histopathologically-confirmed endometriosis between the period of July 2022 to December 2024 to achieve the objective mentioned previously by applying total sampling. Variables analyzed included age, age at menarche, menstrual cycle pattern, disease stage based on the revised American Society for Reproductive Medicine classification, marital status, parity, and body mass index. Data were then summarized using descriptive statistics.Results: A total of 507 patients were included. The highest number of cases occurred in 2024 (57.2%). Most patients were aged between 15 – 49 years (98.4%), had menarche at 8 – 15 years (98.8%), and regular menstrual cycles (98.0%). Stage IV was predominant (61.1%). Nearly half were nulliparous (49.5%), were married (94.1%), and had normal body mass index (38.5%).Conclusion: Most patients with endometriosis in this study were of reproductive age and were predominantly diagnosed at an advanced stage with nulliparity frequently observed.Distribusi dan Karakteristik Klinis Endometriosis di Rumah Sakit Rujukan Tersier di Indonesia: Studi Potong LintangAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prevalensi dan distribusi karakteristik demografi serta reproduksi pasien endometriosis di rumah sakit rujukan tersier di Palembang, Indonesia.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder rekam medis pasien endometriosis yang terkonfirmasi secara histopatologi periode Juli 2022 hingga Desember 2024. Variabel yang dianalisis meliputi usia, usia menarche, pola siklus menstruasi, derajat berdasarkan klasifikasi Revised American Society for Reproductive Medicine, status pernikahan, paritas, dan indeks massa tubuh. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 507 pasien memenuhi kriteria. Kasus terbanyak ditemukan pada tahun 2024 (57,2%). Mayoritas pasien berusia 15 – 49 tahun (98,4%), usia menarche 8 – 15 tahun (98,8%), dan siklus menstruasi teratur (98,0%). Stadium IV mendominasi (61,1%). Sebanyak 49,5% pasien merupakan nulipara, 94,1% telah menikah, dan 38,5% memiliki indeks massa tubuh normal.Kesimpulan: Sebagian besar pasien endometriosis dalam penelitian ini merupakan wanita usia reproduktif dan terdiagnosis pada stadium lanjut dengan nuliparitas sebagai karakteristik yang sering ditemukan.