cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Hubungan Kadar Vitamin D Serum dengan Konsentrasi, Motilitas dan Morfologi Sperma pada Pria Subfertil di Klinik Teknologi Reproduksi Berbantu Aster Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Magnadi Yogi Rahma; Wiryawan Permadi; Anita Rachmawati; Jusuf Sulaeman Effendi; Tono Djuwantono; Budi Handono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.481 KB) | DOI: 10.24198/obgynia/v3n1.89

Abstract

Tujuan: Untuk menganalisis hubungan kadar vitamin D dengan kualitas sperma pada pria subfertil, serta membandingkan kualitas sperma berdasarkan klasifikasi kadar vitamin D serum pada pria normospermia dan pria oligoasthenoteratospermia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat observasional analitik dengan rancangan studi potong lintang. Subjek penelitian adalah pria subfertil yang berusia 20-50 tahun, dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 30 pasien normospermia dan 16 pasien oligoasthenoteratospermia berdasarkan berdasarkan kriteria World Health Organization 2010. Penelitian dilakukan di Klinik Teknologi Reproduksi Berbantu Aster, RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Analisis data menggunakan analisis korelasi rank SpearmanHasil: Pada penelitian ini didapatkan korelasi positif antara kadar vitamin D dan motilitas sperma ( r = 0,639, p = < 0,001), tetapi tidak didapatkan korelasi pada konsentrasi dan morfologi sperma ( p>0,05). Perbedaan yang bermakna didapatkan antara kadar vitamin D pada kelompok normospermia dan oligoasthenoteratospermia dengan nilai p<0,05. Pada perbandingan kualitas sperma berdasarkan klasifikasi kadar vitamin D hanya motilitas sperma saja yang memiliki perbedaan bermakna dengan nilai p<0,05.Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara kadar vitamin D serum dan motilitas sperma.Correlation Of Vitamin D Serum Level With Concentration, Motility, And Morphology Of Spermatozoa Subfertil In Assisted Reproductive Technology Aster Clinic Hasan Sadikin Hospital BandungAbstractObjective: This study aims to analyze the relationship of vitamin D levels with sperm quality in subfertile men, as well as comparing sperm quality based on vitamin D serum levels classification in normospermic men and oligoasthenoteratospermia men.Method: This study is an analytic observasional with cross sectional design. Research subjects were subfertile men aged 20-50 years divided into 2 groups, consisting of 30 patients with normospermic and 16 patients with oligoasthenoteratospermia based on World Health Organization 2010 criteria. The research was conducted at Assisted Reproductive Technology Aster, RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Data analysis was using Spearman’s rank correlation analytic.Result: We found a positive correlation between vitamin D levels and sperm motility (r = 0.639, p = <0.001), but no correlation was found on sperm concentration and morphology (p> 0.05). There was a significant difference between vitamin D levels in normospermic and oligoasthenoteratospermia group with p <0,05. In the sperm quality comparison based on vitamin D serum classification, only sperm motility alone had a significant difference with the value of p <0.05. It was concluded that level of vitamin D serum has positive correlation with sperm motility.Key word: subfertile, vitamin D,  sperm quality
Perbandingan Uji Hemostasis pada Preeklamsia antara Awitan Dini pada Awitan Lambat Aisah Djumadisstsaniah; Yusrawati Yusrawati; Andi Friadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.868 KB) | DOI: 10.24198/obgynia/v3n1.183

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan uji hemostasis pada preeklamsia antara awitan dini (PEAD) dengan awitan lambat (PEAL)Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan potong lintang dengan menggunakan data rekam medis pasien preeklamsia yang dirawat dan atau melahirkan di RSUP DR M Djamil Padang. Analisis univariate disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan analisis univariate menggunakan uji T tidak berpasangan dan uji Mann-WhitneyHasil: PT (Prothrombine Time) dan APTT (Activated Partial Thromboplastin Time) lebih rendah pada PEAD daripada PEAL (p>0,05), D-dimer lebih tinggi PEAD daripada PEAL(p>0,05), dan jumlah trombosit lebih rendah PEAD daripada PEAL(p<0,05)Kesimpulan: Pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan yang bermakna dari parameter faal pembekuan darah berupa PT, APTT, dan D-dimer, tetapi terdapat perbedaan yang bermakna pada jumlah trombosit antara PEAD dan PEAL dengan jumlah trombosit PEAD lebih rendah daripada PEALComparison of Hemostatic Test Result Between Cases of Early and Late Onset PreeclampsiaAbstractObjective: This study aimed to compare haemostatic test of early onset preeclampsia and late onset preeclampsiaMethod: This study was observational analytic study using cross-sectional design that collected data from medical  records patients of preeclampsia who were hospitalized and/or giving birth in RSUP DR M Djamil Padang. Data were analized using Univariate analysis were presented in the form of frequency distribution table and Bivariate data were tested with Independent T-Test and Mann-Whitney TestResult: In this study, there was no differences in prothrombin time, activated partial thromboplastine time and D-dimer but thrombocyte count were different between early and late onset PreeclampsiaConclusion: On this research thrombocyte count is lower in early than late onset Preeclampsia and there is significantly different between early and late onset PreeclampsiaKey words: prothrombin time, activated partial thromboplastin time, D-dimer, thrombocyte count, early and late onset  preeclampsia
Strategi Menurunkan Kematian Ibu Karena Preeklamsi dan Eklamsi Johanes C. Mose
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.545 KB) | DOI: 10.24198/obgynia/v3n1.193

Abstract

Tujuan: Menyimpulkan beberapa hasil penelitian tentang preeklamsi dan upaya menurunkan kematian ibu di negara maju maupun berkembang termasuk di Indonesia dan RSHS Bandung untuk menyusun strategi menurunkan kematian ibu karena preeklamsi.Metode: Dilakukan penelitian potong silang dengan rancangan observasional analitik dengan membandingkan data ibu hamil dengan preeklamsi/eklamsi yang melahirkan di RS Hasan sadikin Bandung periode Maret sampai September 2012 (sebelum JKN) dan 1 Januari 2016 sampai 31 Desember 2017(saat JKN dilaksanakan). Data dianalisis menggunakan uji statistik chi kuadrat untuk membandingkan perbedaan dengan kemaknaan nilai p< 0,05. Hasil: Terjadi kenaikan prevalensi preeklamsi dari 15,53% sebelum JKN, menjadi 25,04% saat JKN dilaksanakan. Terjadi peningkatan prevalensi preeklmasi menurut usia ibu, usia kehamilan, paritas, tingkat pendidikan, jumlah ANC, dan penyakit penyerta hipertensi dan kelainan jantung sebelum dan saat JKN dilaksanakan.Diskusi:  Strategi menurunkan kematian ibu karena preeklamsi/eklamsi, adalah : mendukung program pemerintah untuk mengatasi kemiskinan, pendidikan dan kesulitan transportasi; melaksanakan program sosialisasi kepada masyarakat tentang tanda dan gejala preeklamsi; deteksi dini kelompok risiko dan diagnosis PE dengan pengukuran tekanan darah dan proteinuria serta pemberian pencegahan dengan aspirin dosis rendah dan kalsium; pelatihan pemeriksaan Doppler arteri uterina untuk SpOG serta sosialisasi protokol pengelolaan PE, dan pelatihan ‘preeclampsia special team’ di RS rujukan.Strategies for Reducing Maternal Mortality Due to Preeclampsia and EclampsiaAbstractObjective: To compile the result of studies on preeclampsia-eclampsia and strategies to reduce its maternal mortalities conducted in western and developing countries including Indonesia and Bandung aiming at developing strategies for reducing maternal mortality due to preeclampsia and eclampsia.Method: This is a cross sectional analytic survey by taking the data from medical record to compare and analyze data of mothers with preeclampsia-eclampsia who delivered at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from March to September 2012 (before the implementation of National Health Insurance Program-NHIP) and from January 2016 to December 2017(during the implementation of NHIP). Data was analyzed by mean of Chi-square test and significant difference criteria of p<0.05.  Result: There was a significant increase (p<0.05) in prevalence of preeclampsia before (15,53%) and during (25,04%) the implementation of NHIP. There was a significant increase (p<0.05) of incidence by maternal age, age of pregnancy, multiparity, low educational level, ANC of >4, and evidence of hypertension and cardiac complications before and during the implementation of NHIP. Discussion: The strategies for reducing maternal mortality due to preeclampsia are as follows : supporting the government programs to overcome poverty, education and transportation; socializing signs and symptoms of preeclampsia to the community; early detection of risk factors, blood pressure measurement and urine protein followed by administration of low dose aspirin and calcium tablets for prevention; training on Doppler examination of uterine arteries for OBGYN specialist and socializing standard guidelines and protocol for the management of preeclampsia; and training for a ‘preeclampsia special team’ in referral hospitals.Key words: Preeclampsia, maternal mortality, strategy for reducing maternal mortality.
Antley-Bixler Syndrome: A Case Report and Literature Review Hermanto Hermanto; Irwan Taufiqur Rachman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.884 KB) | DOI: 10.24198/obgynia/v3n1.181

Abstract

Sindroma Antley-Bixler pertama kali dikemukakan oleh Ray Antley dan David Bixler tahun 1975. Sindroma ini jarang dan berhubungan dengan kelainan perkembangan tulang dan kartilago sehingga sering disebut multisynostotic osteodysgenesis syndrome. Craniosynostosis dan synostosis radiohumeral merupakan temuan yang paling konsisten. Penyebab sindroma ini belum jelas, diduga karena adanya mutasi genetik.Laporan kasus:Seorang ibu 22 tahun G2P1A0 dirujuk ke poliklinik obstetri dan ginekologi RSUP dr.Sardjito pada usia kehamilan 32-33 minggu untuk pemeriksaan antenatal dengan kecurigaan fetal craniosynostosis dan ventriculomegaly. Pada usia kehamilan 38 minggu, bayi lahir dengan craniosynostosis, ocular hypertelorism, disertai syndactily digiti II-IV pedis dextra et sinistra dengan diagnosis sementara sindroma Apert. Pemeriksaan penunjang yakni MSCT scan kranial dan foto rontgen regio artikulatio cubiti anteroposterior dan lateral menunjukan adanya craniosynostosis dan synostosis radioulna dan radiohumeral bilateral mengarahkan diagnosis sindroma Antley-Bixler. Bayi dipulangkan setelah 24 hari perawatan. Saat ini bayi masih menjalani perawatan berkala di instalasi rawat jalan ilmu kesehatan mata dan bedah saraf RSUP Dr. Sardjito  Kesimpulan: Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas penegakan diagnosis, tatalaksana yang telah dilakukan dan rencana tatalaksana yang akan datang.  Kata kunci : Sindroma Antley-Bixler, craniosynostosis, synostosis radiohumeralAntley-Bixler Syndrome: A Case Report and Literature Review AbstractAntley-Bixler syndrome (ABS) was first described by Ray Antley and David Bixler in 1975. The syndrome is rare and characterized by abnormalities of bone and cartilage development (“syndrome of multisynostotic osteogenesis”). Craniosynostosis and radiohumeral synostosis are the most consistent findings. The cause of this syndrome is unclear, but genetic mutations are suspected.Case report: A 22-year-old female G2P1A0 was referred to the obstetrics and gynecology outpatient clinic at RSUP Dr. Sardjito at 32-33 weeks of gestation for antenatal care and further evaluation due to suspected fetal craniosynostosis and ventriculomegaly. At 38 weeks’ gestation, the baby was born with craniosynostosis, ocular hypertelorism, and syndactily digiti II-IV pedis dextra and sinistra, suspected Apert syndrome. Further investigation by using radiologic examination (cranial MSCT scan and X-ray at anteroposterior and lateral articulation cubital) revealed craniosynostosis, bilateral radioulna and radiohumeral synostosis, directed the diagnosis to Antley-Bixler syndrome. The baby was discharged after 24 days of hospitalization. Currently, the baby is still undergoing regular evaluation and treatment at the Ophthalmology and Neurosurgery outpatient departments at RSUP Dr. SardjitoConclusion: The aim of this case report is to discuss how to diagnose this syndrome and the management that had been done and further plans.
Maternal Obesity Increases Risk for Adverse Maternal Outcome at RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Syifa Alkaf; Optima Fitra Ilhami; Mutiara Budi Azhar; Nuswil Bernolian; Ardesy Melizah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1801.879 KB) | DOI: 10.24198/obgynia/v3n1.178

Abstract

Objective: To find the relationship between level of obesity and adverse maternal outcomes in pregnant women Method: An observational analytic study with a cross sectional design with secondary data from medical record. Subjects were pregnant women who gave birth at RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang in January 2015-December 2017. Samples were taken by purposive sampling technique. BMIs  were divided into 5 categories based on WHO criteria, normoweight, overweight, obese level I, II, and III. Underweight was excluded from the study.Result: Of 252 research subjects, 94 (37.3%) were subjects with normal BMI, 102 (40.5%) were overweight, 44 (17.5%) were obese level I, 6 (2.4%) were level II, and 6 (2.4%) were level III. The maternal outcome consisted of 135 cases (53.6%) of preeclampsia, 6 cases of gestational diabetes mellitus (2.4%), 41 cases of uterine inertia (16.3%), 56 cases of preterm labor (22.2%), assisted delivery 111 cases (44%), and healthcare associated infections (HAIs) 6 cases (2.4%). Further analysis showed that increased level of maternal obesity is related significantly with preeclampsia, gestational diabetes mellitus, uterine inertia, and assisted delivery.Conclusion: There are statistically significant association between obesity level and the incidence of preeclamsia, gestational diabetes, uterine inertia and assisted delivery.Obesitas Pada Wanita Hamil Meningkatkan Morbiditas Maternal Di RSUP Dr. Mohammad Hoesin PalembangAbstrakTujuan: Untuk menemukan hubungan antara tingkat obesitas dengan luaran maternal pada wanita hamil. Metode: Studi analitik observasional dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder rekam medis. Subjek adalah wanita hamil yang melahirkan di RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang pada Januari 2015 - Desember 2017. Sampel diambil secara purposive sampling. Indeks massa tubuh (IMT) dibagi menjadi 5 sesuai kriteria WHO, yaitu normal, berat badan lebih, obesitas level I, II, dan III. Berat badan kurang diekslusi dari penelitian. Hasil: Subjek penelitian dari 252 orang, 94 (37.3%) subjek dengan IMT normal, 102 (40.5%) subjek berat badan berlebih,  44 (17.5%) obesitas level I,  6 (2.4%) obesitas level II, dan 6 (2.4%) obesitas level III. Luaran  maternal terdiri dari 135 kasus (53.6%) of preeklampsia, 6 kasus diabetes mellitus gestasional,  41 kasus inertia uteri  (16.3%), 56 kasus persalinan preterm (22.2%), 111 kasus (44%) persalinan pervaginam berbantu, dan infeksi luka 6 kasus (2.4%).  Analisis menunjukkan adanya tingkatan obesitas maternal berkaitan secara signifikan dengan kejadian preeklampsia, diabetes mellitus gestasional, inertia uteri, dan persalinan pervaginam berbantu. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat obesitas pada ibu hamil dengan preeklampsia, diabetes mellitus gestasional, dan persalinan pervaginam berbantu. Kata kunci: Indeks Massa Tubuh, Obesitas, Luaran Maternal, Morbiditas.
Hubungan Kadar Asam Urat, Laktat Dehidrogenase, Aspartat Aminotransferase Serum Penderita Preeklamsi Berat Disertai Komplikasi dan tanpa Komplikasi Galih Apriadi; Budi Handono; Akhmad Yogi Pramatirta; Jusuf S. Effendi; Tita Husnitawati Madjid; Adhi Pribadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.094 KB) | DOI: 10.24198/obgynia/v3n1.195

Abstract

Tujuan: penelitian ini untuk mencari perbedaan kadar asam urat, laktat dehydrogenase (LDH) dan aspartat aminotransferase (AST) pada serum penderita preeklamsi berat disertai komplikasi dan tanpa komplikasi dan mengukur kuatnya hubungan peningkatan kadar asam urat, LDH dan AST dengan peningkatan risiko terjadinya komplikasi pada pasien preeklamsi berat. Metode: Rancangan penelitian ini adalah penelitian comparative cross sectional dengan metode consecutive sampling. Subjek penelitian adalah penderita preeklamsi berat disertai komplikasi dan tanpa komplikasi (n=68). Hasil: Hasil penelitian didapatkan perbedaan kadar asam urat, LDH dan AST pada kedua kelompok secara bermakna dengan nilai p ≤ 0,05. Peningkatan kadar asam urat, LDH dan AST berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya komplikasi dengan nilai cut off kadar asam urat > 6,5 mg/dL sebesar 33 kali, LDH > 573 U/L sebesar 8,95 kali dan AST > 30 U/L sebesar 5,19 kali. Jika terjadi peningkatan seluruh kadar asam urat, LDH dan AST diatas nilai cut off maka risiko terjadinya komplikasi sebesar 98,1%.Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan kadar asam urat, LDH, AST pada preeklamsi berat disertai komplikasi lebih tinggi dibandingkan preeklamsi berat tanpa komplikasi dan peningkatan kadar asam urat, LDH, AST berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya komplikasi pada preeklamsi berat. Relations of Uric Acid, Lactat Dehydrogenase, and Aspartat Aminotransferase Serum LevelIn Severe Preeclampsia with and Without ComplicationsAbstractObjective: This study compared level of uric acid, LDH, and AST level between severe preeclampsia patients with complication and without complication, and measured correlation between the rise level of uric acid, LDH and AST towards the increased risk of complication in patient with severe preeclampsia.Method: The study design was comparative cross sectional study with consecutive sampling method that compare the results of laboratorium uric acid, LDH, AST between complications and without complications group. Subjects of this study were severe preeclampsia patients with and without complication that fulfilled study criteria (n=68). Result:    It is revealed that the differences level of uric acid, LDH, and AST in both groups were significant with p value ≤ 0.05. Increase level of uric acid, LDH, and AST were related to inreased risk of complication in severe preeclampsia occurence with cut off point of uric acid level of > 6.5 mg/dL by 33 times, LDH level of > 573 U/L by 8.95 times, and AST level of > 30 U/L by 5.19 times. If all uric acid, LDH, and AST level rise above the cut off value so the risk of complication of severe preeclampsia will rise by 98.1%. Conclusion: It is concluded that level of uric acid, LDH, and AST in severe preeclampsia with complication were higher than severe preeclampsia without complication and the rise of uric acid, LDH, and AST were related with the rise of complication risk on severe preeclampsia.     Key word: Severe preeclampsia, complication, uric acid, LDH, AST  
Karakteristik Klinis dan Laboratorium pada Pasien Preeklamsia Berat Awitan Dini dan Awitan Lanjut di RSUP Fatmawati Jakarta Tahun 2016-2017 Annissa Kallista Amyranti; Eva Roria Silalahi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.38 KB) | DOI: 10.24198/obgynia/v3n1.155

Abstract

Tujuan: Preeklamsia adalah sebuah gangguan dan meliputi banyak organ, yang sampai saat ini masih menjadi penyebab kematian ibu tertinggi kedua di dunia dan di Indonesia. Peningkatan kadar asam urat sering ditemukan pada pasien preeklamsia. Diketahui penyebabnya adalah akibat penurunan fungsi ginjal, penurunan kerusakan jaringan, dan peningkatan kerja enzim xantin oksidase.Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode cross-sectional dari data rekam medis pasien preeklamsi berat di RSUP Fatmawati Jakarta. Hasil: Pasien preeklamsia berat di RSUP Fatmawati 60% diantaranya pada kelompok usia 20–35 tahun, dengan IMT ³ 30 sebanyak 42,4%, dan 68,5% pada pasien primi dan multi para. Analisis penelitian penggunakan uji hipotesis chi square, menunjukan terdapat hubungan antara kadar asam urat darah dengan perburukan preeklampsia berat (p=0,000<0,005).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kadar asam urat darah dengan awitan perburukan preeklamsia berat.Clinical and Laboratory Characteristics of Early and Late Onset Severe Preeclampsia Patients in Fatmawati General Hospital Jakarta 2016-2017AbstractObjective: Preeclampsia is disorder that affects many organs, which until now is still the highest cause of maternal death in the world and in Indonesia. Increased uric acid levels are often found in preeclamsy patients. The causes are known to decrease kidney function, decrease tissue damage, and increase the work of the xanthine oxidase enzyme.Methods: This research was conducted by cross-sectional method by taking medical records of severe preeclampsia patients at Fatmawati General Hospital, Jakarta. Result: Patients with severe preeclampsia  in the Fatmawati General Hospital were 60% approved in the age group 20-35 years, with BMI ³ 30 as many as 42.4% , and 68,5% of them were primiparous and multiparous women. The analysis of the study used the chi square hypothesis test, showed that blood uric acid levels has a relationship on the onset of worsening severe preeclampsia  (p=0,000<0,005).Conclusion: This analysis showed that there was a relationship between blood uric acid levels and the onset of worsening severe preeclampsia .Key words: Severe preeclampsia , uric acid, early onset, late onset.
Gambaran Klinis dan Histopatologi Kasus-kasus Perdarahan Uterus Abnormal di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta Andriana Kumala Dewi; Sony Sugiharto; Angela Felicia Sunjaya; Anthony Paulo Sunjaya
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.945 KB) | DOI: 10.24198/obgynia/v3n1.185

Abstract

Latar Belakang: Kasus perdarahan uterus abnormal (PUA) sering ditemui pada praktek sehari-hari. Prevalensi pada usia reproduktif adalah sekitar 10-30% dan merupakan sebab sekitar 25% dari semua tindakan bedah di bidang ginekologi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan gambaran klinis serta gambaran hasil histopatologi apa saja yang sering ditemukan pada pasien dengan diagnosis PUA.Metode: Penelitian ini adalah deskriptif cross sectional dengan data rekam medis. Data berasal dari pasien yang didiagnosis menderita PUA dan dilakukan tatalaksana operatif selama periode Januari sampai Desember 2018 dari RS Sumber Waras.Hasil:  Diperoleh 87 pasien dengan PUA yang menjalani tindakan operatif dan dilakukan pemeriksaan histopatologi selama periode penelitian. Perdarahan menstruasi yang tidak teratur dan dengan volume banyak menjadi keluhan paling sering ditemukan  (37,8% dan 34,5%). Sedangkan, berdasar hasil gambaran histopatologi yang didapat, ditemukan pada mayoritas pasien ditemukan gambaran patologi struktural (PALM) yaitu 86,2%.Kesimpulan: Berdasarkan klasifikasi PALM COEIN, kelainan struktural ditemukan sebagai penyebab utama PUA berdasar gambaran histopatologis. Clinical and Histopathologic Profile of  Patients with Abnormal Uterine Bleeding in Sumber Waras Hospital JakartaAbstractBackground: Abnormal uterine bleeding is a frequent presenting symptom in everyday practice. It has a prevalence of 10-30% in the reproductive age group and contributes to about 25% of all gynecologic surgical interventions. This study aims to ascertain the etiologies of patients diagnosed with abnormal uterine bleeding based on their clinical and histopathologic profile.Method: This is a descriptive cross-sectional study based on medical records. Data was obtained from patients diagnosed with AUB with an operative intervention between January and December 2018 in Sumber Waras Hospital.Result: There were 87 patients diagnosed with AUB who had undergone operative intervention and histopathologic testing during the study period. Irregular menstrual bleeding and heavy menstrual bleeding is the most common presenting symptom (37.8% and 34.5% respectively). Based on the histopathology results, structural causes of AUB (PALM) was found in most patients (86.2%). Conclusion: Based on the PALM COEIN classification, structural causes were found to be the main etiology of AUB based on histopathologic diagnosis. Key words: Abnormal uterine bleeding, PALM COEIN, leiomyoma, adenomyosis
Pendidikan Era Pandemi COVID-19 Ruswana Anwar
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.250

Abstract

Sejarah pendidikan profesi kedokteran melalui proses yang panjang dan berliku, membutuhkan upaya berkelanjutan yang lebih baik. Tujuan pendidikan profesi adalah untuk mendidik para profesional mengupayakan penyebaran pengetahuan, mempunyai pola pikir kritis dan perilaku etis, kompeten dalam sistem pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat.Pada era pandemi COVID-19, diperlukan pendekatan sistem reformasi pendidikan professional yang terintegrasi dan kepemimpinan yang lebih baik.Pandemi COVID-19 memberikan dampak menyeluruh termasuk pada pendidikan kedokteran. Sebagian besar rotasi mahasiswa kedokteran terhenti terkait pelayanan rumah sakit berfokus pada penanganan COVID-19 dan pembelajaran tatap muka dikelas serta praktik laboratorium ditunda, mahasiswa belajar secara jarak jauh. Pandemi COVID-19 telah merubah pelayanan publik dan potensi perubahan tatalaksana pendidikan kedokteran. Rotasi penugasan yang tinggi antar bagian dan ke berbagai RS jejaring akan meningkatkan risiko peserta didik sebagai faktor penyebab penyebaran. Meskipun demikian+ peserta didik PPDS juga memegang peranan terbesar pada pelayanan medis di RS pendidikan. Terdapat kekhawatiran yang tinggi peserta didik akan dampak COVID-19 pada proses pendidikan mereka.
Perbandingan Nilai Prediktif antara Risk-of-Malignancy Index (RMI) dan Klasifikasi IOTA Simple Rules dalam Prediksi Keganasan pada Kasus Tumor Ovarium di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Huda Toriq; Yudi Mulyana Hidayat; Dodi Suardi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.223

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan penerapan dua metode diagnostik yang telah digunakan di RSHS, yaitu skor RMI dan Klasifikasi IOTA Rules untuk memprediksi keganasan suatu tumor ovarium selama periode 2017−2018Metode: Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan pengambilan data secara retrospektif. Sumber data diperoleh dari rekam medis pasien yang menjalani operasi pengangkatan dan pemeriksaan histopalogis tumor ovarium. Dilakukan pengumpulan informasi mengenai data USG, kadar CA125, skor RMI, klasifikasi IOTA Simple Rules, dan membandingkannya dengan luaran histopatologis.Hasil: 190 kasus tumor ovarium diteliti. 156 kasus (82,1%) memiliki luaran histopatologis ganas dan 34 kasus lainnya (17.9%) jinak. 178 kasus (93,68%) memiliki skor RMI ≥200 dan 12 kasus (6,32%) <200. sebanyak 78 kasus diklasifikasikan sebagai Malignant, 42 kasus Benign, dan 70 kasus lainnya Inconclusive dengan kriteria IOTA Simple Rules. Distribusi CA125 dan Skor RMI pada kedua kelompok luaran histopatologis berbeda secara bermakna (P<0,05). Sensitivitas dan spesifisitas klasifikasi IOTA Simple Rules di RSHS masing-masing 94,23% dan 97,06%, dengan menggabungkan kelompok IOTA inkonklusif dengan kelompok ganas.  Penghitungan sensitivitas dan spesifisitas skor RMI memberikan nilai 95,51% dan 14,71% dengan menggunakan cut-off-point skor RMI 200.Kesimpulan: Sensitivitas dan spesifisitas klasifikasi IOTA Simple Rules lebih baik dibandingkan dengan skor RMI dalam memprediksi keganasan suatu tumor ovarium.Predictive Value Comparison of Risk-of-Malignancy Index (RMI) and IOTA Simple Rules in Predicting Ovarian Tumor Malignancy in Dr. Hasan Sadikin Hospital BandungAbstractObjective: This study was done to evaluate and compare the use of RMI score & IOTA Simple Rule which has been routinely used in Hasan Sadikin Hospital to predict ovarian malignancy in 2017-2018Method: This is a comparative study that collects data retrospectively. Data was obtained from medical record of patient who underwent ovarian tumor surgery, including USG report, CA125, RMI score, IOTA Simple Rules, and compared it with histopathological outcome. Result: 190 ovarian tumor cases was studied. 156 cases (82.1%) have malignant histopathological result and the other 34 cases (17.9%) were benign. 178 (93.68%) cases have RMI score ≥ 200 and 12 cases (6.32%) <200. As much 78 cases were classified as malignant, 42 cases (22.11%) were classified benign, and the other 70 cases were classified inconclusive using IOTA Simple Rules. CA125 and RMI Score distribution on both histopathological group differs significantly (P<0.05). IOTA Simple Rules shows sensitivity and specificity of 94.23% and 97.06% respectively, when inconclusive and malignant results were grouped together. RMI Score showed sensitivity  and specificity of 95.51% and 14.71% respectively using cut-off point of 200.Conclusion: IOTA Simple Rules performs better than RMI in predicting ovarian tumor malignancy.Key words: Ovarian cancer, IOTA, RMI, USG, CA125

Page 7 of 38 | Total Record : 372