cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Kehamilan pada Skar Seksio Sesaria Nuswil Bernolian; Win T. Pangemanan; A. Kurdi Syamsuri; M. Hatta Ansyori; Putri Mirani; Peby Maulina Lestari; Abraham Martadiansyah; Cindy Kesty
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.198

Abstract

Tujuan: Memaparkan klasifikasi, faktor risiko, epidemiologi, cara diagnosis, tatalaksana, dan komplikasi kehamilan pada skar seksio sesareaMetode: Tinjauan pustakaKesimpulan: Kehamilan pada skar SC merupakan kehamilan yang kantung kehamilannya terdapat pada miometrium yang menipis akibat SC sebelumnya. Secara umum, kehamilan pada skar Caesarean Scar Pregnancy (CSP) dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu tipe 1 (endogenik) dan tipe 2 (eksogenik). Kejadiannya berkisar antara 1 per 8.000 dan 1 per 2.500 SC dengan risiko rekurensi 3,2-5,0% pada wanita dengan riwayat SC 1 kali yang ditatalaksana dengan dilatasi dan kuretase dengan atau tanpa embolisasi arteri uterina. Adapun faktor risiko CSP adalah tebal Segmen Bawah Rahim (SBR) <5 mm, kantong kehamilan menonjol ke plika vesikouterina, SC di rumah sakit umum daerah, dan riwayat perdarahan melalui vagina ireguler dan nyeri abdomen selama CSP sebelumnya. Pengobatan CSP dapat secara konservatif dengan metotreksat (MTX) maupun operatif termasuk eksisi jaringan kehamilan dengan laparoskopi, histerotomi, atau histerektomi. Pilihan pengobatan lain termasuk dilatasi dan kuretase, reseksi transervikal (TCR) dengan histeroskopi, embolisasi arteri uterina (UEA), kemoembolisasi arteri uterina, atau penempatan kateter balon ganda.Caesarean Scar PregnancyAbstractObjective: To explain about classification, risk factors, epidemiology, diagnostic methods, management, and complications of Caesarean Scar Pregnancy (CSP).Method: Literature review Conclusion: CSP is a pregnancy where the gestational sac is found in the thin myometrium due to previous CS. In general, Caesarean Scar Pregnancy (CSP) can be divided into 2 types, namely type 1 (endogenic) and type 2 (exogenic). Its incidence ranges from 1 per 8,000 and 1 per 2,500 SC with a recurrence risk of 3.2-5.0% in women with a history of 1 time CS who are treated with dilatation and curettage with or without uterine artery embolization. The risk factors for CSP are lower uterine segment thickness <5 mm, gestational sac pouches protruding into the vesicouterine fold, CS in regional public hospitals, and a history of irregular vaginal bleeding and abdominal pain during previous CSP. Caesarean scar pregnancy treatment can be conservative with methotrexate (MTX) or operatively including excision of pregnancy tissue with laparoscopy, hysterotomy, or hysterectomy. Other treatment options include dilatation and curettage, transcervical resection (TCR) with hysteroscopy, uterine artery embolization (UAE), chemoembolization of the uterine arteries, or placement of a double-balloon catheter.Key words: Caesarean scar pregnancy
Tingkat Pengetahuan dan Sikap Terhadap Perilaku Keikutsertaan Deteksi Dini Kanker Serviks pada Paramedis Perempuan Johanna Sharon Carolina; Maringan Diapari Lumban Tobing; Raden Mas Sonny Sasotya; Zahrotur Rusyda Hinduan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.264

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan sikap paramedis terhadap perilaku partisipatif dalam deteksi dini kanker serviks.Metode: Penelitian ini merupakan Penelitian Observasional Analitik dengan rancangan potong lintang. Data yang digunakan merupakan data primer yang berasal dari hasil wawancara dan kuesioner tervalidasi. Jumlah minimal sampel adalah 206.Hasil: Penelitian ini dilakukan terhadap 220 wanita dengan tingkat pengetahuan pap smear 75,5% dan tes IVA 85,0%. Untuk responden yang melakukan pap smear 6,4%, dan tes IVA 16,8%. Hasil didapatkan tidak ada hubungan antara variabel tingkat pengetahuan dan sikap terhadap perilaku partisipatif dalam deteksi dini kanker serviks pada paramedis wanita (P>0,05).Diskusi: Menurut teori IBM, perilaku yang terjadi dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu pengetahuan dan keterampilan, kecenderungan berperilaku, minat berperilaku, kendala lingkungan, dan kebiasaan berperilaku. Penelitian ini memberikan pengaruh pengetahuan dan sikap terhadap perilaku paramedis.Kesimpulan: Tingkat pengetahuan dan sikap paramedik perempuan tidak berpengaruh terhadap keikutsertaan tes IVA dan Pap smear.Toward Participation Behavior in Early Detection of Cervical Cancer on Women ParamedicAbstract Objective: This study aims to analyze the relationship between the level of knowledge and attitudes of paramedics on participatory behavior in early detection of cervical cancer.Method: This research is an Analytical Observational Research with a cross-sectional design. The data used are primary data derived from validated interviews and questionnaires. The minimum sample size is 206.Result: This study was conducted on 220 women with a Pap smear level of knowledge of 75.5% and an IVA test of 85.0%. For respondents who did pap smears were 6.4%, and IVA tests were 16.8%. The results showed no relationship between the variable level of knowledge and attitudes towards participatory behavior in early detection of cervical cancer in female paramedics (P> 0.05).Discussion: According to IBM theory, a behavior that occurs is influenced by the following five factors, knowledge and skills, the tendency to behave, the interest to behave, environmental constraints, and habits to behave. This study analyzes the effect of knowledge and attitudes on paramedical behavior.Conclusion: The level of knowledge and attitudes of women paramedics did not affect the participation of IVA tests and Pap smears.Key word: Knowledge, attitudes, behavior, early detection of cervical cancer
Luaran Kehamilan dan Persalinan pada Ibu dengan Preeklamsi Berat di RS Panti Wilasa Citarum Semarang Amadea Ivana Hartanto; Theresia Avilla Ririel Kusumosih; Wikan Indrarto
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.240

Abstract

Tujuan: Mengetahui dan mendiskripsikan peningkatan risiko luaran kehamilan dan persalinan pada ibu dengan preeklamsia berat di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang Metode: Desain penelitian menggunakan metode cross sectional dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis dan register persalinan. Populasi penelitian adalah ibu bersalin dengan preeklamsia berat dan tidak preeklamsia yang di rawat inap di RS Panti Wilasa Citarum bulan Januari 2015 – Desember 2015 dengan teknik pengambilan sampel  consecutive dan didapatkan total 106 sampel.Hasil: Karakteristik ibu bersalin paling banyak pada ibu usia 20-35 tahun, primigravida dan tingkat pendidikan SMA. Terdapat variabel yang bermakna secara statistik dengan preeklamsia berat yaitu partus prematur (P=0,001,RR=4,75), seksio sesarea (P=0,000,RR=25,5), perdarahan pascasalin (P=0,02,RR=9). Ada variabel yang tidak bermakna secara statistik dengan preeklamsia berat yaitu solusio plasenta (P=0,241,RR= -), induksi persalinan (P=0,126, RR= -), ekstraksi vakum konstan. Kesimpulan :  Luaran kehamilan dan persalinan ibu dengan preeklamsia berat ditemukan bahwa terdapat peningkatan risiko terjadinya sectio caesarea (RR=25,5), perdarahan pascasalin (RR=9), dan partus prematur (RR=4,75). Tidak terdapat peningkatan risiko terjadinya solusio plasenta, induksi persalinan, dan ekstraksi vakum pada preeklamsia berat. Pregnancy and Labor Outcomes in Women with Severe Preeclampsia in Panti Wilasa Citarum Hospital SemarangAbstractObjective: To know and to describe the increased risk of pregnancy and delivery outcomes in women with severe preeclampsia at Panti Wilasa Citarum Semarang HopsitalMethod : This study used cross sectional method and secondary data from medical record and delivery registry. The population in this study is all the maternity women at Panti Wilasa Citarum Semarang Hospital in January – December 2015.  The sample in this tudy uses consecutive sampling method and the total sample is 106 samples. Result : The results showed that the characteristics of maternity women were aged 20-35 years old with primiparity and senior high school level education. There are statistically significant variables to severe preeclampsia which are preterm delivery (P=0,001, RR=4,75), sectio caesarea (P=0,000, RR=25,5), postpartum hemorrhage (P=0,02,RR=9).  There are statistically non-significant variables which are placental abruption (P=0,241,RR= -), labor induction (P=0,126, RR= -), and vacuum extraction result is constant. Conclusion: The pregnancy and labor outcomes in women with severe preeclampsia was found that there was an increased risk of caesarea (RR=25,5), postpartum hemorrhage (RR=9) and preterm delivery (RR=4,75) in severe preeclampsia. There was no increased risk of placental abruption, labor induction, and vacuum extraction in severe preeclampsia. Key word : Severe preeclampsia, labor outcome, pregnancy outcome
Perbandingan Kadar Testosteron dan Lemak Viseral Pasien Sindrom Ovarium Polikistik di Poliklinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Sebelum dan Setelah Pemberian Terapi Metformin Imelda Rosmaida Siagian; Mulyanusa Amarullah Ritonga; Maringan D.L. Tobing; M. Rizkar Arev Sukarsa
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.205

Abstract

Tujuan: Terdapat 50-70% kasus sindrom ovarium polikistik yang berkaitan dengan adanya resistensi insulin. Peran agen sensitisasi insulin seperti metformin diharapkan dapat memperbaiki kondisi lemak dan testosteron bebas yang tinggi sehingga memperbaiki gejala klinis pasien dengan sindrom ovarium polikistik. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan indeks androgen bebas (sebagai representasi kadar testosteron) dan lemak viseral pasien sindrom ovarium polikistik sebelum dan sesudah diberi pengobatan metformin. Metode: Populasi penelitian didapatkan dari data penelitian DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) 3233 yaitu 29 kasus wanita sindrom ovarium polikistik yang datang untuk berobat di Klinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2013 - Desember 2017, dengan menggunakan metode experimental design dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara purposing sampling yang diambil secara retrospektif pada data sekunder yang terdapat dalam rekam medik. Hasil: Didapatkan rata-rata indeks androgen bebas sebelum pemberian terapi metformin 2.67 ± 0.43 dan sesudah pemberian terapi 1.88 ± 0.37. Rata-rata kadar lemak visceral sebelum pemberian terapi metformin 10.27±2.589% dan sesudah pemberian terapi 8.00±1.488%. Kesimpulan: Sehingga disimpulkan terdapat perbedaan signifikan kadar indeks androgen bebas (p:0.008) dan lemak visceral (p:0,0001) pada pasien sindrom ovarium polikistik sebelum dan sesudah pemberian terapi metformin.Comparasion of free Androgen Index and Viseral Fat in Polycystic Ovary Syndrome Patients in Aster Polyclinic Dr. Hasan Sadikin Bandung Before and After Giving Metformin TherapyAbstractObjective: There are 50-70% of cases of polycystic ovary syndrome associated with insulin resistance. The role of insulin sensitizing agents such as metformin is expected to improve the condition of high fat and free testosteron, thereby improving the clinical symptoms of patients with polycystic ovary syndrome. This study aims to determine differences in free androgen index (represent the value of free testosteron) and visceral fat levels of polycystic ovary syndrome patients before and after being given metformin treatment. Method: The study population was obtained from DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) 3233 research data, namely 29 cases of polycystic ovary syndrome women who came for treatment at the Aster Clinic Dr. Hasan Sadikin Bandung from January 2013 - December 2017, using the experimental design method with the one group pretest-posttest design approach. Sampling was done by purposing sampling taken retrospectively on secondary data contained in the medical record. Result: The average free androgen index levels were obtained before the administration of metformin therapy 2.67 ± 0.43 and after the administration of therapy 1.88 ± 0.37 Average visceral fat levels before administration of metformin therapy 10.27 ± 2.589% and after administration of 8.00 ± 1,488%. Conclusion : It was concluded that there were significant differences in free androgen index (p: 0.008) and visceral fat (p: 0.0001) in patients with polycystic ovary syndrome before and after metformin therapy.Key word: Polycystic ovary syndrome, free androgen index, viseral fat, metformin
Ekspresi Annexin A2 pada Kanker Ginekologi William Alexander Setiawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.174

Abstract

Tujuan: Untuk menentukan adanya hubungan antara ekspresi ANXA2 dan berbagai aspek kanker ginekologi. Metode: Pencarian terstruktur untuk penelitian yang menyelidiki hubungan ekspresi ANXA2 dan kanker serviks, kanker endometrium dan kanker ovarium menggunakan PubMed. Pencarian terbatas pada 10 tahun terakhir dan dilakukan penyaringan dengan kriteria inklusi serta eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil: Dari 52 penelitian didapatkan 9 penelitian yang kemudian dilakukan telaah kritis. ANXA2 diekspresikan berlebih dalam jaringan karsinoma dibandingkan dengan jaringan normal. Kesimpulan: Peningkatan ekspresi ANXA2 berperan dalam proliferasi sel kanker. Ekspresi ANXA2 berkorelasi dengan stadium lanjut dan penyakit metastasis. ANXA2 dapat digunakan untuk memprediksi progresivitas, angka kelangsungan hidup, dan resistensi terhadap rejimen pengobatan.Annexin A2 Expression in Gynecological Cancer: A Systematic ReviewAbstractObjective: To determine the relationship between ANXA2 expression and various aspects of gynecological cancer. Method: A structured search for studies involving the relationship of ANXA2 and cervical cancer, endometrial cancer and ovarian cancer using PubMed. Search is limited to the last 10 years and is screened with predetermined inclusion and exclusion criteria. Result: Of the 52 studies obtained 9 studies which were then carried out critical studies. ANXA2 is overexpressed in carcinoma tissue compared to normal tissue. Conclusion: Increased expression of ANXA2 approved in cancer cell proliferation. Expression of ANXA2 correlates with advanced stage and metastatic disease. ANXA2 can be used to predict progression, survival rates, and resistance to treatment regimens.Key words: Annexin A2, gynecological cancer, proliferation
Hubungan antara Kategori Kardiotokografi dan Jenis Persalinan dan Asfiksia Neonatus Nurul Husna; Vita Murniati Tarawan; Dwi Prasetyo
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.233

Abstract

Tujuan: Melihat hubungan antara pola kardiotokografi dan hasil luaran (cara persalinan dan status asfiksia neonatus).Metode: Penelitian ini observasional analitik retrospektif dengan desain case-control. Penelitian melibatkan pasien-pasien yang melahirkan di RS Hasan Sadikin Bandung antara 2019-2020. Kriteria inklusi adalah pasien dengan kehamilan normal dan/atau dengan kehamilan patologis, pasien dengan usia gestasi 37-40 minggu, kehamilan dengan janin tunggal dan pasien dengan induksi persalinan. Kriteria eksklusi mencakup data pemeriksaan tidak lengkap  anamnesa, pemeriksaan fisik terkait kehamilan dan persalinan, rekaman kardiotokografi, dan skor APGAR menit ke-5; hambatan pertumbuhan janin intrauterine (IUGR); kelainan kongenital (cacat bawaan) dan infeksi/demam pada ibu. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari rekam medis. Metode perekrutan sampel menggunakan consecutive admission sampling. Analisis data secara deskriptif dan analitik dilakukan. Hasil: Rerata usia pasien adalah 26,83±7 tahun. Pasien paling banyak memiliki latar belakang pendidikan tamat SMA (51,7%). 48,3% pasien belum pernah bersalin. 53,3% pasien sedang hamil 39-40 minggu saat bergabung dengan penelitian ini. Rata-rata berat bayi lahir sebesar 2923,33±385,229 gr. Untuk APGAR Score 5’ memiliki rata-rata sebesar 7,68±2,347. Ditemukan bahwa kategori kardiotokografi patologis secara signifikan meningkatkan terjadinya asfiksia (p=0,024). Kemudian, temuan kardiotokografi patologis juga secara signifikan meningkatkan pemilihan seksio sesarea sebagai metode persalinan (p<0,001).  Kesimpulan: Pola kardiotokografi patologis secara signifikan meningkatkan risiko munculnya asfiksia pada neonatus. Association between Cardiotocographic traces, and mode of delivery and asphyxiaAbstractObjective: the aim of this study is to evaluate the association between cardiotocographic traces and maternal and neonatal outcomes (mode of delivery and neonatal asphyxia status).   Method: This is a retrospective observational analytical case-control study involving patients delivering at Hasan Sadikin General Hospital between 2019-2020. The inclusion criteria were patients with normal pregnancies and/or pathologic pregnancies at 37-40 weeks of gestation, singleton pregnancies and patients with induced labor. The exclusion criteria were the following: incomplete case notes (patient history, physical examination, CTG record and 5-minute APGAR score), intrauterine growth restriction (IUGR); fetal with congenital anomalies dan maternal infection and/or fever. This study utilized secondary data from patient case notes. This study employed consecutive admission sampling. Descriptive and analytical statistics were performed. Results: Mean patient age was 26,83 ±7 years. 51,7% patients were high-school graduates. 48,3% were nulliparous. 53,3% were at 39-40 weeks of gestation. Mean neonatal birth weight was 2923,33±385 gr. Mean 5-minute APGAR score was 7,68±2. Pathologic CTG traces significantly increased perinatal asphyxia (p=0,024). Pathologic CTG traces also significantly increased the use of caesarean section as method of delivery (p<0,001). Conclusion: Pathologic CTG traces significantly increased the likelihood of neonatal asphyxia. Key words: Cardiotocography, Asphyxia, Delivery, APGAR
Gambaran Kematian Maternal di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2019 Akhmad Yogi Pramatirta; Rizna Tyrani Rumanti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.200

Abstract

Tujuan: Penelitian ini adalah untuk untuk memberikan gambaran mengenai kematian maternal yang terjadi di Rumah Sakit Hasan Sadikin tahun 2019Metode: Subjek penelitian ini adalah seluruh kematian maternal selama bulan 2019 di Rumah Sakit Hasan Sadikin. Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian deskriptif dan dengan rancangan penelitian cross sectional yaitu cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data dimana pengumpulan data tersebut dilakukan pada saat yang bersamaanHasil: Karakteristik kematian maternal terbanyak adalah usia reproduksi (88,8%), paritas terbanyak adalah multipara (58,3%), berpendidikan cukup tinggi (94,5%), seluruh pasien kematian maternal memiliki kontak antenatal dengan tenaga kesehatan (100%) namun sebagian besar hanya melakukan kontak antenatal <8 kali (74,4%), dan penyebab terbanyak dari kematian adalah hipertensi dalam kehamilan (63,9%)Kesimpulan: Kematian maternal berkaitan dengan kontak antenatal yang kurang adekuat. Kontak antenatal yang tidak adekuat menyebabkan penanganan pasien dengan risiko tinggi menjadi kurang baik, terutama pasien dengan faktor risiko preeklampsiaDescription of Maternal Death in  Dr. Hasan Sadikin General Hospital in 2019AbstractObjective: The purpose of this study was to provide an overview of maternal deaths that occurred at Hasan Sadikin Hospital in 2019Method: The subjects of this study were all maternal deaths during 2019 at Hasan Sadikin Hospital. This research was conducted with descriptive survey, cross sectional research design that is a way of approaching, observing or collecting data where the data collection was carried out at the same timeResult: The characteristics of the most maternal deaths are reproductive age (88.8%), most parity is multiparaous (58.3%), highly educated (94.5%), all maternal death patients have antenatal care with health workers (100%) but most only had antenatal care <8 times (74.4%), and the most common cause of death was hypertension in pregnancy (63.9%)Conclusion: Maternal deaths are associated with inadequate antenatal care. Inadequate antenatal care causes poor management of patients with high risk, especially patients with risk factors for preeclampsiaKey words: Maternal death, antenatal care
Pelvic Inflammatory Disease (PID) Management in Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Pandemic Era I Gde Sastra Winata; Musa Taufiq
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.239

Abstract

Objective: This article aims to review pelvic inflammatory disease management during the coronavirus disease 2019 pandemicMethod: We conducted a search for scientific articles through PubMed and Google Scholar, using the terminologies of “PID AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease”; “Pelvic Inflammatory Disease AND COVID-19”, “PID Management AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease Management AND COVID-19”, and “PID AND Pandemic” in English and Indonesian from 2019-2020.Result: There were a total of 25 scientific articles from PubMed and Google Scholar within 2019-2020 that were included as the source of this reviewConclusion: There is no difference between the management of pelvic inflammatory disease during and before the pandemic. The mode of medical services and follow up tends to be conducted virtually. Technology-based services for pelvic inflammatory disease during the corona virus disease 2019 pandemic are promising and have been proven to be an effective method, therefore virtual-based pelvic inflammatory disease services may be safely applied. However, if there is any indication of emergency found during the telemedicine services, a face-to-face consultation or emergency room visit should be recommended.Key words : COVID-19, Pelvic Inflammatory Disease, SARS-CoV-2Tatalaksana Radang Panggul selama Era Pandemi Virus Corona 2019 (COVID-19)AbstrakTujuan: Melakukan kajian mengenai tatalaksana dari penyakit radang panggul selama pandemi penyakit coronavirus 2019Metode: Kami melakukan pencarian artikel ilmiah melalui PubMed dan Google Scholar menggunakan terminologi “PID AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease”; “Pelvic Inflammatory Disease AND COVID-19”, “PID Management AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease Management AND COVID-19”, and “PID AND Pandemic” dalam Bahasa Inggris dan Indonesia dari tahun 2019-2020. Hasil: Ditemukan sebanyak 25 publikasi ilmiah dari pencarian di PubMed dan Google Scholar pada tahun 2019- 2020 yang digunakan sebagai sumber kajian ilmiah ini.Kesimpulan: Tatalaksana penyakit radang panggul sebelum dan selama pandemi tidak berubah. Metode pelayanan kesehatan dan follow up cenderung dilakukan secara virtual. Pelayanan kesehatan berbasis tekonologi untuk penyakit radang panggul selama pandemi penyakit coronavirus 2019 menjanjikan dan telah terbukti sebagai metode yang efektif, sehingga pelayanan kesehatan untuk penyakit radang panggul secara virtual dapat diaplikasikan secara aman. Jika ditemukan adanya indikasi kegawatdaruratan selama pelayanan telemedicine, pasien sebaiknya melakukan konsultasi tatap muka atau mengunjungi instalasi gawat darurat. Kata kunci: COVID-19, penyakit radang panggul, SARS-CoV-2
Luaran Kehamilan pada Pasien dengan Infertilitas Berkaitan dengan Endometriosis, Infertilitas karena Faktor Tuba, dan Unexplained Infertility, setelah Menjalani Prosedur IVF / ICSI di Klinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Dewi Retno Wulandari; Budi Handono; Anita Rachmawati; Dini Hidayat
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.206

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan luaran kehamilan dari setiap penyebab infertilitas pada pasien yang dilakukan teknologi reproduksi berbantu.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analisis komparatif yang dilakukan secara longitudinal retrospektif. Data didapatkan dari rekam medik pasien dengan infertilitas terkait endometriosis, faktor tuba, dan unexplained infertility, setelah menjalani prosedur in vitro fertilization dan intra cytoplasmic sperm injection pada  Januari 2013− Desember 2018. Luaran yang dinilai pada penelitian ini adalah kehamilan, abortus, dan kehamilan ektopik. Hasil: Sebanyak 94 pasien menjadi subjek penelitian ini. Infertilitas karena faktor tuba menjadi penyebab infertilitas terbanyak (74,5%) dan unexplained infertility menjadi penyebab terjarang (8,5%).  Intra cytoplasmic sperm injection merupakan metode reproduksi berbantu yang paling sering dilakukan (78,7%). Luaran kehamilan dengan persalinan terjadi pada 65 subjek (69,1%) sementara sisanya abortus. Tidak terdapat kejadian kehamilan ektopik. Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam luaran kehamilan berdasarkan penyebab infertilitasnya (p=0,21).Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan luaran kehamilan baik partus ataupun abortus pada pasien yang dilakukan teknologi reproduksi berbantu berdasarkan penyebab infertilitasnya.Pregnancy Outcomes in Patients with Infertility Related to Endometriosis, Infertility due to Tubal Factors, and Unexplained Infertility, After Undergoing IVF/ICSI Procedures in Aster Clinic General Hospital Dr. Hasan Sadikin BandungAbstractObjective: This study was aimed to describe and compare the pregnancy outcomes in each cause of infertility on patients who get assisted-reproduction technology procedure.Method: This was an analytic comparative study, that conducted longitudinal-retrospectively. The data were obtained from medical records of patients with endometriosis associated infertility, tubal factors associated infertility, and unexplained infertility after got either in vitro fertilization or intra cytoplasmic sperm injection procedure from January 2013–December 2018. The pregnancy outcomes consisted of delivery, abortion, or ectopic pregnancy. Result: A total of 94 patients were enrolled in this study. Tubal factors was the commonest cause of infertility (74.5%) and unexplained infertility was the most rarely cause of infertility (8.5%). Intra cytoplasmic sperm injection was the most frequent procedures (78.7%). Labor were  occurred in 65 subjects (69.1%) and the remains aborted.  Ectopic pregnancy was not occurred. There was no significant difference in pregnancy outcomes according the causes of infertility. (p=0,21).Conclusion: Pregnancy outcomes, both labor and abortion, were not different based on the cause of infertility among patients who get assisted-reproduction technology procedure.Key words: assisted-reproduction technology, in vitro fertilization, infertility, intra cytoplasmic sperm
Comparison of Nifedipine and Isoxsuprine to Cervical Length in Threatened Preterm Labor Triyoga Pramadana; Anita Rachmawati; Dini Pusianawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.255

Abstract

Objective: This study aimed to determine differences in cervical length changes between administration of nifedipine and isoxsuprine. Method: Subjects of the study were pregnant women who meet the inclusion criteria (n=16). Treatments were given for 48 hours. Parameters measured was the cervical length before and after the administration of nifedipine and isoxsuprine. This study was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital from January until April 2020.Result: Less shortening of the cervical length after administration of tocolytic isoxsuprin for 48 hours compared with tocolytic nifedipine and statistically significant with p value of 0.0001 (p<0.05) using Paired T tests.Conclusion: Isoxsuprin is more effective to prevent shortening of the cervical length compared to nifedipine in cases of threatened preterm labor.Perbandingan Efek Nifedipine dan Isoxsuprine terhadap Panjang Serviks pada Persalinan Preterm TerancamAbstrakTujuan: Studi ini bertujuan untuk menelaah perbedaan perubahan panjang serviks antara pemberian nifedipine dan isoxsuprine.Metode: Studi ini adalah sebuah uji klinis acak dengan metode randomisasi buta ganda. Partisipan studi ini adalah wanita hamil yang memenuhi kriteria inklusi (n=16).  Pengobatan diberikan selama 48 jam. Parameter yang diukur adalah panjang serviks sebelum dan sesudah administrasi nifedipine dan isoxsuprine. Studi ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada Januari sampai April 2020. Hasil: Terdapat lebih sedikit pemendekan serviks pada pemberian isoxsuprine selama 48 jam dibandingkan dengan nifedipine (p=0.0001).Kesimpulan: Isoxsuprine lebih efektif untuk mencegah pemendekan serviks dibandingkan dengan nifedipine pada kasus persalinan preterm terancam. Kata kunci: Nifedipine, Isoxsuprine, Panjang serviks, Persalinan preterm terancam

Page 8 of 38 | Total Record : 372