cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Pengaruh Vaksin BCG dalam Meningkatkan Proses Segresi Seluler pada Lesi Prakanker Serviks Uteri Derajat Rendah Yudi Mulyana Hidayat; Putu Giri Saputro; Dodi Suardi; Gatot N. A. Winarno; Siti Salima; Ali Budi Harsono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.82

Abstract

Tujuan: Penelitian ini adalah untuk menganalisis peranan pemberian vaksin bacille calmette-guerin (BCG) terhadap proses regresi seluler pada lesi prakanker serviks uteri derajat rendahMetode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan pretest (IVA dan Histopatologi) - posttest (IVA dan Test HPV DNA) with control design di Poliklinik Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Desember 2017-Maret 2018. Hasil: Untuk pemeriksaan IVA bulan ke-0 pada kelompok BCG kategori positif sebanyak 9 (100.0%) sedangkan untuk pemeriksaan IVA bulan ke-3 pada kelompok BCG kategori positif sebanyak 3 (33.3%) dan negatif menjadi sebanyak 6 (66.7%), pemeriksaan tes HPV DNA bulan ke 12 pada kelompok BCG kategori positif HPV DNA High Risk tidak ditemukan ( 0 % ). Hasil uji statistik pada kelompok perlakuan diperoleh nilai p<0.05. Untuk pemeriksaan IVA bulan ke-0 pada kelompok plasebo kategori positif sebanyak 9 (100.0%) sedangkan untuk pemeriksaan IVA bulan ke-3 pada kelompok plasebo kategori positif sebanyak 8 (88.9%) dan negatif menjadi sebanyak 1 (11.1%). pemeriksaan tes HPV DNA bulan ke 12 kelompok BCG kategori positif HPV DNA High Risk sebanyak  1 orang ( 11,1%). Hasil uji statistik pada kelompok kontrol diperoleh informasi nilai p>0.05.Kesimpulan: Terdapat peranan pemberian vaksin BCG terhadap regresi seluler lesi prakanker serviks derajat rendah.The effect of Bacille Calmette-Guerin vaccine on regression of cervical intraepithelial neoplasia-1AbstractObjective: The aim of this study was to analyze the role of Baccile Calmete Guerin (BCG) vaccines delivery in low grade precancerous cervical lesions.Methods: The design of the study was a pretest and posttest experimental with control, done at Hasan Sadikin Hospital Bandung Outpatient Clinic during December 2017–March 2018. Result: Patients with positive VIA test in the intervention group in month-0 were 9 patients (100.0%), in month-3 were 3 patients (33.33%) and the other 6 patients (66.7%) changed into negative. Patients with positive VIA test in the control group in month-0 were 9 patients (100.0%), in month 3 were 8 patients (88.9%) and the other 1 patients (11.1%) changed into negative. The result of statistical analysis in the intervention group was p<0.05. The result of statistical analysis in the control group was p>0.05.Conclusion: : there is a role of BCG vaccine in low grade precancerous cervical lesions.Key words: BCG vaccine, VIA test, Low grade cervical precancerous lesions.
C-Reactive Protein Concentration in Very Early, Early and Late Preterm Labour Tita Husnitawati Madjid; Rose Dita Prasetyawati; Nathania Nathania; Wulan Ardhana Iswari; M. Alamsyah Aziz; Dini Pusianawati; Jusuf Sulaeman Effendi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.199

Abstract

Objective: Preterm labor (PTL) is related to neonatal morbidity and mortality. The etiology of PTL is multifactorial, however maternal inflammation is suspected to play a large role. Research has indicated a relationship between the increase of C-reactive protein (CRP), a biomarker of general tissue inflammation to the incidence of preterm labor. This study aimed at examining the relationship between preterm labor and CRP levels.Method: This was a case-control retrospective study.  Cases were patients presenting with preterm labor who came to the Department of Obstetrics and Gynecology of Hasan Sadikin Hospital Bandung. Patients were classified into very early preterm, early preterm, late preterm; control group was taken from patients without delivery complication (n=20/group).  CRP serum was examined using immunoassay method.Result: CRP median value in the early preterm group was greater than very early preterm, early preterm, and control (8.15 mg/L vs 6.5 mg/L vs 5.6 mg/L vs 5.75 mg/L, respectively) but statistical significance was not achieved (p> 0.05). Further comparisons between the very early, early preterm vs control and late preterm vs control groups were performed and no statistical significance was found.Conclusion: Further research is required to investigate the link between maternal CRP and preterm labor.Konsentrat Protein C-Reaktif (PCR) pada Persalinan Prematur Sangat Awal, Awal, dan TerlambatAbstrakTujuan: Persalinan prematur memiliki kaitan yang erat dengan morbiditas dan mortalitas neonatus. Etiologi persalinan prematur ini dipengaruhi oleh multifaktor. Namun, inflamasi maternal menjadi salah satu faktor yang dicurigai paling mempengaruhi. Beberapa penelitian melihat adanya hubungan antara peningkatan Protein C-Reaktif (PCR), biomarker untuk inflamasi jaringan secara umum, dengan insidensi persalinan prematur. Penelitian ini bertujuan untuk melihat relasi antara kadar PCR dengan kejadian persalinan prematur.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kasus kontrol (case control). Kasus berasal dari pasien dengan persalinan prematur yang datang ke Departemen Obstetri dan Ginekologi RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Pasien dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu persalinan prematur sangat awal, awal, dan terlambat. Kelompok kontrol diambil dari pasien yang menjalani persalinan tanpa komplikasi (n=20/kelompok). Serum PCR dianalisa menggunakan metode uji imunoserologi (immunoassay).Hasil: Nilai median PCR pada kelompok prematur awal lebih besar daripada kelompok prematur sangat awal, awal, dan kontrol (secara berurutan, 8.15 mg/L vs 6.5 mg/L vs 5.6 mg/L vs 5.75 mg/L), namun tidak signifikan secara statistik (p>0,05). Perbandingan lebih lanjut antara prematur sangat awal, awal, dengan kelompok kontrol serta prematur terlambat dengan kelompok kontrol dilakukan dan tidak signifikan secara statistik.Kesimpulan: Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk melihat hubungan antara kadar PCR maternal dengan persalinan prematur. Kata kunci: protein C-reaktif, persalinan prematur
Characteristics of Infertility Causes in Patients Undergoing in Vitro Fertilization (IVF) Ida Bagus Putra Adnyana; Ida Bagus Rendra Kurniawan Artha; Anton Tanjung; Luthfi Rahman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.245

Abstract

Tujuan: Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik faktor penyebab infertilitas pada pasangan yang menjalani in-vitro fertilization (IVF) di Klinik Bayi Tabung Rumah Sakit Umum Bali Royal Hospital periode Januari Desember 2019.Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional dengan populasi target penelitian adalah pasangan infertil yang datang ke Klinik Bayi Tabung Rumah Sakit Umum (RSU) Bali Royal Hospital dengan tindakan IVF pada tahun 2019. Data selanjutnya diolah berdasarkan karakteristik sampel, faktor istri, faktor suami, serta faktor lainnya. Hasil: Pada periode 1 Januari–31 Desember 2019, tercatat sebanyak 174 kasus pasien infertilitas. Pada penelitian ini diperoleh bahwa 60,23% terjadi gangguan pada tuba yang merupakan penyebab tertinggi pada kelompok istri, sedangkan gangguan sperma berupa oligoasthenoteratozoospermia (81,82%) merupakan hasil paling tinggi pada kelompok suami. kelainan lainnya yang mengganggu proses fertilisasi pada penelitian ini adalah terdapatnya kelainan uterus pada 23,36% pasangan.Kesimpulan: Faktor kelainan tuba dan oligoastenoteratozoospermia merupakan karakteristik penyebab terbanyak infertilitas pada pasangan yang dilakukan IVFKata kunci: Infertilitas, IVF,Kelainan tuba, OligoasthenoteratozoospermiaCharacteristics of Infertility Causes in Patients Undergoing in Vitro Fertilization (IVF)AbstractObjective: The study was done to determine the characteristics of infertility cause in couples undergoing in-vitro fertilization in in-vitro fertilization clinic Bali Royal Hospital Denpasar on January–December 2019.Method: This was an observational descriptive study with study population of infertile couples that went to in-vitro fertilization clinic at Bali Royal Hospital Denpasar for IVF on 2019. The data obtained will be described based on sample characteristics, female factor, male factor and other factors. Result: In one-year period of 1 January–31 December 2019, there were 174 infertile cases included in this study. In this study, we concluded that the most common cause for female factor was tubal problems (60.23%), and for male factor was oligoasthenoteratozoosperm (81.82%), another abnormalities that affect couples fertility were uterus abnormalities (23.26%)Conclusion: Fallopian tube abnormalities and oligoastenoteratozoospermia were the most common causes of infertility in couples with IVF
Akurasi Spesivisitas dan Sensitivitas Angka RMI 2 Skor pada Penderita Tumor Ganas Ovarium di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode 2017−2018 Arieff Kustiandi; Yudi Mulyana Hidayat; R.M Sonny Sasotya; Andi Kurniadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.207

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesifitas dan sensitivitas skor RMI 2 dalam  menentukan  keganasan ovarium. Kadar CA 125 dan skor RMI 2 diukur dari hasil pemeriksaan histopatologi digunakan sebagai pemeriksaan gold standard. Penelitian ini dilakukan pada periode Januari 2017−Desember 2018.Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Data kategorik diuji dengan uji chi-square atau  uji Exact Fisher. Data numerik digunakan  uji-t tidak berpasangan atau  uji Mann Whitney. Sumber data diperoleh dari rekam medis pasien di Poli Ginekologi Onkologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung berdasarkan angka skor RMI 2 pada penderita suspek tumor ganas ovarium.Hasil: Sampel berjumlah 172 dengan  31 berkategori  jinak  dan 141 berkategori ganas berdasarkan hasil histopatologi. Hasil penelitian  menunjukkan  nilai median CA 125 kelompok ganas dibanding kelompok jinak (437, 05 vs 212,14) bermakna secara statistik p = 0,001 (nilai p<0,05). Cut of point skor  RMI 2 adalah >200 dengan sensitivitas 95,74% dan spesifisitas 16,12%.Kesimpulan: Skor  RMI 2 adalah metode yang digunakan untuk memprediksi tumor ganas ovarium. Hal ini sangat berguna digunakan dengan  kombinasi CA 125 dengan hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan status menopause atau dikenal dengan Risk Malignancy Index (RMI skor 2 cut off point >200 ) dengan sensitivitas 95,74%, spesifisitas 16,12%dan akurasi 81,39 %. Skor RMI 2 mempunyai sensitivitas yang tinggi, tetapi mempunyai spesivisitas yang rendah, sehingga membutuhkan penelitian lebih lanjut.Accuracy of Specificity and Sensitivity of RMI 2 Score Numbers in Ovarium Fanner Tumors in RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Period 2017-2018AbstractObjective: This study aims to determine the specificity and sensitivity of RMI 2 score in ovarian malignancy. The CA 125 level and the RMI 2 score were measured and adjusted by histopathology examination as gold standard. This research was conducted in period January 2017−December 2018.Methods: This research used observational analitic research method with cross sectional design. Categorical data were tested by chi-square test or Fisher's Exact test. Numerical data are used unpaired t-test or Mann Whitney test. The source of data from medical records of patients in Gynecology Oncology Clinic Dr. Hasan Sadikin Bandung based on the RMI 2 score with suspected ovarian malignant tumors.Result: Samples were 172 with 31 benign categories and 141 malignant categories based on the results of histopathology. The results showed a median value of CA 125 of the malignant group compared to the benign group (437, 05 vs. 212.14) statistically significant p = 0.001 (p value <0.05). The RMI 2 score cut off point > 200 with a sensitivity of 95.74% and specificity of 16.12%. Conclusion: This study is an RMI 2 score is a useful way as a predictor of ovarian malignancy. This is very useful to use with a combination of CA 125 with the results of ultrasonography (USG) and menopausal status or known as the Risk Malignancy Index (RMI score 2 cut off point> 200) with a sensitivity of 95.74%, specificity 16.12% and accuracy 81 , 39%. RMI 2 score has high sensitivity, but has low specificity, so it needs further research.Key words: CA 125, RMI 2 score, ovarian malignancy
Correlation of Serum Vitamin D and Metabolic Disturbances in Polycystic Ovarian Syndrome Shasya Aniza Santoso; Tita Husnitawati Madjid; Anita Rachmawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.253

Abstract

Objective: This study was aimed to determine the correlation between vitamin D and insulin resistance in women with PCOS. Method: This study was correlational analytic with cross-sectional approach to 34 women diagnosed with PCOS based on ultrasonography. Waist circumference and fasting blood glucose (FBG) represented insulin resistance. Women with hormonal therapy and vitamin D supplementation were not included to this study. This study used consecutive sampling method.Result: The average of age was 25.6±6.1 years old. Waist circumference and fasting blood glucose (FBG) represented insulin resistance. The average of waist circumference and FBG were 87.6±12.4 cm and 86.2±27.9 mg/dl, respectively. The mean of vitamin D levels was 11,5±3,6 ng/ml. According to Spearman’s correlation, vitamin D levels were weak negative correlated with waist circumference (r=-0.2; p>0.05) and FBG (r= -0,1; p>0,05), it statistically was not significant.Conclusion: There is weak negative correlation between vitamin D and metabolic syndrome in PCOS patients.Korelasi Kadar Vitamin  D Serum dan Gangguan Metabolik pada Sindrom Ovarium PolikistikAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi vitamin D dengan resistensi insulin pada pasien dengan SOPK.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif dengan pendekatan potong lintang pada 34 subjek penelitian yang didiagnosis SOPK berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Lingkar pinggang dan kadar glukosa darah puasa (GDP) diambil sebagai parameter resistensi insulin. Pasien dengan terapi hormon dan suplementasi vitamin D tidak termasuk dalam subjek penelitian. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling.Hasil: Rerata usia subjek penelitain ini adalah 25,6±6,1 tahun. Lingkar pinggang dan glukosa darah puasa (GDP) diambil sebagai parameter resistensi insulin. Pada penelitian ini subjek memiliki rerata lingkar pinggang 87,6±12,4 dan GDP 86,2±27,9 mg/dl. Rerata kadar vitamin D subjek 11,5±3,6 ng/ml. Berdasarkan uji korelasi Spearman, kadar vitamin D berkorelasi negatif lemah dan tidak signifikan secara statistik baik dengan lingkar pinggang (r= -0,2; p>0,05) maupun dengan GDP (r= -0,1; p>0,05). Kesimpulan: Vitamin D berkorelasi negatif lemah dengan parameter gangguan metabolik resistensi insulin pada pasien SOPK.Kata kunci: sindroma ovarium polikistik, vitamin D, resistensi insulin, sindroma metabolik
Evaluasi Rasionalisme Penggunaan Antibiotik dengan Metode Gyssens pada Pasien Seksio Sesarea di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari – Desember 2018 Aditya Wibowo; Muhammad Alamsyah Aziz; Jusuf Sulaeman Effendi; Dian Tjahyadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.203

Abstract

Tujuan: Mengevaluasi penggunaan antibiotik dengan metode Gyssens pada pasien seksio sesarea di RSUP Hasan Sadikin Bandung pada periode Januari–Desember 2018. Mengevaluasi ketepatan waktu penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien seksio sesarea di RSUP Hasan Sadikin Bandung pada periode Januari–Desember 2018. Mengetahui keuntungan penghematan yang diperoleh jika metode Gyssens digunakan pada periode Januari– Desember 2018.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif retrospektif yang dilaksanakan di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung pada pasien yang dilakukan seksio sesarea. Data diambil dari rekam medis bulan Januari–Desember 2018Hasil: Pasien yang sesuai dengan metode Gyssens sebanyak 451 atau sebesar 59,5%. Untuk pasien yang menggunakan antibiotik profilaksis pre-op sebanyak 722 atau sebesar 95,3%. Sedangkan ketepatan antibiotik profilaksis yang diberikan 30 menit sebelum operasi seksio sesarea 618 pasien atau 81,5%. Penghematan yang dapat diperoleh selama tahun 2018 jika menerapkan metode Gyssens sebesar Rp 73.144.200. Kesimpulan: Penggunaan antibiotik ditemukan masih banyak yang tidak rasional, sehingga kualitas penggunaan antibiotik pada bagian obstetri Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin Bandung masih perlu ditingkatkan.Rationalism Evaluation of the Use of Antibiotics with the Gyssens Method in Caesarean Section Patients at Hasan Sadikin General Hospital BandungPeriod January - December 2018AbstractObjective: To evaluate the use of antibiotics by the Gyssens method in cesarean section patients at Hasan Sadikin General Hospital Bandung in the January-December 2018 period. Evaluate the timeliness of prophylactic antibiotic use in cesarean section patients at Hasan Sadikin General Hospital Bandung in the January-December 2018 period. which is obtained if the Gyssens method is used in the period January - December 2018.Method: This research was a retrospective explorative descriptive study carried out at the RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung in patients who performed cesarean section. Data is taken from medical records from January to December 2018.Result: 451 patients or 59.5% according to Gyssens V method. For patients using prophylaxis antibiotic were 722 or 95.3%. While the accuracy of prophylactic antibiotics given 30 minutes before cesarean section was 618 patients or 81.5%. The savings that can be obtained during 2018 if applying the gyssens method is Rp. 73,144,200.Conclusion: The use of antibiotics was found to still be a lot of irrational, so that the quality of antibiotic use in the obstetrics department of Dr. Hasan Sadikin Bandung still needs to be improved.Key words: Antibiotics, quality of antibiotic use, Gyssen
Validasi Ultrasonografi Transabdominal pada Luaran Kelainan Kongenital Janin di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2018 Yoga Paripurna; M. Rizkar Arev Sukarsa; Hanom Husni Syam; R. M. Sonny Sasotya; Adhi Pribadi; M. Alamsyah Aziz; Akhmad Yogi Pramatirta; Amillia Siddiq
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.215

Abstract

Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui validasi ultrasonografi transabdominal dalam mendeteksi luaran kelainan kongenital janin di RSHS Bandung.Metode: Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan cross-sectional retrospective. Sampel diperoleh dari seluruh pemeriksaan ultrasonografi transabdominal dengan luaran bayi yang lahir di RSHS bulan 1 Januari−31 Desember 2018. Teknik sampling menggunakan consecutive sampling, didapatkan minimal sampel 196 kasus. Pengolahan data menggunakan SPSS dengan analisis uji Chi-kuadrat.Hasil: Hasil yang didapatkan adalah kelainan kongenital Central Nervous System 18,9%, Abdominal wall defect 9,8%, Facial & Neck anomalies 7,6%, Skeletal system 6,8%, Hidrop Fetalis 5,3%, Genito-urinary, Congenital heart disease dan Gastrointestinal system masing-masing sebanyak 2,3%, Thorax anomalies sebanyak 0.8%. Kesimpulan: Secara keseluruhan dapat disimpulkan seluruh ukuran pada analisis diagnostik menunjukkan kategori di atas cukup kuat, didapatkan validasi yang baik ultrasonografi transabdominal pada luaran kelainan kongenital janin.Validation of Transabdominal Ultrasound for Fetal Congenital Abnormalities at Dr. Hasan Sadikin Bandung Hospital in 2018AbstractObjective: The purpose of this study was to determine transabdominal ultrasound validation in detecting fetal congenital abnormalities in RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Methods: This was an observational analytic study with cross-sectional retrospective method. Samples obtained from all transabdominal ultrasonographic examinations with outcome of newborn in RSHS from January 1st-December 31st 2018. Sampling technique was consecutive sampling with minimum sample of 196 cases obtained. Data processing using SPSS with Chi-square analysis transabdominal ultrasonographic.Result: The results obtained are congenital abnormalities of Central Nervous System type 18.9%, Abdominal wall defect 9.8%, Facial & Neck anomalies 7.6%, Skeletal system 6.8%, Fetal Hydrops 5.3%, Genito-urinary, Congenital heart disease and Gastrointestinal system respectively 2.3%, Thorax anomalies 0.8%. Conclusion: All measures in the diagnostic analysis show all categories are quite strong, therefore good ultrasound validation is obtained in the outcome of fetal congenital abnormalities.Key words: Transabdominal ultrasonography, validation, congenital abnormalities
Tatalaksana Kehamilan G5P1A3 Gravida 10–11 Minggu dengan Riwayat Keguguran Berulang Rena Nurita; Ruswana Anwar
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 4 Nomor 1 Maret 2021
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v4n1.238

Abstract

Keguguran berulang merupakan kejadian keguguran paling tidak sebanyak dua kali atau lebih berturut-turut pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan/atau berat janin kurang dari 500 gram. Kejadian keguguran tiga kali atau lebih terjadi pada 1% pasangan. Analisis penyebab dan faktor risiko pada tiap pasien bersifat individu dan perlu dipelajari agar dapat dilakukan penatalaksanaan yang sesuai. Penatalaksanaan yang diberikan perlu memerhatikan kondisi sebelum kehamilan berikutnya dan mempertahankan kehamilan berikutnya yang terjadi.  Kami membahas mengenai G5P1A3 gravida 10–11 minggu dengan riwayat keguguran berulang. Pada skrining faktor risiko dan analisis penyebab keguguran berulang pada pasien ini disebabkan oleh hiperagregasi trombosit, yang belum dapat ditentukan apakah diturunkan atau didapat. Diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis tersebut. Terapi kombinasi aspirin dan heparin merupakan terapi yang tepat untuk pasien ini.  Management of G5P1A3 10–11 Weeks of Pregnancy with History of Recurrent Miscarriage AbstractRecurrent miscarriage is the occurrence of miscarriage at least two or more consecutive times at gestational age less than 20 weeks and/or fetal weight less than 500 grams. Three or more miscarriages occur in 1% couples. The analysis of causes and risk factors for each patient is individualized, so that appropriate management can be carried out. Management is focused on condition before pregnancy and maintenance of the following pregnancy. We discuss about G5P1A3 10-11 weeks of pregnancy with history of recurrent miscarriages. Platelet hyperaggregation, which cannot be determined whether it is inherited or acquired suspected as the etiology of recurrent miscarriage in this patient. Further examination is needed to determine the diagnosis. Combination of aspirin and heparin is the appropriate management for this patient. Key word: aspirin, heparin, platelet hyperaggregation, recurrent miscarriage, thrombophilia
Hubungan Kualitas Hidup dan Kebutuhan Perawatan Paliatif Pasien Kanker Ginekologi di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Rizna Tyrani Rumanti; Akhmad Yogi Pramatirta; Ali Budi Harsono; Jusuf Sulaeman Effendi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.218

Abstract

Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan kualitas hidup dan kebutuhan perawatan paliatif pada pasien kanker ginekologi.       Metode: Subjek penelitian ini adalah seluruh pasien kanker ginekologi yang dirawat di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan November-Desember 2018. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan rancangan cross sectional. Data yang diperoleh dianalisis secara bivariat dengan menggunakan chi square dengan α = 0,05, untuk mengetahui hubungan antara kualitas hidup dengan kebutuhan perawatan paliatif.Hasil: Karakteristik subjek terbanyak berusia > 50 tahun (65,67%), pendidikan dasar (70,15%), ibu rumah tangga (89,55%), pendapatan di atas upah minimum regional (61,19 %), tujuan rawat inap kemoterapi (47,76%) dan tipe kanker karsinoma serviks (43,28%). Subjek penelitian dengan skor paliatif ≥ 4 sebanyak 25 orang (37,31%). Keluhan yang terbanyak adalah berat badan turun dan tidak nafsu makan (86,57 %). Kualitas hidup pasien kategori baik sebanyak 29 orang, sedang 36 orang, dan kurang 2 orang. Kualitas hidup pasien kanker ginekologi berhubungan dengan kebutuhan perawatan paliatif dengan nilai signifikansi p 0,004.Simpulan: Kualitas hidup berhubungan dengan skor paliatif. Semakin rendah skor paliatif maka kualitas hidup semakin baik.Relations of  Quality of Life and Characteristics of Gynecological Cancer Patients In Hasan Sadikin HospitalAbstractObjective: The purpose of this study was to determine the characteristics of gynecological cancer patients, determine the quality of life of all gynecological cancer patients and to asses the correlation of quality of life and palliative care needs in gynecological cancer patients.Method: The subjects of this study were all gynecological cancer patients who were treated at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung in November-December 2018. This study was an analytic study with a cross sectional design. Data obtained from the study were analyzed bivariately using chi square with α = 0.05, to determine the relationship between quality of life and palliative care needs.Results: The most characteristics of the subjects were with age> 50 years (65.67%), primary education (70.15%), housewives (89.55%) with income above the regional minimum wage (61.19%), the main goal of hospitalization is chemotherapy (47.76%) and the most types of cancer are cervical carcinoma (43.28%). The research subjects who had a palliative score of ≥ 4 were 25 people (37.31%). The most complaints were weight loss and no appetite (86.57%). The quality of life of patients with good category was 29 people, medium category was 36 people and poor category was 2 people. The quality of life of gynecological cancer patients has correlation with palliative care needs with a significance value of p 0.004.Conclusion: Quality of life has correlation with palliative scores, the lower the palliative score, the better the quality of life.Key words: Gynecological cancer; quality of life; palliative score
Infeksi COVID-19 Dalam Kehamilan Johanes C Mose
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 2 September 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia/v3n2.228

Abstract

Sejak kasus pertama infeksi Covid-19 di laporkan dari propinsi Wuhan China pada 12 Desember 2019, penyakit ini sudah menyebar dengan sangat cepat dan menjadi pandemi ke hampir seluruh dunia termasuk di Indonesia.Kasus infeksi Covid-19 pada ibu hamil juga semakin meningkat kajadiannya. Perbagai laporan ilmiah membanjiri media sosial dan ilmiah di seluruh dunia tentang epidemiologi, gejala klinis, perjalanan penyakit, etiologi, patomekanisme molekuler dan seluler, upaya deteksi dini, diagnosis, pencegahan dan pengobatannya.Pelbagai organisasi profesi kesehatan dunia menerbitkan serial panduan (guidelines) pengelolaan penyakit ini dalam kehamilan dari waktu ke waktu

Page 9 of 38 | Total Record : 372