cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 393 Documents
Prenatal Diagnosis dan Penatalaksanaan Gastroskisis William Alexander Setiawan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.903 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.125

Abstract

Gastroskisis merupakan defek kongenital yang terjadi pada dinding abdomen janin. Kejadian yang dilaporkan di seluruh dunia berkisar antara 4-5 per 10.000 kelahiran hidup. Mortalitas pada bayi yang lahir dengan gastroschisis telah menurun selama bertahun-tahun tetapi morbiditas masih tetap tinggi. Diperlukan prenatal diagnosis yang optimal agar proses melahirkan bisa dipersiapkan sebaik mungkin. Pada prenatal diagnosis dilakukan penilaian defek kongenital lainnya agar hasil klinis lebih baik dengan manajemen lebih awal, selain itu dilakukan juga penilaian untuk menentukan adanya kelainan kromosom atau tidak. Apabila kelainan tersebut bersifat isolated, maka hasil klinis akan lebih baik dibandingkan gastroschisis dengan kelainan kromosom. Metode persalinan dan waktu persalinan yang direkomendasikan yaitu pada usia kehamilan 37 minggu dengan metode sectio caesarea. Manajemen neonatal meliputi persalinan di fasilitas kesehatan tersier dan manajemen bedah paska kelahiran yaitu penutupan bedah primer, penutupan bertahap dengan silo, atau penutupan umbilikal tanpa jahitan.Prenatal Diagnosis and Management of GastroschisisAbstractGastroskisis is a congenital defect that occurs in the fetal abdominal wall. Events reported throughout the world range from 4-5 per 10,000 live births. Mortality in infants born with Gastroskisis has declined over the years but morbidity is still high. An optimal prenatal diagnosis is needed so that the labor can be prepared as well as possible. Prenatal diagnosis is done by assessing other congenital defects so that clinical results are better with earlier management, in addition assessment is also done to determine whether there is a chromosome abnormality or not. If the abnormality is isolated, the clinical results will be better than Gastroskisis with chromosomal abnormalities. The recommended method of delivery and labor time is 37 weeks gestational age with the sectio caesarea method. Neonatal management includes delivery in tertiary health facilities and management of postnatal surgery namely primary surgical closure, staged reduction with silo and sutureless umbilical closure.Key words: Congenital Defect, Gastroskisis, Prenatal Diagnosis
Kasus yang Langka: Sebuah Persalinan Normal dari Wanita Hamil Prematur dengan Janin Sacrococcygeal Teratoma Cut Sheira Elnita; M. Adrianess Bachnas; Eric Edwin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.429 KB)

Abstract

Latar belakang: Insiden kehamilan dengan janin Sacrococcygeal Teratoma (SCT) yaitu1 dari 35.000 kelahiran hidup. SCT dideteksi dengan skrining ultrasonografi (USG) prenatal trimester kedua.Tujuan; Mendemonstrasikan peran USG janin dalam diagnosis SCT.Laporan kasus: Wanita 20 tahun G2P1A0 kehamilan 28 minggu keluhan kontraksi, pecah selaput ketuban. Teraba janin tunggal, fundus teraba massa padat. Pemeriksaan genital pembukaan serviks 7 cm, USG intrauterin tunggal perkiraan usia kehamilan 28 minggu, tampak massa echogenic campuran dari daerah sacrococcygeal, terdapat daerah padat kistik di dalam massa ukuran 11,4 x 12,3 cm. Kemungkinan invasi ke panggul janin  disimpulkan SCT tipe II. Persalinan pervaginam, berat janin 1600 gram , apgar score 2-3-4, dengan massa padat kistik pada sacrum ukuran 13x13cm. Tampak perdarahan dari massa teratoma.Hasil: SCT adalah neoplasma lesi kistik jinak. Komplikasi berupa perdarahan intramural masif dan distosia. Klasifikasi Altman: massa terdapat di eksterior atau intrapelvik, tipe I(47%): terletak di luar janin. tipe II(35%): massa terdapat di eksternal memiliki ekstensi intrapelvic. tipe III(8%): eksternal terletak di dalam panggul dan perut. tipe IV(10%): presakral tanpa presentasi eksternal. Pada USG, SCT muncul sebagai massa echogenisitas campuran yang memanjang dari sacrum. USG pada SCT padat (20%), kistik(30%) dan campuran(50%). Kesimpulan: Ultrasonografi mempengaruhi keputusan dan manajemen klinis sehingga prognosis baik.Kata kunci: Sacrococcygeal Teratoma, Kehamilan PrematurAbstractBackground:  The incidence of pregnancy with fetal Sacrococcygeal Teratoma (SCT) occurs in 1 out of every 35.000 live births. SCT detected by second trimester prenatal ultrasonography (USG) screening.Objective: Demonstrating the role of fetal ultrasound in the diagnosis of SCT.Case report: a 20 year old G2P1A0 with 28 weeks pregnancy came with contractions and membranes ruptured. Examination found were single fetus, fundus palpable a mass. The cervical dilatation 7 cm, intrauterine ultrasound a 28 weeks of age fetus, appears an echogenic mass in the sacrococcygeal region containing a dense area 11.4x12.3 cm. We concluded an invasive to the fetal pelvis was type II SCT. Vaginal delivery performed, baby weight 1600 grams, apgar score 2-3-4, solid mass in sacrum 13x13cm. Bleeding from teratoma mass emerged.Result: SCT is a rare tumour. Complications consist of massive bleeding and dystocia. SCT classified according to Altman. Type I(47%): located outside fetus, type II(35%): mass available on external with intrapelvic extension, type III(8%): externally located inside pelvis and abdomen, type IV(10%): presacral without external presentation. On ultrasound, SCT appears as a mixed echogenicity mass extending sacrum. Ultrasound: solid SCT(20%), cystic(30%) and mixed(50%).Conclusion: Ultrasonography affects decisions and clinical management that make a good prognosis.Key words: Sacrococcygeal Teratoma, Premature Pregnancy
Manajemen Ekspektatif pada Kehamilan Preterm Gemeli Satu Hidup Satu Meninggal Rimbun Wahyu Gumilar; Yusrawati Yusrawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.626 KB)

Abstract

Latar Belakang: Sindrom transfusi janin kembar/twin to twin transfusion syndrome (TTTS) merupakan komplikasi dari kehamilan multipel monokorion (15%–20 %) dengan risiko morbiditas dan mortalitas tinggi.Tujuan: Melaporkan kasus TTTS.Rancangan dan Metode: Merupakan laporan kasus seorang wanita berusia 30 tahun yang dirawat di bangsal obstetri dan ginekologi RSUP  Dr. M. Djamil Padang periode 9–13 November 2018 dengan diagnosis awal G2P1A0H1 gravid preterm 27–28 minggu dengan TTTS.Hasil: Diagnosis TTTS ditegakkan berdasarkan temuan ultrasonografi;  kehamilan monochorionic diamniotic (MCDA) dan polihidramnion pada salah satu kantung (single deepest pocket: 22,64 cm). Dilakukan amnioreduksi dua kali atas indikasi subyektif (sesak); pasien dipulangkan 1 hari kemudian. Pada kontrol pertama (7 hari setelah pasien dipulangkan), salah satu janin diketahui mengalami intrauterine fetal death (IUFD). Kehamilan dipertahankan hingga aterm dengan pemantauan kadar fibrinogen pasien. Kehamilan diterminasi pada usia kehamilan 37 - 38 minggu secara section caesarea transperitoneal (SCTP) atas indikasi letak lintang. Bayi pertama berjenis kelamin perempuan, berat 1.800 gram, panjang badan 41 cm, appearance, pulse, grimace, activity, respiration (APGAR) score  7/8. Bayi kedua berjenis kelamin perempuan, berat 500 gram, panjang badan 35 cm, derajat maserasi grade III. Penyebab intrauterine growth restriction (IUGR) dan IUFD pada kasus ini diduga karena TTTS.Simpulan: Diperlukan pemantauan kadar fibrinogen hingga kehamilan aterm pada TTTS. Bayi yang lahir hidup memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk memantau komplikasi TTTS.Kata kunci: monochorionic diamniotic, sindrom tranfusi janin kembar, ultrasonografiAbstractBackground: Twin to twin transfusion syndrome (TTTS) syndrome is a complication of multiple monocorionic pregnancies (15% - 20%) with a high risk of morbidity and mortality. Objectives: To report a case of TTTS.Design and Methods: A case report of a woman, 30 years old, was diagnosed as G2P1A0L1 preterm pregnancy 27 - 28 weeks with TTTS. Patient was treated in obstetrics and gynecology ward of Central Public Hospital Dr. M. Djamil Padang since November 9th  2018 until December 13rd 2018. Results: Twin to twin transfusion syndrome was diagnosed by ultrasound findings; the presence of a monochorionic diamniotic (MCDA) pregnancy and the presence of polyhydramnios in the other sac (single deepest pocket: 22.64 cm). Amnioreduction was performed twice for patient’s subjective indication (dyspnea); Patient was discharged one day after second amnioreduction. At first control (7 days after discharged), one of fetal twins was known to intrauterine fetal death (IUFD). Pregnancy was maintained till term by monitoring fibrinogen level. The patient was terminated in pregnancy 37 - 38 weeks by section caesarea transperitoneal (SCTP) for indications of transverse lie position. First baby is female, weight 1.800 gr, length: 41 cm, appearance, pulse, grimace, activity, respiration (APGAR) score 7/8. Second baby is female, weight 500 gr, length 35 cm, maceration level grade III. Twin to twin transfusion syndrome was suspected as cause of intrauterine growth restriction (IUGR) and IUFD in this case.Conclusion: Monitoring of fibrinogen levels is required until aterm pregnancy in  TTTS. Live born baby needs a follow up examination to monitor complications of TTTS.Key words: monochorionic diamniotic, twin to twin transfusion syndrome, ultrasonography
Primigravida Hamil 12 Minggu dengan Atrial Septal Defect Secundum dan Hipertensi Pulmonal Berat Janin Tunggal Hidup Intrauterin Cindy Kesty; Nuswil Bernolian; Kgs Irawan Satria Arjanggi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Special Issue: Case Report
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.446 KB)

Abstract

Latar Belakang: Atrial Septal Defect (ASD) apabila disertai hipertensi pulmonal berat harus dikonseling karena tingginya insiden morbiditas dan mortalitas ibu dan janin. Tujuan: Memaparkan sebuah kasus primigravida dengan ASD secundum dan hipertensi pulmonal berat sehingga dapat dilakukan tatalaksana dan pemilihan kontrasepsi yang sesuai.Metode: Laporan kasus seorang wanita berusia 30 tahun, hamil 12 minggu, mengeluh sesak nafas, batuk pada malam hari, dan jantung berdebar-debar. Hasil rontgen thoraks menunjukkan gambaran hipertensi pulmonal disertai peningkatan vaskularisasi paru. Kateterisasi jantung menunjukkan ASD secundum besar, hipertensi pulmonal berat, high flow, high resistance, dan reaktif dengan tes O2. Hasil ekokardiografi (2017) menunjukkan ASD secundum berat, regurgitasi trikuspid dan pulmonal moderat. Ultrasonografi abdomen menunjukkan kesan hamil 12 minggu janin tunggal hidup intrauterin, mioma uteri intramural dan subserosum, perdarahan subamnion dan subkorion. Pada pasien ini, dilakukan abortus provokatus medisinalis melalui pemberian Prostaglandin dilanjutkan dengan dilatasi dan kuretase.Kesimpulan: Kehamilan pada wanita dengan ASD umumnya ditoleransi dengan baik, dengan luaran ibu dan janin yang baik. Pasien dengan penyakit jantung berat sebaiknya tidak hamil dan bila hamil sebaiknya diterminasi. Preparat estrogen merupakan kontraindikasi pada pasien jantung. Pemilihan kontrasepsi harus mempertimbangkan keparahan, tipe anatomis kelainan jantung, dan keinginan ibu untuk mempertahankan fungsi reproduksinya.Kata Kunci: primigravida, ASD secundum, hipertensi pulmonal  AbstractBackground: Atrial Septal Defect (ASD) with severe pulmonary hypertension should be counseled because of the high incidence of maternal and fetal morbidity and mortality. Objective: Describing a case of primigravida with ASD secundum and severe pulmonary hypertension so that appropriate management and contraception can be selected.Method: A 30-year-old woman, 12 weeks pregnant, suffered from shortness of breath, coughing at night, and palpitations. Chest X-ray showed pulmonary hypertension with increased pulmonary vascularity. Cardiac catheterization showed a large ASD secundum, severe pulmonary hypertension, high flow, high resistance, and reactive O2 test. Echocardiography (2017) showed severe ASD secundum, moderate tricuspid, and pulmonary regurgitation. Abdominal ultrasonography showed 12 weeks gestational age single live fetus intrauterine, intramural and subserosal uterine myoma, and also subamniotic and subchorionic bleeding. We did provoked abortion using Prostaglandin continued with dilatation and curettage.Conclusion: Pregnancy in women with ASD is generally well tolerated, with good maternal and fetal outcomes. Patients suffered from severe heart disease should not be pregnant, and if necessary get pregnancy terminated. Estrogen preparations are contraindicated in these patients. The choice of contraception must consider the severity, the anatomy of heart abnormality, and mother's desire to maintain her reproductive function. Key words: primigravida, ASD secundum, pulmonary hypertension.
Effectiveness Curcuma Longa to Prevent Cells Damage in Early Pregnant Mice with Acute Toxoplasmosis Tigor Peniel Simanjuntak; Mochammad Hatta; Syahrul Rauf; Andi Mardiah Tahir; Irawan Yusuf; Nurpudi Astuti Taslim; Robert Hotman Sirait; Silvia Arin Prabandari
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.935 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.163

Abstract

Objective: To prove the effectiveness of Curcuma longa to prevent damage  cells  by analyzing  FOXP3 gene expression, TNF-α level, and histopathology of placental tissue.  Method: This study was conducted in 20 early pregnant mice, divided in 5 groups (K1-K5). K1-K4 were injected with  tachyzoites. K1 and K2 were intervened with Curcuma longa 125  and 500 mg/kg/day. K3 were intervened with  spiramycin  60 mg/kg/day, K4 were intervened with 0,2 distilled water, and  K5 was not injected and intervened. IgG-IgM levels, FOXP3 mRNA expression, TNF-α level was examined serially, and  placental mice were taken for histopathology examination  7 days after intervention.Result:  FOXP3 mRNA expression in K1 and K2  increased significantly 7 days after intervention compared to K4 (p < 0.05), however the increased  of  expression in two groups has no significant difference. TNF-α level in K1 and K2 decreased significantly 7 days after intervention compared to K4  (p < 0.05), however the decrease of  level in two groups has no significant difference. Hemorrhagic and necrotic cells were not found in K1 and K2, but  were found in  K3 (75%)  and K4 (100%). Conclusion: Curcuma longa 125 mg is effective to prevent cells damage in early pregnant mice with acute toxoplasmosis. Efektivitas Ekstrak Curcuma Longa Mencegah Kerusakan Sel Pada Mencit Hamil Muda dengan Toksoplasmosis Akut.AbstrakTujuan: Membuktikan efektivitas Curcuma longa  mencegah kerusakan sel dengan menganalisis ekspresi gen FOXP3, kadar TNF-α, dan histopatologi jaringan plasenta.Metode: Penelitian dilakukan pada 20 tikus hamil muda, dibagi dalam 5 kelompok (K1-K5). K1-K4 diinjeksi 10 takizoid toksoplasma intra abdominal. Tiga hari pasca injeksi takizoid, K1 dan K2 diintervensi dengan Curcuma longa 125 dan 500 mg / kg / hari. K3 diintervensi dengan spiramisin 60 mg / kg / hari, K4 diintervensi dengan 0,2 ml air suling dan K5 tidak diinjeksi dan tidak diintervensi. Kadar  IgG-IgM, ekspresi mRNA FOXP3, kadar TNF-α diperiksa secara serial  dan  plasenta tikus  diambil untuk pemeriksaan histopatologi  7 hari pasca intervensi.Hasil: Ekspresi mRNA FOXP3 pada K1 dan K2 meningkat bermakna (p< 0.05)  7 hari pasca intervensi dibandingkan dengan K4 (p <0,05), tetapi peningkatan ekspresi pada kedua kelompok tidak terdapat perbedaan bermakna. Kadar TNF-α pada K1 dan K2 menurun bermakna 7 hari pasca intervensi dibandingkan dengan K4 (p <0,05), tetapi  penurunan kadar pada dua kelompok tidak terdapat perbedaan  bermakna. Hemoragik dan nekrotik  sel tidak ditemukan pada K1 dan K2, tetapi ditemukan pada K3 (75%) dan K4 (100%).Kesimpulan: Curcuma longa 125 mg efektif untuk mencegah kerusakan sel pada tikus hamil muda dengan toksoplasmosis akut.Key words: Curcuma longa, kerusakan sel, hamil muda, gene FOXP3, TNF-α, toxoplasmosis
Perspektif Ginekologi Fistula Fesikovaginal Benny Hasan Purwara
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 2 September 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3479.505 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v2n2.107

Abstract

Etiologi fistula vesiko vaginal (FVV) telah berubah, menjadi lebih terkait dengan histerektomi. Meskipun banyak publikasi tentang hal ini, namun pengelolaan FVV tetap menjadi sumber perdebatan. Pilihan pengelolaan masih menjadi masalah mendasar seperti pendekatan bedah yang lebih disukai dan waktu operasi yang optimal masih sangat bervariasi.Di negara-negara berkembang, penyebab utama FVV adalah obstruksi akibat partus lama (97%).1 Sebaliknya, di negara-negara industri cedera iatrogenik pada saluran kemih adalah penyebab paling umum dari FVV dan mayoritas konsekuensi dari pembedahan ginekologis.Diperkirakan bahwa 0,8 per 1.000 dari semua histerektomi dipersulit oleh adanya risiko  FVV.2 Penyebab lain FVV adalah   neoplasma ganas dan iradiasi pelvis. Berbeda dengan fistula obstetrik dan iradiasi, yang khas pada fistula pascaoperasi (pasca histerektomi) adalah hasil dari trauma yang muncul lebih cepat terlihat dan terlokalisasi pada jaringan sehat.
Maturation of Vaginal Epithelium and Dyspareunia Symptoms in Equol Producing and Non-Producing Menopausal Women Tita Husnitawati Madjid; Nurlina Juniar; Dian Tjahyadi; Birgitta M. Dewayani; Wiryawan Permadi; Benny Hasan Purwara; Hadi Susiarno
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.013 KB) | DOI: 10.24198/obgynia/v3n1.194

Abstract

Introduction: Equol is a metabolite of soy isoflavon called daidzein which is produced by gastrointestinal tract bacteria. This research aims to analyze the maturation of vaginal epithelium and dyspareunia symptoms in producing and non-producing equol menopausal women.Method: This is a cross sectional research. Subject was a community of menopausal women who fulfilled inclusion criteria. Subjects were asked to sign a written informed consent. Subjects underwent vaginal epithelium maturation assessment and were asked whether she experienced dyspareunia. Research was conducted in January 2017.Result: There was a significant difference on the maturation of vaginal epithelium and dyspareunia symptoms between equol producing and non-producing women (p < 0.05). This research found that in equol producing menopausal women, there was a shift-to-the-right vaginal epithelium maturation with more superficial cells compared to parabasal cells produced and less dyspareunia. Meanwhile, in women who did not produce equol, there was a shift-to-the-left vaginal epithelium maturation with more parabasal cells compared to superficial cells produced and more dyspareunia.Conclusion: In equol producing menopausal women, vaginal epithelium will undergo a shift-to-the-right maturation, with more superficial cells produced compared to women who did not produce equol.Maturasi Epitel Vagina dan Gejala Dispareunia pada Wanita Menopause yang Menghasilkan Equol dan Wanita yang Tidak Menghasilkan EquolAbstrakPendahuluan: Equol adalah metabolit isoflavon kedelai yang disebut daidzein yang diproduksi oleh bakteri saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis maturasi epitel vagina dan gejala dispareunia pada wanita menopause yang memproduksi dan tidak memproduksi equol.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Subjek penelitian adalah sekelompok wanita menopause yang memenuhi kriteria inklusi. Subjek diminta untuk menandatangani persetujuan tertulis dan menjalani penilaian maturasi epitel vagina dan ditanya apakah mengalami dispareunia. Penelitian dilakukan pada Januari 2017.Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada maturasi epitel vagina dan gejala dispareunia antara wanita yang memproduksi equol dan yang tidak memproduksi (p <0,05). Pada wanita menopause yang memproduksi equol, terjadi pematangan epitel vagina shift-to-the-right disertai produksi sel superfisial yang lebih banyak dibandingkan sel parabasal dan lebih sedikit gejala dispareunia. Sementara itu, pada wanita yang tidak menghasilkan equol, terjadi pergeseran shift-to-the-left maturasi epitel vagina dengan produksi sel parabasal lebih banyak dibandingkan sel superfisial dan lebih sering gejala dispareunia.Kesimpulan: Wanita menopause yang memproduksi equol mengalami maturasi epitel vagina shift-to-the-right disertai produksi sel superfisial yang lebih banyak dibandingkan dengan wanita menopause yang tidak memproduksi equol.Kata kunci: Dyspareunia; equol; maturasi epitel vagina
Hubungan Penggunaan Antiretroviral (ARV) dengan Luaran Neonatal pada Ibu Terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Ariyani, Noor Aida; Radam, M. Robyanoor Ahyadi; Tobing, Samuel L.; Aditya, Renny; Yunanto, Ari; Andayani, Pudji
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1613.138 KB) | DOI: 10.24198/obgynia.v3i1.172

Abstract

Tujuan: Mengetahui hubungan penggunaan antiretroviral pada ibu terinfeksi HIV dengan luaran neonatal. Metode: Menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan data dilakukan dari Poli Klinik VCT dan register VK RSUD Ulin Banjarmasin. Jumlah data dibagi berdasarkan penggunaan antiretroviral dan bukan pengguna antiretroviral di hubungkan dengan hasil luaran neonatal berupa berat badan lahir, prematur, IUGR, asfiksia dan kematian neonatal. Analisis menggunakan uji statistik chi square test bermakna bila p < 0.05 ,bila uji chi square tidak memenuhi kriteria maka dilakukan uji fisher.Hasil: Terdapat 73 kasus melahirkan terinfeksi HIV tahun 2015-2018. Ibu terinfeksi HIV yang menggunakan antiretroviral sebanyak 24 (33%) dan bukan menggunakan antiretroviral sebanyak 49 (67%). Dihubungan penggunaan antiretroviral dengan luaran neonatal berat badan lahir bayi, hasil uji square  <0.05 signifikan yaitu  p 0.019,  hasil luaran neonatal prematur (p = 0.022). Hubungan penggunaan antiretroviral terhadap hasil luaran berupa IUGR, asfiksia dan kematian neonatal didapatakan  p 0.166 ; 0.243 ; 0.649.Kesimpulan: Penggunaan antiretroviral pada ibu hamil terinfeksi HIV mengurangi kejadian bayi berat lahir rendah dan prematurRelationship between Antiretroviral Therapy (ARV) with Neonatal Outcome in Woman with HIV InfectionAbstractObjective: Assess the correlation of antiretroviral medication in HIV-infected pregnant women to the outcome of neonates. Method: Analytical method with a cross-sectional approach was used. Data were obtained from the VCT polyclinic and the register of the VK register of Ulin Banjarmasin Regional General Hospital (RSUD). The data are divided into antiretroviral user and non-antiretroviral users linked with the outcome of the neonate in birth weight, prematurity, IUGR, asphyxia, and neonatal death. Statistical analysis using the chi-square test will suggest a significant difference if the p-value is < 0.05. If the chi-square test can not be used, fisher test will be conducted.Result: There are 73 cases of HIV-infected births between 2015 and 2018. There are 24 (33%) of HIV-infected pregnant women on antiretrovirals compared to 49 (67%) non-users. There is a link between antiretroviral usage with the neonatal outcome of birth weight with a chi-square p-value of 0.019 (significant if p-value < 0.05). The outcome of prematurity is also significant, with a p-value of 0.022. The correlation of antiretroviral use to outcome in IUGR, asphyxia, and neonatal mortality are of p-value 0.166; 0.243, and 0.649, respectively.Conclusion: Antiretroviral use in HIV-infected pregnant women reduces the outcome of low birth weight and prematurity incidence in neonates.Key words: HIV, infected woman, outcome, antiretroviral, RSUD Ulin
Kanker Ovarium : “The Silent Killer” Ali Budi Harsono
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.828 KB) | DOI: 10.24198/obgynia/v3n1.192

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk mereview sejarah dan implikasi kanker ovarium dengan bahasa metafora pembunuh diam-diam atau “Silent Killer” sehingga akan meningkatkan kesadaran tentang kanker ovarium. Pada abad kedua puluh, metafora pembunuh diam-diam sering dikaitkan dengan kata berbahaya yang menggambarkan kanker ovarium. Istilah "silent killer" sebetulnya sering digunakan untuk menggambarkan kanker lain dan juga diterapkan pada penyakit seperti hipertensi dan diabetes. Kanker ovarium sering disebut sebagai pembunuh diam-diam karena diyakini sebagian besar pasien didiagnosis pada stadium lanjut dan sering tidak ditemukan gejala yang jelas pada stadium awal
Faktor Risiko Kejadian Hipertensi dalam Kehamilan di Rumah Sakit Bhayangkara Denpasar Febyan Febyan; Ida Bagus Rumbawa Pemaron
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 3 Nomor 1 Maret 2020
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.425 KB) | DOI: 10.24198/obgynia/v3n1.177

Abstract

Tujuan: Meninjau sejumlah faktor risiko terjadinya penyakit hipertensi dalam kehamilan. Kejadian hipertensi dalam kehamilan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu: Primigravida, nuliparitas, usia ibu dan Indeks Massa Tubuh, yang merupakan bagian dari faktor risiko terjadinya penyakit hipertensi dalam kehamilan. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan metode potong lintang, variabel yang digunakan berupa usia maternal, graviditas, indeks massa tubuh terhadap kejadian hipertensi dalam kehamilan. Sampel penelitian ini adalah ibu hamil yang datang ke Poli Rawat Jalan Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Bhayangkara, Denpasar, pada bulan Oktober – Desember 2018. Uji statistik menggunakan Chi Square/Fisher’s Exact Test.Hasil: Faktor risiko yang penting untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan antara lain, indeks massa tubuh (OR 2,60 95% IK 1,36-4,95 p = 0,005) dan usia maternal (OR 2,74 95% IK 1,41-5,43 p =0,004). Sementara itu graviditas (OR 1,58 95% IK 0,70-3,57 p=0,077) bukan merupakan faktor risiko yang bermakna. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dan usia maternal dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan, dan tidak ada hubungan yang bermakna antara graviditas dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan.A Review on The Risk Factors of Hypertension in Pregnancy at Bhayangkara Hospital DenpasarAbstractObjective: To review some risk factors of the recurrence of hypertension in pregnancy disorder. The incidence of hypertension in pregnancy can be affected by several factors: Primigravida, nulliparitas, maternal age and increased body mass index are the risk factors for hypertension in pregnancy. Method: This study was an observational study with cross-sectional the variable used were maternal age, gravidity and body mass index (BMI) on the incidence of hypertension in pregnancy. The samples were pregnant women who came to Clinic of Obstetrics and Gynecology Departement, Bhayangkara Hospital Denpasar during October to December 2018. Statistical test used was chi square factor exact tes.Result: The most important risk factors for hypertension in pregnancy such as, body mass index (OR 2,60 95% CI 1,36-4,95 p = 0,005) and maternal age (OR 2,74 95% CI 1,41-5,43 p =0,004) mean while gravidity (OR 1,58 95% CI 0,70-3,57 p=0,077) is not a significant risk factor. Conclusion: There is a correlation between maternal age and body mass index with hypertension in pregnancy and  no correlation between gravidity with hypertension in pregnancy.Key words: gravidity, hypertension in pregnancy, body mass index, maternal age.

Page 6 of 40 | Total Record : 393