cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan
ISSN : 25988573     EISSN : 25991388     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2021)" : 6 Documents clear
Implementasi Permenkes Nomor 812 Tahun 2010 tentang Tata Laksana Penyelenggaraan Pelayanan Hemodialisis di Indonesia Desi Fitria Neti; Ayurisya Dominata
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.4325

Abstract

Abstrak Implementasi Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI No. 812 tahun 2010 tentang penyelenggaraan pelayanan dialisis pada fasilitas pelayanan kesehatan (yankes) di Indonesia menimbulkan masalah bagi penderita gagal ginjal kronis. Kajian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data melalui tinjauan pustaka pada sejumlah artikel, laporan penelitian, dan jurnal serta diskusi/konsultasi melalui daring. Data yang diperoleh dianalisis dengan teori Miles & Hubermans. Kajian dilakukan dari bulan Desember 2020 s.d. Maret 2021. Hasil menunjukkan bahwa implementasi Permenkes No. 812/2010 tentang penyelenggaraan pelayanan dialisis pada fasilitas yankes (fasyankes) belum optimal. Ketersediaan sarana dan prasarana, sumber daya manusia (SDM), alat, mesin, cairan dialisat, dan obat belum terbagi merata di seluruh Indonesia. Banyak pasien belum mendapatkan pelayanan hemodialisis (HD) 2 kali seminggu. Jumlah pasien dialisis terus meningkat, sekitar 20 ribu pasien belum mendapatkan akses pengobatan, pemilihan jenis terapi HD dan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) yang dilaksanakan sesuai rekomendasi dokter. Pasien belum mendapat dosis obat dan waktu HD yang cukup karena berbagai kendala. RS/Klinik belum melakukan kunjungan rumah dalam rangka edukasi dan pemantauan, pasien dialisis berpotensi mengalami komplikasi/infeksi/kematian (drop out). Monev belum berjalan optimal, pembiayaan HD lebih mahal dari CAPD membebani keuangan negara, pelatihan dialisis masih minim di RS/Klinik. Kebijakan pelayanan dialisis saat ini belum terpadu. Belum ada pencerahan rohani dan kewajiban pencabutan/pemotongan alat dialisis bagi pasien muslim ketika sudah meninggal di rumah. Kajian ini merekomendasikan perlu melakukan perubahan Permenkes No. 812 tahun 2010 pasal 15 ayat 1 dan 2, seiring dengan upaya yang bisa dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit dalam memperkuat sistem kesehatan dan mutu pelayanan bagi pasien dialisis. Kata kunci: Kebijakan Kesehatan, Pelayanan Dialisis, Penyakit Gagal Ginjal Abstract Implementation of Permenkes No. 812 of 2010 concerning the implementation of dialysis services in health facilities in Indonesia causing problems for people with cordic kidney failure. This study uses qualitative descriptive methods, data collection techniques through literature reviews in a number of articles, research reports, and journals and discussions / consultations through online. The data was obtained in the analysis with miles hubermans theory. Conducted from December 2020 to March 2021. The results concluded that the implementation of Permenkes No. 812/2010 on The Implementation of Dialysis Services in Health Care Facilities has not been optimal. The availability of facilities and infrastructure, human resources, tools, machinery, dialysis fluids, and drugs has not been evenly divided throughout Indonesia. Many patients do not get hemodialysis therapy (HD) services twice a week. Dialysis patients continue to increase, about 20 thousand patients have not received access to treatment, the selection of types of hemodialysis therapy HD and continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) implemented according to the recommendations of doctors. Patients have not received enough HD doses drugs and time due to various obstacles. Hospitals /Clinics have not made home visits in the framework of education and monitoring, dialysis patients have the potential to experience complications / infections / deaths (droup out). Monev has not run optimally, HD financing is more expensive than CAPD burdening the country’s finances, dialysis training is still minimal in hospitals / clinics. The current dialysis service policy is not yet integrated. There has been no spiritual revocation and obligation to revocation/cut dialysis equipment for Muslim patients when they have died at home. This study of authors recommends policy solutions that need changes to Permenkes No. 812 of 2010 article 15 paragraphs 1 and 2. And concrete efforts that can be done by the Ministry of Health, Hospitals, and Health Services. Keywords: Health Policy, Dialysis Services, Kidney Failure.
Hubungan Prematuritas dan Berat Badan Lahir Rendah dengan Derajat Gangguan Pendengaran pada Anak muyassaroh -; Dwi Marliyawati; Peny Handayani
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.4784

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Gangguan pendengaran sering ditemukan pada anak - anak yang lahir prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR). Kejadian gangguan pendengaran pada anak di Indonesia dengan prematur dan BBLR adalah 19,3% dan 36,1%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara prematuritas dan BBLR dengan derajat kurang dengar pada anak. Metode: Penelitian deskriptif analitik menggunakan data rekam medik anak dengan kurang dengar di RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2019 – 2020. Diagnosis gangguan dengar berdasarkan hasil BERA variabel yang diteliti derajat gangguan pendengaran, prematuritas, BBLR. Analisis data dengan uji korelasi. Hasil: Subjek penelitian sebanyak 466 anak. Jenis kelamin didominasi oleh laki – laki 237 (50,9%) dan subyek yang berusia kurang dari 5 tahun sebanyak 406 (87,1%). Faktor risiko kelahiran prematur 23 (4,9%), BBLR 33 (7,1%), prematur disertai BBLR sebanyak 18 (3,9%). Gangguan pendengaran derajat ringan – sedang 111 (23,8%), gangguan pendengaran derajat berat – sangat berat 355(76,2%). Tidak terdapat hubungan antara prematuritas dengan derajat kurang dengar (p = 0,059). Tidak terdapat hubungan antara BBLR dengan derajat kurang dengar (p = 0,158). Terdapat hubungan yang signifikan antara prematuritas dan berat badan lahir rendah dengan derajat kurang dengar (p= 0,046). Kesimpulan:Terdapat hubungan antara prematuritas dan berat badan lahir rendah dengan derajat kurang dengar. Kata Kunci: Gangguan Pendengaran, Prematuritas, Berat Badan Lahir Rendah Abstrac Background: Hearing loss is often found in children born prematurely and with low birth weight (LBW). The incidence of hearing loss in children in Indonesia with preterm and LBW was 19.3% and 36.1%. The purpose of this study was to determine the relationship between prematurity and LBW with the degree of hearing loss in children. Methods: A descriptive analytic study using medical record data of children with hearing impairment at Dr. Kariadi Semarang in 2019 - 2020. Diagnostic hearing loss is based on BERA. The variables studied were the degree of hearing loss, prematurity, LBW. Data analysis was performed by using correlation test. Result : The subjects were 466 children, 237 men (50.9%) and less than 5 years old 406 (87.1%).Risk factors for preterm birth were 23 (4.9%), LBW 33 (7.1%), premature accompanied by LBW was 18 (3.9%). Mild to moderate degree of hearing loss were 111 (23.8%),hearing loss with a degree of severity - very severe 355 ( 76.2%). There was no relationship between prematurity and degree of hearing loss (p = 0.059). There was no relationship between LBW and the degree of hearing loss (p = 0.158). There was a significant relationship between prematurity and low birth weight and the degree of hearing loss (p = 0.046). Conclusion: There is a relationship between prematurity and low birth weight and the degree of hearing loss. Keyword: Hearing Loss, Premature, Low Birth Weight
Kajian Distribusi, Keamanan Dan Pengembangan Kebijakan Obat Bebas Dan Bebas Terbatas Ajeng Illastria Rosalina
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.5272

Abstract

Abstrak Obat bebas dan bebas terbatas adalah salah satu bagian penting dari swamedikasi yang seharusnya mudah diakses masyarakat dan terjangkau. Peraturan perundang-undangan yang ada saat ini membatasi pelayanan obat bebas dan bebas terbatas hanya dapat dilakukan di sarana dengan izin dan dengan penanggung jawab tenaga kefarmasian. Namun karena jumlah pasien dan fasilitas yang ada tidak sebanding sehingga menyebabkan terjadinya penjualan obat di sarana tanpa kewenangan. Tujuan kajian ini adalah untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan BPOM untuk melakukan deregulasi obat bebas dan obat bebas terbatas untuk dapat dijual di sarana non farmasi dengan beberapa pembatasan. Kajian dilakukan dengan melakukan pengumpulan data hasil pengawasan oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM di Jakarta) serta peninjauan pustaka terkait distribusi dan pelayanan obat bebas dan bebas terbatas juga terkait penerapan peraturan terkait di beberapa negara. Hasil kajian menunjukkan bahwa jumlah dan sebaran fasilitas yang ada di Provinsi DKI Jakarta tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang menyebabkan berbagai pelanggaran di sepanjang jalur distribusi obat hingga pelayanan kefarmasian. Untuk menangani permasalahan tersebut di atas hendaknya dibuat peraturan yang melegalkan penjualan obat bebas dan bebas terbatas di sarana retail non farmasi seperti yang telah diterapkan di beberapa negara. Kata kunci : Obat, bebas, terbatas, farmasi, swamedikasi, deregulasi Abstract Self-medication with over-the-counter (OTC) drugs is an economical choice of treatment for common self-limiting illnesses. It should be accessible and affordable. Indonesian regulation sets OTC drug that must be sold in a pharmacy stores under a pharmacist supervision. However, lack of pharmacy store lead to any violation at drug distribution. We identified all findings in OTC drug surveillance by BPOM Provincial Office in Jakarta and discussed the potential scientific source related to OTC drug distribution and its regulation in some countries. Current review objective is to give recommendations to the Indonesian FDA and Indonesia Ministry of Health to deregulate OTC drugs to improve public pharmaceutical services and also decrease drug diversion along drug distribution chains. Our study results showed that the number of legal pharmacies and its distribution are not enough to fulfill the people’s needs, which leads to some drug diversion cases along drug distribution chains. In order to solve this problem, the regulators should deregulate OTC drugs so they can be legally sold on non-pharmacy outlets without pharmacist supervision as applied in some countries. Keywords: drug, deregulation, self-medication, OTC
Risk-Factor for COVID-19 Patients with Ventilator Status at Sanglah Hospital: Cross-Sectional Study Putu Sudarmika; I Nengah Wardana; I Ketut Surya Negara; Ni Luh Putu Nurhaeni; Ni Made Aries Minarti; I Wayan Santyasa
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.5626

Abstract

Abstract Corona Virus Disease 19 is a contagious infectious disease that has a major impact on all aspects of life. This study explores the factors associated with the need for ventilators use in COVID-19 patients. This cross-sectional study uses secondary data from medical records, taken by total sampling technique, of patients treated at Sanglah Hospital from March 2020 to August 2020. Only complete and clear medical record of patients diagnosed with COVID-19 were analyzed using chi-square and stepwise logistic regression with SPSS for windows 25 software. This study had received ethical approval from the Udayana University independent ethics commission with the number 1839/UN 14.2.2.VII/LT/2020. Patients with aged ≥ 50 years (OR 2.8; 95% CI 1.45—5.54)), BMI > 25 kg/m2 (OR 4.5; 95% CI 1.57—13.03), alcohol consumption history (OR 3.8; 95% CI 1.35—10.81), hemoglobin level <10 g/dl (OR 3.8; 95% CI 1.74—9.15), or WBC ≥ 12.000 (OR 2.3; 95% CI 1.05—5.12), were at higher risk to use ventilator. Gender, smoking history, employment history, length of stay, having comorbidity had no significant difference in the need for a ventilator. The most dominant risk factor causing worsening outcomes of COVID-19 was BMI > 25 kg/m2. Keywords: risk factor, ventilator status, COVID-19, body mass index Abstrak Corona Virus Disease 19 merupakan penyakit menular yang berdampak besar pada semua aspek kehidupan. Studi ini mengeksplorasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kebutuhan penggunaan ventilator pada pasien COVID-19. Penelitian ini merupakan studi potong lintang menggunakan data sekunder dari rekam medis. Pengumpulan data menggunakan teknik total sampling dengan melakukan eksplorasi rekam medis pasien yang dirawat mulai bulan Maret 2020 sampai Agustus 2020 di RSUP Sanglah. Kriteria rekam medis yang digunakan dalam penelitian adalah rekam medis yang lengkap dan jelas dari pasien terdiagnosis COVID-19. Analisis dilakukan secara deskriptif dan analitik menggunakan uji chi-square, dan regresi logistik bertahap dengan software SPSS dari windows versi 25. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari komisi etik independen Universitas Udayana nomor 1839/UN 14.2.2.VII/LT/2020. Total sebanyak 331 rekam medis yang dianalisis. Pasien berumur ≥ 50 tahun (OR 2,8; 95%CI 1.45-5.54), indeks massa tubuh > 25 kg/m2 (OR 4.5; 95% CI 1.57—13.03), riwayat konsumsi alkohol (OR 3.8; 95% CI 1.35—10.81), kadar hemoglobin <10 g/dl (OR 3.8; 95% CI 1.74—9.15), jumlah lekosit ≥ 12.000 (OR 2.3; 95% CI 1.05—5.12), mempunyai risiko lebih besar untuk menggunakan ventilator selama perawatan. Jenis kelamin, riwayat merokok, riwayat pekerja migran, lama perawatan di rumah sakit, dan komorbiditas tidak berhubungan bermakna dengan penggunaan ventilator. Indeks massa tubuh >25 kg/m2 merupakan faktor risiko paling dominan terhadap perburukan pasien COVID-19 yang dinilai dari penggunaan ventilator selama dirawat di rumah sakit Kata kunci: indeks massa tubuh, penggunaan ventilator, faktor risiko, COVID-19
Remote Nursing Assessment for Peritoneal Dialysis Users During Covid-19 Pandemic: An Systematic Review Syaifoel Hardy; Ridha Afzal; Isak Jurun Hans Tukayo
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.5351

Abstract

Abstract Chronic Kidney Disease nursing has become one of the centers of attention because of professional concerns about all the possibilities that occur in the handling of Peritoneal Dialysis (PD) users in health care centers in the era of Covid-19 pandemic. To maximize the achievement of the quality goals of nursing services, an updated nursing assessment system of PD users is needed during the pandemic. To identify changes in nursing assessment that occurred during the Covid-19 pandemic for PD users and offer a solution by creating a remote nursing assessment system. The study used an article review and PRISMA analysis. The initial 842 documents were drawn from the search engine of which 169 records extracted from Google Scholar, ResearchGate, SagePub, and Semantic Scholar. The search keywords were nursing assessment, PD users, and Covid-19. The indicators include respondents (PD users), research methods (quantitative, document review), years of publication (2020-2021), results (focus on nursing assessment during the Covid-19 pandemic), and languages (English and Indonesia). The document search used the PICOT (Population, Intervention, Comparison, Outcome, and Time). The PRISMA analysis finds remote nursing assessment during pandemic in handling PD users can be done in various health care services that have CAPD units. Yet it requires training and orientation programs. The challenges are the need for funds, time, and the readiness of human resources in which they were not mentioned in the previous researchers’ findings. Tele-PD-nursing, home delivery service, PD nursing triage, and a PD nursing dashboard are the combination of remote PD nursing management as an alternative solutions in PD users assessment during the Covid-19 pandemic era. Keywords: Remote Nursing Assessment, PD Users, Covid-19 Abstrak Keperawatan Penyakit Ginjal Kronik menjadi salah satu pusat perhatian karena kepedulian profesional terhadap segala kemungkinan yang terjadi dalam penanganan pengguna Peritoneal Dialysis (PD) di Puskesmas di era pandemi Covid-19. Untuk memaksimalkan pencapaian sasaran mutu pelayanan keperawatan, diperlukan sistem pengkajian keperawatan pengguna PD yang terupdate di masa pandemi. Untuk mengidentifikasi perubahan asesmen keperawatan yang terjadi selama pandemi Covid-19 bagi pengguna PD dan menawarkan solusi dengan membuat sistem asesmen keperawatan jarak jauh. Penelitian ini menggunakan tinjauan artikel dengan analisis PRISMA. 842 dokumen awal diambil dari mesin pencari yang 169 catatannya diambil dari Google Scholar, ResearchGate, SagePub, dan Semantic Scholar. Kata kunci pencarian adalah penilaian keperawatan, pengguna PD, dan Covid-19. Kriteria inklusi adalah pengguna PD selama pandemi, sedangkan kriteria eksklusi adalah pasien CKD tetapi bukan pengguna PD dan pengguna PD sebelum pandemi), metode penelitian (kuantitatif, tinjauan dokumen), tahun publikasi (2020-2021), hasil (fokus pengkajian keperawatan selama pandemi Covid-19), dan bahasa (Inggris). Pencarian dokumen menggunakan PICOT (Population, Intervention, Comparison, Outcome, dan Time). Analisis PRISMA menemukan bahwa pengkajian keperawatan selama masa pandemic dalam penanganan pasien pengguna PD dapat dilakukan di berbagai pusat pelayanan kesehatan yang memiliki unit CAPD. Namun dibutuhkan program pelatihan dan orientasi. Tantangannya berupa dana, waktu serta kesiapan SDM yang tidak disebutkan pada penelitian-penelitian terdahulu. Tele-PD-nursing, home delivery service, PD Nursing Triage, dan PD Nursing Dashboard merupakan kombinasi manajemen keperawatan PD jarak jauh sebagai solusi alternatif penilaian pengguna PD di masa pandemi Covid-19. Kata Kunci: Asesmen Keperawatan Jarak Jauh, PD User, Covid-19
Factors that Influence Mother’s Behavior in Fulfilling Toddler Nutrition at the Age of 12-36 Months Rifzul Maulina; Mochammad Bagus Qomaruddin; Ardhiles Wahyu Kurniawan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v5i1.5461

Abstract

Abstract Improper feeding practices are the initial cause of the occurrence of nutritional problems in infants and toddlers, if this condition occurs over time, long enough, and continuously it will have an impact on the child’s growth. This study aims to the factors that influence the mother's behavior in fulfilling toddler nutrition. The design of this research is a cross-sectional approach. The sample number in this study was 238 mothers of respondents who have children aged 1-3 years. The research location is in the work area of the Tajinan Health Center. Malang Regency, East Java. The independent variables in this study were perceived susceptibility, perceived severity, perceived usefulness, perceived barrier, cues to action, and self-efficacy. The dependent variable of the study is the behavior of mothers in providing nutrition. Samples were taken using random cluster sampling. Data was collected using a questionnaire. The data were analyzed by using the chi-square test with a significance level of <0.05. The results showed that perceived vulnerability (p = 0.297), perceived seriousness (p = 0.201), perceived benefits (p = 0.197), cues to act (p = 0.068) and self-efficacy (p = 0.205) there was no relationship between behavior mother. Only perceived barriers (p=0.028) had a relationship with the mother’s behavior. Health workers at the public health center can provide audio-visual interventions to improve the behavior of mothers in providing the nutritional needs of their children. Keywords: mother’s behavior, nutritional toddlers, theory of health belief model Abstrak Praktik pemberian makan yang tidak benar merupakan penyebab awal terjadinya masalah nutrisi pada bayi dan baduta yang apabila kondisi ini terjadi dalam waktu yang cukup lama dan terus menerus maka akan berdampak pada pertumbuhan anak. Tujuan penelitian ini adalah faktor yang mempengaruhi Ibu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak usia balita. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 238 ibu responden yang memiliki anak usia 1-3 tahun. Lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas Tajinan. Kabupaten Malang, Jawa Timur. Variabel independen dalam penelitian ini kerentanan yang dirasakan, keparahan yang dirasakan, manfaat yang dirasakan, persepsi penghalang, isyarat untuk bertindak dan efikasi diri. Variabel dependen penelitian adalah perilaku ibu dalam memberikan nutrisi. Sampel diambil dengan cara Cluster random sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner terstruktur dengan kuesioner. Analisa data dengan uji chi square, level signifikan P value < 0,05. Hasil menunjukkan bahwa variabel-variabel : kerentanan yang dirasakan (p=0,297), keparahan yang dirasakan (p=0,201), manfaat yang dirasakan (p=0,197), isyarat untuk bertindak (p=0,068) dan efikasi diri (p=0,205) tidak ada hubungan antara perilaku ibu. Hanya hambatan yang dirasakan (p=0,028) berhubungan dengan perilaku ibu. Petugas kesehatan di Puskesmas harus memberikan intervensi secara audio visual untuk meningkatkan perilaku Ibu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi anaknya. Kata kunci: perilaku ibu, nutrisi balita, teori health belief model

Page 1 of 1 | Total Record : 6