cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23375124     EISSN : 2089970X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Arjuna Subject : -
Articles 331 Documents
Pengaruh Dexmedetomidine Intravena Terhadap Kadar Superoxide Dismutase 1 (SOD-1) Ginjal Kelinci Padarenal Ischemic Reperfusion Injury Model Maulitia Neny Yusuprihastuti; Hari Hendriarto Satoto; Mohamad Sofyan Harahap
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 8, No 3 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.084 KB) | DOI: 10.14710/jai.v8i3.19814

Abstract

Latar belakang : Perubahan hemodinamik selama operasi dapat menyebabkan hipoperfusi organ yang berakibat pada kegagalan organ ginjal. Ischemic Reperfusion Injury (IRI) adalah penyebab utama dari kegagalan ginjal akut, dan dapat berakibat pada peningkatan morbiditas dan angka kematian. Dexmedetomidine adalah agonis α2 -adrenergik yang selektif,  menunjukkan sifat sparing anestesi, analgesia dan sifat simpatolitik, termasuk digunakan sebagai agen pelindung untuk Ischemic Reperfusion Injury (IRI) pada banyak sistem organ. Superoxide Dismutase 1 (SOD-1) memainkan peran penting dalam menyeimbangkan status oksidasi dan antioksidan, memberikan pertahananpenting terhadap toksisitas superoksida radikal, sehingga dapat melindungi sel dari kerusakan.Tujuan : Mengetahui efek dexmedetomidine intravena terhadap kadar SOD-1 ginjal kelinci dengan renal ischemic reperfusion injury model.Metode : Penelitian eksperimental Randomize Post Test Only Control Group Design menggunakan 16 kelinci New Zealand. 8 kelinci diberikan perlakuan dengan pemberian dexmedetomidine 0,5 mcg/kgbb/jam dan dilakukan oklusi pada arteri renalis. 8 kelinci yang tidak mengalami perlakuan juga dilakukan oklusi arteri renalis dan dilakukan pemeriksaan SOD-1 sebagai kontrol. Uji normalitas dengan Saphiro Wilk dilanjutkan uji parametrik menggunakan Mann Whitney.Hasil :Kadar rerata SOD-1 pada kelompok kontrol 0,8 dan nilai P 0,389 (normal) dan kadar rerata SOD-1 pada kelompok perlakuan 1,21 dan nilai P 0,014 (tidak normal). Uji beda digunakan uji parametrik Mann Whitney-test didapatkan nilai p = 0,016. Karena nilai p < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan bermakna.Kesimpulan: Dexmedetomidine secara signifikan meningkatkan nilai SOD-1 pada kelinci New Zealand yang diberikan perlakuan oklusi pada arteri renalis.
Tatalaksana Pasien Sepsis dengan Sindroma Cushing Iatrogenik Eksogen Ardiyan Ardiyan; Dita Aditianingsih
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2155.85 KB) | DOI: 10.14710/jai.v10i1.20718

Abstract

Sepsis adalah disfungsi organ mengancam nyawa akibat ketidakseimbangan respon tubuh terhadap infeksi. Kerentanan terhadap infeksi berat pada penderita penyakit autoimun maupun immunokompromais disebabkan konsumsi obat dan terapi yang dijalani. Pemberian atau penggunaan kortikosteroid dosis tinggi dan lama seperti hiperkortisolisme atau sindrom Cushing meningkatkan kerentanan terhadap infeksi Pasien imunokompromis berisiko tinggi mengalami infeksi patogen serta infeksi oportunistik oleh mikroorganisme virulen. Infeksi merupakan faktor predisposisi terjadinya peningkatan respon kompromi sistemik tubuh dalam kondisi sepsis dan syok sepsis. Kasus ini melaporkan seorang pasien berusia 24 tahun dengan sepsis akibat pneumonia yang diperberat oleh sindroma Cushing iatrogenic akibat steroid yang dikonsumsi dalam waktu lama, menyebabkan sulitnya perawatan serta prognosis yang buruk.
Perbedaan Pengaruh Pemberian Enfluran dan Halotan Terhadap Agregasi Trombosit Agatha Citrawati Anom; Mohamad Sofyan Harahap
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v2i1.6470

Abstract

Latar belakang: Perdarahan perioperatif merupakan masalah serius yang sering dihadapi dalam setiap operasi. Penggunaan obat anestesi inhalasi dikatakan mempunyai pengatuh dalam menghambat agregasi trombosit. Dengan titik tangkap yang sama yaitu ADP sebagai induktor akan diamati perbedaan perngaruh pemberian Enfluran dan Halotan terhadap Agregasi Trombosit.Tujuan: untuk mengetahui perbedaan perngaruh pemberian Enfluran dan Halotan terhadap agregasi trombosit.Metode: merupakan penelitian eksperimental dengan desain quota sampling pada 48 pasien yang menjalani anestesi umum. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok (n:24), kelompok I menggunakan Enfluran sebagai obat anestesi inhalasi selama operasi dan kelompok II menggunakan Halotan sebagai obat anestesi inhalasi selama operasi, yang diberi sejak awal induksi sampai dengan operasi berakhir dengan besar pemberian 0,5 – 1 MAC bersama O2 : N2O = 50 % : 50 %. (MAC enfluran : 1,2 dan halotan : 0,8). Masing – masing kelompok akan diambil spesimen sebelum perlakuan (sebelum operasi) dan sesudah perlakuan (sesaat sebelum obat anestesi inhalasi dimatikan). Semua spesimen dibawa ke Laboratorium Patologi Klinik untuk dilakkan pemeriksaan Tes Agregasi Trombosit Uji statistik menggunakan pair t-test dan independent t-test (dengan derajat kemaknaan < 0,05).Hasil: karakteristik data penderita maupun data variabel yang akan dibandingkan terdistribusi normal. Pada penelitian ini didapatkan perbedaan persen agregasi maksimal trombosit yang bermakna antara sebekum dan sesudah pemberian halotan (p = 0,001) sementara tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada enfluran (p = 0,066). Pada kelompok enfluran didapatkan rerata persen agregasi maksimal trombosit sebesar 81,464,38 dan pada halotan 76,585,15, sehingga menunjukkan perbedaan yang bermakna antara keduanya (p = 0,01). Sesudah perlakuan didapatkan gambaran normoagregasi 77,8 % pada kelompok yaang memperoleh enfluran dan 22,2 % pada kelompok halotan. Sementara gambaran hipoagregasi 66,6 % didapatkan pada kelompok yang menperoleh halotan dan 33,4 % pada kelompok enfluran. Secara statistik halotan secara bermakna menyebabkan hipoagregasi daripada enfluran, p = 0,03 (p < 0,05).Kesimpulan: Halotan secara bermakna menurunkan persen agregasi trombosit dan menyebabkan gambaran hipoagregasi lebih banyak dari pada enfluran.
Prosedur Pemasangan TPM, Evakuasi Abses Otak dan Pintas BT pada Anak Usia 6 tahun dengan TOF yang Belum Dikoreksi Sersia Gillianthi Susantio; Ratna Farida Sunarto
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v6i2.7723

Abstract

Latar Belakang: Tetralogi Fallot mencakup sebanyak 6% dari seluruh penyakit jantung kongenital. Pasien dengan penyakit jantung kongenital sianotik berisiko tinggi menderita komplikasi neurologis. Peningkatan viskositas darah akibat polisitemia, hipoksemia berat kronis, dan asidosis metabolik menyebabkan kekurangan perfusi otak.Kasus: Seorang anak laki-laki 6 tahun masuk rumah sakit dengan sakit kepala, demam, dan mual muntah selama 2 minggu. Dari pemeriksaan fisik dan penunjang, ditegakkan diagnosis abses otak, tetralogi Fallot, dan gizi kurang. Dari diskusi multi disiplin diputuskan untuk melakukan kateterisasi jantung dan pemasangan TPM, burr-holing, serta pemasangan Blalock-Taussig shunt. Evaluasi tim anestesi menentukan pasien ASAIV. Selama TPM pasien mendapat midazolam 0,05 mg/kg/BB/IV dan ketamin 0,3 mg/kg/ IV. Premedikasi dengan atropin 0,01 mg/kg/BB/IV, midazolam 0,05 mg/kg/BB/IV, metilprednisolon 10 mg/kg/BB/IV, ranitidin 1 mg/kg/BB/IV, dan ondansentron 0,1 mg/kg/ BB/IV. Induksi dengan titrasi ketamin 1,5 mg/kg/BB/IV, fentanyl 2 mcg/kg/BB/IV, dan pancuronium 0,2 mg/kg/BB/IV. Kedalaman anestesi dicapai dengan sevoflurane (0,8-1,5%), dan dipertahankan selama operasi. Operasi selesai dalam waktu 90 menit. Post op pasien dibawa ke ICU. Weaning dilakukan bertahap. Ekstubasi dilakukan pada hari berikutnya dan pasien pindah ke ruang rawat inap.Ringkasan: Right-to-left shunt pada TOF diperburuk dengan meningkatnya PVR, menurunnya SVR, serta spasme infundibular. Teknik anestesi bertujuan untuk mencegah hipoksemia dan spasme infundibular. Tujuan ini dapat dicapai dengan: mempertahankan kecukupan cairan dan SVR, mengurangi PVR, denyut jantung terkontrol dan depresi ringan myokardial, mengurangi peningkatan kebutuhan oksigen secara tiba-tiba. 
Peran Plasmafaresis pada Terapi Pasien Sepsis dengan Myasthenia Gravis Ahmad Imron; Dita Aditianingsih; Yohanes W George
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.777 KB) | DOI: 10.14710/jai.v5i3.6311

Abstract

Pendahuluan : Plasmapheresis berpotensi untuk menghilangkan mediator berbahaya atau beracun dari sirkulasi . Plasmapheresis telah menunjukkan peningkatan keluaran yang bermakna pada penyakit autoimun . Kemanjuran theurapetic dan keamanan plasmapheresis dalam pengobatan pasien di sepsis berat dan syok septik telah dipelajari .Kasus : Seorang perempuan berusia 18 tahun didiagnosis dengan gagal nafas karena myasthenia gravis dan sepsis berat akibat pneumonia . Dia dirujuk dari rumah sakit lain setelah kegagalan obat antikolinesterase untuk mengobati gejala dari myasthenia gravis. x foto thorax menunjukkan infiltrat di paru-paru kanan paracardial dan basal . Terapi yang diberikan selama di ICU adalah antibiotik , obat-obatan suportif, dan plasmapheresis dilakukan selama 4 kali . Setelah antibiotik yang sesuai diberikan dan plasmapheresis selesai, pasien menunjukkan perbaikan kekuatan otot. Pasien berhasil disapih dari ventilator pada hari ke - 9 , dan kembali ke bangsal di hari - 10 .Ringkasan : Plasmapheresis memainkan peran penting dalam pengobatan myasthenia gravis dengan sepsis . Plasmapheresis digunakan untuk menghapus berbagai factor pemicu dalam plasma , seperti antibodi , imunoglobulin abnormal dan kompleks imun dalam sirkulasi 
Perbandingan Chlorhexidine 2% - Alkohol 70% Dengan Povidone Iodine10% - Alkohol 70% Terhadap Penurunan Kepadatan Kuman Dalam Mengurangi CRBSI Pada Pemasangan CVC Primta Bangun; Achsanuddin Hanafie; Dadik Wahyu Wijaya
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.97 KB) | DOI: 10.14710/jai.v8i2.19808

Abstract

Latar Belakang : Salah satu faktor penyebab infeksi bakteri adalah peralatan yang digunakan, tehnik aseptik yang salah, atau larutan antiseptik yang dipakai. Larutan antiseptik yang biasa digunakan pada pemasangan kateter vena sentral adalah Chlorhexidine 2% dan Povidone Iodine 10%. Efektifitas kedua larutan antiseptik ini berbeda di beberapa penelitian, dimana hal tersebut berpengaruh pada resiko terjadinya CRBSI.Tujuan : Mendapatkan antiseptik yang optimal dalam menurunkan jumlah kepadatan kuman dan menurunkan angka kejadian CRBSI.Metode : Penelitian ini dilakukan dengan metode Analitic Cohort Study Design dengan jumlah sampel 40 pasien UPI Dewasa RSUP HAM yang dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok A Chlorhexidine 2% - alcohol 70%, dan kelompok B Povidone Iodine 10% - alcohol 70%, dilakukan dengan single blind. Desain penelitian dilakukan perhitungan kepadatan kuman dengan swab lidi steril dengan pre test – post test control grup. Untuk membandingkan perbedaan kepadatan kuman masing – masing grup sebelum dan sesudah pemberian antiseptik, digunakan analisa uji t, sedangkan untuk membandingkan penurunan jumlah kepadatan kuman (respon antiseptik) digunakan analisa uji t – pair. Interval kepercayaan 95% dengan nilai p < 0,05, dianggap bermakna secara signifikan.Hasil : Penurunan jumlah kepadatan kuman terbesar terjadi pada kelompok A dengan rerata 99,87% (SB=0,28%), sedangkan pada kelompok B rerata penurunan 98,83% (SB=1,86%) dengan nilai p = 0,001.Kesimpulan : Chlorhexidine 2% - alcohol 70% lebih efektif menurunkan jumlah kepadatan kuman dan menurunkan angka kejadian CRBSI dibandingkan Povidone Iodine 10% - alcohol 70%. 
Efektifitas Magnesium Sulfat Sebagai Pencegahan Mengigil Pasca Anestesi Anna Ratnawati; Johan Arifin; Witjaksono Witjaksono
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v3i3.6438

Abstract

Latar Belakang: Menggigil (shivering) merupakan masalah yang sering dihadapi dalam setiap operasi. Penggunaan obat induksi anestesi, suhu lingkungan dan pembedahan dapat menyebabkan menggigil.Tujuan: Membandingkan efektifitas magnesium sulfat 30mg/kgBB intravena dengan meperidin 0,5mg/kgBB intravena sebagai kontrol dalam mencegah mengigil pasca anestesi umum.Metode: Penelitian menggunakan randomized double blind controlled trial pada 20 pasien yang menjalani anestesi umum. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok (n=10), kelompok A menggunakan meperidin 0,5mg/kgBB intravena dan kelompok B menggunakan magnesium sulfat 30mg/kgBB intravena. Masing – masing kelompok diambil darah sebelum dan sesudah ekstubasi, untuk dilakukan pemeriksaan kadar kalsium dan magnesium. Saat berada di ruang pemulihan pasien di observasi adanya kejadian menggigil. Uji statistik menggunakan Chi-Square, Man-Whitney Test dan independent sample T-test (dengan derajat kemaknaan p<0,05).Hasil: Penelitian ini didapatkan kejadian menggigil pada kelompok meperidin 1 dari 10 pasien dan pada kelompok magnesium sulfat 2 dari 10 pasien (p=1,00). Penurunan kadar kalsium setelah operasi pada kelompok magnesium sulfat (0,048±0,2212) berbeda tidak bermakna (p=0,366) dibandingkan dengan kelompok meperidin (0,135±0,1973), sedangkan kadar magnesium terjadi peningkatan pada kelompok magnesium sulfat (0,434±0,4103) dan menurun pada kelompok meperidin (0,119±0,1180), berbeda bermakna (p=0,003).Simpulan: Kejadian menggigil pasca pembedahan dengan anestesi umum pada pasien yang mendapat magnesium sulfat 30mg/kgBB iv tidak berbeda dengan yang mendapat meperidin 0,5mg/kgBB iv.
Monitoring Kardiovaskuler pada Pediatric Intensive Care Aprilina Rusmaladewi; Ery Leksana; Widya Istanto Nurcahyo
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v2i3.6461

Abstract

Anestesi memegang peranan penting terhadap perkembangan Pediatric Intensive care karena ilmu pengetahuan dan keterampilan anestesiologist dalam mengelola jalan nafas dan pernafasan, monitoring sirkulasi dan akses vaskular. Pediatric Anestesi juga menjadi leader pada pengelolaan pernafasan pada anak dan intensive care. Ilmu pengetahuan anestesi dan keterampilan pada keadaan akut dan emergensi di dalam ruang operasi dan keterampilan dalam memberikan bantuan hidup dasar menjadikan anestesi menjadi leader di banyak PICU.
Tatalaksana Perioperatif Ventilasi Mekanik pada Pasien dengan Gagal Jantung Kiri Budi Nugroho; yudi hadinata
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 11, No 2 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.093 KB) | DOI: 10.14710/jai.v11i2.24450

Abstract

Penyakit gagal jantung merupakan suatu kondisi kelainan pada pasien dimana kemampuan pengisian dan fungsi pompa jantung mengalami gangguan.  Gagal jantung sendiri dapat terjadi secara akut atau kronis serta berpotensi mengancam jiwa.  Ketika kondisi tersebut memburuk maka dapat menyebabkan gangguan fungsi pernapasan dan perburukan kondisi hingga berakibat kematian.  Kondisi gagal jantung dapat terjadi selama tindakan perawatan perioperatif pembedahan yang membutuhkan terapi farmakologi dan terapi non farmakologi. Salah satu modalitas terapi non farmakologi yang dapat membantu fungsi pompa jantung dalam kondisi gagal jantung adalah ventilasi mekanik. Tinjauan pustaka ini akan mengulas tentang terapi perioperatif ventilasi mekanik pada pasien dengan gagal jantung.
Penentuan Dosis Efektif Bupivacaine Hiperbarik 0,5% Berdasarkan Tinggi Badan Untuk Bedah Sesar Dengan Blok Subarakhnoid Dian Ayu Listiarini; Mohamad Sofyan Harahap; Uripno Budiono
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.626 KB) | DOI: 10.14710/jai.v6i1.6650

Abstract

Latar Belakang: Anestesi spinal lebih disukai untuk bedah sesar dikarenakan onset cepat, teknik sederhana, relatif mudah dilakukan dan menimbulkan relaksasi otot yang sempurna dibandingkan dengan anestesi epidural, dan profil keselamatan ibu lebih besar dibandingkan dengan anestesi umum. Meskipun demikian, anestesi spinal dapat menyebabkan hipotensi, yang memberi dampak morbiditas pada ibu dan janin. Frekuensi dan derajat hipotensi dipengaruhi oleh dosis subarakhnoid anestesi lokal, sehingga diperlukan penentuan dosis minimal yang efektif untuk anestesi spinal.Tujuan: Mengetahui efektivitas dan profil hemodinamik dosis bupivakain hiperbarik 0,5% 0,06 mg/cm untuk blok subarakhnoid pada bedah sesar.Metode: Sebanyak 40 orang ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi dibagi secara acak menjadi dua kelompok, yaitu 20 orang pada kelompok I mendapat bupivakain 0,5% hiperbarik 0.06 mg/cmTB, dan 20 orang pada kelompok II mendapat bupivakain 0,5% hiperbarik 12,5 mg. Dilakukan pencatatan dari sebelum hingga 45 menit setelah tindakan anestesi spinal terhadap beberapa variabel, yaitu tanda vital, kejadian hipotensi, jumlah efedrin yang diberikan, waktu blok sensorik, dan blok motorik.Hasil: Pada kelompok I, onset blok sensorik pada dermatom T10 tercapai pada 1,61±0,617 menit paska injeksi obat, berbeda tidak bermakna bila dibandingkan kelompok II yaitu 1,47 ± 0,655 menit (p>0.05). Semua blok sensorik pada penelitian ini berhasil mencapai dematom T4. Onset blok sensorik pada dermatom T4 tercapai pada 2,55±0,56 menit paska injeksi obat pada kelompok I, berbeda tidak bermakna bila dibandingkan kelompok II yaitu 2,45±0,594 menit (p>0.05). Perbedaan rerata tekanan sistolik, tekanan diastolik, tekanan arteri rerata, laju jantung dan jumlah efedrin yang digunakan pada kedua kelompok menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna secara statistik (p>0,05), demikin pula dengan angka kejadian hipotensi.Simpulan: Bupivakain 0,5% hiperbarik 0,06 mg/cm Tinggi Badan untuk blok subarakhnoid pada bedah sesar memiliki efektivitas dan profil hemodinamik serupa dengan Bupivakain 0,5% hiperbarik 12,5 mg. 

Page 8 of 34 | Total Record : 331


Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 2 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 1 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 16, No 3 (2024): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 15, No 2 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 15, No 1 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 3 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 2 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 1 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 3 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia (Issue in Progress) Vol 13, No 3 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 2 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 1 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Publication In-Press Vol 12, No 3 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 12, No 2 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 12, No 1 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 3 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 2 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 1 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 2 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 3 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 3 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 2 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 3 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 1 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia More Issue