cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 743 Documents
Pengkajian Stok Udang Jari (Metapenaeus elegans de Man 1907) Berdasarkan Model Thompson dan Bell di Laguna Segara Anakan Cilacap Jawa Tengah Suradi W Saputra
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.666 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.4.205-212

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji produksi maksimum berkelanjutan udang jari (Metapenaeus elegans) di Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah. Pengambilan sampel dilakukan sejak Februari sampai dengan Desember 2004, menggunakan metode sistematik random sampling. Data frekuensi panjang karapas diperolehdari hasil tangkapan tiga unit apong pada sembilan stasiun pengamatan. Produksi udang jari dan jumlah trip diperoleh dengan pencatatan langsung terhadap 20% dari populasi apong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pesintas (survivor) udang jari selama tahun 2004 yang mencapai panjang karapas 3,5 mm sebanyak 196.554.781 ekor, menghasilkan produksi 168 ton, dengan nilai produksi Rp.1.726.744.150,00. Hasil analisis Thompson dan Bell diperoleh produksi maksimum berkelanjutan secara biologi (MSY) sebesar240 ton/tahun, dengan upaya optimum (fMSY) sebesar 61.842 trip apong/tahun. Produksi maksimum berkelanjutan secara ekonomi (MSE) sebesar 234 ton/tahun dengan nilai Rp.2.740.275.054,00, dengan upaya optimum (fMSE) sebesar 50.368 trip apong/tahun.Kata kunci: M.elegans, produksi maksimum berkelanjutan, Laguna Segara Anakan.This research aimed is to study the maximum sustainable yield of the Fine Shrimp (Metapenaeus elegans) in Segara Anakan Lagoon, Cilacap, Central Java. Field activities were conducted from February to December2004 employing sistematic random sampling. The carapace length frequency data were obtained from catches of three unit apongs on nine stations. Catches of Fine Shrimp and trips of apong were observed andmeasured from 20% of apong population. The results showed that the survivor of fine shrimp during 2004 with carapace length of 3,5 mm was 196,554,700 individuals and produced 168 tons, valued at calculatedRp.1,726,744,150.00. Thompson and Bell model was applied showing that biological maximum sustainable (MSY) is 240 ton/year, with optimum effort (f MSY) of 61,842 “apong” trip/year. Maximum sustainable yield ofeconomic (MSE) calculated to be 234 ton/year, valued at  p.2,740,275,054.00, and optimum effort (fMSE) of 50,368 trip/year.Key words: M. elegans, Maximum sustainable yield, Segara Anakan Lagoon.
Konektivitas Logam Berat dalam Air tanah Dangkal, Sedimen dan Air Laut di Wilayah Pesisir (Connectivity Heavy Metals in Shallow Groundwater, Sediment and Seawater in Coastal Area) Chrisna Adi Suryono; Baskoro Rochaddi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.605 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.2.91-96

Abstract

Perkembangan aktivitas di wilayah pesisir menimbulkan terjadinya peningkatan polutan di lingkungan sekitarnya. Salah satu jenis polutan yang sering ditemukan adalah logam berat yang berbahaya. Penelitian ini menginvestigasi keterkaitan antara logam berat dalam air tanah dan logam berat yang ada pada sedimen laut dan air laut. Secara khusus, penelitian ini melihat enam logam berat yakni As, Hg, Cr, Pb, Cu dan Fe. Pengukuran kandungan logam dilakukan dengan AAS (Atomic Absorption Spectophotometry). Konsentrasi logam berat telah ditemukan dalam sedimen laut, air tanah dan air laut di daerah pesisir Tugu Semarang. Secara nyata terlihat bahwa seluruh logam menurun konsentrasinya dari sedimen, air laut dan air tanah, dan konsentrasi tertinggi terdapat dalam sedimen laut dan terendah terdapat pada air tanah. Konektivitas logam berat dalam sedimen, air laut dan air tanah diakibatkan oleh perubahan pH dan salinitas pada sedimen dan air. Peningkatan aktivitas reklamasi, buangan air limbah baik dari industri maupun pemukiman kemungkinan menyebabkan peningkatan logam berat di wilayah pesisir Tugu Semarang. Hasil penelitian ini menegaskan adanya konektivitas kandungan logam berat dalam air tanah, sedimen dan air laut di wilayah pesisir kota Semarang. Kata kunci: logam berat, sedimen, air laut, air tanah, Semarang Rapid development in coastal areas has lead to an increase in pollutants in the surrounding environment. One of the types of pollutants that are commonly found heavy metals. This study investigates the connectivity of heavy metals in ground water and heavy metals that exist in marine sediments and seawater. Six metals (As, Hg, Cr, Pb, Cu and Fe) in coastal areas in Tugu Semarang were examined. These metals were found ini marine sediment, groundwater and seawater in coastal areas. There is gradual decreased of the metal concentrations in sediment, seawater and groundwater, and the highest concentration of metals was found in marine sediment and the lowest in coastal groundwater. The connectivity of metals in marine sediment, groundwater and seawater predicted due to changes in pH and salinity of sediment and water. The increasing number of reclamation, waste water disposal from industrial and urban areas may has caused the increasing of heavy metals concentration in the coastal areas. The results of this study confirmed the presence of connectivity of heavy metals in the groundwater, sediment and seawater in the coastal area of ​​Semarang. Keywords: metals, sediment, groundwater, seawater, Semarang
Studi Ekosistem Teluk Ekas Melalui Pendekatan Keseimbangan Masa Elis Indrayati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.552 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.10.2.85-89

Abstract

Teluk Ekas merupakan teluk semi tertutup di bagian selatan Pulau Lombok dan berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Potret ekosistem Teluk Ekas dibangun melalui model trofik Teluk Ekas (1999 – 2000) dengan menggunakan software Ecopath with Ecosim versi 5.0 Beta. Ekosistem Teluk Ekas (1999-2000) terdiri atas 18 functional group meliputi 7 grup ikan, 6 grup invertebrata, 2 grup produsen primer, lumbalumba, karang dan detritus yang terdistribusi dalam 4 trophic level dengan lumba-lumba sebagai pemangsa tertinggi. Ekosistem Teluk Ekas (1999-2000) masih berada dalam tahap perkembangan dengan rasio produksi / respirasi (Pp/R) adalah 2,034 dan produksi / biomasa (P/B) adalah 5.4 per tahun.Kata kunci : Teluk Ekas, potret ekosistem, Ecopath with EcosimTeluk Ekas is a semi-enclosed bay on the south of Lombok island and is connected to the Indian Ocean..Snapshoot of Ekas Bay (1999 – 2000) was constructed by Ecopath with Ecosystem 5.0 Beta software. TheEkas Bay ecosystem spans over more than four trophics level and dolphin being the top predator. Thetrophic model consist of 18 functional groups i.e. 7 fish groups, 6 invertebrata groups, 2 primary producers, coral, dolphin and detritus. Result indicates that ratio between total production and total respiration (Pp /R) is 2.034 and ratio between production and biomass (P/B) is 5,4. Result suggests that the Ekas Bay to be on development stage.Key words: Ekas Bay, ecosystem snapshoot, Ecopath with Ecosim
Rancang Bangun Instrumen Sistem Buoy Menggunakan A-Wsn Protokol Zigbee Untuk Pengamatan Ekosistem Pesisir (Development of Buoy System Instrument using A-WSN ZigBee Protocol for Coastal Ecosystem Monitoring) Acta Withamana; Indra Jaya; Totok Hestirianoto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.657 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.18.4.179-185

Abstract

Luasnya perairan dan lingkungan laut yang tidak bersahabat menimbulkan tantangan tersendiri untuk diobservasi. Aktivitas observasi secara konvensional di laut, yang menggunakan kapal sebagai wahana bergerak, membutuhkan biaya yang tinggi dan tidak efisien untuk memperoleh resolusi spasial dan temporal yang diinginkan. Buoy tertambat telah lama digunakan sebagai salah satu pilihan untuk aktivitas observasi laut. Namun ukuran yang besar dari rancangan buoy yang ada pada umumnya tidak cocok untuk pengamatan ekosistem pesisir. Perkembangan teknologi semikonduktor yang pesat melahirkan konsep wireless sensor network (WSN). Komunikasi protokol ZigBee memiliki kelebihan penggunaan energi yang efisien dan kemudahan pemasangan. Riset ini dilakukan untuk mengembangkan instrumen buoy tertambat dan menguji apakah WSN dapat diaplikasikan di wilayah pesisir. Buoy tertambat yang dikembangkan memiliki kinerja yang baik dan stabil sebagai wahana instrumen. Kinerja jaringan ZigBee menunjukan tingkat keberhasilan pengiriman data sebesar 100% pada uji coba statis. Menggunakan empat buah baterai NiMH, instrumen ini dapat bekerja selama kurang lebih 39 jam untuk coordinator dan router, serta 89 jam untuk end device. Pengujian di lapangan menunjukan hasil terburuk sebesar 84.94% keberhasilan pengiriman data pada E1, dan hasil terbaik sebesar 100% keberhasilan pengiriman data pada R1 dan E3. Data suhu permukaan laut yang diterima juga dapat menggambarkan sebaran suhu permukaan di Pulau Panggang. Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa Instrumen Sistem Buoy Menggunakan A-Wsn Protokol Zigbee sangat berpotensi untuk digunakan dalam pengamatan ekosistem pesisir. Kata kunci: instrumen, buoy tertambat, ZigBee, suhu permukaan laut, observasi pesisir  Ocean observation has become a challenge due to its vast and rough condition. The conventional observation, for example using ship as a mobile platform, is very expensive and inefficient to obtain desired spatial and temporal resolution of sampling. Mooring buoy has been used as one of the options to carry out the task. However the big dimension in the existing buoy system is not suitable for coastal ecosystem monitoring. Rapid development in semiconductor technology has brought wireless sensor network (WSN). ZigBee communication protocol has the advantage of energy efficient and ease of implementation. This research was conducted to developing mooring buoy platform as well as analyzes the possibility of WSN to be implemented in coastal environment. The test on performance of developed mooring buoy was good and stable as the platform of instrument. The network performance of ZigBee radio gave 100% data transmitting and receiving success ratio in the static test. Using four Ni-MH batteries, the instrument can be operated for roughly 39 hours for coordinator and router, and 89 hours for end device. The sea field test shows that the worst is 84.94% success ratio on E1 and the greatest is 100% success ratio on R1 and E3. The received temperature data also accurate to describe the distribution of sea surface temperature at Panggang Island. Results of this study suggest that application of Buoy System instrument using  ZigBee-WSN protocol has the potential to be used in the observation activities of coastal ecosystems. Keywords: mooring buoy, instrument, WSN, ZigBee, coastal observation
Stimulasi Molting dan Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla sp.) Melalui Aplikasi Pakan Buatan Berbahan Dasar Limbah Pangan yang Diperkaya dengan Ekstrak Bayam Siti Aslamyah; Yushinta Fujaya
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.922 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.3.170-178

Abstract

Ekstrak bayam mengandung fitoekdisteroid yang dikenal sebagai stimulan molting pada kepiting.  Selain melalui injeksi,  aplikasi  ekstrak  bayam  melalui  pakan  buatan  juga  terbukti  mampu  mempercepat  molting  dan pertumbuhan kepiting bakau.  Kendala yang dihadapi pakan buatan yang digunakan masih mahal karena berbahan dasar ikan dengan kandungan protein yang tinggi,  sehingga perlu diformulasi pakan buatan khusus kepiting yang berkualitas, murah dan ramah lingkungan, serta disukai oleh kepiting.  Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi pakan buatan berbahan dasar limbah pangan yang diperkaya ekstrak bayam yang dapat memberikan respon molting dan pertumbuhan terbaik pada kepiting, serta efisien di produksi dalam skala besar.  Empat pakan buatan dengan berbagai kadar protein (P) dan karbohidrat (K) digunakan pada penelitian ini, yaitu pakan A (46,84% P; 33,33% K), B (41,57% P; 38,29% K), C (35,62% P; 44,32% K), dan D (30,62% P; 49,13% K), sebagai kontrol pakan berbahan dasar non limbah. Selama penelitian, kepiting dipelihara secara individu dalam karamba yang di letakkan di tambak.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan D dengan kadar protein 30,62% dan karbohidrat 49,13%  serta diperkaya dengan ekstrak bayam (700 ng/g kepiting) memberikan hasil terbaik dalam menginduksi molting kepiting bakau.  Dapat disimpulkan, pakan buatan yang digunakan  sebaiknya mempunyai kadar nutrien yang seimbang dan merupakan campuran berbagai bahan baku pakan agar kandungan nutriennya saling melengkapi. Kata kunci : Ekstrak bayam, kepiting bakau, limbah pangan, molting, pakan buatan Spinach extracts contains phytoecdysteroid, a substance which is well known to stimulante molting in crabs. In addition through injection, artificial feed that contains spinach extract had been proven to accelerate molting and growth on mud crabs. The problem faced in utilizing the artificial feed is related to its expensive cost, since it’s mainly produced from fish based materials with a very high protein concentration. Thus, it is essential to formulate a special artificial feed for crabs which have a quality, inexpensive, environmentally friendly, and liked by the crabs. The purpose of this study was to evaluate artificial feed made from food waste enriched with spinach extracts, which can provide the best growth response and molting in crabs, as well as efficient to be produced in large scale. Four artificial diets with different protein levels (P) and carbohydrates (K) used in this study were feed A (P: 46,84%; K: 33,33%), B (P: 41,57%; K: 38,29%), C (P: 35,62%; K: 44,32%) and D (P: 30,62%; K: 49,13%), and as control is feed derived from non-waste materials. During the test, crab was culture individually in cages placed in ponds. The results showed that the feed D with 30,62% of protein and 49,13% of carbohydrates and enriched with spinach extract (700 ng/g crab), gives the best results in inducing molting of mud crabs. In conclusion, artificial feed should consist of a mixture of various raw materials, so that their nutrients can be balanced and complementary. Key words :  Spinach extract, mud crab, food waste, molting, artificial feed
Komposisi dan Distribusi Diatom Bentik di Perairan Pantai Desa Naku, Kodya Ambon - Maluku N. V. Huliselan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1161.074 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.65-76

Abstract

Penelltian dilaksanakan pada Oktober 2000 untuk mempelajari komposlsi dan distribusi diatom bentik di perairan panai Desa Naku, Kodya Ambon. Ditemukan 16 genus diatom yang mewakili 10 ordo, dimana 7 ordo diantaranya mewakili ordo centris dan 3 lainnya dari ordo pennate. Jenis - jenis tersebut ditemukan pada tipe substrat yang berbeda. Coscinodiscus, Chaetoceros, dan Thalassionema rnerupakan jenis umum yang berperanan dalam persentasi kesamaan dari setiap stasiun pada tipe substrat yang berbeda. Analisa MDS dan Cluster, mernbuktikan bahwa terindikasi adanya 3 grup yang yang terkelompok karena jumlah jenis dan kepadatan diatom bentik yang terdapat di masing-masing stasiun. Namun demikian terlihat bahwa jumlah jenis diatom bentik lebih banyak di stasiun pada tipe substrat lumpur berpasir bila dibandingkan dengan stasiun lain pada substrat lainnya. Diatom bentik terdapat dalam kepadatan yang tlnggi di stasiun pada tipe substrat berlumpur (St. 10) dan kepadatan yang terendah pada tipe substrat berpasir (St. 3). Beberapa diatom bentik terdapat pada substrat berlumpur dan tidak terdapat di substrat berpasir tetapi (St. 3) pada substrat lumpur berpasir atau terjadi sebaliknya.Kata kunci: komposisi; distribusi; kepadatan; diatom bentik; substrat  Study on the composition and distribution of benthic diatoms surrounding Naku Village waters has been conducted in October 2000. 16 genus from 10 ordo were found and 7of them represented ordo centrales, while the rest 3 were from ordo pennales. They were encountered from different type of substrates. Coscinodlscus. Chaetoceros and Thalassionema were the genus contributed to the similarity percentages of each type of substrates (common species). MDS and Cluster analysis revealed that there were 3 groups of stations grouping by the abundance and the presence of the benthic diatoms. Eventhough, there were more genus encountered from stations which represented muddy-sandy substrate than other substrates the highest abundance of benthic diatoms were found from stations which represented muddy substrate (St. 10). Whilst the lowest abundance was from stations which are represented sandy substrate (St. 3). The results also showed that some of diatom benthic presented in the muddy substrate but were absent in the sandy substrate and they were presence in the muddy-sandy substrate or the other way.Keywords: composition; distribution; abundance; benthic diatoms; substrate
Uji Bioaktivitas Ekstrak Batang Tumbuhan Benalu Mangrove (C. filiformis) : I. Uji Antifungal Subagiyo Subagiyo; Wilis A Setyati; Ali Ridlo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.142 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.4.180-185

Abstract

Benalu adalah tumbuhan epifit parasit yang hidup menempel dan menghisap makanan dari tumbuhan inangnya. Selama proses penyerapan makanan ini akan ikut pula semua senyawa yang dibentuk oleh mangrove sebagai alat pertahanan diri, maka tumbuhan benalu yang hidup pada tumbuhan mangrove juga mempunyai kemampuan khusus untuk beradaptasi terhadap senyawa-senyawa yang dibentuk oleh tumbuhan mangrove. Sehingga dimungkinkan untuk ditemukannya jenis-jenis senyawa baru yang mempunyai potensi anti fungi. Senyawa-senyawa aktif ini kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut dalam rangka pengendalian penyakit baik bagi manusia maupun dalam bidang budidaya perikanan, peternakan maupun pertanian. Penelitian dilakukan dengan metode experimental. Ekstrak kasar diperoleh dengan metode masrasi menggunakan methanol sebagai pelarutnya. Sedangkan fraksinasi dilakukan dengan metode kromatografi kolom menggunakan methanol-chloroform (20:1) sebagai eluennya. Aktivitas antifungal diuji dengan metode paper disk. Ada 5 variasi konsentrasi fraksi yang diuji yaitu 50 ug/disk, 10 ug/disk, 5 ug/disk, 1 ug/disk dan 0,5 ug/disk. Hasil studi parasit-host menunjukan bahwa dilokasi penelitian (kawasan mangrove Teluk Awur-Jepara) C. filiformis terdapat sebagai parasit pada tumbuhan mangrove Lumnitzera sp dan Excoecoria aggaloca. Sedangkan hasil uji aktivitas antijamur menunjukan bahwa semua fraksi menunjukanaktivitas antijamur terhadap jamur Trichoderma hanya pada pengamatan 24 jam pertama. Aktivitas anti jamur terhadap Fusarium ditunjukan oleh semua fraksi, dan aktivitas terhadap Aspergillus ditunjukan olehfraksi fraksi 1 dan fraksi 5.Kata kunci : bioaktivitas, antifungal, extract batang, C filiformis, benalu mangroveMistletoe as arboreal parasitic plant, hold and absorb their nutrient from host. During nutrient absorption, all of metabolites (include secondary metabolites) which host producing will be absorbed too. For thatmistletoe must have capability to developing strategies to adapt. The one of adaptation strategies is creating bioactive compounds, and predicted that between bioactive compounds have antifungal activity.Extraction and fractination of stem of C. filiformis, and testing of its antifungal activity were done. Stem of C. filiformis was extracted in methanol. Crude extract was fractionated chromatograhically using methanolchloroform (20:1) as eluent. Antifungal was tested using agar disc-diffusion methods. There are 5 variation concentration, which tested, 50 ug/disc, 10 ug/disc, 5 ug/disc, 1 ug/disc and 0,5 ug/disc. Theresult showed that C. filiformis found as parasite on Lumnitzera sp and Excoecoria aggaloca. Antifungal test toward C. filiformis fractions showed that Fusarium and Trichoderma were inhibited by all of fractionswhile Aspergillus was inhibited only by fraction 1 and fraction 5.Key words : bioactivity, antifungal, stem extract, C. filiformis, misletoe
Kandungan Klorofil-a Mikrofitobentos di Padang Lamun Perairan Teluk Awur dan Bandengan, Jepara Widianingsih Widianingsih; Ita Riniatsih
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.462 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.1.6-13

Abstract

Mikrofitobentos yang hidup di lapisan sedimen teratas dapat digunakan sebagai pengukuran produktifitas primer di subtrat dasarperairan. Kandungan klorofil-a pada lapisan sedimen teratas dapat digunakan sebagai pengukuran biomassa mikrofitobentos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeterminasi kandungan klorofil-a mikroRtobenthos di lapisan sedimen teratas pada padang lamun perairan Teluk Awur dan Bandengan, Jepara. Hash penelitian menyatakan bahwa kandungan klorofil-a mikrofitobentos pada padang/amun perairan Teluk Awur lebih tinggi (0,940 - 1,011 mg/cm3) daripada perairan Bandengan (0,690 - 0,850 mg/cm3), namun berkebalikan dengan kerapatan lamunnya. Hal ini karena semakin tinggi nilai kerapatan padang lamun, semakln sedikit penetrasi cahayayang sampai ke lapisan substratnya sehingga akan mengakibatkan kecilnya nilai klorofil-a mikrofitobentos. Nilai kandungan klorofil-a mikrofitobentos tinggi pada wilayah padang lamun dengan kerapatan yang rendah, kandungan nutrien yang tinggi, kecepatan arus rendah dan penetrasi cafiaya yang tinggi dan sampai ke substrat dasar   Kata Kunci : Klorofil-a mikrofitobentos, Padang Lamun,  Teluk Awur, Bandengan
Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) in Muscles of Two Commercial Fish Species from Al-Kahlaa River in Missan Governorate, Iraq Salih Hassan Jazza; Abdul-Hussain Y. Al-Adhub; Hamid T. Al-Saad
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.819 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.3.121-126

Abstract

Al-Kahlaa River is one of main tributaries of the Tigris River in Missan city and rises from northwest side of Amara city and continues to flow in the direction to the east of city center. Two commercial fish species (Liza abu and Carassius auratus) were collected seasonally (autumn, winter, spring and summer) during period from 2012 to 2013 from Al-Kahlaa River in Missan governorate. The concentrations of Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) in fish muscles were determined in the laboratories of Nihran Omer (South Oil Company in Basrah province), using Gas Chromatography. Total concentrations of PAHs in muscles of L. abu ranged between 2.301 and 16.661 ng.g-1 dry weight during winter and summer respectively and in C. auratus between 1.095 and  8.675 ng.g-1 dry weight during winter and summer, respectively. Results of this study revealed that high molecular weight of PAHs were more than low molecular weight in both fish species, and according to ratios of Low molecular weight Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (LPAHs) to High molecular weight Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (HPAHs), Benzo(a) Anthracene /(Benzo(a) Anthracene+ Chrysene) BaA/(BaA+Chr),Indeno (1,2,3-cd) pyrene /(Indeno (1,2,3-cd) pyrene + Benzo (ghi) perylene) InP/(InP+BghiP) and Fluoranthene/Pyrene (Fl/Py), they certainly reflected that the PAHs sources in both species are pyrogenic as a main sources  and petrogenic as a small part. Also results of this study revealed the presence of seasonal variations in total concentrations of   PAHs in both fish species. The study area was generally contaminated with hydrocarbons and continuous consumption of food from this area may pose public health hazards. Keywords: polycyclic aromatic hydrocarbons, PAHs, fish, pollution Al-Kahlaa adalah salah satu anak sungai utama Sungai Tigris di kota Missan dari sisi barat laut kota Amara dan terus mengalir ke arah ke timur dari pusat kota. Dua spesies ikan komersial (Liza abu dan Carassius auratus) diperoleh pada musim berbeda (gugur, dingin, semi dan panas) selama periode 2012-2013 dari Al-Kahlaa. Konsentrasi polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) pada otot ikan dianalisis di laboratorium Nihran Omer (South Oil Company di provinsi Basrah), menggunakan Gas Chromatography. Total konsentrasi PAH pada otot L. abu berkisar antara 2,301 dan 16,661 ng.g-1 berat kering pada musim dingin dan musim panas. Sedangkan pada C. auratus antara 1,095 dan 8,675 ng.g-1 berat kering pada musim dingin dan musim panas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berat molekul tinggi PAH lebih dari berat molekul rendah pada kedua spesies ikan, dan menurut rasio berat molekul rendah polisiklik aromatik hidrokarbon (LPAHs) untuk berat molekul tinggi polisiklik aromatik hidrokarbon (HPAHs), Benzo (a ) Anthracene / (Benzo (a) Anthracene + Chrysene) BAA / (BAA + Chr), Indeno (1,2,3-cd) pyrene / (Indeno (1,2,3-cd) pyrene + Benzo (ghi) perylene) InP / (InP + BghiP) dan fluoranthen / Pyrene (Fl/Py), hal ini mencerminkan bahwa sumber PAH di kedua spesies adalah pirogenik sebagai sumber utama dan petrogenic sebagai bagian kecil. Hasil penelitian ini juga mengungkapkan adanya variasi musiman total konsentrasi PAH di kedua spesies ikan. Daerah penelitian umumnya terkontaminasi dengan hidrokarbon sehingga konsumsi makanan dari daerah ini secara berkelanjutan dapat menimbulkan bahaya kesehatan masyarakat. Kata kunci: polisiklik aromatik hidrokarbon, PAHs, ikan, polusi
Pengaruh Perbedaan Jenis Pakan dan Ransum Harian Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Kepiting Bakau (Scylla serrata) Muchlisin Z.A.; Edi Rudi; Muhammad Muhammad; Ichsan Setiawan
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.927 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.4.227-233

Abstract

Penelitian tentang perbedaan jenis pakan dan jumlah ransum harian kepiting bakau (Scylla serrata) telah dilakukan yang bertujuan untuk mencari pakan alternative dan jumlah pakan harian yang sesuai untuk budidaya kepiting bakau. Metode yang digunakan adalah eksperimen lapangan dengan dua factor perlakuan yaitu perbedaan jenis pakan (ikan rucah, usus ayam dan keong mas) dan jumlah ransom harian (10%, 15%, 20%). Kepiting dipelihara dalam keramba jaring (1m x 1m x 1m) dengan padat tebar 9 ekor/karamba dan dipelihara selama enam minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis pakan dan jumlah ransom harian tidak mempengaruhi secara nyata pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting bakau.Namun demikian, ikan rucah sebayak 20% memberikan hasil pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan jenis pakan lainnya. Sementara itu, angka kelangsungan hidup yang tinggi diperoleh pada pemberian keong mas 10% dan 15%.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian keong mas and usus ayam dapat digunakan sebagai pakan alternative dalam budidaya kepiting bakau, namun demikian pemakaian ikan rucah sebagai pakanmemiliki peran penting dalam budidaya kepiting.Kata kunci : Kepiting bakau (Scylla serrata), keong mas (Pomacea canaliculata), ikan rucah dan usus ayamThe study of feed differences and feeding ration of mud crab (Scylla serrata) on the growth, and survival rate was done. The objective of the present study is to find alternative feeds and daily rations for mud crabculture. Field experimental was used in this study and two factors were evaluated namely type of feed (trash fish, chicken intestine and golden snail) and daily ration of 10%, 15% and 20%. The crabs were reared in poly ethylene cages with stocking density of 9 crabs /cage for six weeks. The result shows that the differences of feed types and daily rations were no significant affected on growth performance and survival rate of mudcrab. However, feed of trash fish 20% have resulted in a higher growth performance than other feeds and higher survival rates were found at feed of golden snail 10% and 15%. Therefore, it is concluded that goldensnail and chicken intestine are possible to be used as alternative feeds for mud crab culture. However trash fish is still play a vital role in crab culture.Key words: Mud crab (Scylla serrata), golden snail (Pomacea canaliculata), trash fish and chicken intestine.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 30, No 3 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 2 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 1 (2025): Ilmu Kelautan Vol 29, No 4 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 3 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 2 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 1 (2024): Ilmu Kelautan Vol 28, No 4 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 3 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 2 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 1 (2023): Ilmu Kelautan Vol 27, No 4 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 3 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 2 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue