cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
DHARMA EKONOMI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Economy,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 33 (2011)" : 9 Documents clear
KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL Darsono -
DHARMA EKONOMI Vol 18, No 33 (2011)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.617 KB)

Abstract

Hasil riset deskriptif yang dilakukan oleh Tchy & Devanna (1998) menunjukkan bahwa pemimpin transformasional melakukan proses transformasi yang meliputi tiga tahap pokok (1) Identifikasi kebutuhan akan perubahan (2) Menciptakan visi baru (3) Melembagakan perubahanPenelitian yang dilakukan  Dumphy & Stace (dalam Fulop & Linsed, 1999) memberikan hasil serupa bahwa pemimpin transformasional  memiliki tiga karakteristik utama : (1) Merumuskan visi baru mengenai masa depan organisasi  (menciptakan visi baru, menghentikan kerangka lama, dan mendemonstrasikan komitmen pribadi atas visi tersebut); (2) Mengkomunikasikan visi baru (mengkomunikasikan dan mendramatisasi) visi baru, berfokus pada SDM, dan memanfaatkan momentum khusus; (3) Mengimplementasikan visi baru (membentuk tim yang efektif, melakukan reorganisasi dan membentuk budaya baru).Secara umum kepemimpinan  transformasional menjanjikan perubahan dramatis. Namun konsep itu tidak luput dari kritik. Salah satunya adalah menyangkut atribusi keberhasilan melakukan perubahan yang dikaitkan hanya pada sang change master.Kata kunci : Perubahan, Visi baru
ARAH DAN KEBIJAKAN POLITIK EKONOMI INDONESIA MAKIN MENYIMPANG DARI KONSTITUSI Wachid Fuady Rahmat
DHARMA EKONOMI Vol 18, No 33 (2011)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.742 KB)

Abstract

AbstrakPerekonomian Indonesia makin hari makin menyimpang dari konstitusi yaitu UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa dan kesejahteraan umum. Negara memilih menyerahkan peran Negara pada swasta, termasuk kebijakan ekonominya,            Produk hukum yang dihasilkan pemerintah da DPR sangat dipengaruhi oleh paham Individuali – Kapitalistik (Liberalistik). Hukum ekonomi yang berbasis Liberasistik akan berdampak pada kebebasan dan memberi kesempatan kepada pihak yang kuat untuk mendominasi. Pasal (23), (27), (28), (31), (33) dan (34) dalam UUD 1945 merupakan pasal yang keseluruhan saling berkait. Satu pasal (pasal 33) mengatur pengelolaan ekonomi, sedangkan Lima pasal lainnya mengatur kewajiban sosial Negara terhadap rakyatnya.            Untuk mencegah penyimpangan lebih jauh beberapa alternative pemecahan antara lain (1) Norma-norma hukum hendaknya selaras dengan kandasan filosifis bangsa (2) Pemanfaatan SDA dan pasar domestic digunakan untuk kesejahteraan rakyat (3) Kebijakan pemerintah hendaknya makin terarah (4) Reformasi birokrasi (5) Arah baru politik ekonomi yaitu mengurangi peran penguasaan  asing dan lebih memberi peluang pada peran domestik. Jadi tidak ada pilihan lain kecuali melakukan koreksi terhadap kebijakan ekonomi dan menjadikan UUD 1945 sebagai referensi. Kata Kunci : UUD 1945, Liberastik, Konstitusi. 
STRATEGI MEMBANGUN LOYALITAS PELANGGAN Fasochah -
DHARMA EKONOMI Vol 18, No 33 (2011)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.293 KB)

Abstract

Setiap perusahaan yang sukses harus bisa menarik ,melayani dan memenangkan kesetiaan pelanggan dengan memberikan pelayanan yang prima.Mendapatkan dan mempertahankan kesetiaan pelangganlebih mempengaruhi lapisan konsumen disbanding kampanye iklan,program pemasaran atau upaya public Relations apapun.Mencari pelanggan baru biayanya jauh lebih besar daripada mempertahankan loyalitas konsumen,Kalau semua orang dalam suatu organisasi berlaku sopan dan ramah antara lain selalu menyapa, menyalami dan berbicara juga memberikan senyuman pada pelanggan yang baru datang,pelanggan merasa di orangkan sehingga mereka akan setia dan loyalitas pelanggan bisa dibangun.Selain strategi diatas juga ada strategi lain yang perlu diterapkan yaitu menggunakan strategi Customer,Layanan purna jual dan CultureKey word : Customer Loyality
PARADIGMA MEMBANGUN HUBUNGAN PEMASARAN (RELATIONSHIP MARKETING) sb handayani
DHARMA EKONOMI Vol 18, No 33 (2011)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.29 KB)

Abstract

               Tujuan dari tulisan ini adalah menggambarkan bagaimana pelanggan dengan tingkat kepuasannya bisa dipertahankan  melalui pemahaman konsep relationship marketing  (pemasaran keterhubungan).Al Pertama, adanya perubahan dan perkembangan tehnologi sangat berdampak pada kehidupan umat manusia  dengan segala kegiatannya, begitu juga dengan pergeseran paradigma pemasaran dari  pemasaran konvensional menuju  pemasaran keterhubungan (relasionship marketing). Kedua, paradigma relasionship marketing  ini menjadi kebutuhan bisnis baik bagi  pelanggan maupun pelaku bisnis lain dalam  jangka panjang ,Ketiga  membangun hubungan pemasaran (relationship marketing)  dengan para pelaku bisnis    akan meningkatkan nilai pelanggan, kemampulabaan , dan kelanggengan  bisnis dan terakhir bagaimana relationship marketing ini dilakukan menjadi pembahasan dalam tulisan ini .Kata Kunci : Kepuasan Konsumen ,Relationship Marketing,
CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT (CRM) : PILIHAN STRATEGI UNTUK MERAIH KEUNGGULAN BERSAING Umar Chadiq
DHARMA EKONOMI Vol 18, No 33 (2011)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.321 KB)

Abstract

 Pentingnya implementasi CRM pada perusahaan  disebabkan CRM memiliki kemampuan untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan pelanggan serta mengantisipasi perilaku negatif pada saat berinteraksi langsung dengan pelanggan. Strategi bisnis, secara teoritis, akan menciptakan keunggulan bersaing dalam pasar tetapi kesalahan dalam pengimplementasinnya tidak akan menghasilkan keuntungan apapun. Dari kajian tentang penerapan  CRM menunjukkan bahwa implementasi CRM secara efektif  akan berdampak pada peningkatan kinerja pemasaran. Hubungan langsung tersebut terjadi karena pelanggan merasa kebutuhannya diperhatikan oleh perusahaan sehingga menciptakan kepuasan atas pelayanan yang diberikan. Dengan terciptanya kepuasan maka akan berdampak pada loyalitas sehingga jumlah pelanggan yang dimiliki dapat dipertahankan. Disamping itu juga, perasaan puas yang dirasakan oleh pelanggan merupakan media promosi yang efektif untuk menjaring pelanggan baru. Selanjutnya dari implementasi CRM ini juga akan berpengaruh terhadap kinerja keuangan, karena CRM didasarkan pada prinsip-prinsip relationship marketing, dimana manajer bisa meningkatkan kinerja perusahaan. Semakin meningkatnya kinerja perusahaan maka kinerja keuangan juga meningkat karena melalui CRM hubungan pelanggan bisa dikelola secara efektif sebagai aset yang akan memberi kontribusi profit secara pasti dan berkelanjutan.Kata kunci :customer relationship management,, kepuasan pelanggan, keunggulan bersaing.
MEMAHAMI INTERNAL AUDIT SEBAGAI ALAT PERLENGKAPAN PERUSAHAAN UNTUK MENCEGAH KECURANGAN ismanto -
DHARMA EKONOMI Vol 18, No 33 (2011)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.289 KB)

Abstract

AbstrakInternal auditing adalah suatu penilaian, yang dilakukan oleh pegawai perusahaan yang terlatih mengenai ketelitian, dapat dipercayainya efisiensi, dan kegunaan catatan-catatan (akuntansi) perusahaan serta pengendalian intern yang terdapat dalam perusahaan.. Internal audit yang modern tidak lagi terbatas fungsinya dalam bidang pemeriksaan keuangan tetapi sudah meluas ke bidang lainnya seperti manajemen audit, audit lingkungan hidup, sosial audit dan lain-lainDari kegiatan-kegiatan yang dilakukannya internal auditor juga memiliki peranan penting dalam pencegahan, pendektesian, dan penginvestigasian kecurangan 
MENGUKUR POTENSI PELUANG PASAR DAN BESARNYA MODAL YANG DIPERLUKAN BAGI CALON USAHAWAN BARU sutopo -
DHARMA EKONOMI Vol 18, No 33 (2011)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.913 KB)

Abstract

A. Pendahuluan            Potensi peluang pasar sering diartikan sebagai suatu yang abstrak, yang sulit untuk dikwantifikasikan dalam bilangan yang rasional. Begitu juga modal kerja, yang jelas satuannya adalah uang sering susah untuk menentukan berapa besar modal yang diperlukan untuk dapat menggarap suatu peluang pasar. Sering kita dengar, orang mengatakan: “ wah peluang untuk berdagang sembako di pemukiman ‘ Anu ‘ sangat  besar, saya memerlukan modal untuk bisa memanfaatkan peluang bisnis tersebut “ Namun ketika ditanya seberapa besarkah potensi peluang pasar itu, dan berapa modal yang diperlukannya. Maka pertanyaan seperti itu sering tidak bisa dijawab dengan jelas.            Bagi seorang yang hendak memasuki suatu usaha baru di suatu wilayah bisnis tertentu wajib untuk bisa mengukur dan mempridiksikan seberapa besar potensi peluang pasar yang ada, seberapa besar modal usaha yang diperlukan dan juga pridiksi tentang cashflow, rugi-laba serta perkembangan bisnisnya. Pendek kata harus terlebih dahulu bisa membuat studi kelayakan bisnis yang valid.       Dalam hal ini ketepatan mengukur potensi peluang pasar menjadi penentu, salah dalam mengukur potensi peluang pasar akan menjadikan seluruh kajian menjadi salah dan tidak valid, yang selanjutnya akan  menjadi- kan kegagalan total dalam suatu usaha yang sudah terlanjur dibiayainya.            Dalam tulisan ini tidak dibahas bagaimana membuat kelayakan bisnis secara utuh melainkan hanya menjelaskan cara mengukur potensi peluang pasar dan menentukan besarnya modal yang diperlukan untuk memulai menjalankan suatu usaha. Banyak model dan metoda yang dapat dipergunakan dalam mengukur peluang pasar, hal ini sangat tergantung dari karakter pasar itu sendiri serta pengalaman dan latar belakang si pembuat studi. Di sini akan diuraikan bagaimana cara mengukur peluang pasar dan menentukan besarnya modal usaha dengan suatu model yang sederhana dan aplikatif  khususnya dalam perencanaan usaha kecil bagi UMKM. 
BAGAIMANA PERTUMBUHAN EKONOMI MENJADI BIAYA: PENGGANDA KELANGKAAN Lasmiatun -
DHARMA EKONOMI Vol 18, No 33 (2011)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.431 KB)

Abstract

Competent macro-accocation of natural capital would allow micro-allocation by economics to be fully useful and may help prevent the latter being confused with the former. This macro-accocation requires social choice, so to see whether it is likely to be competent the effectiveness of democratic politics is investigated. Dysfungtion is predicted becauise democratic institutions produce elements of irresponsibility and ignorance, the permit inflation of want by supply (IWS) a possitive feedback in which wants are increased by their supply, provoking more supply, hence more want. Four IWS systems combine under common conditions to indefinitely escalate the scarcity of natural capital, a critical failure of macro-allocation. This scarcity multiplier couses apparentty rational attempts to satisfy a few wants to exacerbate many, increasing dissatisfaction. Institution for deliberative public participation may enable democraticies to recognize and control IWS. Unless this is done the scarcity multiflier may make cost-benefit analysis mistending : it may make the costsof development project exceed their benefits in proportion to their financial succes.Keywords : natural capital, population, contingency of preference, cost-benefitt  analisis, macro - allocation 
PENGARUH KEBIJAKAN UTANG, KEBIJAKAN DIVIDEN, RISIKO INVESTASI DAN PROFITABILITAS PERUSAHAN TERHADAP SET KESEMPATAN INVESTASI -, subchan; -, sudarman -
DHARMA EKONOMI Vol 18, No 33 (2011)
Publisher : LPPM STIE DHARMAPUTRA SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.333 KB)

Abstract

Dalam melakukan initial public offering (IPO) perusahaan bisanya menggunakan hutang dalam memenuhi kebutuhan dananya. Hal ini dilakukan dengan penerbitan obligasi maupun hutang kepada kreditur.  Dampak keputusan pendanaan tersebut sangat penting bagi operasional perusahaan, namun kontroversi mengenai keputusan pendanaan jangka panjang hingga saat ini masih terjadi. Menurut Husnan (2002) pendanaan jangka panjang dan struktur modal perusahaan merupakan dua variabel yang tidak dapat dipisahkan dari perspektif manajemen keuangan.Hubungan kebijakan utang, kebijakan dividen, risiko dan profitabilitas dengan set kesempatan investasi menarik beberapa peneliti.  Set kesempatan Investasi merupakan keputusan investasi dalam bentuk kombinasi aktiva yang dimiliki (asset-in place) dan pilihan pertumbuhan (growth option) pada masa yang akan datang (Kusuma, 2000). Menurut Kusuma, (2000) set kesempatan investasi merupakan nilai perusahan yang besarnya tergantung pada pengeluaran-pengeluaran yang ditetapkan manajemen dimasa yang akan datang, yang pada saat ini merupakan pilihan-pilihan investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang lebih besar. Komponen dari nilai perusahaan merupakan hasil dari pilihan–pilihan untuk membuat investasi dimasa yang akan datang adalah merupakan set kesempatan investasi.Set Kesempatan investasi dipengaruhi oleh seberapa besar hutang yang digunakan dalam struktur modal. Karena penggunaan modal saham atau hutang memiliki konsekuensi masing-masing. Penggunaan saham yang terlalu banyak dengan mengabaikan pemanfaatan hutang berdampak pada tingginya kewajiban bagi perusahaan untuk membayarkan dividen. Hal ini menyebabkan hilangnya kesempatan bagi perusahaan untuk memanfaatkan laba untuk kepentingan pertumbuhan apabila pemegang saham tidak menghendaki, Fijrijanti dan Hartono (2004). Demikian juga sebaliknya, apabila perusahaan 100% menggunakan hutang, maka perusahaan akan menanggung beban kewajiban kepada kreditur yang tinggi.Menurut Jaggi dan Gul (1999) dalam Lestari menunjukan hubungan yang positif antara aliran kas bebas dan kebijakan utang perusahaan untuk perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi yang rendah dan hubungan yang positif antara kebijakan utang,aliran kas bebas yang tinggi untuk perusahaan yang memiliki kesempatan investasi  yang rendah ,lebih jelas pada perusahaan yang size-nya besar.  Menurut Fijriyanti dan Hartono (2004) kebijakan pendanaan berimplikasi pada set kesempatan investasi dan sebaliknya. Tindakan perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi besar relatif lebih fleksibel untuk bertindak oportunistik dan sulit dideteksi, karena real option (tidak sebagaimana real asset) sulit diobservasi tanpa informasi dari pihak internal perusahaan. Pengaruh kebijakan hutang terhadap set kesempatan investasi juga dikemukakan oleh Fama et.al (2000) yang menyatakan bahwa keseimbangan financing cost (biaya pendanaan) mendorong perusahaan yang memunyai investasi besar cenderung mempunyai hutang yang tinggi. Semakin besar kesempatan investasi, maka semakin besar perusahaan menggunakan dana eksternal khususnya hutang, apabila retained earning dan internal equity, tidak mencukupi dan sebaliknya semakin tinggi menurut tradeoff theory penggunaan hutang yang tinggi akan memberikan manfaat bagi perusahaan, karena manfaat bersih dari penggunaan hutang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang ditimbulkan.Menurut Jones dan Sharma (2001) dalam Lestari (2004) hubungan antara set kesempatan investasi  dan debt equity  ratio dan dividend yield adalah negatif yang berarti perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi  yang tinggi akan memiliki debt equity ratio dan devidend yield yang rendah. Menurut Husnan (2002) bagi perusahaan kebijakan dividen adalah sebuah kebijakan yang sulit ditebak (puzzle). Untuk meningkatkan nilai perusahaan, maka disamping membuat kebijakan dividen maka perusahaan dituntut untuk tumbuh. Pertumbuhan dapat diwujudkan dengan menggunakan kesempatan investasi sebaik-baiknya. Investasi berhubungan dengan pendanaan dan apabila investasi sebagian besar didanai internal equity maka akan mempengaruhi dividen yang dibagikan. Semakin besar investasi semakin berkurang dividen yang dibagikan. Apabila dana internal equity kurang mencukupi dari dana yang dibutuhkan untuk investasi maka bisa dipenuhinya dari eksternal khususnya dari hutang. Perusahaan yang cenderung menggunakan sumber dana eksternal untuk mendanai tambahan investasi akan membagikan dividen yang lebih besar.Lestari (2004), Fijriyanti dan Hartono (2000), Subekti dan Kusuma (2000) membuktikan perusahaan yang tumbuh memberikan deviden yang lebih kecil dari perusahaan yang tidak tumbuh. Karena, laba yang ditahan yang dihasilkan perusahaan sebagian perusahaan di alokasikan untuk melakukan ekspansi. Menurut Copeland (2010) salah satu bentuk kebijakan dividen adalah kebijakan dividen optimal yaitu kebijakan yang menciptakan keseimbangan antara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa yang akan datang (kesempatan investasi). Pendapat lain mengenai hubungan antara kebijakan dividen dan set kesempatan investasi Fijrijanti dan Hartono (2004) yang menyatakan bahwa perusahaan yang membayar dividen tinggi diasumsikan memiliki kesempatan pertumbuhan yang tinggi, karena pembayaran dividen merupakan sinyal dari perusahaan mengenai potensi pertumbuhan di masa yang akan datang.Selain kebijakan dividen dan kebijakan hutang, risiko merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi Set Kesempatan Investasi.  Dalam dunia usaha, hampir semua investasi mengandung unsur ketidak pastian atau resiko. Investor tidak tahu secara pasti berapa dan apa yang akan diperolehnya dari investasi yang dilakukannya. Dalam keadaan seperti ini dapat dikatakan bahwa investor menghadapi resiko dalam investasi yang dilakukannya. Karena investor menghadapi kesempatan investasi yang beresiko, pilihan investasi tidak dapat hanya mengandalkan pada tingkat keuntungan yang diharapkan saja, sehingga Set Kesempatan Investasi harus dipertimbangkan terhadap faktor risiko, Lestari (2004).Resiko disinonimkan dengan ketidakpastian, karena resiko mengacu pada adanya variasi nilai antara yang diperkirakan dengan nilai-nilai observasi. Dengan demikian resiko dapat diartikan sebagai adanya ketidakpastian tentang nilai-nilai yang akan terjadi. D’ Saouza dan Saxena (1999) dalam Lestari menunjukan terdapat hubungan yang negatif  antara resiko investasi  dengan set kesempatan investasi. Menurut Van Horn dan Wachowicz, JR (1997; 94) mendifinisikan resiko sistematis dan resiko tidak sistematis sebagai resiko sistematis (Systematic risk) dan Resiko tidak sistematis (unsystematic risk). Lestari (2004) yang menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi tidak menyukai pembiayaan yang akan meningkatkan leverage. Hal ini berkaitan dengan leverage akan meningkatkan risiko bagi perusahaan untuk dinyatakan bangkrut oleh debtholder, jika tidak bisa mebayar hutang. Pendapat lain mengenai hubungan risiko dengan set kesempatan investasi dinyatakan oleh Al Najjar dan Belkaoui (1999) dalam Lestari (2004) yang menyatakan bahwa hubungan antara pertumbuhan dengan risiko bisa positif atau negatif tergantung pada nilai relatif parameter penelitian. Hasil penelitian Lestari (2004) membuktikan bahwa risiko sistematik berkaitan dengan set kesempatan tumbuh yang dimiliki perusahaan.Sedangkan profitabilitas berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan aktiva yang dipercayakan kepada manajemen. Semakin tinggi profitabilitas, maka semakin tinggi kas yang tersedia di perusahaan untuk mendanai investasi, dan sebaliknya semakin kecil profitabilitas, maka semakin rendah kemampuan perusahaan dalam melakukan pendanaan internal.Menurut Alhajjar dan Riahi Belkaoui (2001) dalam Lestari menyatakan hubungan antara profitabilitas dengan set kesempatan investasi adalah positif. Hubungan antara profitabilitas dengan set kesempatan investasi dinyatakan oleh Prasetyo (2000) yang menyatakan bahwa nilai perusahaan sebagai kombinasi income generating asset-in-place dan growth ooportunities. Profitabilitas yang tinggi memberikan sinyal mengenai pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, karena sebagian besar profitabilitas akan ditanamkan kembali dalam bentuk investasi untuk meningkatkan nilai perusahaan. Hasil penelitian Chandra (2006) juga menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi cenderung memiliki set kesempatan investasi yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan dengan profitabilitas rendah. Hasil tersebut mendukung Hasil penelitian Lestari (2004) yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap set kesempatan investasi.Penelitian ini akan terfokus pada Apparel and Other Textile Products yang saat ini kepemilikannya identik dengan penanam modal asing. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka penelitian ini diberi judul “Pengaruh Kebijakan Utang, Kebijakan Dividen, Risiko Investasi dan Profitabilitas Perusahaan Terhadap Set Kesempatan Investasi”.   

Page 1 of 1 | Total Record : 9