cover
Contact Name
eko subaktiansyah
Contact Email
eko.subaktiansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@inajog.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
ISSN : 23386401     EISSN : 23387335     DOI : -
Core Subject : Health,
The Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology is an official publication of the Indonesian Society of Obstetrics and Gynekology. INAJOG is published quarterly.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Volume. 32, No. 1, January 2008" : 7 Documents clear
Tingkat pengetahuan dan sikap penerimaan perempuan pasangan usia subur terhadap cincin vagina (Nuvaring®) di Klinik Raden Saleh Jakarta KARTINA, N.; KAMPONO, N.; SANTOSO, S. S.I.; PRIHARTONO, J.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 1, January 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.209 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap penerimaan perempuan PUS terhadap cincin vagina dan sebarannya menurut berbagai faktor serta mengetahui alasan menerima atau menolak cincin vagina. Tempat: Poliklinik keluarga berencana Klinik Raden Saleh, Jakarta. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu Maret 2006 sampai Mei 2006 dilakukan pengumpulan data terhadap 106 responden yang diambil secara consecutive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji coba sebelumnya. Responden diberikan penyuluhan, kemudian dilakukan pengambilan data dengan menggunakan kuesioner untuk tingkat pengetahuan dan sikap penerimaan. Hubungan antar variabel ditentukan dengan uji statistik Chi-Square, Fisher, uji t tidak berpasangan dan Mann Whitney. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan 106 responden. Sebanyak 84,9% memiliki pengetahuan yang baik tentang cincin vagina. Tingkat pengetahuan dinilai setelah responden diberikan penyuluhan. Sebanyak 40,6% responden dapat menerima cincin vagina dengan alasan terbanyak (58,1%) adalah praktis. Sedangkan 59,4% responden menolak dengan alasan terbanyak (23,8%) adalah tidak praktis. Sikap penerimaan ini sesuai dengan tahapan penilaian/evaluation (teori Rogers). Terdapat perbedaan sebaran tingkat pengetahuan yang bermakna menurut pendidikan. Tidak ditemukan perbedaan sebaran yang bermakna pada karakteristik demografik, medik dan obstetrik lain berdasarkan pengetahuan dan sikap penerimaan. Kesimpulan: Prospek penerimaan cincin vagina di Indonesia cukup baik, dilihat dari 40,6% responden dapat menerima cincin vagina. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 40-7] Kata kunci: alat kontrasepsi, Nuvaring®
Efek zat aromatase inhibitor dan GnRH agonis terhadap kadar Vascular Endothelial Growth Factor-A pada kultur jaringan endometriosis AS’ADI, A.S.; HESTIANTORO, A.; ARLENI, ARLENI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 1, January 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Menganalisa efek zat aromatase inhibitor, GnRH agonis dan kombinasi keduanya terhadap kadar Vascular Endothelial Growth Factor-A (VEGF-A) pada kultur jaringan endometriosis dalam lingkungan kadar steroid seks yang berbeda. Tempat: RS Fatmawati, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Klinik Kesehatan Reproduksi Raden Saleh Jakarta dan Laboratorium MAKMAL FKUI. Rancangan/rumusan data: Penelitian eksperimental. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu Juni 2006 - April 2007, terkumpul 15 sampel jaringan endometriosis dari 15 pasien endometriosis. Sampel yang didapat berasal dari dinding kista endometriosis dan dari bercak-bercak endometriosis pada genitalia interna. Semua sampel diolah sesuai protokol yang dibuat. Ada 4 sampel (27%) yang berhasil tumbuh baik dalam medium kultur. Dari 4 sampel tersebut hanya 3 sampel yang mendapat perlakuan. Masing-masing sampel dibagi ke dalam 7 well dengan jumlah sel pada masing-masing well 7,1 - 9,1 x 103 sel/ml : well 1 ditambahkan Testosteron 100 nM/L, well 2 ditambahkan Testosteron 100 nM/L dan Estradiol 10 nM/L, well 3 ditambahkan Testosteron 100 nM/L, Estradiol 10 nM/L dan Letrozol (aromatase inhibitor) 10 nM/L, well 4 ditambahkan Testosteron 100 nM/L dan Letrozol 10 nM/L, well 5 ditambahkan Testosteron 100 nM/L, Letrozol 10 nM/L dan Leuprolide asetat (GnRH agonis) 100 ng/ml, well 6 ditambahkan Testosteron 100 nM/L dan Leuprolide asetat 100 ng/ml, well 7 tanpa perlakuan (kontrol). Setelah diinkubasi selama 72 jam, supernatannya diambil dan dilakukan pemeriksaan kadar VEGF-A dengan teknik ELISA. Hasil: Nilai median kadar VEGF-A yang paling tinggi terjadi pada pemberian Testosteron + Estradiol yaitu 20,228 pg/ml dan ini lebih tinggi bila dibandingkan kontrol yang hanya 9,233 pg/ml, maupun dengan sampel yang hanya diberikan Testosteron saja yaitu 9,944 pg/ml. Nilai median kadar VEGF-A pada sediaan yang diberikan Testosteron + Estradiol yaitu 20,228 pg/ml, bila dibandingkan dengan sampel yang mendapatkan perlakuan yang sama dan ditambahkan Letrozol (aromatase inhibitor) terjadi penurunan menjadi 14,205 pg/ml. Nilai median kadar VEGF-A pada sampel yang diberikan Testosteron + Letrozol (aromatase inhibitor) 16,335 pg/ml, Testosteron + Letrozol + Leuprolide asetat (GnRH agonis) 10,653 pg/ml dan Testosteron + Leuprolide asetat 11,364 pg/ml. Nilai terendah terjadi pada sampel yang diberikan Aromatase inhibitor + GnRH agonis. Kesimpulan: Nilai median kadar VEGF-A cenderung meningkat pada sampel yang diberikan Testosteron dan Estradiol. Nilai median kadar VEGF-A cenderung lebih rendah pada sampel yang diberikan kombinasi aromatase inhibitor dan GnRH agonis. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 11-21] Kata kunci: kultur jaringan endometriosis, testosteron, estradiol, letrozol, leuprolide asetat, VEGF-A, ELISA
Inkontinensia urin pada perempuan menopause SUPARMAN, E.; ROMPAS, J.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 1, January 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.056 KB)

Abstract

Tujuan: Memperlihatkan kaitan kejadian terjadinya Inkontinensia urin pada perempuan menopause serta jenis-jenis inkontinensia yang dialaminya serta prosedur penatalaksanaannya. Tempat: Bagian Kebidanan dan Kandungan Universitas Sam Ratulangi, Rumah Sakit Umum Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado - Indonesia. Rancangan/rumusan data: Tinjauan literatur. Kesimpulan: Kejadian Inkontinensia pada perempuan menopause ter-jadi terutama karena kelemahan dari otot dasar pelvis. Di samping itu juga dipengaruhi oleh perubahan fungsi dan struktur dari kandung ke-mih dan uretra. Proses ini terutama diakibatkan oleh karena proses penuaan dari ovarium sehingga terjadi penurunan produksi estrogen. Estrogen melalui reseptor α dan β mempengaruhi uretra dan kandung kemih. Penurunannya mengakibatkan uretra menjadi kaku dan tidak elastis. Sehingga sukar untuk menutup dengan sempurna. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 32-1: 48-54] Kata kunci: inkontinensia urin, menopause, estrogen, uretra, kandung kemih
Penanganan Adenomiosis dengan Reseksi Laparotomik pada Perempuan Infertil (Pengalaman pada 32 kasus) RAJUDDIN, RAJUDDIN; JACOEB, T. Z.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 1, January 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.463 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk melihat hasil tatalaksana pengobatan adenomiosis dengan reseksi. Rancangan/rumusan data: Kajian retrospektif deskriptif. Tempat: Klinik Fertilitas dan Menoandropause SamMarie Jakarta. Bahan dan cara kerja: Dikumpulkan kasus adenomiosis pada perempuan infertil selama tiga tahun (Januari 1999 sampai Desember 2001) yang diagnosis ditegakkan dengan USG transvaginal. Kasus dilakukan reseksi secara laparotomi dan dilakukan pemeriksaan Patologi anatomi sebagai diagnosis pasti adenomiosis uteri. Dan pascareseksi dinilai perubahan gejala klinis, angka keberhasilan hamil dan laju kekambuhan. Hasil: Selama 3 tahun ditangani 1619 kasus infertilitas dan terdapat 66 (4,07%) kasus adenomiosis yang didiagnosis dengan USG trasvaginal. Sebanyak 32 kasus dilakukan tindakan operasi reseksi dengan hasil histopatologi menunjukkan 30 (93,75%) kasus adenomiosis dan 2 (6,25%) kasus mioma uteri. Yang berhasil hamil adalah 3 (9,4%) kasus yaitu dua kasus melahirkan hidup, satu kasus berakhir dengan abortus 6 minggu. Dan 25 (78,1%) kasus tidak hamil dan 4 (12,5%) kasus terjadi kekambuhan penyakit. Hilang gejala tapi tidak hamil 24 (75,35%) kasus. Kesimpulan: Pengobatan adenomiosis dengan reseksi dapat menyembuhkan lesi dan dapat terjadi kehamilan. Kekambuhan penyakit dapat terjadi setelah satu tahun pascareseksi. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 22-5] Kata kunci: adenomiosis, reseksi, infertil
Perbandingan efektivitas dan keluhan efek samping pada penggunaan Dioktil Sodium Sulfosuksinat (DSS)-Sorbitol dan Klisma Gliserin untuk persiapan pra-operasi di Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo VALLERIA, VALLERIA; SANTOSO, B. I.; JUNIZAF, JUNIZAF
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 1, January 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.888 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui perbandingan antara pemakaian DSSSorbitol dengan klisma gliserin untuk persiapan pra-operasi dalam hal efektivitas, kenyamanan dan keluhan (efek samping) yang ditimbulkan keduanya. Rancangan/rumusan data: Uji klinis tersamar tunggal. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dimulai pada tanggal 1 April 2006 selama 6 bulan, dilakukan pada 180 orang pasien yang akan menjalani pembedahan elektif di departemen obstetri dan ginekologi RSCM, dibagi atas 2 kelompok yaitu kelompok yang diberi DSS-Sorbitol (90 orang) dan kelompok yang dilakukan klisma gliserin (90 orang). Pengambilan sampel dilakukan secara random. Setelah perlakuan, pasien ditanyakan keluhannya dan dicatat pada kuesioner kemudian selama operasi berlangsung dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah ada feses yang keluar di meja operasi. Hasil: Pada kelompok gliserin didapatkan 3 pasien (3,3%) keluar feses saat operasi sedangkan pada kelompok DSS-Sorbitol didapatkan 1 pasien (1,1%). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok. Hampir sebagian besar pasien merasa nyaman dengan pemberian DSS-Sorbitol (81 orang) hanya 9 orang yang menyatakan tidak nyaman. Sedangkan pada kelompok gliserin terdapat 30 orang yang merasa tidak nyaman dan perbedaan ini sangat bermakna {p = 0.000; OR = 4.50 (1.99 - 10.18)}. Terdapat 58 pasien (32,2%) yang mengeluh saat dilakukan klisma atau pemberian DSS-Sorbitol dengan 9 orang diantaranya mempunyai keluhan lebih dari satu (8 orang dari kelompok gliserin dan 1 orang dari kelompok DSS-Sorbitol). Dari 58 pasien tersebut, 42 orang di antaranya diberikan gliserin (46,7%) dan sisanya, 16 orang diberikan DSS-Sorbitol (17,8%). Keluhan yang paling banyak adalah mulas, dikeluhkan oleh 40 pasien dari kelompok gliserin dan 10 pasien dari kelompok DSS-Sorbitol. Keluhan yang lain adalah mual (2 dari kelompok DSS-Sorbitol, 1 dari kelompok gliserin), pusing (2 dari kelompok DSS-Sorbitol, 1 dari kelompok gliserin), dan feses tidak keluar (1 dari kelompok DSS-Sorbitol, 3 dari kelompok gliserin) ditemukan pada kedua kelompok sedangkan keluhan kembung (3 orang), feses berdarah (3 orang) dan alat panas (1 orang) hanya ditemukan pada kelompok gliserin. Sebanyak 114 pasien menyatakan bersedia untuk diulangi persiapan pra-operasi pembersihan rektum ini, dengan proporsi lebih banyak yang bersedia dari kelompok DSS-Sorbitol, tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna. Dari perhitungan statistik ternyata kesediaan pasien untuk diberikan kembali klisma gliserin atau DSS-Sorbitol sangat dipengaruhi oleh rasa nyaman dan keluhan yang ditimbulkan oleh masingmasing cara. Kesimpulan: Pemakaian klisma gliserin sama efektifnya dengan pemberian DSS-Sorbitol, namun pemberian DSS-Sorbitol lebih nyaman dan menimbulkan keluhan yang lebih sedikit. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 55-62] Kata kunci: DSS-Sorbitol, gliserin, persiapan pra-operasi
Kemampuan bayar keluarga untuk mendapatkan pertolongan persalinan di Indonesia (Analisis Data Susenas Kor 2001) MANUEKE, I.; MUKTI, A. G.; EMILIA, O.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 1, January 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.463 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kemampuan membayar keluarga dengan penggunaan pelayanan kesehatan terutama penggunaan pelayanan persalinan di Indonesia. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan riset observasional dengan rancangan potong lintang menggunakan data kor Susenas 2001. Sampel yang digunakan adalah seluruh rumah tangga yang memiliki anak usia ≤ 1 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat dan uji regresi logistik dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil: Kemampuan membayar keluarga memiliki hubungan yang bermakna dengan pemilihan tenaga penolong persalinan (p < 0,001; OR = 1,5; CI 95% = 1,405 - 1,668). Kesimpulan: Kemampuan membayar keluarga berhubungan dengan pemilihan penolong persalinan. Kemampuan membayar rendah memiliki risiko lebih tinggi untuk memilih penolong persalinan non tenaga kesehatan. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 26-32] Kata kunci: penolong persalinan, kemampuan membayar
Hubungan Jumlah Folikel Antral dengan Respons Ovarium terhadap Stimulasi Ovulasi ADNYANA, I. B.P.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 1, January 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.763 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui hubungan antara jumlah folikel antral dengan respons stimulasi ovulasi. Bahan dan cara kerja: Seluruh perempuan yang menjalani program FIV dengan stimulasi short protocol antara bulan Januari 2005 - Mei 2006 disertakan dalam penelitian. Dilakukan pengumpulan data hitung folikel antral hari kedua, jumlah folikel matur, jumlah total oosit, jumlah oosit matur, dan total dosis gonadotropin. Dilakukan analisis Kendall’s correlation test untuk menunjukkan hubungan. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang bermakna antara hitung folikel antral dengan hitung folikel matur (r=0,329; p=0,037), jumlah total oosit (r=0,506; p=0,001), jumlah oosit matur (r=0,492; p=0,002), dan total dosis gonadotropin (r=-0,477; p=0,002). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara hitung folikel antral dengan respons ovarium terhadap stimulasi ovulasi dan didapatkan nilai titik potong hitung folikel antral sebesar 4,5. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 33-9] Kata kunci: hitung folikel antral, respons ovarium, stimulasi ovulasi, short protocol

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Volume 13. No. 3 July 2025 Volume 13. No. 2 April 2025 Volume 13. No. 1 January 2025 Volume 12 No. 4 October 2024 Volume 12 No. 3 Jully 2024 Volume 12 No. 2 April 2024 Volume 12 No. 1 January 2024 Volume 11 No. 4 October 2023 Volume 11 No. 3 July 2023 Volume 11 No. 2 April 2023 Volume 11 No. 1 January 2023 Volume 10 No. 4 Oktober 2022 Volume 10 No. 3 July 2022 Volume 10 No. 2 April 2022 Volume 10 No. 1 January 2022 Volume 9 No. 4 October 2021 Volume 9 No. 3 July 2021 Volume 9 No. 2 April 2021 Volume 9 No. 1 January 2021 Volume 8 No. 4 October 2020 Volume 8 No. 3 July 2020 Volume 8 No. 2 April 2020 Volume 8 No. 1 January 2020 Volume 7 No. 4 October 2019 Volume 7 No. 3 July 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume. 37, No. 1, January 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 More Issue