cover
Contact Name
eko subaktiansyah
Contact Email
eko.subaktiansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@inajog.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
ISSN : 23386401     EISSN : 23387335     DOI : -
Core Subject : Health,
The Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology is an official publication of the Indonesian Society of Obstetrics and Gynekology. INAJOG is published quarterly.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Volume. 33, No. 2, April 2009" : 8 Documents clear
Perbandingan kadar regulatory T-cells antara kehamilan normal dan abortus (cetak ralat) SUHEIMI, I.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.913 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui peran Treg dalam kelangsungan kehamilan dengan mengukur kadar Treg dalam kehamilan normal di bawah 20 minggu, mengukur kadar Treg dalam kejadian abortus dan membandingkan kadar Treg dalam kehamilan normal di bawah 20 minggu dan dalam kejadian abortus. Tempat: RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, baik di IGD lantai 3 maupun poliklinik Obstetri dan Ginekologi. Bahan dan cara kerja: Penelitian bersifat penelitian observasional tanpa intervensi berupa studi comparative cross-sectional, dilakukan pada kelompok perempuan hamil normal dan kelompok perempuan yang mengalami abortus yang datang ke tempat penelitian. Pengumpulan data dilakukan sejak subjek penelitian datang di IGD lantai 3 atau poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSCM. Jika kasus sesuai dengan kriteria penerimaan dan penolakan maka dilakukan informed consent untuk mendapat persetujuan penelitian. Diambil darah vena pasien sebanyak 50 mikroliter dan dimasukkan ke dalam alat flowcytometry dengan reagen spesifik untuk pemeriksaan CD45 (Per-CP- 347464), CD4 (SIPC-340133) dan CD25 (PE-341009) untuk kemudian dihitung jumlah Treg dengan sistem lyse no washed menggunakan software cellquest pro. Output dari alat flowcytometry tersebut kemudian dicatat. Pasien dengan kehamilan normal (kelompok kontrol) di follow-up sampai kehamilannya mencapai 20 minggu untuk memastikan tidak terjadinya abortus sampai batas waktu tersebut. Jika pasien dengan kehamilan normal pada saat pemeriksaan ternyata mengalami abortus di bawah 20 minggu, maka pasien tersebut akan dimasukkan ke dalam kelompok dengan kejadian abortus (kelompok kasus). Hasil: Pada uji statistik perbandingan rerata persentase sel CD45 didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antar kedua kelompok, di mana rerata kelompok kasus adalah 10,96 ± 6,57% sel dibandingkan dengan rerata 9,60 ± 5,30% sel pada kelompok kontrol dengan p = 0,610. Pada perbandingan kadar Treg dari hasil uji statistik didapatkan Median pada kelompok kasus (2,45 sel/μl) dibandingkan dengan Median kelompok kontrol (2,53 sel/μl) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik dengan p = 0,946 (uji korelasi Mann-Whitney). Kesimpulan: Penelitian ini mendapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar Regulatory T-cells (Treg) dengan kejadian abortus. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 93-100] Kata kunci: regulatory T-cells, Treg, abortus
Gambaran densitas mineral tulang vertebra lumbal akseptor KB suntik DMPA TAHIR, A.M.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.687 KB)

Abstract

Tujuan: Dilakukan penelitian untuk menilai dampak pemakaian kontrasepsi suntik DMPA pada densitas tulang Vertebra Lumbal (VL. 1-4) pada akseptor jangka pendek pada saat sebelum suntikan ke 3-3 (minggu ke 24 atau 6 bulan) dan sebelum suntikan kelima (minggu ke 48 atau 1 tahun) dibandingkan dengan perempuan bukan akseptor sebagai kontrol dan akseptor jangka panjang (≥ 5 tahun), dengan alat Dual Energy X-Ray Absorptiometry (DEXA). Tempat: Dilakukan di Makassar antara Januari 2006 - Maret 2007 pada 33 orang akseptor KB suntik DMPA jangka pendek (1 tahun), 31 orang akseptor suntik DMPA jangka panjang (≥ 5 tahun), dan 33 perempuan bukan akseptor KB sebagai kontrol. Rancangan/rumusan data: Potong Lintang. Hasil: Karakteristik sampel berdasarkan umur rerata: 22,7 ± 3,1 tahun (akseptor 1 tahun) dan 27,2 ± 4,8 tahun (kontrol), homogen secara statistik. Sebelum perlakuan, tidak ditemukan perbedaan yang bermakna antara DMT VL. 1-4 kedua kelompok (p > 0,05). Setelah perlakuan, DMT VL. 1-4 pada akseptor 1 tahun menjadi lebih rendah dibandingkan kontrol pada semua level vertebra lumbal, dengan uji Mann Whitney menunjukkan perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Besarnya perubahan DMT antara akseptor dan kontrol menunjukkan perbedaan yang bermakna, di mana perubahan pada akseptor (p < 0,05) bahkan pada kontrol tidak ada perubahan (0,0). Angka kejadian pada osteopenia lebih tinggi pada akseptor daripada akseptor 1 tahun dan akseptor 1 tahun lebih tinggi daripada kontrol pada pada semua level VL. Kesimpulan: Kejadian osteopenia berhubungan dengan lama pemakaian KB Suntik DMPA. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 101-7] Kata kunci: DMT vertebra lumbal, DMPA
Kadar D-dimer pada ibu hamil dengan preeklampsia berat dan normotensi di RSUP Dr. Kariadi BIRAWA, A.D.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.052 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui dan menganalisis kadar D-dimer sebagai penanda terjadinya preeklampsia berat. Bahan dan cara kerja: Dari bulan Mei - Agustus 2007 dilakukan penelitian potong lintang secara konsekutif di Poliklinik Hamil (145), Instalasi Gawat Darurat (IGD), Kamar Bersalin RSUP Dr. Kariadi/FK. UNDIP Semarang. Semua ibu hamil dengan umur kehamilan > 20 minggu dan memenuhi kriteria preeklampsia berat dan kriteria normotensi dilibatkan dalam penelitian ini setelah sesuai kriteria inklusi serta mendapatkan penjelasan dan mengikuti persetujuan ikut dalam penelitian. Materi pemeriksaan D-dimer diambil dengan cara pengambilan darah vena sebanyak 3cc yang dicampur lithium heparin. Sampel darah diperiksa kadar D-dimer dengan menggunakan alat CARDIAC Ddimer. Data dianalisis secara deskriptif, uji Mann Whitney dan uji korelasi Spearman menggunakan SPSS for Windows v. 15. Bermakna apabila p
Analisis polimorfisme gen vascular endothelial growth factor (VEGF) pada endometriosis ABDULLAH, N.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.543 KB)

Abstract

Tujuan: Melihat hubungan antara polimorfisme gen VEGF dengan kejadian endometriosis pada pasien yang dilakukan operasi laparoskopi. Tempat: RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Bahan dan cara kerja: Polimorfisme nukleotida tunggal pada gen VEGF -460 pada daerah promoter dan +405 pada daerah 5’ -untranslated diuji hubungan pada penelitian potong lintang terhadap 50 perempuan dengan endometriosis dan 28 perempuan tanpa endometriosis. Setelah ekstraksi genom DNA, dilakukan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) dan restriction fragment length polymorphism (RFLP) untuk analisis genotip polimorfisme VEGF. Penelitian ini dilakukan di Makassar-Indonesia sejak Januari 2007 sampai dengan Oktober 2007. Hasil: Distribusi genotip polimorfisme -460T>C pada perempuan dengan endometriosis berbeda bermakna dibandingkan dengan perempuan tanpa endometriosis (pG pada perempuan dengan endometriosis berbeda tidak bermakna dibandingkan dengan perempuan tanpa endometriosis (p>0,05). Kesimpulan: Data ini menunjukkan bahwa polimorfisme nukleotida tunggal pada gen VEGF -460T>C pada daerah promoter gen VEGF bisa berhubungan dengan kejadian endometriosis pada populasi di Makassar- Indonesia. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 108-17] Kata kunci: endometriosis, polimorfisme, VEGF
Perbedaan prevalensi anemia defisiensi besi pada perempuan hamil di daerah pantai dan pegunungan di wilayah Semarang SINATRA, M.T.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.136 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui karakteristik prevalensi anemia defisiensi besi pada perempuan hamil di daerah pantai dan pegunungan di wilayah Semarang serta membuktikan perbedaan prevalensi anemia defisiensi besi pada perempuan hamil di daerah pantai dan pegunungan di wilayah Semarang. Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang yang melibatkan 50 perempuan hamil trimester kedua di daerah pantai dan 50 perempuan hamil trimester kedua di daerah pegunungan di 7 Puskesmas Semarang Kota dan 5 Puskesmas Kabupaten Semarang pada kurun waktu bulan April - Juni 2008. Bahan dan cara kerja: 50 perempuan hamil trimester kedua di daerah pantai dan 50 perempuan hamil trimester kedua di daerah pegunungan dilakukan pengambilan darah untuk kemudian dilakukan pemeriksaan hemoglobin dan leukosit dengan metode spektrofotometer menggunakan alat Nihon Cohden, serta serum feritin dengan metode Ellisa menggunakan alat Elx 800 Universal Microplate Reader di laboratorium Gaky RS. Dokter Kariadi Semarang. Hasil laboratorium didapatkanprevalensi anemia defisiensi besi pada perempuan hamil trimester kedua di dearah pantai dan pegunungan kemudian dilakukan analisis. Analisis statistik yang dilakukan berupa analisis univariat untuk menyajikan distribusi frekuensi berupa rerata dan simpang baku, serta analisis bivariat dengan melakukan uji beda X2, uji t dan uji Mann-Whitney. Hasil: Rerata kadar hemoglobin perempuan hamil trimester kedua di daerah pegunungan (11,3 mg/dl) lebih tinggi dibanding dengan daerah pantai (10,6 mg/dl), dan secara statistik bermakna (p = 0,009). Rerata kadar serum feritin di daerah pegunungan (13,6 ng/dl) cenderung lebih tinggi dibanding dengan daerah pantai (11,9 ng/dl) namun secara statistik tidak bermakna. Prevalensi anemia di daerah pegunungan (24%) lebih rendah dibanding daerah pantai (52%), dan secara statistik bermakna (p = 0,007). Prevalensi anemia defisiensi besi di daerah pegunungan (18%) lebih rendah dibanding dengan daerah pantai (42%), dan secara statistik bermakna (p = 0,016). Kesimpulan: Prevalensi anemia defisiensi besi pada perempuan hamil trimester kedua di daerah pantai lebih tinggi dibandingkan daerah pegunungan di wilayah Semarang, berturur-turut 42% dan 18%. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 87-92] Kata kunci: daerah pantai, daerah pegunungan, anemia defisiensi besi.
Kadar progesteron hari hCG sebagai prediktor reseptivitas endometrium WIWEKO, B.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Menilai korelasi antara kadar progesteron pada hari penyuntikan hCG dengan reseptivitas endometrium pada hari transfer embrio (TE). Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan desain cross sectional. Dilakukan pengukuran kadar progesteron hari hCG pada 55 pasien yang mengikuti program FIV di Klinik Yasmin RSCM perio-de Januari - November 2008. Nilai referensi reseptivitas endometrium adalah kombinasi antara nilai indeks pulsasi arteri uterina < 3 dan morfologi endometrium klasifikasi C (Gonan dan Casper). Analisis multivariat dilakukan terhadap progesteron sebagai variabel utama dan usia, kadar estradiol, LH serta reseptivitas endometrium hari hCG sebagai variabel perancu. Hasil: Kejadian luteinisasi prematur pada penelitian ini sebesar 45,5% dengan klasifikasi endometrium reseptif sebesar 33,3% (dibandingkan dengan 35,5% pada kelompok non luteinisasi prematur). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar progesteron hari hCG dengan reseptivitas endometrium hari TE (p=0,446). Reseptivitas endometrium hari hCG memiliki nilai area under the curve (AUC) terbesar (0,82; p = 0,001) untuk meramalkan reseptivitas endometrium hari TE dibandingkan dengan usia (AUC 0.67; p = 0,038) dan kadar progesteron (AUC 0,56; p = 0,446). Analisis multivariat mendapatkan variabel reseptivitas endometrium hari hCG dan interaksi antara variabel usia de-ngan kadar progesteron hari hCG sebagai prediktor reseptivitas endo-metrium hari TE (nilai AUC 0,82). Terdapat korelasi positif antara AUC kadar estradiol hari hCG terhadap kejadian luteinisasi prematur (AUC = 0,74). Kesimpulan: Kadar progesteron hari hCG tidak dapat digunakan sebagai prediktor tunggal untuk meramalkan reseptivitas endometrium hari TE. Reseptivitas endometrium hari hCG dan interaksi antara usia dengan kadar progesteron hari hCG merupakan model prediktor yang baik terhadap reseptivitas endometrium hari TE. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 118-23] Kata kunci: kadar progesteron hari hCG, reseptivitas endometrium hari hCG, reseptivitas endometrium hari TE, usia
Prevalensi infeksi klamidia pada jaringan serviks dan jaringan tuba dan sebarannya menurut faktor demografi dan faktor risiko lain di kalangan pasien kehamilan tuba terganggu (Studi Epidemiologi di RSCM) EMERALDI, M.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.73 KB)

Abstract

Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk mengetahui prevalensi infeksi klamidia di jaringan serviks dan jaringan tuba dengan menggunakan metode pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), dan bersamaan dengan itu dicoba untuk diketahui sebarannya menurut faktor demografi dan faktor risiko di kalangan pasien dengan kehamilan tuba terganggu. Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang (cross sectional). Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret 2008 sampai Agustus 2008 terhadap 25 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan menjalani operasi salpingektomi pengangkatan tuba) di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Semua subjek penelitian mengisi formulir persetujuan, melakukan pengisian kuesioner berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan ginekologi, kemudian dilakukan pengambilan swab serviks dan sampel jaringan tuba untuk dilakukan deteksi infeksi klamidia dengan menggunakan metode PCR. Hasil dan kesimpulan: Didapatkan prevalensi infeksi klamidia trakomatis di jaringan serviks dan jaringan tuba pada pasien dengan kehamilan tuba terganggu adalah 12% (3/25) dan 4% (1/25). Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik saat datang, didapatkan kecenderungan peningkatan risiko infeksi klamidia di serviks pada usia di atas 31 tahun, status pendidikan SD-SLP, usia di atas 21 tahun saat melakukan hubungan seksual, riwayat infertilitas, riwayat keputihan, riwayat infeksi kemih, dan servisitis walaupun secara statistik tidak bermakna. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 80-6] Kata kunci: kehamilan tuba terganggu, infeksi klamidia trakomatis, PCR
Profil flora vagina dan tingkat keasaman vagina perempuan Indonesia OCVIYANTI, D.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 33, No. 2, April 2009
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Mendapatkan data profil flora vagina dan tingkat keasaman vagina pada perempuan Indonesia. Tempat: Puskesmas di Kabupaten Karawang, Balai Kesehatan Batalyon 201 Cijantung, dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Populasi adalah semua perempuan Indonesia berusia 15-50 tahun. Populasi terjangkau adalah semua perempuan Indonesia berusia 15-50 tahun yang datang memeriksakan diri ke beberapa Puskesmas di Kabupaten Karawang, Balai Kesehatan Batalyon 201 Cijantung dan Laboratorium Mikrobiologi FKUI pada periode Mei 2008 - Februari 2009. Dilakukan wawancara dan pengisian kuesioner untuk mendapatkan data demografik dan karakteristik medik, pemeriksaan tingkat keasaman (pH) vagina dengan tes celup (Merck@), pemeriksaan Gram untuk mencari morfotipe flora vagina, serta deteksi bakterial vaginosis (BV) menggunakan tes Whiff dan kriteria Nugent. Hasil: Jumlah subjek penelitian adalah 492 orang, rata-rata umur 30,9 tahun dengan jumlah terbanyak pada kelompok umur 26 - 40 tahun (59,1%). Kelompok menikah adalah yang terbanyak (76,4%). Sebagian besar subjek adalah ibu rumah tangga (69,1%). Sebagian besar subjek berpendidikan setingkat SMU (46,3%). Rata-rata pH vagina yang didapatkan pada penelitian ini adalah 4,8. Didapatkan subjek dengan pH ≤ 5 sebesar 65,4%, sisanya sebesar 36,6% mempunyai pH > 5. Pada tiap kelompok umur lebih banyak yang mempunyai pH ≤ 5 dibandingkan pH > 5, dan tampak jelas perbedaannya pada kelompok umur 15-19 tahun di mana 89,1% mempunyai pH ≤ 5 dan 10,9% mempunyai pH > 5 (ratarata 4,6; median 4,5). Terdapat perkecualian untuk kelompok umur 41- 45 tahun di mana subjek yang mempunyai pH ≤ 5 lebih sedikit (46,7%) dibandingkan subjek yang mempunyai pH > 5 (53,3%). Dari pemeriksaan Gram didapatkan prevalensi Lactobacillus sp sebesar 63%, Gardnerella sp. sebesar 51,4%, Coccus gram positif sebesar 48,7%, dan Candida sp. sebesar 4,6%. Terdapat perbedaan yang cukup besar pada prevalensi BV berdasarkan pemeriksaan dengan tes Whiff dan skor Nugent, masing-masing sebesar 5,7% dan 30,7%. Kesimpulan: Rata-rata pH vagina yang didapatkan pada penelitian ini pada kelompok umur < 20 (15-19) tahun, 20-40 tahun dan 41-50 tahun berturut-turut adalah 4,6; 5,3 dan 5,6 dengan rata-rata keseluruhan 4,8. Prevalensi Lactobacillus sp, Gardnerella Sp, Coccus gram positif pada penelitian ini sebesar 63%, 51,4%, 48,7%. Prevalensi kandidiasis adalah 4,7%. Prevalensi bakterial vaginosis (BV) dengan kriteria Nugent adalah 30,7%. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-2: 124-31] Kata kunci: flora vagina, tingkat keasaman (pH) vagina, bakterial vaginosis (BV)

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Volume 13. No. 3 July 2025 Volume 13. No. 2 April 2025 Volume 13. No. 1 January 2025 Volume 12 No. 4 October 2024 Volume 12 No. 3 Jully 2024 Volume 12 No. 2 April 2024 Volume 12 No. 1 January 2024 Volume 11 No. 4 October 2023 Volume 11 No. 3 July 2023 Volume 11 No. 2 April 2023 Volume 11 No. 1 January 2023 Volume 10 No. 4 Oktober 2022 Volume 10 No. 3 July 2022 Volume 10 No. 2 April 2022 Volume 10 No. 1 January 2022 Volume 9 No. 4 October 2021 Volume 9 No. 3 July 2021 Volume 9 No. 2 April 2021 Volume 9 No. 1 January 2021 Volume 8 No. 4 October 2020 Volume 8 No. 3 July 2020 Volume 8 No. 2 April 2020 Volume 8 No. 1 January 2020 Volume 7 No. 4 October 2019 Volume 7 No. 3 July 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 More Issue