cover
Contact Name
eko subaktiansyah
Contact Email
eko.subaktiansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@inajog.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia)
ISSN : 23386401     EISSN : 23387335     DOI : -
Core Subject : Health,
The Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology is an official publication of the Indonesian Society of Obstetrics and Gynekology. INAJOG is published quarterly.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Volume. 31, No. 1, January 2007" : 10 Documents clear
Diagnosis Prenatal Hidronefrose dengan Ultrasonografi (laporan kasus) YUSRAWATI, YUSRAWATI; FRIADI, ANDI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 1, January 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.294 KB)

Abstract

Tujuan: Melaporkan 2 kasus hidronefrose yang didiagnosis dengan pemeriksaan USG pada masa prenatal. Hasil: Dua kasus hidronefrose yang didiagnosis dengan ultrasonografi. Kasus 1, hidronefrose didiagnosis pada usia kehamilan 32 - 33 minggu, didapatkan jenis kelamin perempuan dengan hidronefrose bilateral. Pada evaluasi postnatal dengan USG didapatkan kesan hidronefrose kanan moderat. Kasus 2, hidronefrose didiagnosis pada usia kehamilan 25 minggu, didapatkan jenis kelamin laki-laki dengan hidronefrose bilateral, megavesika dan oligohidramnion. Persalinan kedua kasus dengan bedah sesar pada kehamilan aterm. Bayi pertama normal. Bayi kedua menderita sindrom Potter dan meninggal setelah 7 jam karena pneumothorax. Kesimpulan: Kelainan yang mengenai ke dua ginjal (bilateral) lebih berbahaya dari pada kelainan yang mengenai satu ginjal (unilateral). [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-1: 42-8] Kata kunci: prenatal, hidronefrose, ultrasonografi
Sistem Rujukan Kasus Infertilitas (Berdasarkan Faktor Risiko) SAMSULHADI, SAMSULHADI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 1, January 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.693 KB)

Abstract

Tujuan: Membuat skor infertilitas berdasarkan faktor risiko, dari keluhan klinik, sehingga memudahkan sistem rujukan. Penatalaksanaan infertilitas menjadi lebih efektif dan efisien. Tempat: -- Bahan dan cara kerja: Rangkuman Kajian Pustaka. Infertilitas yang mempunyai angka kejadian sekitar 12%, merupakan masalah yang kompleks. Penatalaksanaannya memerlukan dana yang banyak, waktu yang lama, pada sisi lain umur, terutama umur isteri, sangat mempengaruhi kesuburan. Kesuburan isteri mulai menurun pada umur 30 tahun, menurun tajam setelah umur 35 tahun. Oleh karenanya bila umur isteri < 30 tahun, diberi skor 1, umur 31 - 35 tahun skor 2, dan skor 3 untuk umur isteri > 35 tahun. Hinting (2001) pada penelitiannya mendapatkan hubungan antara lama infertilitas dan angka kehamilan kumulatif dengan perawatan konvensional. Angka kehamilan kumulatif menurun bermakna pada lama infertilitas 2 tahun atau lebih. Berdasarkan hasil ini, maka skor 1 untuk lama infertilitas 1 - 2 tahun, 2 untuk > 2 tahun, dan 3 untuk lama infertilitas > 3 tahun. Sedangkan dari faktor infertilitas, faktor yang dominan adalah faktor ovulasi, tuba/peritoneum, dan faktor sperma. Secara klinis faktor ovulasi dapat diketahui dari siklus haid. Siklus haid teratur (siklus ovulasi) mempunyai skor 1, oligomenore atau perdarahan uterus disfungsi skor 2 dan amenore skor 3. Pada faktor tuba/peritoneum, terdapat dua kemungkinan penyebab, pertama adalah akibat endometriosis, dan kedua karena sisa/cacat akibat infeksi panggul, terutama penyakit hubungan seksual (PHS), ataupun pascaoperasi panggul. Secara klinis endometriosis dicurigai bila pada wanita infertil mengeluh adanya nyeri haid, nyeri panggul, nyeri sanggama ataupun adanya massa diadneksa. Sedangkan perlekatan pascainfeksi dapat dicurigai bila ada riwayat infeksi/operasi panggul. Makin sering terkena infeksi/operasi panggul makin besar kemungkinan adanya faktor peritoneum. Faktor endometriosis, diberi skor 1 bila tidak ada gejala klinik, skor 2 bila ada satu macam keluhan nyeri, dan skor 3 bila ada dua macam keluhan nyeri atau adanya massa adneksa. Kecurigaan perlekatan pascainfeksi, skor 1 bila tidak ada riwayat infeksi/operasi panggul, skor 2 bila ada riwayat satu kali, dan skor 3 bila ada riwayat 2 kali atau lebih. Faktor infertilitas terakhir adalah faktor sperma. Normozoospermia, diberi skor 1. Skor 2 bila ada kelainan salah satu dari densitas antara 10 - 20 juta/ml, motilitas a + b: 25 - 50%, atau morfologi 5 - 15%. Skor 3 diberikan bila didapatkan salah satu dari, densitas < 10 juta, motilitas a + b < 25%, atau morfologi normal < 5%. Pasangan infertil dikatakan risiko rendah bila, skor total: < 8, termasuk sedang bila mempunyai skor total antara 9 - 12 dan berat bila > 12. Apabila salah satu komponen skor mempunyai skor 3, maka total skor langsung menjadi > 12. Pasangan dengan risiko rendah dapat ditangani di pusat pelayanan kesehatan primer, risiko sedang sebaiknya ditangani di pusat pelayanan kesehatan sekunder, dan tertier untuk yang risiko berat. Kesimpulan: Skor infertilitas ini cukup sederhana, memudahkan sistem rujukan bagi semua pihak yang terkait, mulai dari dokter umum sampai dokter spesialis, ataupun oleh paramedik untuk konseling pada pasangan. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-1: 49-57] Kata kunci: skor infertilitas, rujukan infertilitas
Kanker Serviks: Penyakit Keganasan Fatal yang Dapat Dicegah SUWIYOGA, K.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 1, January 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.143 KB)

Abstract

N/A
Ekspresi Protein P53 pada Kanker Ovarium SEPUTRA, H. R.; RAUF, S.; DJUANNA, A.; MASADAH, R.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 1, January 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Mencari hubungan antara ekspresi protein P53 dengan stadium, derajat diferensiasi dan jenis histopatologi kanker ovarium. Rancangan penelitian: Penelitian observasional, desain cross sectional pada rumah sakit pendidikan di Makassar. Bahan dan cara kerja: Pasien yang dinyatakan kanker ovarium dengan pemeriksaan histopatologi, dianalisis ekspresi P53-nya dengan teknik imunohistokimia. Hasil: Diperoleh 39 sampel antara 15 Oktober 2005 - 31 Mei 2006. Karakteristik terbanyak pada kelompok umur ≤ 45 tahun (53,8%), pendidikan SD (38,4%), tidak bekerja (74,4%), pernah melahirkan (56,4%), dan tanpa riwayat pemakaian kontrasepsi hormonal (79,5%). Berdasarkan pemeriksaan histopatologi ditemukan 9 sampel bukan ganas dan 30 sampel kanker ovarium. Di antara 30 sampel tersebut, ditemukan jenis histologi, stadium dan derajat diferensiasi terbanyak adalah jenis serosum (30,7%), stadium FIGO I (40,0%) dan diferensiasi jelek (70%). Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa kejadian kanker ovarium tidak berhubungan dengan umur (p=1,000), paritas (p=0,704) dan riwayat kontrasepsi (p=0,355). Ekspresi protein P53 tidak ditemukan pada 33,3% kasus, sedangkan ekspresi derajat I dan IV ditemukan pada 23,3% kasus. Di samping itu ditemukan bahwa ekspresi protein P53 tidak berhubungan dengan jenis histologi (p=0,372), dan derajat diferensiasi (p=0,388), namun berhubungan dengan stadium klinis FIGO (r=0,550; p=0,002). Kesimpulan: Ekspresi protein P53 ditemukan pada sebagian besar penderita kanker ovarium di mana derajat ekspresi P53 tersebut berhubungan secara linear dengan stadium klinis FIGO, namun tidak berhubungan dengan jenis histologi dan derajat diferensiasi kanker ovarium. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-1: 26-32] Kata kunci: P53, kanker ovarium, imunohistokimia
Mortalitas Maternal pada Preeklampsia Berat dan Eklampsia di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo Tahun 2003 - 2005 dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya MANURUNG, R. T.; WIKNJOSASTRO, G.
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 1, January 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.297 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui faktor-faktor risiko (klinis dan laboratoris) mortalitas maternal akibat preeklampsia berat dan eklampsia di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Rancangan/rumusan data: Studi kasus kontrol. Tempat: Kamar bersalin dan unit perawatan intensif RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Bahan dan cara kerja: Seluruh kasus kematian maternal akibat preeklampsia dan eklampsia yang terjadi antara tanggal 1 Januari 2003 s/d 31 Desember 2005, diperoleh catatan rekam medisnya. Sebagai kontrol diambil kasus preeklampsia dan eklampsia yang tidak berakhir dengan kematian, pada periode yang sama, sebanyak 5 kali jumlah kasus. Dari status dan catatan medis yang diperoleh, didata faktor-faktor klinis yang diteliti, yaitu umur ibu, usia gestasi, paritas, status perawatan antenatal, riwayat penyakit penyerta, komplikasi maternal dan fetal yang terjadi, cara persalinan. Parameter laboratorium yang diteliti yaitu kadar hemoglobin, leukosit, trombosit, SGOT, ureum, dan kreatinin. Analisa dilanjutkan dengan analisa multivariat (regresi logistik) untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian maternal. Hasil: Selama kurun waktu penelitian, terdapat 58 kasus kematian maternal akibat preeklampsia dan eklampsia (Terdiri dari 28 kasus eklampsia dan 30 kasus preeklampsia). Sehingga angka kematian maternal pada preeklampsia diperoleh 2,1% dan eklampsia sebesar 12,7%. Rekam medik hanya dapat diperoleh pada 42 kasus. Analisa multivariat menunjukkan faktor-faktor risiko yang berhubungan yaitu adanya riwayat hipertensi kronis (OR 3,9 IK 95% 1,15-13,89; p
Kanker Serviks: Penyakit Keganasan Fatal yang Dapat Dicegah K. SUWIYOGA
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 1, January 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.143 KB)

Abstract

N/A
Ekspresi Protein P53 pada Kanker Ovarium H. R. SEPUTRA; S. RAUF; A. DJUANNA; R. MASADAH
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 1, January 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Mencari hubungan antara ekspresi protein P53 dengan stadium, derajat diferensiasi dan jenis histopatologi kanker ovarium. Rancangan penelitian: Penelitian observasional, desain cross sectional pada rumah sakit pendidikan di Makassar. Bahan dan cara kerja: Pasien yang dinyatakan kanker ovarium dengan pemeriksaan histopatologi, dianalisis ekspresi P53-nya dengan teknik imunohistokimia. Hasil: Diperoleh 39 sampel antara 15 Oktober 2005 - 31 Mei 2006. Karakteristik terbanyak pada kelompok umur ≤ 45 tahun (53,8%), pendidikan SD (38,4%), tidak bekerja (74,4%), pernah melahirkan (56,4%), dan tanpa riwayat pemakaian kontrasepsi hormonal (79,5%). Berdasarkan pemeriksaan histopatologi ditemukan 9 sampel bukan ganas dan 30 sampel kanker ovarium. Di antara 30 sampel tersebut, ditemukan jenis histologi, stadium dan derajat diferensiasi terbanyak adalah jenis serosum (30,7%), stadium FIGO I (40,0%) dan diferensiasi jelek (70%). Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa kejadian kanker ovarium tidak berhubungan dengan umur (p=1,000), paritas (p=0,704) dan riwayat kontrasepsi (p=0,355). Ekspresi protein P53 tidak ditemukan pada 33,3% kasus, sedangkan ekspresi derajat I dan IV ditemukan pada 23,3% kasus. Di samping itu ditemukan bahwa ekspresi protein P53 tidak berhubungan dengan jenis histologi (p=0,372), dan derajat diferensiasi (p=0,388), namun berhubungan dengan stadium klinis FIGO (r=0,550; p=0,002). Kesimpulan: Ekspresi protein P53 ditemukan pada sebagian besar penderita kanker ovarium di mana derajat ekspresi P53 tersebut berhubungan secara linear dengan stadium klinis FIGO, namun tidak berhubungan dengan jenis histologi dan derajat diferensiasi kanker ovarium. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-1: 26-32] Kata kunci: P53, kanker ovarium, imunohistokimia
Mortalitas Maternal pada Preeklampsia Berat dan Eklampsia di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo Tahun 2003 - 2005 dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya R. T. MANURUNG; G. WIKNJOSASTRO
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 1, January 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.297 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui faktor-faktor risiko (klinis dan laboratoris) mortalitas maternal akibat preeklampsia berat dan eklampsia di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Rancangan/rumusan data: Studi kasus kontrol. Tempat: Kamar bersalin dan unit perawatan intensif RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Bahan dan cara kerja: Seluruh kasus kematian maternal akibat preeklampsia dan eklampsia yang terjadi antara tanggal 1 Januari 2003 s/d 31 Desember 2005, diperoleh catatan rekam medisnya. Sebagai kontrol diambil kasus preeklampsia dan eklampsia yang tidak berakhir dengan kematian, pada periode yang sama, sebanyak 5 kali jumlah kasus. Dari status dan catatan medis yang diperoleh, didata faktor-faktor klinis yang diteliti, yaitu umur ibu, usia gestasi, paritas, status perawatan antenatal, riwayat penyakit penyerta, komplikasi maternal dan fetal yang terjadi, cara persalinan. Parameter laboratorium yang diteliti yaitu kadar hemoglobin, leukosit, trombosit, SGOT, ureum, dan kreatinin. Analisa dilanjutkan dengan analisa multivariat (regresi logistik) untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian maternal. Hasil: Selama kurun waktu penelitian, terdapat 58 kasus kematian maternal akibat preeklampsia dan eklampsia (Terdiri dari 28 kasus eklampsia dan 30 kasus preeklampsia). Sehingga angka kematian maternal pada preeklampsia diperoleh 2,1% dan eklampsia sebesar 12,7%. Rekam medik hanya dapat diperoleh pada 42 kasus. Analisa multivariat menunjukkan faktor-faktor risiko yang berhubungan yaitu adanya riwayat hipertensi kronis (OR 3,9 IK 95% 1,15-13,89; p
Diagnosis Prenatal Hidronefrose dengan Ultrasonografi (laporan kasus) YUSRAWATI YUSRAWATI; ANDI FRIADI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 1, January 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.294 KB)

Abstract

Tujuan: Melaporkan 2 kasus hidronefrose yang didiagnosis dengan pemeriksaan USG pada masa prenatal. Hasil: Dua kasus hidronefrose yang didiagnosis dengan ultrasonografi. Kasus 1, hidronefrose didiagnosis pada usia kehamilan 32 - 33 minggu, didapatkan jenis kelamin perempuan dengan hidronefrose bilateral. Pada evaluasi postnatal dengan USG didapatkan kesan hidronefrose kanan moderat. Kasus 2, hidronefrose didiagnosis pada usia kehamilan 25 minggu, didapatkan jenis kelamin laki-laki dengan hidronefrose bilateral, megavesika dan oligohidramnion. Persalinan kedua kasus dengan bedah sesar pada kehamilan aterm. Bayi pertama normal. Bayi kedua menderita sindrom Potter dan meninggal setelah 7 jam karena pneumothorax. Kesimpulan: Kelainan yang mengenai ke dua ginjal (bilateral) lebih berbahaya dari pada kelainan yang mengenai satu ginjal (unilateral). [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-1: 42-8] Kata kunci: prenatal, hidronefrose, ultrasonografi
Sistem Rujukan Kasus Infertilitas (Berdasarkan Faktor Risiko) SAMSULHADI SAMSULHADI
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 1, January 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.693 KB)

Abstract

Tujuan: Membuat skor infertilitas berdasarkan faktor risiko, dari keluhan klinik, sehingga memudahkan sistem rujukan. Penatalaksanaan infertilitas menjadi lebih efektif dan efisien. Tempat: -- Bahan dan cara kerja: Rangkuman Kajian Pustaka. Infertilitas yang mempunyai angka kejadian sekitar 12%, merupakan masalah yang kompleks. Penatalaksanaannya memerlukan dana yang banyak, waktu yang lama, pada sisi lain umur, terutama umur isteri, sangat mempengaruhi kesuburan. Kesuburan isteri mulai menurun pada umur 30 tahun, menurun tajam setelah umur 35 tahun. Oleh karenanya bila umur isteri < 30 tahun, diberi skor 1, umur 31 - 35 tahun skor 2, dan skor 3 untuk umur isteri > 35 tahun. Hinting (2001) pada penelitiannya mendapatkan hubungan antara lama infertilitas dan angka kehamilan kumulatif dengan perawatan konvensional. Angka kehamilan kumulatif menurun bermakna pada lama infertilitas 2 tahun atau lebih. Berdasarkan hasil ini, maka skor 1 untuk lama infertilitas 1 - 2 tahun, 2 untuk > 2 tahun, dan 3 untuk lama infertilitas > 3 tahun. Sedangkan dari faktor infertilitas, faktor yang dominan adalah faktor ovulasi, tuba/peritoneum, dan faktor sperma. Secara klinis faktor ovulasi dapat diketahui dari siklus haid. Siklus haid teratur (siklus ovulasi) mempunyai skor 1, oligomenore atau perdarahan uterus disfungsi skor 2 dan amenore skor 3. Pada faktor tuba/peritoneum, terdapat dua kemungkinan penyebab, pertama adalah akibat endometriosis, dan kedua karena sisa/cacat akibat infeksi panggul, terutama penyakit hubungan seksual (PHS), ataupun pascaoperasi panggul. Secara klinis endometriosis dicurigai bila pada wanita infertil mengeluh adanya nyeri haid, nyeri panggul, nyeri sanggama ataupun adanya massa diadneksa. Sedangkan perlekatan pascainfeksi dapat dicurigai bila ada riwayat infeksi/operasi panggul. Makin sering terkena infeksi/operasi panggul makin besar kemungkinan adanya faktor peritoneum. Faktor endometriosis, diberi skor 1 bila tidak ada gejala klinik, skor 2 bila ada satu macam keluhan nyeri, dan skor 3 bila ada dua macam keluhan nyeri atau adanya massa adneksa. Kecurigaan perlekatan pascainfeksi, skor 1 bila tidak ada riwayat infeksi/operasi panggul, skor 2 bila ada riwayat satu kali, dan skor 3 bila ada riwayat 2 kali atau lebih. Faktor infertilitas terakhir adalah faktor sperma. Normozoospermia, diberi skor 1. Skor 2 bila ada kelainan salah satu dari densitas antara 10 - 20 juta/ml, motilitas a + b: 25 - 50%, atau morfologi 5 - 15%. Skor 3 diberikan bila didapatkan salah satu dari, densitas < 10 juta, motilitas a + b < 25%, atau morfologi normal < 5%. Pasangan infertil dikatakan risiko rendah bila, skor total: < 8, termasuk sedang bila mempunyai skor total antara 9 - 12 dan berat bila > 12. Apabila salah satu komponen skor mempunyai skor 3, maka total skor langsung menjadi > 12. Pasangan dengan risiko rendah dapat ditangani di pusat pelayanan kesehatan primer, risiko sedang sebaiknya ditangani di pusat pelayanan kesehatan sekunder, dan tertier untuk yang risiko berat. Kesimpulan: Skor infertilitas ini cukup sederhana, memudahkan sistem rujukan bagi semua pihak yang terkait, mulai dari dokter umum sampai dokter spesialis, ataupun oleh paramedik untuk konseling pada pasangan. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-1: 49-57] Kata kunci: skor infertilitas, rujukan infertilitas

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Volume 13. No. 3 July 2025 Volume 13. No. 2 April 2025 Volume 13. No. 1 January 2025 Volume 12 No. 4 October 2024 Volume 12 No. 3 Jully 2024 Volume 12 No. 2 April 2024 Volume 12 No. 1 January 2024 Volume 11 No. 4 October 2023 Volume 11 No. 3 July 2023 Volume 11 No. 2 April 2023 Volume 11 No. 1 January 2023 Volume 10 No. 4 Oktober 2022 Volume 10 No. 3 July 2022 Volume 10 No. 2 April 2022 Volume 10 No. 1 January 2022 Volume 9 No. 4 October 2021 Volume 9 No. 3 July 2021 Volume 9 No. 2 April 2021 Volume 9 No. 1 January 2021 Volume 8 No. 4 October 2020 Volume 8 No. 3 July 2020 Volume 8 No. 2 April 2020 Volume 8 No. 1 January 2020 Volume 7 No. 4 October 2019 Volume 7 No. 3 July 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7 No. 2 April 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 7, No. 1 January 2019 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 4 October 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6 No. 3 July 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 2 April 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume 6. No. 1. January 2018 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 4, October 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 3, July 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 2, April 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume. 5, No. 1, January 2017 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume 4, No. 4, October 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No.3, July 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 2, April 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 4, No. 1, January 2016 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 4, October 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, No. 3, July 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, no. 2, April 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 3, No. 1, January 2015 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 4, October 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 3, July 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 2, April 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 2, No. 1, January 2014 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 2, April 2013 Volume. 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume 37, No. 1, January 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 4, October 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 1, No. 3, July 2013 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 4, October 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 3, July 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 2, April 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 36, No. 1, January 2012 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 4, October 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 3, July 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 2, April 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 35, No. 1, January 2011 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 4, October 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34, No. 3, July 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34. No. 2, April 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 34, No. 1, January 2010 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33. No. 4, October 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 3, July 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 2, April 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 33, No. 1, January 2009 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 4, October 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 3, July 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 2, April 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 32, No. 1, January 2008 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 4, October 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 3, July 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 2, April 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 31, No. 1, January 2007 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 4, October 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 3, July 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 2, April 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 Volume. 30, No. 1, January 2006 More Issue