cover
Contact Name
Jonathan Alfrendi
Contact Email
emailjonathan.a@gmail.com
Phone
+6285759296535
Journal Mail Official
izmykhumairoh@lecturer.undip.ac.id
Editorial Address
Jl. dr. Antonius Suroyo Kampus Universitas Diponegoro Tembalang, Semarang, Jawa tengah, Kode Pos 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ENDOGAMI Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi
Published by Universitas Diponegoro
Core Subject : Humanities, Social,
Fokus bidang ilmu antropologi. Bentuk-bentuk karya ilmiah yang dapat dimuat adalah original article berupa artikel hasil penelitian review article atau makalah kajian pustaka berupa uraian singkat tentang temuan penelitian yang dianggap penting untuk segera dipublikasikan.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2023): November" : 16 Documents clear
Cultural Materialism of Ghost: Debunking The Prevalence of Women Ghost in Indonesia Lalu Ary Kurniawan Hardi
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.77-86

Abstract

The abundance of folklore, myth, and urban legends in Indonesia that put its central attention to the vengeful character of “female ghost”, delineates clear cultural portrayal about the broad scope of violence that happen to Indonesian women. Avery Gordon (2008) conceptualize ghost as the figurative depiction of inarticulate occurrence and haunting reminder about the repression and injustice that exist in our complex social relations. Concurrently, Cheryl Lawther (2021) suggests that haunting is an animated stages inflicted by the unresolved social violence and oppression. In regards to these notions, this article aimed to: (a) examine the socio-economic impetus that drives the over-mystification towards women in Indonesia, and; (b) determine the factors that perpetuate the haunting narratives throughout the generations. As the demystification attempt to rationalize the answer of these questions, this article will operationalize Marvin Harris’s cultural materialism theory as its main framework. This article argues that the rich narratives about female ghosts in Indonesia are mainly inflicted by the failure of agrarian economy to provide a decent living condition for women. This phenomenon forced women to step outside the traditional gender roles which led to the massification of violence and oppression. These problems remained until present times, which then contributed to the perpetuation of several ghost stories and haunting narratives that reflects the recurring injustice and oppressions towards women. It is concluded that these narratives serve as: (1) reminder about the recurring oppression; (2) exigent call for reconciliation; (3) pre-emptive narratives for deterrent, and; (4) lesson learned for future improvement.
Hidup dengan Bencana Pariwisata Gunung Berbasis Masyarakat di Yogyakarta, 1925 -2020 Fajar Sulistya; Pujo Semedi; Mohamad Yusuf; Agung Wicaksono
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.1-15

Abstract

Secara statistik, obyek pariwisata kaliurang menyedot ratusan ribu pengunjung tiap tahunnya sehingga menjadi salah satu community-based tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat yang paling berhasil di Provinsi D.I. Yogyakarta. Berdasarkan telaah historis, berkembangnya CBT di kaliurang bukanlah suatu hal yang hadir secara tiba-tiba, namun merupakan implikasi dari resiliensi menyejarah masyarakat yang awalnya tinggal di Kawasan marjinal dan rawan bencana. Pada awalnya, mereka merupakan hamba orang kaya pemilik villa yang secara perlahan bertransformasi menjadi pegiat pariwisata yang mandiri. Proses ini tidaklah mudah karena upaya membangun pariwisata berhadapan dengan erupsi Gunung Merapi yang, meski tak terprediksi, senantiasa berlangsung secara berulang. Pada 2020, wabah Covid-19 yang melumpuhkan ekonomi juga berdampak besar pada wisata Kaliurang. Lagi-lagi, kita melihat bagaimana resiliensi pelaku wisata Kaliurang mampu menghindarkan sector ini dari kebangkrutan sehingga secara perlahan bangkit Kembali. Secara historis, meski Kaliurang, dan pelaku wisatanya, menghadapi beragam tekanan social dan bencana dalam satu abad terakhir, fakta etnografis menunjukkan bahwa mereka adalah masyarakat yang resilien. Oleh karenanya, pertanyaan krusial yang dihadirkan dalam artikel ini adalah, relasi-relasi sosial ekonomi seperti apakah yang hidup di Kaliurang sehingga mereka tidak hanya mampu bertahan meski dihantam berbagai bencana, tetapi juga –pada beberapa kesempatan–, mengubahnya menjadi peluang usaha baru yang berkontribusi besar meningkatkan kondisi ekonomi?
Membaca Fenomena Agraria Terkini Melalui Kritik Kapital Pada Pengalaman Kehilangan Asri Widayati
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.167-182

Abstract

Studi ini menawarkan pembacaan teoritis baru mengenai fenomena agraria belakangan, khususnya mengenai orang-orang yang di beberapa tempat di Indonesia yang alih-alih menolak untuk menjual lahannya ke berbagai perusahaan. Sebaliknya, beberapa dari mereka justru mengundang perusahaan untuk menyerahkan sertifikat lahannya maupun mau untuk menyerahkan sertifikat lahannya karena tergiur ganti rugi miliaran. Fenomena semacam itu, ketika dibaca dalam konteks perampasan, atau dalam kerangka kapitalisme pabrik, pertentangan antara kelas-kelas yang berbeda. Maka, kesimpulan yang muncul dari beberapa aktivis dan advokat yang berada di wilayah akan menuduh beberapa orang itu “rakus” dan semacamnya. Melalui studi ini, tawaran ulang pembacaan disajikan untuk melihat kembali fenomena dengan kemungkinan kesimpulan yang mana hari ini, kapitalisme tidak sekadar hadir konfrontatif dan terus bertentangan dengan kelas-kelas yang berbeda. Namun, kapitalisme secara ramah tamah (benign capitalism) hadir melalui berbagai cara. Pengalaman kehilangan yang dipelajari dalam tradisi antropologi mempertajam pembacaan, bahwa benign capitalism yang salah satunya hadir dalam rupa perubahan strategi bisnis yang lebih ramah-tamah, bermitra dengan berbagai agensi baik negara maupun non-negara. Selain siasat semacam itu dapat “menambal” perasaan orang-orang untuk kembali mengalami kehilangan. Di sisi lain, melalui pembacaan pengalaman kehilangan, sebenarnya kapitalisme yang ramah justru hadir sebagai “kehadiran yang mengganggu”. Karena, tak jarang, setelah penyerahan lahan ke korporasi, keputusan tersebut memukul kondisi orang-orang.
Tourism Tracking Berbasis Folklor Batak Toba Dalam Mendukung Cultural Tourism di Kabupaten Humbang Hasundutan Grace Meylin Hutauruk; Ruth Ellyana Ganda; Yenny Maharani Lubis; Asri Elfrida Marpaung; Yosie Mutiara Siahaan; Ayu Febryani
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.87-102

Abstract

Riset bergerak atas dasar masalah yang ditemukan terkait masih belum ditemukannya naskah folklor yang ada di Kecamatan Baktiraja dan belum tereksposnya beberapa lokasi wisata berbasis folklor. Folklor menjadi suatu media suprastruktur yang diciptakan oleh para leluhur sebagai bentuk kontrol sosial. Tujuan dari riset ini adalah melakukan penelusuran dan pemetaan terhadap folklor-folklor yang ada di Kecamatan Baktiraja. Riset menggunakan metode penelitian kualitatif folklor dengan pendekatan pragmatik. Upaya maksimal dilakukan untuk menemukan folklor-folklor yang hampir terkubur seiring dengan hilangnya para penutur asli. Hasil riset menemukan ada 12 lokasi wisata berbasis folklor yang terdapat di Kecamatan Baktiraja. Selain itu, ditemukan tiga konsep yang terbentuk dari setiap lokasi yaitu folklor asal usul Raja Sisingamangaraja, folklor peninggalan Raja Sisingamangaraja, dan folklor ilmu mistis. Penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa folklor terbentuk sebagai upaya pensakralan bagi setiap lokasi dalam tujuan konservasi lingkungan.   
Diskriminasi Upah Terhadap Perempuan yang Bekerja: A Perspective of Gender Work Place Putri Rahmah Nurhakim; Ita Rodiah; Henky Fernando
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.16-31

Abstract

Gender discrimination in the workplace and inequality in pay have become widely debated topics. This article presents in-depth and concrete case studies to understand better how gender inequality affects individuals and organizations in the workplace. Case studies can cover the experiences of individuals who have faced pay discrimination, difficulties in achieving promotions, or other negative impacts arising from gender inequality. In addition, discrimination is also displayed in memes that reflect unfair salary differences between men and women who have the same qualifications, highlighting discrimination in promotions, gender stereotypes, and the wider economic gap that affects women in the workplace... The method used in writing this article is a literature review, virtual ethnography. The author tries to explain the issue of gender discrimination against wages through competent references to articles and books based on this study. The results of the research show that through memes and interviews, issues of gender discrimination in the workplace, especially in the context of wages, become more visible and make people aware of the inequalities that need to be addressed immediately.
Strategi Adaptasi Sopir Angkot Purwokerto dalam Bertahan Hidup di Tengah Kehadiran Trans Banyumas Fateh Fatmaningsih; Dani Mohammad Ramadhan
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.183-197

Abstract

Angkutan kota atau angkot merupakan transportasi umum yang sudah lama beroperasi di Kota Purwokerto. Angkot juga menjadi sarana penghidupan bagi beberapa orang dengan bekerja sebagai sopir angkot Purwokerto. Hadirnya Trans Banyumas di kota Purwokerto memberikan pengaruh terhadap sopir angkot Purwokerto karena masyarakat Purwokerto lebih memilih untuk menggunakan Trans Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kehadiran Trans Banyumas terhadap kehidupan sopir angkot Purwokerto dan strategi yang mereka lakukan untuk bertahan hidup. Penelitian ini menggunakan teori praktik sosial yang diperkenalkan oleh Elizabeth Shove. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif-etnografi. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh Trans Banyumas membuat beberapa sopir angkot Purwokerto memilih pekerjaan lain untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, sedangkan yang lainnya mencoba bertahan dengan pekerjaannya sebagai sopir angkot Purwokerto. Sopir angkot Purwokerto yang masih bertahan melakukan berbagai strategi adaptasi yang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu strategi yang dilakukan dalam mempertahankan pekerjaannya dan strategi guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, hadirnya Trans Banyumas juga memberi makna baru kepada sopir angkot Purwokerto.
Memulihkan Keakraban Manusia dan Alam Melalui Ritual Purifikasi Motayok di Desa Bilalang Bolaang Mongondow Rivo Ronaldo Ingkiriwang; Tony Tampake; Rama Tulus Pilakoannu
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.103-118

Abstract

Tulisan ini membahas tentang ritual purifikasi Motayok yang sudah jarang dilakukan oleh masyarakat Mongondow dikarenakan ada misintrepretasi dengan hukum Syariah. Satu-satunya Desa yang intens melaksanakan ritual purifikasi Motayok yakni di Desa Bilalang. Ritual purifikasi Motayok adalah pengobatan alternatif dengan meminta bantuan roh leluhur untuk mengobati orang sakit. Meminta bantuan roh leluhur dalam ritual purifikasi Motayok menggunakan sebuah tarian disebut tari Tayok. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu jenis kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara serta kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa ritual purifikasi Motayok pada masyarakat Desa Bilalang menjadi jalan alternatif mereka dalam melakukan sebuah pengobatan. Tetapi, pengobatan dilakukan dengan meminta bantuan roh leluhur yang dipercaya memiliki kekuatan melampui manusia. Selain itu, roh leluhur dipercaya telah menjaga alam, sehingga roh leluhur sangat melekat dengan kehidupan masyarakat Desa Bilalang. Ketika ada misintrepretasi dengan hukum Syariah yang membuat masyarakat Mongondow tidak lagi melakukan ritual purifkasi Motayok secara otomatis relasi mereka dengan roh leluhur juga ikut terputus. Dengan kata lain, ritual purifikasi Motayok tidak hanya sebatas pengobatan alternatif. Melainkan, juga dapat memulihkan keakraban masyarakat Desa Bilalang dengan alam sekitar mereka.Tulisan ini membahas tentang ritual purifikasi Motayok yang sudah jarang dilakukan oleh masyarakat Mongondow dikarenakan ada misintrepretasi dengan hukum Syariah. Satu-satunya Desa yang intens melaksanakan ritual purifikasi Motayok yakni di Desa Bilalang. Ritual purifikasi Motayok adalah pengobatan alternatif dengan meminta bantuan roh leluhur untuk mengobati orang sakit. Meminta bantuan roh leluhur dalam ritual purifikasi Motayok menggunakan sebuah tarian disebut tari Tayok. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu jenis kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara serta kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa ritual purifikasi Motayok pada masyarakat Desa Bilalang menjadi jalan alternatif mereka dalam melakukan sebuah pengobatan. Tetapi, pengobatan dilakukan dengan meminta bantuan roh leluhur yang dipercaya memiliki kekuatan melampui manusia. Selain itu, roh leluhur dipercaya telah menjaga alam, sehingga roh leluhur sangat melekat dengan kehidupan masyarakat Desa Bilalang. Ketika ada misintrepretasi dengan hukum Syariah yang membuat masyarakat Mongondow tidak lagi melakukan ritual purifkasi Motayok secara otomatis relasi mereka dengan roh leluhur juga ikut terputus. Dengan kata lain, ritual purifikasi Motayok tidak hanya sebatas pengobatan alternatif. Melainkan, juga dapat memulihkan keakraban masyarakat Desa Bilalang dengan alam sekitar mereka. 
Upaya Pelestarian Tradisi Foklor Budaya Kejawen di Dusun Kalitanjung, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas Saufa Rohmatun Nazila; Sulyana Dadan; Ignatius Suksmadi
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.32-46

Abstract

Artikel ini mengulas tentang upaya pelestarian tradisi foklor budaya Kejawen di Dusun Kalitanjung, Kecamatan Rawalo. Beberapa folklore Kejawen di Grumbul Kalitanjung yang rutin di lakukan adalah: Yaitu menyurian (serat menyuri), Nulak (tolak bala), sedekah bumi, kegiatan sebelum lebaran, tutupan sadran dan ruwatan. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Kualitatif. Penelitian ini berlokasi pada salah satu Dusun atau Grumbul di Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas. Metode pengumpulan data melalui observasi, selain itu juga menggunakan metode wawancara secara mendalam kepada informan. Data yang di peroleh dari lapangan akan di lengkapi dengan data kepustakaan. Beberapa upaya yang dapat di lakukan untuk melestarikan tradisi foklor Kejawen di Dusun Kalitanjung, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas yaitu: a). Pengumpulan Dokumentasi, b) Pertunjukan dan Kirab Budaya, c) Melakukan Re-Generasi, d) Melakukan kolaborasi dengan komunitas lokal, e) Penelitian dan Pengembangan, f) pariwisata berkelanjutan dengan mengembangkan Desa Wisata, pendidikan dan kesadaran, pelestarian tempat sakral/suci dan pengembangan ekonomi lokal dan g) Pelestarian Lingkungan
Memayu Hayuning Bawana: Sedekah Gunung Merapi Sebagai Mitigasi Bencana Dalam Ketahanan Pangan Masyarakat Desa Lencoh, Selo, Boyolali Berbasis Local Wisdom Melly Ayu Oktavia; Nabila Nabila; Cindy Novelly; Hanum Az Zahra; Muhammad Robbi Sofyan; Izmy Khumairoh
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.198-207

Abstract

Sedekah Gunung Merapi merupakan salah satu kearifan lokal yang dimaknai masyarakat Desa Lencoh sebagai mitigasi metafisik untuk memperoleh keamanan dan keselamatan dari risiko bencana gunung berapi yang menghantui mereka. Namun, tidak hanya sebatas sarana meminta perlindungan kepada entitas metafisik semata. Sedekah Gunung Merapi dapat dikembangkan sebagai sarana intensifikasi pertanian untuk menekan potensi fenomena kelaparan pada saat bencana alam terjadi, melalui nilai kesakralan sumber daya pangan setempat yang menjadi bagian dari sajen, salah satunya ganyong. Pemanfaatan ganyong dalam ritual ini turut menjadi wujud pengaplikasian prinsip hidup memayu hayuning bawana, yaitu menjaga keseimbangan dan keselarasan manusia dengan alam. Dengan demikian, Sedekah Gunung Merapi harus dipertahankan karena secara simultan mendorong revitalisasi ganyong yang bermuara pada ketahanan pangan masyarakat Desa Lencoh dan desa rawan bencana sekitarnya. Riset ini bertujuan untuk menjelaskan lebih lanjut pemanfaatan Sedekah Gunung Merapi sebagai alternatif upaya mitigasi bencana masyarakat Desa Lencoh. Metode yang digunakan dalam riset ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, agar diperoleh data yang bersifat objektif dan holistik. 
Sakralitas Folklore: Manguni Simbol dalam Gerakan Emansipasi Place-Lore di Minahasa Thiosani Frinsly Kaat; Izak Y. M. Lattu
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 7, No 1 (2023): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.7.1.119-135

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis sakralitas folklore Minahasa melalui simbol burung Manguni sebagai instrumen perlawanan indigenous people. Manguni bagi masyarakat Minahasa merupakan burung sakral dan media ilahi/leluhur menyampaikan pesan kepada manusia. Melalui metode kualitatif analitis-deskriptif dengan pendekatan etnografi untuk mengeksplorasi kearifan lokal di Minahasa. Era kolonial dan pos-kolonial mentransformasi paradigma masyarakat Minahasa dalam memaknai Manguni dan kearifan lokal berbasis folklore. Kolonialisme telah membentuk dan mengkonstruksi supremasi elitis di Minahasa mulai dari agamawan, politikus serta birokrat. Tiga bentuk supremasi tersebut berada dalam sistem oligarki dan memiliki kuasa dalam melegitimasi benar-salah tindakan masyarakat sehingga Manguni sebagai folklore terpinggirkan. Berdasarkan hasil temuan Manguni menjadi media indigenous people meminta restu kepada para leluhur untuk melakukan gerakan perubahan sosial melalui ritual, pendidikan dan bernarasi sehingga membentuk kohesi sosial. Gerakan indigenous people mencari spatial justice melalui restu ilahi/leluhur lewat nyanyian Manguni menjadi bagian dari kesadaran kolektif masyarakat Minahasa. Artikel ini berkesimpulan bahwa Manguni menjadi simbolisasi restu para leluhur terhadap gerakan indigenous people sehingga membentuk sakralitas foklore

Page 1 of 2 | Total Record : 16