cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
J@TI (TEKNIK INDUSTRI)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25021516     DOI : -
Core Subject : Engineering,
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri [e-ISSN 2502-1516] merupakan jurnal nasional yang mengangkat tulisan-tulisan penelitian dalam disiplin ilmu teknik industri. Pertama kali terbit sejak tahun 2006 hingga saat ini dengan frekuensi terbit tiga (3) kali dalam setahun. Setiap edisi terbitan berisi 8 artikel jurnal. Terbit setiap Januari, Mei, dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Volume 4, No. 2, Mei 2009" : 8 Documents clear
PENENTUAN PRODUCTION LOT SIZES DAN TRANSFER BATCH SIZES DENGAN PENDEKATAN MULTISTAGE Adi W, Purnawan; Saptadi, Singgih; Ratna Y, Mellina
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 2, Mei 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.904 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.2.113-122

Abstract

Pengendalian dan perawatan inventori merupakan suatu permasalahan yang sering dihadapi seluruh organisasi dalam berbagai sektor ekonomi. Salah satu tantangan yang yang harus dihadapi dalam pengendalian inventori adalah bagaimana menentukan ukuran lot yang optimal pada suatu sistem produksi dengan berbagai tipe. Analisis batch produksi (production lot) dengan pendekatan hybrid simulasi analitik merupakan salah satu penelitian mengenai ukuran lot optimal. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan sistem singlestage dimana tidak adanya hubungan antar proses di setiap stage atau dengan kata lain, proses yang satu independen terhadap proses yang lain. Dengan menggunakan objek penelitian yang sama dengan objek penelitian diatas, penelitian ini kemudian mengangkat permasalahan penentuan ukuran production lot dengan pendekatan multistage. Pertama, dengan menggunakan data-data yang sama dengan penelitian sebelumnya ditentukan ukuran production lot yang optimal dengan metode programa linier. Selanjutnya ukuran production lot digunakan sebegai input simulasi untuk menentukan ukuran transfer batch. Rata-rata panjang antrian dan waktu tunggu menjadi ukuran performansi yang digunakan sebagai acuan penentuan ukuran transfer batch dari beberapa alternatif ukuran yang ada. Pada penelitian ini, ukuran production lot yang dihasilkan sama besarnya dengan demand tiap periode. Sedangkan untuk ukuran transfer batch, hasil penentuan dengan menggunakan simulasi kemudian dimplementasikan ke dalam model. Hasilnya adalah adanya penurunan inventori yang terjadi sebesar 76,35% untuk produk connector dan 50,59% untuk produk box connector dari inventori yang dihasilkan dengan pendekatan singlestage. Kata kunci : multistage, production lot, transfer batch     Abstract   Inventory maintenance and inventory control is a problem that often faced by all organization in many economic sectors. One of challenges that must be faced in inventory control is how to determine the optimal lot size in a system of production with several types. Analysis of production batch (production lot) using hybrid analytic simulation is one kind of research about optimal lot size. That research uses single-stage system approach where there are not relationships between processes in every stage or in other word; one process is independent to other process. Using the same research object with one before, this research then take up problem how to determine production lot size with multi-stage approach. First, determining optimal production lot size by linear program using the same data with previous research. Then, production lot size is used as simulation input to determine transfer batch size. Average of queue length and waiting time as performance measurement are used as reference in determining transfer batch size from several alternatives.In this research, it shows that production lot size is same with demand each period. Determination result of transfer batch size by using simulation then implemented on model. The result is descent of inventory of connector product at 76.35% and 50.59% for box connector product, as compared to inventory using single-stage approach. Keywords : multistage, production lot, transfer batch
ANALISIS PEMBOROSAN PERUSAHAAN MEBEL DENGAN PENDEKATAN LEAN MANUFACTURING (Studi Kasus PT “X” Indonesia) Hartini, Sri; Saptadi, Singgih; Kadarina, Nurlaila; Rizkya, Indah
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 2, Mei 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.035 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.2.81-90

Abstract

Lean Manufacturing merupakan pendekatan untuk mengefisienkan system dengan mereduksi pemborosan. Pendekatan ini dilakukan dengan memahami gambaran umum perusahaan melalui aliran informasi dan material di lantai produksi dengan membuat value stream mapping. Aktivitas ini dikelompokkan dalam value added, non value added, dan necessary non value added. Penelitian ini menghasilkan value stream mapping (VSM) perusahaan yang meliputi aliran material dan informasi. Dari VSM diketahui peta aktivitas-aktivitas pemborosan di lantai pabrik. Penelitian ini berhasil merinci besar value-adding activity rata-rata sebesar 50.30%, non value-adding activity sebesar 21.83% dan necessary non value-adding activity sebesar 26.36%. Dari PMEA diketahui nilai RPN terbesar pada aktivitas yang berhubungan dengan jig. Untuk mereduksi pemborosan perlu dilakukan management jig yang lebih baik. Kata kunci: fishbone diagram, FMEA, lean manufacturing, value stream mapping.     Lean Manufacturing is an approach to make system more efficient by reducing waste. This approach is done by understanding the general outlook of company using value stream mapping of information and material flow in production line. These activities are classified by value added activities, non-value added activities, and necessary value added activities. This research delivers value stream mapping (VSM) of company including material and information flow.  VSM shows the map of wasting activities in production line. The result of this research is details of activities, that value-adding activity in average 50.30%, non value-adding activity in average 21.83%, and necessary non value-adding activity in average 26.36 %. FMEA shows that the biggest value of RPN is activity that related to jig. Better jig management need to do to reduce waste. Keywords : fishbone diagram, FMEA, lean manufacturing, value stream mapping
USULAN KONSEP PENINGKATAN KEPUASAN PENGGUNA PERPUSTAKAAN DENGAN MENGGUNAKAN METODOLOGI LIBQUAL+™ DAN QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT Nurkertamanda, Denny; Wirawan, Pandu
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 2, Mei 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.04 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.2.123-136

Abstract

Perpustakaan universitas –juga disebut perpustakaan akademis– sering dianggap sebagai sumber informasi yang paling penting bagi sebuah perguruan tinggi. Sebagai salah satu institusi kultural yang paling berharga, perpustakaan menyediakan informasi dan pelayanan yang sangat penting bagi proses belajar dan mengajar. Namun sayangnya perpustakaan akademis saat ini sedang menghadapi tantangan terbesarnya sejak munculnya banyak universitas virtual yang juga ditunjang dengan perpustakaan virtual. Bagaimana perpustakaan mempertahankan dan memperkuat citranya serta mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki untuk memenuhi harapan pengguna adalah satu-satunya cara agar perpustakaan akademis dapat bertahan dalam lingkungan yang terus berubah dan tidak terduga ini. Kualitas dan nilai (value) dari sebuah perpustakaan secara tradisional diukur dengan indikator besaran, yaitu: banyaknya koleksi, anggaran belanja, pengeluaran dan staff merupakan masukan untuk menilai potensi perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan pengguna. Kualitas sebuah perpustakaan harus diukur dalam hal yang berkaitan dengan interaksi pengguna dengan sumber daya perpustakaan dan pelayanan yang diberikan. Penilaian kritis akan kualitas sebuah perpustakaan haruslah berasal dari pengguna perpustakaan itu sendiri. Zeithaml, dkk mengatakan: Dalam model evaluasi kualitas pelayanan, hanya pengguna/pelanggan yang menilai kualitas; semua penilaian yang lain benar-benar tidak relevan. LibQual+™ (suatu metode yang di diperkenalkan oleh Academic Research Library berdasarkan 22 item SERVQUAL yang dikembangkan oleh Zeithaml, Parasuraman, Berry) digunakan untuk mengetahui bagaimana (seberapa baik) UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro memberikan pelayanan kepada penggunanya. Kemudian atribut (sumber daya) apa saja yang paling penting untuk dialokasikan pengelola perpustakaan untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan perpustakaan, dan perbaikan apa yang saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepuasan pengguna diteliti dengan menggunakan Importance-Performance Matriks dan Quality Function Deployment (QFD). Secara keseluruhan, pelayanan yang diberikan perpustakaan berada pada batas minimum pelayanan yang dapat ditolerir pengguna. Artinya adalah pihak perpustakaan baru dapat memenuhi kebutuhan minimum pengguna. Hasil dari proses QFD tersebut adalah jawaban akan bagaimana seharusnya kebutuhan pengguna dipenuhi. Tabel respon teknis menunjukkan bagaimana pihak perpustakaan dapat meningkatkan kepuasan pengguna berupa variabel-variabel terukur yang dapat selalu dipantau nilainya. Dengan demikian peneliti merekomendasikan pihak perpustakaan untuk memenuhi target dari respon teknis yang telah ditetapkan. Kata Kunci: Kepuasan Pengguna, LibQual, Quality Function Deployment, SERVQUAL.     Abstract   University library –also said as academic library– often reputed as the most important information source in university. As the most valuable cultural institution, library supplied information and service that very important in study and teaching processes. Unfortunately, nowadays academic library is facing its biggest challenge since the emergence of many virtual university that supported by virtual library. How the library can survive and strengthen its image and explore all of its resources to fulfill the user expectation. It is the only way to keep academic library stand up in this dynamic and unpredictable state. Quality and value of a library traditionally can be measured by indicators as input to rate the potency of library in fulfilling user requirement. These indicators are amount of collections, expenditure budget, expenses, and staff. Quality of library should be measured in something that related to interaction between user and library resources and service given. Critical measurement of library quality should be come from the user itself. Zeithaml, et.al said that in service quality evaluation model, only the user that rates the quality; all another ratings was irrelevant.  LibQual+TM (a method introduced by Academic Research Library based on 22 items of SERVQUAL developed by Zeithaml, Parasuraman, Berry) is used to know how (how good) UPT Diponegoro University Library in giving service to user. What kind of important attributes (resources) in supporting service quality improvement, and what kind of improvements to do to increase user satisfaction. It is researched using Importance-Performance Matrix and Quality Function Deployment (QFD).  As a whole, the service given by library is in minimum limitation of service that can be tolerated by user. It is mean that library only can fulfill the minimum requirement of user. QFD result shows the answers of how library supposed to fulfill user requirement. Technical response table shows how library can increase user satisfaction by measurable variables that value’s can always be monitored. So, researcher recommend to library to fulfill the targets from stated technical responses. Keywords : User satisfaction, LibQual, Quality Function Deployment, SERVQUAL.  
PENGUKURAN KEPUASAN PELANGGAN COMLABS INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (ITB) puspitasari, nia budi; rinawati, dyah ika
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 2, Mei 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.669 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.2.75-80

Abstract

p { margin-bottom: 0.08in; } Untuk memenangkan persaingan bisnis produsen harus memberikan kepuasan kepada pelanggannya. Untuk itu produsen perlu melakukan pengukuran tingkat kepuasan pelanggan terhadap produk atau jasa. Comlabs ITB sebagai salah satu penyedia jasa internet di kampus ITB juga perlu melakukan pengukuran tingkat kepuasan pelanggan. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengukur gap antara harapan dan persepsi pelanggan serta melakukan plot pada diagram dua dimensi. Sehingga dari pendekatan ini dapat diketahui dimensi kualitas mana yang perlu diperbaiki untuk memberikan kepuasan pada pelanggan . Dari hasil penelitian dapat disimpulkan ada tiga dimensi kualitas yang perlu diperbaiki, yaitu better, reability dan security. Untuk melakukan perbaikan direkomendasikan 5 langkah perbaikan.  
PENERAPAN FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM METODE MULTI ATTRIBUTE FAILURE MODE ANALYSIS UNTUK MENGIDENTIFIKASI PENYEBAB KEGAGALAN POTENSIAL PADA PROSES PRODUKSI Hetharia, Dorina
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 2, Mei 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.654 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.2.91-98

Abstract

Banyak metode dalam Total Quality Management (TQM) yang dapat digunakan untuk melakukan perbaikan kualitas produk dan jasa. Salah satunya adalah Multi Attribute Failure Mode Analysis (MAFMA), yang dapat digunakan untuk mengeliminasi atau mengurangi kemungkinan terjadinya kegagalan bila dilihat dari faktor penyebabnya, sehingga dapat mencegah terulang kembali kegagalan tersebut. MAFMA merupakan pengembangan dari Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), yang mengintegrasikan atribut severity, occurance, dan detectability dengan aspek ekonomi yakni expected cost. Pada FMEA, penentuan penyebab kegagalan potensial suatu produk dilakukan dengan memberikan nilai (score) pada atribut severity, occurance, dan detectability, yang dilanjutkan dengan menghitung nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi. Sedangkan pada MAFMA, penentuan penyebab kegagalan potensial dilakukan dengan pemberian bobot pada ke-empat atribut. Pemberian bobot tersebut menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan logika fuzy. Atribut severity, occurance, detectability dan expected cost pada MAFMA dimasukkan sebagai level kriteria dalam struktur hirarkhi AHP, sedangkan penyebab-penyebab kegagalan akan menjadi level alternatif pada struktur hirarkhi tersebut. Studi kasus pada PT Pelita Cengkareng Paper & Co. menunjukkan bahwa bobot  kriteria severity sebesar 0.3461, kriteria occurance sebesar 0.0848, kriteria detectability sebesar 0.1741 dan kriteria expected cost sebesar 0.3950.Sedangkan penyebab kegagalan potensial adalah penggumpalan chemical dengan bobot tertinggi sebesar 0.210. Kata kunci: AHP, logika fuzzy, MAFMA    There are several methods of Total Quality Management (TQM) that can be used to improve quality of product and service. One of those is Multi Attribute Failure Mode Analysis (MAFMA), which can be used to eliminate or minimize the failure probability based on its causal factor, so we can prevent the same failure in the future. MAFMA is development of Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) that integrates severity attribute, occurrence, and detect ability with expected cost as financial aspect.  In FMEA, determination of potential failure causal factor is done by giving weight to four attributes. Giving weight is using Analytic Hierarchy Process (AHP) with fuzzy logic. Severity, occurrence, detect ability, and expected cost in MAFMA as criteria level in AHP hierarchy structure, whereas the failure causes as alternative level in that hierarchy structure. In case study at PT Pelita Cengkareng Paper & Co. shows that weight for severity criteria is 0.3461, occurrence is 0.0848, detect ability is 0.1741, and expected cost is 0.3950. The potential failure cause is chemical agglutination in weight 0.210. Keywords : AHP, fuzzy logic, MAFMA
REDISAIN LAYOUT DAN PROSEDUR UNTUK REDUKSI WAKTU SETUP GUDANG KOMPONEN Sriyanto, Sriyanto; Purwanggono, Bambang; Astuti, Dessy Tri
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 2, Mei 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.318 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.2.137-146

Abstract

Gudang berperan sebagai distributor untuk menyalurkan bahan baku menuju jalur produksi. Respon gudang dalam menyuplai bahan baku berkaitan dengan proses penyiapan yang mempengaruhi waktu setup komponen bahan baku untuk dikirim ke lini perakitan. Jumlah produksi dari lini perakitan yang bertambah dari 160 unit menjadi 200 unit per bulan menuntut waktu setup yang lebih pendek dari pihak gudang bahan baku. Selama ini waktu set-up yang diperlukan untuk 1 lot produksi atau 40 unit produk adalah berkisar antara 5 – 7 hari. Dalam penelitian ini dilakukan pengaturan ulang tata letak dan perbaikan terhadap prosedur setup di gudang bahan baku untuk mengurangi waktu penyiapan komponen rakitan sebelum masuk ke jalur produksi. Hasil dari pengaturan ulang tata letak dan perbaikan prosedur ini adalah penghematan ruang sebesar 5 %, eliminasi aktivitas setup yang tidak perlu yang menghasilkan waktu setup yang lebih pendek, dan  prosedur baru penyiapan komponen yang lebih efisien. Kata kunci: gudang bahan baku, proses penyiapan, tata letak, waktu setup.     Abstract   Storage have a function to distribute materials to production line. Storages respon in time supplying materials influenced by preparation process  known as component setup  process. Increased production quantity in production line from 160 units to 200 units per month press for shorter storages setup time. All this time setup time for one production lot or 40 units range from five to seven days. This research try to improve setup prosedur to reduce component preparation time before entered production line. Research include redesign of storage layout. The results show improvement by 5 percent saving in space, elimination of unnecessary preparation activity resulting in shorter setup time, and the new preparation procedure  that more efficient. Key word: layout, materials storage, preparation process, setup time.
EVALUASI PENGARUH KONSTRUKSI MATERIAL, TINGKAT ISOLASI DAN SUHU LINGKUNGAN PADA SISTEM PEMANAS RUANGAN DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI KONTINYU Prayudo, Sigit B.; Arvianto, Ary
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 2, Mei 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.782 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.2.99-104

Abstract

Pengukuran kinerja pada sistem pemanas ruangan merupakan salah satu dari penelitian aplikatif. Sebuah sistem pemanas akan bekerja dengan berinteraksi dengan lingkungannya. Konstruksi material dan suhu lingkungan sangat mempengaruhi performansi sistem pemanas, akibatnya penggunaan bahan bakar akan terpengaruh. Dalam penelitian ini, model sistem pemanas akan memberikan gambaran mengenai performansi sitem nyatanya. Variabel dan parameter yang muncul harus terukur secara terus menerus, berarti variabel status berubah seiring berubahnya waktu sehingga dalam menyelesaikan model yang kompleks ini digunakan metode simulasi kontinyu. Perilaku yang dihasilkan dalam model ini akan di validasi, dan diusulkan dalam dua skenario sebagai eksperimennya. Pada penelitian ini digunakan alat bantu software statistik dan software simulasi powersim. Kata kunci: Kontinyu, Simulasi, Sistem Pemanas   Performance measurement for heating system is one of applicative research. A heating system will work with environment interactions. Materials construction and environment will influence heating system performance and also influence fuel consumption performance. This research will explain the real system by the heating system model behavior. The variables and parameters of the system must continually measurable. Its mean status of the variables become difference along with the time, so the model can be solved by continues simulation. This model will be validate and proposed with two scenarios for the experiment. In this research, statistic software and powersim simulation software will be used. Keyword: Continues,Simulation, Heating System
PERANCANGAN MODEL DISTRIBUSI KOMODITAS PADI PASKA-PANEN BERBASIS SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (Studi Kasus Sistem SAPA Sukabumi) Wiyono, Didiek Sri; Sutopo, Wahyudi
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 2, Mei 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.22 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.2.105-112

Abstract

Ditinjau dari kajian Supply Chain Management (SCM), salah satu akar masalah pada bisnis komoditas padi paska-panen adalah masalah distribusi. Rendahnya tingkat aksesibilitas informasi ketersediaan komoditas bagi para stakeholder mengakibatkan proses distribusi tidak berjalan dengan baik, sehingga sering terjadi penumpukan komoditas maupun kekosongan komoditas di sisi yang lain. Permasalahan komunikasi dan koordinasi ini mengakibatkan distribusi komoditas padi tidak berjalan dengan baik sehingga sangat merugikan  konsumen, petani dan semua pihak yang terlibat di dalam sistem SCM. Fokus penelitian ini adalah merancang model distribusi komoditas padi paska-panen. Rancangan model berbasis Supply Chain Management (SCM) dipilih karena karakteristiknya dalam hal kemudahan interaksi antar   stakeholder  dinilai mampu menjawab permasalahan rendahnya tingkat aksesibilitas informasi ketersediaan komoditas. Proses perancangan dimulai dengan melakukan inventarisasi kebutuhan stakeholder hingga mendapatkan format yang sesuai dengan distribusi komoditas padi paska-panen. Selanjutnya dibuat System Requirement Specification (SRS) dan diidentifikasi value chain dari komoditas padi paska-panen. SRS dan value chain yang telah didapat dijadikan dasar dalam merancang model distribusi dengan bantuan Use Case Model. Hasil penelitian ini berupa model bisnis yang komperhensif dari sebuah sistem distribusi komoditas padi paska-panen berbasis SCM yang telah disesuaikan  dengan kebutuhan pengguna. Kata kunci: Supply Chain Management, komunikasi dan koordinasi, penyebaran informasi,   model distribusi komoditas padi pascapanen.   Abstract With the Supply Chain Management’s (SCM) appoach, uncertaintly of rice, main commodity in agri-industry after-harvest paddy, supply and distribution which is giving a bad impact for consumers, farmers, and all who are involved in this business, found that root of the problems is minimum availability of comodities and accessibility of informations. These problems happened because uncertaintly and unavailability of accurate informations about inventory, demands and also products capacity  form industries. By the advanced development of internet, web and mobile technologies, problems in creating, providing and deseminating of informations can be minimized by using appropriate application in SCM based information system that uses the advanced facilities of internet and mobile communication network which have been widely spead in Indonesia. Creating software requirement specifications (SRS), use case diagrams, class diagrams and comparing SRS with these diagrams, will be much helpfull for the designed processes to meet and fit with user needs. User interface and prototype of these applications, as a result, also introduced to the client and users to guarantee the fitness of the designed applications. Keywords: Supply Chain Management, comunication and coordinaton, sharing information, distribution model of after-harvest paddy  

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 3 (2025): September 2025 Vol 20, No 2 (2025): Mei 2025 Vol 20, No 1 (2025): Januari 2025 Vol 19, No 3 (2024): September 2024 Vol 19, No 2 (2024): Mei 2024 Vol 19, No 1 (2024): Januari 2024 Vol 19, No 2 (2024): Article In-Press Vol 18, No 3 (2023): September 2023 Vol 18, No 2 (2023): Mei 2023 Vol 18, No 1 (2023): Januari 2023 Vol 17, No 3 (2022): September 2022 Vol 17, No 2 (2022): Mei 2022 Vol 17, No 1 (2022): Januari 2022 Vol 16, No 4 (2021): Edisi Khusus ACISE 2021 Vol 16, No 3 (2021): September 2021 Vol 16, No 2 (2021): Mei 2021 Vol 16, No 1 (2021): Januari 2021 Vol 15, No 3 (2020): September 2020 Vol 15, No 2 (2020): Mei 2020 Vol 15, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 14, No 3 (2019): September 2019 Vol 14, No 2 (2019): Mei 2019 Vol 14, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 13, No 3 (2018): September 2018 Volume 13, No. 2, Mei 2018 Volume 13, No. 1, Januari 2018 Volume 12, No. 3, September 2017 Volume 12, No. 2, Mei 2017 Volume 12, No. 1, Januari 2017 Volume 11, No. 3, September 2016 Volume 11, No. 2, Mei 2016 Volume 11, No. 1, Januari 2016 Volume 10, No. 3, September 2015 Volume 10, No. 2, Mei 2015 Volume 10, No. 1, Januari 2015 Volume 9, No.3, September 2014 Volume 9, No.2, Mei 2014 Volume 9, No.1, Januari 2014 Volume 8, No.3, September 2013 Volume 8, No.2, Mei 2013 Volume 8, No.1, Januari 2013 Volume 7, No.3, September 2012 Volume 7, No.2, Mei 2012 Volume 7, No.1, Januari 2012 Volume 6, No.3, September 2011 Volume 6, No.2, Mei 2011 Volume 6, No.1, Januari 2011 Volume 5, No.3, September 2010 Volume 5, No.2, Mei 2010 Volume 5, No.1, Januari 2010 Volume 4, No. 3, September 2009 Volume 4, No. 2, Mei 2009 Volume 4, No. 1, Januari 2009 Volume 3, No.3, September 2008 Volume 3, No.2, Tahun 2008 Volume 3, No.1, Januari 2008 Volume 2, No.2, Mei 2007 Volume 2, No.1, Januari 2007 Volume 1, No.3, September 2006 Volume 1, No.2, Mei 2006 Volume 1, No.1, Januari 2006 More Issue