Claim Missing Document
Check
Articles

REDESAIN KURSI BAMBOO BENT LAMINATION DENGAN KONSEP DESIGN GUIDELINES COLLABORATIVE FRAMEWORK (DGLS-CF) MENUJU SUSTAINABLE PRODUCT Pranindo, Arya; Nurkertamanda, Denny
Jurnal Ilmiah Teknik Industri Vol. 12, No. 1, Juni 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bamboo laminate is a product made from bamboo slats, which are glued parallely to the fibers. The adhesion results can be either board or beam thickness depending on the size and width. Bamboo has a high strength layer against abrasion and bending moment. In the previous study, lamination bamboo chair has the disadvantage on high production costs and a long process. Thus, it needs for redesigning seats from previous research. Design method with the concept of Design Guidelines Collaborative Framework is expected to make a product that is produced sustainably chair and have a relatively affordable cost of production. This chair design is made by bamboo bent lamination and bending process is done with Tohnet method with existing technology, that will generate power for the same structure with wood for the furniture industry and can not be separated from the value of comfort (ergonomic), aesthetic values and also not rule out environmental aspects according to Indonesian National Standard.
REDESAIN KURSI BAMBOO BENT LAMINATION DENGAN KONSEP DESIGN GUIDELINES COLLABORATIVE FRAMEWORK (DGLS-CF) MENUJU SUSTAINABLE PRODUCT Pranindo, Arya; Nurkertamanda, Denny
Jurnal Ilmiah Teknik Industri Vol. 12, No. 1, Juni 2013
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jiti.v12i1.660

Abstract

Bamboo laminate is a product made from bamboo slats, which are glued parallely to the fibers. The adhesion results can be either board or beam thickness depending on the size and width. Bamboo has a high strength layer against abrasion and bending moment. In the previous study, lamination bamboo chair has the disadvantage on high production costs and a long process. Thus, it needs for redesigning seats from previous research. Design method with the concept of Design Guidelines Collaborative Framework is expected to make a product that is produced sustainably chair and have a relatively affordable cost of production. This chair design is made by bamboo bent lamination and bending process is done with Tohnet method with existing technology, that will generate power for the same structure with wood for the furniture industry and can not be separated from the value of comfort (ergonomic), aesthetic values and also not rule out environmental aspects according to Indonesian National Standard.
POSTUR KERJA DAN RISIKO LOW BACK PAIN PADA PEKERJA PASIRAN Nurkertamanda, Denny
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 12, No. 3, September 2017
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.821 KB) | DOI: 10.14710/jati.12.3.149-154

Abstract

Salah satu pekerjaan angkat angkut adalah pekerjaan menurunkan pasir dari atas truk. Dalam bekerja, pekerja menggunakan alat bantu berupa enggrong yang merupakan sekop dengan gagang pendek. Akibat penggunaan enggrong, pekerja bekerja dengan postur tubuh membungkuk. Postur kerja ini menimbulkan potensi low back pain pada pekerja. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 9 partisipan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui potensi risiko low back pain berdasarkan sudut kemiringan trunk ketika pekerja bekerja menurunkan pasir dengan enggrong. Sudut kemiringan trunk yang diprediksi meliputi: 1) sudut kemiringan trunk flexion, 2) sudut kemiringan trunk bending, dan 3) sudut kemiringan trunk twisting. Data postur kerja diambil dengan menggunakan kamera 3D Microsoft KinectTM dan dianalisis dengan menggunakan software Siemen Jack metode 3D Static Strength Prediction Program (3DSSPP) untuk memprediksi sudut kemiringan trunk. Hasil analisis dari ke-6 postur kerja menunjukkan postur-postur kerja yang sering dilakukan pekerja mempunyai rerata sudut kemiringan trunk flexion sebesar 61,10 ± 10,090, sudut kemiringan trunk bending sebesar 19,80 ± 6,740 dan sudut kemiringan trunk twisting sebesar 20,00 ± 9,030. Rerata sudut kemiringan trunk flexion yang mencapai 87,28 %  dari sudut kemiringan maksimal merupakan penyebab utama risiko low back pain. Sehingga dapat disimpulkan potensi terjadinya low back pain pada pekerja pasiran dapat terjadi. Perlu intervensi ergonomi untuk mencegah dan mengurangi potensi risiko terjadi low back pain pada pekerja pasiran. AbstractOne of the manual matrial handling jobs is the derivative work from the top of the truck. In working the workers use a tool that enggrong which is a short-handed shovel. Due to the use of employee enggrong work with stooped posture. This work posture raises the potential for low back pain in workers. This study is a cross sectional study with a sample of 9 participants. The purpose of research is to find potential risks of low back pain based on angle trunk when workers work sent down the sand by enggrong. Angle trunk which is predicted covering: 1 angle trunk flexion, 2) angle trunk bending, and 3) angle trunk twisting. Work posture data was taken using Microsoft KinectTM 3D camera and analyzed by using Siemen Jack 3D Static Strength Prediction Program (3DSSPP) software to predict angle trunk. The result of the analysis of the 6 work postures showed that worker's frequently employed posture had the average angle trunk flexion of 61.10 ± 10.090, angle trunk bending of 19.80 ± 6.740 and angle trunk twisting of 20.00 ± 9.030. The average angle trunk flexion at 87.28% of maximal angle is a major cause risk low back pain. So that it can be summed up the potential for low back pain on sand workers. Intervention ergonomics need to prevent and reduce potential risks happened low back pain on sand workers.
PENERAPAN METODE RETAD UNTUK MENGURANGI WAKTU SET UP PADA MESIN MILLING P1 DAN P2 DEPARTEMEN MACHINING PT. KUBOTA INDONESIA Sriyanto, Sriyanto; Nurkertamanda, Denny; Ismail, Ahmad Nur
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 1, No.1, Januari 2006
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.034 KB) | DOI: 10.12777/jati.1.1.51-59

Abstract

Pengurangan waktu produksi dalam suatu proses produksi dapat dilakukan dengan meminimalkan waktu setup pada proses produksi tersebut. Untuk mengurangi waktu setup diperlukan suatu cara untuk membantu operator dalam melaksanakan proses milling sehingga dapat meminimalkan waktu setup serta dapat menghilangkan elemen kerja yang tidak produktif tersebut. Metode RETAD (Rapid Exchange of Tooling and Dies) merupakan pengembangan dari metode SMED (Single Minuite Exchange of Dies) yang bertujuan mengurangi waktu setup, menghapus scrap dan rework. Dari hasil pengolahan data dan analisis untuk proses milling pada mesin Milling Vertikal P1, waktu elemen kerja membersihkan jig dari geram dapat dikurangi dari 5.53 detik sebelum perbaikan menjadi 1.54 detik setelah perbaikan dan untuk mesin Milling Vertikal P2, waktu elemen kerja membersihkan jig dari geram dapat  dikurangi dari 5.15 detik menjadi 1.54 detik. Dari hasil di atas maka dapat disimpulkan bahwa terjadi perbaikan waktu setup pada proses milling pada Mesin Milling Vertikal P1 dan P2 di Cylinder Head Line, perbandingan waktu standar proses milling dari 258.505 detik sebelum perbaikan menjadi 254.518 detik setelah perbaikan pada mesin Milling Vertikal P1 dan 256.002 detik sebelum perbaikan menjadi 252.392 detik setelah perbaikan pada mesin Milling Vertikal P2 Untuk penelitian ini hasil tersebut merupakan hasil maksimal yang dapat dicapai, namun dapat dikembangkan lebih lanjut pada mesin-mesin produksi lainnya. Kata kunci           : RETAD, waktu setup, elemen kerja
USULAN KONSEP PENINGKATAN KEPUASAN PENGGUNA PERPUSTAKAAN DENGAN MENGGUNAKAN METODOLOGI LIBQUAL+™ DAN QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT Nurkertamanda, Denny; Wirawan, Pandu
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 2, Mei 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.04 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.2.123-136

Abstract

Perpustakaan universitas –juga disebut perpustakaan akademis– sering dianggap sebagai sumber informasi yang paling penting bagi sebuah perguruan tinggi. Sebagai salah satu institusi kultural yang paling berharga, perpustakaan menyediakan informasi dan pelayanan yang sangat penting bagi proses belajar dan mengajar. Namun sayangnya perpustakaan akademis saat ini sedang menghadapi tantangan terbesarnya sejak munculnya banyak universitas virtual yang juga ditunjang dengan perpustakaan virtual. Bagaimana perpustakaan mempertahankan dan memperkuat citranya serta mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki untuk memenuhi harapan pengguna adalah satu-satunya cara agar perpustakaan akademis dapat bertahan dalam lingkungan yang terus berubah dan tidak terduga ini. Kualitas dan nilai (value) dari sebuah perpustakaan secara tradisional diukur dengan indikator besaran, yaitu: banyaknya koleksi, anggaran belanja, pengeluaran dan staff merupakan masukan untuk menilai potensi perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan pengguna. Kualitas sebuah perpustakaan harus diukur dalam hal yang berkaitan dengan interaksi pengguna dengan sumber daya perpustakaan dan pelayanan yang diberikan. Penilaian kritis akan kualitas sebuah perpustakaan haruslah berasal dari pengguna perpustakaan itu sendiri. Zeithaml, dkk mengatakan: Dalam model evaluasi kualitas pelayanan, hanya pengguna/pelanggan yang menilai kualitas; semua penilaian yang lain benar-benar tidak relevan. LibQual+™ (suatu metode yang di diperkenalkan oleh Academic Research Library berdasarkan 22 item SERVQUAL yang dikembangkan oleh Zeithaml, Parasuraman, Berry) digunakan untuk mengetahui bagaimana (seberapa baik) UPT Perpustakaan Universitas Diponegoro memberikan pelayanan kepada penggunanya. Kemudian atribut (sumber daya) apa saja yang paling penting untuk dialokasikan pengelola perpustakaan untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan perpustakaan, dan perbaikan apa yang saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepuasan pengguna diteliti dengan menggunakan Importance-Performance Matriks dan Quality Function Deployment (QFD). Secara keseluruhan, pelayanan yang diberikan perpustakaan berada pada batas minimum pelayanan yang dapat ditolerir pengguna. Artinya adalah pihak perpustakaan baru dapat memenuhi kebutuhan minimum pengguna. Hasil dari proses QFD tersebut adalah jawaban akan bagaimana seharusnya kebutuhan pengguna dipenuhi. Tabel respon teknis menunjukkan bagaimana pihak perpustakaan dapat meningkatkan kepuasan pengguna berupa variabel-variabel terukur yang dapat selalu dipantau nilainya. Dengan demikian peneliti merekomendasikan pihak perpustakaan untuk memenuhi target dari respon teknis yang telah ditetapkan. Kata Kunci: Kepuasan Pengguna, LibQual, Quality Function Deployment, SERVQUAL.     Abstract   University library –also said as academic library– often reputed as the most important information source in university. As the most valuable cultural institution, library supplied information and service that very important in study and teaching processes. Unfortunately, nowadays academic library is facing its biggest challenge since the emergence of many virtual university that supported by virtual library. How the library can survive and strengthen its image and explore all of its resources to fulfill the user expectation. It is the only way to keep academic library stand up in this dynamic and unpredictable state. Quality and value of a library traditionally can be measured by indicators as input to rate the potency of library in fulfilling user requirement. These indicators are amount of collections, expenditure budget, expenses, and staff. Quality of library should be measured in something that related to interaction between user and library resources and service given. Critical measurement of library quality should be come from the user itself. Zeithaml, et.al said that in service quality evaluation model, only the user that rates the quality; all another ratings was irrelevant.  LibQual+TM (a method introduced by Academic Research Library based on 22 items of SERVQUAL developed by Zeithaml, Parasuraman, Berry) is used to know how (how good) UPT Diponegoro University Library in giving service to user. What kind of important attributes (resources) in supporting service quality improvement, and what kind of improvements to do to increase user satisfaction. It is researched using Importance-Performance Matrix and Quality Function Deployment (QFD).  As a whole, the service given by library is in minimum limitation of service that can be tolerated by user. It is mean that library only can fulfill the minimum requirement of user. QFD result shows the answers of how library supposed to fulfill user requirement. Technical response table shows how library can increase user satisfaction by measurable variables that value’s can always be monitored. So, researcher recommend to library to fulfill the targets from stated technical responses. Keywords : User satisfaction, LibQual, Quality Function Deployment, SERVQUAL.  
PERANCANGAN MEJA DAN KURSI ANAK MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) DENGAN PENDEKATAN ATHROPOMETRI DAN BENTUK FISIK ANAK Nurkertamanda, Denny; Saptadi, Singgih; Herviyani, Dani Dwi
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 1, No.1, Januari 2006
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.846 KB) | DOI: 10.14710/jitaa.%v.%i.85-94

Abstract

Meja dan kursi anak merupakan suatu sarana pendukung yang sangat penting dalam kelancaran pelaksanaan proses belajar anak. Ketidakserasian antara meja dan kursi dengan ukuran tubuh anak merupakan salah satu kendala dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Akibat dari meja dan kursi yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh anak dapat mengakibatkan anak cepat mengalami kelelahan. Penelitian ini membahas perancangan dan pengembangan produk meja dan kursi anak sesuai dengan anthropometri (ukuran tubuh manusia) dan bentuk fisik anak untuk menghasilkan rancangan kursi yang ergonomis untuk mengantisipasi adanya ketidakserasian antara meja kursi dengan ukuran tubuh anak. Metode yang digunakan dalam perancangan dan pengembangan meja dan kursi ini adalah metode Quality Function Deployment (QFD). Metode QFD merupakan suatu proses atau mekanisme terstruktur untuk menentukan kebutuhan pelanggan dan menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan itu ke dalam kebutuhan teknis yang relevan. Metode QFD memiliki empat (4) fase yaitu fase perencanaan produk (product planning), perancangan produk (design product), perencanaan proses (process planning) dan perencanaan pengendalian proses (process-control planning). Dalam penelitian ini hanya dilakukan hingga fase ke-3 yaitu fase perencanaan proses. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini berupa gambar rancangan meja dan kursi anak.   KATA KUNCI : Perancangan dan pengembangan produk, Anthropometri, Ergonomis, QFD
ANALISIS HUMAN RELIABILITY ASSESSMENT DENGAN METODE HEART (STUDI KASUS PT ABC) Widharto, Yusuf; Iskandari, Derry; Nurkertamanda, Denny
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Vol 13, No 3 (2018): September 2018
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.511 KB) | DOI: 10.14710/jati.13.3.141-150

Abstract

Salah satu usaha yang dapat dilakukan dalam rangka mengurangi angka kecelakaan kerja yang disebabkan oleh human error adalah dengan menggunakan metode yang mengukur kontribusi tenaga kerja terhadap suatu resiko kerja. Metode ini dikenal sebagai Metode Human Reliability Assesment (HRA). Pada kesempatan ini  akan digunakan salah satu dari metode HRA yaitu metode Human Error Assessment and Reduction Technique (HEART) yang merupakan metode untuk melakukan kuantifikasi human reliability. Analisis  HRA dengan metode HEART ini mengambil tempat di salah satu lini perakitan PT. ABC yang merupakan salah satu perusahaan manfaktur kelas dunia. Pada lini perakitan di PT. ABC ditemukan beberapa task yaitu 7.1, 14.1 dan 16.1 dimana dari hasil analisis dengan menggunakan metode HEART diperoleh nilai 1 untuk Nilai Human Error Probabilitynya.  Task tersebut memiliki karakteristik pekerjaan yang kompleks dan membutuhkan tingkat pemahaman dan keterampilan tinggi serta dari hasil EPC’S  operator hanya memiliki waktu singkat untuk mendeteksi kegagalan dan tindakan koreksi. Adapun saran untuk task’s tersebut adalah: Petugas yang mengerjakan task’s tersebut merupakan petugas yang telah terlatih dan telah bertugas/ menyelesaikan tingkatan tugas yang kesulitannya di bawah task’s tersebut (dibuktikan dengan matrix skill), Penggunaan APD yang sesuai khususnya bagi task 7.1 dan 14.1 untuk melindungi dari kemungkinan cedera tergores. Pengalokasian tempat yang cukup bagi manuver petugas untuk taks 16.1. Untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya kejadian terjepit, selain itu perlu tindakan berkelanjutan khususnya dalam pemantauan HEP misal HEP yang terbesar selanjutnya dikombinasikan dengan metode lain seperti line balancing sehingga didapatkan kondisi Lini Produksi yang nyaman bagi para pekerja.
OPTIMASI CUTTING STOCK PADA INDUSTRI PEMOTONGAN KERTAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE INTEGER LINEAR PROGRAMMING (Studi Kasus di Bhinneka – Semarang) Nurkertamanda, Denny; Saptadi, Singgih; Permanasari, Adhika
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 2, No.1, Januari 2007
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.363 KB) | DOI: 10.12777/jati.2.1.46-54

Abstract

In paper cutting industry, cutting stock problem (CSP) is a problem about how to cutting paper depends on quantity and specify of the demand. CSP related with dimension of pieces and rectangle which is use. In this research, we use one type dimension of rectangle and six type dimension of pieces and cutting all paper by two stage guillotine pattern. The major focus of this research is to formulate the paper cutting problem using integer linear programming. Cutting large objects into small pieces can be found in many industries. Inevitably, the cutting processes produce trim loss. On the rectangle we can put some different dimension of pieces then we can make certain pattern. The modification pattern have to produce minimum trim loss. Thus to develop optimal cutting pattern to reduce trim loss is the main purpose of this research. To reach that, we use branch and bound algorithm then continued with sensitivity analysis.  From the research, we get optimum patten of paper cutting and quantity production for that pattern. Decision for quantity production depends on average demand every day. Beside that, we also give some alternative rules of production system which can take by the company.   Keywords :   Cutting stock problem, two stage guillotine pattern, branch and bound algorithm
ANALISA MODA DAN EFEK KEGAGALAN (FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS / FMEA) PADA PRODUK KURSI LIPAT CHITOSE YAMATO HAA Nurkertamanda, Denny; Wulandari, Fauziyati Tri
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri Volume 4, No. 1, Januari 2009
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.127 KB) | DOI: 10.12777/jati.4.1.49-64

Abstract

Chitose Indonesia Manufacturing merupakan perusahaan yang memproduksi dan menjual furniture dari logam dengan kerjasama negara Jepang. Berdasarkan data penjualan Chitose Indonesia Manufacturing pada tahun 2003, kursi lipat Chitose Yamato merupakan jenis kursi lipat yang memiliki angka penjualan sebesar 59% dari keseluruhan jenis produk yang diproduksi. Kursi lipat Chitose Yamato HAA merupakan salah satu sarana untuk duduk yang dilengkapi dengan sandaran sesuai dengan bentuk punggung manusia dan dapat dilipat untuk memudahkan penyimpanannya. Selain itu juga rangka kakinya yang berbentuk H sehingga dapat digunakan pada permukaan yang datar atau bergelombang. Material yang digunakan pada rangka kursi lipat Chitose Yamato HAA adalah berupa elemen struktur rangka yang bersifat isotropik, yakni memiliki keseragaman sifat dan bahan suatu elemen (regangan, tegangan, mekanis, dsb). Pada analisa moda kegagalan dilakukan identifikasi moda kegagalan yang potensial, keparahan yang ditimbulkan, dan frekuensi kejadian moda kegagalan. Dengan menggunakan analisa moda kegagalan, maka diharapkan kualitas produk akan meningkat dan dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. RPN adalah indikator kekritisan untuk menentukan tindakan koreksi yang sesuai dengan moda kegagalan. RPN digunakan oleh banyak prosedur FMEA untuk menaksir resiko menggunakan tiga kriteria yaitu Keparahan efek (Severity) S, Kejadian penyebab (Occurrence) O, Deteksi penyebab (Detection) D. Angka prioritas RPN merupakan hasil kali rating keparahan, kejadian, dan deteksi. Angka ini hanyalah menunjukkan rangking atau urutan defisiensi desain sistem. Kata kunci : Moda Kegagalan, Efek Kegagalan, Penyebab Kegagalan, Deteksi, Kejadian, Keparahan, RPN (Risk Priority Number).     Chitose Manufacturing Indonesia is a company that produce and sells furniture made from alloy in cooperation with Japan. Based on Sales data by Chitose Indonesia Manufacturing in 2003, Chitose Yamato foldable chair has a sales number up tp 59% from all of the products manufactured. CHitose Yamato HAA foldable chair is one of the tools to sit down included with a back seat according to the vertebra of the human body and its is foldable to simplify its storage.  Furthermore, the H form of its feet structure allows it to be used in flat or hilly surface. The material used on the structure of Chitose Yamato HAA foldable chair is isotropic structure element, which has similar characteristic and material (stress,strain, mechanic, etc.) On Failure Mode Analysis we identify potensial failure modes, severity that occurs, and the frequency of failure mode. With the failure mode analysis, the goal is to increase product quality and can be used according to its function. RPN is the critical indicator to determine the correction actions according to Failure modes. RPN is used in many FMEA procedures to approximate risks using three criterias that consists o:LSeverity(S), Occurrence(O), Detection(D). RPN priority number is the multiplying results from severity rating, occurrence, and detection. This number only shows ranks or sequence of the system design deficiency. Keywords: Failure mode, Failure effects, Failure causes, Detection, Severity, RPN (Risk Priority Number)
PEMILIHAN PARAMETER PRE TREATMENT PADA PROSES PENGAWETAN BAMBU LEMINASI Nurkertamanda, Denny; Andreina, Winda; Widiani, Melinda
J@ti Undip : Jurnal Teknik Industri Volume 6, No.3, September 2011
Publisher : Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.072 KB) | DOI: 10.12777/jati.6.3.155-160

Abstract

Bambu merupakan salah satu sumber daya alam Non-Hutan yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Salah satu kelemahan bahan baku bambu adalah tingkat keawetan alami yang rendah sehingga rentan terhadap organisme perusak seprti kumbang bubuk dan rayap. Pemanfaatan bahan insektisida organik daun mimba merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan keawetan bambu sebagai bahan baku produk mebel yang ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh ekstrak daun mimba dan mendapatkan konsentrasi ekstrak yang optimal dalam pengawetan bambu. Model penelitian yang dilakukan metode Desain Eksperimen Faktorial untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak dan lama perendaman bambu dalam proses pengawetan untuk meningkatkan keawetan bambu dari serangan organisme perusak. Daun mimba segar dicampurkan dengan air untuk menghasilkan variabel konsentrasi 100, 200, 300, 400, dan 500 gram/liter. Pada penelitian ini, bambu direndam dalam larutan konsentrasi ekstrak mimba dengan lama perendaman 30 menit dan 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan berat bambu yang  signifikan terjadi pada pengawetan bambu dengan konsentrasi ekstrak mimba 20% ( 200 gram/liter) selama 30 menit. Pada konsentrasi ekstrak 20%, sampel bambu mengalami pengurangan berat bambu akibat serangan rayap tanah sebesar 21,55%. Pengawetan bambu yang efektif dapat dilakukan dengan konsentrasi ekstrak mimba 30%. Kata Kunci: mebel, bambu, pengawetan, ekstrak mimba, desain eksperimen faktorial Bamboo is one of the natural resources of trees is widely used by Indonesian society. A disadvantage of raw bamboo islow level of durability, so making it vulnerable to destructive organisms such as beetles and termites powder. Utilization of organic insecticide neem leaf is one solution to improve the durability of bamboo as raw material for furniture products that are environmentally friendly. This research objective was to determine the effect of extracts of neem leaf extract and obtain the optimal concentration in the preservation of bamboo. Model used in this research is Design of Experiments Factorial to determine the effect of extract concentration and long soaking the bamboo in the process preservation to improve the durability of bamboo for the organism attack destroyer. Fresh neem leaves are mixed with water to produce variable concentrations of 100, 200, 300, 400, and 500 grams / liter. In this research, bamboo is soaked in concentration of neem extract with a long soaking 30 minutes and 60 minutes. The result of experiment showed that significant weight reduction occurred in bamboo bamboo preservation with 20% concentration of neem extract (200 grams / liter) for 30 minutes. At a concentration of extract 20% , samples of bamboo had a weight reduction as a result termite attack for 21.55%. Preservation of bamboo that can effectively be done with a 30% concentration of neem extract. Keywords: furniture, bamboo, preservation, neem extract, design of experimental factorial