cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
FaST : Jurnal Sains dan Teknologi
ISSN : -     EISSN : 25989596     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Started in 2017, FaST publishes articles in the areas of science and technology, particularly in food technology, biology, electrical engineering, industrial engineering, mathematics and civil engineering. Articles are either reviews and/or research results.
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
APLIKASI DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) DAN DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) DALAM PEMBUATAN SIRUP ANTIOKSIDAN [Application of Papaya Leaves (Carica papaya L.) and Guava Leaves (Psidium guajava L.) in the Making of Antioxidant Syrup] Eveline, Eveline; Herga, Natasya
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 1 (2020): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Papaya leaves and guava leaves are widely known by Indonesians and are often used as dishes and traditional medicine. Both of these leaves are known to have anti-diarrheal, anti-inflammatory, antimutagenic, and antioxidant potential due to the presence of polyphenols, vitamins C and E, carotenoids, phenolics, and flavonoids. Limited use encourages research on processed food products with functional values. This study aims to determine the ratio of papaya leaves and guava leaves and determine the concentration of citric acid and Carboxy Methyl Cellulose (CMC) in making antioxidant syrup. Initially, the papaya and guava leaves respectively were extracted with water and mixed, (60:40, 50:50, and 40:60). The ratio of 40:60 was determined as the ratio with the best analysis results (phenolic 2595.54 mg GAE/L, flavonoids 659.07 mg QE/L, IC50 2678.24 ppm). The syrup with the best ratio was used at a later stage to determine the concentrations of citric acid (1.0, 1.5, dan 2.0%) and CMC (0.8, 1.0, and 1.2%). A series of analyzes determined 2% citric acid and 1% CMC to produce the best antioxidant syrup with pH 2.83, total dissolved solids 51.7°Brix, viscosity 1780.83 cP, phenolic 1823.99 mg GAE/L, flavonoids 516.92 mg QE/L, IC50 8825.04 ppm (strong category), and still acceptable to consumers (4.59 out of 7.00 scale [neutral]). AbstrakDaun pepaya dan daun jambu biji dikenal luas oleh masyarakat Indonesia serta sering dimanfaatkan sebagai masakan dan obat tradisional. Kedua daun ini diketahui memiliki potensi antidiare, antiinflamasi, antimutagenik, dan antioksidan karena adanya kandungan polifenol, vitamin C dan E, karotenoid, fenolik, dan flavonoid. Keterbatasan pemanfaatan mendorong dilakukannya penelitian produk pangan olahan bernilai fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rasio daun pepaya dan daun jambu biji serta menentukan konsentrasi asam sitrat dan CMC dalam pembuatan sirup antioksidan. Awalnya, daun pepaya dan daun jambu biji masing-masing diekstrak dengan air dan dicampur (60:40, 50:50, dan 40:60). Rasio 40:60 ditentukan sebagai rasio dengan hasil analisis terbaik (fenolik 2595,54 mg GAE/l, flavonoid 659,07 mg QE/l, IC50 sebesar 2678,24 ppm). Sirup dengan rasio terbaik digunakan pada tahap selanjutnya untuk menentukan konsentrasi asam sitrat (1,0; 1,5; dan 2,0%) dan Carboxy Methyl Cellulose (CMC) sebesar 0,8; 1; dan 1,2%. Serangkaian analisis menentukan asam sitrat 2% dan CMC 1% menghasilkan sirup antioksidan terbaik dengan pH 2,83, total padatan terlarut (TPT) 51,7°Brix, viskositas 1780,83 cP, fenolik 1823,99 mg GAE/l, flavonoid 516,92 mg QE/l, IC50 8825,04 ppm (kategori kuat), dan masih dapat diterima konsumen (4,59 dari skala 7.00 [netral]).
PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava) DAN SERBUK DAUN STEVIA (Stevia rebaudiana) DALAM PEMBUATAN MINUMAN FUNGSIONAL [Utilization of Guava (Psidium guajava) Leaves Extract and Stevia (Stevia rebaudiana) Leaves Powder in The Preparation of Functional Drink] Stella, Stella; Siregar, Tagor Marsillam
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 1 (2020): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Functional drink from guava (Psidium guajava Linn.) leaves are beneficial for human health, as a medicine for diarrhea, cough, antidiabetic, and antioxidants. Guava leaf in Indonesia has many varieties. This research uses guava leaves ”˜Kristal’, ”˜Sukun Merah’, and ”˜Australia’ varieties. The purpose of this study was the utilization of guava leaves extract in functional drinks with the addition of stevia leaves as a sweetener. This research was divided into 2 stages. Preliminary stage was carried out to determine guava leaves extract that will be used in functional beverages based on α-glucosidase inhibition activity and antioxidant activity. The main research was carried out by making functional drinks using different concentration of guava leaves extract (0.15; 0.175; and 0.2%) and different concentration of stevia leaves powder (0.025; 0.05; and 0.075%). All functional drink formulations were tested for sensory test (scoring and hedonic), pH, total soluble solids, and color tests. The functional drink was selected based on the results of the hedonic tests and analyzed for total phenolic, total flavonoid, antioxidant activity, and α-glucosidase inhibition activity. Selected guava leaves extract was ”˜Sukun Merah’ with α-glucosidase inhibition activity (IC50) of 38.18 ppm and antioxidant activity (IC50) of 21.69 ppm. The concentration of guava leaves extract and stevia leaves powder significantly affected the pH and °Hue of functional drinks. The chosen functional drink formulation is the one with 0.175% guava leaves extract and 0.075% stevia leaves powder. Selected functional drink have a total phenolic of 5.42 mg GAE/mL, total flavonoid of 0.07 mg QE/mL, antioxidant activity (IC50) of 3041.04 ppm, and α-glucosidase inhibition activity of 17066.65 ppm.Abstrak Daun jambu biji (Psidium guajava Linn.) telah dimanfaatkan bagi kesehatan tubuh manusia, seperti sebagai obat diare, batuk, antidiabetes, dan antioksidan. Di Indonesia tanaman jambu biji  memiliki berbagai varietas. Penelitian ini menggunakan daun jambu biji varietas Kristal, Sukun Merah, dan Australia. Tujuan penelitian ini adalah pemanfaatan ekstrak daun jambu biji dalam minuman fungsional dengan penambahan daun stevia sebagai pemanis. Penelitian ini dibagi menjadi 2 tahap. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menentukan varietas daun jambu biji yang akan digunakan pada pembuatan minuman fungsional berdasarkan aktivitas inhibisi α-glukosidase dan aktivitas antioksidan. Pada Penelitian utama dilakukan pembuatan minuman fungsional dengan perlakuan konsentrasi ekstrak daun jambu biji (0,15; 0,175; dan 0,2%) serta konsentrasi serbuk daun stevia (0,025; 0,05; 0,075%). Seluruh formulasi minuman fungsional dianalisis meliputi uji sensori (scoring dan hedonik), uji pH, uji total padatan terlarut, dan uji warna. Minuman fungsional terpilih ditentukan berdasarkan  parameter hedonik, total fenolik, total flavonoid, aktivitas antioksidan, dan aktivitas inhibisi α-glukosidase. Ekstrak daun jambu biji terpilih yaitu varietas Sukun Merah dengan aktivitas inhibisi α-glukosidase (IC50) sebesar 38,18 ppm dan aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 21,69 ppm. Konsentrasi ekstrak daun jambu biji dan serbuk daun stevia berpengaruh signifikan terhadap pH dan °Hue minuman fungsional. Formulasi minuman fungsional terpilih yaitu konsentrasi ekstrak daun jambu biji sebesar 0,175% dan konsentrasi serbuk daun stevia sebesar 0,075%. Minuman fungsional terpilih memiliki total fenolik sebesar 5,42 mg GAE/mL, total flavonoid sebesar 0,07 mg QE/mL, aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 3.041,04 ppm, dan aktivitas inhibisi α-glukosidase (IC50) sebesar 17.066,65 ppm. Minuman terpilih berpotensi menjadi minuman fungsional dengan manfaat sebagai antioksidan dan antidiabetes. 
PEMANFAATAN DAUN POHPOHAN (Pilea melastomoides) DAN BUAH KALAMANSI (x Citrofortunella microcarpa) DALAM PEMBUATAN PERMEN JELI [Utilization of Pohpohan Leaves and Calamansi in Jelly Candy Making] Halim, Yuniwaty; Ratnasari, Irani; Rosa, Dela
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 1 (2020): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pohpohan leaves and calamansi are known to contain high calcium and vitamin C, respectively. Their utilization in food products is still limited. Jelly candy is one of the food products that are widely consumed. The aims of this research were to determine the addition of pohpohan leaves flour and calamansi juice in jelly candy making, and to determine the ratio of κ-carrageenan:konjac to obtain jelly candy with the best characteristics. The jelly candy was made by adding pohpohan leaves flour (2, 4, 6 gram per 100 gram jelly candy formulation) and  calamansi juice with water:calamansi juice ratio of 0:1, 1:1, and 1:2. Afterwards, different ratio of carrageenan:konjac of 1:1, 2:1, and 3:1 was also applied in jelly candy making. Addition of pohpohan leaves flour, calamansi juice and ratio of carrageenan:konjac affect the characteristics of jelly candy obtained. Based on hedonic test, the most preferred jelly candy was jelly candy that was added with 4 gram of pohpohan leaves flour, calamansi juice with ratio 0:1 (water to calamansi juice) and ratio between κ-carrageenan:konjac of 3:1. The best jelly candy has pH of 3.81 ± 0.04, total titratable acidity of 3.07 ± 0.21% and hardness value of 125.86 ± 2.40 g. The best jelly candy also contains 206.5850 ± 13.42 mg/ 100g calcium content and 0.021 ± 0.001 mg/mL of vitamin C.AbstrakDaun pohpohan dan kalamansi diketahui mengandung kalsium yang tinggi dan vitamin C. Akan tetapi, pemanfaatanya dalam produk pangan masih terbatas. Permen jeli merupakan salah satu produk pangan yang banyak dikonsumsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan penambahan tepung daun pohpohan dan sari buah kalamansi dalam pembuatan permen jeli, serta untuk menentukan rasio karagenan:konjak untuk menghasilkan permen jeli dengan karakteristik terbaik. Permen jeli dibuat dengan menambahkan tepung daun pohpohan (2, 4, 6 gram per 100 gram formulasi permen jeli) dan sari buah kalamansi dengan rasio air:sari buah kalamansi sebesar 0:1, 1:1, dan 1:2. Selanjutnya, berbagai rasio karagenan:konjak sebesar 1:1, 2:1, dan 3:1 juga digunakan dalam pembuatan permen jeli. Berdasarkan uji hedonik, permen jeli terpilih adalah permen jeli yang ditambahkan dengan 4 gram tepung daun pohpohan, rasio air:sari buah kalamansi 0:1, serta rasio karagenan:konjak sebesar 3:1. Permen jeli ini memiliki nilai pH 3,81 ± 0,04, total asam tertitrasi 3,07 ± 0,21%, dan nilai hardness 125,86 ± 2,40 g. Permen jeli ini juga mengandung kalsium sebesar 206,59 ± 13,42 mg/100g dan vitamin C sebesar 0,021 ± 0,001 mg/ml. 
PEMANFAATAN EKSTRAK WORTEL (Daucus carota L.) DAN SARI KIWI KUNING (Actinidia deliciosa) DALAM PEMBUATAN PERMEN JELI [Utilization of Carrot (Daucus carota L.) Extract and Gold Kiwi (Actinidia deliciosa) Juice in the Making of Jelly Candy] Cornelia, Melanie; Nathania, Christy
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 1 (2020): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Carrot is a vegetable with high  β -carotene content as pigment  as natural colorant, which both have many health benefits. Gold kiwifruit is a fruit with high vitamin C content. Therefore those micro nutrients and the pigment can be used in the development of food products. Jelly candy is liked by many but generally has low nutrition. This research aims to utilize carrot extract and gold kiwifruit juice in the making of attractive and nutritious candy jelly which is liked by many people. The method used is extraction of carrots and making juice from yellow kiwi and it is formulated to make jelly candy.The juice was obtained from gold kiwi fruits that were crushed with juicer and filtered. Carrots were extracted by maceration with three solvents (hexane, ethyl acetate, ethanol) and extraction time (24, 48, 72 hours) to obtain the best extract. The result is hexane and extraction time of 48 hours gave the best extract with IC50 value of 2036.25 ± 67,73 mg/l and β-carotene content of 11.422 ± 0,568 mg/100 g. The yellow kiwi juice and selected carrot extract were made formulations with addition carrot extract variables 0.2%, 0.4%, 0.6%, 0.8% and 1% mixed with yellow kiwi juice and heated to 78-800C and molded as jelly candy. The conclusion is the selected jelly candy is made with the addition of carrot extract  0.8%, has an IC50  of 23042.13 ± 832.87 mg / l, β -carotene  8.678 ± 0.068 mg / 100 g, yellowish red color, and is a candy the panelists liked the most. Apart from having an attractive color appearance, this jelly candy have healthy benefit which is contains high beta carotene as an antioxidants.AbstrakWortel adalah sayuran yang banyak mengandung beta-karoten yaitu pigmen warna yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami dan memiliki banyak manfaat kesehatan. Kiwi kuning adalah buah dengan kandungan vitamin C yang tinggi. Kandungan mikro nutrisi dan pigmen warna tersebut dapat dimanfaatkan dalam pembuatan produk pangan. Permen jeli disukai banyak orang namun umumnya memiliki nutrisi yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ekstrak wortel dan sari kiwi kuning dalam pembuatan permen jeli yang bernutrisi, penampilan menarik dan disukai banyak orang. Sari kiwi kuning diperoleh dari kiwi kuning yang dihancurkan dengan juicer dan disaring. Wortel diekstrak dengan metode maserasi menggunakan tiga pelarut (heksana, etil asetat, etanol) dan waktu ekstraksi (24, 48, 72 jam) untuk mendapatkan ekstrak terbaik. Pelarut heksana dan waktu maserasi 48 jam memberikan hasil ekstrak terbaik dengan nilai IC50 2.036,25 ± 67,73 mg/l dan kadar beta-karoten 11,422 ± 0,568 mg/100 g. Sari kiwi kuning dan ekstrak wortel terbaik diformulasi menjadi permen jeli. Permen jeli terpilih adalah permen jeli yang terbuat dari sari kiwi kuning dengan penambahan ekstrak wortel sebanyak 0,8% dengan nilai IC50 sebesar 23.042,13 ± 832,87 mg/l, kadar beta-karoten sebesar 8,678 ± 0,068 mg/100 g, warna merah kekuningan, dan merupakan permen yang paling disukai panelis. 
EDIBLE COATING BERBASIS TAPIOKA DENGAN PENAMBAHAN BEESWAX DAN EKSTRAK TEH HIJAU PADA BUAH APEL MALANG POTONG [Cassava-Starch Edible Coating with the Addition of Beewax and Green Tea Extract Towards Fresh Cut Malang Apple] Handayani, Ratna; Aldwin, Aldwin
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 1 (2020): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fresh-cut fruits are a type of food product which has seen an increase in recent years, because of its practicality. However, some disadvantages such as short shelf-life and rapid deterioration of quality persists. One such solution to increase shelf-life and inhibit deterioration of fresh-cut fruits are usage of edible coating, which is a type of packaging meant to be eaten with the food itself. Usage of additional components can be utilised to better the properties of edible coating. This research was aimed to create an edible coating from tapioca starch with addition of beeswax and green tea extract to increase its value and application towards fresh-cut malang apple. A variation of several concentrations of green tea extract (0.25%, 0.5%, 0.75%, 1%) and beeswax (0.25%, 0.5%, 0.75%) were used to create an edible coating and observe its effect on fresh-cut malang apple. Addition of green tea extract and beeswax in edible coating are meant to improve Water Vapor Transmission Rate (WVTR), tensile strength, elongation, and thickness properties. Edible coating with addition of 0.75% green tea extract and 0.5% beeswax was chosen to be applicated to fresh-cut malang apple. The use of such edible coating was found to inhibit deterioration of quality in fresh-cut malang apple in cold and room temperature storage.AbstrakBuah potong merupakan salah satu produk pangan yang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, karena kepraktisannya. Beberapa kelemahan dari buah potong yaitu umur simpan yang singkat dan penurunan kualitas yang cepat. Salah satu cara untuk meningkatkan umur simpan dari buah potong dengan penerapan edible coating, yaitu proses pengemasan terhadap produk pangan yang aman dikonsumsi bersama produk. Penggunaan komponen tambahan dapat meningkatkan kualitas dan memperbaiki kualitas edible coating. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat edible coating berbasis tapioka dengan penambahan beeswax dan ekstrak teh hijau untuk meningkatkan nilai guna dari edible coating dan pelapisan terhadap apel malang potong. Pada penelitian ini dilakukan variasi konsentrasi penambahan ekstrak teh hijau menggunakan air  (0,25%, 0,5%, 0,75%, 1%) dan beeswax (0,25%, 0,5%, 0,75%), serta pelapisan pada buah apel malang potong untuk melihat pengaruh dan juga perubahan mutu yang terjadi. Penambahan ekstrak teh hijau dan beeswax berfungsi untuk memperbaiki kualitas dari sifat edible coating dari segi aktivitas antioksidan, total kandungan fenolik, laju transmisi uap air, kuat tarik, elongasi, serta ketebalan. Edible coating dengan formulasi penambahan ekstrak teh hijau 0,75% dan beeswax 0,5% dipilih sebagai formulasi terbaik digunakan dalam pelapisan pada buah apel malang potong. Pelapisan edible coating pada buah apel malang potong dapat menghambat penurunan kualitas sebesar 40% yang terjadi selama masa penyimpanan dalam suhu ruang (27°C) maupun suhu dingin (5°C).
KARAKTERISIK FISIKOKIMIA TEPUNG KEMBANG KOL HASIL PENGERINGAN DENGAN PENGERING KABINET DAN OVEN [Physicochemical Characteristics of Cauliflower Flour Obtained From Cabinet Dryer and Oven] Soedirga, Lucia Crysanthy; Matita, Intan C; Wijaya, Terezya E.
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 1 (2020): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cauliflower is considered as valuable vegetables due to its nutritive value such as dietary fiber. However, fresh cauliflower has short shelf-life. Therefore, conversion of cauliflower into flour through drying process can improve its utilization and nutrition value. This research aims to determine the best drying time of cabinet dryer at 50°C (16, 20, 24 hours) and oven at 70°C (16, 20, 24 hours) toward dietary fibre content, lightness value, and yield. The result shown that 24 hours of drying by using cabinet dryer and 24 hours of drying with oven could produce cauliflower flower with the preferred physicochemical characteristics. Both cabinet dryer and oven with the best drying time was analyzed to produce cauliflower flour with the highest dietary fiber content.  Based on the result, cabinet drying at 50°C for 24 hours produce cauliflower flour with the highest dietary fiber content 38.59±0.29%. Moreover, it has 12.43 ± 0.49% of moisture, 11.32 ± 0.34% of ash, 28.88 ± 0.41% of protein, 2.34 ± 0.32% of fat, and 45.04 ± 0.62% of carbohydrate (by difference).  AbstrakKembang kol segar memiliki umur simpan yang pendek sehingga pembuatan tepung kembang kol dapat meningkatkan pemanfaatan dan nilai nutrisinya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu pengeringan terbaik dengan menggunakan pengering kabinet 50°C (16, 20, 24 jam) dan oven 70°C (16, 20, 24 jam) terhadap kadar serat, tingkat kecerahan, dan rendemen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pengeringan selama 24 jam dengan pengering kabinet dan oven dapat menghasilkan tepung kembang kol dengan karakteristik fisikokimia yang diinginkan. Tepung kembang kol dengan waktu pengeringan terbaik dari masing-masing pengering kemudian dianalisis kembali untuk menentukan metode pengeringan terbaik dengan kadar serat tertinggi. Hasil menunjukkan bahwa pengering kabinet pada suhu 50°C selama 24 jam mampu menghasilkan tepung kembang kol dengan kadar serat  pangan tertinggi sebesar 38,59±0,29%. Selain itu, tepung kembang kol terbaik ini juga memiliki kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan kadar karbohidrat (by difference) masing-masing sebesar 12,43 ± 0,49%, 11,32 ± 0,34%, 28,88 ± 0,41%, 2,34 ± 0,32%, dan 45,04 ± 0,62%. 
PENGARUH WAKTU PEREBUSAN DAN WAKTU FERMENTASI TERHADAP PENINGKATAN TOTAL SENYAWA FENOLIK DAN FLAVONOID BIR ALE [Effect of Boiling Time and Fermentation Time on the Increasing of Total Phenolic and Falavonoid in Ale Beer] Parhusip, Adolf Jan Nexson; Wydiapranata, Aileen N.; Iwantoro, Fernando Ogyen; Halim, Lincoln
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 1 (2020): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of all-extract brewing method can simplify ale brewing process because mashing process is unnecessary. Boiling and fermentation using the right time can increase total phenolic and flavonoid compounds of beer. This research was conducted to determine the best boiling and fermentation time to increase total phenolic and flavonoid compounds by considering SNI beer quality requirements. Ale brewing refers to Standard American Ale with modification with boiling time (10, 20, 30, 40, 50 minutes) and fermentation time (5, 7, 9, 11, 13 days) treatments. The tested parameters include pH value, total soluble solid, alcohol content, total phenolic compounds, and total flavonoid compounds. Saccharomyces cerevisiae was used as yeast. The results showed that the treatment of 30 minutes of boiling time and 9 days of fermentation time has the best results with a pH value of 4.875±0.007, a total soluble solid of 9.25±0.35 oBrix, an alcohol content of 4.8±0%, the highest total phenolic compounds of 351.3±4.24 mg GAE/ml, and the highest total flavonoid compounds of 34.8±0.7 mg QE/ml. The characteristics of the produced ale beer are in accordance with the beer quality requirements.Abstrak Penggunaan metode all-extract brewing dapat mempermudah proses pembuatan bir ale karena proses mashing tidak perlu dilakukan. Proses perebusan dan fermentasi dengan menggunakan waktu yang tepat dapat meningkatkan total senyawa fenolik dan flavonoid bir yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan waktu perebusan dan fermentasi terbaik dalam meningkatkan total senyawa fenolik dan flavonoid dengan mempertimbangkan persyaratan mutu bir SNI. Pembuatan bir ale mengacu pada Standard American Ale dengan modifikasi dengan perlakuan waktu perebusan (10, 20, 30, 40, 50 menit) dan waktu fermenasi (5, 7, 9, 11, 13 hari). Parameter yang diuji meliputi nilai pH, total padatan terlarut, kadar alkohol, total senyawa fenolik, dan total senyawa flavonoid. Ragi yang digunakan adalah Saccharomyces cerevisiae. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan waktu perebusan 30 menit dan waktu fermentasi 9 hari memiliki hasil terbaik dengan nilai pH sebesar 4,875±0,007, total padatan terlarut sebesar 9,25±0,35 oBrix, kadar alkohol sebesar 4,8±0%, total senyawa fenolik tertinggi sebesar 351,3±4,24 mg GAE/ml, dan total senyawa flavonoid tertinggi sebesar 34,8±0,7 mg QE/ml. Karakteristik bir ale yang dihasilkan sudah sesuai dengan persyaratan mutu bir.
PRODUKSI N-ASTEILGLUKOSAMIN DENGAN KITINASE INTRASELULER DARI Providencia stuartii YANG DIIMOBILISASI MENGGUNAKAN κ-KARAGENAN Halim, Yuniwaty
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 2 (2021): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitin merupakan polisakarida yang tersusun dari β-1,4-N-asetil-D-glukosamin. Pada penelitian ini, kitin diisolasi dari cangkang udang windu dan digunakan untuk produksi N-asetilglukosamin menggunakan kitinase intraseluler semi murni dari bakteri Providencia stuartii yang diimobilisasi. Imobilisasi dilakukan dengan metode entrapment menggunakan κ-karagenan sebagai support. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan rasio terbaik antara enzim dan support, dan siklus fermentasi optimum kitinase intraseluler semi murni dari Providencia stuartii yang diimobilisasi menggunakan κ-karagenan. Rasio enzim dan support yang digunakan adalah 1:1; 1,5:1; 2:1, dan rasio terbaik ini digunakan dalam 3 siklus fermentasi untuk menentukan aktivitas enzim dan produksi N-asetilglukosamin optimum. Rasio terbaik antara enzim dan support diperoleh pada rasio 2:1 dengan N-asetilglukosamin yang dihasilkan sebesar 7.573,34 ± 285,97 ppm dan aktivitas kitinase sebesar 11,41 ± 0,43 U/ml. Enzim kitinase dapat digunakan sampai 3 siklus fermentasi dengan mempertahankan aktivitasnya sebesar 27%.
PENGARUH PENGGUNAAN LIMBAH PLASTIK DAN KACA PADA CAMPURAN PAVING BLOCK Rahardja, Sunie
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 2 (2021): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paving block merupakan salah satu komponen dalam bidang konstruksi yang cukup banyak digunakan, tetapi bahan pembuatnya kurang ramah lingkungan. Salah satu upaya dalam menanggapi hal tersebut adalah dengan memanfaatkan bahan alternatif seperti limbah dan bahan daur ulang plastik dan kaca sebagai bahan dasar paving block. Penelitian ini bertujuan memformulasi campuran paving block dengan menggunakan limbah plastik dan kaca. Pengujian yang dilakukan pada penelitian ini adalah ketahanan terhadap bahan (deterjen, oli, dan minyak goreng), uji kuat tekan, penyerapan air, dan Scanning Electron Microscope (SEM). Campuran plastik:pasir dengan rasio berat 70:30 mencapai kuat tekan rata-rata sebesar 17,24 MPa. Sedangkan, campuran plastik:kaca dengan rasio dan gradasi yang sama adalah 16,89 MPa dengan penyerapan air 0,33%. Gradasi kaca yang berbeda walaupun dengan rasio berat yang sama mempengaruhi besar kuat tekan paving block. Campuran semen:pasir dengan rasio berat 70:30 memiliki kuat tekan rata-rata sebesar 8,49 MPa. Kuat tekan tersebut sekitar 50% lebih lemah dibandingkan dengan campuran plastik:kaca. Merendam sampel dalam deterjen dan oli menyebabkan pengurangan kuat tekan benda uji hingga sekitar 60% dan 15%. Sedangkan, sampel yang direndam dalam minyak goreng menunjukan peningkatan kuat tekan hingga sekitar 14%. Uji SEM menunjukkan benda uji yang direndam dalam minyak goreng memiliki susunan partikel yang lebih rapat dibandingkan dengan benda uji yang lain.
PEMANFAATAN TEPUNG KOMPOSIT BERBASIS UBI UNGU DAN KEMBANG KOL DALAM PEMBUATAN FOOD BAR BEBAS GLUTEN Soedirga, Lucia Crysanthy
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 4 No. 2 (2021): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The food bar is a product that widely consumed due to its convenience and nutritious. The food bar commonly made from the wheat flour; however, other ingredients such as cauliflower and purple sweet potato can use as an alternative to make a gluten-free food bar. In this research, purple sweet potato and cauliflower were processed into composite flour within ratio 100:0; 90:10; 80:20; 70:30; 60:40; and 50:50. The result has shown that 90:10 of purple sweet potato flour and cauliflower was selected as the preferred ratio to make gluten free food bar. This food bar has hardness value of 983.32±1.39. The scoring result aroma, mouthfeel, texture, and taste were 2.98±1.14 (slightly not odd aroma); 3.73±1.04 (slightly not dry); 3.65±1.19 (slightly not easy to be broken); 2.93±1.23 (slightly not odd taste). Meanwhile, the degree of acceptance from panelist was neutral to slightly like toward aroma, mouthfeel, texture, taste, and overall acceptance of food bar within the value 4.80±1.11; 4.65±1.19; 4.40±1.19; 4.78±1.21; and 4.70±1.14, respectively. Moreover, it has 16.89±0.55% of moisture, 2.92±0.11% of ash, 11.01±0.11% of protein, 18.12±0.50% of fat, 51.06±0.11% of carbohydrate (by difference), and 10.82±0.07% of dietary fibre.